cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : 35803786     EISSN : 25803786     DOI : -
Core Subject : Education,
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Hasanuddin. Jurnal ini berisi hasil-hasil penghiliran penelitian pada bidang agrokompleks, medikal, teknosains, dan sosbudkum dan diterbitkan dua kali dalam setahun yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 451 Documents
PENGOLAHAN KAYU SEPANG (Caesalpinia sappan.L) DI DESA BIRU KECAMATAN KAHU KABUPATEN BONE SULAWESI SELATAN Andi Muhamad Iqbal Akbar Asfar; Widiastini Arifuddin; Abdur Rahman
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2019
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.397 KB) | DOI: 10.20956/pa.v3i2.5379

Abstract

Processing of Sepang Wood (Caesalpinia sappan. L) in Desa Biru of Kahu Subdistrict Bone South SulawesiAbstract: Sepang wood has only been used as additional wood for coloring drinks, especially in the Buginese community. For generations, the Buginese people were consumed drinking water containing Sepang wood without knowing the health benefits and how to process it, so that it can become a high economic value product. The community partnership program focuses on improving community skills, namely Kelompok Tani Desa Biru and Kelompok Ibu PKK Desa Biru. The activities carried out were in the form of counseling in the form of awareness of the benefits of Sepang wood, training and demonstration (by doing) for processing Sepang wood for partner groups, and assistance. The results obtained from this partnership program are that the community is able to process Sepang wood into Bottled Drinking Water, namely Sepang Mineral Water and differentiation products, namely Teh Kayu Sepang Desa Biru (Sepang wood tea). The impact of this activity is an increase in processing of Sepang wood which was initially of less value into a product that is of economic value, namely Sepang Mineral Water (AMDK) and Sepang Wood Tea. In addition, public awareness will cultivate Sepang wood because people are beginning to realize the benefits of consuming Sepang wood. The touch of technology with the help of water purification devices with a reverse osmosis system resolves the problems of the Biru village community for the need for clean drinking water (drinkable) because drinking water in Biru Village contains high levels of hardness. Therefore, socially, skill and technology are very helpful and change the pattern of productivity of the community through the use of Sepang wood processing as the product of the superior product of Desa Biru and the products produced are close to the SNI 01.3553-2015 standard and SNI 01-3886-2000 for dry tea.Keywords: Sepang wood, Sepang mineral water, Sepang wood tea  Abstrak: Kayu sepang selama ini hanya digunakan sebagai kayu tambahan untuk pewarna minuman khususnya pada masyarakat Bugis. Secara turun temurun masyarakat Bugis mengonsumsi air minum yang mengandung sepang tanpa mengetahui manfaat kesehatan dan cara pengolahan agar dapat menjadi produk bernilai ekonomis tinggi. Program kemitraan kepada masyarakat berfokus untuk meningkatkan keterampilan masyarakat yaitu mitra Kelompok Tani Desa Biru dan Ibu PKK Desa Biru. Kegiatan yang dilaksanakan berupa penyuluhan dalam bentuk penyadaran akan manfaat kayu sepang, pelatihan dan demonstrasi (by doing) akan pengolahan kayu sepang bagi kelompok mitra, serta pendampingan. Hasil yang diperoleh dari program kemitraan ini adalah masyarakat mampu mengolah kayu sepang menjadi Air Minum Dalam Kemasan yaitu Air Mineral Sepang serta produk diferensiasi yaitu Teh Kayu sepang Desa Biru. Dampak dari kegiatan ini adalah peningkatan pengolahan kayu sepang yang semula kurang bernilai menjadi produk yang sangat bernilai ekonomis yaitu menjadi Air Mineral Sepang (AMDK) dan Teh Kayu Sepang. Selain itu, penyadaran masyarakat akan membudidayakan kayu sepang disebabkan masyarakat mulai menyadari manfaat lebih dari konsumsi kayu sepang. Sentuhan teknologi dengan bantuan alat pemurnian air dengan sistem reverse osmosis menuntaskan masalah masyarakat Desa Biru akan kebutuhan air minum bersih (layak minum) sebab air minum di Desa Biru mengandung zat kapur yang tinggi. Oleh karena itu, secara sosial, keterampilan, dan teknologi sangat membantu serta mengubah pola produktivitas masyarakat melalui pemanfaatan pengolahan kayu sepang menjadi produk cikal bakal produk unggulan Desa Biru serta produk yang dihasilkan mendekati standar SNI 01.3553-2015 dan SNI 01-3886-2000 untuk teh kering.Kata Kunci: Kayu sepang, air mineral sepang, teh kayu sepang
APLIKASI TEKNOLOGI PANGAN DALAM PENGOLAHAN POTENSI LOKAL UMBI-UMBIAN DI DESA TAMANREJO KECAMATAN LIMBANGAN Mudzanatun Mudzanatun; Khusnul Fajriyah; Iffah Muflihati
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2019): Jurnal Panrita Abdi - April 2019
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1501.985 KB) | DOI: 10.20956/pa.v3i1.5004

Abstract

Abstract. Processing of tubers as an abundant food ingredient in Tamanrejo Village which has not maximally processed brings problems that has resulted in a lack of partner income. Some of the factors that contributed to this problem included limited marketing areas, lack of product quality, and lack of entrepreneurial skills. The solution is given to answer partner problems in the form of application of food technology in the processing of tubers, business management, and marketing economics. The program of service activities is carried out in four stages, namely a) Identifying the problem; b) Program socialization; c) Extension and Training Program; and d) Monitoring and Evaluation. Activities carried out with farmer groups of women kelompok wanita tani/(KWT) " Lestari dan Family" namely: a) Dissemination of activity programs; b) Training and assistance in the processing of tubers into flour, various flavors of chips, donuts, purple dumplings, tela sticks; c) Online marketing training and mentoring; d) Building a marketing network by cooperating with stores, souvenir centers; e) Training of financial accounting; and f) monitoring and evaluating each stage of activity. The results obtained after this activity were the achievement of improved product quality and increased partner income.Keywords: Technology, processing, tubersAbstrak. Pengolahan umbi-umbian sebagai bahan pangan berlimpah di Desa Tamanrejo yang belum maksimal membawa permasalahan yang berdampak pada kurangnya pendapatan mitra. Beberapa faktor yang ikut berkontribusi dalam masalah ini antara lain keterbatasan area pemasaran, kurangnya kualitas produk, dan kurangnya keterampilan berwira usaha. Solusi yang diberikan untuk menjawab permasalahan mitra berupa penerapan teknologi pangan pada proses pengolahan umbi-umbian, manajemen usaha, dan ekonomi pemasaran. Program kegiatan pengabdian dilaksanakan dalam empat tahapan, yakni a) Indentifikasi masalah; b) Sosialisasi program; c) Program Penyuluhan dan Pelatihan; dan d) Monitoring dan Evaluasi. Kegiatan yang dilaksanakan dengan kelompok wanita tani (KWT) “Lestari dan Familiy” yakni: a) Sosialisasi program kegiatan; b) Pelatihan dan pendampingan proses pengolahan umbi-umbian menjadi tepung, ceriping aneka rasa, donat, onde-onde ungu, stik tela; c) Pelatihan dan pendampingan pemasaran online; d) Membangun jaringan pemasaran dengan cara bekerja sama dengan toko, pusat oleh-oleh; e) Melatih melakukan pembukuan keuangan; dan f) monitoring dan evaluasi setiap tahapan kegiatan. Hasil yang diperoleh setelah kegiatan ini adalah tercapainya peningkatan kualitas produk dan peningkatan pendapatan mitra.Kata Kunci: Teknologi, pengolahan, umbi-umbian.
PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA PRODUK INTELEKTUAL KAMPUS (PPMU-PPUPIK): PRODUK TUNA NUT COOKIES Sri Suro Adhawati; Sitti Fakhriyah; Suwarni Suwarni
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2019): Jurnal Panrita Abdi - April 2019
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.305 KB) | DOI: 10.20956/pa.v3i1.5265

Abstract

Abstract . PPUPIK is a multi-year community service program. The application form of the program is in the form of cookies business made from the best quality fresh tuna and peanuts. Product marketing uses the trademark O’SEA. Tuna nut cookies are cookies innovated from product development techniques, using simple technology, processed based on the standardization of processing hygiene and food safety quality standards. The purpose of activities is to earn income, place of learning, improve skills, create jobs, and create business opportunities for students and the community. The tuna nut cookis business is carried out within the campus. For quality control and product development activities, use the Fisheries Socio-Economic Entrepreneurship Laboratory of the Faculty of Marine and Fisheries (FIKP) Unhas. For production and marketing activities carried out in the Agribusiness and Entrepreneurship unit of FIKP Unhas. Production is carried out 3 times a week, 12 times a month and 144 times per year. The amount of main raw material is 1 kg of tuna for one production. The results of the implementation of activities show that the processed tuna nut cookies business has very good prospects. The success rate of sales is 99%, the business acceptance rate is 49.5%. Investment  value  of 13% per month. The RC-Ratio value is 1.7 greater than 1. The tuna nut cookies business is feasible to be developed.Keywords: Tuna cookies, production, marketing, revenueAbstrak. PPUPIK merupakan program pengabdian masyarakat multi tahun. Bentuk aplikasi program adalah berupa kegiatan usaha cookies yang dibuat dari ikan tuna segar kualitas terbaik dan kacang tanah. Pemasaran produk menggunakan merk dagang O’SEA. Tuna nut cookies merupakan cookies inovasi dari teknik pengembangan produk, menggunakan teknologi sederhana, diolah berdasarkan standarisasi pengolahan higienitas dan standar mutu keamanan pangan. Tujuan kegiatan untuk memperoleh pendapatan, wadah pembelajaran, meningkatkan keterampilan, menciptakan lapangan kerja, dan meciptakan peluang bisnis bagi mahasiswa dan masyarakat. Usaha tuna nut cookis  dilakukan didalam kampus. Untuk kegiatan quality control dan pengembangan produk, menggunakan Laboratorium Kewirausahaan Sosial Ekonomi Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas. Untuk kegiatan produksi dan pemasaran dilakukan di unit Agribisnis dan Kewirausahaan FIKP Unhas. Produksi dilakukan 3 kali perminggu, 12 kali perbulan dan 144 kali pertahun, dengan jumlah bahan baku utama sebanyak 1 kg ikan tuna untuk satu kali produksi. Hasil pelaksanaan kegiatan memperlihatkan usaha olahan tuna nut cookies, memiliki prospek yang sangat baik. Tingkat keberhasilan penjualan 99%, tingkat penerimaan usaha sebesar 49.5%. Nilai investasi 13% per bulan. Nilai RC-Ratio sebesar 1.7 lebih besar dari 1. Usaha tuna nut cookies layak untuk dikembangkan.Kata Kunci: Cookies ikan tuna,  produksi, pemasaran , pendapatan  
PENERAPAN TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN OBAT SEBAGAI UPAYA PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN DI KELURAHAN PABUWARAN, PURWOKERTO, JAWA TENGAH Dewi Sari Prita; Ida Widiyawati
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2019
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.237 KB) | DOI: 10.20956/pa.v3i2.6155

Abstract

Introduction of Medicinal Plant Cultivation as an Effort to Yard Utilization in Pabuwaran Village, Purwokerto, Central JavaAbstract: The residential area in Pabuwaran Village is as much as 50 percent of the total land. The yard in the residential area can be used for planting. In this community service activity, the researcher introduced the cultivation of the medicinal plant in the yard. The activities covered the preparation of the plant medium, planting, and maintenance. The objective of this community service is to convey information about the technology of medicinal plant cultivation through lectures, discussion, and demonstration of the direct practice of medicinal plant cultivation in the yard. Evaluation of the increase in participants’ knowledge was carried out by pre-test and post-test after counseling and cultivation practices. The community service team evaluated the participants' skills during a demonstration of direct practice of medicinal plant cultivation in the yard. The results of the activity showed an increase in basic knowledge of the types, benefits, and cultivation techniques of the medicinal plants after the transfer of technology. The service activities of the medicinal plant are classified as successful and beneficial because there is an increase in knowledge of around 60 percent. The skill evaluation showed that the participants were able to carry out the planting and maintenance of medicinal plants well in the yard. The medicinal plant cultivation can be used as education about an herbal plant or traditional medicinal plant for family members. It can also be consumed to maintain health condition and one of the concrete actions to green the earth.Keywords: Community service, medicinal plant, yard, Pabuwaran Village.Abstrak: Pemukiman yang ada di Kelurahan Pabuwaran mencapai 50 persen dari total lahan. Pekarangan yang ada di lahan pemukiman tersebut dapat digunakan untuk bercocok tanam. Alih teknologi yang diperkenalkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini adalah budidaya tanaman obat di lahan pekarangan mulai dari penanaman sampai pemeliharaan tanaman. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah menyampaikan informasi mengenai teknologi budidaya tanaman obat melalui ceramah, diskusi, dan demonstrasi praktik langsung budidaya tanaman obat di lahan pekarangan. Evaluasi peningkatan pengetahuan peserta dilakukan dengan pre- dan post-test setelah dilakukan penyuluhan dan praktik budidaya. Evaluasi ketrampilan peserta dilakukan pada saat demonstrasi praktik langsung budidaya tanaman obat di lahan pekarangan dilakukan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dasar mengenai jenis-jenis, manfaat, dan teknik budidaya tanaman obat keluarga (TOGA) dari sebelum dilakukannya alih teknologi. Kegiatan pengabdian tanaman obat tergolong berhasil dan bermanfaat, karena terjadi peningkatan pengetahuan sekitar 60 persen. Evaluasi ketrampilan menunjukkan bahwa sebagian besar ibu-ibu PKK mampu melakukan kegiatan penanaman dan pemeliharaan tanaman obat di lahan pekarangan dengan tepat. Hasil dari budidaya tanaman obat tersebut dapat digunakan sebagai edukasi tanaman herbal atau tanaman obat tradisional kepada anggota keluarga, dikonsumsi sebagai tindakan menjaga kesehatan tubuh dan salah satu tindakan nyata penghijauan tanaman.Kata kunci: Pengabdian kepada Masyarakat, tanaman obat, lahan pekarangan, Kelurahan Pabuwaran.
KKN-PPM LANRISANG MELALUI OPTIMALISASI USAHA MINA-TANI GUNA MENUNJANG PENGEMBANGAN KPPN KABUPATEN PINRANG, PROVINSI SULAWESI SELATAN Heriansah Heriansah; Nursyahran Nursyahran; Fathuddin Fathuddin
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2019
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.764 KB) | DOI: 10.20956/pa.v3i2.5182

Abstract

KKN-PPM through Optimization of Mina-Tani Business to Support the Development of KPPN in Lanrisang District, South Sulawesi ProvinceAbstract. The KKN-PPM service program is a learning process for students as well as a vehicle for community empowerment. The purpose and benefits of this program are to increase the knowledge and skills of community's to optimally utilizing the potential of resources, increase the technical competence of students in community empowerment, and increase the acceleration of the regional development process, particularly the development of the Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN). KKN-PPM is carried out in Lanrisan Village, Lerang Village, Waetuoe Village, Lanrisang District, Pinrang Regency. Technologies applied through the KKN-PPM work program include nitrobacter-based milkfish culture technology, minapadi cultivation, aquaponics cultivation, waste utilization for creative products and fish feed, diversification of processed fish, early education about fisheries and marine for school students and socialization likes to eat fish (GEMARI), as well as the development of beach tourism. Program implementation partners are the sub-district and village governments and fisheries extension agents with target audiences of farmer groups, housewife groups and school students. The model of the program implementation approach is Participatory Rural Appraisal, Participatory Technology Development, and Community Development with non-technical counseling methods, technical counseling, as well as demonstration and field practice on the pilot land. The results achieved in this activity were increased knowledge and skills of the target audience in implementing several aquaculture systems and diversification of fish preparations and the use of waste into creative products and fish feed, there were several examples of aquaculture, GEMARI program socialization, early reduction of fisheries and marine to school students, and the availability of beach tourism support facilities.Keywords: Optimization, mina-tani National Priority Rural Areas, demonstration landAbstrak. Program pengabdian KKN-PPM merupakan proses pembelajaran bagi mahasiswa sekaligus wahana pemberdayaan masyarakat. Tujuan dan manfaat program ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan potensi sumberdaya secara optimal, meningkatkan kompetensi teknis mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat, dan meningkatkan percepatan proses pembangunan daerah, khususnya pengembangan Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN). KKN-PPM dilaksanakan di Kelurahan Lanrisan, Desa Lerang, Desa Waetuoe Kecamatan Lanrisang Kabupaten Pinrang. Teknologi yang diterapkan melalui program kerja KKN-PPM antara lain teknologi budidaya ikan bandeng berbasis nitrobakter, budidaya minapadi, budidaya akuaponik, pemanfaatan sampah/limbah untuk produk kreatif dan pakan ikan, diversifikasi olahan ikan, edukasi dini tentang perikanan dan kelautan bagi siswa sekolah dan sosialisasi gemar makan ikan (GEMARI), serta pengembangan wisata pantai. Mitra pelaksanaan program adalah pemerintah kecamatan dan desa serta penyuluh perikanan dengan khalayak sasaran kelompok tani, kelompok ibu rumah tangga, dan siswa sekolah. Model pendekatan pelaksanaan program adalah Participatory Rural Appraisal, Participatory Tecnology Development, dan Community Development dengan metode penyuluhan non teknis, penyuluhan teknis, serta demonstrasi dan praktek lapang di lahan percontohan. Hasil yang dicapai pada kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan khalayak sasaran dalam menerapkan beberapa sistem budidaya dan diversifikasi olahan ikan serta pemanfaatan sampah/limbah menjadi produk kreatif dan pakan ikan, terdapatnya beberapa percontohan budidaya, tersosialisasinya program GEMARI, teredukasinya secara dini tentang perikanan dan kelautan kepada siswa sekolah, dan terdapatnya fasilitas pendukung wisata pantai.Kata Kunci: Optimalisasi, mina-tani, Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional, lahan percontohan
SOSIALISASI DAN PENDAMPINGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH MENJADI KOMPOS SKALA SEKOLAH DI SD INPRES KANTISANG, TAMALANREA Asiyanthi Tabran Lando; Abdul Nasser Arifin; Selintung Selintung; Kartika Sari; Ibrahim Djamaluddin; Muh. Akbar Caronge
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2019
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1085.463 KB) | DOI: 10.20956/pa.v3i2.5477

Abstract

Socialisation and Accompaniment of The Waste Management System in Making School Scale Compost in SD Inpres Kantisang, Tamalanrea Abstract. At present, waste has become a severe problem that must be handled by the government and the community. Waste can damage the environment resulting in environmental pollution. Therefore, the proposal for the Community Service program is the socialisation and assistance of the waste management system in terms of making school scale compost, which is intended to convert organic waste into compost that is beneficial to plants and of economic value by using the Takakura composter. SD Inpres Kantisang, located in BTN Antara, Tamalanrea-Makassar became a partner or target audience in the proposed program. The problems faced by partners are: (1) not yet separated organic and inorganic waste in the school environment, (2) the presence of organic waste generated from the school environment and residents around the school that are not treated and utilized, (3) lack of knowledge of students in addressing the problem of organic waste, and (4) students do not yet know how to properly use and process organic waste, one of which is to process it into compost. The solution offered through this proposal is to conduct socialisation and assistance in the form of short training to teachers and students in making compost using the Takakura composter method from the waste generation in the school and surrounding areas. The method used in achieving these objectives is divided into five stages: the preliminary preparation, the program preparation, the implementation, the evaluation, and the sustainability of the program. The results of this activity are: (1) teachers and students of SD Inpres Kantisang have been able to separate organic and non-organic waste well, (2) an increase in the application of science and technology within the school environment, and (3) an improvement in governance value in the target audience.Keywords: waste, environment, compost, school, Takakura composterAbstrak. Saat ini sampah telah menjadi masalah serius yang harus ditangani oleh pemerintah dan masyarakat. Sampah dapat merusak lingkungan yang berakibat terjadinya pencemaran lingkungan. Oleh sebab itu, usulan program Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah sosialisasi dan pendampingan system pengelolaaan sampah dalam hal pembuatan kompos skala sekolah, yang dimaksudkan untuk mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi tanaman dan bernilai ekonomi dengan menggunakan komposter Takakura. SD Inpres Kantisang yang berlokasi di BTN Antara, Tamalanrea-Makassar menjadi mitra atau khalayak sasaran dalam program ini. Masalah yang dihadapi mitra, adalah: (1) belum terpisahnya sampah organik dan anorganik di lingkungan sekolah, (2) adanya timbulansampah organik yang dihasilkan dari lingkungan sekolah dan warga sekitar sekolah yang tidak terolah dan termanfaatkan, (3) kurangnya pengetahuan para siswa dalam menyikapi masalah sampah organik, dan (4) para siswa belum mengetahui cara pemanfaatan dan pengolahan sampah organik dengan benar, yang salah satunya adalah dengan mengolahnya menjadi kompos. Solusi yang ditawarkan melalui usulan ini adalah dengan mengadakan sosialisasi dan pendampingan berupa pelatihan singkat kepada para guru dan siswa dalam membuat kompos dengan metode komposter Takakura dari timbulan sampah di lingkungan sekolah dan sekitarnya. Metode yang digunakan dalam pencapaian tujuan tersebut, terbagi atas: tahap persiapan, tahap penyusunan program, tahap pelaksanaan kegiatan, tahap evaluasi pelaksanaan program, dan keberlanjutan program ini. Hasil dari kegiatan ini, adalah: (1) para guru dan siswa-siswi SD Inpres Kantisang sudah dapat memisahkan sampah organik dan non-organik dengan baik, (2) terjadi peningkatan penerapan Iptek di dalam lingkungan sekolah, dan (3) adanya perbaikan tata nilai di khalayak sasaran.Kata Kunci: sampah, lingkungan, pupuk kompos, sekolah, komposter Takakura
PENGEMBANGAN USAHA KERUPUK AMPLANG BANDENG UNTUK MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT DESA POLEJIWA KECAMATAN MALANGKE BARAT KABUPATEN LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN Harmita Sari; Anita Hafid
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2019
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.313 KB) | DOI: 10.20956/pa.v3i2.5624

Abstract

Business Development of Milkfish Amplang Crackers to Empower the Community of Polejiwa Village, North Luwu, South SulawesiAbstract. Amplang cracker is one of fish-based snack which is commonly produced by the community. Amplang crackers, which are generally made from mackerel fish, have a high selling price caused by the price of mackerel fish which are quite expensive in the market compared to the prices of other types of fish. This is why the writer proposed an alternative way to make amplang crackers from milkfish which has an affordable price as the product material. With the processing of milkfish as the raw material, it can reduce production cost which will certainly affect the selling price and also as the new alternative to consuming milkfish not only as of the side dish. The objective and target of this community service program were as an effort to help the community to maximize the production of processed food made from milkfish which can be used as an alternative business in increasing community income. Milkfish amplang crackers have relatively inexpensive price compare with mackerel amplang crackers without reducing the taste quality of the amplang crackers itself. Hence, it is hoped to boost up productivity and community income.The implementation of this community service program was training and demonstration of amplang crackers production. The outcome of this program for the community especially the family welfare program was able to make, to pack with attractive and hygienic design, and to implement good business management.Keywords: community service, processed food, amplang crackersAbstrak.Kerupuk amplang merupakan salah satu penganan yang berbahan dasar ikan yang pembuatannya cukup banyak digeluti masyarakat. Kerupuk amplang yang umumnya berbahan baku ikan tenggiri memiliki harga jual yang cukup tinggi yang disebabkan oleh faktor harga ikan tenggiri yang tergolong mahal dipasaran dibanding dengan harga ikan jenis lain. Faktor tersebut menjadi alasan penulis untuk mengajukan salah satu alternatif pembuatan kerupuk amplang dengan harga yang cukup terjangkau yaitu dengan menggunakan ikan bandeng sebagai bahan baku untuk pembuatan kerupuk amplang . Dengan adanya pengolahan ikan bandeng sebagai bahan baku kerupuk amplang, dapat meminimalisir biaya bahan baku yang tentunya akan mempengaruhi harga jual kerupuk amplang nantinya serta dapat menciptakan cara baru dalam mengkonsumsi ikan bandeng yang umumnya hanya dikonsumsi sebagai lauk dari makanan pokok. Tujuan dan target hasil kegiatan program pengabdian masyarakat ini adalah sebagai upaya dalam membantu masyarakat untuk memaksimalkan produksi makanan olahan berbahan dasar ikan bandeng yang dapat dijadikan sebagai alternatif usaha dalam meningkatkan  pendapatan  masyarakat.  Kerupuk  amplang  berbahan  baku ikan bandengmemiliki harga yang relatif murah dibandingkan kerupuk amplang ikan tenggiri tanpa mengurangi rasa dan kualitas kerupuk amplang itu sendiri. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat. Adapun pelaksanaan kegiatan yang dilakukan yaitu pelatihan dan demonstrasi pembuatan kerupuk amplang. Hasil kegiatan dalam pengabdian masyarakat yaitu masyarakat terutama ibu PKK mampu membuat olahan makanan kerupuk amplang, mampu mengemas produk dengan desain menarik dan higienis, dan menerapkan manajemen usaha yang baik.Kata Kunci: Pengabdian masyarakat, Makanan olahan, Kerupuk amplang.
PELATIHAN PENGUKURAN EMISI GAS KARBON MONOKSIDA (CO) DAN NITROGEN OKSIDA (NOX) PADA KENDARAAN BERMOTOR DI SMA NEGERI 2 BONE Abdul Wahid Wahab; Nursiah La Nafie; Musa Ramang; Indah Raya; Yusafir Hala
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2019
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.8 KB) | DOI: 10.20956/pa.v3i2.6602

Abstract

Training Of Carbon Monoxide (CO) Gas and Nitrogen Oxide (NOx) Measurement Emissions In Motor Vehicles at State High School 2 BoneAbstract. Every year the population in Bone Regency was increased. The increasing population every year has meant the transportation need will be increase because to support mobility and community activities in Bone Regency, Its means that transportation is absolutely necessary. Based on BPS data from Bone Regency, in 2016 the population was 746.973 people. The increasing number of motorized vehicles from year to year will cause air pollution. Environmental conditions in Bone Regency are declining due to high human activities, namely household activities that have reached 14%, industry 18%, commercial 3%, others 9% and means of transportation 56%. To produce good environmental conditions, especially at the location of Senior High School 2 Bone-in Bone Regency, we held community service by introducing and applying and utilizing PEM-9004 instrument to measure carbon monoxide (CO) and nitrogen oxide (NOx) gas emissions in motorized vehicles in particular vehicles belonging to teachers and students at Senior High School 2 Bone. The measurement results showed CO gas emissions on matic motors which were 0.087%, NO gas emissions by 32 ppm and NOx at 33 ppm. While the percentage of CO and NOx gas emissions in duck motors is 0. During the measurement, there was also a decrease in gas emission temperature from 38.6oC to 36.9oC with a testing time of 60 seconds each. Based on the results of the activity data, it is obtained that the percentage of CO and NOx gas emissions of the motorbike is greater than the duck motor of teachers and students at Senior High School 2 Bone.Keywords: PEM-9004, carbon monoxide (CO), nitrogen oxide (NOx), Senior High School 2 BoneAbstrak. Setiap tahun jumlah penduduk di Kabupaten Bone mengalami peningkatan. Semakin meningkatnya jumlah penduduk setiap tahunnya, maka sarana transportasi akan semakin meningkat karena untuk menunjang mobilitas dan aktivitas masyarakat di Kabupaten Bone maka sarana transportasi merupakan kebutuhan yang mutlak diperlukan. Berdasarkan data BPS Kabupaten Bone, tahun 2016 jumlah penduduk sebesar 746.973 jiwa. Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dari tahun ke tahun akan menimbulkan polusi udara. Kondisi lingkungan di daerah Kabupaten Bone semakin menurun karena tingginya aktivitas manusia yaitu kegiatan rumah tangga telah mencapai 14%, industry 18%, komersial 3%, lainnya 9% dan sarana transportasi 56%. Untuk menghasilkan kondisi lingkungan yang asri khususnya di lokasi SMA Negeri 2 Bone Kabupaten Bone maka diadakan pengabdian masyarakat dengan cara pengenalan dan pengaplikasian serta pemanfaatan Alat PEM-9004 untuk mengukur emisi gas karbon monoksida (CO) dan nitrogen oksida (NOx) pada kendaraan bermotor khususnya kendaraan milik guru dan siswa di SMA Negeri 2 Bone. Hasil pengukuran menunjukkan emisi gas CO pada motor matic yaitu 0,087%, emisi gas NO sebesar 32 ppm dan NOx sebesar 33 ppm. Sedangkan presentase emisi gas CO dan NOx pada motor bebek yaitu 0. Selama pengukuran juga terjadi penurunan suhu emisi gas dari 38,6 oC menjadi 36,9 oC dengan waktu pengujian masing-masing 60 detik. Berdasarkan data hasil kegiatan tersebut maka diperoleh bahwa presentase emisi gas CO dan NOx motor matic lebih besar di bandingkan dengan motor bebek milik guru dan siswa di SMA Negeri 2 Bone.Kata kunci: PEM-9004, karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), SMA Negeri 2 Bone
PENERAPAN LEMARI ASAP TERKONTROL UNTUK PRODUKSI TELUR ASIN ASAP DI INDUSTRI RUMAH TANGGA ELDONA, BANJARBARU Muhammad Saukani; Irfan Irfan; Achmad Jaelani
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2019
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.887 KB) | DOI: 10.20956/pa.v3i2.7197

Abstract

Application of Controlled Smoke Cabinet for the Production of Smoked Salt Egg in the Eldona Home Industry, BanjarbaruAbstract. The Telur Asin Eldona Home Industry have problems in the process of producing salted smoke eggs. Production rate only 800-1000 salted smoke eggs per week. The fumigation time takes up to three days.  The high defect products reach 20% due to overheating during the fumigation process. The community partnership program aims to increase the volume of production of salted smoke eggs and reduce product failures in the fumigation process. To achieve this goal, Designing a larger smoke cabinet applying a pyrolysis system and temperature control to avoid overheating.  The rack of salted egg placement is practically modified to be flipped and shifted. The results of the initial implementation at the "Eldona Telur Asin" showed a reduction in fumigation time and defective of cracking product. Fumigation time decrease from three days become 6 hours. Cracking product of fumigation results has declined, before the average 20% now found is only 1.3%.Keywords: Pyrolisis, smoked eggs, microcontroller, salted eggs.Abstrak. IRT Telur Asin Eldona mengalami permasalahan dalam proses produksi telur asin asap. Kapasitas produksi hanya mencapai 800-1000 butir perminggu, waktu pengasapan relatif lama yakni memerlukan waktu hingga 3 hari serta tingginya produk cacat yang mencapai 20% akibat overheating selama proses pengasapan. Program kemitraan masyarakat ini merupakan usaha yang bertujuan untuk meningkatkan volume produsi telur asin asap serta mengurangi gagal produk dalam proses pengasapan di IRT “Eldona” Telur Asin. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dirancang lemari asap dengan menerapkan sistem pirolisis yang dilengkapi dengan mikrokontroller untuk menjaga suhu ruangan lemari asap agar tidak terjadi overheating. Kapasitas lemari diperbesar, rak penempatan telur asin dimodifikasi secara praktis untuk dibolak-balik dan dipindah posisinya, suhu pengasapan yang terkontrol serta tereduksinya panas dari ruang pembakaran. Hasil implemetasi menunjukkan terjadinya reduksi waktu pengasapan yakni sebelumnya memerlukan waktu 3 hari, saat ini hanya diperlukan waktu pengasapan 6 jam. Produk cacat hasil pengasapan menurun, sebelumnya rata-rata ditemui 20% menjadi 1,3%.Kata Kunci: Pirolisis, telur asap, mikrokontroller, telur asin
PEMANFAATAN INDIGO SEBAGAI PEWARNA ALAMI RAMAH LINGKUNGAN BAGI PENGRAJIN BATIK ZIE Nana Kariada Martuti; Isti Hidayah; Margunani Margunani
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2019
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1617.405 KB) | DOI: 10.20956/pa.v3i2.6454

Abstract

Utilization of Indigo as Eco-Friendly Natural Dyes for Zie Batik CraftsmenAbstract. Batik is a cultural identity of Indonesian society which currently developing dynamically. The use of natural dyes by utilizing plants is being developed by several batik artisans. This service activity aims to facilitate partners to be able to utilize indigo as natural dyes of environmentally friendly batik and be able to compete in the international market. The activities are conducted with Batik Zie as partners in Kampung Malon, Gunungpati District, Semarang, by facilitating partners to negotiate and collaborate with suppliers of natural dye raw materials, conduct training and mentoring indigo pasta making. Besides that, it also promotes products through exhibitions and documentation of activities. While the use of Indigofera Tinctoria L extract, Crusia Strobilantes could produce light blue, turquoise blue and dark blue. The collaboration with UKM ISUGA makes the availability of indigo pasta as a natural dye became well maintained. While indigo has a role in staining light blue to dark blue natural dyes. Utilization of natural dyes is eco-friendly and does not harm/pollute the environment. Partner participation in 3 exhibitions, makes the batik products could compete in the international market.Keywords: Natural dye, batik, indigo, eco-friendlyAbstrak. Batik merupakan identitas budaya masyarakat Indonesia saat ini berkembang secara dinamis. Penggunaan pewarna alami dengan memanfaatkan tanaman sedang dikembangkan oleh beberapa pengrajin batik. Kegiatan ini bertujuan untuk  memfasilitasi mitra agar mampu memanfaatkan indigo sebagai pewarna alami batik ramah lingkungan dan mampu bersaing di pasar internasional. Kegiatan dilakukan dengan Mitra Batik Zie yang berada di Kampung Malon, Kecamatan Gunungpati, Semarang, dengan memfasilitasi mitra untuk negosiasi dan kerjasama dengan suplier penyedia bahan baku pewarna alami, melakukan pelatihan dan pendampingan pembuatan pasta indigo. Di samping itu juga mempromosikan produk melalui pameran serta melakukan dokumentasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penggunaan ekstraksi indigo (Indigofera tinctoria L, strobilantes crusia) dapat menghasilkan warna biru muda, biru kehijauan serta biru tua. Adanya kerjasama dengan UKM ISUGA, menjadikan ketersediaan pasta indigo sebagai pewarna alami selalu terjaga. Sedangkan indigo mempunyai peran dalam pewarnaan biru muda hingga biru tua. Penggunaan pewarna alami tersebut bersifat ramah lingkungan dan tidak mencemari lingkungan. Keikutsertaan mitra dalam 3  pameran, menjadikan produk batik mitra turut bersaing di pasar internasional.Kata kunci. Pewarna alami, batik, indigo, ramah lingkungan

Page 7 of 46 | Total Record : 451


Filter by Year

2017 2025