Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

LANDASAN KONSEP PERANCANGAN HOSTEL DENGAN PENDEKATAN STUDI PRESEDEN: Studi Preseden : Hotel Mahkota Syariah, Palangka Raya Sutrisno, Herwin; Susi, Theresia; Rifky Alfarij, Alif
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 17 No. 1 (2022): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 17 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jpa.v17i1.8524

Abstract

Pariwisata menjadi isu yang cukup kuat sebagai landasan perkembangan perancangan sebuah bangunan penginapan. Kebutuhan para turis wisata maupun mancanegara menuntut munculnya jenis penginapan yang beragam mulai dari aspek harga hingga fasilitas. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kebutuhan atas wadah penginapan berbiaya terjangkau sebagai salah satu faktor peningkatan devisa negara di bidang pariwisata. Tren backpacking yang cukup populer saat ini merupakan cara berwisata hemat biaya. Penelitian ini akan merumuskan konsep perancangan sebuah bangunan penginapan berbiaya terjangkau berupa Hostel dengan metode studi preseden pada salah satu hotel di kota Palangka Raya yang mengusung konsep hampir serupa dengan sebuah hostel. Temuan yang didapat adalah sebuah aspek rancangan hostel yang berfokus pada ruang berkegiatan bersama dengan pendekatan sense of belonging, melalui kebutuhan ruang yang sederhana dengan fasilitas yang memadai kebutuhan standar penginapan pada umumnya.
RUMAH SAKIT JIWA DI KOTA SAMPIT Bilhairini, Isra; Sutrisno, Herwin; Susi, Theresia
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 18 No. 2 (2023): Vol. 18 No. 2 (2023): "Teori dan Implementasi Desain Perancangan"
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jpa.v18i2.10044

Abstract

Mental health is one of the most important aspects in realizing overall physical, spiritual and physical health. Patients with mental disorders need appropriate treatment and rehabilitation facilities and are able to provide a place for the healing process, with the existence of a mental hospital is expected to be able to help cure mental disorders both physically, socially and spiritually as a place for ODGJ and drug addicts to be ready to return healthily and productively in the community. Based on Basic Health Research (Riskesdas) conducted in 2018 in Central Kalimantan, East Kotawaringin Regency (Kotim) is the region that has the highest weighted value index compared to other regions in Central Kalimantan in mental disorders. In line with this, Kotim Regency urges to have a mental hospital to accommodate people with mental disorders and drug addicts. The design of this mental hospital emphasizes safety and comfort factors in its design. The safety related to the design standards of mental hospitals and patient comfort in them related to the five sensory elements, namely visual, texture, sound and smell, namely by using a therapeutic architectural approach, because according to Morganthaler (2015) the architecture itself does not claim to have the ability to heal people, but rather "architectural manipulation of structures and spaces that can allow environmental factors such as sound, Color, sight, smell and light contribute to a therapeutic environment that makes them stand out for healing purposes." This design method uses descriptive qualitative methods including data collection by means of surveys, interviews, and literature reviews on mental hospitals and therapeutic architecture. The result of the design is to produce the design of a Mental Hospital in Sampit City that can accommodate security and psychological comfort through the five senses with a Therapeutic Architecture approach.
AGROWISATA AGROWISATA IKAN JELAWAT DI KOTA SAMPIT Lesmana, Dewina Maharani; Sutrisno, Herwin; Susi, Theresia
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 18 No. 2 (2023): Vol. 18 No. 2 (2023): "Teori dan Implementasi Desain Perancangan"
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jpa.v18i2.10243

Abstract

Abstract : Sampit city has a strategic position in the trade route that is flowed by a large river, the Mentaya River, has a lot of diversity of freshwater fauna, one of which is the Jelawat fish. Jelawat fish that are found in the Mentaya River make this Jelawat Fish an icon of Sampit city that can be seen along the 2 km jalan Tjilik Riwut corridor and Jelawat fish monument in an open space near the Sampit City Port Dock. The purpose of Jelawat fish agrotourism design is to optimize the potential of the existing site with a symbolic architectural approach. The method used basic linear design method. The design results show that the Jelawat fish agro-tourism area in Sampit City can accommodate activities related to Jelawat fish as educational activities for the introduction of types of freshwater fauna in the Mentaya River and processed Jelawat fish into culinary or souvenirs, and interacting with fellow visitors and animals in the area. The building, which is designed with a symbolic architectural approach, is intended to be an icon of the area in Sampit city related to Jelawat fish.
Analisis NDVI untuk Mengidentifikasi Lokasi RTH Dalam Mencegah Perubahan Lingkungan Menjadi Industrialisasi Hariani, Yusdi; Susi, Theresia; Ruthena, Yuli; Sutrisno, Herwin; Perkasa, Petrisly
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 24 No. 2 (2024): Ecosystem Vol. 24 No 2, Mei - Agustus Tahun 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v24i2.4543

Abstract

Untuk mencegah cepatnya perubahan lingkungan menjadi industrialisasi maka upaya yang dilakukan dengan dengan menambah ruang terbuka hijau yang lebih banyak dan lebih baik. Kawasan perkotaan Kuala Pembuang II telah mengalami perubahan tutupan lahan menjadi perkebunan dalam empat dekade terakhir karena peningkatan sirkulasi modal dan ekspansi ekonomi. Meningkatnya kapitalisme industri telah muncul sebagai kekuatan pendorong di balik perluasan perkotaan, yang mengakibatkan peningkatan konsentrasi spasial dan bahaya kerusakan ekologi. Tujuannya adalah mengidentifikasi kawasan RTH dengan NDVI. Metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif dengan metode diskriptif. Menganalisis vegetasi dan tubuh air yang dipadukan pola ruang Kecamatan Kuala Pembuang II. Survey lapangan untuk memverifikasi hasil analisis. Hasil terdapat Tubuh Air dengan luasan 180.4 Ha atau 5,8 %, Non Ruang Terbuka Hijau (Non RTH) dengan luasan 521.9 Ha atau 16.9 %, vegetasi rendah dengan luasan 89.1 Ha atau 2.9%, vegetasi sedang 1792.2 Ha atau 57.9 % dan vegetasi tinggi 511 Ha atau 16.5 % dari luasan dari luas kecamatan Kuala Pembuang II. Kesimpulan adalah analisis NDVI pada studi kasus ini dapat digunakan untuk melihat pola vegetasi dan badan air pada tujuan pengembangan ruang terbuka hijau.
Analisis NDVI untuk Mengidentifikasi Lokasi RTH Dalam Mencegah Perubahan Lingkungan Menjadi Industrialisasi Hariani, Yusdi; Susi, Theresia; Ruthena, Yuli; Sutrisno, Herwin; Perkasa, Petrisly
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 24 No. 2 (2024): Ecosystem Vol. 24 No 2, Mei - Agustus Tahun 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v24i2.4543

Abstract

Untuk mencegah cepatnya perubahan lingkungan menjadi industrialisasi maka upaya yang dilakukan dengan dengan menambah ruang terbuka hijau yang lebih banyak dan lebih baik. Kawasan perkotaan Kuala Pembuang II telah mengalami perubahan tutupan lahan menjadi perkebunan dalam empat dekade terakhir karena peningkatan sirkulasi modal dan ekspansi ekonomi. Meningkatnya kapitalisme industri telah muncul sebagai kekuatan pendorong di balik perluasan perkotaan, yang mengakibatkan peningkatan konsentrasi spasial dan bahaya kerusakan ekologi. Tujuannya adalah mengidentifikasi kawasan RTH dengan NDVI. Metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif dengan metode diskriptif. Menganalisis vegetasi dan tubuh air yang dipadukan pola ruang Kecamatan Kuala Pembuang II. Survey lapangan untuk memverifikasi hasil analisis. Hasil terdapat Tubuh Air dengan luasan 180.4 Ha atau 5,8 %, Non Ruang Terbuka Hijau (Non RTH) dengan luasan 521.9 Ha atau 16.9 %, vegetasi rendah dengan luasan 89.1 Ha atau 2.9%, vegetasi sedang 1792.2 Ha atau 57.9 % dan vegetasi tinggi 511 Ha atau 16.5 % dari luasan dari luas kecamatan Kuala Pembuang II. Kesimpulan adalah analisis NDVI pada studi kasus ini dapat digunakan untuk melihat pola vegetasi dan badan air pada tujuan pengembangan ruang terbuka hijau.
PERUBAHAN FASAD PADA GERAI DI KAWASAN KULINER TAMAN SANGOMANG KOTA PALANGKA RAYA Sutrisno, Herwin -
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 6, No 3 (2023): Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2023
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v6i3.49012

Abstract

Abstract: The culinary area of Taman Tunggal Sangomang is located on Jl. Yos Sudarso, Palangka Raya City, started operating in 2018 as a relocation of a culinary park located at the estuary of Jl. Yos Sudarso in the Big Roundabout area, aims to rearrange the city space. Over time, the outlets in this culinary area have changed shape in every physical and space by changing the facade design of the containers that have been provided, to show the identity of ownership of the merchant. This has an effect on the diverse appearance of the facade with contrasting facade elements. This study aims to see changes in container outlets in the Taman Sangomang culinary area that have changed from the first time this area was inaugurated. The method used is descriptive qualitative. Collecting data by in-depth interviews with resource persons, field observations, and documentation. The results showed that the change in the shape of the facade was due to the addition of space made by the store owner from insufficient buying and selling activities and the seller's natural behavior to protect what was his property.Abstrak: Kawasan kuliner Taman Tunggal Sangomang berada di Jl.Yos Sudarso, Kota Palangka Raya, mulai beroperasi tahun 2018  merupakan relokasi taman kuliner yang berada di simpang bundaran besar Palangka Raya arah Jl. Yos Sudarso menuju ke Universitas Palangka Raya, dengan tujuan untuk menata ulang penggal jalan di ruang Kota. Seiring berjalannya waktu, gerai di kawasan kuliner ini mengalami perubahan bentuk disetiap fisik dan ruang. Pemilik   mengubah desain fasad dari kontainer sebagai bentuk awal yang telah disediakan pemerintah, untuk menunjukan identitas kepemilikan dari pedagang tersebut. Perubahan ini berpengaruh pada tampilan fasad bangunan  dan bentuk yang  beragam dengan elemen fasad yang kontras. Penelitian ini bertujuan melihat perubahan pada gerai kontainer di  kawasan kuliner Taman Sangomang sejak pertama kali kawasan ini diresmikan. Metode yang digunakan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dengan narasumber, pengamatan di lapangan, dan dokumentasi. Hasil penelitian terlihat bahwa perubahan bentuk fasad karena penambahan ruang yang dilakukan oleh pemilik gerai dari aktivitas jual-beli yang tidak tercukupi dan perilaku alamiah penjual untuk memenuhi kebutuhan ruang serta  melindungi properti atas hal yang menjadi hak miliknya.
Game Centre di Kota Palangka Raya Sutrisno, Herwin
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 25 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v25i1.9440

Abstract

Di Indonesia game sudah berkembang cukup pesat sehingga para peminatnya pun cukup banyak, berbagai jenis dan teknologi game sudah banyak bermunculan di Indonesia dengan mengikuti perkembangan teknologi-teknologi di masa sekarang. Pada penelitian yang pernah di teliti oleh Khantri, 2020 yang menyatakan bahwa Palangka Raya mendapatkan raihan tertinggi yakni dengan nilai 71,9. Ketertarikan masyarakat terhadap game itu juga bisa dilihat dari diadakannya berbagai perlombaan tingkat Kota Palangka Raya baik itu di warnet, rental penyewaan, ataupun di sekolah-sekolah. Tidak hanya perlombaan saja namun salah satu Sekolah Negeri di Kota Palangka Raya yaitu SMAN 2 Palangka Raya sudah resmi memasukkan game ke dalam ekstrakurikuler sekolah mereka sejak agustus 2022. Dengan banyaknya minat masyarakat dalam bermain game, ramainya event-event atau perlombaan yang diselenggarakan, kemudian karena itulah akan dibutuhkannya wadah untuk bermain sehingga para pemain game bisa bermain game yang mereka ingin mainkan, dan juga mereka dapat mengembangkan bakat mereka dalam game. Game centre ini akan menggunakan penerapan prinsip Ruang Bermain Ramah Anak dan Prinsip Universal Desain yang nantinya akan diterapkan kedalam rancangan bangunan. Pada proses perancangan Game Centre menggunakan metode pengumpulan data studi literatur dan analisis dari studi banding dalam pengumpulan data sebagai acuan dalam proses perancangan Game Centre dengan penerapan Konsep Ruang Bermain Ramah Anak. Hasil rancangan berupa bangunan dengan penerapan konsep Ruang Bermain Ramah Anak dan menambahkan prinsip universal desain yang akan diterapkan kedalam bangunan sehingga semua orang dapat mengaksesnya dengan mudah dan aman.
TRANSFORMASI RUANG HUNIAN TRANSMIGRAN BALI AKIBAT AKULTURASI DI DESA BASARANG JAYA, KALIMANTAN TENGAH Sutrisno, Herwin; Susi, Theresia
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Balinese transmigrants in Basarang Jaya Village, Central Kalimantan indirectly brought their tradition and culture. The meeting of Balinese culture elements with the local culture elements (the Dayak Ngaju tribe) has caused acculturation in the village. In the point of view of architecture, such acculturation is implemented in the residence of Balinese transmigrants in the form of changes or adjustments based on the characteristics of both cultures, and one of the examples is the transformational changes in the Balinese residences. This research aims to identify the physical transformation of Balinese residences that happened because of acculturation in Basarang Jaya. This research employed the qualitative descriptive research, and the data were collected from field observations, documentation, and in-depth interviews with key resources and residential owners. The result has shown that the kind of transformation occurring at Balinese residences in Basarang Jaya Village is the transformation in the residences’ basic form, masses, and room elements.Keyword: Spatial transformation, balinese residence, Basarang Jaya Abstrak: Transmigran Bali yang berpindah ke Desa Basarang Jaya, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah secara tidak langsung membawa serta tradisi dan budayanya. Bertemunya unsur-unsur budaya yang dibawa oleh transmigran Bali dengan unsur-unsur budaya masyarakat lokal (suku Dayak Ngaju) menyebabkan terjadinya akulturasi di Desa Basarang Jaya. Dari segi arsitektur, akulturasi tersebut terimplementasi pada hunian transmigran Bali. Dalam hunian transmigran Bali terjadi berbagai perubahan atau penyesuaian antara budaya yang mereka bawa dengan lingkungan tempat tinggalnya, salah satunya tampak pada transformasi ruang hunian transmigran Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi transformasi ruang hunian yang terjadi pada hunian transmigran Bali akibat akulturasi di Desa Basarang Jaya. Metode penelitian yang dipergunakan adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan di lapangan, dokumentasi dan wawancara mendalam dengan nara sumber. Hasil penelitian menunjukan bahwa transformasi hunian yang terjadi pada hunian transmigran Bali di Desa Basarang Jaya adalah perubahan bentuk hunian berupa perubahan bentuk dasar hunian, perubahan massa hunian dan perubahan jenis ruang.Kata Kunci: Transformasi Ruang, Hunian Transmigran Bali, Basarang Jaya
PENERAPAN KONSEP SANGA MANDALA PADA HUNIAN TEPI ANJIR DI DESA BASARANG JAYA, KALIMANTAN TENGAH Sutrisno, Herwin; Susi, Theresia
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Basarang Jaya Village in Kapuas Regency, Central Kalimantan is a placement location for transmigrants from the island of Bali. Transmigration does not only move the human body, but also the culture and customs. Interactions that occur between local communities and immigrant communities will cause a shift and development of the cultural values of these communities. The physical condition of the transmigration location environment using the anjir-handil-saka concept is also very much different from the physical environment where the transmigrants originate, in the form of mountains and the sea.This raises a theoretical gap that underlies this research through a problem statement, namely how to apply the concept of traditional Balinese architecture to residential areas on the edge of anjir. This study aims to determine the application of the concept of traditional Balinese architecture in residential areas on the edge of anjir. The research approach used is a qualitative approach with a case study method.The results showed that there was an adaptation in the application of the Sanga Mandala conception to the culture of the local community and the physical conditions of the environment. Residential houses no longer consist of many masses but only one single mass. Natah is also no longer located in the madya ning madya but is spread throughout the zone surrounding residential buildings, even though the utama ning madya is still maintained as a zone for sanggah.Abstrak: Desa Basarang Jaya di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah merupakan lokasi penempatan transmigran yang berasal dari Pulau Bali. Transmigrasi tidak hanya memindahkan fisik manusianya saja tetapi juga budaya serta adat istiadatnya. Interaksi yang terjadi antara masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang akan menimbulkan pergeseran dan perkembangan nilai-nilai kebudayaan dari masyarakat tersebut. Kondisi fisik lingkungan lokasi transmigrasi yang menggunakan konsep anjir-handil-saka juga sangat jauh berbeda dengan kondisi fisik lingkungan tempat transmigran berasal yang berupa pegunungan dan laut. Hal ini memunculkan celah teoritis yang mendasari penelitian ini melalui pernyataan masalah yaitu bagaimana penerapan konsep arsitektur tradisonal Bali pada hunian yang berada di tepi anjir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan konsep arsitektur tradisional Bali pada hunian yang berada di tepi anjir. Pendekatan penelitian yang dipergunakan adalah pendekatan kualitatif menggunakan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukan terjadi adaptasi dalam penerapan konsepsi Sanga Mandala menyesuaikan dengan budaya masyarakat lokal dan kondisi fisik lingkungan. Rumah tinggal tidak lagi terdiri atas massa banyak melainkan hanya satu massa tunggal saja. Natah juga tidak terletak lagi di zona madya ning madya melainkan tersebar keseluruh zona mengelilingi bangunan rumah tinggal meskipun demikian zona utama ning utama tetap dipertahankan sebagai zona peletakan sanggah.
PENERAPAN KONSEP SANGA MANDALA PADA HUNIAN TEPI ANJIR DI DESA BASARANG JAYA, KALIMANTAN TENGAH Sutrisno, Herwin; Susi, Theresia
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Basarang Jaya Village in Kapuas Regency, Central Kalimantan is a placement location for transmigrants from the island of Bali. Transmigration does not only move the human body, but also the culture and customs. Interactions that occur between local communities and immigrant communities will cause a shift and development of the cultural values of these communities. The physical condition of the transmigration location environment using the anjir-handil-saka concept is also very much different from the physical environment where the transmigrants originate, in the form of mountains and the sea.This raises a theoretical gap that underlies this research through a problem statement, namely how to apply the concept of traditional Balinese architecture to residential areas on the edge of anjir. This study aims to determine the application of the concept of traditional Balinese architecture in residential areas on the edge of anjir. The research approach used is a qualitative approach with a case study method.The results showed that there was an adaptation in the application of the Sanga Mandala conception to the culture of the local community and the physical conditions of the environment. Residential houses no longer consist of many masses but only one single mass. Natah is also no longer located in the madya ning madya but is spread throughout the zone surrounding residential buildings, even though the utama ning madya is still maintained as a zone for sanggah.Abstrak: Desa Basarang Jaya di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah merupakan lokasi penempatan transmigran yang berasal dari Pulau Bali. Transmigrasi tidak hanya memindahkan fisik manusianya saja tetapi juga budaya serta adat istiadatnya. Interaksi yang terjadi antara masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang akan menimbulkan pergeseran dan perkembangan nilai-nilai kebudayaan dari masyarakat tersebut. Kondisi fisik lingkungan lokasi transmigrasi yang menggunakan konsep anjir-handil-saka juga sangat jauh berbeda dengan kondisi fisik lingkungan tempat transmigran berasal yang berupa pegunungan dan laut. Hal ini memunculkan celah teoritis yang mendasari penelitian ini melalui pernyataan masalah yaitu bagaimana penerapan konsep arsitektur tradisonal Bali pada hunian yang berada di tepi anjir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan konsep arsitektur tradisional Bali pada hunian yang berada di tepi anjir. Pendekatan penelitian yang dipergunakan adalah pendekatan kualitatif menggunakan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukan terjadi adaptasi dalam penerapan konsepsi Sanga Mandala menyesuaikan dengan budaya masyarakat lokal dan kondisi fisik lingkungan. Rumah tinggal tidak lagi terdiri atas massa banyak melainkan hanya satu massa tunggal saja. Natah juga tidak terletak lagi di zona madya ning madya melainkan tersebar keseluruh zona mengelilingi bangunan rumah tinggal meskipun demikian zona utama ning utama tetap dipertahankan sebagai zona peletakan sanggah.