Claim Missing Document
Check
Articles

Faktor Resiko Kejadian Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR TB) di Surakarta, Jawa Tengah Nita Yunianti Ratnasari
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 11 (2020): Nomor Khusus Mei-Juni 2020
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf11nk312

Abstract

Tuberculosis is a disease of global concern. In accordance with the 2030 Sustainable Development Goals, WHO for a reduction in tuberculosis deaths by 90% and a decrease in incidence by 80% in 2030. In 2015 there were 10.4 million new tuberculosis cases or 142 cases / 100,000 population, with 480,000 multidrug resistant cases . It is estimated that more than 55% of Multi-Resistant Tuberculosis (MDR TB) TB patients have not been diagnosed or received good and correct treatment. The design used was a case control study. Data collection was carried out at the Surakarta Center for Community Lung Health (BBKPM) in August to December 2018. Case population was all patients who received OAT resistance in 2016-2018 and proved to be resistant, as well as controlling all patients who experienced OAT resistance from 2016- 2018 and proven sensitive to OAT. Each sample consisted of 34 cases and 34 controls. Data collection techniques were carried out by observing and recording data on TB 01 form and medical records of MDR TB patients from 2016 to 2018. Variables used in this study consisted of special respondents, including age, sex, marital status, education level, occupation, approve treatment, type of financing and distance perception. Total sample in this study were 68 people. The results of the analysis displayed 4 independent variables that proved to be significant as MDR-TB predictors, namely occupation [p = 0.034; OR 1,170 (0,390-3,512)]; marital status [p = 0.033; OR 0.864 (0.299-2.495)]; regularity of taking medication [p = 0.038; OR 2,097 (1,625-2705)] and the distance [p = 0.046; OR 0.316 (0.097-1.030)]. MDR TB incidence still needs related studies related to the causes. Expected amount can be increased as much as possible. Risk factors for MDR TB events are divided into physical factors (occupation, marital status and distance) and psychological factors (regularity of taking medication). Keywords: risk factors; multi drug resistance; tuberculosis ABSTRAK Tuberkulosis merupakan penyakit yang menjadi perhatian global. Sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030, WHO menargetkan untuk menurunkan kematian akibat tuberkulosis sebesar 90% dan menurunkan insidens sebesar 80% pada tahun 2030. Pada tahun 2015 terdapat 10,4 juta kasus baru tuberkulosis atau 142 kasus/100.000 populasi, dengan 480.000 kasus multidrug-resistant. Diperkirakan pula lebih dari 55% pasien Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR TB) belum terdiagnosis atau mendapat pengobatan baik dan benar. Desain yang digunakan adalah case control study. Pengambilan data dilakukan di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta pada bulan Agustus sampai Desember 2018. Populasi kasus adalah semua penderita yang diuji resistensi OAT pada tahun 2016-2018 dan terbukti resisten, sedangkan populasi kontrol adalah semua penderita yang diuji resistensi OAT dari tahun 2016-2018 dan terbukti sensitif terhadap OAT. Adapun jumlah sampel masing-masing terdiri dari 34 kasus dan 34 kontrol. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan pencatatan data form TB 01 serta rekam medis pasien TB MDR mulai tahun 2016 sampai 2018. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari karakteristik responden, meliputi usia, jenis kelamin, status marital, tingkat pendidikan, pekerjaan, kepatuhan berobat, jenis pembiayaan serta persepsi jarak. Total sampel dalam penelitian ini sebanyak 68 orang. Hasil analisis menunjukkan terdapat 4 variabel bebas yang terbukti berpengaruh secara signifikan sebagai prediktor MDR-TB yaitu pekerjaan [p= 0,034; OR 1,170 (0,390-3,512)]; status marital [p = 0,033; OR 0,864 (0,299-2,495)]; keteraturan minum obat [p = 0,038; OR 2,097 (1,625-2,705)] dan jarak [p = 0,046; OR 0,316 (0,097-1,030)]. Kejadian MDR TB masih membutuhkan kajian mendalam terkait faktor penyebabnya. Sehingga diharapkan jumlah penderita dapat ditekan semaksimal mungkin. Faktor resiko kejadian MDR TB terbagi menjadi faktor fisik (pekerjaan, status marital dan jarak) serta faktor psikologis (keteraturan minum obat). Kata kunci: faktor resiko; multi drug resistance; tuberkulosis
Upaya pemberian penyuluhan kesehatan tentang diabetes mellitus dan senam kaki diabetik terhadap pengetahuan dan keterampilan masyarakat desa Kedungringin, Wonogiri Nita Yunianti Ratnasari
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 1 (2019): May 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.1.105-115

Abstract

AbstrakDiabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronik yang membutuhkan pengelolaan seumur hidup. Adapun maksud dan tujuan kami melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit DM serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan senam kaki diabetik secara rutin untuk menurunkan kadar gula darah. Dalam kegiatan kali ini kami berperan sebagai penyuluh atau narasumber selama prosedur pelaksanaan senam kaki diabetik didemonstrasikan. Untuk memperlancar jalannya acara, kami juga dibantu oleh 10 mahasiswa semester VI. Rangkaian kegiatan dimulai dengan perkenalan, penjelasan maksud dan tujuan, penyampaian materi DM. Setelah semua materi tersampaikan dilanjutkan penataan lokasi untuk demonstrasi senam kaki diabetik. Peserta duduk diatas kursi yang telah disediakan. Semua terlihat cukup antusias mengikuti setiap instruksi dan contoh gerakan dari penyuluh. Setelah semua materi tersampaikan dilanjutkan evaluasi. Adapun evaluasi subyektif yaitu dengan menanyakan perasaan peserta setelah kegiatan; sedangkan evaluasi obyektif adalah dengan menanyakan kembali urutan gerakan senam kaki yang baru saja dipelajari. Hasil dari kegiatan penyuluhan kesehatan ini adalah terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat tentang penyakit DM dan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya  senam kaki diabetik. Kata kunci: Penyuluhan kesehatan; diabetes mellitus; pengetahuan; keterampilan; senam kaki diabetik.  AbstractDiabetes Mellitus (DM) is a chronic disease that requires continuous management. Related to the purpose and purpose of conducting this health education activity is to increase public knowledge about DM disease and increase public awareness about doing diabetic foot exercises regularly to increase blood sugar levels. In this activity, we invited as an instructor or resource person during the procedure to demonstrate diabetic foot exercises. To facilitate the running of the event, we were also invited by 10 VI semester students. The series of activities begins with an introduction, an explanation of the intent and purpose, the delivery of DM material. After all the material has been delivered, set diabetic foot exercises. Participants who sit on the seats provided. All seemed enthusiastic enough to follow each instruction and example of the movement of the instructor. After all, the material is delivered. As a subjective evaluation, namely by asking participants' feelings after the activity; While objective evaluation is to re-ask for the sequence of foot exercises that have just been studied. The results of this health education activity were an increase in public knowledge about DM disease and an increase in public awareness of the importance of diabetic foot exercises. Keywords: Health extension; diabetes mellitus; knowledge; skills; diabetic foot gymnastics.
Penyuluhan Pencegahan Risiko Stunting 1000 Hari Pertama Kehidupan pada Generasi Muda Marni Marni; Nita Yunianti Ratnasari
Indonesian Journal of Community Services Vol 3, No 2 (2021): November 2021
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.3.2.116-125

Abstract

Masa pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih berlanjut maka pemerintah membuat kebijakan PSBB /PPKM Mikro. Kebijakan ini menyebabkan masalah pada perubahan sosial ekonomi. Banyak orang miskin mendadak akibat pandemi, sehingga tidak mampu mencukupi nutrisi/gizi yang bisa mengakibatkan terjadinya stunting pada anggota keluarganya, termasuk keluarga yang mempunyai anak bawah dua tahun (baduta) dan ibu hamil, kurangnya pengetahuan dalam memberikan nutrisi yang tepat pada ibu hamil, menyusui dan anak baduta juga bisa menyebabkan stunting. Perlu peran aktif dari petugas kesehatan namun saat ini petugas mempunyai beban berat dalam menghadapi masalah kesehatan covid-19, sehingga perguruan tinggi diharapkan berkontribusi membantu pemerintah dalam mencegah terjadinya stunting. Tujuan kegiatan: meningkatkan pengetahuan generasi muda tentang cara mencegah terjadinya stunting, memotivasi generasi muda agar berkontribusi dengan memberi penyuluhan kepada masyarakat, terutama yang mempunyai keluarga dengan ibu hamil, ibu menyusui dan anak baduta, berperilaku hidup bersih dan sehat dengan tidak merokok,tidak mengkonsumsi narkoba,  tidak melakukan seks bebas sehingga tidak muncul kehamilan yang tidak diharapkan. Metode penyuluhan dalam kegiatan ini adalah dengan ceramah, diskusi dan tanya jawab, memberikan kuesioner sebelum diberi penyuluhan untuk mengetahui pengetahuan generasi muda tentang pencegahan stunting peran generasi muda, dan setelah diberi penyuluhan diberi kuesioner lagi untuk mengetahui peningkatan pengetahuan pada generasi muda tersebut. Hasil: Skor nilai mean pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan adalah 49,3, skor setelah diberikan penyuluhan adalah nilai mean 75,2 sehingga terjadi kenaikan skor mean nilai 25,9. Kesimpulan: Penyuluhan kesehatan ini terbukti meningkatkan pengetahuan para generasi muda dalam mencegah terjadinya stunting. Covid-19 pandemic period until now still persists then the government makes policy PSBB / PPKM Micro. This policy causes problems for socio- economic change. Many people are suddenly poor due to the pandemic, so they are unable to fulfill their nutrition / nutrition which can lead to stunting in their family members   including families who have a child under two years (baduta) and the mother was pregnant, the lack of knowledge in giving nutrients are right on mothers pregnant, breastfeeding and child baduta also can cause stunting. Health workers need an active role, but currently officers have a heavy burden in dealing with covid-19 health problems, so universities are expected to contribute to assisting the government in dealing with Covid-19 health problems. The purpose of activities: improving knowledge generation youth about how to prevent the occurrence of stunting, motivate generations of youth in order to contribute to give counseling to the community, especially that having a family with a mother pregnant. Mother breastfeeding and child baduta, behaves live clean and healthy by not smoking, not taking drugs, do not pass up sex -free so it does not appear a pregnancy that was not expected. Methods of counseling in activity this is by lectures, discussions and question and answer, giving a questionnaire before given counseling to know the knowledge of adolescents on the prevention of stunting and the role of the generation of young, and after a given extension by the questionnaire again to determine the increase in knowledge on adolescent that. Results: Scores grades mean knowledge before given counseling is 49.3, scores after a given extension is the value of the mean of 75.2 to happen hike score mean value of   25.9. Conclusion: This health education is proven to increase the knowledge of adolescents in preventing stunting.
EFEKTIVITAS PENERAPAN POLA ASUH SEHAT MENTAL TERHADAP PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK PRASEKOLAH USIA 3-6 TAHUN Susana Nurtanti; Nita Yunianti R
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2015: Prosiding Bidang MIPA dan Kesehatan The 2nd University Research Colloquium
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.432 KB)

Abstract

The background of this research is the increasing number of child abuse committed by parents and those nearest that hinder the psychosocial development. The purpose of this study was to analyze the effectiveness of mental health parenting to the psychosocial development of pre-school age children 3-6 years in TK Pertiwi I Pracimantoro. This study uses a study design one group pre post test design. The samples were all parents in TK Pertiwi I who have children aged three to six years some 23 peoples. The dependent variable in this study is mental health parenting, the independent variable is the psychosocial development of preschool children 3-6 years. The research instrument used was a questionnaire. Data analysis using SPSS version 17 for analyzing the characteristics of respondents by age, gender, occupation and number of children, to analyze the effect of mental health parenting to psychosocial development of children aged 3-6 years with T test. The results show the value of t is greater than t table so that there is a significant effect. p-value 0.000 > 0.05 (95% confidence level) showed differences in the psychosocial development before and after the application of mental health parenting. The mean result is 18 174 before treatment, after treatment is 20 478 there is a difference score of 2.304 indicating an increase in psychosocial development of preschool children 3 – 6 years after getting treatment of mental health parenting of parents.Keywords: Mental Health Parenting, Psychosocial Development, Preschool children age 3-6 years.
PENKES ADL LANSIA EFEKTIF MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA Nita Yunianti Ratnasari
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2013: PROSIDING KONFERENSI NASIONAL PPNI JAWA TENGAH
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.458 KB)

Abstract

Latar Belakang: Kondisi fisik seseorang yang telah memasuki masa lansia mengalami penurunan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari-hari. Keluarga masih merupakan tempat tinggal utama bagi para lansia, sehingga keluarga memegang andil yang besar dalam pemberian perawatan lansia, sedangkan belum tentu semua keluarga sudah mengerti bagaimana merawat ADL lansia yang semestinya. Tujuan: Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan Activities Daily Living (ADL) lansia terhadap pengetahuan dan sikap keluarga. Metode: Quasy eksperimen dengan rancangan one group pre test and post test design. Populasi adalah keluarga dengan lansia di wilayah Kelurahan Giriwono sejumlah 50 orang. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling diperoleh jumlah sampel sebanyak 43 orang. Pengelolaan data dengan SPSS 17, dengan uji T test. Hasil: Terdapat pengaruh yang bermakna antara pengetahuan responden tentang ADL lansia sebelum dan setelah mendapatkan pendidikan kesehatan dengan t hitung sebesar 7.491 (p=0,000; α < 0,05). Terdapat pengaruh yang bermakna antara sikap responden sebelum dan setelah mendapatkan pendidikan kesehatan ADL lansia dengan nilai t hitung sebesar 3.130 (p=0,003; α<0,05). Kesimpulan: Pemberian penkesActivities Daily Living (ADL) lansia pada keluarga bermakna dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap keluarga.Kata kunci : Pendidikan kesehatan ADL Lansia, Pengetahuan, Sikap Keluarga.
CLEAN AND HEALTHY LIFE BEHAVIOR (PHBS) IN NGADIROJO, WONOGIRI REGENCY Nita Yunianti Ratnasari
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2017: Proceeding International Seminar of Occupational Health and Medical Sciences (I-SOCMED) 2017 “
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.833 KB)

Abstract

Clean and Healthy Life Behavior (PHBS) was related to the improvement of individuals, families, society and health environment. Based on the data from the Ministry of Health in 2016, Indonesian households that practiced the PHBS only reached 55.6% and in Central Java reached 75,1 %. The data in Ngadirojo sub-district in 2016 founded that the total number of houses was 14,287 houses, which had beeninspected for 2,244 houses, this data was used as a reference for this research. There are still some villages in Ngadirojo sub-district that have health problems related to PHBS. This study was conducted to know the description of clean and healthy life behavior of the society in the work area of Puskesmas Ngadirojo (KerjoLor and Ngadirojo Kidul Village) Wonogiri Regency, and it was descriptive quantitative research. All the population was heads of household (KK) which were in two research villages of the total 4,556 families. The sample collection used total sampling method, where the number of samples reached1,129 KK in Ngadirojo Kidul and 1,365 KK in Kerjo Lor. The result achievement of PHBS was obtained by KerjoLor village (76,42%) and NgadirojoKidul village (82,75%). From these two villages, there were three PHBS indicators with the lowest value, there were non-smoking (41%), Heath Insurance membership (JPK) (46%), and Family planning program (KB) (52%). The highest PHBS indicators were clean water (99.5%) and healthy latrines (98.5%). PHBS achievement in KerjoLor village (76.42%) was still belowthan the national target, activating health cadres, providing continuous and comprehensive health education to the society and assisting the development of PHBS Keywords: PHBS, Society, Families, PHBS Indicators.
DIMENSI KONSEP DIRI PADA PENDERITA HIV/AIDS Susana Nurtanti; Nita Yunianti Ratnasari
Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Vol. 2 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.22 KB) | DOI: 10.32584/jikj.v2i2.323

Abstract

Permasalahan HIV dan AIDS menjadi tantangan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat dimensi  konsep diri dari aspek usia, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan pada ODHA di Klinik VCT RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner tentang konsep diri. Hasil analisis karakteristik responden berdasarkan usia menggambarkan jumlah tertinggi responden adalah usia 41 sampai dengan lebih dari 50 tahun, berjenis kelamin perempuan, berpendidikan sekolah dasar dan bekerja sebagai karyawan/buruh. Sebagian besar responden berdasarkan usia mempunyai dimensi konsep diri yang tinggi yaitu pada usia lansia akhir, berjenis kelamin perempuan. Pada bagian dimensi kritik diri sebagian besar yang memiliki kritik diri tinggi adalah laki laki. Berdasarkan tingkat pendidikan menunjukkan bahwa dimensi konsep diri responden dengan pendidikan SD lebih tinggi pada dimensi diri moral etik, diri pribadi, diri sosial dan kritik diri. Responden dengan pendidikan SMU mempunyai dimensi konsep diri yang tinggi pada dimensi diri fisik dan diri keluarga. Berdasarkan pekerjaan menunjukkan sebagian besar petani mempunyai tingkat dimensi konsep diri yang tinggi dibandingkan swasta/karyawan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat dimensi respon konsep diri pada responden adalah tinggi  dari aspek usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan. Kata kunci: Dimensi konsep diri, ODHA DIMENSIONS OF SELF-CONCEPT IN HIV / AIDS ABSTRACTThe problems with HIV and AIDS pose health challenges in almost all the world, including in Indonesia. The objective of this study was to determine the level of dimensions of self-concept in PLWHA at the VCT Clinic at the RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri Regency Indonesia. The design of this study is descriptive quantitative research with a cross-sectional approach. The instrument in this study used a questionnaire about self-concept. The results of the analysis characteristics of respondents based on age illustrate the highest number of respondents aged 41 to more than 50 years, female sex, elementary school education and working as an employee / laborer. Most respondents based on age have a high self-concept dimension, namely at the age of the elderly, female. In the dimension of self criticism, most of those who have high self-criticism are men. Based on the level of education shows that the self-concept dimensions of respondents with elementary education are higher in the self dimension of moral ethics, personal self, social self and self criticism. Respondents with high school education have high self-concept dimensions in the dimensions of physical self and family self. Based on work shows that most farmers have a high level of self-concept dimensions compared to the private sector / employee.The conclusion of the study show that most of the dimensions of the self-concept response to respondents are high in terms of age, gender, education level and occupation. Keywords: Self-concept dimensions, PLWHA
Pembekalan calon petugas penyuluh kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas serta kinerja petugas penyuluh di Wonogiri Nita Yunianti Ratnasari; Marni Marni
Educate: Journal of Community Service in Education Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/edumore.v1i1.1808

Abstract

Latar Belakang: Upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat ditentukan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pencapaian tujuan tersebut adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu keberadaan petugas penyuluh kesehatan yang berkualitas dan cakap. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kecakapan petugas penyuluh kesehatan selama menjalankan peran dan fungsinya sebagai petugas kesehatan, sehingga diharapkan dapat mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu terwujudnya upaya kesehatan promotif dan preventif, peningkatan derajat kesehatan masyarakat serta pencegahan terhadap kondisi sakit. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan melalui ceramah dan diskusi dengan peserta sejumlah 23 orang, sehubungan dengan masih berlangsungnya masa pandemi maka seluruh proses berlangsung secara daring. Ada 3 tahap di dalamnya yaitu penyampaian materi, diskusi tanya jawab serta monitoring dan evaluasi. Hasil: Seluruh peserta menyatakan puas dengan kegiatan ini, dimana 87% menyatakan terkait peran petugas penyuluh kesehatan adalah memberikan edukasi, memberikan motivasi, membantu menyampaikan informasi penting terkait kesehatan, menyebarkan pesan mengenai pendidikan kesehatan, memberikan solusi menyelesaikan masalah. Sebelum memberikan penyuluhan, petugas perlu melakukan analisis kebutuhan kesehatan di masyarakat, masalah kesehatan apa yang saat itu sedang dihadapi masyarakat. Kesimpulan: Peran petugas penyuluh dalam memberikan edukasi di masyarakat tidak lepas dari tingkat pemahaman petugas akan materi penyuluhan, kecakapan petugas berinteraksi dengan masyarakat serta kesesuaian antara topik penyuluhan dengan kebutuhan masyarakat..
UPAYA KEWASPADAAN DINI TERHADAP PENYEBARAN PENYAKIT HEPATITIS MELALUI KEGIATAN PENYULUHAN KESEHATAN KEPADA KADER KESEHATAN DI KECAMATAN SELOGIRI, KABUPATEN WONOGIRI Nita Yunianti Ratnasari; Sri Sularti; Maria Tri Wijayanti
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat "SIDOLUHUR" Vol 1 No 02 (2022): Jurnal Pengabdian Masyarakat SIDOLUHUR
Publisher : LP3M

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.181 KB)

Abstract

Hepatitis termasuk penyakit yang masih menjadi ancaman kesehatan. Penanganan hepatitis menjadi tanggung jawab semua pihak, perlu adanya tindakan khusus untuk mengatasi penyakit ini sehingga laju penyebaran hepatitis dapat dikendalikan. Kader kesehatan sebagai garda terdepan upaya penanganan masalah kesehatan di masyarakat berperan penting terkait penatalaksanaan penyakit ini, sehingga kader harus dilengkapi dengan pengetahuan dan ketrampilan tentang berbagai masalah kesehatan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan kader terkait hepatitis, sehingga diharapkan dengan bertambahnya pemahaman mereka, maka tingkat kewaspadaan dini, pengenalan, pencegahan dan penatalaksanaan penyakit dapat dilakukan, yang semua akan bermuara pada jumlah kasus dapat dikendalikan. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk penyuluhan kesehatan dilakukan di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Selogiri, Wonogiri pada hari Selasa, 31 Mei 2022 jam 10.00 WIB. Alat yang dipakai yaitu laptop, LCD, sound system, materi tentang kewaspadaan hepatitis, dokumen pendukung seperti lembar presensi kehadiran peserta. Kegiatan ini dihadiri oleh 45 peserta yang berasal dari 12 desa di kecamatan Selogiri, yaitu desa Pare, Jendi, Jaten, Gemantar, Singodutan, Keloran, Kaliancar, Kepatihan, Pule, Sendang Ijo, Nambangan dan Selogiri. Pada awalnya peserta memiliki tingkat pengetahuan rendah terkait hepatitis, dan setelah dilakukan penyuluhan kesehatan maka terjadi peningkatan pengetahuan peserta. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyuluhan kesehatan efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan kader kesehatan.
Evaluasi Perilaku Kepatuhan Berobat Penderita Tuberkulosis Ditinjau dari Faktor Predisposisi Kejadian Tuberkulosis di Puskesmas Selogiri, Wonogiri Nita Yunianti Ratnasari
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 7th University Research Colloquium 2018: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.566 KB)

Abstract

Kepatuhan berobat pasien merupakan salah satu faktor yangmenentukan dalam keberhasilan terapi, namun kepatuhan untukmelakukan pengobatan oleh pasien tuberkulosis seringkali rendah.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kepatuhan berobatpenderita tuberkulosis di Puskesmas Selogiri Kabupaten Wonogiri.Desain penelitian ini menggunakan studi cross-sectional deskriptifanalisis dengan menggunakan alat pengumpul data berupa kuesionersebagai data primer dan kartu pengobatan pasien (Form TB 01) sebagaidata sekunder. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Selogiri padabulan Nopember sampai Desember 2017 yaitu pada pasien tuberkulosisyang telah menyelesaikan pengobatan selama 2 bulan atau lebih.Populasi seluruh pasien tuberkulosis yang berobat di PuskesmasSelogiri, yang terdaftar dari bulan Januari 2016 sampai Desember2017. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling, dimanadata primer diperoleh peneliti dengan melakukan kunjungan ke rumahresponden, sementara data sekunder diperoleh dari P2 PuskesmasSelogiri. Hasil penelitian dari 23 total responden selama menjalanipengobatan menunjukkan jumlah responden yang patuh terhadappengobatan tuberkulosis lebih kecil dibandingkan responden yang tidakpatuh, yaitu 10 responden (43,47%) patuh sedangkan responden tidakpatuh 13 (56,52%). Kesimpulan penelitian ini tidak terdapat hubunganantara faktor sosiodemografis, pengetahuan, efek samping obat, riwayatpenyakit lain dengan kepatuhan berobat penderita tuberkulosis diPuskesmas Selogiri. Studi ini menunjukkan masih tingginya angkaketidakpatuhan berobat penderita tuberkulosis. Oleh karena itu perankeluarga/PMO dalam mengawasi pengobatan perlu ditingkatkansehingga penyebaran penyakit dan meluasnya resistensi bakteri dapatdicegah.