Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Hubungan Durasi Penggunaan Gadget Dengan Astenopia Pada Remaja Tri Nili Sulayfiyah; Ahmad Zaini Arif; Dwi Intan Pakuwita AR
Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya (JAKMW)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jakmw.v5i1.1393

Abstract

Astenopia atau kelelahan mata merupakan gangguan yang sering dialami remaja akibat meningkatnya penggunaan gadget dalam aktivitas sehari-hari. Penggunaan perangkat digital dalam durasi yang panjang dapat memicu ketegangan akomodasi dan menurunkan frekuensi berkedip, sehingga meningkatkan risiko terjadinya astenopia. Tujuan: penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara durasi penggunaan gadget dengan kejadian astenopia pada remaja. Metode: desain cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 34 orang yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner durasi penggunaan gadget dan kuesioner Visual Fatigue Index (VFI). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil: penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki durasi penggunaan gadget tinggi (55,9%). Kejadian astenopia ditemukan pada 20 responden (58,8%), sedangkan 14 responden (41,2%) tidak mengalami astenopia. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value sebesar 0,005 dengan OR 3,8 (95%CI: 1,79-8,06) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan gadget dengan kejadian astenopia pada remaja (p < 0,05) dan durasi penggunaan gadget tinggi memiliki risiko hampir 3,8 kali lebih besar mengalami astenopia. Kesimpilan: bahwa semakin lama durasi penggunaan gadget, maka semakin tinggi risiko terjadinya kelelahan mata pada remaja, sehingga penting dilakukan edukasi mengenai pembatasan durasi penggunaan gadget serta penerapan kebiasaan ergonomis, seperti aturan 20-20-20, untuk mencegah kelelahan mata pada remaja.
Hubungan Aktivitas Fisik dan Kualitas Tidur dengan Kejadian Hipertensi pada Remaja di SMAN 2 Sampang Mery Eka Yaya Fujianti; Desi Holifatus Su’aida; Dwi Intan Pakuwita AR
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 4 No 2 (2025)
Publisher : Gayaku Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/juvokes.v4i2.1507

Abstract

Hipertensi tidak hanya menjadi masalah kesehatan pada orang dewasa, tetapi juga mulai ditemukan pada kelompok usia remaja. Salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi kejadian hipertensi pada remaja adalah aktivitas fisik dan kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan aktivitas fisik dan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi pada remaja di SMAN 2 Sampang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, serta melibatkan partisipan yang dipilih melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner aktivitas fisik (IPAQ), kuesioner kualitas tidur (PSQI), serta pengukuran tekanan darah. Analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya aktivitas fisik, kebiasaan tidur larut malam, serta kualitas tidur yang buruk menjadi faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko hipertensi pada remaja. Selain itu, faktor lingkungan sekolah, tekanan akademik, dan pola penggunaan gawai turut memengaruhi kualitas tidur dan aktivitas fisik siswa. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan dalam mendorong gaya hidup sehat melalui aktivitas fisik teratur dan manajemen tidur yang baik guna mencegah kejadian hipertensi sejak usia remaja.
EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG DIET RENDAH PURIN TERHADAP KADAR ASAM URAT PADA PENDERITA GOUT ARTRITIS Ahmad Zaini Arif; Aprilia Nur Malasari; Atika Jatimi; Tri Nili Sulayfiyah; Dwi Intan Pakuwita AR; Willi Holis
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Gayaku Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/gq9zat26

Abstract

Penyakit gout (arthritis gout) merupakan penyakit sendi yang disebabkan oleh tingginya asam urat di dalam darah.penyabab utama penyakit gout yaitu gaya hidup dan makan yang mengandung lemak berlebih yang menyebabkan tingginya kadar asam urat dalam darah. Diet Rendah Purin diberikan antara lain kepada pasien penyakit Gout dimana kadar asam urat dalam darah tinggi. Tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pendidikan kesehatan tentang diet rendah purin terhadap kadar asam urat pada penderita gout atritis di wilayah kerja puskesmas jrengik sampang. Pada Penelitian ini menggunakan desain Pre ekperimental. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat di wilayah kerja puskesmas jrengik penderita gout atritis. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 38 responden dengan teknik Random Sampling. Data di ambil melalui pengisian infrom consend dan pengukuran kadar asam urat. Analisis data dilakukan menggunakan uji MC Nemar Test dengan nilai <0,05 (p<a). Hasil penelitian uji statistic MC Nemar test diperoleh nilai p value 0,006 <a = 0.05, sehingga ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang diet rendah purin terhadap kadar asam urat pada penderita gout atritis. Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh pendidikan kesehatan tentang diet rendah purin terhadap kadar asam urat pada penderita gout atritis di wilayah kerja Puskesmas Jrengik Sampang
Terapi CBT terhadap Penurunan Depresi pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Ida Wahyuni; Bergita Dumar; Tri Nily Sulayfiyah; Dwi Intan Pakuwita Ar
Journal of Telenursing (JOTING) Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Telenursing (JOTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/rp93j543

Abstract

This study aimed to determine the effect of CBT on reducing depression in patients with Chronic Kidney Failure (CKD). The study used a quasi-experimental pre-post test design without a control group and was conducted in the hemodialysis ward of Abdur Rahem Hospital, Situbondo. The sample size was 39 patients in the treatment group and 39 in the control group, selected through purposive sampling. The Beck's Depression Inventory-II (BDI-II) was used to measure depression. The results showed a significant reduction in depression levels in both groups (p = 0.001), but a greater reduction occurred in the treatment group, with an average N-gain of 45.44%, compared to the control group, which only achieved 17.54% (p = 0.000). These findings indicate that CBT is effective in reducing depression levels in CKD patients undergoing hemodialysis. In conclusion, CBT therapy is recommended as a routine psychological intervention to improve the mental well-being and quality of life of CKD patients. Keywords: Cognitive Behavior Therapy, Depression, Chronic Kidney Failure
Hubungan antara Aktivitas Fisik dan Status Gizi sebagai Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (Hipertensi dan Diabetes Melitus) pada Wanita Usia Produktif Laras Eka Nur Hasanah; Fadean Stefany; Dwi Intan Pakuwita AR
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2026): Juni : Jurnal Sains dan Kesehatan (JUSIKA)
Publisher : Universitas Muhamadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jusika.v10i1.1200

Abstract

This study aimed to examine the association between physical activity and nutritional status as risk factors for noncommunicable diseases among women of reproductive age. A descriptive quantitative study with a cross-sectional approach was conducted in Kranggan Village involving 35 respondents selected through purposive sampling. Data on physical activity were collected using questionnaires, while nutritional status was assessed based on Body Mass Index (BMI). The findings showed that most respondents had moderate physical activity levels (51.4%), followed by low physical activity levels (42.8%). Regarding nutritional status, the majority of respondents were classified as overweight (51.4%) and obese (28.6%). Statistical analysis demonstrated a significant relationship between physical activity and nutritional status (p = 0.003). The results indicate that inadequate physical activity is associated with increased nutritional status problems, particularly overweight conditions. Therefore, low physical activity and excessive body weight represent interconnected risk factors contributing to the development of noncommunicable diseases among women of reproductive age. This study highlights the importance of promoting regular physical activity and maintaining balanced nutritional status as preventive strategies to reduce the risk of noncommunicable illnesses.
Analisis Pengetahuan, Pencegahan dan Personal Hygine Mengenai Skabies pada Santri di Asrama Pondok Pesantren Atiqur Rohman; Imam Ghazali; Firdaus Indah Sari; Dwi Intan Pakuwita Ar
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 3 (2026): Juni 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i3.2409

Abstract

Skabies merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih banyak ditemukan di negara berkembang dan wilayah beriklim tropis. Penyakit ini disebabkan oleh infestasi Sarcoptes scabiei dan mudah menular melalui kontak langsung dengan kulit maupun penggunaan barang pribadi secara bersama, terutama di lingkungan padat dan komunal seperti pondok pesantren. Faktor kepadatan hunian, sanitasi yang kurang memadai, serta perilaku personal hygiene yang rendah turut meningkatkan risiko penularan. Penelitian ini bertujuan menggambarkan tingkat pengetahuan, perilaku pencegahan skabies, dan perilaku personal hygiene pada remaja santri di Pondok Pesantren As-Sonhaji, wilayah kerja Puskesmas Pakong, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 59 remaja santri sebagai responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai skabies, yaitu 36 orang (61%). Perilaku pencegahan skabies tergolong positif pada 31 responden (52,5%), sedangkan perilaku personal hygiene yang baik ditemukan pada 29 responden (49,2%). Meskipun mayoritas responden menunjukkan hasil yang baik, hampir separuh responden masih memiliki perilaku pencegahan dan personal hygiene yang kurang optimal. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya edukasi kesehatan, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, serta deteksi dini perlu terus diperkuat untuk menurunkan risiko penularan skabies di lingkungan pondok pesantren..