Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

DAMPAK INTERVENSI MOBILE HEALTH TERHADAP MANAJEMEN DIRI PASIEN GAGAL JANTUNG : A SYSTEMATIC REVIEW DIANITA, Eka Mei; Praningsih, Supriliyah; Siswati
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.29837

Abstract

Gagal jantung merupakan penyakit kardiovaskular mempengaruhi 26 juta orang di dunia menyebabkan kematian. Mengelola dan memantau gejala gagal jantung penting untuk meningkatkan status kesehatan. Mobile health digunakan untuk memantau, mengelola gejala pada pasien gagal jantung, mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Intervensi berfokus pada penatalaksanaan nonfarmakologis penting pada pasien gagal jantung. Manajemen diri terdiri dari pemantauan berat badan, pembatasan cairan, modifikasi pola makan, olahraga. Mobile health lebih terintegrasi untuk strategi pengelolaan secara mandiri. Penelitian bertujuan mengevaluasi efektivitas mobile health dalam manajemen mandiri pasien gagal jantung. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan sistematik dilakukan menggunakan PRISMA. Lima database digunakan penelitian ini: Pubmed, Proquest, Science Direct, Spinger, SAGE. Artikel antara tahun 2017-2022. Kata kunci digunakan “kesehatan seluler” DAN “manajemen mandiri” DAN “gagal jantung”. Hasil penelitian dari tiga belas artikel menunjukkan mobile health dapat diterapkan untuk meningkatkan manajemen diri pada pasien gagal jantung. Aplikasi mobile health berbasis buku harian, HF SMART, aplikasi kesehatan seluler Care4myHeart, HOM HEMP, aplikasi mAF dan aplikasi HeartMa. Meskipun intervensi yang berbeda mempunyai dampak yang berbeda terhadap hasil pengelolaan manajemen mandiri, penerapan kesehatan berpotensi dapat diterapkan di negara maju maupun berkembang. Penggunaan kombinasi intervensi mobile health dan tim multidisiplin untuk mencapai efek dan hasil optimal terkait manajemen mandiri pada pasien gagal jantung. Mobile health memberikan manfaat bagi penggunanya, khususnya perbaikan gejala pasien gagal jantung. Penyedia layanan kesehatan dapat secara efektif dan mendukung pasien gagal jantung dalam manajemen mandiri yang komprehensif.
HUBUNGAN KONSUMSI KOPI DAN KUALITAS TIDUR DENGAN PENINGKATAN TEKANAN DARAH Dianita, Eka Mei; Praningsih, Supriliyah; Diana, Rini Nur
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.38510

Abstract

Konsumsi kopi sering dikaitkan dengan sejumlah faktor risiko penyakit jantung koroner, termasuk meningkatkan tekanan darah dan kadar kolesterol darah. Peningkatan konsumsi kopi dapat berdampak negatif pada kualitas tidur. Kualitas tidur yang buruk dapat mengubah hormon stres kortisol dan sistem saraf simpatik, sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah. Desain penelitian pada penelitian ini menggunakan Observasional dengan pendekatan Cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah 70 mahasiswa STIKes Pemkab Jombang. Instrumen Penelitian pada penelitian ini sphygmomanometer, stetoskop untuk mengukur tekanan darah dan kuesioner The  Pittsburgh  Sleep  Quality  Index (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur. Analisis data menggunakan uji Spearman Test. Hasil penelitian uji Spearman’s rho didapatkan bahwa terdapat hubungan antara konsumsi kopi dengan tekanan darah dengan nilai Sig. (2-tailed) 0,003 dan terdapat hubungan antara kualitas tidur dengan tekanan darah dengan nilai Sig. (2-tailed) 0,007. ada hubungan antara konsumsi kopi dengan tekanan darah dan ada hubungan antara kualitas tidur dengan tekanan darah. Semakin sering konsumsi kopi maka semakin tinggi resiko peningkatan tekanan darah individu, begitu juga sebaliknya semakin jarang konsumsi kopi maka semakin rendah risiko peningkatan tekanan darah individu. Peningkatan tekanan darah yang terjadi  pada  responden berbeda-beda tingkatannya karena  banyak  faktor  yang mempengaruhi  peningkatan  tekanan  darah  diantaranya yaitu genetik, obesitas, asupan garam, gaya hidup, dan konsumsi alkohol dan kafein atau konsumsi kopi. Semakin buruk kualitas tidur maka semakin tinggi risiko peningkatan tekanan darah individu, begitu juga sebaliknya semakin baik kualitas tidur maka semakin rendah risiko peningkatan tekanan darah individu. Hubungan tersebut merupakan hasil dari mekanisme biologis, menunjukkan bahwa kurang tidur dapat mengubah hormon stress kortisol dan sistem saraf simpatik, sehingga terjadi peningkatan tekanan darah.
Pengembangan Aplikasi Relaksasi Autogenik Berbasis Android Terhadap Tingkat Stres Pada Pasien Gagal Jantung Dianita, Eka Mei; Sukartini, Tintin; Pratiwi, Ika Nur
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 11, No 2 (2023): EDITION JULY 2023
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v11i2.4358

Abstract

 Heart disease become a leading cause of death globally. Heart failure is also a problem in Indonesia. Stress-induced smoking, lessening physical activity, diet habits, and medication non-adherence affected morbidity and mortality among heart failure patients. In the current era of digitalization, smartphones become a communication tool and source of information that are easily accessible to the public due to time, effort, and cost efficiency. This study aims to develop an Android-based autogenic relaxation intervention application to reduce stress levels. A research and development study design was used. There are three steps, the exploration of stress levels, evaluation of stress management by nurses, application development with focus group discussions and expert consultations; and the feasibility test. In stage 1, about 109 patients were assessed using a perceived stress scale questionnaire and interview sheet. In stage 2, 10 patients were assessed using the system usability scale questionnaire. Descriptive analysis was used. The result showed lifestyle changes contributing to stress levels. Stress management by nurses resulting moderates stress levels (78.9%). The Android-based application develops a menu of autogenic relaxation instructions, exercises, health education, and level evaluation. The results of the feasibility test received good acceptance from users. The Android-based autogenic relaxation applications can reduce stress levels in heart failure patients. Another study to determine the effect of autogenic relaxation applications in reducing stress levels in heart failure patients is further recommended.
Perbedaan Gula Darah Sewaktu Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Sebelum Dan Sesudah Pemberian Totok Punggung Fuadiati, Lie Liana; Dianita, Eka Mei; Padaallah, Ananda Patuh
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 7 (2025): Volume 7 Nomor 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i7.20107

Abstract

ABSTRACT A problem that often arises from patients is blood sugar instability. Currently, in addition to pharmacological treatment (medical drugs), non-pharmacological therapy and alternative therapies are widely developed. Not to replace medical treatment, but used as a support for medical treatment. One of the non-pharmacological therapies is back acupressure. The purpose of this study was to determine the average random blood sugar in patients with type 2 diabetes mellitus before and after back acupressure and to determine whether there was a difference in random blood sugar in patients with type 2 diabetes mellitus before and after back acupressure. Experimental design research design, using one group pretest-posttest control group design. The sample in this study were 35 diabetes mellitus. The sampling technique used purposive sampling with inclusion and exclusion criteria determined by the researcher. The measuring instrument in this study used a glucometer which functions to measure blood sugar levels. Data analysis in this study used the Wilcoxon-test, because the data was not normally distributed. The results of this study were that the average blood sugar levels of respondents before the intervention were 234 mg/dL and the average blood sugar levels of respondents after the intervention were 223 mg/dL. The results of the statistical test analysis using the Wilcoxon pre-post blood sugar test for patients with diabetes mellitus obtained sig. (tailed) or a p value of 0.000 <α, which means that H1 is accepted or there is a difference in the average between before and after the intervention. Back acupressure helps improve blood circulation and stimulates organs that play a role in sugar metabolism, thereby helping to lower blood sugar levels. It can be concluded that there is a difference in blood sugar levels when patients with diabetes mellitus before and after back acupressure is given. Keywords: Random Blood Sugar Levels, Back Acupressure.  ABSTRAK Masalah yang seringkali muncul dari pasien adalah ketidakstabilan gula darah. Saat ini selain pengobatan farmakologis (obat-obatan medis), terapi non farmakologis dan terapi alternatif banyak dikembangkan. Bukan untuk menggantikan pengobatan medis, namun digunakan sebagai pendukung pengobatan medis. Salah satu terapi non farmakologis yaitu totok punggung. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi rerata gula darah sewaktu pada pasien diabetes mellitus tipe 2 sebelum dan sesudah pemberian totok punggung dan mengetahui adakah perbedaan gula darah sewaktu pada pasien diabetes mellitus tipe 2 sebelum dan sesudah pemberian totok punggung. Desain penelitian experimental design, menggunakan one group pretest-posttest control group design. Sampel pada penelitian ini adalah 35 pasien diabetes mellitus. Teknik Sampling menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditentukan peneliti. Alat ukur pada penelitian ini menggunakan glucometer yang berfungsi untuk mengukur kadar gula dalam darah. Analisis data pada penelitian ini menggunakan Wilcoxon-test, dikarenakan data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian pada penelitian ini adalah rerata kadar gula darah responden sebelum intervensi rata-rata 234 mg/dL dan rata-rata gula darah responden sesudah intervensi 223 mg/dL. Hasil analisis uji statistik menggunakan Uji Wilcoxon pre-post gula darah pasien diabetes mellitus diperoleh sig.(tailed) atau nilai p sebesar 0,000< α, yang berarti H1 diterima atau ada perbedaan rata-rata antara sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Totok punggung membantu meningkatkan sirkulasi darah dan merangsang organ-organ yang berperan dalam metabolisme gula, sehingga membantu menurunkan kadar gula darah. Dapat disimpulkan bahwa ada perbedaann gula darah sewaktu pasien diabetes mellitus sebelum dan sesudah pemberian totok punggung. Kata Kunci: Kadar Gula Darah Sewaktu, Totok Punggung.
Analisis metode deflasi torniquet langsung, bertahap, dan intermittent terhadap perubahan tekanan darah pada pasien operasi total knee arthroplasty Hidayah, Nurul; Hidayat, Wahyu; Mu’alim, Aziz; Purwanto, Edy; Dianita, Eka Mei; Azizah, Erliana Nur
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1645

Abstract

Background: The use of an arterial tourniquet is common practice in total knee arthroplasty because it helps create a clearer surgical field. However, tourniquet release often triggers hemodynamic disturbances that can threaten patient stability. Although this issue has important clinical implications, there are currently no clear guidelines regarding the safest deflation technique. Purpose: For the analysis of direct, gradual, and intermittent torquette deflation methods on blood pressure changes in total knee arthroplasty patients. Method: This quasi-experimental study with a three-group pre-post design was conducted at the Central Surgical Installation of Dr. Soedono East Java Provincial General Hospital from June to September 2025. A total of 45 patients aged 50–85 years (15 per group), all normotensive and undergoing spinal anesthesia, were consecutively recruited. Blood pressure was recorded using a standardized observation sheet. Data analysis was performed using one-way ANOVA with planned follow-up. Results: Initial systolic and diastolic blood pressures showed no differences between groups (systolic: F=1.002, p=0.369; diastolic: F=0.940, p=0.399). After deflation, the immediate deflation method produced a significantly greater decrease in blood pressure than either the stepwise or intermittent methods. Mean systolic blood pressures were 109.00 mmHg (immediate), 130.60 mmHg (stepwise), and 129.87 mmHg (intermittent) (F=26.639, p<0.001). Mean diastolic blood pressures were 73.33 mmHg, 79.87 mmHg, and 80.33 mmHg, respectively (F=5.513, p=0.007). No significant differences were found between the stepwise and intermittent methods in post-hoc tests. Conclusion: A controlled tourniquet deflation approach, whether gradual or intermittent, is more effective in reducing the rate of hypotension after removal. Conversely, immediate deflation is more likely to cause a sharp drop in blood pressure. These results support the adoption of controlled deflation techniques as standard practice to improve perioperative stability and can serve as a basis for the development of institutional and national guidelines for safer tourniquet management.   Keywords: Blood Pressure; Tourniquet Deflation Method; Total Knee Arthroplasty (TKA) Patients.   Pendahuluan: Penggunaan tourniquet arteri merupakan praktik umum dalam tindakan total knee arthroplasty karena membantu menciptakan lapangan operasi yang lebih jelas. Namun, pelepasan tourniquet sering memicu gangguan hemodinamik yang dapat mengancam stabilitas pasien. Meskipun masalah ini memiliki implikasi klinis yang penting, hingga kini belum terdapat panduan yang jelas mengenai teknik deflasi yang paling aman. Tujuan: Untuk analisis metode deflasi torniquet langsung, bertahap, dan intermittent terhadap perubahan tekanan darah pada pasien operasi total knee arthroplasty. Metode: Penelitian quasi-eksperimental dengan desain tiga kelompok pre–post ini dilaksanakan di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Jawa Timur Dr. Soedono pada bulan Juni-September 2025. Sebanyak 45 pasien berusia 50–85 tahun (masing-masing 15 per kelompok), seluruhnya normotensif dan menjalani anestesi spinal, direkrut secara konsekutif. Tekanan darah dicatat menggunakan lembar observasi terstandar. Analisis data dilakukan menggunakan one-way ANOVA dengan uji lanjut terencana. Hasil: Tekanan darah sistolik dan diastolik awal, tidak menunjukkan perbedaan antar kelompok (sistolik: F=1.002, p=0.369; diastolik: F=0.940, p=0.399). Setelah deflasi, metode deflasi segera menghasilkan penurunan tekanan darah yang secara signifikan lebih besar dibandingkan metode bertahap maupun intermittent. Rerata sistolik tercatat 109.00 mmHg (langsung), 130.60 mmHg (bertahap), dan 129,87 mmHg (intermiten) (F=26.639, p<0.001). Rerata diastolik masing-masing 73.33 mmHg, 79.87 mmHg, dan 80,33 mmHg (F=5.513, p=0.007). Tidak ditemukan perbedaan signifikan antara metode bertahap dan intermittent pada uji post-hoc. Simpulan: Pendekatan deflasi tourniquet yang terkontrol, baik secara bertahap maupun intermittent lebih mampu mengurangi derajat hipotensi setelah pelepasan. Sebaliknya, deflasi langsung lebih berpotensi menimbulkan penurunan tekanan darah yang tajam. Hasil ini mendukung penerapan teknik deflasi terkontrol sebagai praktik standar untuk meningkatkan stabilitas perioperatif serta dapat menjadi dasar pengembangan pedoman institusional maupun nasional terkait manajemen tourniquet yang lebih aman.   Kata Kunci: Metode Deflasi Tourniquet; Pasien Total Knee Arthroplasty (TKA); Tekanan Darah.
Pengembangan e-booklet petani tanggap gigitan hewan berbisa (Tangkas) dalam meningkatkan keselamatan kesehatan kerja petani pedesaan Dianita, Eka Mei; Siswati, Siswati; Azizah, Erliana Nur; Fattah, Muhammad Awalu; Wiritanaya, Bunga; Amelia, Nisa; Aprilia, Nur Panca; Ulumuddin, Abdillah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1678

Abstract

Background: Venomous snakebite is a high-priority neglected tropical disease, particularly affecting rural communities. Venomous snakebites cause approximately 500,000 permanent disabilities annually worldwide. Venomous animal bites primarily affect agricultural workers in rural areas due to the high risk of being bitten by a venomous animal. Several cases of venomous snakebite victims have been reported, most often identified as cobras. Farmers lack access to optimal information on first aid for venomous animal bites. This poses a threat to the health and occupational safety of rural farmers if bitten by a venomous animal. Purpose: To develop an e-booklet on Venomous Animal Bites for farmers to improve the health and occupational safety of rural farmers. Method: The research and development (RnD) design consisted of four steps: a descriptive exploratory survey to disseminate farmers' knowledge and attitudes regarding first aid for venomous animal bites; development of health education media through Focus Group Discussions (FGDs); expert consultation; and feasibility testing of the e-booklet. The population in this study was residents of Marmoyo Village, Kabuh District, Jombang Regency. The inclusion criteria for the sample were farmers and the ability to operate a smartphone. Results: Most respondents (290) (74.9%) occasionally saw snakes, 372 (96.1%) had never encountered a snake, and 287 (74.2%) did not know first aid. Most respondents (234) (60.6%) had moderate knowledge, and 343 (88.9%) had negative attitudes. The analysis showed a significant relationship between knowledge (p = 0.248) and attitude (p = 0.001) regarding snakebite management. The better the knowledge and attitude, the more appropriate the actions taken in snakebite management. Conclusion: There is a significant relationship between knowledge and attitude regarding snakebite management. Empowering farmers with skills in providing first aid for animal bites through digital education, including e-booklets, integrating snakebite management into public health initiatives, and involving the local community. Suggestion: Health students should be actively involved in designing and implementing health education on snakebite prevention for patients, families, and the community.   Keywords: E-book; Farmers; Occupational Health and Safety; Rural Areas; Venomous Animal Bite Response.   Pendahuluan: Gigitan ular berbisa merupakan penyakit tropis terabaikan yang menjadi prioritas tinggi, sebagian besar menyerang masyarakat pedesaan. Gigitan ular berbisa menyebabkan sekitar 500,000 kecatatan permanen di setiap tahunnya di seluruh dunia. Gigitan hewan berbisa sebagian besar memengaruhi pekerjaan pertanian di daerah pedesaan karena meraka memiliki risiko tinggi terkena gigitan hewan berbisa. Terdapat beberapa kasus korban gigitan ular berbisa, lebih banyak teridentifikasi sebagai ular kobra. Petani belum memiliki akses informasi yang optimal tentang pertolongan pertama gigitan hewan berbisa. Hal ini menjadi ancaman terhadap keselamatan kesehatan kerja petani pedesaan jika tergigit hewan berbisa. Tujuan: Untuk pengembangan e-booklet petani  tanggap gigitan hewan berbisa (Tangkas)  dalam meningkatkan keselamatan kesehatan kerja petani pedesaan. Metode: Desain penelitian Research and Development (RnD), terbagi menjadi 4 langkah, yaitu survei deskriptif eksplorasi untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan dan sikap petani terhadap pertolongan pertama gigitan hewan berbisa; pengembangan media pendidikan kesehatan melalui Focus Group Discussion (FGD); konsul pakar; dan uji kelayakan e-booklet. Populasi dalam penelitian ini adalah warga Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang dengan kriteria inklusi sampel yaitu seorang petani dan dapat mengoperasikan smartphone. Hasil: Sebagian besar responden kadang-kadang melihat ular sebanyak 290 responden (74.9%), sebanyak 372 responden (96.1%) tidak pernah digigit ular, dan sebanyak 287 responden tidak mengetahui pertolongan pertama (74.2%). Tingkat pengetahuan responden mayoritas pada kategori sedang sebanyak 234 (60.6%) dan memiliki sikap yang negatif sebanyak 343 (88.9%). Hasil  analisis  menunjukkan  terdapat  hubungan  signifikan  antara  pengetahuan (p  =  0.248) dan  sikap (p  =  0.001) terhadap penanganan gigitan ular. Semakin baik pengetahuan dan sikap, semakin tepat pula tindakan yang dilakukan dalam menangani gigitan ular. Simpulan: Terdapat  hubungan  signifikan  antara  pengetahuan  dan  sikap terhadap penanganan gigitan ular. Pemberdayaan petani dengan keterampilan dalam mengelola pertolongan pertama gigitan hewan melalui edukasi digital, termasuk e-booklet mengintegrasikan manajemen gigitan ular ke dalam inisiatif kesehatan masyarakat dan melibatkan masyarakat setempat. Saran: Mahasiswa kesehatan harus terlibat aktif dalam merancang dan mengimplementasikan pendidikan kesehatan tentang pencegahan gigitan ular bagi pasien, keluarga dan masyarakat.   Kata Kunci: E-booklet; Keselamatan Kesehatan Kerja; Pedesaan; Petani; Tanggap Gigitan Hewan Berbisa (Tangkas).
Hubungan Gula Darah, Asam Urat dan Hemoglobin dengan Tekanan Darah Lansia: The Relationship between Blood Sugar, Uric Acid, and Hemoglobin with Blood Pressure in the Elderly Praningsih, Supriliyah; Firranda F, Fitri; Maryati, Heni; Dianita, Eka Mei; Nahariani, Pepin
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 10 No 4 (2025): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jkm.v10i4.29324

Abstract

Objective: Hypertension is a leading cause of death worldwide, with over one billion people suffering from it. Several factors influence blood pressure, including blood sugar, uric acid, and hemoglobin. This study aimed to analyze the relationship between blood sugar, uric acid, and hemoglobin with blood pressure. Methods: The study design was correlational with a cross-sectional approach. The study population was 46 elderly people in Puton Village, Diwek District, Jombang Regency. Data on uric acid, blood sugar, and hemoglobin levels were collected using a multifunction blood test device through peripheral blood sampling. Blood pressure was measured using a sphygmomanometer according to standard guidelines. Data were analyzed using coding, editing, tabulation, and scoring, and statistical tests were performed using the Spearman Rank test. Results: Most respondents (73.9%) had high blood sugar. Most respondents (71.7%) had high uric acid (33%). Half of respondents (50%) had normal hemoglobin (23%). Nearly half of respondents (34%) had prehypertensive systolic blood pressure and stage 1 hypertension (34.8%) each. Half of the respondents had diastolic blood pressure (50%, 23 people) with grade 1 hypertension. The Spearman rank test for blood sugar and uric acid levels on systolic and diastolic blood pressure using SPSS yielded a p value > 0.05, indicating no correlation. The correlation between hemoglobin and diastolic blood pressure yielded a p value > 0.05, indicating no correlation. The hemoglobin-systolic blood pressure test yielded a p value of 0.017, less than 0.05, with a correlation coefficient of 0.349, indicating a moderate correlation between hemoglobin and systolic blood pressure. Conclusion: Proper control of the intervening variables is essential to ensure a truly homogeneous sample of respondents to achieve optimal results. The number of respondents should be increased.