Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengembangan LKPD Fisika berbasis Chat-GPT untuk Meningkatkan Pemahaman Konseptual Siswa tentang Gelombang Bunyi Egidius Simbolon; Muhammad Aswin Rangkuti
Jurnal Pelita: Jurnal Pembelajaran IPA Terpadu Vol. 6 No. 1 (2026): Januari - Juni 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/pelita.6.1.2026.1009

Abstract

Urgensi penelitian ini yaitu bahwa Pengembangan LKPD fisika berbasis Chat-GPT sangat mendesak untuk menjawab tantangan pembelajaran konsep gelombang bunyi yang kompleks dan meningkatkan pemahaman konseptual siswa secara efektif di era digital. Penelitian ini diangkat dari permasalahan rendahnya pemahaman konseptual siswa pada materi gelombang bunyi dengan tujuan mengembangkan LKPD berbasis Chat-GPT. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Produk LKPD divalidasi ahli dan diuji di kelas XI 1 SMAN 11 Medan melalui data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan: 1) LKPD valid dengan persentase 88,3% oleh ahli materi dan 85% oleh ahli pembelajaran; 2) LKPD sangat praktis dengan persentase 91% dari guru fisika dan 87,9% dari peserta didik; 3) nilai n-gain dari pretest dan posttest meningkat baik, dengan rata-rata 18,52 dan 75,58, serta n-gain 0,7 (70,29%) kategori cukup efektif. Dengan demikian, LKPD berbasis Chat-GPT yang dikembangkan terbukti valid, praktis, dan cukup efektif meningkatkan pemahaman konseptual siswa pada materi gelombang bunyi.
Hubungan Gender dan Self-efficacy dalam Pembelajaran Fisika SMA: Sebuah Systematic Literature Review Aprita Irawan; Tuti Hardianti; Muhammad Aswin Rangkuti
JURNAL PENDIDIKAN MIPA Vol. 16 No. 2 (2026): JURNAL PENDIDIKAN MIPA
Publisher : Pusat Publikasi Ilmiah, STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpm.v16i2.4300

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gender dan Self-efficacy dalam pembelajaran fisika pada jenjang SMA melalui pendekatan systematic literature review. Kajian dilakukan dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020 menggunakan sumber data dari Scopus, ERIC, Web of Science, ScienceDirect, IEEE Xplore, dan Google Scholar. Sebanyak 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara mendalam. Hasil kajian menunjukkan bahwa peserta didik perempuan cenderung memiliki Self-efficacy lebih rendah dibandingkan laki-laki dalam pembelajaran fisika, meskipun kemampuan akademiknya relatif setara. Faktor penyebab meliputi stereotip gender, kurangnya role model perempuan di bidang fisika, serta lingkungan belajar yang kurang inklusif. Namun, beberapa penelitian di konteks Asia, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa strategi pembelajaran aktif dan kolaboratif mampu mengurangi kesenjangan tersebut. Selain itu, pendekatan Elicit Confront Resolve (ECR) dinilai berpotensi meningkatkan Self-efficacy peserta didik melalui pengalaman belajar yang lebih bermakna dan konstruktif. Temuan ini menegaskan pentingnya desain pembelajaran fisika yang inklusif dan responsif gender.
Analisis Hubungan Motivational Beliefs dan Gender dengan Hasil Belajar Siswa: Tinjauan Literatur Susi Syahputri; Tuti Hardianti; Muhammad Aswin Rangkuti
JURNAL PENDIDIKAN MIPA Vol. 16 No. 2 (2026): JURNAL PENDIDIKAN MIPA
Publisher : Pusat Publikasi Ilmiah, STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpm.v16i2.4301

Abstract

Pembelajaran fisika tidak hanya dipengaruhi oleh perangkat pembelajaran, tetapi juga sangat ditentukan oleh faktor motivational beliefs siswa. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengkaji peran konstruk motivational beliefs yang mencakup self-efficacy, interest, physics identity, perceived recognition, sense of belonging, dan peer interaction dalam konteks pembelajaran fisika, serta meninjau bagaimana perbedaan gender memengaruhi motivational beliefs dan hasil belajar siswa. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis terhadap berbagai referensi dari jurnal internasional dan nasional terindeks Sinta dan Scopus yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir. Kajian literatur menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan gender yang signifikan dalam motivational beliefs di fisika, di mana perempuan secara konsisten menunjukkan tingkat self-efficacy, interest, dan physics identity yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Selain itu, motivational beliefs terbukti menjadi faktor penting yang memengaruhi hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika. Temuan ini menyoroti pentingnya penciptaan lingkungan belajar yang inklusif guna meningkatkan motivational beliefs seluruh siswa, khususnya perempuan, dalam pembelajaran fisika.
Penerapan Teknologi Mekanisasi Pakan Mandiri Guna Menekan Biaya Produksi Peternak Bebek Petelur di Sidodadi Batang Kuis Deli Serdang Yuni Warty; Insan Taufik; Dewi Wulandari; Muhammad Aswin Rangkuti; Tuti Hardianti; Silvia Dona Sari; Yanthy Leonita Perdana Simanjuntak
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2026): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/ba-jpm.v6i3.5273

Abstract

Usaha peternakan bebek petelur di Desa Sidodadi, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang menghadapi tingginya biaya pakan, ketergantungan pada pakan pabrikan, serta banyaknya pakan serbuk yang tercecer. Kegiatan pengabdian ini bertujuan menerapkan teknologi mekanisasi pakan mandiri untuk mengubah pakan serbuk menjadi pelet, meningkatkan efisiensi konsumsi, dan menekan biaya produksi. Pelaksanaan kegiatan meliputi sosialisasi, pengadaan dan instalasi mesin, pelatihan formulasi pakan, uji coba produksi, pendampingan, monitoring, dan evaluasi. Mitra memelihara sekitar 8.000 ekor bebek dengan kebutuhan awal 960 kg pakan per hari. Sebelum penerapan teknologi, biaya pakan mencapai Rp4.816.000 per hari dan masih menggunakan 80 kg pakan pabrikan. Setelah mesin digunakan, bahan pakan lokal dapat dicampur merata dan dibentuk menjadi pelet. Biaya pakan menurun menjadi Rp4.200.000 per hari, atau berkurang Rp616.000. Pakan pelet juga lebih seragam, tidak mudah tercecer, dan lebih optimal dikonsumsi ternak. Teknologi ini meningkatkan kemandirian peternak sekaligus mendukung keberlanjutan usaha melalui produksi pakan yang lebih efisien dan ekonomis. Rekomendasi untuk kegiatan pengabdian selanjutnya meliputi optimalisasi kapasitas mesin untuk komersialisasi pakan pelet ke peternak luar, serta hilirisasi produk pascapanen telur (seperti telur asin aneka rasa) untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi kelompok.