Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PELESTARIAN KAWASAN PESISIR GILI PETAGAN SEBAGAI DESTINASI EKOWISATA MELALUI KEGIATAN PENANAMAN MANGROVE Siti Hamdiah Rojabi; Mahmudah Budiatiningsih; Rahman Rahman; Kertajadi Kertajadi; Jumhur Hakim; Muhamad Dio Akbar Sagita; Billy Irvansyah
Jurnal Abdimas Sangkabira Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Sangkabira, Juni 2026
Publisher : Program Studi Diploma III Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdimassangkabira.v6i2.3143

Abstract

Kawasan Gili Petagan, sebagai destinasi ekowisata potensial di Lombok Timur, memiliki tutupan vegetasi mangrove yang masih sangat terbatas di beberapa titik kritis. Selain itu, kesadaran masyarakat terkait pentingnya ekosistem mangrove masih rendah. Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melestarikan ekosistem mangrove melalui penanaman bibit sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat pesisir untuk mendukung pengembangan ekowisata. Metode yang digunakan adalah edukasi lapangan terpadu yang menggabungkan penyuluhan partisipatif, praktik penanaman langsung, dan diskusi interaktif. Kegiatan dilaksanakan pada Minggu, 26 Mei 2024, di Gili Petagan, Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, dengan peserta sebanyak 45 orang yang terdiri atas mahasiswa, dosen D3 Pariwisata UNRAM, anggota Pokdarwis Petarando, dan anggota Badan Promosi Pariwisata Lombok Timur. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kegiatan berjalan lancar, seluruh peserta aktif mengikuti proses edukasi dan penanaman bibit mangrove, serta terjadi peningkatan pemahaman peserta tentang pentingnya konservasi mangrove. Dampak dari kegiatan ini adalah memperkuat kolaborasi lintas sektor antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah daerah, serta membuka peluang pengembangan ekowisata berbasis mangrove. Pendekatan partisipatif berbasis masyarakat dan kolaborasi multipihak terbukti efektif dalam pelestarian kawasan pesisir.
Echoes of devotion: Okokan in Tabanan as ritual sound, social cohesion, and Balinese spiritual life Ni Wayan Sadiyani; M. Agus Sutiarso; Firman Sinaga; Jumhur Hakim; Asma Khan; Chet Narayan Acharya; Dr. Nirdosh Kumar Agarwal; Md. Alaul Haque; Tijjani Ahmed Ajayi
Journal of Education, Social & Communication Studies Vol. 3 No. 2 (2026): May 2026
Publisher : PT. MAWAMEDIA JAYAMUSTA BUANASIHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71028/jescs.v3i2.50

Abstract

The Tektekan Okokan tradition of Kediri, Tabanan, is a surviving Balinese ritual using sonic instruments—Okokan, Kulkul, and Tengteng—to repel disease outbreaks (grubug) and neutralize negative forces in the village. Historically performed for days or even months following spiritual messages (pawisik) and signs of occult disturbance, today it is mainly held on Pengerupukan, the eve of Nyepi, as a replacement for ogoh-ogoh processions while circling the village. This practice inspires the creation of a contemporary fashion collection. Data on the tradition were obtained through literature study, observation, and documentation. The design process follows the eight‑stage Frangipani method (design brief; research and sourcing; design development; final collection; prototype, sampling, and construction; promotion, branding, and sales; production; and business). The resulting works comprise three categories—ready to wear, ready to wear deluxe, and haute couture—visualizing Tektekan Okokan through selected keywords and plague‑like, enveloping motif details that symbolically depict the village under attack and ritually protected.