cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : 35803786     EISSN : 25803786     DOI : -
Core Subject : Education,
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Hasanuddin. Jurnal ini berisi hasil-hasil penghiliran penelitian pada bidang agrokompleks, medikal, teknosains, dan sosbudkum dan diterbitkan dua kali dalam setahun yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 477 Documents
PENDAMPINGAN FERMENTASI PAKAN ITIK DENGAN TRICHODERMA DI DESA RANTAU KARAU HILIR DALAM UPAYA REDUKSI CEMARAN AFLATOKSIN Rila Rahma Apriani; Ika Sumantri; Hikma Ellya; Nukhak Nufita Sari; Ronny Mulyawan; Nurlaila
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2024
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v8i3.23717

Abstract

The quality of duck feed is a main factor that determines the safety of food derived from duck products for humans, considering that the people in South Kalimantan widely consume duck products. Duck farming is the main commodity in the farming system of Bangun Bersama Farmer Group, Rantau Karau Hilir Village. The main problem faced by this farmer group is the lack of knowledge about the impact of aflatoxin contamination in duck feed on the duck performance and product safety. This community service is carried out to increase the knowledge and skills of farmer group members to produce duck ratio formulated from local feedstuffs and to prevent aflatoxin contamination through fermentation using Trichoderma.  The Focus Group Discussion (FGD), training, and mentoring were carried out properly according to the purpose of service and received high enthusiasm from partners. Awareness about the dangers of aflatoxins in duck and human health is well established, so the potential for sustainability of service results is high. In addition, farmer group members gain the ability to produce low-cost duck ration by using local feedstuff.  ---  Kualitas pakan itik merupakan faktor utama yang menentukan keamanan pangan manusia yang berasal dari produk itik, mengingat itik banyak dikonsumsi oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Beternak itik menjadi komoditas utama pertanian bagi Kelompok Tani Bangun Bersama, Desa Rantau Karau Hilir. Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah kurangnya pengetahuan tentang dampak cemaran aflatoksin dalam pakan itik pada performa itik dan keamanan produk. Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota kelompok tani untuk menghasilkan formulasi rasio pakan itik dari bahan pakan lokal dan untuk mencegah kontaminasi aflatoksin melalui fermentasi menggunakan Trichoderma. Metode pengabdian yang dilakukan  adalah Focus Group Discussion (FGD), pelatihan dan pendampingan. Kegiatan pengabdian dapat meningkatkan pengetahuan mitra sekitar 91%. Selain itu, mitra dapat terampil membuat pakan itik fermentasi menggunakan Trichoderma dengan memanfaatkan bahan lokal sebanyak satu kali.
Pemberdayaan Kader Melalui Alarm Warning Dalam Penggunaan Buku Kesehatan Ibu dan Anak di Desa Tenrigangkae Kecamatan Mandai Kabupaten Maros Martira Maddeppungeng; Ema Alasiry; Suryani Tawali; Yani Ringan Runde; Muhammad Nasrum Massi; Andi Alfia Muthmainnah Tanra; Andi Riza Safitri Hadiratul Kudsiah
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 10 No. 2 (2026): Jurnal Panrita Abdi - April 2026
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v10i2.46616

Abstract

The Maternal and Child Health (MCH) Book is an important guide that contains health information and services for mothers and children under five and serves as a tool for early detection of health problems, a means of communication, and education for families related to maternal and child health, including nutrition services, immunisation, and toddler development. Proper use can increase family knowledge, mobilise communities to live healthy lives, improve access to quality health services, and strengthen health monitoring systems. However, despite the high ownership of the MCH Book, its utilisation is still low. Support from health cadres is crucial, as they encourage the utilisation of the MCH Book, detect health problems early, and connect the community with health workers. Therefore, efforts are needed to empower cadres to optimise the use of the MCH Book and support children's growth and health effectively. The service team conducted advocacy with partners, namely Puskesmas Mandai and cadres of Tenrigangkae Village, Maros, followed by socialisation and training of cadres after making the MCH Book alarm manual. Training was given to 10 cadres, 5 from Posyandu Tinggito as the intervention group and 5 from Posyandu Bugis as the control group. Subsequently, the intervention was conducted for 3 months on 30 toddlers at Posyandu Tinggito. Data were analysed by comparing the data of cadres and toddlers from both groups. The results showed a significant difference (p<0.05) in attendance and weight gain in the intervention group compared to the control group, indicating that the alarm guide was effective in supporting the use of the MCH book. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah panduan penting yang berisi informasi dan layanan kesehatan untuk ibu dan balita dan berfungsi sebagai alat deteksi dini masalah kesehatan, sarana komunikasi, dan edukasi bagi keluarga terkait kesehatan ibu dan anak, termasuk layanan gizi, imunisasi, dan perkembangan balita. Penggunaan yang tepat dapat meningkatkan pengetahuan keluarga, menggerakkan masyarakat untuk hidup sehat, memperbaiki akses ke layanan kesehatan berkualitas, dan memperkuat sistem monitoring kesehatan.Namun, meskipun kepemilikan Buku KIA cukup tinggi, pemanfaatannya masih rendah. Dukungan dari kader kesehatan sangat penting, karena mereka mendorong pemanfaatan Buku KIA, mendeteksi masalah kesehatan lebih awal, dan menghubungkan masyarakat dengan tenaga kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemberdayaan kader untuk mengoptimalkan penggunaan Buku KIA dan mendukung pertumbuhan serta kesehatan anak secara efektif. Tim pengabdian melakukan advokasi dengan mitra, yaitu Puskesmas Mandai dan kader Desa Tenrigangkae, Maros yang dilanjutkan sosialisasi dan pelatihan kader setelah pembuatan buku panduan alarm buku KIA.. Pelatihan diberikan pada 10 orang kader, 5 dari Posyandu Tinggito sebagai kelompok intervensi dan 5 dari Posyandu Bugis sebagai kelompok kontrol. Selanjutnya adalah intervensi yang dilakukan selama 3 bulan pada 30 orang balita di Posyandu Tinggito. Pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan peran kader posyandu dalam pemantauan pertumbuhan dan imunisasi balita melalui penggunaan panduan alarm warning pada Buku KIA, yang terbukti memberikan dampak positif signifikan terhadap kenaikan berat badan balita.  
Pelatihan Pengelolaan Stres dan Burnout Pada Guru dan Tenaga Kependidikan di SD. Hj. Isriati Baiturahman 2 Semarang Padmi Dhyah Yulianti; Gregorius Roehastono Ajie; Yovitha Yuliejantiningsih; Wiwik Kusdaryani
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 10 No. 3 (2026): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2026
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v10i3.32634

Abstract

Quality people are an asset and the future of the nation. Creating superior quality human resources can be achieved through a high-quality learning process. Such learning involves teachers who possess adequate teaching competencies and maintain good mental health. To support their role, teachers exert significant effort in the learning process. The extent of their contribution to educating future generations makes them vulnerable to mental health issues. One such vulnerability is the experience of stress and work-related fatigue (burnout). If stress and burnout are not properly managed, they can lead to serious mental health problems and negatively affect work productivity. This community service initiative contributes through training programs that optimize stress management strategies, drawing from the perspectives of teachers, school principals, and school management. The stress and burnout management training involved 45 teachers and educational staff at SD Hj. Isriati Baiturrahman 2 Semarang. As a result of this program, teachers and educational staff reported increased knowledge about stress and burnout, and improved skills in handling typical workplace pressures. Based on evaluation outcomes, future service initiatives are recommended to include competency-based training for teachers and educational staff, as well as increased recognition and rewards for training participants.   Manusia berkualitas adalah aset sekaligus masa depan bangsa. Untuk menciptakan kualitas SDM unggul dapat diperoleh melalui pembelajaran yang berkualitas. Pembelajaran berkualitas akan dapat dicapai jika ada pelibatkan guru/tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi dan kondisi kesehatan mental memadai. Namun demikian, studi menunjukkan tingginya prevalensi stres dan burnout serta kerentanan yang dihadapi oleh guru SD. Kondisi rentan tekanan dan burnout jika tidak dikelola dengan baik dapat memicu permasalahan psikologis, memengaruhi kesehatan mental guru dan berdampak pada kualitas pembelajaran di sekolah. Guna menunjang pekerjaannya, guru/ tenaga kependidikan melakukan upaya optimal dalam proses pembelajaran. Besarnya upaya yang dilakukan untuk turut berkontribusi dalam mendidik generasi masa depan, membuatnya memiliki sisi rentan dalam masalah kesehatan mental. Kerentanan yang dialami dapat berupa mengalami tekanan (stress) dan kelelahan kerja (burnout).  Kondisi stres dan burnout yang tidak terkelola dengan baik membawa pada permasalahan kesehatan mental serta berdampak pada produktivitas kerjanya. Tim pengabdian berkontribusi melalui pelatihan dengan mengoptimalkan strange based dari sisi guru, kepala sekolah dan managemen sekolah. Pengabdian dilakukan pada 45 orang guru dan tenaga kependidikan di SD. Hj. Isriati Baiturrahman 2 Semarang. Hasil pengabdian menunjukkan guru dan tenaga kependidikan setelah mendapatkan pelatihan pengelolaan stres dan burnout memiliki peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola stress dan burnout. Berdasarkan hasil evaluasi, saran untuk pengabdian selanjutnya untuk memberikan pelatihan kompetensi pada guru dan tenaga kependidikan serta memperbanyak pemberian reward pada peserta pelatihan.
Sosialisasi dan Pendampingan Pembentukan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak di Desa Pasir Wetan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas Ayusia Kusuma; A. Afifah Asma Nailah
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 10 No. 2 (2026): Jurnal Panrita Abdi - April 2026
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v10i2.45453

Abstract

Abstract. . This community service program was implemented in Pasir Wetan Village, Karanglewas Subdistrict, Banyumas Regency, with the objective of establishing a Women- and Child-Friendly Village (Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak/DRPPA) in accordance with the initiative of the Ministry of Women’s Empowerment and Child Protection (MoWECP). The DRPPA model aims to integrate gender perspectives and child rights into local governance, development, and sustainable community empowerment. The urgency of this program is underlined by the high incidence of gender-based violence in Banyumas Regency and the limited village capacity to implement DRPPA indicators, including women and child organization, prevention of violence, and protection from child marriage. The program consisted of three stages which are socialization, mentoring, and inauguration. Socialization activities included community counseling on women’s and children’s rights and the establishment of Women and Children Friends Volunteers (Sahabat Perempuan dan Anak/SAPA) as change agents at the village level. Mentoring activities were conducted continuously to strengthen the capacity of community members, village cadres, and officials to independently manage and sustain the program. The program also resulted in the compilation of gender-disaggregated data, and the inauguration of DRPPA Village and issuance of Village Head Decrees related to SAPA Volunteers and Children Forum. The outcomes indicate increased community awareness of gender and child rights issues, stronger participation across different social groups, and the presence of trained volunteers and cadres capable of sustaining DRPPA initiatives Keywords: DRPPA, Gender mainstreaming, women and children, gender-based violence.   Abstrak. Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Pasir Wetan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas dengan tujuan membentuk Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) sesuai gagasan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). DRPPA merupakan model desa yang mengintegrasikan perspektif gender dan hak anak dalam tata kelola pemerintahan, pembangunan, serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Urgensi program ini dilatarbelakangi oleh tingginya kasus kekerasan berbasis gender di Kabupaten Banyumas dan masih terbatasnya kapasitas desa dalam mengimplementasikan indikator DRPPA, termasuk pengorganisasian perempuan dan anak, pencegahan kekerasan, hingga perlindungan dari perkawinan anak. Kegiatan pengabdian dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu sosialisasi, pendampingan, dan pengukuhan. Sosialisasi mencakup penyuluhan kepada masyarakat mengenai hak-hak perempuan dan anak serta pembentukan Relawan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) sebagai agen perubahan di tingkat desa. Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas masyarakat, kader desa, dan perangkat desa agar mampu menjalankan program secara mandiri. Selain itu, pengabdian ini juga menghasilkan penyusunan data terpilah gender, terbentuknya DRPPA melalui diterbitkannya Surat Keputusan Kepala Desa terkait Relawan SAPA dan Forum Anak. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap isu gender dan hak anak, keterlibatan aktif berbagai elemen masyarakat desa, serta lahirnya relawan dan kader terlatih yang siap melanjutkan program. Kata Kunci:DRPPA, Pengarusutamaan gender, perempuan dan anak, kekerasan berbasis gender
Mengembangkan Modal Psikologis Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Terbuka Sebelas November melalui Psikoedukasi Retno Sulistiyaningsih; Ali Syahidin Mubarok; Sri Andayani; Rahkmaditya Dewi Noorrizki
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 10 No. 2 (2026): Jurnal Panrita Abdi - April 2026
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v10i2.45653

Abstract

This community service activity aims to improve the psychological capital of students at Sebelas November Open Senior High School (SMA Terbuka Sebelas November) through a psychoeducational program. The program's background stems from the challenges that emerged during the Covid-19 pandemic, when many students experienced a decline in learning motivation. Psychological capital is seen as a crucial aspect that every individual needs to be able to face various challenges more wisely. The community service process is carried out through three main stages: partner needs analysis, implementation of psychological capital intervention, and evaluation of results. In the core stage, students are provided with material on the concept of psychological capital and strategies for developing it in their daily lives. Furthermore, students are also involved in role-play activities that help them develop short-term and long-term plans related to their desired goals. To determine the effectiveness of the activity, pre- and post-tests were used to measure students' level of understanding of the material provided. The evaluation results showed a significant increase in knowledge after the psychological capital intervention compared to before the intervention. Thus, this program has been proven to have a positive impact in strengthening students' psychological capital, making them better prepared to face academic and non-academic challenges. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan modal psikologis siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Terbuka Sebelas November melalui program psikoedukasi. Latar belakang program berangkat dari permasalahan yang muncul selama pandemi Covid-19, ketika banyak siswa mengalami penurunan motivasi belajar. Modal psikologis dipandang sebagai aspek penting yang perlu dimiliki setiap individu agar mampu menghadapi berbagai tantangan dengan lebih bijaksana. Proses pengabdian dilakukan melalui tiga tahap utama, yaitu analisis kebutuhan mitra, pelaksanaan psychological capital intervention, serta evaluasi hasil. Pada tahap inti, siswa diberikan materi mengenai konsep modal psikologis serta strategi untuk mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu, siswa juga terlibat dalam kegiatan role play yang membantu mereka menyusun rencana jangka pendek maupun jangka panjang terkait cita-cita yang diharapkan. Untuk mengetahui efektivitas kegiatan, digunakan pre-test dan post-test guna mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah pelaksanaan psychological capital intervention dibandingkan dengan sebelum perlakuan dilakukan. Dengan demikian, program ini terbukti memberikan dampak positif dalam memperkuat modal psikologis siswa sehingga mereka lebih siap menghadapi tantangan akademik maupun non-akademik.
Edukasi dan Deteksi Dini: Membangun Kesadaran Pencegahan Penyakit Tidak Menular pada Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Lapadde Kota Parepare Ridwan Amiruddin; Henni Kumaladewi Hengky; Ruslang; Suntin; Andi Tenri Abeng
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 10 No. 3 (2026): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2026
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v10i3.45766

Abstract

Non-communicable diseases (NCDs) such as hypertension and diabetes mellitus pose major health threats in Indonesia with prevalence rates of 34.11% and 11.7% (2023 Indonesia Health Survey). Early detection and appropriate education are essential to prevent serious complications that can reduce quality of life and increase healthcare economic burden. This community service implemented integrated free health screening services with structured health education to increase NCD prevention awareness at Lapadde Health Center working area, Parepare City. Implementation methods included: (1) comprehensive health screening (blood pressure, fasting blood glucose, total cholesterol) using point-of-care testing to provide immediate results, (2) staged health education on hypertension and diabetes mellitus through interactive lectures, practical demonstrations, and group discussions, and (3) knowledge evaluation through pre-post tests to measure program effectiveness. Activities were conducted from June to August 2025 through four visit stages, with health screening on July 11 and staged education on July 11 and 25, involving 40 participants consisting of Prolanis members and at-risk community members. Results showed 17 hypertension cases (42.5%), 27 high cholesterol cases (67.5%), and 21 high fasting blood glucose cases (52.5%) requiring medical follow-up, with 78% of participants previously unaware of their NCD conditions. Significant knowledge improvement was achieved with an average increase of 59.5% based on pre-post test evaluation. The activity successfully established sustainable cooperation with Laladde Health Center for monitoring and follow-up programs, demonstrating the effectiveness of an integrated approach between health education and early detection at the primary healthcare level. Penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi dan diabetes melitus menjadi ancaman kesehatan utama di Indonesia dengan prevalensi 34,11% dan 11,7% (SKI 2023). Deteksi dini dan edukasi tepat penting untuk mencegah komplikasi serius yang dapat menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan beban ekonomi kesehatan. Kegiatan pengabdian ini menerapkan pemeriksaan kesehatan gratis terintegrasi dengan edukasi kesehatan terstruktur untuk meningkatkan kesadaran pencegahan PTM di wilayah kerja Puskesmas Lapadde Kota Parepare. Metode pelaksanaan meliputi: (1) pemeriksaan kesehatan komprehensif (tekanan darah, gula darah puasa, kolesterol total) menggunakan point-of-care testing untuk memberikan hasil segera, (2) edukasi kesehatan bertahap tentang hipertensi dan diabetes melitus melalui ceramah interaktif, demonstrasi praktis, dan diskusi kelompok, dan (3) evaluasi pengetahuan melalui pre-post test untuk mengukur efektivitas program. Kegiatan dilaksanakan Juni-Agustus 2025 melalui empat tahap kunjungan, dengan pemeriksaan kesehatan pada 11 Juli dan edukasi bertahap pada 11 dan 25 Juli, melibatkan 40 peserta yang terdiri dari anggota Prolanis dan masyarakat berisiko PTM. Hasil menunjukkan terdeteksi 17 kasus hipertensi (42,5%), 27 kasus kolesterol tinggi (67,5%), dan 21 kasus gula darah puasa tinggi (52,5%) yang memerlukan tindak lanjut medis, dengan 78% peserta tidak menyadari kondisi PTM mereka sebelumnya. Peningkatan pengetahuan signifikan tercapai dengan rata-rata 59,5% berdasarkan evaluasi pre-post test. Kegiatan berhasil membangun kerjasama berkelanjutan dengan Puskesmas Lapadde untuk program monitoring dan follow-up, menunjukkan efektivitas pendekatan terintegrasi antara edukasi dan deteksi dini di pelayanan kesehatan primer.
Resistance Training Program: Upaya Manajemen Kelelahan Kerja pada Perempuan Pengolah Ikan di Desa Puger, Kabupaten Jember Ana Islamiyah Syamila; Globila Nurika; Alisa Ulinuha Zulfa; Dida Putri Awal Mardika; Rizka Dyah Pitaloka; Herwinda Ainun Karima; Risa Wulandari; Delina Krisnauli Safitri
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 10 No. 3 (2026): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2026
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v10i3.45896

Abstract

. The fish processing industry in Pugor Kulon Village employs many women as laborers. Based on the results of research conducted by the previous implementation team, it shows that fish processing workers experience work fatigue. This service aims to reduce complaints of work fatigue resulting from various problem-solving efforts. The methods applied range from observing the work environment, interviewing workers, providing education through interactive media, planting microbreaks between working hours, light physical activity training, fulfilling drinking water intake, and evaluating programs for sustainability. The results showed that there was a significant difference (p-value 0.0001) in the average level of work fatigue of female fish processing workers before (3.05) and after (2.4) the stretching intervention. Work fatigue education also increases workers' knowledge significantly (p-value = 0.002). The average level of knowledge of female fish processing workers before being given education was 54.67, and after being given education was 78.33. Regular stretching and habituation exercises can reduce complaints of work fatigue felt by workers. Education can increase workers' knowledge so they can work productively by minimizing the occurrence of work fatigue. It is hoped that the various efforts that have been made can be a solution in overcoming work fatigue that occurs. Collaborative efforts from implementation teams and partners can contribute to the growth of partners who are empowered to improve worker health and productivity.    Industri pengolahan ikan yang berada di Desa Pugor Kulon, Kabupaten Jember, banyak mempekerjakan perempuan sebagai tenaga buruh. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim pelaksana sebelumnya menunjukkan bahwa pekerja pengolahan ikan mengalami kelelahan kerja (fatigue). Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk mengurangi keluhan kelelahan kerja yang dirasakan dengan berbagai upaya penyelesaian masalah. Metode yang dilaksanakan dimulai dari observasi lingkungan kerja, wawancara pada pekerja, pemberian edukasi dengan media interaktif, pembudayaan microbreak diantara waktu kerja, latihan aktivitas fisik ringan, pemenuhan intake air minum, dan evaluasi program untuk keberlanjutan. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p-value= 0,0001) rata-rata tingkat kelelahan kerja pekerja wanita pengolah ikan sebelum (3,05) dan sesudah (2,4) diberikan intervensi peregangan. Edukasi kelelahan kerja juga turut meningkatkan pengetahuan pekerja secara siginifikan (p-value = 0,002). Rata-rata tingkat pengetahuan wanita pekerja pengolah ikan sebelum diberikan edukasi adalah 54,67 dan setelah diberikan edukasi adalah 78,33. Latihan peregangan dan pembiasaan secara rutin dapat menurunkan keluhan kelelahan kerja yang dirasakan oleh pekerja. Edukasi yang diberikan kepada pekerja dapat meningkatkan pengetahuan pekerja agar dapat bekerja secara produktif dengan meminimalisisr terjadinya kelelahan kerja. Berbagai upaya yang telah dilaksanakan oleh tim pengabdian diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi kelelahan kerja yang terjadi. Upaya kolaborasi dari tim pelaksana dan mitra dapat berkontribusi untuk menumbuhkan mitra yang berdaya dalam meningkatkan derajat kesehatan dan produktivitas pekerja.
Optimalisasi Pelaksanaan Skrining, Preventif dan Promotif Penyakit Hipertensi di Desa Cibeureum Kulon Heri Ridwan; Ayu Prameswari Kusuma Astuti; Ria Inriyana; Amanda Puspanditaning Sejati; Siti Lika Latifah
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 10 No. 2 (2026): Jurnal Panrita Abdi - April 2026
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v10i2.46427

Abstract

Hypertension is one of the most prevalent non-communicable diseases, contributing significantly to high morbidity and mortality rates worldwide, including in Indonesia. This chronic condition cannot be fully cured but can be controlled through early detection and appropriate management to reduce the risk of serious complications. Common complications include stroke, heart failure, chronic kidney disease, and other vascular disorders, all of which can greatly diminish patients’ quality of life. In light of this, the purpose of this community service activity was to promote prevention through early detection and to minimize the impact of hypertension-related complications among residents of Cibeureum Kulon Village. The program employed methods that focused on optimizing early detection through blood pressure screening, alongside preventive and promotive measures in the form of health education. Conducted on August 19, 2024, the activity involved 40 participants, consisting of community health volunteers (posyandu cadres) and residents who had been medically diagnosed with hypertension. Educational materials were delivered by healthcare experts in simple and accessible language to facilitate understanding. In addition, demonstrations and redemonstrations were carried out, providing practical guidance on the use of digital sphygmomanometers, enabling participants to conduct self-monitoring as an initial step in detecting complications before seeking medical care. Based on findings from the satisfaction questionnaire concluded that participants were highly satisfied with the facilitators, speakers, timing, methods, and media applied. They also emphasized that the activity was beneficial, enhanced their knowledge, and encouraged self-reliance in preventing hypertension complications. Keywords: Hypertension, preventive, promotive, screening.   Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini bersifat kronis dan tidak dapat disembuhkan secara tuntas, namun dapat dikendalikan dengan deteksi dini dan pengelolaan yang tepat agar tidak menimbulkan komplikasi serius. Beberapa komplikasi yang umum terjadi antara lain stroke, gagal jantung, penyakit ginjal kronis, serta gangguan pembuluh darah lainnya yang berisiko menurunkan kualitas hidup penderita. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah melakukan upaya pencegahan melalui deteksi dini serta meminimalkan dampak komplikasi hipertensi pada masyarakat Desa Cibeureum Kulon. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi optimalisasi deteksi dini melalui skrining tekanan darah, serta tindakan preventif dan promotif berupa pendidikan kesehatan. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus 2024 dengan jumlah peserta sebanyak 40 orang, yang terdiri dari kader posyandu serta masyarakat yang secara medis telah didiagnosis menderita hipertensi. Materi edukasi disampaikan langsung oleh para ahli di bidang kesehatan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Selain itu, dilakukan demonstrasi dan redemonstrasi dengan panduan praktis mengenai cara penggunaan sphygmomanometer digital, sehingga peserta dapat melakukan pemeriksaan mandiri sebagai langkah awal deteksi komplikasi sebelum ditangani tenaga kesehatan. Berdasarkan hasil kuesioner kepuasan dapat disumpulkan bahwa mayoritas peserta menyatakan sangat puas terhadap narasumber, fasilitator, waktu pelaksanaan, metode pembelajaran, serta media yang digunakan. Mereka juga menilai bahwa kegiatan ini memberikan manfaat nyata, meningkatkan pengetahuan, serta mendorong kemandirian dalam pencegahan komplikasi hipertensi. Kata Kunci: Hipertensi, preventif, promotif, skrining
Peningkatan Pemahaman Rambu Lalu Lintas Berbasis Karakteristik Rambu pada Mahasiswa Teknik Sipil Untad Pengendara Sepeda Motor Ismadarni Ismadarni; Ratnasari Ramlan; Jurair Patunrangi; Ratnasari Ramlan; Mashuri Mashuri; Sari Puji Lestari; Rizki Amaliah; Siti Nurfajrina
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 10 No. 3 (2026): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2026
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v10i3.47158

Abstract

This article reports the results of a community service program focusing on traffic sign comprehension training for motorcycle riders among students of the Faculty of Engineering, Tadulako University. The program aimed to improve students’ understanding of traffic signs, enhance awareness and compliance with traffic regulations, and encourage student engagement in promoting road safety within the campus environment and the wider community. A quasi-experimental design was employed by assigning participants involving 46 civil engineering students who use motorcycles to a training group and a non-training (control) group. The training group completed a pre-test, received structured training materials, and completed a post-test, while the control group completed only a pre-test and post-test without any intervention. The training activities concluded with a summary of key materials and a final evaluation to assess program outcomes. Statistical analysis using ANOVA indicated a statistically significant difference between the training and control groups in traffic sign comprehension scores (F(1,88) = 5.86; p = 0.0186). The training group demonstrated a substantial mean increase of 27.83 points from pre-test to post-test, whereas the control group showed only a marginal mean increase of 0.43 points. These findings indicate that the training was demonstrated a significant contribution in improving students’ understanding of traffic signs. Overall, traffic sign comprehension training represents a viable intervention for enhancing road safety awareness among university students who use motorcycles. Similar educational interventions, including training and road safety outreach, may contribute to reducing traffic accident risks and fostering a culture of safe riding behavior in academic and community settings.   Artikel ini melaporkan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan pemahaman rambu lalu lintas bagi pengendara sepeda motor di kalangan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Tadulako. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap rambu lalu lintas, memperkuat kesadaran dan kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas, serta mendorong keterlibatan mahasiswa dalam mengkampanyekan keselamatan berkendara di lingkungan kampus dan masyarakat luas. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuasi-eksperimental dengan membagi peserta yang melibatkan 46 mahasiswa ke dalam kelompok pelatihan dan kelompok non-pelatihan sebagai kontrol. Kelompok pelatihan diberikan pre-test, materi pelatihan terstruktur, dan post-test, sedangkan kelompok non-pelatihan hanya diberikan pre-test dan post-test tanpa intervensi. Pelatihan diakhiri dengan rangkuman materi dan evaluasi akhir untuk menilai capaian program. Hasil analisis menggunakan uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok pelatihan dan kelompok non-pelatihan terhadap skor pemahaman rambu lalu lintas (F(1,88) = 5,86; p = 0,0186). Kelompok pelatihan mengalami peningkatan skor rata-rata sebesar 27,83 poin dari pre-test ke post-test, sedangkan kelompok non-pelatihan hanya menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 0,43 poin. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelatihan berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan pemahaman rambu lalu lintas mahasiswa. Secara keseluruhan, pelatihan pemahaman rambu lalu lintas merupakan bentuk intervensi edukatif yang efektif untuk meningkatkan kesadaran keselamatan berkendara di kalangan mahasiswa pengguna sepeda motor. Program edukasi serupa berpotensi mendukung upaya pencegahan kecelakaan lalu lintas serta membangun budaya keselamatan jalan di lingkungan akademik dan masyarakat
Peningkatan Pengetahuan Pelatihan Balut Bidai Bagi Siswa Kelas 10 dan 11 di Sekolah Katolik Santo Paulus Jakarta Jolene; Vincent; Evelyn; Antonius; Daniel; Jessica; Hadiyanto
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 10 No. 2 (2026): Jurnal Panrita Abdi - April 2026
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v10i2.47384

Abstract

Emergency situations in schools require students to be adequately prepared to provide first aid. In such circumstances, individuals are expected to be ready and capable of delivering appropriate initial care. Adolescents aged 15–24 years constitute a population that is particularly vulnerable to accidents, with common emergency conditions including injuries, wounds, and trauma. First aid refers to the immediate assistance provided to individuals experiencing sudden illness or injury prior to receiving advanced medical treatment at healthcare facilities such as clinics or hospitals. The primary objectives of first aid are to save lives, prevent disability, provide comfort, and support the recovery process. However, one of the main challenges in emergency response is the limited knowledge and practical skills of first aid providers.This condition highlights the importance of basic medical first aid training for senior high school students, not only to improve knowledge but also to enhance practical competencies in managing emergency situations. Accordingly, a bandaging and splinting training program was conducted at SMA Santo Paulus Jakarta. The activity involved 58 students from grades X and XI who participated in interactive educational sessions, hands-on simulations, and evaluations using pre-test and post-test instruments. Statistical analysis using the Wilcoxon test demonstrated a significant increase in knowledge scores after the training (p < 0.001), with a participation rate of 86.2% of the target population. Moreover, most participants were able to correctly demonstrate bandaging and splinting techniques. Overall, the training effectively improved students’ knowledge and practical skills, strengthening emergency preparedness and promoting appropriate first aid responses. Keywords: Splinting, Health Education, High School Students.   Keadaan darurat di sekolah menuntut kesiapsiagaan siswa dalam memberikan pertolongan pertama. Dalam situasi tersebut, setiap individu dituntut untuk siap dan mampu memberikan penanganan awal yang tepat. Kelompok usia 15–24 tahun, khususnya remaja, merupakan populasi yang rentan mengalami kecelakaan, kondisi darurat yang sering terjadi pada kelompok usia ini antara lain kecelakaan, luka, dan cedera. Pertolongan pertama merupakan tindakan segera yang diberikan kepada seseorang yang mengalami sakit mendadak atau cedera akibat kecelakaan sebelum memperoleh penanganan medis lanjutan di fasilitas kesehatan seperti di klinik ataupun rumah sakit. Pertolongan pertama mempunyai tujuan adalah untuk menyelamatkan nyawa, mencegah terjadinya kecacatan, memberikan rasa nyaman, serta mendukung proses penyembuhan, namun salah satu kendala utama dalam menyelamatkan korban pada kondisi darurat adalah terbatasnya pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama pada penolong korban. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemberian pelatihan pertolongan pertama medis dasar bagi siswa Sekolah Menengah Atas menjadi sangat penting, tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan tetapi juga keterampilan praktis dalam menghadapi keadaan darurat. Untuk itu, dilakukan pelatihan balut bidai di SMA Santo Paulus Jakarta. Kegiatan melibatkan 58 siswa kelas X dan XI yang mengikuti penyuluhan interaktif, simulasi praktik, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Analisis dengan uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan signifikan skor pengetahuan setelah pelatihan (p < 0,001), dengan cakupan partisipasi 86,2% dari total sasaran. Mayoritas peserta juga mampu memperagakan keterampilan praktis dengan benar. Kesimpulan: Penyuluhan dan pelatihan ini berhasil mencapai tujuan, terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam balut bidai. Kata Kunci: Balut Bidai, Pendidikan Kesehatan, Siswa Sekolah Menengah.

Filter by Year

2017 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 10 No. 3 (2026): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2026 Vol. 10 No. 2 (2026): Jurnal Panrita Abdi - April 2026 Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Panrita Abdi - April 2025 Vol. 8 No. 4 (2024): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2024 Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2024 Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Panrita Abdi - April 2024 Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Panrita Abdi - Januari 2024 Vol. 7 No. 4 (2023): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2023 Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2023 Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Panrita Abdi - April 2023 Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Panrita Abdi - Januari 2023 Vol. 6 No. 4 (2022): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2022 Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2022 Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Panrita Abdi - April 2022 Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Panrita Abdi - Januari 2022 Vol. 5 No. 4 (2021): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2021 Vol. 5 No. 3 (2021): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2021 Vol. 5 No. 2 (2021): Jurnal Panrita Abdi - April 2021 Vol. 5 No. 1 (2021): Jurnal Panrita Abdi - Januari 2021 Vol. 4 No. 3 (2020): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2020 Vol. 4 No. 2 (2020): Jurnal Panrita Abdi - Juni 2020 Vol. 4 No. 1 (2020): Jurnal Panrita Abdi - Februari 2020 Vol. 3 No. 2 (2019): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2019 Vol. 3 No. 1 (2019): Jurnal Panrita Abdi - April 2019 Vol. 2 No. 2 (2018): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2018 Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Panrita Abdi - April 2018 Vol. 1 No. 2 (2017): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2017 Vol. 1 No. 1 (2017): Jurnal Panrita Abdi - April 2017 More Issue