Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Hubungan Antara Tekanan Sosial Dan Quarter Life Crisis Pada Mahasiswa di Kota Surabaya: Peran Kecemasan Karir Sebagai Variabel Mediator Nabila Octaviola Rosanti; Eben Ezer Nainggolan; Etik Darul Muslikah
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.4672

Abstract

Mahasiswa pada fase dewasa awal berada pada masa transisi yang ditandai oleh tuntutan pencapaian akademik, pemenuhan ekspektasi sosial, serta kesiapan memasuki dunia kerja. Kondisi ini berpotensi memunculkan quarter life crisis (QLC), yaitu krisis psikologis berupa kebingungan arah hidup, ketidakpastian masa depan, dan tekanan dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini berlandaskan teori QLC dari Robbins dan Wilner serta kerangka konseptual Robinson dan Wright, dengan menempatkan tekanan sosial sebagai faktor eksternal dan kecemasan karier sebagai mekanisme psikologis yang diduga memediasi QLC. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional non-eksperimental. Partisipan berjumlah 223 mahasiswa aktif di Kota Surabaya (usia 18–25 tahun) yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert secara daring (Google Form) menggunakan skala tekanan sosial, kecemasan karier, dan QLC. Analisis dilakukan dengan uji mediasi menggunakan PROCESS Macro Hayes berbasis bootstrapping. Hasil menunjukkan tekanan sosial tidak berhubungan signifikan dengan QLC (B=0,1640; p=0,4827), kecemasan karier juga tidak berhubungan signifikan dengan QLC (B=-0,2637; p=0,4176), serta tidak terdapat efek mediasi kecemasan karier (B=0,0032; p=0,4274). Kesimpulannya, QLC pada mahasiswa Surabaya dipengaruhi faktor lain di luar tekanan sosial dan kecemasan karier.
Peran Work Engagement Sebagai Mediator Dalam Hubungan Antara Psychological Capital Dan Turnover Intention Pada Guru Di Sidoarjo Sekar Ardhity Koesdhyanindra Antya Ramadhany; Eben Ezer Nainggolan; Etik Darul Muslikah
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.4673

Abstract

Tingginya turnover intention di kalangan guru menimbulkan tantangan substansial yang berdampak pada keberlanjutan organisasi sekolah serta mutu pendidikan secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki keterkaitan antara psychological capital dan turnover intention, serta mengevaluasi fungsi work engagement sebagai mediator pada guru. Pendekatan kuantitatif dengan desain survei diterapkan dalam penelitian ini. Partisipan melibatkan 380 guru yang bertugas di Kabupaten Sidoarjo, dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen kuesioner yang mengukur psychological capital, work engagement, dan turnover intention, diikuti analisis mediasi dengan bantuan PROCESS Macro Hayes. Temuan empiris mengungkapkan bahwa psychological capital berpengaruh negatif signifikan terhadap turnover intention. Lebih lanjut, psychological capital berkontribusi positif terhadap work engagement, sementara keterlibatan kerja menunjukkan pengaruh negatif terhadap turnover intention. Analisis mediasi menunjukkan bahwa work engagement secara parsial memediasi hubungan antara psychological capital dan turnover intention. Implikasi temuan ini menekankan bahwa penguatan psychological capital pada guru dapat mengurangi turnover baik secara langsung maupun tidak langsung melalui peningkatan work engagement. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan kajian psikologi kerja dan organisasi dalam konteks pendidikan, serta implikasi praktis bagi pemangku kepentingan pendidikan dalam merancang intervensi yang berfokus pada penguatan sumber daya psikologis guru, meskipun perlu dipertimbangkan keterbatasan generalisasi ke konteks regional lainnya.
Hubungan antara Competitive Team Climate dan Unethical Pro-Team Behavior: Peran Collective Moral Disengagement sebagai Mediator pada Karyawan Yang Bekerja Berbasis Tim di Jawa Timur Angelina Putri Gansaleng; Etik Darul Muslikah; Eben Ezer Nainggolan
Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM) Vol. 3 No. 1 (2026): Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/6crmkm67

Abstract

Penerapan sistem kerja berbasis tim semakin banyak digunakan organisasi untuk meningkatkan efektivitas dan kinerja. Namun, kompetisi antartim yang semakin tinggi dapat mendorong anggota tim mengutamakan keberhasilan kelompok dibandingkan kepatuhan terhadap norma dan etika organisasi, sehingga berpotensi memunculkan Unethical Pro-Team Behavior. Berdasarkan Social Identity Theory, perilaku tersebut diperkirakan muncul melalui berkembangnya Collective Moral Disengagement sebagai mekanisme psikologis yang memediasi pengaruh Competitive Team Climate terhadap Unethical Pro-Team Behavior. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menguji peran Collective Moral Disengagement sebagai mediator dalam hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori. Partisipan penelitian berjumlah 358 karyawan yang bekerja dalam sistem kerja berbasis tim dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala Likert yang mengukur Competitive Team Climate, Collective Moral Disengagement, dan Unethical Pro-Team Behavior. Analisis data dilakukan menggunakan PROCESS Hayes Model 4 dengan teknik bootstrapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Competitive Team Climate berpengaruh positif dan signifikan terhadap Collective Moral Disengagement dan Unethical Pro-Team Behavior. Selain itu, Collective Moral Disengagement juga berpengaruh positif terhadap Unethical Pro-Team Behavior serta terbukti memediasi secara parsial hubungan antara Competitive Team Climate dan Unethical Pro-Team Behavior. Temuan ini menunjukkan bahwa iklim kerja yang kompetitif dapat meningkatkan kecenderungan perilaku tidak etis melalui berkembangnya pembenaran moral secara kolektif dalam tim. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan literatur psikologi industri dan organisasi dengan memperkuat penerapan Social Identity Theory.  
FEAR OF MISSING OUT DAN KUALITAS HUBUNGAN SOSIAL PADA REMAJA: PERAN PHUBBING SEBAGAI MEDIATOR Yessi Octavia; Etik Darul Muslikah; Eben Ezer Nainggolan
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 8, No 2 (2026): JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v8i2.24643

Abstract

Abstrak Kualitas hubungan sosial termasuk aspek krusial pada konteks perkembangan psikososial remaja karena berperan dalam pembentukan identitas dan kemampuan menjalin relasi interpersonal yang sehat. Kualitas hubungan sosial remaja berpotensi dipengaruhi oleh Fear of Missing Out (FoMO) serta perilaku phubbing, yakni tendensi abai terhadap interaksi tatap muka akibat fokus pada gawai. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara FoMO dan kualitas hubungan sosial pada remaja akhir di Kota Surabaya, serta menguji peranan phubbing sebagai mediator dalam hubungan tersebut. Penelitian ini mempergunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan dari 381 remaja berusia 15–19 tahun menggunakan FoMO Scale, Quality of Relationships Inventory, dan Generic Scale of Phubbing. Analisis data dilakukan menggunakan analisis mediasi melalui PROCESS Macro Model 4. Temuan studi mengindikasikan, FoMO tidak berpengaruh langsung secara signifikan terhadap kualitas hubungan sosial. Namun, FoMO berpengaruh positif signifikan terhadap phubbing, dan phubbing berpengaruh negatif signifikan terhadap kualitas hubungan sosial. Selain itu, hasil analisis mediasi menghindikasikan, phubbing memediasi secara signifikan hubungan antara FoMO dan kualitas hubungan sosial. Temuan ini memperluas pemahaman teoretis mengenai mekanisme psikologis yang menghubungkan FoMO dan kualitas hubungan sosial remaja, serta memberikan implikasi praktis bagi pengembangan intervensi dan literasi digital untuk meningkatkan kualitas relasi sosial remaja. Kata Kunci: Kualitas Hubungan Sosial; FoMO; Phubbing; Remaja Akhir AbstractSocial relationship quality is a crucial aspect of adolescents’ psychosocial development, as it plays an important role in identity formation and the ability to establish healthy interpersonal relationships. Adolescents’ social relationship quality may be influenced by Fear of Missing Out (FoMO) and phubbing behavior, which refers to the tendency to ignore face-to-face interactions due to excessive smartphone use. This study aimed to examine the relationship between FoMO and social relationship quality among late adolescents in Surabaya, Indonesia, and to investigate the mediating role of phubbing in this relationship. This investigation employed a quantitative approach with a cross-sectional design. Data were collected from 381 adolescents aged 15–19 years using the FoMO Scale, the Quality of Relationships Inventory, and the Generic Scale of Phubbing. Data analysis was conducted using mediation analysis with PROCESS Macro Model 4. The outcomes indicated that FoMO did not have a statistically significant direct effect on social relationship quality. However, FoMO had a significant positive effect on phubbing, and phubbing had a significant negative effect on social relationship quality. Furthermore, mediation analysis revealed that phubbing significantly mediated the relationship between FoMO and social relationship quality. These findings extend the theoretical understanding of the psychological mechanisms linking FoMO and adolescents’ social relationship quality and provide practical implications for the development of digital literacy programs and interventions aimed at improving adolescents’ interpersonal relationships. Keywords: Social Relationship Quality; FoMO; Phubbing; Late Adolescents