Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

FORMULASI DAN UJI EVALUASI FISIK SEDIAAN GEL HANDSANITIZER EKSTRAK ETANOL 96% DAUN COCOR BEBEK (Kalanchoe blossfeldiana Poelln.) Rakhmadhan Niah; Dwi Rizki Febrianti; Novia Ariani
Jurnal Insan Farmasi Indonesia Vol 4 No 1 (2021): Jurnal Insan Farmasi Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jifi.v4i1.702

Abstract

Daun cocor bebek berpotensi dikembangkan menjadi sediaan antibakteri. Peningkatan keefektifitasan dalam pemanfaatan potensi ekstrak daun cocor bebek dapat dibuat dalam bentuk sediaan yang praktis dan mudah. Penelitian ini diawali dengan proses pembuatan ekstrak etanol daun cocor bebek menggunakan alat maserator dan etanol 96% sebagai pelarut. Ekstrak daun cocor bebek diperoleh dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak yang dihasilkan diformulasikan dalam sediaan gel dengan penambahan CMC Na 0,5%. Formulasi dilakukan pengujian fisik meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji daya sebar, pH dan uji daya lekat. Hasil penelitian diketahui bahwa formulasi sediaan gel handsanitizer ekstrak etanol 96% daun cocor F2 dan F3 bebek memenuhi syarat sebagai sediaan gel handsanitizer.
UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 70% DAUN BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia, (L.) Merr) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans Eka Kumalasari; Suci Renita; Dwi Rizki Febrianti; Rakhmadhan Niah
Jurnal Insan Farmasi Indonesia Vol 4 No 2 (2021): Jurnal Insan Farmasi Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jifi.v4i2.824

Abstract

Eleutherine palmifolia (L.) Merr. Is one of the typical Central Kalimantan plants that has been hereditary used by Dayak people as traditional medicine. Generally, only parts of dayak onion bulbs are used while the onion leaves are often discarded and rarely used. Dayak onion leaves contain chemical compounds that are efficacious as antimicrobials namely alkaloids, flavonoids, saponins, phenols, tannins, triterpenoids and steroids.This type of research is experimental. Using the paper disc diffusion. The purpose of this study was to determine the antifungal activity of 70% ethanol extract of onion leaves on the growth of albicans candida fungi. Eleutherine palmifolia (L.) Merr leaves originating from the Palagka Raya City area of ??Central Borneo. The sample in this study was 70% ethanol extract. The results of this study can be concluded that 70% ethanol extract of dayak onion leaves has activity on the growth of Candida albicans. The diameter of the inhibitory zone in 70% ethanol extract of dayak onion leaves was obtained at a concentration of 100% 21.6 mm, a concentration of 80% 17.45 mm, a concentration of 60% 13.35 mm, a concentration of 40% 10.67mm, concentration 20% 8.35 mm.
Analisis Kualitatif Rhodamin B Dalam Bumbu Tabur Pada Penjual Jajanan di Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin Dwi Rizki Febrianti; Muhammad Rahman Hakim
Jurnal Pharmascience Vol 5, No 1 (2018): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v5i1.5780

Abstract

ABSTRAK Bumbu tabur adalah bumbu yang fungsinya untuk memberikan rasa pelezat pada makanan atau jajanan yang biasanya berwarna merah atau orange terang yang di curigai mengandung bahan pewarna dilarang yaitu Rhodamin B. Rhodamin B adalah bahan kimia yang digunakan untuk pewarna merah pada industri tekstil dan plastik. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan keberadaan zat pewarna Rhodamin B yang diduga terdapat pada bumbu tabur pada penjual jajanan di Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin.Metode yang digunakan untuk uji kualitatif adalah metode kromatografi lapis tipis (KLT). Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sampling insidental. Sampel yang didapatkan pada penelitian ini berjumlah 16 bumbu tabur rasa balado.Sebelum melakukan pengujian sampel dipreparasi terlebih dahulu menggunakan metode penyerapan benang wol bebas lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 16 sampel ditemukan 5 sampel mengandung Rhodamin B. Berdasarkan hasil penelitian ini, masih ditemukan bumbu tabur rasa balado pada penjual jajanan di Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin tidak aman dikonsumsi. Kata Kunci : Bumbu Tabur, Rhodamin B, Kromatografi Lapis Tipis ABSTRACT Spice flavor gives a flavor to the food or snacks, that are usually red or orange light that allegedly contain a prohibited coloring of Rhodamine B. Rhodamin B is a chemical used for red dyes in the textile and plastics industries. The aim of this research is to prove the existence of Rhodamin B dye which is suspected to be found in spice on the seller of snack in North Banjarmasin Subdistrict of Banjarmasin. The method used for qualitative test is thin layer chromatography (TLC) method. Sampling was done by incidental sampling technique. The samples obtained in this study amounted to 16 spice flavor balado.Before doing sample testing dipreparasi first using the method of absorption of fat-free yarn wool. The results showed that from 16 samples found 5 samples containing Rhodamin B. Keywords : Seasoning Flavor, Rhodamin B, Thin Layer Chromatography
Uji Aktivitas Ekstrak Etanolik Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.) terhadap Staphylococcus aureus secara In Vitr Novia Ariani; Dwi Rizki Febrianti; Rakhmadhan Niah
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8080

Abstract

ABSTRAK Tanaman kemangi banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengobatan infeksi khususnya bagian daun. Hal ini dikarenakan daun kemangi memiliki senyawa aktif seperti minyak atsiri, alkaloid, saponin, flavonoid, triterpenoid, steroid, tannin dan fenol yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya aktivitas, mengetahui diameter zona hambat dan mengetahui klasifikasi kekuatan aktivitas daya hambat antibakteri ekstrak etanol daun kemangi. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan metode difusi lubang sumuran dengan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling.  Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu konsentrasi 100%, 80%, 60%, 40%, 20%, sedangkan untuk kontrol positif digunakan klindamisin 30µg, dan kontrol negatif yang digunakan etanol 96%. Hasil diameter zona hambat yang terbentuk diukur dengan jangka sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kemangi memiliki aktivitas dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan diameter rata-rata yang didapat dari setiap perlakuan yaitu 100% (10,08 mm), 80% (8,10 mm), 60% (6,49 mm), 40% (4,29 mm), 20% (2,26 mm), dan sebagai klasifikasi kekuatan aktivitas daya hambat antibakteri yaitu pada konsentrasi 100% kuat, 80%-60% sedang dan 40%-20% lemah. Kata Kunci : Daun kemangi, Ekstrak, Difusi, Staphylooccus aureus  ABSTRACT Part of the basil plant (Ocimum sanctum L.) that widely used by people for treatment of infections is basil leaves. This is because basil leaves have active compounds such as essential oils, alkaloids, saponins, flavonoids, triterpenoids, steroids, tannins and phenols which can inhibit bacterial growth. This research aimed to find out the presence or absence of activity, to determine the diameter of the inhibitory zone and the classification of antibacterial mention against what the name of bacterial is activity of ethanol extract of basil leaves. The type of this research is experimental research with a well diffusion method with sampling technique is purposive sampling. The concentration of extracts used were concentrations of 100%, 80%, 60%, 40%, 20%, while as positive control is  clindamycin 30µg, and the negative control used 96% ethanol. The resulting diameter of the inhibition zone is measured by the calipers.  The results showed that the ethanol extract of basil leaves had an activity in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus bacteria with an average diameter obtained from each treatment that was 100% (10,08mm); 80% (8,10mm); 60% (6,49mm); 40% (4,29mm); 20% (2,26mm), and as the antibacterial activity classification, that were strong in 100% of extract concentration, medium in 60-80% of extract concentration, and weak in 20-40% of extract concentration. Keywords : Basil leaf, Extract, Diffusion, Staphylooccus aureus
Antioksidan Daun Kumpai Mahung (Eupathorium inulifolium H.B&K) Dwi Rizki Febrianti; Rakhmadhan Niah; Novia Ariani
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9108

Abstract

Daun Kumpai Mahung (Eupathorium inulifolium H.B & K) merupakan salah satu tumbuhan endemik Kalimantan Selatan. Secara turun temurun digunakan sebagai obat tradisional Dayak Meratus sebagai obat diare, demam, dan malaria. Tanaman ini dicurigai memiliki nilai antioksidan tinggi karena mengandung metabolit skunder fenolik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak metanol daun E. inulifolium serta nilai IC50-nya. Penelitian ini menggunakan metode DPPH dengan instrumen spektofotometri UV-vis dengan panjang gelombang 517 nm. Dari hasil perhitungan dan replikasi nilai IC50 yang didapat sebesar 38,9 ppm. Ekstrak daun E. inulifolium memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dalam meredam radikal bebas. Kata Kunci: Daun, Potensi Antioksidan, Endemik, IC50, Ekstrak Etanol, Fenolik Kumpai Mahung (Eupathorium inulifolium H.B & K) leaves are one of the endemic plants of South Kalimantan. From generation to generation it is used as a traditional medicine for Dayak Meratus as a medicine for diarrhea, fever, and malaria. This plant is suspected of having high antioxidant value because it contains phenolic secondary metabolites. The purpose of this study was to determine the antioxidant activity of the methanol extract of E. inulifolium leaves and its IC50 value. This study used the DPPH method with spectophotometer UV-vis instrument at wavelength of 517 nm. From the calculation and replication, the IC50 value obtained is 38.9 ppm. E. inulifolium leaf extract has very strong antioxidant activity in reducing free radicals. 
Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Kulit Jeruk Siam Banjar (Citrus reticulata) Terhadap Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa Dwi Rizki Febrianti; Yugo Susanto; Rakhmadhan Niah; Siti Latifah
Jurnal Pharmascience Vol 6, No 1 (2019): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v6i1.6070

Abstract

ABSTRAK Jeruk siam yang berkembang di Kalimantan Selatan telah dikukuhkan menjadi varietas unggul nasional dengan nama jeruk siam Banjar. Kulit jeruk belum dimanfaatkan secara optimal hanya dibuang sebagai limbah. Kulit jeruk mengandung beberapa senyawa salah satunya mengandung senyawa aktif minyak atsiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri minyak atsiri kulit jeruk siam Banjar (Citrus reticulata) terhadap pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa. metode penarikan minyak atsiri kulit jeruk siam Banjar menggunakan metode destilasi air. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  minyak atsiri kulit jeruk siam Banjar diperoleh sebanyak 10 mL (0,58%), berwarna kuning, aroma khas jeruk, bentuk cair, rasa getir dan tidak ada noda transparan. Hasil penelitian uji aktivitas menunjukkan minyak atsiri kulit jeruk siam Banjar dapat menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa. Pada volume 50 µL, 75 µL, dan 100 µL minyak atsiri kontrol positif (ciprofloxacin) sedangkan kontrol negatif (aqua pro injection). diameter zona bening disekitar cakam  dengan rata-rata diameter zona hambat yang dihasilkan beturut-turut 3,55 mm, 4,54 mm, 5,14 mm, 22,38 mm, dan 0 mm. Kata kunci: Kulit jeruk siam Banjar (Citrus reticulata), Minyak atsiri,  Pseudomonas aeruginosa. ABSTRACT Jeruk siam that develop in South Kalimantan have been confirmed as national superior varieties by the name of jeruk siam banjars. Citrus skin has not been used optimally only as waste. Orange peel contains several compounds, one of which contains active compounds of essential oils. The purpose of this study was to determine the antibacterial activity of essential oils of jerk siam banjars skin (Citrus reticulata) to the growth of Pseudomonas aeruginosa. method of withdrawal of jeruk siam banjars essential oil using a water distillation method. Antibacterial activity test was carried out using the disc diffusion method against the bacterium Pseudomonas aeruginosa. The results showed that 10 mL (0.58%) of essential oil from the jeruk siam banjars, yellow, orange aroma, liquid form, bitter taste, and no transparent stains. The results of the activity test showed that the essential oil of the skin of the jeruk siam banjars could inhibit the growth of the bacterium Pseudomonas aeruginosa. At the volume of 50 µL, 75 µL, and 100 µL of essential oil control positive (ciprofloxacin) while the negative control (aqua pro injection). the diameter of the clear zone around the paper disk with the average diameter of the inhibition zone produced was 3.55 mm, 4.54 mm, 5.14 mm, 22.38 mm and 0 mm respectively.Keywords: jeruk siam banjar (Citrus reticulata), essential oil, Pseudomonas aeruginosa.
Aktivitas Anti-Inflamasi Eupatorium inulifolium dan Kalsium Karbonat Pada Tikus Jantan Dwi Rizki Febrianti; Siska Musiam
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8078

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari potensi daun Kumpai Mahung (Eupatorium inulifolium) dan kalsium karbonat sebagai anti-inflamasi, berdasarkan obat tradisional di pegunungan Dayak Meratus Indonesia. Metode yang digunakan untuk mendapatkan ekstrak adalah maserasi menggunakan pelarut metanol dengan rasio 1:10. Uji kualitatif Penapisan fitokimia fenolik dengan senyawa FeCl3 dan kuantitatif dengan spektrofotometri UV-Vis dengan kuersetin sebagai standar, panjang gelombang 418 nm konsentrasi 10-50 ppm. Ekstrak Eupatorium inulifolium dan calcium carbonat diformulasikan menjadi salep sederhana dengan penambahan vaselin album (1:3). tes anti-inflamasi menggunakan tikus jantan yang telah diinduksi oleh karagenin 3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengujian kualitatif dan kualitatif, adalah positif senyawa fenolik, Mengandung 3,68% flavonoid. Ekstrak Eupatorium inulifolium dan kalsium karbonat dalam salep dapat secara signifikan mengurangi edema pada kaki tikus dibandingkan dengan kontrol negatif (14,1%). Kata kunci: Edema, Salep, Anti Inflamasi  ABSTRACT The purpose of this research was to study the potential Kumpai Mahung leaf (Eupatorium inulifolium) and calcium carbonate as an anti-inflammation, based on folk medicine in Dayak meratus mountains of Indonesia. The methods used to obtain the extract is maceration using methanol solvent with the ratio of 1:10.  Qualitative test Phytochemical Screening of phenolic with FeCl3 and quantitative flavonoids compounds with spectrophotometry UV-vis with quercetin as standard, wavelength 418 nm concentration 10-50 ppm. Eupatorium inulifolium extracts and calcium carbonate are formulated into simple ointments with the addition of vaseline album (1: 3) anti-inflammation test using male mice that had been inducted by carrageenan 3%. The result showed that on qualitative and qualitative testing, is positive phenolic compounds, contains 3,68% of flavonoids. Eupatorium inulifolium extract and calcium carbonate in the ointment can significantly alleviate the edema on mice’s paw compared to a negative control (14,1%).Keywords: Rat Paw Edema, Ointment, Anti-Inflammation I.       PENDAHULUAN   Peradangan adalah salah satu tema yang paling menarik untuk dipelajari karena mencakup banyak mediator, dan ini menyebabkan banyak agen peradangan seperti antibodi monoklonal dan antagonis peradangan mulai dikembangkan dan dilaporkan ada obat lain seperti asam askorbat monosiklik, garam kalsium dan kalsium karbonat juga memiliki aspek anti-inflamasi terutama yang disebabkan sengatan serangga (Karnad, Patil dan Majagi, 2006). Peradangan memiliki beberapa respons berdasarkan penyebabnya; salah satu respons peradangan yang biasa terjadi adalah edema. Edema terjadi karena meningkatnya aliran darah lokal ke area luka, dan itu menyebabkan lebih banyak mediator kimia dan histamin dilepaskan sehingga permeabilitas kapiler meningkat (Sousa, Vieira dan Pinho, 2010). Efek dari pembengkakan ini termasuk ketidaknyamanan, rasa sakit, dan ruam (Isrofah, Sagiran, dan Afandi, 2011). Obat antiinflamasi sebagian besar bekerja dengan menurunkan permeabilitas kapiler dengan menurunkan jumlah histamin yang dilepaskan oleh basofil, menghambat fungsi fagositosis leukosit dan makrofag sehingga pembengkakan dapat mereda.Penggunaan sumber daya alam di Kalimantan Indonesia, belum dilakukan secara maksimal karena keanekaragaman
Uji Kadar Sari Larut Air Dan Kadar Sari Larut Etanol Daun Kumpai Mahung (Eupathorium inulifolium H.B.&K) Dwi Rizki Febrianti; Mahrita Mahrita; Novia Ariani; Aditya Maulana Perdana Putra; Noorcahyati Noorcahyati
Jurnal Pharmascience Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v6i2.7346

Abstract

ABSTRAK Penentuan kadar sari larut air dan etanol adalah metode kuantitatif untuk jumlah kandungan senyawa dalam simplisia yang mampu tertarik oleh pelarut. Kedua cara yang hampir sama tersebut didasarkan ada kelarutan senyawa yang terkandung dalam simplisia. Secara turun temurun masyarakat dayak meratus dan dayak amandit menggunakan kumpai mahung (eupathorium inulifolium h.b.&k) sebagai obat diare dan malaria. Masih jarang penelitian menggunakan tanaman ini, sehingga peneliti bertujuan untuk mengetahui kadar sari larut air simplisia serbuk dan ekstrak daun kumpai mahung dengan metode yang telah ditetapkan oleh farmakope herbal. Hasil penelitian kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol tanaman kumpai mahung pada serbuk memiliki nilai 19,54% dan 16,13%. Pada ekstrak memiliki nilai 19,53% dan 14,55%. Tumbuhan yang satu family yaitu asteraceae menyebutkan bahwa kadar sari larut air tidak kurang dari 5%, yang berarti hasil memenuhi persyaratan materia medika indonesia.Kata kunci: Sari Larut Air, Sari Larut Etanol, Kumpai Mahung, AsteraceaeABSTRACT Determination of water-soluble and ethanol extract contents is a quantitative method for the amount of compound content in a simplicia that can be attracted by the solvent. Both methods are almost the same based on the solubility of the compounds contained in simplicia. For generations, the Meratus and Amandit Dayak communities use kumpai mahung (Eupathorium inulifolium H.B. & K) as a medicine for diarrhea and malaria. Research is still rare to use this plant, so researchers aim to determine the content of water-soluble extract of simplicia powder and mahung kumpai leaf extract by the method established by herbal pharmacopoeia. The results of the research showed that the concentration of water-soluble extracts and ethanol soluble extracts of this plants on the powder had values of 19.54% and 16.13%. The extracts have values of 19.53% and 14.55%. One family plant, Asteraceae, states that the water-soluble extract content is not less than 5%, which means the results meet the requirements of Indonesian medical material.Keywords:  Water Soluble Extract, Ethanol Soluble Extract
Pengaruh Metode Pengeringan Terhadap Kadar Flavonoid Ekstrak Etanolik Kulit Buah Alpukat (Persea americana Mill.) dengan Spektrofotometri UV-VIS Novia Ariani; Siska Musiam; Rakhmadhan Niah; Dwi Rizki Febrianti
Jurnal Pharmascience Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v9i1.10864

Abstract

Buah alpukat (Persea americana Mill.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki khasiat sebagai obat. Bagian yang sering dimanfaatkan adalah daging buah sedangkan kulit buah belum banyak dimanfaatkan. Kulit buah alpukat berpotensi untuk dikembangkan sebagai antioksidan dengan kandungan senyawa aktif flavonoid. Proses pengolahan simplisia sangat penting terutama pada tahap pengeringan. Tahap pengeringan bertujuan untuk memperoleh simplisia yang tidak mudah rusak selama penyimpanan dalam waktu lama dan menjamin kandungan senyawa aktif yang memiliki khasiat obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pengeringan terhadap kadar flavonoid ekstrak kulit buah alpukat. Jenis penelitian ini eksperimental. Teknik pengambilan sampel adalah Random Sampling. Metode pengeringan yang digunakan dengan penjemuran dengan sinar matahari dan menggunakan oven. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Metode analisis senyawa dilakukan dengan spektrofotometer Uv-Visible. Perbandingan dua metode pengeringan dianalisis dengan statistik Independent T-Test. Hasil penelitian menunjukkan Kadar flavonoid kulit buah alpukat yang dikeringkan dengan oven sebesar 13,14% sedangkan yang dikeringkan dengan sinar matahari ditutup kain hitam sebesar 5,58%. Dari hasil kadar dapat disimpulkan bahwa metode pengeringan kulit buah alpukat dengan oven lebih efektif dalam menghasilkan ekstrak yang memiliki kandungan kadar flavonoid Kata Kunci: Flavonoid, Metode Pengeringan, Persea americana Mill., Spektrofotometri  Avocado (Persea americana Mill.) is a plant that has medicinal properties. The part that is often used is the flesh of the fruit, while the skin of the fruit has not been widely used. Avocado skin has which the potential to be developed as an antioxidant with the active compound being flavonoids. The processing of raw materials is very important, especially at the drying stage. The drying stage aims to obtain raw materials that is not easily damaged during long storage and ensures the content of active compounds that have medicinal properties. This study aims to determine the effect of the drying method on flavonoid levels of avocado peel extract. This type of research is experimental. The sampling technique was random sampling. Methods of the drying used is in the sun drying and using an oven. Extraction was carried out by maceration method using ethanol 96% solvent. The method of compound analysis was carried out with a Uv-Visible spectrophotometer. The comparison of the two drying methods was analyzed using the Independent T-Test statistic. The results showed that the flavonoid content of oven-dried avocado peels was 13.14%, while those dried in the sun covered with a black cloth were 5.58%. From the results, it can be concluded that the oven-drying method of avocado peel is more effective in producing extracts that contain higher levels of flavonoids than the sun drying method.
EFEK EKSTRAK ETANOL SEMUT JEPANG (Tenebrio Sp) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH TIKUS PUTIH JANTAN Ratih Pratiwi Sari; Novia Ariani; Dwi Rizki Febrianti
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2017): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.786 KB) | DOI: 10.36387/jiis.v2i2.115

Abstract

Setiap manusia memiliki asam urat, karena asam urat merupakan substansi yang normal berada di dalam tubuh. Apabila kadarnya melebihi nilai batas normal dinamakan hiperurisemia. Hiperurisemia yang dibiarkan terus-menerus tanpa pengobatan akan berkembang menjadi gout. Prevalensi angka kejadian penyakit asam urat (hiperurisemia) semakin meningkat dari tahun ke tahun, baik di negara maju maupun negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya efek penurunan kadar asam urat pada tikus putih jantan dengan pemberian ekstrak etanol Semut Jepang (Tenebrio Sp).Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan pre test and post test with control group design. Penelitian ini menggunakan hewan uji sebanyak 12 ekor tikus putih jantan yang secara acak dibagi menjadi 3 kelompok terdiri dari kelompok I (kontrol negatif)  diberi aquadest, kelompok II (kelompok perlakuan) diberi ekstrak etanol Semut Jepang 2,3 mg/kgBB dan kelompok III (kontrol positif) diberi Allopurinol 27,15 mg/kgBB secara per oral. Hewan uji diinduksi dengan kalium oksonat 300mg/kgBB selama 6 hari secara intraperitoneal selama 6 hari sebelum perlakuan. Kadar asam urat hewan uji diukur dengan menggunakan alat tes strip asam urat.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol Semut Jepang (Tenebrio Sp)  dengan dosis 2,3 mg/kgBB tidak memiliki efek penurunan kadar asam urat pada tikus putih jantan.