Claim Missing Document
Check
Articles

PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT (PHBS) : GOSOK GIGI DAN TINGKAT PENGETAHUAN ANAK USIA 7-12 TAHUN Dita Rohma; Nita Yunianti Ratnasari
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 11 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Health is one of the important factors in efforts to develop Human Resources (HR), including education. Therefore, it becomes natural for health insurance. Healthy living behavior is one of the important efforts made in creating healthy environmental conditions, especially elementary school children who are still in the growth and development stage. Toothbrush is one of the most effective oral physiotherapy tools. It is widely used for cleaning teeth and mouth. There are various dental techniques. The method used in this research is a descriptive case study which is one type of strategy in qualitative research with a case study research approach (case studies). The population in this study were all children in Tegal Rejo Village, Kaliancar, Selogiri, Wonogiri. A sample of 5 children respondents lacked knowledge about brushing their teeth. The instrument uses the extension program unit (SAP), leaflets and questionnaire sheets. Study results The five respondents experienced an increase in knowledge as evidenced by the ability to answer questionnaires before and after health education, from the less-enough category (35%-45%) to the fairly-good category (85%-95%). Kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), termasuk pendidikan. Oleh karena itu, menjadi hal yang wajar jika penjaminan kesehatan.Perilaku hidup sehat merupakan salah satu upaya yang penting dilakukan dalam menciptakan kondisi lingkungan yang sehat, terutama anak sekolah dasar yang masih dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan.Sikat gigi merupakan salah satu alat fisioterapi mulut yang digunakan secara luas untuk membersihkan gigi dan mulut. Terdapat berbagai teknik menyikat gigi. Metode yang digunakan dalam penelitian dalam penelitian ini adalah studi kasus deskriptif yang merupakan salah satu jenis strategi dalam penelitian kualitatif dengan pendekatan case study research (studi kasus). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak di Desa Tegal Rejo, Kaliancar, Selogiri, Wonogiri. Sampel sebanyak 5 responden anak kurang pengetahuan tentang gosok gigi. Instrument menggunakan satuan acara penyuluhan (SAP), Leaflet dan lembar kuisioner. Hasil studi Kelima responden mengalami peningkatan pengetahuan yang dibuktikan dengan kemampuan menjawab kuesioner sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan, dari kategori kurang-cukup (35%-45%) ke kategori cukup-baik (85%-95%).
Tuberculosis Research Trends in Indonesian Health Scientific Journals: From Research Design to Data Analysis Nita Yunianti Ratnasari; Sri Handayani
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 18, No 4 (2023)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v18i4.39699

Abstract

This study aims to analyze various tuberculosis articles that have been published in health scientific journals in Indonesia. These involve the frequency of the number of publications per year, type of research, research subjects, and topics that are often raised by the researchers in their research. This research method used the principle of content analysis which focused on findings from various studies on tuberculosis that have been published in scientific journals in Indonesia. Data were collected from content analysis in journals related to tuberculosis. The results of the journal’s content analysis published in SINTA-1 with the tuberculosis subject area in the last ten years as a whole show the progress from year to year. There are four things that become the subjects of study analysis, namely the number of publications per year (the publication of tuberculosis articles in the SINTA 1 journal decreased in 2019 because of the emergence of the Coronavirus in that year and began to plague in the following years); research type (in this study the results obtained that of the 27 articles analyzed, 23 of them were quantitative types). Subject (tuberculosis patients sampled in this study included the intensive phase and the advanced phase patients) and research topic (topics around knowledge are still the variables that researchers are most interested in).
Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAAREDI) Nita Yunianti Ratnasari; Retno Ambarwati
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 6, No 1 (2024): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v6i1.11150

Abstract

Peran orang tua sangatlah krusial dalam membimbing anak di era digital saat ini. Salah satu perannya bisa berupa memilih tontonan atau tayangan sesuai dengan umurnya. Pola asuh anak dan remaja di era digital perlu diterapkan dengan baik oleh orang tua. Era digital memang sudah tidak bisa dihindari, sehingga orangtua perlu beradaptasi dan memilih pola asuh yang tepat guna menghadapi terpaan digital. Salah satu bentuk transfer of knowledge yang dinilai efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat adalah penyuluhan kesehatan. Diharapkan dari kegiatan sosialisasi ini mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya anggota tim penggerak PKK di Kabupaten Sragen tentang pentingnya pola asuh anak dan remaja di era digital. Metode pelaksanaan yang dilakukan yaitu melalui pertemuan klasikal, tatap muka secara langsung untuk mengikuti penyampaian informasi kesehatan yang disampaikan oleh pemateri. Hasil yang diperoleh yaitu pada kelompok sasaran sudah memahami konsep pola asuh anak dan remaja di era digital meliputi pengertian, peran orang tua, konsep tumbuh kembang anak serta berbagai upaya pencegahan yang dapat dilakukan terhadap kejadian penyalahgunaan gadget.
Pembekalan calon petugas penyuluh kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas serta kinerja petugas penyuluh di Wonogiri Ratnasari, Nita Yunianti; Marni, Marni
Educate: Journal of Community Service in Education Vol 1 No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/educate.v1i1.1808

Abstract

Latar Belakang: Upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat ditentukan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pencapaian tujuan tersebut adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu keberadaan petugas penyuluh kesehatan yang berkualitas dan cakap. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kecakapan petugas penyuluh kesehatan selama menjalankan peran dan fungsinya sebagai petugas kesehatan, sehingga diharapkan dapat mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu terwujudnya upaya kesehatan promotif dan preventif, peningkatan derajat kesehatan masyarakat serta pencegahan terhadap kondisi sakit. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan melalui ceramah dan diskusi dengan peserta sejumlah 23 orang, sehubungan dengan masih berlangsungnya masa pandemi maka seluruh proses berlangsung secara daring. Ada 3 tahap di dalamnya yaitu penyampaian materi, diskusi tanya jawab serta monitoring dan evaluasi. Hasil: Seluruh peserta menyatakan puas dengan kegiatan ini, dimana 87% menyatakan terkait peran petugas penyuluh kesehatan adalah memberikan edukasi, memberikan motivasi, membantu menyampaikan informasi penting terkait kesehatan, menyebarkan pesan mengenai pendidikan kesehatan, memberikan solusi menyelesaikan masalah. Sebelum memberikan penyuluhan, petugas perlu melakukan analisis kebutuhan kesehatan di masyarakat, masalah kesehatan apa yang saat itu sedang dihadapi masyarakat. Kesimpulan: Peran petugas penyuluh dalam memberikan edukasi di masyarakat tidak lepas dari tingkat pemahaman petugas akan materi penyuluhan, kecakapan petugas berinteraksi dengan masyarakat serta kesesuaian antara topik penyuluhan dengan kebutuhan masyarakat..
Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAAREDI) Ratnasari, Nita Yunianti; Ambarwati, Retno
Educate: Journal of Community Service in Education Vol 4 No 1 (2024): June
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/educate.v3i2.4278

Abstract

Peran orang tua sangatlah krusial dalam membimbing anak di era digital saat ini. Salah satu perannya bisa berupa memilih tontonan atau tayangan sesuai dengan umurnya. Pola asuh anak dan remaja di era digital perlu diterapkan dengan baik oleh orang tua. Era digital memang sudah tidak bisa dihindari, sehingga orangtua perlu beradaptasi dan memilih pola asuh yang tepat guna menghadapi terpaan digital. Salah satu bentuk transfer of knowledge yang dinilai efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat adalah penyuluhan kesehatan. Diharapkan dari kegiatan sosialisasi ini mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya anggota tim penggerak PKK di Kabupaten Sragen tentang pentingnya pola asuh anak dan remaja di era digital.  Metode pelaksanaan yang dilakukan yaitu melalui pertemuan klasikal, tatap muka secara langsung untuk mengikuti penyampaian informasi kesehatan yang disampaikan oleh pemateri.  Hasil yang diperoleh yaitu pada kelompok sasaran  sudah memahami konsep pola asuh anak dan remaja  di era digital  meliputi pengertian,   peran orang tua, konsep tumbuh kembang anak serta berbagai upaya pencegahan  yang dapat dilakukan terhadap kejadian penyalahgunaan gadget
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN ISOLASI MANDIRI COVID-19 TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN ANAK USIA 12-15 TAHUN DI DESA TEGAL REJO KECAMATAN SELOGIRI, WONOGIRI Ratnasari, Nita Yunianti; Manik, Amalinda Yusia
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 12 No. 1 (2023): JANUARI 2023
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v12i1.81

Abstract

Latar Belakang : Usia 12-15 tahun merupakan usia remaja awal dengan pertumbuhan meningkat cepat dan mencapai puncaknya. Pada usia ini identitas diri sangat penting termasuk didalamnya citra diri dan citra tubuh. Isolasi adalah suatu proses untuk mengurangi penularan suatu penyakit dengan upaya memisahkan orang sakit atau memiliki gejala dengan orang yang sehat. Isolasi mandiri yaitu upaya mencegah penyebaran COVID-19 dengan berdiam diri di rumah sambil memantau kondisi diri seraya tetap menjaga jarak aman dari orang sekitar atau keluarga. Upaya pendidikan kesehatan dimaksudkan untuk menambah pengetahuan pada seseorang agar mampu merubah perilaku kesehatannya yang awalnya kurang baik menjadi lebih baik, sehingga dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang isolasi mandiri terhadap tingkat pengetahuan anak usia 12-15 tahun di desa Tegal Rejo, Selogiri, Wonogiri. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan case study research (studi kasus). Populasi pada penelitian ini adalah anak usia 12-15 tahun di Desa Tegal Rejo, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri dengan sampel 3 responden. Hasil Penelitian : Hasil (pre-test) tingkat pengetahuan : Responden 1 (50%), responden 2 (60%), dan responden 3 (50%). Hasil (post-test) tingkat pengetahuan : Responden 1 (80%), responden 2 (80%), dan responden 3 (100%).. Kesimpulan : Ketiga responden mengalami peningkatan tingkat pengetahuan setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang isolasi mandiri saat Covid-19. Sehingga, pemberian pendidikan kesehatan isolasi mandiri berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan tentang isolasi mandiri di masa pandemi covid-19. Background: The age of 12-15 years is the early adolescent age with rapid growth and reaches its peak. At this age, self-identity is very important including self-image and body image. Isolation is a process to reduce the transmission of a disease by separating people who are sick or have symptoms from people who are healthy. Independent isolation is an effort to prevent the spread of COVID-19 by staying at home while monitoring your own condition while maintaining a safe distance from people around you or your family. Health education efforts are intended to increase someone's knowledge in order to be able to change their health behavior which was initially not good to be better, so a study was conducted to determine the effect of health education on self-isolation on the level of knowledge of children aged 12-15 years in the village of Tegal Rejo, Selogiri, Wonogiri. Research Methods: This research is a type of qualitative descriptive research with a case study research approach. The population in this study were children aged 12-15 years in Tegal Rejo Village, Slogohimo District, Wonogiri Regency with a sample of 3 respondents. Research results: Results (pre-test) knowledge level: Respondent 1 (50%), Respondent 2 (60%), and Respondent 3 (50%). Results (post-test) knowledge level: Respondent 1 (80%), respondent 2 (80%), and respondent 3 (100%). Conclusion: The three respondents experienced an increase in their level of knowledge after being given health education about independent isolation during Covid-19. Thus, the provision of independent isolation health education affects the level of knowledge about independent isolation during the Covid-19 pandemic.
EFEKTIVITAS PENYULUHAN KESEHATAN PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI RAtnasari, Nita Yunianti; Aysyah, Rochmah Rozafya Noor
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 12 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v12i2.97

Abstract

ABSTRACT Background: Breast cancer is a pathological condition of abnormally changing and growing breast cells. The delay in cancer sufferers in carrying out early detection results in breast cancer being found at an advanced stage. Factors that cause delays in cancer sufferers in early detection are the level of knowledge and behavior of early detection. Objective: This study aims to determine the effectiveness of health counseling on breast self-examination (BSE) for young women. Method: Descriptive case study which is one of the strategies in qualitative research, with a case study research approach. The population in this study were young women from Bakalan Village, Purwantoro District, Wonogiri Regency. A sample of 5 respondents with questionnaires, leaflets and interviews as instruments. Result: the results of the research that has been carried out from all respondents show that after carrying out health education on self-breast examination (BSE) there is an increase in the knowledge of respondents, this can be seen from the results of the pre-test, namely 8-10 (30-50%) questions correct out of 15 questionnaire questions, as well as post-test results of 11-14 (60-90%) correct questions out of 15 questionnaire questions and can be concluded into the high score category. Conclusion: The results of the analysis carried out on all respondents obtained data that after health counseling there was an increase in knowledge about breast self-examination (BSE). ABSTRAK Latar belakang : Kanker payudara merupakan keadaan patologis dari sel payudara yang berubah dan tumbuh secara abnormal. Faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan penderita kanker dalam deteksi dini adalah tingkat pengetahuan, dan perilaku deteksi dini. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penyuluhan kesehatan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada remaja putri. Metode : Studi kasus deskriptif yang merupakan salah satu strategi dalam penelitian kualitatif , dengan pendekatan case study research ( studi kasus) . Populasi dalam penelitian ini adalah remaja putri Desa Bakalan Kecamatan Purwantoro Kabupaten Wonogiri. Sampel sebanyak 5 Responden dengan instrument kuesioner, leaflet, dan wawancara. Hasil : hasil penelitian yang telah dilakukan dari keseluruhan responden menunjukan bahwa setelah dilakukan penyuluhan kesehatan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) terdapat peningkatan pengetahuann responden, hal ini dapat dilihat dari hasil pre-test yaitu 8-10 (30-50%) pertanyaan benar dari 15 pertanyaan kuesioner, serta hasil post-test 11-14 (60-90%) pertanyaan benar dari 15 pertanyaan kuesioner dan dapat disimpulkan kedalam kategori skor tinggi. Kesimpulan : Hasil analisa yang dilakukan dari keseluruhan responden didapatkan data bahwa setelah dilakukan penyluhan kesehatan terdapat peningkatan pengetahuan tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).
PSIKOEDUKASI MENURUNKAN BEBAN KELUARGA MERAWAT KLIEN DENGAN GANGGUAN JIWA Sucipto, Sucipto; Krisnawati, Dyah Ika; Kristanto, Heny; Ratnasari, Nita Yunianti
coba Vol 12 No 1 (2023): November 2023
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v12i1.637

Abstract

Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tidak hanya dirasakan oleh individu, namun juga memberikan dampak yang besar terhadap keluarga yang menjadi beban keluarga. Jika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, mereka akan sedih, merasa sakit, kebingungan dalam merawat, malu menghadapi stigma masyarakat, dan malu untuk bersosialisasi.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh psikoedukasi terhadap beban keluarga merawat klein dengan ODGJ. Penelitian ini menggunakan desain penelitian pra eksperimen (one group pretest and posttest design). Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 15 orang menggunakan teknik Simple Purposive. Penelitian ini dilakukan di Posyandu Jiwa Abhipraya Kelurahan Ngadirejo Kota Kediri tanggal 12 -14 juli 2023 pemberi terapi dilakukan oleh peneliti sendiri yang pernah mengikuti workshop pendampingan keluarga dengan ODGJ yang diselenggarakan Dinas kesehatan Kota Kediri. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis bivariat menggunakan Uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil analisis Uji Wilcoxon Signed Ranks Test didapatkan nilai signifikansi < 0,02 yang berarti bahwa ada perbedaan, hasil penelitian ini menunjukkan beban keluarga merawat klien ODGJ menurun setelah dilakukan tindakan psikoedukasi. Psikoedukasi keluarga mempunyai pengaruh terhadap penurunan beban keluarga, kegiatan Psikoedukasi keluarga digunakan untuk memberikan informasi terhadap keluarga yang mengalami distress, memberikan pendidikan kepada mereka untuk meningkatkan keterampilan agar dapat memahami dan mempunyai koping akibat gangguan jiwa. Dengan demikian di harapkan bahwa kepada perawat agar mengaplikasikan terapi psikoedukasi sebagai alternatif terapi untuk menurunkan beban keluarga yang merawat klien ODGJ. Kata kunci: Psikoedukasi, Beban, ODGJ
Analisis Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Depresi pada Pasien Covid-19 yang Menjalani Isolasi Mandiri : - Marni, Marni; Ratnasari, Nita Yunianti; Halimu Husna, Putri; Soares, Doemingoes
Profesi (Profesional Islam) : Media Publikasi Penelitian Vol. 19 No. 1 (2021): Jurnal PROFESI (Profesional Islam): Media Publikasi Penelitian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS PKU Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26576/profesi.v19i1.90

Abstract

Latar Belakang: Dunia sedang menghadapi masalah besar yaitu pandemic Covid-19, yang menyebabkan mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Untuk mengurangi penularan dari orang yang terpapar covid-19 maka dianjurkan isolasi karantina mandiri, namun tindakan ini ternyata menimbulkan depresi. Tujuan penelitian: menganalisis faktor resiko yang mempengaruhi kejadian depresi pada orang yang terpapar covid-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri. Metode Penelitian : Penelitian ini bersifat deskriptik analitik dengan pendekatan cross-sectional, sampel: 40 responden. Alat ukur: kuesioner Beck Depression Inventory. Kuesioner dibuat secara elektronik menggunakan google form dan tautannya dibagikan melalui WhatsApp. Uji statistic yang digunakan adalah Uji Chi Square. Untuk multivariat menggunakan uji regresi logistic. Hasil Penelitian: Chi-Square test menunjukkan P-value tingkat Pendidikan sebesar 0,036, sedangkan lama isolasi mandiri P-Value sebesar 0,004 < Alpha 0,05 dapat disimpulkan terdapat hubungan antara tingkat Pendidikan dan lama siolasi mandiri dengan kejadian depresi, usia, jenis kelamin, paparan informasi, dan pekerjaan menunjukkan bahwa nilai p-value > Alpha 00,5 maka disimpulkan tidak terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin, paparan informasi, dan pekerjaan dengan kejadian depresi pada penyintas covid -19 tersebut. Kesimpulan : Lama isolasi mandiri yang paling besar pengaruhnya terhadap kejadian depresi diikuti dengan tingkat Pendidikan yang paling berpengaruh terhadap kejadian depresi pada orang yang terpapar covid-19.
PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU TENTANG MEMBANGUN KOMUNIKASI INTERAKTIF DALAM KELUARGA DI ERA DIGITAL Ambarwati, Retno; Ratnasari, Nita Yunianti
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 6, No 2 (2024): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v6i2.14305

Abstract

Teknologi digital terutama teknologi informasi dan komunikasi terus mengalami perkembangan yang semakin pesat dan modern. Perubahan ini membuat pengguna memiliki kemampuan dan kemudahan dalam mengakses berbagai hal tanpa batas. Kemajuan teknologi komunikasi memberikan dampak luar biasa terhadap kehidupan keluarga. Selain dampak positif ternyata juga dapat menyebabkan dampak negatif terhadap keharmonisan keluarga. Salah satu dampak negatinya adalah komunikasi interaktif di dalam keluarga semakin berkurang. Ini terjadi karena semua anggota keluarga memiliki fasilitas komunikasi masing-masing sehingga merasa asyik dengan kecanggihan digital berupa gadget, dan akhirnya lupa dengan kebutuhan berinteraksi dalam keluarga. Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan contoh yang positif serta memberikan bimbingan kepada anak - anaknya dalam menghadapi era digital saat ini. Orang tua khususnya ibu memiliki tanggung jawab atas pembentukan sikap dan perilaku anak, serta sebagai orang tua harus memiliki kontrol dalam mengawasi informasi yang diterima anak dalam penggunaan smartphone. Salah satu bentuk transfer of knowledge yang dinilai efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat adalah penyuluhan kesehatan. Diharapkan dari kegiatan sosialisasi ini mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya anggota Dharma Wanita Persatuan di Kabupaten Sragen tentang pentingnya membangun komunikasi interaktif dalam keluarga di era digital. Metode pelaksanaan dilakukan dengan cara pertemuan klasikal, tatap muka secara langsung untuk mengikuti penyampaian informasi kesehatan yang disampaikan oleh pemateri. Hasil yang diperoleh yaitu pada kelompok sasaran sudah memahami konsep komunikasi interaktif dalam keluarga di era digital meliputi pengertian komunikasi interaktif, langkah dalam menjaga komunikasi dalam keluarga, Bagaimana menerapkan komunikasi interaktif dalam keluarga, peran orang tua.