Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

TATA NILAI KOMUNITAS SEBAGAI KOMPONEN UTAMA DALAM TRANSFORMASI FASAD PADA BANGUNAN CAGAR BUDAYA MASJID ANGKE JAKARTA Suhartini Suhartini; Mohammad Ischak; Tulus Widiarso; I Gede Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v8i3.3870

Abstract

Abstract: Although the Angke Mosque is a cultural heritage building designated through the Decree of the Governor of the DKI Jakarta Provincial Government Number 1371 of 2019, in reality until now there have been changes in the shape of the building. This study aims to examine the concepts and values that are still believed in by the community that made changes to the shape of the mosque in relation to the context of cultural heritage buildings. The method used is quasi-qualitative based on the post-positivism paradigm. The observation unit is the building facade elements including stairs, doors, windows, walls, and roofs. The exploration of community values was carried out through interviews with several informants using a butterfly diagram. The study resulted in findings that the community still holds values as the basis for preserving buildings in the form of very strong ties to the shape of the facade components, especially the door and roof elements, so that it can be the basis for preserving the Angke Mosque as a cultural heritage building.Keywords: cultural heritage, concept, facade, mosque, communityAbstrak: Meskipun Masjid Angke merupakan bangunan cagar budaya yang ditetapkan melalui  SK Gubernur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Nomor 1371 Tahun 2019, pada kenyataannya sampai sekarang sudah mengalami perubahan-perubahan pada bentuk bangunannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep dan tata nilai yang masih diyakini oleh komunitas yang melakukan perubahan pada bentuk masjid dalam kaitannya dengan konteks bangunan cagar budaya. Metode yang digunakan adalah kuasi kualitatif yang dilandasi paradigma post positivism. Unit amatan adalah elemen fasad bangunan meliputi tangga, pintu, jendela, dinding, dan atap. Penggalian tata nilai komunitas dilakukan melalui wawancara terhadap beberapa informan dengan menggunakan diagram kupu-kupu. Penelitian menghasilkan temuan bahwa komunitas masih memegang tata nilai sebagai dasar pelestarian bangunan dalam bentuk ikatan yang sangat kuat terhadap bentuk komponen fasad khususnya pada elemen pintu, dan atap sehingga dapat menjadi dasar pelestarian Masjid Angke sebagai bangunan cagar budaya.Kata Kunci: cagar budaya, konsep, fasad, masjid, komunitas
Assessing Signalized Intersections During Rush Hours Through Geometric Planning and Road Widening Intersection Salman - Salman; Darmawan Pontan; Noer Fadly; Veby Irawandi; Endah Kurniyaningrum; Tulus Widiarso
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 15 No. 2 (2025): Teras Jurnal (September)
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v15i2.1251

Abstract

Abstract   As consumers and businesses rely on the efficiency, safety, and reliability of transportation networks, the quality of urban life is at risk due to increasing traffic congestion. The current study aims to evaluate the capacity of an intersection by recalculating the existing condition and making changes with geometric improvements, namely symmetrizing the intersection arms and traffic separation islands and widening the intersection arms. Factors that affect traffic congestion at intersections in the Banda Aceh area, such as driver behavior, traffic light capacity, peak-hour drivers, and intersection design. This study compares on-site data with the performance of signalized intersections using various traffic methodologies. With a population of 261,000 in Banda Aceh, Simpang Surabaya is known as a busy route in urban life. Two techniques are used for the analysis: applying the Indonesian Highway Capacity Manual (MJKI) to the road widening and geometric re-planning. The results show that the intersection capacity is close to saturation, with a saturation value of 1.336 which exceeds 0.85 due to asymmetric traffic islands, high volumes, and long cycle times. Geometric changes and wider intersection roads reduce this value to 0.83. The results indicate that Simpang Surabaya (the intersection of Surabaya) needs to be widened immediately and properly. Further research is recommended to evaluate other intersections in the city of Aceh with quite busy traffic density to carry out calculations and handling by using different of MJKI accordingly.   Keywords: Traffic volume; signalized intersection, capacity; degree of saturation; traffic delay   Abstrak   Ketika konsumen dan perusahaan bergantung pada efisiensi, keamanan, dan keandalan jaringan transportasi, kualitas kehidupan perkotaan berada dalam risiko akibat meningkatnya kemacetan lalu lintas. Penelitian saat ini bertujuan untuk mengevaluasi kapasitas persimpangan dengan menghitung ulang kondisi eksisting dan melakukan perubahan dengan perbaikan geometrik yaitu mensimetriskan lengan-lengan simpang dan pulau pemisah arus lalu lintas dan pelebaran lengan simpang. Faktor -faktor yang mempengaruhi kemacetan lalu lintas di persimpangan jalan di daerah Banda Aceh, seperti perilaku pengemudi, kapasitas lampu lalu lintas, pengemudi pada jam sibuk, dan desain persimpangan. Studi ini membandingkan data di lokasi dengan kinerja persimpangan yang dilengkapi sinyal menggunakan berbagai metodologi lalu lintas. Dengan 261.000 penduduk, Simpang Surabaya di Banda Aceh dikenal sebagai jalur sibuk dalam kehidupan perkotaan. Dua teknik digunakan untuk analisis: menerapkan manual kapasitas jalan raya Indonesia (MJKI) pada pelebaran jalan dan perencanaan geometrik ulang. Hasilnya menunjukkan bahwa kapasitas persimpangan mendekati jenuh, dengan nilai jenuh sebesar 1,336 yang melebihi 0,85 akibat pulau lalu lintas yang asimetris, volume tinggi, dan waktu siklus yang panjang. Perubahan geometris dan jalan persimpangan yang lebih lebar mengurangi nilai ini menjadi 0,83. Hasilnya menunjukkan bahwa Simpang Surabaya perlu segera diperlebar dengan baik. Penelitian selanjutnya dianjurkan mengevaluasi simpang dengan kepadatan yang cukup sibuk di daerah Aceh lainnya untuk dilakukan kalkulasi dan penanganan secepatnya.   Kata kunci: Volume lalulintas, simpang bersinyal, kapasitas, derajat kejenuhan, tundaan lalu   lintas