Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

KEBERADAAN TARI BARABAH MANDI PADA MASYARAKAT JORONG SUNGAI DADOK KENAGARIAN KOTOTINGGI KECATAN GUNUNG OMEH KABUPATEN LIMAPULUH KOTA Taufik Robiansyah; Erlinda Erlinda; Rasmida Rasmida
Melayu Arts and Performance Journal Vol 2, No 1 (2019): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v2i1.895

Abstract

ABSTRACT This study aims at discussing about the exsistense of ‘Barabah Mandi’ dance in Lima Puluh Kota on mount omeh in Sungai Dadok, Kototinggi village, Gunung Omeh sub-district, Lima Puluh Kota district. The method used in this research was qualitative research, specifically, descriptive analysis. All data obtained, both written data and data from the field, has been collected and described, then analyzed according to the research problems that have been formulated. Theories used in this research refer to the existing theory by Y. Sumandiyo Hadi and thefunctional theory by Molinowski. The ‘Barabah Mandi’ dance still exists within its local community, and is often performed by women aged fifty until sixty five years and above. Keywords : Existence, Barabah Mandi dance, movement, Sungai Dadok   ABSTRAK Penelitian  ini  bertujuan  untuk  membahas  tentang    Keberadaan  tari  Barabah Mandi di Jorong Sungai Dadok Kenagarian Kototinggi Kecamatan Gunung Omeh Kabupaten Lima Puluh Kota. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis, yaitu seluruh data yang diperoleh baik  data  tertulis  maupun  data  di  lapangan  dihimpun  dan  dijabarkan  kemudian dianalisis sesuai dengan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada teori keberadaan oleh Y Sumandiyo Hadi, Selanjutnya teori fungsi oleh Molinowski. Tari Barabah Mandi sampai sekarang masih tetap eksis di tengah masyarakat pendukungnya, yang ditarikan oleh ibu-ibu berumur lima puluh sampai enam puluh lima tahun ke atas. Kata Kunci: Keberadaan, Tari Barabah Mandi, gerak, Sungai Dadok.
SALUKO TOK AKE: KOMPOSISI TARI PEREMPUAN SUKU ANAK DALAM ANTARA ADAT DAN EMANSIPASI PEREMPUAN Lucky Pesona Sari; Rasmida Rasmida; Asril Asril
Melayu Arts and Performance Journal Vol 4, No 1 (2021): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v4i1.2066

Abstract

The cultural phenomenon of Suku Anak Dalam especially Saluko or the rules of women in the Suku Anak Dalam, where women in Suku Anak Dalam adhere to the rules that have been built from ancestors despite sacrificing Women's Human Rights (emancipation of women), they still survive and are very obedient against the existing rules, rules for women in the Suku Anak Dalam such as: girls are prohibited from going out to the jungle, are prohibited from bathing with soap, are forbidden to learn how to read and write, may not talk to men except customary holders and their families, prohibited from using cosmetics, for women adolescents wear kemben, adult women wear clothes except when the Tomonggong is at the location of the village, this will be interpreted into a dance composition work that uses a pure type, supported by the cultivation of movements, symbols, expressions, music and artistic in order to become a whole dance composition work set in the background behind the In Sukun Anak Dalam.Keywords: Saluko Tok Ake; Anak Dalam tribe, women's emancipation; dance composition.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk membahas fenomena perempuan Suku Anak Dalam di Merangin, Jambi yang terikat dengan aturan adat mereka dalam komposisi tari Saluko Tok Ake. Saluko adalah aturan-aturan adat untuk para perempuan pada Suku Anak Dalam di Merangin, Jambi  yang telah ditetapkan dan diwariskan oleh nenek moyang mereka. Aturan–aturan untuk anak perempuan itu berupa larangan seperti: dilarang keluar rimba, dilarang mandi pakai sabun, dilarang belajar baca tulis, tidak boleh berbicara dengan lelaki kecuali pemangku adat dan keluarga mereka, dilarang memakai kosmetik, dilarang memakai kemben bagi perempuan remaja, perempuan dewasa memakai baju kecuali ketika temenggung berada di lokasi perkampungan hanya memakai kodek ( bawahan ). Mereka tetap bertahan dan sangat patuh terhadap aturan-aturan adat itu. Fenomena  ini  ditafsirkan dalam perspektif emansipasi wanita yang tampak bertolak belakang seperti mengorbankan hak-hak perempuan ke dalam bentuk karya komposisi tari yang memakai tipe murni, didukung dengan penggarapan gerak, simbol, ekspresi, musik dan artistik berlatar belakang SAD.Kata Kunci: Saluko Tok Ake; Suku Anak Dalam; emansipasi wanita; komposisi tari 
PERANCANGAN REBRANDING LOGO TERI BAJAK UNTUK PROMOSI OLEH-OLEH KHAS MEDAN Siti Indah Lestari; Rasmida Rasmida; Syafwandi Syafwandi
PROPORSI : Jurnal Desain, Multimedia dan Industri Kreatif Vol 3, No 1 (2017): PROPORSI November 2017
Publisher : Universitas Potensi Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22303/proporsi.3.1.2017.11-20

Abstract

Penelitian ini bertujuan membuat perancangan desain ulang untuk logo teri bajak Medan. Teri Bajak medan merupakan makanan berbahan dasar teri yang telah ada sejak tahun 2013 yang terjaga kualitas dan cita rasanya sampai saat ini, sebagai oleh-oleh yang khas di Kota Medan teri bajak sendiri memiliki rangkaian rasa pedas yang sangat khas. Teri bajak ini kurang di kenal masyarakat, hal ini dapat diketahui dari sedikitnya jumlah pengunjung, sebab yang mungkin terjadi adalah belum banyaknya masyarakat yang tidak tahu serta belum adanya identitas yang jelas seperti logo yang sesuai dengan keberadaan teri bajak sebagai oleh-oleh khas Kota Medan untuk menarik wisatawan yang berkunjung ke Kota Medan serta semakin banyaknya oleh-oleh khas Medan yang berkembang seperti cake dan lain-lain yang diolah public figure yang membuat daya beli teri bajak semakin menurun, dengan itu dilakukan rebranding logo yang mencirikan Kota Medan sebagai strategi untuk menarik pelanggan dan wisatawan yang berkunjung ke Kota Medan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif serta analisis SWOT sebagai metode untuk menganalisis data. Diharap dengan adanya identitas yang jelas dapat mendorong keinginan masyarakat dan wisatawan untuk berkunjung.
PETUNJUK RASULULLAH SAW TENTANG TUGAS DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Abdul Wahab Syakhrani; Rahmatina Rahmatina; Rahmatul Rida; Rasmida Rasmida; Riska Reysa
EDUCATIONAL JOURNAL : General and Specific Research Vol. 2 No. 2 (2022): Juni
Publisher : CV. ADIBA AISHA AMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.996 KB)

Abstract

In the hadith Ahmad explained three important things that were ordered by the Prophet, namely, respecting people who are older than us, loving people who are younger than us, respecting and respecting people who are pious (teachers). In the Hadith of Ibn Majah it is explained that the key to success is Faith, faith is the foundation in doing righteous deeds because Allah will only accept the righteous deeds of those who believe in Him. While in another hadith of Ibn Majah no. 23 explained that in seeking knowledge, one must have a sincere intention to gain knowledge that is useful for oneself and for others and accompanied by morals and manners, because knowledge that is accompanied by morals will make the knowledge gained useful and of course also useful. . In the Hadith Tirmidhi no. 2417 explains to us not to stop studying, even to the end of our lives, besides that it also tells us that everything we do in this world, no matter how small, will be accounted for in the hereafter.
PACU ITIAK DALAM FOTOGRAFI ESAI DENGAN PENDEKATAN EDFAT Taufik Imran; Rasmida Rasmida; Andar Indra Sastra
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.35265

Abstract

Nagari Ampangan in Payakumbuh has a tradition of racing ducks which is the only race in the world. This tradition provides a kind of education about cultural values such as the value of honesty, competition, competition, harmony, mutual cooperation, entertainment and these values are appropriate and must be preserved. Media photography is one way to find out information about the duck race, with a photography essay that will present the charm of the ducks in the racing arena on the highway. The EDFAT method is one of the methods used in creating this journalistic photography visual. The results of the photography capture the various interactions of the players and visitors which are one of the activities and moments during the implementation of the duck race. So that the complex activities of the pacu itiak are presented  with photo works of the charm of the spur itiak. Keywords: pacu itiak, fotografer, esai, EDFAT. AbstrakNagari Ampangan di Payakumbuh memiliki tradisi pacu itiak yang merupakan satu-satunya pacuan yang ada di dunia. Tradisi ini memberikan semacam edukasi tentang nilai-nilai budaya seperti nilai kejujuran, perjuangan, persaingan, harmonis, gotong-royong,  hiburan dan nilai-nilai ini patut dan harus dilestarikan. Media fotografi salah satu cara mengetahu informasi tentang pacu itiak, dengan fotografi esai yang akan menghadirkan pesona itiak dalam gelangang pacuan di jalan raya. Metode EDFAT salah satu  metode yang digunakan dalam penciptaan visual fotografi jurnalistik ini. Hasil fotografi mengabadikan bebagai interaksi para pemain dan pengunjung yang menjadi salah satu  aktivitas dan momen ketika dalam pelaksaan pacu itiak. Sehingga kompleksnya kegiatan pacu itiak disajikan dengan karya foto pesona pacu itiak. Kata Kunci:pacu itiak , fotografer, esai, EDFAT. Authors:Taufik Imran : Institut Seni Indonesia PadangpanjangRasmida : Institut Seni Indonesia PadangpanjangAndar Indra Sastra : Institut Seni Indonesia Padangpanjang References:Arsola, P., Rafiloza, R., & Sahrul, N. Pacu Itiak Sebagai Sumber Penciptaan Komposisi “SRIPANGGUNG”. Grenek Music Journal, 10(2), 1-16.Berutu, D. I., & Isnaini, D. (2012). Analisis Foto Jurnalistik Mengenai Kerusuhan di Mesuji Lampung pada Harian Kompas. Jurnal. Universitas Sumatera Utara.Danandjaja, J. (2015). Bab V Cerita Rakyat dan Pembangunan Kalimantan Tengah: Merekonstruksi Nilai Budaya Orang Dayak Ngaju dan Ot Danum Melalui Cerita Rakyat Mereka. Metodologi Kajian Tradisi Lisan (Edisi Revisi) , 79.Koentjaraningrat, L. (1987). Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: Rineka Cipta.Kurnianto, A. D. (2012). TA: Pembuatan Buku Esai Fotografi Tari Pendet Sebagai Media Promosi Warisan Budaya Bali (Doctoral dissertation, STIKOM Surabaya).McCurry, S. (2013). Steve McCurry Untold. The Stories Behind the Photographs. USA: Phaidon Press.Soedjono, Soeprapto. (2006). Pot Pourri Fotografi. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti.Purnama, F., & Nurman, N. (2018). Tradisi Pacu Itiak dalam Melestarikan Nilai-Nilai Budaya di Payakumbuh. Journal of Civic Education, 1(2), 174-180.Putra, I. P. D. A. (2021) Penguatan Penguasaan Kompetensi Fotografi, Videografi dan Tata Kelola Media Sosial pada POKDARWIS Pemanis Heritage, Desa Wisata Biaung, Tabanan, Bali. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 530-540.Sastra, A. I., Sriwulan, W., Caniago, E., MUCHTAR, A., & Haris, A. S. (2021). Lareh Koto Piliang: Systems of Governmental Power and Bronze Music in the Study of the Concept of Musical Aesthetics in Luhak Nan Tigo Minangkabau. Music Scholarship/Problemy Muzykal'noi Nauki, (2).
TELAAH MANAJEMEN SANGGAR BARABAH MANDI DESA WISATA KAMPUANG SARUGO KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Yuhari Andrika; Hamidun Syaputra; Ediwar Ediwar; Rasmida Rasmida
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 2 No. 12: Mei 2023
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jirk.v2i12.5639

Abstract

Barabah Mandi community is a group based in the tourism village of Kampuang Saribu Gonjong (Kampuang Sarugo), Sungai Dodok, Lima Puluh Kota regency, West Sumatra. Established for last 3 decades with a management and management concepts that have evolved over time. Finally, the Barabah Mandi group was active in as like with the rapid development of the name Kampuang Saribu Gonjong. In this paper, we will discuss about management, existence and developments in the Barabah Mandi group, namely: planning, organizing, actuating, and controlling. No doubt, Kampuang Sarugo won its golden age by winning second place in the Anugerah Pesona Indonesia 2020 for the Most Popular Traditional Village category, which made the general public start to look at it as an area with promising tourism potential. This was made possible by the contribution of the famous West Sumatran musician brothers, Alfalah, Moch. Hafiz and Wilda Aviva (adviser and current manager of the Barabah Mandi Group) as music illustrators for the videos that were contested
PENCIPTAAN KARYA BATIK LUKIS BERDASARKAN REPRESENTASI TARI ALANG SUNTIANG PANGULU Rasel, Panny; Muchtar, Asril; Rasmida, Rasmida
Humantech : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. 2 No. 5 (2023): Humantech : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia
Publisher : Program Studi Akuntansi IKOPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penciptaan lukisan batik dengan objek Tari Alang Suntiang Pangulu bersumber dari tarian adat yang ditampilkan dalam rumah gadang, di kenagarian Padang Laweh Kabupaten Agam Sumatera Barat. Tarian Alang Suntiang Pangulu tidak boleh disebar luaskan seperti foto gerakan, karena adanya ketakutan tarian ini akan diolah dan dijadikan hak milik oleh yang mengambil dokumen tersebut tanpa se izin niniak mamak dalam Nagari oleh karena itu anak muda di Padang Laweh yang tidak tertarik untuk mempelajari tarian ini. Tujuan penelitian ini adalah menciptakan karya dengan merepresentasikan gerak-gerak Tari Alang Suntiang Pangulu dalam bentuk seni rupa dengan teknik batik lukis dekoratif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan representasi dengan tiga tahap metode penciptaan yaitu eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Hasil penciptaan karya batik Lukis dengan representasi objek Tari Alang Suntiang Pangulu yaitu gambar yang dilukis menggunakan malam dengan alat canting yang digoreskan pada kain primisima yang terdiri dari tujuh karya manari di ateh awan, penari malam, manari di ateh adok, manari di awang-awang, saayun salangkah, bapijak di awan lalu, dan manari di ateh saluang.
Pergeseran Tradisi Bagurau Lapiak di Payakumbuh: Tradisi Klasik ke Modern Oktavia, Rina; Ediwar, Ediwar; Asril, Asril; Rasmida, Rasmida; Jufri, Jufri; Desmawardi, Desmawardi
Jurnal Ilmiah Global Education Vol. 5 No. 2 (2024): JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION, Volume 5 Nomor 2, Juni 2024
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/jige.v5i2.2840

Abstract

Bogurau lapiak was originally a saluang dendang performance held in a shop with a mat and has been around since the 1980s. The performance is performed by senior drummers with one saluang, two drummers, and one janang / arranger of the performance. Today, the lapiak joke has shifted. The most noticeable shift can be seen from the drummers who fill the show are generally backgrounded as solo singers. They lack the skills and repertoire of classical saluang songs. The songs that are widely presented in bagurau lapiak performances now are dangdut songs, minang pop and gamad songs. This situation made senior drummers, rangers and laceurers worry about the loss of classic saluang songs. The presence of the lapiak bagurau show players is caused by several factors, namely, 1) economic factors, 2) technological factors and 3) market taste factors. This study used qualitative research with descriptive analysis methods. Data collection is done by observation, interviews, and documentation.
“Suara Tubuh” Interpretasi Pantun Ronggiang Pasaman Ke Dalam Bentuk Penciptaan Karya Tari Leoni Intan Sari; Rasmida Rasmida
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 9: Agustus 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i9.2165

Abstract

Karya ini terinspirasi dari kesenian tradisional Ronggiang Pasaman di daerah Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Kesenian tersebut merupakan hiburan rakyat yang tumbuh dan berkembang di Nagari Aua Kuniang Jorong Padang Tujuh. Kesenian Ronggiang Pasaman disajikan oleh laki-laki sebagai penari sekaligus berdendang dengan nyanyian pantun yang diiringi musik. Diantara penari laki-laki tersebut, terdapat satu orang yang berperan sebagai perempuan. Penari tersebut dinamakan dengan Biduan atau Anak Ronggiang. Penggunaan kata Ronggiang di Pasaman Barat mencitrakan akulturasi yang terjadi di antara kebudayaan Jawa, Minangkabau dan Mandailing. Penelitian ini tertarik pada pantun yang didendangkan oleh biduan dalam kesenian Ronggiang Pasaman. Pengkarya ingin menginterpretasikan makna-makna yang terdapat pada pantun tersebut. Interpretasi makna pantun menjadi landasan pengkarya untuk mengaplikasikannya kedalam bentuk garapan tari dengan judul karya “Suara Tubuh”.. Perwujudan karya ini akan menggunakan tema budaya dan menggunakan tipe abstrak. Metode ini bertujuan untuk memudahkan proses kerja agar seluruh struktur tari dapat dijalankan sesuai dengan ketentuan, diantaranya Pengumpulan Data dan Observasi Lapangan, Pengolahan Data, Eksplorasi, Improvisasi, dan Pembentukan.
Perkembangan Tari Kuda Kepang sebagai Media Promosi Wisata Budaya di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu Niken Novrianti; Eva Riyanti; Rasmida Rasmida; Syahril Syahril
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ppyz2993

Abstract

This study aims to determine the development of the Kuda Kepang Dance as a medium for cultural tourism promotion in Kepahiang Regency, Bengkulu Province. This research employs a qualitative method with a descriptive analysis approach. The results indicate that the Kuda Kepang dance was introduced to Kepahiang Regency in the 1930s through the Javanese transmigration program during the Dutch colonial era. Since 2023, the dance has undergone significant development led by choreographer Eigmal, who implemented creative reconstructions and innovations across movement elements, musical accompaniment, dancers, makeup, costumes, properties, floor patterns, and performance venues. Despite these modern modifications to suit contemporary entertainment and aesthetic demands, the Kuda Kepang dance preserves its core values and traditional roots. Furthermore, the dance effectively serves as a promotional tool for regional cultural tourism in collaboration with Kepahiang's natural tourism potential, while simultaneously fulfilling social, entertainment, cultural identity, and economic functions for the local community.