Filter By Year

1945 2024


Found 839 documents
Search RADIOLOGI

Penerapan Dekontaminasi Tubuh Dalam Meminimalisir Infeksi pada Petugas Radiologi Purnamasari, Devi; Salim, Agus; Bisra, Marido
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Januari - Maret
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Petugas radiologi merupakan tenaga kesehatan yang memiliki risiko tinggi terpapar berbagai agen infeksi, baik melalui kontak langsung dengan pasien, lingkungan rumah sakit, maupun peralatan medis yang digunakan. Risiko ini semakin meningkat karena adanya paparan cairan tubuh, percikan darah, dan kemungkinan kontaminasi radiasi yang berhubungan dengan prosedur diagnostik maupun intervensi. Oleh karena itu, diperlukan strategi preventif yang sistematis dan terukur untuk menjaga keselamatan petugas radiologi. Salah satu upaya yang relevan adalah penerapan prosedur dekontaminasi tubuh secara tepat dan konsisten. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta keterampilan petugas radiologi dalam menerapkan langkah-langkah dekontaminasi tubuh, sehingga dapat meminimalisir risiko terjadinya infeksi nosokomial maupun penyakit akibat kerja. Sasaran utama kegiatan adalah petugas radiologi di rumah sakit mitra dan mahasiswa radiologi yang sedang menjalani praktik klinik dengan 92% peserta mampu menyelesaikan proses dekontaminasi dengan benar. Dengan adanya penerapan dekontaminasi tubuh secara konsisten, diharapkan petugas radiologi mampu melindungi diri dari risiko infeksi sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman. Program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan standar kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di fasilitas pelayanan Kesehatan
SOSIALISASI PENINGKATAN PEMAHAMAN PROTEKSI RADIASI BAGI TENAGA KESEHATAN DALAM PENGGUNAAN ALAT RADIOLOGI DIAGNOSTIK Dabukke, Hotromasari; Adiansyah; Salomo Sijabat; Berkat Panjaitan; Jekki Artafik Manik; Elva Dewsita
Jurnal Abdimas Mutiara Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL ABDIMAS MUTIARA
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jam.v7i1.6887

Abstract

Latarbelakang: Penggunaan radiasi pengion pada layanan radiologi diagnostik berperan penting dalam mendiagnosis kondisi medis pasien. Paparan radiasi oleh pasien harus dioptimalisasi karena memiliki risiko apabila prosedur keselamatan tidak diterapkan secara optimal. Identifikasi awal di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan menunjukkan bahwa pemahaman tenaga kesehatan mengenai prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable), pemanfaatan alat pelindung diri (APD), serta prosedur pemantauan dosis radiasi masih perlu ditingkatkan. Tujuan : Program pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk memperkuat pemahaman serta meningkatkan kesadaran tenaga kesehatan terhadap praktik proteksi radiasi dalam pengoperasian peralatan radiologi diagnostik. Metode: Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui metode edukasi interaktif, pelatihan praktik penggunaan alat pelindung diri dan dosimeter, serta pengukuran peningkatan pengetahuan melalui evaluasi sebelum dan sesudah pelatihan. Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi peningkatan kompetensi peserta dalam menerapkan prinsip justifikasi, optimisasi, dan pembatasan dosis, sekaligus mendorong terbentuknya budaya keselamatan radiasi di lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan.Hasil: Berdasarkan hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test, terjadi peningkatan pemahaman peserta yang cukup signifikan setelah mengikuti kegiatan. Rata-rata nilai pre-test yang sebelumnya berada pada kategori sedang mengalami kenaikan pada hasil post-test hingga mencapai kategori baik. Kesimpulan: Meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam menerapkan prinsip proteksi radiasi sesuai standar yang berlaku, sehingga dapat meminimalkan risiko paparan radiasi dan meningkatkan keselamatan pasien serta pekerja radiasi.
The level of dentist’s knowledge regarding the role of radiology in the field of forensic odontology in Makassar: Tingkat pengetahuan dokter gigi umum mengenai peranan radiologi di bidang odontologi forensik di Makassar Muliaty Y; Andi Amirrah Kalsum
Makassar Dental Journal Vol. 14 No. 3 (2025): Volume 14 Issue 3 December 2025
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seorang dokter gigi umum dapat dimintai bantuan untuk menyelidiki suatu kejadian dan bencana melalui identifikasi gigi dalam odontologi forensik. Metode radiografi sering digunakan karena metode ini relatif mudah dan lebih ekonomis. Artikel ini mengeksplorasi gambaran pengetahuan dokter gigi umum di Makassar mengenai peranan radiologi pada odontologi forensik. Melalui penelitian observasi deskriptif dengan desain cross sectional, dikumpulkan data dari 50 responden dokter gigi umum yang praktik di Makassar. Kuesioner digunakan untuk mengukur pengetahuan dokter gigi umum, yang terdiri atas 20 pertanyaan tertutup; skor 1 diberikan untuk jawaban benar, skor 0 diberikan untuk jawaban yang salah. Penghitungan data dari jawaban responden dibagi menjadi tiga kategori pengetahuan; 50% responden memiliki pengetahuan baik, 46% responden memiliki pengetahuan cukup, dan 4% responden memiliki pengetahuan kurang. Disimpulkan bahwa 50% dokter gigi umum di Makassar memiliki pengetahuan baik mengenai peranan dokter gigi umum dalam bidang odontologi forensik.
Perbandingan Informasi Anatomi Pemeriksaan Articulatio Genu AP Weight Bearing dan AP Supine pada Kasus Osteoarthritis di Instalasi Radiologi Hasbi, Nurul Auliyaa; Rusli, Muh; Jamal, Nurul Jannah
Jurnal Imejing Diagnostik (JImeD) Vol. 12 No. 1 (2026): JANUARY 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jimed.v12i1.13091

Abstract

Background: The articulatio genu is a complex joint formed by the femur, tibia, and patella. Radiographic examination is important for evaluating anatomical changes in osteoarthritis. Different radiographic positions, such as anteroposterior (AP) weight-bearing and AP supine projections, may provide different anatomical information. Methods: This quantitative study was conducted at Dr. Tadjuddin Chalid General Hospital, Makassar. Data were collected through observation guidelines and questionnaires. The sample consisted of four patients, and data were analyzed using the Friedman test with SPSS. Results: The Friedman test showed that the mean rank of the AP weight-bearing projection was 3.60, which was higher than the mean rank of the AP supine projection (3.47) with p value = 0,000. Conclusions: The AP weight-bearing projection provides more optimal and clearer anatomical information than the AP supine projection in articulatio genu examinations for osteoarthritis cases.
Prosedur Pemeriksaan MSCT Pelvis Studi Kasus Tumor Pelvis di Instalasi Radiologi RSUD Muhammad Sani Karimun Wedayanti, Luh Deva; Juliasa, I Wayan; Suci, Puspa Pamella
Jurnal Imejing Diagnostik (JImeD) Vol. 12 No. 1 (2026): JANUARY 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jimed.v12i1.14199

Abstract

Background: Multislice Computed Tomography (MSCT) is widely used for pelvic imaging because of its high spatial resolution, rapid acquisition time, and multiplanar reconstruction capability. Pelvic tumors require detailed evaluation of their margins, extent, and anatomical relationships with surrounding structures. At Muhammad Sani Hospital Karimun, MSCT pelvis examinations for suspected pelvic tumors are performed using a two-stage protocol: an initial intravenous (IV) contrast-enhanced scan followed by a second scan utilizing intragenital iodine contrast and rectal air as negative contrast. This imaging approach differs from standard MSCT pelvis protocols and is applied to improve visualization of tumor boundaries in selected cases. Methods: This study is a descriptive observational study in the form of a case report involving a single patient who underwent a two-stage MSCT pelvis examination. Result: The first stage, using IV contrast enhancement, provided information regarding tumor location, density characteristics, and possible extension but was limited in clearly defining tumor margins. The second stage involved intragenital administration of iodine contrast through catheterization and rectal air insufflation, which improved visualization of the anatomical boundaries between the tumor, urinary bladder, and rectosigmoid colon. Imaging findings were assessed descriptively without inferential statistical comparison between techniques. A cystic-solid mass measuring 10.5 × 6.2 × 8.4 cm was identified in the right pelvic region, along with an isodense mass measuring 4.0 × 6.2 cm in the left pelvis. The combined imaging approach subjectively enhanced visualization of tumor margins and anatomical relationships compared to the initial IV contrast scan alone, thereby increasing diagnostic confidence in tumor characterization. Conclusions: The two-stage MSCT pelvis protocol using IV contrast followed by intragenital iodine contrast and rectal air may provide improved visual delineation of pelvic tumor margins in this observed case. This technique represents a practical clinical variation of the anal marker method. However, the observed improvement is descriptive in nature and not based on comparative inferential analysis. Further studies with larger sample sizes and standardized comparison are required before drawing definitive conclusions or recommending routine implementation of this protocol.
Pengaruh Kegiatan Akademik dan Tugas Pelayanan RUmah Sakit Terhadap Tingkat Stres Serta Dampaknya Pada Kinerja Dokter Residen Radiologi di Rumah Sakit X Wienanda, Andreas Klemens; Yuliaty, Farida
Jurnal Inspirasi Ilmu Manajemen Vol 4 No 2 (2026): Jurnal Inspirasi Ilmu Manajemen
Publisher : Program Studi Magister Manajemen, Direktorat Pascasarjana, Universitas Sangga Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32897/jiim.2026.4.2.5311

Abstract

Residen radiologi di rumah sakit pendidikan memiliki tanggung jawab ganda dalam kegiatan akademik dan pelayanan rumah sakit yang berpotensi meningkatkan tingkat stres serta memengaruhi kinerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kegiatan akademik dan tugas pelayanan rumah sakit terhadap tingkat stres serta implikasinya terhadap kinerja residen radiologi di Rumah Sakit X. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 60 residen radiologi. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, regresi linier berganda, analisis jalur, dan uji Sobel untuk menguji peran mediasi tingkat stres. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan akademik dan tugas pelayanan rumah sakit berpengaruh signifikan terhadap tingkat stres. Tingkat stres berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja residen. Selain itu, tingkat stres terbukti memediasi secara parsial hubungan antara beban akademik dan pelayanan dengan kinerja. Manajemen stres yang efektif diperlukan untuk menjaga kinerja residen tetap optimal.  
Analisis Efisiensi Waktu dan Anggaran Layanan Radiologi Melalui Pemanfaatan PACS di RSUD Dr. Dradjat Prawiranegara Kabupaten Serang Banten Suprapto, Denny; Trigono, Ahdun; Santosa, Yaya Aria
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 10, No 1 (2026): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v10i1.7959

Abstract

Abstrak Perkembangan teknologi informasi kesehatan di era digital telah membawa perubahan signifikan pada pelayanan radiologi, di mana RSUD dr. Dradjat Prawiranegara masih mengandalkan sistem film konvensional yang menimbulkan inefisiensi waktu dan biaya. Laporan Triwulan I Tahun 2025 menunjukkan bahwa persentase waktu tunggu hasil radiologi ≤3 jam hanya mencapai 90,13%, sementara penggunaan film, tinta, dan listrik menghasilkan pemborosan anggaran yang cukup tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode mix method, menggabungkan analisis numerik dari data operasional tahun 2024 dan wawancara kualitatif untuk menilai kondisi aktual pelayanan radiologi. Total sampling digunakan untuk 12 data bulanan, meliputi jumlah pemeriksaan, rata-rata TAT, serta anggaran bahan habis pakai. Simulasi penerapan sistem Picture Archiving and Communication System (PACS) dilakukan untuk melihat potensi efisiensi waktu dan biaya, termasuk analisis sensitivitas untuk menguji perubahan hasil terhadap variasi asumsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi menurunkan rata-rata TAT dari 3,2 jam menjadi 2,0 jam dan mengurangi biaya operasional hingga 40–60% melalui pengurangan penggunaan film hingga 80%. Selain itu, wawancara staf radiologi mengindikasikan beban kerja yang lebih efisien, alur kerja yang lebih cepat, serta akses hasil pemeriksaan yang lebih praktis, sehingga PACS berpotensi meningkatkan mutu layanan dan efisiensi manajemen anggaran secara simultan. Kata Kunci: Anggaran, Efisiensi, PACS, Radiologi, Waktu
ANALISIS WAKTU TUNGGU PELAYANAN FOTO THORAX DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT : LITERATURE REVIEW Nahadin, Putri Aulia
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i1.55098

Abstract

Layanan foto thorax termasuk dalam pelayanan penunjang medis yang esensial dalam proses diagnosis penyakit. Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan terkait waktu tunggu pelayanan foto thorax, yaitu maksimal tiga jam sejak pendaftaran hingga hasil diterima pasien. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pelayanan di beberapa rumah sakit Indonesia belum sepenuhnya sesuai standar. Penulisan artikel ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian waktu tunggu pelayanan foto thorax dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) serta mengidentifikasi faktor penyebab keterlambatan pelayanan. Penyusunan artikel ini dilakukan melalui pendekatan studi literatur. Pencarian artikel dilakukan melalui Google Scholar dan Portal Garuda dengan kombinasi kata kunci yaitu “Waktu Tunggu” OR “Waiting Time” AND “Foto Thorax” OR “Chest X-Ray” AND “Radiologi” OR “Radiology” AND “Rumah Sakit” OR “Hospital”. Artikel yang dipilih memenuhi kriteria inklusi, yaitu diterbitkan dalam 10 tahun terakhir (2015–2025), berbentuk artikel penelitian asli, tersedia dalam bentuk teks lengkap dan bersifat akses terbuka, serta artikel mempunyai ruang lingkup waktu tunggu pelayanan di instalasi radiologi rumah sakit. Dari enam artikel yang memenuhi kriteria, ditemukan bahwa sebagian rumah sakit belum memenuhi standar waktu tunggu ≤3 jam. Keterlambatan disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk keterbatasan tenaga medis, ketidakefisienan alur pelayanan, kurangnya sosialisasi kebijakan, kondisi pasien lanjut usia, keterlambatan pembacaan hasil, dan belum terintegrasinya sistem informasi rumah sakit. Waktu tunggu pelayanan foto thorax pada pasien rawat jalan masih menjadi tantangan di banyak rumah sakit. Upaya perbaikan diperlukan melalui peningkatan jumlah dan kompetensi SDM, optimalisasi manajemen pelayanan, penguatan kebijakan internal, pembaruan infrastruktur, serta integrasi sistem digital untuk meningkatkan mutu dan efisiensi pelayanan radiologi.
Pengukuran Dosis Eksternal Yang Diterima Oleh Mahasiswa Praktikum Teknik Radiografi di Laboratorium Radiologi Universitas Baiturrahmah Padang Dila Nelvo Dasril; Oktavia Puspita Sari
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol. 8 No. 1 (2020): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Department of Physics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v8i1.234

Abstract

The utilization of ionizing radiation in the form of X-rays in addition to providing benefits to the medical world also has the potential to have a detrimental effect on workers, patients and, society. Radiation protection is a very important aspect of controlling this adverse effect. Every utilization of ionizing radiation must have endeavored so that the reception of radiation doses by radiation workers is always as low as possible so that the prescribed dose limit (NBD) value is not exceeded. NBD for apprentices and students who are as low as 18 years old, who are carrying out training or practical work, or who because of their educational needs are forced to use a source of ionizing radiation, the same as the NBD that applies to radiation workers. Dose limit values for radiation workers must not exceed 20 mSv (twenty millisieverts) per year on average for five consecutive years. Determination of the external radiation dose received by practicum students at the Baiturrahmah University Radiology Laboratory aims to calculate how much the external radiation dose received by students during carrying out one course. Based on the results of the study found that the measurement of external radiation dose received by the student is 0 or there is no scattering radiation received by students, this is because at the time of exposure they are in the correct position that is behind the control panel wall that has been coated with Lead (Pb).
MODIFIKASI RANCANG BANGUN ALAT UJI COLIMATOR & BEAM ALIGNMENT TEST TOOL DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD Dr. Hi. ABDUL MOELOEK PROVINSI LAMPUNG Irma Rahmania; Tri Suranti
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol. 12 No. 1 (2024): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Department of Physics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v12i1.347

Abstract

INTISARI Latar Belakang : Salah satu problem yang biasa ditemui pada pesawat sinar-X adalah ketidaktepatan luas lapang kolimator terhadap luas lapang berkas sinar-X. Pada pengukuran kesesuaian luas lapang berkas radiasi terhadap berkas cahaya, apabila hasil yang didapatkan adalah berhimpit atau tidak, maka dapat ditentukan ada atau tidaknya pergeseran antara luas lapang berkas radiasi terhadap berkas cahaya. Tujuan Umum: Untuk menghasilkan modifikasi rancang bangun alat Uji Colimator & Beam Alignment Test Tool di instalasi radiologi RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek di provinsi Lampung. Metodologi Penelitian: Desain penelitian ini menggunakan Desain Deskriptif Kuantitatif pendekatan eksperimen terhadap modifikasi Uji Colimator & Beam Aligment Test Tool. Deskriptif adalah metode yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data atau sampel yang telah terkumpul sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum Hasil dan Kesimpulan : hasil pengukuran pada kamar 6 menunjukan bahwa Skala luas lapangan kolimator Standar NCRP (? 2 %) yaitu 0.5 cm dan Kesearahan berkas sinar-X Standar NCRP (?30) yaitu 0.60. Kata Kunci : Modifikasi Uji Colimator dan Beam Alignment Test Tool

Page 83 of 84 | Total Record : 839