Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Biodiversity of Bivalvia Tridacnidae in Marine Conservation Area : Lesson Learned from Abang Island, Kepulauan Riau Province-Indonesia Ramses Ramses; Fauziah Syamsi; Thamrin Thamrin; Nofrizal Nofrizal; Hamdayani Hamdayani; Tengku Said Razai; Rika Kurniawan
ECOTONE Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Riau University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/ecotone.1.1.p.32-40

Abstract

Kima (local name) is known as a giant clam of a group of bivalve mollusca belonging to the Tridacnidae family that live in coral ecosystems zhich are considered as endangered species (CITES: Appendix II). This study aims to determine the biodiversity and ecological index of Tridacna in Abang Island waters, as well as determine the status of its presence in this area. A field survey was conducted on the type, number and distribution of tridacnae at each location by SCUBA equipment dive using the sweept area method on the transect lines. The transect wasplotted at 2-5 m in depth parallel to the shoreline at each observation station with covering observation area as far as 2.5 meters both on the left and 2 right side of the observers. The results showed 5 species of Kima with a total of 75 individuals, namely Tridacna maxima, T. Squamosa, T. crocea, T.derasa and H. hipppus. The densitywas maximal for T.maxima 0.014 individu/M2 folowing by T.squamosa (0.009/M2), T.crocea (0.006/M2), T.derasa (0.003/M2), H.hipppus (0.001/M2). While the relative density were T.maxima (44%), T.squamosa (26.7%), T.crocea (18.7%), T.derasa (8.0%), and H.hipppus (2.7%). The diversity index (H ') was 1.33 with representing a medium diversity category, dominance index (D) equal to 0.70 and Uniformity (E') equal to 0.82. T. maxima, T. squamosal, and T. crocea were found abundantly in the study area while T.derasa and H. hippopus were hard to find and T. gigaswasabsences presumably due to local extinction and functional extinction. Protectionof Tridacna in natural habitats is a must to maintain the ecological function and sustainability of Tridacn awith strict and controlled management.
Identifikasi, Keragaman dan Sebaran Caulerva sp Sebagai Komoditas Potensial Budidaya Pulau Bunguran, Natuna Tengku Said Razai; Imam Pangestiansyah Putra; Fadhliyah Idris; Try Febrianto
SIMBIOSA Vol 8, No 2 (2019): JURNAL SIMBIOSA
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/sim-bio.v8i2.2177

Abstract

Jenis angur laut Caulerpa sp saat ini menjadi komoditas ekspor sebagai produk makanan, obat-obatan, dan kosmetik. Caulerpa sp memiliki sebaran yang cukup luas terutama pada kawasan beriklim tropis. Jenis Caulerpa sp juga dijumpai hingga perairan Natuna. Kepulauan Natuna merupakan suatu wilayah di utara dari Provinsi Kepulauan Riau dengan potensi lautnya menyimpan sumberdaya yang beragam, termasuk komunitas anggur laut Caulerpa sp. Culerva sp  merupakan salah satu jenis tumbuhan laut yang memiliki nilai nutrien yang baik tertutama untuk kesehatan dan kosmetik, sehingga penelitian terkait dengan sebaran jenis dan komposisinya sebagai upaya awal untuk pengembangan budidaya perlu dilakukan. Penelitian dilaksanakan selama periode bulan Juli-September 2019. Sampling dilakukan pada 8 lokasi yang berbeda mulai dari kawasan Ranai Kota hingga Klarik. Pengambilan data jenis Caulerpa sp mengunakan metode transek garis sepanjang 100 meter kearah laut dengan kuadran ukuran 10 x 10 m, sebanyak 3 kali sampling per stasiun. Hasil penelitian ditemukan 3 spesies dari anggur laut Caulerpa sp yakni C. taxifolia, C. lentilifera, dan C. recemosa. komposisi tertinggi pada jenis C.taxifolia mencapai 53,7%. Hasil penelitian menunjukkan tingkat keanekaragaman yang rendah, keseragaman tergolong tinggi, dan dominansi yang rendah. Hanya ada beberapa stasiun dengan tingkat dominansi yang tinggi yakni stasiun 2 dan stasiun 6 masing-masing di dominasi oleh jenis C. taxifolia dan jenis C. lentilifera.
Kesesuaian Perairan Madong untuk Pengembangan Budidaya Rumput Laut Caulerpa sp Tengku Said Razai; Imam Pangestiansyah Putra
SIMBIOSA Vol 9, No 2 (2020): JURNAL SIMBIOSA
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/sim-bio.v9i2.2499

Abstract

Rumput laut Caulerpa sp merupakan komoditas unggulan yang memiliki potensi ekonomi cukup besar. Pengembangan budidaya rumput laut Caulerpa sp. tidak terlepas dari kondisi parameter kualitas perairan. Keberhasilan kultur rumput laut dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama terkait dengan kondisi lingkungan perairan. Tujuan penelitian ini ialah menganalisis kesesuai kualitas perairan Madong untuk kegiatan budidaya rumput laut Caulerpa sp.. Penentuan lokasi sampling dilakukan secara acak untuk mewakili lokasi dari berbagai aktivitas masyarakat yang ada. Jumlah titik sampling ditentukan sebanyak 10 lokasi. Pembobotan parameter perairan dilakukan untuk mengatahui nilai kesesuaian dalam pengembangan budidaya rumput laut  Caulerpa sp. Parameter-parameter yang diukur, diberi bobot dan skor sesuai dengan nilai hasil pengukurannya. Hasil penelitian menunjukkan perairan Madong sesuai untuk pengembangan  budidaya rumput laut Caulerpa sp. Nilai kesesuaian diperoleh pada kisaran 46-49 dengan persentase kesesuaian antara 80,7-85,9 %. Seluruh lokasi sampling dinyatakan tergolong pada tingkat kesesuaian yang tinggi (sesuai).
Maturasi Gonad Bawal Bintang (Trachinotus blochii) dengan Induksi Hormon Human Chorionic Gonadotropin (hCG) dan Pregnant Mare Serum Gonadotropin (PMSG) Wiwin Kusuma Atmaja Putra; Rian Hadrianto; Tengku Said Razai
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.28790

Abstract

Human Chorionic Gonadotropin (hCG) and Pregnant Mare Serum Gonadotropin (PMSG) hormone is a product that contains the hormone Folicle Stimulating Hormone (FSH) and Litiunizing hormone (LH) that play a role in regulating the development gonad process of fish. This research determine to effect hCG and PMSG hormone induction and find out the best treatment in the induction on gonad maturation of Silver pompano fish. This research used three treatments: control (NaCl), hormone hCG 20 IU.kg-1 and PMSG 20 IU.kg-1 fish body weight. Containers used in the maintenance of fish in the form of Floating Net Cage (KJA) with size 3x3x3 m. The best research result is 20 IU PMSG treatment with GSI value equal to 0.6%, HSI equal to 1.25%, maturity level of gonad reaches TKG III and histologically progress reach secondary oocyte and primary oocyte. The conclusion of this research is hCG and PMSG hormone induction effect on gonad maturation Silver pompano fish for 4 weeks compared to control treatment. The best hormone treatment is PMSG hormone treatment with a dose of 20 IU. Kg-1 fish body weight.
IDENTIFIKASI DAN KELIMPAHAN ZOOPLANKTON SEBAGAI SUMBER PAKAN ALAMI IKAN BUDIDAYA DI PERAIRAN KAMPUNG GISI DESA TEMBELING KABUPATEN BINTAN Tengku Said Raza’i
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 1 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.531 KB) | DOI: 10.31629/intek.v1i1.72

Abstract

Zooplankton merupakan kelompok organisme planktonik dari kelompok hewani sebagai konsumen tingkat pertama pada ekosistem perairan, fungsinya sebagai penyalur energi dar fitoplankton sebagai produsen primer. Keberadaanya di perairan, dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami ikan-ikan yang terdapat di suatu perairan sehingga penyediaan data terkait jenis serta kelimpahan zooplankton di perairan sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis serta kelimpahan zooplankton di perairan Kampung Gisi yang dilakukan pada bulan Oktober – Desember 2016 dengan pendekatan metode acak (random sampling). Jenis zooplankton yang berhasil di identifikasi terdiri dari Dari hasil kajjian dijumpai 10 spesies zooplankton Apocyclops sp. Cyclopoid sp. Euchaeta sp. Eucyclops sp. Ceriodaphnia sp. Diaphanosoma sp. Euglena sp. Stilomysis sp. dan Tortanus sp. Dari 10 spesies yang dijumpai, terdapat 4 spesies yang termasuk kedalam komposisi terbaik dalam penyedia pakan alami di perairan yaitu Apocyclops sp, Cyclopoid sp Ceriodaphnia sp, dan Diaphanosoma sp. kelimpahan zooplankton tergolong kedalam kelmpahan yang sedang.
ANALISIS KESESUAIAN EKOLOGI UNTUK KEGIATAN BUDIDAYA PERAIRAN DI PULAU ABANG, KOTA BATAM Tengku Said Raza’i
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 1 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (823.673 KB) | DOI: 10.31629/intek.v1i1.73

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober sampai Desember 2016. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan penentuan lokasi penelitian dilaksanakan menggunakan random sampling dengan Visual Sampling Plan Software. Parameter ekologi yang mendukung dengan nilai poin sempurna diantaranya; oksigen terlarut, material dasar, kecerahan, suhu, dan nitrat. Parameter perairan dengan nilai sedang yakni; kedalaman, arus, pH, kelimpahan dan kandungan klorofil-a. sedangkan parameter dengan nilai rendah yakni kandungan fosfat. Perairan Pulau Abang cukup mendukung untuk kegitan budidaya perairan dengan nilai kesesuaian kondisi 78,0% dengan kondisi sesuai.
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN HORMON HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN hCG DAN OVAPRIM TERHADAP WAKTU LATENSI DAN FEKUNDITAS DALAM PEMIJAHAN IKAN BAWAL BINTANG Trachinotus blochii Arif Mulah; Tengku Said Razai; Wiwin Kusuma Atmaja Putra
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 2 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.073 KB) | DOI: 10.31629/intek.v1i2.260

Abstract

Salah satu cara untuk mengoptimalkan induk dalam pemijahan adalah dengan rangsangan hormonal secara injeksi. Hormon human Chorionic Gonadotropin (hCG) dan Ovaprim merupakan hormon yang mampu mengoptimalkan pemijahan induk ikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat efektivitas penggunaan hormon human Chorionic Gonadotropin (hCG) dan Ovaprim dalam pemijahan ikan bawal bintang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan (hCG x hCG; hCG x Ovaprim; Ovaprim x Ovaprim; Ovaprim x hCG) dan tiga ulangan, dengan dosis setiap perlakuan yaitu 250 IU/kg bobot tubuh ikan. Hasil terbaik dari penelitian ini adalah perlakuan hCG x Ovaprim dengan waktu latensi 15,17 jam, Fekunditas 482.776 butir. Kesimpulan penelitian ini adalah perlakuan ovaprim x ovaprim dapat mempercepat waktu latensi pemijahan dan pelakuan hCG x Ovaprim menghasilkan kualitas telur terbaik dilihat dari parameter fekunditas.
PENGARUH HORMON HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN hCG DAN PREGNANT MARE SERUM GONADOTROPIN PMSG TERHADAP PEMATANGAN GONAD IKAN BAWAL BINTANG Trachinotus blochii Rian Handrianto; Tengku Said Razai; Wiwin Kusuma Atmaja Putra
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 2 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.047 KB) | DOI: 10.31629/intek.v1i2.261

Abstract

Ikan bawal bintang dengan bobot 925±175g disuntik dengan hormon human Chorionic Gonadotropin (hCG) dan hormon Pregnant Mare Serum Gonadotropin (PMSG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh induksi hormon perlakuan dan hormon terbaik dalam induksi maturasi gonad ikan bawal bintang. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan (kontrol (NaCl), hormon hCG, hormon PMSG) dan lima ulangan. Dosis yang digunakan adalah hormon hCG 20 IU/kg bobot tubuh ikan dan hormon PMSG 20 IU/kg bobot tubuh ikan. Wadah yang digunakan dalam pemeliharaan ikan uji berupa Keramba Jaring Apung (KJA) dengan ukuran 3x3x3m. Hasil terbaik dalam penelitian ini adalah perlakuan 20 IU PMSG dengan tingkat kematangan gonad mencapai TKG III dan histologi gonad mencapai tahap perkembangan oosit sekunder dan oosit primer. Kesimpulan penelitian ini adalah induksi hormon hCG dan PMSG berpengaruh terhadap maturasi gonad ikan bawal bintang selama 4 minggu dilihat dari kematangan gonad mencapai TKG III dan histologi mencapai tahap perkembangan oosit sekunder dan oosit primer. Hormon perlakuan terbaik adalah perlakuan hormon PMSG dengan dosis 20 IU/kg bobot tubuh ikan.
Identifikasi dan Prevalensi Endoparasit pada Ikan Bawal Bintang (Tracinhotus Blochii) di Lokasi Budidaya Perikanan Teluk Bintan syafitri filzah; Tengku Said Raza'i; Rika Wulandari
Intek Akuakultur Vol. 2 No. 2 (2018): Intek Akualultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.67 KB) | DOI: 10.31629/intek.v2i2.546

Abstract

The aim of this study were to identify the type of endoparasites and the internal organ prevalence invasion on silver pompano (Tracinhotus blochii). This study was conducted by in vitro. The procedures consist of the random fish sampling was about 5% in 3 culture area, then the purification of endoparasite done by isolation technique. The process of endoparasites identification based on the manual identification by Kabata (1985) and Rigby (1998). This study obtained one genus of Camallanus in the intestine with a 4,4% prevalence.
Kelimpahan Kopepoda (Copepods) sebagai Stok Pakan Alami di Perairan Desa Pengudang, Bintan Tengku Said Raza'i; Imam Pangestiansyah Putra; M. Aris Suhud; Muhammad Firdaus
Intek Akuakultur Vol. 2 No. 1 (2018): Intek Akualultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.227 KB) | DOI: 10.31629/intek.v2i1.628

Abstract

Copepods is one of the important elements in the food chain in aquatic ecosystems. Its role in the food chain for energy transfer from producers to first-level consumers, namely as food for small fish in the larval phase. Observations were made by purposive sampling at 3 research stations (river estuary area, fishing area, and residential area). 7 species of copepods were identified including Callanus sp., Lucicutia sp., Macrosetella sp., Nauplius sp., Oithona sp., Rhincalanus sp., Scolecithricella sp. The abundance of copepods in Pengudang Village waters is an average of 188.14 ind/L. Of the 7 types of copepods found, types of copepods were Callanus sp., Macrosetella sp., Nauplius sp., Oithona sp., Rhincalanus sp., and Scolecithricella sp. which has generally been developed for use as natural food.