Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Analisis Hukum Pemenuhan Hak Mendapatkan Pendidikan Bagi Anak Didik Pemasyarakatan Rizqah Amaliah; Hasnawi Haris; Mustari Mustari
Jurnal Tomalebbi Volume 12, Nomor 4 (Desember 2025)
Publisher : Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56680/jt.v12i4.76960

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaturan hukum yang mengatur pemenuhan hak mendapatkan pendidikan yang layak bagi anak didik pemasyarakatan di LPKA Kelas II Maros (2) faktor penghambat dan pendukung terjaminnya pemenuhan hak pendidikan yang layak bagi anak didik pemasyarakatan di LPKA Kelas II Maros. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif dengan Teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan dokumentasi, validasi data yang digunakan adalah triangulasi sumber (data). Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Pengaturan hukum pemenuhan hak mendapatkan pendidikan yang layak bagi anak didik pemasyarakatan sesuai dengan :Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2023 Tentang Pemasyarakatan Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1999 Tentang Syarat dan Pembinaan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan, Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor M.HH-03.OT.02.02 Tahun 2014 Tentang Pedoman Perlakuan Anak di Balai Pemasyarakatan (BAPAS), Lembaga Penempatan Anak Sementara (LPAS), Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) di Lingkungan Kementrian Hukum dan HAM , telah terimplementasi di LAPAS Kelas 2 Maros. (2) Faktor Penghambat Dan Pendukung Terjaminnya Pemenuhan Hak Pendidikan Yang Layak Bagi Anak Didik Pemasyarakatan di LPKA Kelas II Maros, yaitu faktor penghambat berupa kurangnya tenaga pendidik, kurangnya dukungan orang tua, pihak sekolah tidak kooperatif, minimnya minat atau atusias anak didik pemasyarakatan. Sedangkan faktor pendukung berupa kolaborasi dengan pihak eksternal serta sarana dan prasarana.
Determinants of Village Expansion Policy in Takalar Regency Mudassir Hasri Gani; Hasnawi Haris; Herman H; Andi Kasmawati; Alfiana Damasinta
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 5 No. 2 (2026): Vol. 5 No. 2 2026
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v5i2.1132

Abstract

Village expansion policy has become an important instrument of rural administrative reform in Indonesia, aiming to improve governance effectiveness, expand access to public services, and accelerate local development. However, the success of village expansion remains uneven across regions, particularly in rural areas with varying institutional and fiscal capacities. This study examines the determinants of successful village expansion policy implementation in Takalar Regency. Specifically, the research analyzes how institutional capacity, leadership quality, fiscal support, community participation, and governance transparency influence the effectiveness of newly established village administrations. Using a quantitative approach, data were collected through structured surveys involving village officials, community leaders, and residents from selected expanded villages in Takalar Regency. The data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM-PLS) to assess both direct and indirect relationships among variables. The findings indicate that institutional capacity and leadership quality are the most significant predictors of successful village expansion, followed by fiscal support and community participation. Governance transparency also plays a moderating role by strengthening trust and collaboration between local government and citizens. The study contributes to the literature on decentralization and rural governance by providing empirical evidence from the village-level reform context in Indonesia. Practically, the findings suggest that village expansion policies should not focus solely on territorial division, but also on strengthening administrative readiness, leadership competence, fiscal sustainability, and participatory governance. These insights are relevant for policymakers seeking to enhance the long-term effectiveness of rural administrative restructuring in developing countries.
Peran Pemerintah dalam Mengedukasi Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Andi Sitti Azizah Tibrisi; Hasnawi Haris; Herman Herman
SUPREMASI: Jurnal Pemikiran, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Hukum dan Pengajarannya Volume 21, Nomor 1 (Januari 2026)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/supremasi.v21i1.71035

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Untuk mengetahui pengaturan hukum terkait perizinan bagi pelaku UMKM di Kabupaten Bulukumba, (2) Untuk mengetahui  peran pemerintah dalam memberikan edukasi tentang terkait pentingnya izin usaha pada UMKM di kabupaten Bulukumba dan (3)Untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam pengurusan izin usaha bagi pelaku UMKM di kabupaten Bulukumba. Hasil Penelitian mengungkapkan bahwa pengaturan hukum tentang Perizinan Usaha mikro, kecil dan menengah diatur di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 2021 ini merupakan aturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UUCK). Sebelumnya, diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha mikro, kecil dan menengah (UU UMKM) dan bahwa peran pemerintah dalam memberikan edukasi tentang terkait pentingnya izin usaha pada UMKM di Kabupaten Bulukumba dilakukan dengan cara melakukan pencatatan dan survey pelaku usaha yang belum memiliki Nomor Izin Usaha ke Desa, Kelurahan dan Kecamatan di Kabupaten Bulukumba dan kendala yang dihadapi dalam pengurusan izin usaha bagi pelaku UMKM Di Kabupaten Bulukumba diantaranya adalah kurangnya sosialisasi UMKM, kurang pahamnya pelaku usaha tentang sistem pengurusan perizinan usaha dan prosedur administrasi yang cukup rumit dan berbelit-belit. Rekomendasi yang diberikan oleh peneliti yaitu diharapkan kepada para pelaku usaha UMKM yang belum memilki izin usaha dapat melakukan pengurusan izin usaha mereka di pihak pemerintah terkait sesuai dengan aturan yang berlaku dan pihak pemerintah diharapkan menerapkan aturan dan regulasi yang  berlaku mengenai pentingnya izin usaha di masyarakat bagi para pelaku UMKM di masyarakat serta mempermudah proses administrasi pengurusan perizinan UMKM dan jugamelakukan sosialisasi dan edukasi secara efektif dan tepat sasaran kepada masyarakat terkhusus para pelaku usaha UMKM yang dapat dilakukan dengan berbagi cara seperti melalui media sosial, tatap muka secara langsung di setiap daerah agar informasi mengenai perizinan UMKM dapat tersampaikan dengan baik dan jelas.
Mix Marketing Strategy on The Business of Bosara Handicrafts in Bontonompo Selatan Gowa District Anggi Angraeni; Hasnawi Haris; Aris Baharuddin
Jurnal Administrasi Bisnis VOL 5, NO 1 (2026) January
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jab.v5i1.81253

Abstract

This study examines the marketing mix strategy in the bosara handicraft product business in South Bontonompo, Gowa Regency. The purpose of this study was to determine the marketing mix strategy for the bosara handicraft product business in South Bontonompo, Gowa Regency, to determine the factors that influence the marketing strategy for the bosara handicraft product business in South Bontonompo, Gowa Regency. This research approach is quantitative. This research was carried outinSubdistrictSouth Bontonompo, Gowa Regency. Source of data in research isboss craftsmanin October to December 2022. Data collection techniques are in the form of observation, interviews and documentation. Data analysis techniques include data editing, data reduction, categorization, interpretation, data display, and drawing conclusions. The results showed that the marketing mix strategy for bosara handicrafts in South Bontonompo, Gowa Regency found that there were two types of bosara products produced, namely modern bosara products and traditional bosara products. The price for Bosara products is with the lowest price range of Rp. 200,000 up to the highest price of Rp. 1,000,000 which is the principal in determining the price is the raw material for production. Promotions carried out by craftsmen on average use offline and online sales on social media. The location of the craftsmen in the production and marketing of Bosara products is very strategic because the place for production and marketing is known by customers and easy to find. The factors of the marketing strategy for bosara handicrafts based on SWOT analysis in South Bontonompo, Gowa Regency found that the inhibiting factors resulted in thatthe production process carried out in the manufacture of bosara products and also the production tools used are still limited in their manufacture so that the production of making bosara products is limited. Supporting factors in the process of making a Bosara product business are family and environmental support which makes craftsmen more active in production and marketing in the field.  
Konflik Antar Nelayan Tradisonal Da Nelayan Modern Yang Berdampak Pada Kehidupan Masyarkat Andi Mislang; A.Octamaya Tenri Awaru; Hasnawi Haris
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.15858

Abstract

Konflik antara nelayan modern dan nelayan tradisonal merupakan permasalahan sosial-ekonomi yang bersifat kompleks dan masih sering terjadi di berbagai kawasan pesisir. Perbedaan dalam hal penggunaan alat tangkap, skala usaha, serta tingkat akses terhadap sumber daya laut menjadi factor utama yang memicu terjadinya ketegangan antar kelompok nelayan. Kehadiran nelayan modern dengan peralatan berteknologi tinggi sering kali mendominasi wilayah tangkap, sehingga menimbulkan kerugian bagi nelayan tradisional yang masih mengandalkan peralatan sederhana. Dampak konflik ini tidak hanya dirasakan oleh para nelayan secara langsung, tetapi juga berimbas pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pesisir secara umum. Dari sisi ekonomi, nelayan tradisional menghadap penurunan hasil tangkapan, berkurangnya pendapatan, serta meningkatnya ketergantungan tengkulak. Sementara dari sosial, konflik ini menyebabkan menurunnya rasa solidaritas, munculnya kecurigaan antar kelompok, dan perpecahan dalam komunitas nelayan
Analisis Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja Perempuan Di PT. Jaya Alam Perkasa Makassar Hasnawi Haris; Mustari Mustari; Dahlia Ratnasari
Jurnal Tomalebbi Volume 12, Nomor 2 (Juni 2025)
Publisher : Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56680/jt.v12i2.71844

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perlindungan hukum bagi pekerja perempuan di PT. Jaya Alam Perkasa Makassar, dengan menyoroti pelaksanaan regulasi ketenagakerjaan serta peran Dinas Ketenagakerjaan Kota Makassar dalam mendukung perlindungan tersebut. Fokus utama penelitian ini meliputi tiga hal: (1) Implementasi peraturan perundang-undangan mengenai perlindungan tenaga kerja perempuan di perusahaan; (2) Pemenuhan hak-hak pekerja perempuan sesuai Undang-Undang Ketenagakerjaan; dan (3) Peran aktif Disnaker Kota Makassar dalam memberikan perlindungan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. Jaya Alam Perkasa telah berupaya memenuhi beberapa hak dasar pekerja perempuan, seperti upah layak, keselamatan kerja, jaminan sosial, dan cuti melahirkan. Namun demikian, masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan, seperti belum tersedianya ruang laktasi dan tidak dicantumkannya cuti haid dalam kontrak kerja. Di sisi lain, Disnaker Kota Makassar telah menjalankan program dan kebijakan perlindungan tenaga kerja perempuan, meskipun masih menghadapi tantangan dalam aspek pengawasan dan edukasi. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan komitmen perusahaan serta kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah dan sektor swasta dalam mewujudkan lingkungan kerja yang adil dan ramah gender.