cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Tingkat Pengetahuan Tentang Barodontalgia pada Penyelam Wisatawan Domestik di Kota Manado Rizka Wahyuni; Christy N. Mintjelungan; Celin L. Sindar
e-GiGi Vol. 12 No. 1 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i1.50361

Abstract

Abstract: Concerning maritime tourism, during diving, various types of pressure changes usually occur, especially atmospheric pressure which can result in barodontalgia or pain in the teeth due to changes in pressure. Lack of knowledge about barodontalgia and control of dentists can make divers prone to experience pain and discomfort in areas of teeth that have certain indications such as dental caries, damaged restorations, pulpitis, pulp necrosis, apical periodontitis, periodontal pockets, impacted teeth, root fractures, and residual cysts. This study aimed to determine the level of knowledge about barodontalgia among domestic tourist divers in Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Respondents were 40 domestic tourist divers taken by total sampling technique. The results showed that respondents with good level of knowledge about barodontalgia had a percentage of 13%; those with fair knowledge were 50%; and those who had poor knowledge were 37%. In conclusion, the majority of domestic tourist divers in Manado have fair level of knowledge about barodontalgia. Keywords: knowledge level; barodontalgia; domestic divers   Abstrak: Terkait wisata bahari, saat menyelam biasanya terjadi berbagai macam jenis perubahan tekanan terutama tekanan atmosfer yang dapat mengakibatkan barodontalgia atau nyeri pada gigi akibat perubahan tekanan tersebut. Kurangnya pengetahuan mengenai barodontalgia dan kontrol ke dokter gigi dapat menyebabkan penyelam rentan mengalami rasa nyeri dan tidak nyaman pada daerah gigi yang memiliki indikasi seperti karies gigi, restorasi yang rusak, pulpitis, nekrosis pulpa, periodontitis apikal, poket periodontal, gigi impaksi, fraktur akar, dan kista residual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang barodontalgia pada penyelam wisatawan domestik di Kota Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Responden penelitian berjumlah 40 penyelam wisatawan domestik yang diambil dengan teknik total sampling. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa responden yang memiliki tingkat pengetahuan tentang barodontalgia baik sebesar 13%; tingkat pengetahuan cukup sebesar 50%; dan tingkat pengetahuan kurang sebesar 37%. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar penyelam wisatawan domestik di Kota Manado memiliki tingkat pengetahuan cukup tentang barodontalgia. Kata kunci: tingkat pengetahuan; barodontalgia; penyelam domestik
Prevalensi Maloklusi pada Anak Usia 9−12 Tahun di Daerah Pesisir Kecamatan Malalayang Kota Manado Pritartha S. Anindita; Sherly Gosal; Pegy E. B. Ginting
e-GiGi Vol. 12 No. 1 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i1.50363

Abstract

Abstract: Malocclusion is a condition that deviates from normal occlusion. The prevalence of malocclusion in Indonesia is 80% of the total population. Age of 9-12 year-old is the second phase of mixed dentition phase which causes many problems. This study aimed to obtain the prevalence of tooth malocclusion in 9-12 years old children on the coastal area of Malalayang District, Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. The population consisted of 819 children and the total sample was 269 children obtained by using proportionate stratified random sampling technique. This study was conducted by clinical examination and assessment based on Angle's classification. The results showed that the prevalence of malocclusion in children aged 9-12 years on the coastal area of Malalayang District, Manado was 100%, 217 children were categorized into class I malocclusion with a prevalence rate of 80.7%; 15 children were categorized into class II division 1 malocclusion with a prevalence rate of 5.6%, four children were categorized into class II division 2 malocclusion with a prevalence rate of 1.5%; and 33 children were categorized into class III malocclusion with a prevalence rate of 12.2%. In conclusion, the prevalence of maloclusion in children aged 9-12 years on the coastal area of Malalayang District, Manado, is 100%, and the most common type is Angle’s class I malocclusion. Keywords: children aged 9-12 years old; malocclusion; coastal area   Abstrak: Maloklusi adalah suatu kondisi yang menyimpang dari oklusi normal. Prevalensi maloklusi di Indonesia mencapai 80% dari total penduduk. Usia 9-12 tahun merupakan fase kedua dari fase geligi campuran yang banyak menimbulkan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi maloklusi pada anak usia 9-12 tahun di daerah pesisir Kecamatan Malalayang Kota Manado. Jenis penelitian ialah observasional deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian berjumlah 819 anak dengan jumlah sampel sebanyak 269 anak yang diperoleh dengan teknik proportionate stratified random sampling. Penelitian ini dilakukan dengan pemeriksaan klinis dan penilaian maloklusi berdasarkan klasifikasi Angle. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi maloklusi anak usia 9-12 tahun di daerah pesisir Kecamatan Malalayang Kota Manado sebesar 100%, maloklusi Angle kelas I dengan prevalensi 80,7% sebanyak 217 anak, maloklusi Angle kelas II divisi 1 dengan prevalensi 5,6% sebanyak 15 anak, maloklusi Angle kelas II divisi 2 dengan prevalensi 1,5% sebanyak empat anak, dan maloklusi Angle kelas III dengan prevalensi 12,2% sebanyak 33 anak. Simpulan penelitian ialah prevalensi maloklusi anak usia 9-12 tahun di daerah pesisir Kecamatan Malalayang Kota Manado sebesar 100% dan yang terbanyak ialah maloklusi Angle kelas I. Kata kunci: anak usia 9-12 tahun; maloklusi; pesisir pantai
Prevalensi Maloklusi pada Anak Usia 9-12 Tahun di Daerah Pesisir Kota Manado Pritartha S. Anindita; Kustina Zuliari; Syaloom M. Nanlessy
e-GiGi Vol. 12 No. 2 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i2.50386

Abstract

Abstract: Malocclusion is a major dental and oral health problem worldwide. Malocclusion occurs a lot during the orthodontic interceptive period or mixed dentition phase and is starting to be faced with a situation of potential malocclusion that must be treated immediately. Children who reside in coastal locations are more likely to have malocclusion due to environmental variables like awareness and bad habits. This study aimed to determine the prevalence of malocclusion in children aged 9–12 years on the coastal area of Manado City. This was a descriptive and observational study using total sampling technique. Malocclusion was checked and categorized based on Angle's categorization. The results showed that the prevalence of malocclusion was 99.28% with Angle Classification Class I Malocclusion, where there were 102 cases (73.39%), Angle Class II Division 1 Malocclusion, where there were 7 cases (5.03%), Angle Class II Division 2 Malocclusion, where there were 16 cases (11.51%), and Angle Class III Malocclusion, where there were In 14 cases (10.07%), girls had malocclusion of 52.2% and boys had malocclusion of 48.21%. In conclusion, the prevalence of malocclusion was 99.29%, with Angle Class I classification malocclusion 73.39%, Angle Class II Division 1 Malocclusion 5.03%, Angle Class II Division 2 Malocclusion 11.51%, and Angle Class III Malocclusion 10.07%. Keywords: malocclusion; Angle's classification; elementary school children; coastal area    Abstrak: Maloklusi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang cukup besar di seluruh dunia. Maloklusi banyak terjadi pada periode interseptif ortodonti atau pada anak yang sedang berada di fase gigi bercampur yang mulai dihadapkan pada keadaan terjadinya potensi maloklusi yang harus segera dirawat. Kondisi ini dapat dijumpai pada anak-anak yang tinggal di daerah pesisir pantai dikarenakan faktor lingkungan seperti dalam hal pengetahuan dan kebiasaan buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi maloklusi pada anak usia 9-12 tahun di daerah pesisir Kota Manado. Jenis penelitian ini yaitu observasional deskriptif dengan metode total sampling. Setiap sampel dilakukan pemeriksaan maloklusi dengan penilaian berdasarkan klasifikasi Angle. Hasil penelitian mendapatkan prevalensi maloklusi sebesar 99,28% dengan maloklusi klasifikasi Angle kelas I terdapat 102 kasus (73,39%), klasifikasi Angle kelas II divisi 1 terdapat tujuh kasus (5,03%), klasifikasi Angle divisi 2 terdapat 16 kasus (11,51%) dan klasifikasi Angle kelas III terdapat 14 kasus (10,07%). Anak perempuan mengalami maloklusi sebesar 52,2% dan anak laki-laki mengalami maloklusi sebesar 48,21%. Simpulan penelitian ini ialah prevalensi maloklusi pada penelitian ini sebesar 99,29% dengan maloklusi klasifikasi Angle kelas I sebesar 73,39%, diikuti klasifikasi Angle divisi 2 11,51%, klasifikasi Angle kelas III 10,07%, dan klasifikasi Angle kelas II divisi 1 5,03% Kata kunci: maloklusi; klasifikasi Angle; anak sekolah dasar; daerah pesisir
Gambaran Kelengkapan dan Kesesuaian Pengisian Rekam Medis Gigi di Puskesmas Tanawangko Kabupaten Minahasa Tahun 2018 – 2022 Johanna A. Khoman; Martha M. Kaseke; Christian C. Honarto
e-GiGi Vol. 12 No. 1 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i1.50801

Abstract

Abstract: Concerning victim identity, dental medical record can be used as the victim’s data before death (antemortem) compared with data after death (postmortem). Incompleteness of the medical record describes the health services provided and the quality of the medical record. Incomplete medical record documents can interfere with health workers in identifying a patient's medical history. This study aimed to describe the completeness and suitability of dental medical records at Tanawangko primary health center (PHC) in 2018–2022 in terms of dental medical record guidelines compiled by the Directorate of Basic Health Efforts, Ministry of Health, Republic of Indonesia in 2015. This was a descriptive and observational study using simple random sampling method. The population included all dental medical record data at Tanawangko PHC in 2018 – 2022. The results showed that the average completeness and suitability of all dental medical records at Tanawangko PHC was relatively low and there were no odontogram sheets and patient supporting sheets found. In conclusion, the completeness and suitability of dental medical records at Tanawangko PHC is relatively low. Keywords: completeness and suitability of data; dental medical record; victim identification   Abstrak: Saat diperlukan penentuan identitas individu, pengumpulan bukti pengisian rekam medis gigi dapat dijadikan sebagai data korban sebelum meninggal (antemortem) yang dibandingkan dengan data korban setelah meninggal (postmortem). Ketidaklengkapan pengisian rekam medis menggambar-kan pelayanan kesehatan yang diberikan dan mutu pelayanan rekam medis. Dokumen rekam medis yang tidak lengkap dapat menyulitkan petugas kesehatan untuk mengidentifikasi riwayat medis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kelengkapan dan kesesuaian rekam medis gigi di Puskesmas Tanawangko tahun 2018–2022 ditinjau dari panduan rekam medis gigi yang disusun oleh Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan RI tahun 2015. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional menggunakan metode simple random sampling dengan populasi seluruh data rekam medis gigi di Puskesmas Tanawangko pada tahun 2018–2022. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rerata kelengkapan dan kesesuaian seluruh rekam medis gigi di Puskesmas Tanawangko masih tergolong rendah, serta tidak ditemukannya lembar odontogram dan lembar lampiran penunjang pasien. Simpulan penelitian ini ialah kelengkapan dan kesesuaian seluruh rekam medis gigi di Puskesmas Tanawangko masih tergolong rendah. Kata kunci: kelengkapan dan kesesuaian data; rekam medis gigi; identifikasi korban
Gambaran Performed Treatment Index (PTI) pada Mahasiswa Profesi PSPDG di RSGM Universitas Sam Ratulangi Dinar A. Wicaksono; Johanna A. Khoman; Ribka Kumolontang
e-GiGi Vol. 12 No. 2 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i2.50989

Abstract

Abstract: Dental filling is a treatment to repair tooth decay to restore its previous shape and function. The indicator of the success of fixed tooth filling is by comparing the number of caries fixed teeth that have been filled with caries experience (DMF-T). Performed treatment index (PTI) is an index that shows the percentage of the number of fixed teeth that have been filled against DMF-T. This PTI describes the motivation of a person to fill cavities to maintain permanent teeth. This study aimed to determine the description of PTI in PSPDG professional students at RSGM Universitas Sam Ratulangi. This was a descriptive study using a cross-sectional research design. Samples were selected using purposive sampling method as many as 71 respondents. The research instruments used were documentation and questionnaires. Data were processed descriptively and then presented in the form of frequency distribution in tabular form. The results showed that PTI in professional students was in the good category (44%) and in the bad category (56%). In conclusion, there were more professional students who pay less attention to their oral health, namely to maintain permanent teeth with caries by carrying out fillings. Keywords: performed treatment index (PTI); Decayed, Missing, and Filled Teeth (DMF-T); professional dentistry students   Abstrak: Penumpatan yaitu suatu tindakan perawatan untuk memperbaiki kerusakan gigi agar bisa kembali pada bentuk semula dan berfungsi dengan baik. Indikator keberhasilan penumpatan gigi permanen ialah dengan membandingkan jumlah gigi permanen karies yang telah ditumpat dengan pengalaman karies (DMF-T). Performed treatment index (PTI) adalah indeks yang menunjukkan persentase jumlah gigi permanen yang telah dilakukan penumpatan terhadap DMF-T. PTI menggambarkan motivasi seseorang untuk menumpat gigi berlubang dalam upaya mempertahankan gigi permanen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran PTI pada mahasiswa profesi PSPDG di RSGM Unsrat. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian dipilih dengan metode purposive sampling sebanyak 71 responden. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu dokumentasi dan kuesioner. Data diolah secara deskriptif kemudian disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan PTI pada mahasiswa profesi dengan kategori baik sebanyak 44% dan kategori buruk sebanyak 56%. Simpulan penelitian ini ialah saat ini masih lebih banyak mahasiswa profesi yang kurang memperhatikan kesehatan gigi dan mulutnya dalam upaya mempertahankan gigi permanen yang mengalami karies dengan melakukan penumpatan. Kata kunci: performed treatment index (PTI); Decayed, Missing, and Filled Teeth (DMF-T)); mahasiswa profesi kedokteran gigi
Hubungan antara Kebiasaan Pemeliharaan Gigi Tiruan Lengkap Akrilik dan Penumpukan Plak Johni Halim; Ratu Rachmani
e-GiGi Vol. 12 No. 1 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i1.51432

Abstract

Abstract: Every denture wearer should know how to use and maintain their dentures. Good denture maintenance habit can prevent plaque accumulation and oral cavity disorders. This study aimed to determine the correlation between preserving full denture acrylic habit and plaque accumulation. This was an observational study with a cross-sectional design. Subjects were residents at Panti Werdha Wisma Mulia (nursing home for elderly) who wore full denture. Subjects were given questionnaire about preserving full denture habit using Likert scale, and plaque accumulation were examined with disclosing solution using the Ausberger and Elahi methods. Data were analyzed with the Spearman’s rho test. The results obtained 20 residents as subjects. There were 10 subjects (50%) with good habit of preserving full denture; eight subjects (40%) with fair habit; and two subjects (10%) with poor habit. All subjects had plaque accumulation; light plaque in 10 subjects (50%); moderate plaque in seven subjects (35%); heavy plaque in three subjects (15%). The Spearman’s rho showed a correlation between preserving full denture acrylic habit and plaque accumulation (r=0.608; p=0.004). In conclusion, there is a positive correlation between the habit of preserving full denture acrylic and plaque accumulation among residents of Panti Werdha Wisma Mulia, Grogol-West Jakarta. Keywords: plaque accumulation; full denture; habit of preserving denture; elderly   Abstrak: Setiap pemakai gigi tiruan sebaiknya mengetahui cara menggunakan dan memelihara gigi tiruannya. Kebiasaan pemeliharaan gigi tiruan yang baik dapat mencegah terjadinya akumulasi plak serta kelainan pada rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan pemeliharaan gigi tiruan lengkap akrilik dan penumpukan plak. Jenis penelitian ialah observasional dengan desain potong lintang. Subjek penelitian ialah lanjut usia (lansia) penghuni Panti Werdha Wisma Mulia yang menggunakan gigi tiruan lengkap (GTL). Subjek diberikan kuesioner kebiasaan pemeliharaan GTL yang menggunakan skala Likert dan dilakukan pemeriksaan plak dengan disclosing solution menggunakan metode Ausberger dan Elahi. Data dianalisis dengan menggunakan uji Spearman’s rho. Hasil penelitian mendapatkan 20 lansia sebagai subjek penelitian. Subjek dengan kebiasaan pemeliharaan gigi tiruan yang baik sebanyak 10 lansia (50%); kebiasaan yang kurang baik sebanyak delapan lansia (40%); dan kebiasan yang tidak baik sebanyak dua lansia (10%). Seluruh subjek memiliki akumulasi plak; sebagian besar plak terlihat tipis yaitu sebanyak 10 lansia (50,0%); plak sedang sebanyak tujuh lansia (35%); dan plak banyak sebanyak tiga lansia (15%). Uji Spearman’s rho menunjukkan korelasi antara kebiasaan pemeliharaan gigi tiruan lengkap akrilik dan penumpukan plak (r=0,608 dan p=0,004). Simpulan penelitian ini ialah terdapat korelasi positif antara kebiasaan pemeliharaan gigi tiruan lengkap akrilik dan penumpukan plak pada lansia Panti Werdha Wisma Mulia, Grogol- Jakarta Barat. Kata kunci: plak; gigi tiruan lengkap; kebiasaan pemeliharaan gigi tiruan; lanjut usia
Peran Prostodonsia dalam Identifikasi Manusia: Aspek Terlupakan dalam Odontologi Forensik Sarwono, Aditya P.
e-GiGi Vol. 12 No. 2 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i2.50758

Abstract

Abstract: Human identification continues to pose a significant challenge, with thousands of individuals or corpses remaining unidentified each year, as reported by the National Missing and Unidentified Person System (NamUs). Forensic odontology becomes exceptionally crucial when visual/facial identification and fingerprinting fail, such as in disasters or decomposed remains. By leveraging the expertise of dentists, forensic odontology makes a valuable contribution to the legal system. High-quality dental records are paramount for human identification. Forensic dentistry provides scientific data for legal proceedings. The robust structure of teeth and resilient restorative materials are pivotal in the identification process. Prosthodontics, especially for denture wearers, plays a significant role, with equipment like denture labeling gaining popularity. Specialization in prosthodontics is vital for understanding dental materials, labeling techniques, palatal rugae patterns, bite marks, and lip prints. Application of effective methods in forensic odontology is of paramount importance in identifying individuals. Remarkably, prosthetics in the field of forensic dentistry remains relatively unexplored and often overlooked, even in Indonesia, despite its significant potential in the realm of forensics. In conclusion, forensic identification using prosthodontic tools such as labeling or marking on dentures can provide crucial identification clues. Dental marking techniques namely surface modification techniques and inclusion techniques, have their respective advantages and disadvantages. Keyword:  human identification; forensic odontology; denture; identification methods   Abstrak: Identifikasi manusia tetap menjadi tantangan signifikan, dengan ribuan individu atau jenazah yang tidak teridentifikasi setiap tahunnya, seperti yang dilaporkan oleh National Missing and Unidentified Person System (NamUs). Odontologi forensik menjadi sangat penting ketika identifikasi visual/wajah dan sidik jari gagal, seperti pada bencana atau jenazah yang terurai. Dengan memanfaatkan keahlian dokter gigi, odontologi forensik memberikan kontribusi pada sistem hukum. Catatan gigi berkualitas tinggi sangat penting untuk identifikasi manusia. Odontologi forensik menyediakan data ilmiah untuk proses hukum. Struktur gigi yang kuat dan bahan restoratif yang tahan terhadap kerusakan menjadi kunci dalam identifikasi. Prostodonti, khususnya bagi pemakai gigi palsu, memainkan peran yang signifikan, dengan peralatan seperti label gigi palsu semakin populer. Spesialisasi dalam bidang prostodontik sangat penting dalam memahami bahan gigi, teknik penandaan, pola rugae palatal, bekas gigitan, dan bekas bibir. Menerapkan metode-metode yang efektif dalam odontologi forensik sangat penting untuk mengidentifikasi individu. Secara mencolok, prostetik dalam ranah odontologi forensik tetap relatif belum tersentuh, sering kali terabaikan di Indonesia meskipun memiliki potensi signifikan dalam dunia forensik. Simpulan studi ini ialah identifikasi forensik dengan menggunakan peralatan prostodontik seperti pelabelan atau pemberian tanda pada gigi tiruan dapat memberikan petunjuk identifikasi penting. Teknik penandaan gigi yaitu surface modification technique dan inclusion technique dengan keunggulan dan kekurangan masing-masing. Kata kunci: identifikasi manusia; odontologi forensik; gigi palsu; metode identifikasi
Effect of Solvent Type on the Amount of Yield from Maceration of Moringa Plants (Moringa oleifera) Anggestia, Wulan; Utami, Sri P.; Darmawangsa, Darmawangsa; Sari, Widya P.; Dirgantara, Difa
e-GiGi Vol. 12 No. 2 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i2.49571

Abstract

Abstract: The use of herbal plants in the field of dentistry has begun to be widely studied, but it is still not widely developed. One of the uses of herbal plants is to make them as raw materials for mouthwash. Moringa plant (Moringa oleifera/Mo) is an herbal ingredient that qualified as an alternative antibacterial agent. The type of solvent, extraction temperature and extraction duration are some variables that can affect the extraction yield, but the dominant type of solvent for the extraction of herbal plants, especially Mo, is still not specific. This study aimed to determine the effect of solvent types on the amount of yield of the maceration of Mo plants. This was a true experimental study using a factorial complete randomized design with maceration (method of extraction) on Moringa oleifera with variations in solvent types. The Kruskall-Wallis test showed that based on the solvent type treatment group, a significant value of 0.003 (<0.05) was obtained, meaning that there was an influence of the type of solvent on the amount of yield from Moringa oleifera maceration. In conclusion, the type of solvent has a significant effect on the amount of yield resulting from Mo maceration. Keywords: Moringa oleifera; type of solvent; maceration
Pengaruh Musik Instrumental terhadap Kecemasan Pasien pada Tindakan Perawatan Gigi dan Mulut Yunizar, Vania R.; Mita Juliawati; Andayani, Lia H.
e-GiGi Vol. 12 No. 2 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i2.50562

Abstract

Abstract: Dental anxiety is feeling of fear when visiting a dentist for a dental procedures. Dental anxiety can be caused by many factors such as previous traumatic experience at the dentist, lack of understanding of the dental and oral care procedures, and unpleasant experiences of those around him/her about dental and oral care. Indicators of anxiety can be evaluate with the modified dental anxiety scale (MDAS) and the patient's systemic reaction, namely blood pressure. Reducing anxiety and blood pressure can be overcome with pharmacological and non-pharmacological techniques, one of which is instrumental music. This study aimed to determine the effect of instrumental music on patient anxiety in dental and oral care procedures. This was an experimental study conducted on 63 adult patients. Subjects filled out the MDAS questionnaire to evaluate their level of anxiety and were checked their blood pressure before and after treatment. Data were analyzed using the Wilcoxon test and one-way ANOVA to determine the effect of instrumental music on anxiety. The results showed significant differences in patient anxiety before and after being given instrumental music based on the MDAS questionnaire (p=0.000), systolic blood pressure (p=0.000), and diastolic blood pressure (p=0.000). In conclusion, instrumental music can reduce the patient's anxiety level. Keywords: dental anxiety; blood pressure; instrumental music; modified dental anxiety scale   Abstrak: Kecemasan dental merupakan rasa takut ketika akan melakukan kunjungan ke dokter gigi untuk suatu tindakan kedokteran gigi. Kecemasan dental dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti pengalaman yang traumatik sebelumnya saat ke dokter gigi, kurangnya pemahaman tentang prosedur perawatan gigi dan mulut yang akan dilakukan, serta pengalaman orang di sekitarnya tentang perawatan gigi dan mulut yang tidak menyenangkan. Indikator kecemasan dapat dinilai dengan modified dental anxiety scale (MDAS) dan reaksi sistemik pasien yaitu tekanan darah. Untuk menurunkan kecemasan dan tekanan darah dapat diatasi dengan teknik farmakologi dan non-farmakologi, salah satunya dengan menggunakan musik instrumental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh musik instrumental terhadap kecemasan pasien pada tindakan perawatan gigi dan mulut. Jenis penelitian ialah eksperimental yang dilakukan pada 63 pasien dewasa dengan mengisi kuesioner MDAS untuk melihat tingkat kecemasan dan dilakukan pengecekan tekanan darah sebelum dan setelah perawatan. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan one way ANOVA untuk mengetahui pengaruh musik instrumental terhadap kecemasan.  Hasil penelitian mendapatkan perbedaan bermakna pada kecemasan pasien sebelum dan setelah diberi musik instrumental berdasarkan kuesioner MDAS (p=0,000), tekanan darah sistolik (p=0,000), dan tekanan darah diastolik (p=0,000). Simpulan penelitian ini aialah musik instrumental dapat menurunkan tingkat kecemasan. Kata kunci: kecemasan dental; tekanan darah; musik instrumental; modified dental anxiety scale
Hubungan antara Dasar Sinus Maksilaris dengan Apikal Akar Gigi M1 Maksila Ditinjau Menggunakan Radiograf Panoramik Suntana, Mutiara S.; Trisusanti, Ratna; Quasima, Silvysta Z.
e-GiGi Vol. 12 No. 2 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i2.51331

Abstract

Abstract: M1 maxillary tooth has a close relationship with the maxillary sinus floor. It is a potential source of infection for the maxillary sinus because the M1 root has a higher risk of perforation than other posterior teeth. Panoramic radiographs can identify the position of the posterior maxillary teeth against the maxillary sinus floor with specific criteria or classifications, one of which, according to Jung and Cho. This study aimed to determine the relationship between the maxillary sinus base and the apical root of the maxillary M1 tooth based on gender and age as viewed from panoramic radiographs. This was an observational and analytical study using the cross-sectional design. Samples were derived from panoramic radiographs taken in 2021 of patients aged 20-50 years at RSGM Unjani using the purposive sampling method. Data were analyzed using the Mann Whitney test and the Kruskal Wallis test. The results obtained 44 panoramic radiographs of 18 males and 26 females. There were more apical M1 roots protruding into the sinus cavity (type 3). There was no significant relationship between the maxillary sinus floor and the apical root of the maxillary M1 tooth in the right and left regions based on gender and age (p>0.05). In conclusion, type 3 is the most common found, and no significant relationship between the maxillary sinus floor and the apical root of the maxillary M1 tooth in the right and left regions based on gender and age Keywords: first molar; maxillary sinus floor; panoramic radiograph; root apical    Abstrak: Gigi M1 memiliki hubungan erat dengan dasar sinus maksilaris dan banyak menjadi sumber infeksi terhadap sinus maksilaris karena akar M1 maksila memiliki risiko perforasi yang lebih tinggi daripada gigi posterior lainnya. Radiograf panoramik dapat mengidentifikasi posisi gigi posterior rahang atas terhadap dasar sinus maksilaris dengan kriteria tertentu salah satunya menurut Jung dan Cho. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dasar sinus maksilaris dengan apikal akar gigi M1 maksila berdasarkan jenis kelamin dan usia ditinjau dari radiograf panoramik. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel penelitian diperoleh dengan metode purposive sampling dari radiograf panoramik tahun 2021 pada pasien berusia 20-50 tahun di RSGM Unjani. Uji statistik yang digunakan pada penelitian ini yaitu uji Mann Whitney dan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 44 radiograf panoramik, terdiri dari 18 pasien laki-laki dan 26 pasien perempuan. Didapatkan lebih banyak apikal akar M1 yang menonjol ke dalam rongga sinus (tipe 3). Uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara tipe hubungan antara dasar sinus maksilaris dengan apikal akar gigi M1 maksila pada regio kanan dan kiri berdasarkan jenis kelamin dan usia (p>0,05). Simpulan penelitian ini ialah hubungan tipe 3 yang terbanyak ditemukan dan tidak terdapat hubungan bermakna antara dasar sinus maksilaris dengan apikal akar gigi M1 maksila pada regio kanan dan kiri berdasarkan jenis kelamin dan usia. Kata kunci: apikal akar; dasar sinus maksilaris; molar pertama; radiograf panoramik