Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Symptoms of Pesticide Intoxication Among Vegetable Farmers in Gowa Regency, Indonesia Habibi Habibi; Agussalim Bukhari; Muhammad Furqaan Naiem
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 14, Nomor 2, July-December 2022
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-sihah.v14i2.32276

Abstract

Farmers and pesticides are two inseparable things. Pesticides are one the toxic chemicals in the agricultural sector and use to control pests and weeds in the process of getting maximum yields. This study aimed to determine the symptoms of pesticide intoxication in vegetable farmers in Gowa Regency, Indonesia. This type of study was an analytical survey with a cross-sectional study design. The number of samples was 42 people consisting of vegetable farmers who were still actively working as pesticide sprayers and was determined by purposive sampling. For collecting data, it used interviews and screening for poisoning symptoms. Data were processed by tabulating (mentioning each participant in the study group) following the grouping of the variables examined and analyzed using the chi-square test. The results showed that the most common symptoms of pesticide intoxication were felt by farmers, namely muscle pain, headaches, and dizziness. This study found a relationship between spraying methods, personal hygiene, and personal protective equipment to symptoms of pesticide intoxication (p<0.05). This study recommends that vegetable farmers pay attention to the proper use of pesticides to minimize pesticide intoxication in the body.
Program Pendampingan dan Pemberdayaan Kelompok Masyarakat pada Komunitas Tuli Peduli Bitung (Kaleb) Onky Pranata Putra; Qadri Karim; Syamsul Alam; Nildawati Ilda; Syahrul Basri; Munawir Amansyah; Hasbi Ibrahim; Habibi
KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 2 (2022): JULY
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.356 KB) | DOI: 10.24252/khidmah.v2i2.28436

Abstract

The activities of mentoring and empowering community groups in the Bitung Deaf and Caring Community (KALEB) aim to develop the potential of persons with disabilities (deaf) to get opportunities for self-actualization and increase self-confidence. This activity began with the provision of hearing aids, followed by the provision of sign language learning books. Furthermore, there is assistance in processing inorganic waste for all KALEB members, processing organic waste as a craft object for the deaf community. Other activities include the establishment of literacy cafes, screen printing and sign language education. The results of the mentoring and empowerment of community groups in the Bitung Deaf Care Community (KALEB) gave rise to a glimmer of hope to all KALEB participants that they too are part of the community. KALEB participants rose from mental retardation and lack of confidence. Support for hearing aids, procurement of sign language learning books, sign language education programs, and socio-economic programs have made it more convincing for deaf friends that they can actually be present in the midst of the general public.
Clean and healthy living behavior (PHBS) education in school through Snakes and Ladders game Syahrul Basri; Muhammad Saleh Jastam; Munawir Amansyah; Habibi; Lilis Widiastuty; Muhammad Kahfi; Ranti Ekasari
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 19 No. 2 (2023): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v19i2.8505

Abstract

[Bahasa]: Pemahaman konsep Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang mendalam membutuhkan pendekatan yang kreatif dan interaktif. Salah satu pendekatan pengenalan PHBS adalah melalui media ular tangga yang menyediakan pembelajaran dengan konteks yang menyenangkan melalui aktivitas bermain sambil belajar. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan anak sekolah dasar mengenai PHBS sekolah serta pentingnya mengaplikasikan PHBS melalui media permainan. Pengabdian ini menggunakan metode ABCD (Asset Based Community Development) dengan tahapan: identifikasi masalah, penentuan prioritas masalah, pemetaan asset, penentuan kegiatan, pembuatan instrumen dan media, pemberian pre-tes, bermain ular tangga, pemberian post-tes, dan evaluasi program. Sasaran dari kegiatan ini adalah siswa sekolah dasar yang berperan sebagai pemain dan penonton permainan dengan media ular tangga. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Kanreapia, Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa pada uji paired t-test diperoleh nilai p sebesar 0.001 yang berarti bahwa program pengabdian yang telah dilakukan efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa mengenai PHBS. Hasil pre-tes dan post-tes juga menunjukkan bahwa edukasi PHBS dapat meningkatkan pengetahuan peserta terhadap PHBS dengan rata-rata responden yang menjawab benar yaitu dari 16,25 menjadi 19,04. Pihak sekolah diharapkan mengadopsi media ular tangga sebagai media yang menyenangkan dalam memperkenalkan PHBS kepada anak sekolah sehingga memberikan bekal pengetahuan tentang hidup bersih sejak dini. Kata Kunci: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), ular tangga, anak-anak [English]: A profound understanding of the concept of Clean and Healthy Lifestyle (PHBS) requires a creative and interactive approach. One approach to the introduction of PHBS is through snakes and ladders media that provides learning opportunities for students through play activities. This community service aims to increase elementary school children's knowledge about school PHBS and the importance of applying PHBS through game media. The method used is ABCD (Asset Based Community Development) with stages including problem identification, problem prioritization, asset mapping, determining activities, making instruments and media, giving pre-tests, playing snakes and ladders, giving post-tests, and program evaluation. The participants of this program were elementary school students who played the role of players and spectators of the game with snakes and ladders media. This community service activity was carried out at Kanreapia Elementary School, Kanreapia Village, Tombolo Pao District, Gowa Regency. The results of this community service show that the paired t-test obtained a p-value of 0.001, which means that the program is effective in increasing students' knowledge about PHBS. The results of the pre-test and post-test also show that PHBS education can enhance participants' knowledge of PHBS, with the average respondent who answered correctly ranging from 16.25 to 19.04. Schools are expected to adopt Snakes and Ladders media as fun media in introducing PHBS to school children to provide knowledge about clean and healthy living from an early age. Keywords: clean and healthy living behavior, Snakes and Ladders, children
KORELASI PENGGUNAAN PESTISIDA TERHADAP GEJALA KERACUNAN PADA PETANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN ENREKANG Andi Tenriola Fitri Kessi; Habibi; Rindu Syamsuddin
Jurnal Mitrasehat Vol. 15 No. 2 (2025): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v15i1.511

Abstract

Latar belakang: Pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengendalikan, mencegah, atau menangkal gangguan serangga, binatang pengerat, nematode, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama kecuali virus, bakteri atau jasad renik lainnya yang terdapat pada manusia dan binatang atau semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi penggunaan pestisida terhadap gejala keracunan. Metode: menggunakan metode observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang diambil sebanyak 30 dari 60 populasi dengan perhitungan rumus sampel size. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa korelasi penggunaan pestisida terhadap gejala keracunan berdasarkan prinsip yaitu: teknik pencampuran, ditemukan P= 0.243 < dari 0.05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada Hubungan signifikan terhadap gejala keracunan. Teknik penyemprotan, ditemukan P= 0.626 < dari 0.05. Kesimpulan: Tidak ada hubungan signifikan terhadap gejala keracunan higiene perorangan, ditemukan P= 0.463 < dari 0.05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada Hubungan signifikan terhadap gejala keracunan. Penggunaan APD ditemukan P= 0.537 < dari 0.05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada Hubungan signifikan terhadap gejala keracunan. pemberian edukasi, ditemukan P= 0.015 > dari 0.05 sehingga dapat disimpulkan ada Hubungan signifikan terhadap gejala keracunan.
DETERMINASI PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK PADA PENGRAJIN BATU BATA: STUDI EPIDEMIOLOGI DI KABUPATEN GOWA Habibi; Nur Fadiyah Putri; Emmi Bujawati; Nildawati
Jurnal Mitrasehat Vol. 16 No. 1 (2026): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v16i1.621

Abstract

Latar belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu masalah kesehatan akibat paparan polusi udara di lingkungan kerja, termasuk pada sektor informal seperti industri pembuatan batu bata merah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan berpengaruh terhadap risiko PPOK pada pengrajin batu bata merah di Dusun Borongrappoa, Kabupaten Gowa. Metode: Menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei tahun 2025 di industri rumahan batu bata merah Dusun Borongrappoa Desa Romanglasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Populasi dalam penelitian ini adalah pengrajin batu bata merah dan sampel sebanyak 140 responden yang diambil menggunakan Teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi berusia > 17 tahun, telah bekerja minimal 1 tahun dan tidak sedang dalam keadaan sakit pada saat pengukuran. Hasil: Hasil uji bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara usia (p=0,006), jenis kelamin (p=0,038), masa kerja (p=0,037), durasi kerja (p=0,030), riwayat penyakit paru (p=0,001), dan penggunaan masker (p=0,036) dengan risiko PPOK. Kebiasaan merokok tidak menunjukkan hubungan bermakna (p=0,206). Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan pada usia, jenis kelamin, masa kerja, durasi kerja, riwayat penyakit paru, dan penggunaan masker pada risiko PPOK pada pengrajin batu bata merah. Serta tidak terdapat hubungan yang signifikan kebiasaan merokok dengan risiko PPOK pada pengrajin batu bata merah.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN GEJALA DERMATITIS KONTAK PADA PEMULUNG DI TPA KELURAHAN TAMANGAPA KOTA MAKASSAR Muhammad Akbar Salcha; Habibi; Sisilia Geby Paulang; Arni Juliani
Jurnal Mitrasehat Vol. 16 No. 1 (2026): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v16i1.655

Abstract

Latar Belakang: Dermatitis kontak merupakan masalah kesehatan yang umum dialami pekerja pemulung akibat paparan langsung bahan iritan di tempat kerja. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gejala dermatitis kontak pada pemulung di Tempat Pembuangan Akhir Kelurahan Tamangapa, Makassar. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik cross-sectional dengan teknik purposive sampling terhadap 160 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, observasi, dan dianalisis menggunakan analisis univariat serta bivariat dengan uji Chi-square. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa 70% responden mengalami gejala dermatitis kontak penelitian ini menunjukan Terdapat hubungan signifikan antara lama kontak (p = 0,000) , penggunaan APD (p = 0,003), serta higiene perorangan (p = 0,000) dengan kejadian gejala dermatitis kontak. Masa kerja tidak berhubungan signifikan dengan gejala dermatitis kontak (p = 0,066). Kondisi higiene perorangan yang buruk dan penggunaan APD yang kurang tepat meningkatkan risiko pemulung mengalami dermatitis kontak iritan. Kesimpulan: Perlunya pembatasan lama kontak kerja, peningkatan pemakaian APD lengkap dan sesuai standar, serta perbaikan higiene perorangan sebagai upaya pencegahan dermatitis kontak pada pemulung di TPA Kelurahan Tamangapa. Disarankan edukasi rutin dan pengawasan ketat untuk melindungi kesehatan pemulung.
Health Service Accessibility As A Key Predictor of Antenatal Care (K4 and K6) Completion in Low-Coverage Regions: A Cross-Sectional Study in Central Papua and North Maluku (SKI 2023) Muhammad Irsyad Sabili; Sitti Raodhah; Habibi Habibi
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 17 No. 1 (2026): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (JIKM)
Publisher : Association of Public Health Scholars based in Faculty of Public Health, Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26553/jikm.2026.17.1.51-65

Abstract

Maternal health is a key indicator of public health service quality. However, data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI) indicate low coverage, with K4 coverage at 13.9% in Central Papua Province and K6 coverage of 4.1% in North Maluku Province. This study aimed to analyze individual and health service factors associated with pregnant women’s participation in ANC K4 and K6 visits in low-coverage areas. This quantitative observational study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey. The study population consisted of women aged 10–54 years who had experienced pregnancy within the last year, with 118 respondents meeting the inclusion criteria. Data were analyzed using univariate, bivariate (Chi-square and Fisher’s Exact tests), and multivariate logistic regression. Most respondents were of low-risk reproductive age, with lower education in Central Papua. The majority had low gravida and parity, inadequate knowledge, and suboptimal iron supplementation. Many ANC services were provided by non-standard providers, and ANC participation remained low, especially in Central Papua. Bivariate analysis showed that in North Maluku Province, ANC participation was significantly associated with maternal age, type of pregnancy examiner, knowledge of pregnancy danger signs, iron supplementation consumption, and service accessibility (p < 0.05). In Central Papua Province, only maternal age was significantly associated (p < 0.05). Multivariate analysis identified service accessibility as the only significant factor in North Maluku (p = 0.020; Exp(B) = 0.088). Improving service accessibility and maternal health education is essential to increase ANC utilization in low-coverage areas.
EKSPLORASI FAKTOR RISIKO KEJADIAN INFEKSI SOIL-TRANSMITTED HELMINTHS PADA PETANI SAYUR DI DESA KANREAPIA KABUPATEN GOWA Habibi; Dini; Muhammad Rusmin; Bs Titi Haerana
Jurnal Mitrasehat Vol. 16 No. 2 (2026): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v16i2.680

Abstract

Latar belakang: Soil Transmitted Helminths (STH) merupakan penyakit yang dapat menyebabkan malnutrisi, kehilangan darah, dan penurunan produktivitas fisik. Hal ini dapat terjadi karena petani sering bersentuhan langsung dengan tanah yang mengakibatkan mereka rentan terinfeksi STH. Tujuan: Untuk mengetahui prevalensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi infeksi STH pada Petani Sayur di Desa Kanreapia Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analitik dan desain cross-sectional. Besar sampel dihitung menggunakan rumus estimasi proporsi dengan derajat kesalahan 10%, sehingga diperoleh 90 petani sayur. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian terhadap 90 responden, ditemukan bahwa 6 orang (6,7%) terinfeksi STH. Analisis menggunakan uji Fisher Exact menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara beberapa faktor yang diteliti dengan kejadian infeksi STH, meliputi tingkat pengetahuan (p=0,416), sikap (p=0,662), tindakan (p=0,085), penggunaan alas kaki (p=0,585), kebiasaan mencuci tangan (p=0,085), kebersihan kuku (p=0,685), serta penggunaan sarung tangan (p=1,000). Kesimpulan: Temuan penelitian ini mengindikasikan perlunya upaya dari pemerintah untuk memperkuat program edukasi guna meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai STH, khususnya terkait pentingnya konsumsi obat cacing secara rutin. Selain itu, petani sayur diharapkan lebih memperhatikan praktik kebersihan diri, baik saat bekerja maupun dilingkungan rumah, sebagai langkah pencegahan untuk menekan risiko penularan infeksi STH.