Simamora, Devina C
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Analisis Perbandingan Cerita Rakyat Si Beru Dayang Etnik Batak Karo dan Page Pulut Etnik Batak Pakpak: Kajian Sastra Bandingan dalam Konteks Pembelajaran Bahasa dan Budaya Lokal Sinulingga, Jekmen; Simamora, Devina C; Batubara, Monika Uli; Manullang, Doan Yohannes
Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 14 No. 1 (2025): Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/bahasa.v14i1.9125

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan dua cerita rakyat dari dua sub-etnis Batak, yaitu Si Beru Dayang dari etnik Karo dan Page Pulut dari etnik Pakpak, melalui pendekatan sastra bandingan. Cerita rakyat merupakan bagian penting dari tradisi lisan yang merefleksikan nilai-nilai moral, norma sosial, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini memanfaatkan analisis struktural dan intertekstual untuk mengkaji unsur tema, tokoh, alur, latar, serta pesan budaya dan pendidikan yang terkandung dalam kedua teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua cerita mengandung pesan-pesan moral seperti pengorbanan, kerja keras, kerendahan hati, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Selain itu, simbol-simbol budaya dalam cerita juga merepresentasikan identitas dan pandangan hidup masyarakat Batak Karo dan Pakpak. Perbandingan ini mengungkapkan bagaimana nilai-nilai lokal direpresentasikan dalam narasi yang khas dan kontekstual. Oleh karena itu, kedua cerita rakyat ini sangat relevan untuk dijadikan sumber pembelajaran dalam pendidikan bahasa dan sastra, terutama dalam konteks penguatan pendidikan karakter dan pelestarian budaya lokal berbasis kearifan tradisional.
Kearifan Lokal Rumah Adat Karo Si Sepuluh Dua Jabu di Desa Lingga Kabupaten Karo Sinulingga, Jekmen; Pasaribu, Niken Kirey; Sihombing, Patar Kristian; Simamora, Devina C; Silaban, Immanuel
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.27895

Abstract

Dengan menggunakan teori kearifan lokal Robert Sibarani, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kearifan lokal yang terkandung dalam simbol-simbol Rumah Adat Karo Si Sepuluh Dua Jabu di Desa Lingga, Kabupaten Karo. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara dengan orang-orang yang memahami nilai-nilai budaya Karo, terutama yang berkaitan dengan Rumah Adat Si Sepuluh Dua Jabu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Adat Si Sepuluh Dua Jabu mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang menciptakan kedamaian dan kemakmuran bagi masyarakat Karo. Sembilan elemen utama kearifan lokal ditemukan: (1) Rasa syukur, yang ditunjukkan oleh ornamen Beraspati ni Taneh sebagai tanda perlindungan spiritual; (2) Kesopansantunan, yang ditunjukkan oleh desain Pintu Jabu yang mengajarkan penghormatan dan kerendahan hati; (3) Kerukunan dan penyelesaian konflik, yang terlihat dalam penggunaan bersama Daliken atau tungku; (4) Kesetiakawanan sosial, yang terlihat dalam gotong royong masyarakat saat mendirikan rumah adat, seperti pemasangan Sendi; (5) Pelestarian dan kreativitas budaya, yang terlihat dalam ornamen Ayou yang mengabadikan cerita rakyat seperti cerita Beru Ginting; (6) Peduli lingkungan, yang terlihat dari penggunaan atap ijuk sebagai bahan alami yang ramah lingkungan. Menurut penelitian ini, simbol-simbol di Rumah Adat Si Sepuluh Dua Jabu memiliki tujuan selain tujuan estetika dan struktural, tetapi juga berisi nilai-nilai filosofis dan moral yang menjadi pedoman bagi masyarakat Karo dalam hidup mereka. Kearifan lokal ini sangat penting untuk membangun masyarakat yang harmonis, bertanggung jawab, dan selaras dengan alam dan sesama manusia. Diharapkan jurnal ini akan membantu dalam pelestarian budaya lokal dan memberikan inspirasi untuk penelitian tentang kearifan lokal di tempat lain.
Komunikasi Bahasa Batak Toba dalam Mangadati : Sosiolinguistik Sibarani, Tidora Putri; Situmorang, Putri Adelina Br; Simamora, Devina C; Batubara, Monica Uli; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.28567

Abstract

Penelitian ini menganalisis nilai-nilai sosial budaya dalam komunikasi bahasa Batak Toba pada upacara mangadati melalui pendekatan sosiolinguistik. Mangadati sebagai ritual penyambutan adat memiliki pola komunikasi khas yang merepresentasikan sistem nilai masyarakat Batak Toba. Menggunakan metode kualitatif dengan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis wacana, data dikumpulkan dari Kabupaten Toba, Samosir, dan Humbang Hasundutan melibatkan 15 informan tokoh adat, hatobangon, dan partisipan upacara. Analisis menggunakan kerangka teori sosiolinguistik Dell Hymes dan konsep nilai budaya Kluckhohn. Hasil penelitian mengungkap lima nilai utama: hierarki sosial dalam sapaan sesuai Dalihan Na Tolu, religiositas dalam formula doa, solidaritas kolektif melalui pronomina inklusif, hospitalitas dalam register penyambutan, dan pelestarian tradisi melalui bahasa arkais. Variasi sosiolinguistik menunjukkan perbedaan berdasarkan usia, pendidikan, dan status sosial penutur. Penelitian berkontribusi pada dokumentasi linguistik Batak Toba dan pemahaman hubungan bahasa-budaya dalam ritual adat, serta revitalisasi bahasa daerah di era globalisasi.
Makna dan Simbolisme dalam Upacara Adat Kematian Saur Matua: Kajian Semiotika Sosial Batubara, Monica Uli; Sibarani, Tidora Putri; Simamora, Devina C; Situmorang, Putri Adelina Br; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.28570

Abstract

Upacara Saur Matua dalam tradisi Batak merepresentasikan fenomena unik di mana kematian dipandang sebagai perayaan pencapaian hidup sempurna. Penelitian ini menganalisis makna dan simbolisme upacara melalui pendekatan semiotika sosial untuk memahami konstruksi makna kolektif dan fungsi sosial-budaya ritual tersebut. Metode etnografi digunakan dengan observasi partisipan dan wawancara mendalam dari lima upacara di Sumatera Utara. Analisis menggunakan kerangka semiotika sosial Halliday dengan metafungsi ideasional, interpersonal, dan tekstual. Hasil menunjukkan upacara memiliki struktur tiga tahap dengan elemen simbolis material (ulos, gondang, sesajen) dan gestural (manortor, tata ruang kosmologis). Metafungsi ideasional merepresentasikan worldview Batak tentang kematian sebagai transformasi spiritual, metafungsi interpersonal memperkuat hierarki sosial melalui sistem Dalihan Na Tolu, dan metafungsi tekstual menciptakan kohesi identitas budaya. Dalam modernisasi, upacara beradaptasi teknologi namun mempertahankan esensi makna sebagai penguat identitas sosial. Penelitian berkontribusi pada pemahaman konstruksi makna budaya lokal dan relevansi semiotika sosial dalam analisis praktik budaya Indonesia.
Analisis Varian Teks Naskah Si Mardan Kajian: Filologi Simamora, Devina C; Sibarani, Tidora Putri; Situmorang, Putri Adelina Br; Tampubolon, Juwita Paramita; Ginting, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.29066

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis varian teks naskah Si Mardan melalui pendekatan filologi. Naskah Si Mardan sebagai karya sastra klasik memiliki nilai historis tinggi, namun keberadaan multiple versi menimbulkan variasi tekstual yang perlu dikaji mendalam. Metode penelitian menggunakan filologi dengan teknik kritik teks, meliputi inventarisasi naskah, kolasi teks, dan analisis stemmatologi untuk merekonstruksi hubungan genealogis antar naskah. Data primer berupa naskah-naskah Si Mardan dari berbagai perpustakaan dan koleksi pribadi. Hasil penelitian menunjukkan lima kategori varian teks: ortografi, leksikal, sintaksis, semantik, dan struktural. Varian ortografi paling dominan, mencerminkan perbedaan tradisi penulisan dan periode penyalinan. Analisis stemmatologi menghasilkan pohon silsilah naskah dengan tiga tradisi utama penyalinan. Temuan memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman tradisi pernaskahan sastra klasik dan menyediakan dasar edisi kritis naskah Si Mardan.
Upacara Saur Matua di Desa Meat Etnik Batak Toba : Wacana Kritis Sinulingga, Jekmen; Sibarani, Tidora Putri; Simamora, Devina C
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang tahapan acara adat saur matua perubahan yang terdapat dalam upacacara adat saur matua, dan dampak dalam upaccara adat saur matua etnik Batak Toba di DESA di Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba. Masalah yang di teliti adalah tahapan menjalankan upacara adat saur matua di desa Meat, perubahan apa saja yang terjadi pada upacara adat saur matua yang ada di desa Meat, dan dampak sosial apa saja yang terjadi dengan adanya adat saur matua bagi masyarakat yang ada di desa Meat. Penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teori analisis wacana kritis yang dikemukakan oleh Norman Fairclough (2001). Metode pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Dengan hasil yang didapat dari penelitian ini adalah tahapan pada upacara saur matua di desa meat etnik Batak Toba yaitu : 1.) Pangarapoton ( musyawarah) 2.) parmoppoon (memasukkan orang yang meninggal ke petinya, memberikan ulos saput bagi orang yang meninggal dan ulos sampe tua bagi istri atau suami dari orang yang meninggal ) 3.) Ulaon huria (Ibadah singkat) 4.) panortoron ( acara menari ) 5.) paampuhon ( pihak hula-hula memberi berkat ) 6.) Manaruhon Tuudean (Pemakaman). Dampak sosial adanya rasa kerja sama antara masyarakat desa Meat dengan pelaksana acara adat saur matua. Saur matua ialah penamaan bagi orang yang telah meninggal baik laki-laki maupun perempuan yang telah memiliki anak laki-laki dan anak perempuan yang telah menikah dan telah memiliki cucu dari pihak anak lai-laki dan dari pihak anak perempuan.
Fungsi dan Makna Gorga pada Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika Sinulingga, Jekmen; Sibarani, Tidora Putri; Simamora, Devina C
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini memfokuskan tentang simbol dan makna Gorga pada Etnik Batak Toba. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan simbol dan makna Gorga pada Etnik Batak Toba. Teori yang digunakan untuk menganalisis data adalah teori semiotika yaitu simbol yang dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik penelitian lapangan dengan metode pengumpulan data (1). Observasi (2). wawancara secara langsung (3). Dokumentasi. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini terdapat empat jenis Gorga yaitu : (1). Andor Marudur (2). Gorga Simardengke dengke (3). Gorga Cicak (4). Gorga Tarus. Makna yang terdapat pada empat jenis gorga itu adalah (1). Gorga Andor Marudur memiliki makna yaitu menandakan bahwa seseorang dapat berbaur dengan siapa pun dan dimanapun tanpa merasa dirinya rendah dibandingkan dengan yang lain sama seperti ubi jalar yang dapat menjalar kemana-mana (2). Gorga Simardengke-Dengke memiliki makna yaitu permintaan doa sang nelayan supaya mendapat ikan yang banyak saat pergi menjala (3). Gorga cicak memiliki makna yaitu menandakan pencapaian dan berkecukupan baik dan telah memiliki anak perempuan dan anak laki-laki (4). Gorga Tarus Makna nya menandakan sumber kehidupan bagi orang lain.
Legenda Andam Dewi Etnik Batak Toba Kajian : Sosiosastra Simamora, Devina C; Sibarani, Tidora Putri; Halimatussakdiah, Halimatussakdiah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji legenda "Andam Dewi" melalui pendekatan sosiologi sastra, menganalisis bagaimana nilai-nilai sosial dan budaya tercermin dalam narasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis legenda Andam Dewi melalui pendekatan sosiologi sastra, dengan fokus pada struktur sosial, sistem nilai, dan norma-norma yang tercermin dalam cerita tersebut dalam konteks masyarakat Batak Toba. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif. Data diperoleh dari teks cerita legenda Andam Dewi . Hasil penelitian menunjukkan bahwa legenda Andam Dewi mencerminkan struktur sosial masyarakat Batak Toba yang patrilineal, dengan peran dominan laki-laki dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Cerita ini juga mengandung sistem nilai dan norma-norma yang khas, seperti penghormatan terhadap leluhur, kesetiaan pada klan, serta kepercayaan terhadap kekuatan supranatural. Analisis sosiologi sastra menunjukkan bahwa legenda Andam Dewi dalam konteks masyarakat Batak Toba merefleksikan struktur sosial, nilai, dan norma yang berbeda dibandingkan dengan interpretasi legenda ini dalam masyarakat Minangkabau. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang keragaman interpretasi dan pemaknaan cerita rakyat di Indonesia berdasarkan latar belakang budaya lokal.
Legenda Danau Sidihoni Etnik Batak Toba : Kajian Psikologi Sastra Sibarani, Tidora Putri; Simamora, Devina C; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji legenda Danau Sidihoni yang terletak di Desa Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Danau Sidihoni merupakan salah satu danau vulkanik yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Batak Toba. Menurut legenda yang berkembang, danau ini terbentuk dari air mata seorang putri bernama Siti Honi yang menangis karena ditinggal mati kekasihnya. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legenda Danau Sidihoni mengandung nilai-nilai moral yang fundamental dalam kehidupan masyarakat Batak Toba, meliputi: (1) kesetiaan dalam percintaan, (2) kekuatan pengorbanan, (3) harmonisasi hubungan manusia dengan alam, dan (4) penghormatan terhadap leluhur. Legenda ini juga memiliki fungsi sosial sebagai: (1) media pewarisan nilai-nilai budaya, (2) penguat identitas kultural, (3) sarana pendidikan karakter, dan (4) daya tarik wisata budaya. Dampak keberadaan legenda ini bagi masyarakat teridentifikasi dalam beberapa aspek: (1) aspek sosial-budaya berupa penguatan kohesi sosial dan pelestarian tradisi, (2) aspek ekonomi melalui pengembangan pariwisata, (3) aspek lingkungan berupa kesadaran pelestarian alam, dan (4) aspek pendidikan sebagai sumber pembelajaran nilai-nilai moral. Tantangan yang dihadapi dalam pelestarian legenda ini meliputi modernisasi, perubahan pola pikir masyarakat, dan kebutuhan keseimbangan antara pengembangan wisata dengan pelestarian nilai budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa legenda Danau Sidihoni merupakan kearifan lokal yang memiliki nilai penting dalam membentuk karakter dan identitas masyarakat Batak Toba. Diperlukan upaya pelestarian yang berkelanjutan melalui kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam legenda ini.
Legenda Simanampang di Kecamatan Silahisabungan Kajian Kearifan Lokal Naibaho, Dewes Agustina; Pasaribu, Niken Kirey; Sitorus, Oliviya Sera; Simamora, Devina C; Sibarani, Tomson; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis legenda Simanampang yang berasal dari daerah Silahisabungan, Batak Toba. Legenda ini mengisahkan asal mula tempat suci bernama Simanampang yang memiliki nilai historis dan budaya penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang terkandung dalam legenda, serta menilai perannya dalam membentuk identitas masyarakat Batak Toba. Analisis terhadap legenda Simanampang menunjukkan bahwa legenda ini penuh dengan nilai-nilai luhur, seperti rasa syukur, pola pikir positif, komitmen, kerukunan, penyelesaian konflik, kesetiakawanan sosial, kejujuran, kesopansantunan, kepedulian terhadap lingkungan, pelestarian budaya, kreativitas, pengelolaan gender, gotong royong, kesehatan, pendidikan, disiplin, dan kerja keras. Penelitian ini juga membahas bagaimana legenda Simanampang tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga pedoman moral yang relevan di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Strategi untuk mempertahankan dan mewariskan legenda ini, seperti melalui pendidikan, revitalisasi tradisi, dan dokumentasi budaya, diulas sebagai upaya agar kearifan lokal tetap hidup di tengah arus globalisasi. Dengan memahami dan melestarikan legenda ini, masyarakat diharapkan dapat memperkuat identitas budaya mereka sekaligus menjaga nilai-nilai tradisi yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pelestarian budaya dan pembangunan berbasis kearifan lokal.