cover
Contact Name
Sony Christian Sudarsono
Contact Email
sintesis@usd.ac.id
Phone
+6285642606679
Journal Mail Official
sintesis@usd.ac.id
Editorial Address
Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra Unversitas Sanata Dharma Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Sintesis
ISSN : 1693749X     EISSN : 27229408     DOI : 10.24071/sin
SINTESIS adalah jurnal ilmiah bahasa, sastra, dan kebudayaan Indonesia yang diterbitkan oleh Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sintesis terbit pertama kali bulan Oktober 2003 dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Maret dan Oktober. Sintesis is a scientific journal of Indonesian language, literature, and culture published by the Indonesian Letters Study Program, Faculty of Letters, Sanata Dharma University, Yogyakarta. Sintesis was first published in October 2003 with a frequency of publishing twice a year in March and October.
Articles 153 Documents
Finding the way to God through folk songs in Banyumasan, Indonesian, and English versions of Ahmad Tohari’s Bekisar Merah Romala, Almira Ghassani Shabrina
Sintesis Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v17i2.7176

Abstract

As a part of cultural heritage and identity, folk songs can also be found in literary works and their translations. As they often contain cultural references and expressions specific to a particular community, these elements can be complex to translate without losing their cultural significance or meaning. Therefore, to answer this problem, this research aims to identify and explain the strategies employed in rendering the Banyumasan folk songs to Indonesian and English in Ahmad Tohari’s Bekisar Merah and its English translation, The Red Bekisar, utilizing Baker’s classification of translation strategies, i.e., cultural substitution, paraphrase using a related word, superordinate, loan word plus explanation, less expressive word, paraphrase using unrelated words, omission, and illustration. This research is conducted through a descriptive qualitative approach, with the folk songs collected through document analysis utilizing content and thematic analysis. In the Indonesian and English versions of the folk songs, the translators render the Banyumasan culture-specific items in the songs into more general words, neutral and less expressive words, cultural substitution, paraphrasing using related words, and omission in the attempt to achieve both communicative and culturally appropriate translation. It is expected that exploring the strategies for translating folk songs will contribute both to academicians and practitioners, as well as literary translators, in ensuring accurate translation, cultural sensitivity, preserving authenticity, and achieving the communication goals of the traditional folk songs to a global audience.
Aspek kekuasaan tokoh dalam novel Menolak Ayah karya Ashadi Siregar Armet, Armet
Sintesis Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v17i2.5927

Abstract

Penelitian membahas aspek kekuasaan dalam novel Menolak Ayah karya Ashadi Siregar. Adapun tujuan penelitian ini untuk; mendeskripsikan aspek dan mendeskripsikan penyebab terjadinya kekuasaan yang terjadi dalam Menolak Ayah karya Ashadi Siregar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Aspek kekusaan yang terdapat dalam novel Menolak Ayah karya Ashadi Siregar dapat dilihat dari sumber kekuasaan. Pertama, sumber kekuasaan kekayaan. Adanya kekuasaan yang dimiliki oleh orang yang memiliki harta benda, pendidikan, dan derajat. Kedua, sumber status. Kekuasaan dilakukan oleh orang yang memiliki status tertentu dan dapat mempengaruhi pihak lain untuk memaksa melakukan  kehendak sesuai yang diinginkan. Ketiga, sumber wewenang legal. Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang berdasarkan peraturan-peraturan formal (hukum). Keempat, sumber kepercayan. Sumber kepercayaan (tradisional) adalah kekuasaan yang dilakukan oleh seseorang yang didasarkan pada tradisi, kesucian, atau dasar adat istiadat masyarakat. Kelima, sumber kharisma (wibawa) yaitu, kekuasaan seseorang dapat didasarkan atas pemilikan beberapa sifat pribadi, seperti kecerdasan, atau kharisma dengan sikap pribadi yang melekat pada seseorang tersebut untuk memerintah.
Konflik batin pada tokoh utama dalam novel Rasa karya Tere Liye: Analisis psikologi sastra Lestari, Fitri Anggun; Sugiarti, Sugiarti
Sintesis Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v17i2.5689

Abstract

Konflik batin merupakan hal yang pasti muncul dan menyertai kehidupan manusia, tak terkecuali tokoh dalam sebuah karya sastra. Konflik batin menarik untuk dikaji karena konflik ini memiliki keunikan dan perbedaan pada masing-masing individu. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk-bentuk konflik batin, (2) mendeskripsikan faktor penyebab konflik batin, dan (3) mendeskripsikan dampak konflik batin terhadap kehidupan tokoh dalam novel Rasa karya Tere Liye. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra. Sumber data dari penelitian ini adalah novel Rasa karya Tere Liye. Data penelitian ini berupa satuan cerita yang berbentuk kutipan kalimat, paragraf yang berkaitan dengan konflik batin. Kemudian pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara membaca buku novel Rasa karya Tere Liye dan menandai halaman-halaman yang menggambarkan bentuk dan faktor penyebab konflik batin pada tokoh kemudian mencari referensi yang diperoleh melalui jurnal dan buku yang relevan sebagai penguat analisis data. Analisis data penelitian  dilakukan  dengan  mengklasifikasikan  data,  mengategorikan  data,  serta  menemukan persoalan  penting  terkait  dengan bentuk-bentuk dan faktor penyebab konflik batin. Hasil penelitian menunjukkan adanya bentuk-bentuk konflik batin dalam novel yaitu approach-approach inner conflict, avoidance-avoidance inner conflict, and approach-avoidance inner conflict. Faktor penyebab konflik dibagi menjadi dua meliputi faktor internal yang berupa kecemasan, depresi, dan frustasi dan faktor eksternal yang berupa perbedaan pendirian, keyakinan, dan kepentingan. Selanjutnya, dampak konflik dalam kehidupan tokoh mencakup hal positif, yaitu kreativitas dalam menangani konflik dan hal negatif, yaitu retaknya persahabatan tokoh utama.
Manipulasi tokoh perempuan sebagai dominasi laki-laki dalam film Selesai karya sutradara Tompi: Kajian analisis wacana Sara Mills Ichan, Galuh Rahmah; Zakiyah, Millatuz
Sintesis Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v17i2.5602

Abstract

Film Selesai karya sutradara Tompi dirilis pada tahun 2021. Film ini menyoroti bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang terjadi kepada perempuan dalam lingkup rumah tangga. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan posisi subjek-objek tokoh perempuan, posisi pembaca terhadap film Selesai, citra tokoh perempuan, manipulasi sebagai kekerasan integritas dan mental psikologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis wacana Sara Mills. Data dikumpulkan dengan metode simak dengan teknik catat. Hasil dari penelitian ini adalah (1) tokoh Ayu dan Ibu diposisikan sebagai subjek, (2) tokoh Anya dan Yani diposisikan sebagai objek, (3) posisi pembaca berada pada tokoh Ayu, (4) citra perempuan yang muncul dalam film ini menandakan adanya bentuk dominasi laki-laki dalam rumah tangga, (5) perilaku manipulasi dalam film ini merujuk pada tokoh Ayu dan Yani.
Hierarki kebutuhan tokoh utama Dokter Tono dalam novel Belenggu karya Armijn Pane Rafi, Muhamad
Sintesis Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v17i2.6842

Abstract

Manusia yang kebutuhannya tidak terpenuhi akan selalu berusaha untuk memenuhinya. Abraham Maslow mencetuskan teorinya mengenai hierarki kebutuhan manusia. Tulisan ini memiliki tujuan untuk menjabarkan bentuk hierarki kebutuhan pada tokoh Tono dalam novel Belenggu karya Armijn Pane dengan memakai teori psikologi humanistik yang dicetuskan Abraham Maslow yang berhubungan dengan hierarki kebutuhan manusia. Hierarki kebutuhan terdiri dari kebutuhan fisiologis. Kebutuhan tersebut dapat berupa kebutuhan makan dan minum, pakaian, istirahat, serta seks. Pada kebutuhan psikis dapat berupa kebutuhan rasa aman, kebutuhan rasa cinta, kebutuhan harga diri, kebutuhan aktualisasi diri. Metode yang dipakai pada tulisan ini berupa deskriptif kualitatif dengan sumber datanya adalah novel Belenggu karya Armijn Pane. Hasil penelitian ini berupa deskripsi kebutuhan pada tokoh Tono yang meliputi kebutuhan fisik dan kebutuhan psikis. Kebutuhan fisik tokoh Tono mencakup kebutuhan minum, pakaian, istirahat, dan seks. Sementara itu, kebutuhan psikisnya meliputi kebutuhan rasa aman, rasa cinta, dan aktualisasi diri. Tono memenuhi kebutuhan minum dengan meminta bantuan kepada asistennya untuk diambilkan minum. Kebutuhan pakaian terpenuhi ketika Tono mengenakan pakaian dan melepaskan pakaiannya. Kebutuhan istirahat terpenuhi ketika Tono duduk di dalam kamar sambil membaca buku. Kemudian, kebutuhan seks Tono terpenuhi oleh orang lain, tidak dengan istrinya. Kebutuhan rasa aman terpenuhi ketika Tini tidak mengetahui perselingkuhan suaminya. Kebutuhan rasa cinta Tono terpenuhi oleh orang lain, yaitu oleh Yah, tidak dengan istrinya. Kebutuhan aktualisasi diri terpenuhi ketika masih sekolah kedokteran, Tono berambisi belajar.
Polemik Gitasav-netizen pada wacana childfree di media sosial: Analisis wacana kritis Sara Mills Salamah, Salamah; Nazilah, Halimah Milladunka; Setiawati, Eti
Sintesis Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v17i2.6914

Abstract

Salah satu isu kontroversial yang digaungkan aliran feminisme radikal dan liberal adalah isu childfree yang di Indonesia dipopulerkan oleh influencer Gita Savitri (Gitasav). Penelitian ini bertujuan mengkaji polemik wacana childfree dalam perdebatan di media sosial dengan mengidentifikasi bagaimana penempatan perempuan sebagai subjek-objek serta posisi pembaca dalam menerima wacana childfree di ruang publik. Melalui penelitian kualitatif deskriptif, digunakan studi dokumen sebagai teknik pengumpulan data, dan model analisis wacana kritis Sara Mills sebagai metode analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gitasav sebagai subjek membawa ideologi feminisme yang menghendaki adanya childfree. Gitasav sebagai objek oleh kubu pro didukung karena tubuh wanita adalah haknya dan tidak semua orang tua layak memiliki anak, sedangkan Gitasav sebagai objek oleh kubu kontra ditentang ideologinya karena terlalu bebas, terkesan menuduh dan memojokkan, serta disampaikan dalam tuturan yang tidak santun. Dengan kata lain, terdapat pertentangan ideologi antara ideologi feminisme yang menghendaki adanya childfree dengan budaya Indonesia yang pronatalis. Pembaca dalam wacana Gitasav dan kubu pro ditempatkan sebagai pihak yang mendukung adanya childfree melalui alasan dalam sudut pandangan feminis, sedangkan pembaca dalan pihak kontra diposisikan sebagai pihak yang menentang Gitsasav maupun ideologinya karena adanya ketidaksesuaian budaya. Namun, terdapat juga pihak netral yang menempatkan pembaca sebagai pihak yang mengkritisi sekaligus mendukung kedua ideologi.
Studi bahasa gender dalam film Kartini: Princess of Java dari perspektif sosiolinguistik Jing, Yang
Sintesis Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v17i2.7450

Abstract

Bahasa sebagai alat komunikasi dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pemikiran, emosi, dan psikologi pengguna bahasa. Perbedaan gender dalam bahasa adalah fenomena bahasa yang muncul dari pengaruh faktor-faktor sosial, budaya, fisiologis, dan psikologis pengguna bahasa. Artikel ini menggunakan dialog dari film Kartini: Princess of Java yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo sebagai bahan penelitian. Teori karakteristik bahasa perempuan yang diajukan oleh Lakoff (1975) digunakan sebagai dasar teoretis untuk menganalisis karakteristik bahasa dan gender dan faktor-faktor yang memengaruhi karakteristik bahasa perempuan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak. Untuk menganalisis bahasa gender, artikel ini akan menggunakan metode analisis percakapan dan analisis wacana. Eksplorasi topik ini diharapkan dapat mendorong sejauh mungkin proses penelitian bahasa gender dari sudut pandang sosiolinguistik. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan kesadaran perempuan dan promosi kesetaraan gender dalam masyarakat. Adapun penyajian hasil analisis data dilakukan dengan menggunakan metode informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan menggunakan pertanyaan, kalimat permintaan dengan kata-kata sopan, dan penggunaan bentuk kalimat yang sangat sopan sebagai strategi komunikasi. Hal ini merupakan cerminan atas norma-norma sosial yang berlaku pada masa tersebut.
Noda merah kekuasaan orde baru dalam cerpen “Mei Hwa” karya Gunawan Budi Susanto Julianno, Ivo Trias
Sintesis Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v18i1.7022

Abstract

Karya sastra adalah representsi realitas yang ada di dalam dan di sekitar pengarang. Hal ini membuktikan bahwa sastra bukanlah sebuah teks yang kosong dan terpisah dari fenomena sosial-budaya yang terjadi di masyarakat. Ia mesti mengandung ‘didikan’ yang berguna bagi para pembaca. Demikianlah makna adagium dulce et utile yang dilontarkan Horace. Meski mengurai banyak perdebatan ilmiah, tetapi dua kata di atas betul-betul mampu untuk menjawab makna kehadiran karya sastra di tengah masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk relasi kuasa yang terdapat dalam cerpen “Mei Hwa” karya Gunawan Budi Susanto. Penelitian ini juga membongkar citra rezim Orde Baru selama Reformasi Mei 1998 menggunakan konsep representasi sastra yang berdasar pada konteks historis di sekitar teks tersebut. Metode yang digunakan selama penelitian terbagi dalam tiga tahap, yakni metode pengumpulan data, metode analisis data, dan metode penyajian hasil analisis data. Data-data dikumpul dengan teknik baca-catat lalu dianalisis menggunakan metode analisis konten. Setelah itu, data-data disajikan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dengan menggunakan teori relasi kekuasaan Michel Foucault, ditemukanlah ‘didikan’ yang dimaksud Horace dalam teks cerpen “Mei Hwa”. Data mengenai relasi kuasa yang terdapat dalam cerpen tersebut meliputi relasi kuasa yang bekerja atas pemikiran, meliputi manipulasi agama, kontrol bahasa, hingga stigmatisasi pada etnis Tionghoa, dan relasi kuasa yang bekerja atas tubuh, meliputi objektifikasi tubuh perempuan Tionghoa yang dijadikan hasrat seksual kaum lelaki hingga kontrol atas tubuh individu berdasarkan pada norma social yang berlaku. Dari keseluruhan hasil penelitian tersebut, ditemukanlah beberapa kesimpulan atas representasi Orde Baru dalam teks cerpen, yakni (1) negara Orde Baru menggunakan media agama, budaya, bahasa, hingga lembaga untuk melegitimasi kepentingan kekuasannya di masyarakat, (2) negara Orde Baru menggunakan kekuatan politik identitas sebagai alat propagandanya dalam melanggengkan kekuasaan di Indonesia, dan (3) militer dan aparatur negara selaku instrumen kekuasaan memiliki peran penting dalam setiap peristiwa kelam yang terjadi di negeri ini.
Membaca “Hujan Pertama dari Kampung Kafir” karya Silvester Petara Hurit dengan perspektif cultural studies Koten, Inosensius Soni
Sintesis Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v18i1.7710

Abstract

Tulisan ini merupakan usaha membaca karya sastra dengan menggunakan perspektif Cultural Studies. Teks karya sastra yang digunakan sebagai objek peneltian adalah, cerita pendek ‘Hujan Pertama dari Kampung Kafir’. Cerpen ini ditulis oleh Silvester Petara Hurit dan diterbitkan oleh koran Jawa Pos pada 25 Oktober 2020. Cerpen ini akan dibaca dalam konteks sejarah dan sosial, konsep identitas dalam cultural studies dan konteks produksi, distrubusi dan konsumsi. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah kajian tekstual dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil yang ditemukan bahwa cerita pendek “Hujan Pertama dari Kampung Kafir” ditulis berdasarkan tiga konteks sajarah dan dipengaruhi oleh dua kehidupan sosial yang dominan. Implikasi dari tulisan ini, yakni sekiranya usaha pembacaan dengan persepketif cultural studies ini dapat diperoleh sebuah pemahaman yang lengkap tentang isi cerita pendek ini.
Simbolisasi bunga mawar dalam cerita pendek "Siapa Kirim Aku Bunga?" karya Eka Kurniawan: Analisis dekonstruksi Furqon, Haekal Pradifa
Sintesis Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v18i1.8009

Abstract

Tulisan ini memuat pembacaan dekonstruktif atas sebuah karya sastra, yakni cerita pendek “Siapa Kirim Aku Bunga?” karya Eka Kurniawan. Sebagai sebuah kajian kualitatif diberdayakan metodologi filsafat, yaitu dekonstruksi, sebagai langkah metodis. Tujuannya, untuk memecah kebekuan makna oleh pemaknaan tunggal yang diusung oleh ideologi teks “Siapa Kirim Aku Bunga?”, utamanya terkait simbolisasi bunga mawar dan makna lain yang mengikutinya. Secara metodis, analisis berjalan dengan: (1) menentukan pusat teks, (2) inventarisasi oposisi-oposisi biner, (3) membalik hierarki metafisik, serta (4) mendiseminasi makna. Pada hasil pembacaan kritis yang digelar, teridentifikasi “bunga mawar sebagai tanda ungkapan cinta” menjadi pusat teks sekaligus pemaknaan lumrah dan prioritas payung oposisi biner, yang ditopang oleh sederet binaritas, di antaranya: “Eropa/Non Eropa”, “Noni/Gadis lokal”, “Pemerintah Hindia Belanda/Warga masyarakat lokal”, “Sopan/Tidak sopan”, “Pantas/Sembrono”, “Sama/Berbeda”, “Kolonial/Bumiputera”, “Pejabat/Jongos”, “Setelan Eropa/Kebaya Jawa”, “Normal/Aneh”. Ditegaskan bunga dan bunga mawar sebagai suatu undécidable atau ambiguitas, yang darinya lahir pembalikan atas hierarki metafisik pada binaritas yang ada, yang kemudian lewat diseminasi, ketunggalan makna berhasil didobrak. Hasilnya, bunga mawar tidaklah lagi sekadar dimaknai sebagai tanda/ungkapan cinta, melainkan berdasarkan logika internal teks sendiri dapat pula merentangkan signifikasi yang sebelumnya terabaikan, seperti: bunga mawar sebagai representasi rasa subversif dan perlawanan, makna keringnya cinta, atau perwujudan dari realitas pascakolonial seperti mimikri. Pembacaan dekonstruktif yang dilakukan juga berhasil mengangkat eksistensi krusial bunga mawar sebagai aktan atau agen non-manusia lewat pluralitas posibilitas simbolisasi yang dimungkinkannya. Pada akhirnya, melalui analisis atas cerita pendek ini juga berhasil diperlihatkan bagaimana metodologi filsafat seperti dekonstruksi diberdayakan untuk membuka pembacaan kritis atas teks secara lebih luas dan radikal.