cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Mirai Management
ISSN : -     EISSN : 25974084     DOI : -
Core Subject : Economy, Science,
Jurnal Mirai Management adalah jurnal berkala ilmiah yang diterbitkan Program Pascasrajan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) AMKOP Makassar terbit perdana sejak tahun 2016.
Arjuna Subject : -
Articles 1,823 Documents
Pengaruh Pelayanan dan Motivasi Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor DKP2B dan Satpol PP Provinsi Papua Barat Daya Marten Bless; Wa Ode Likewati; Pahmi Pahmi; Amiruddin Amiruddin
Jurnal Mirai Management Vol 11, No 2 (2026)
Publisher : STIE AMKOP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/mirai.v11i2.12447

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelayanan dan motivasi terhadap kinerja pegawai pada Kantor Dinas Kebakaran dan Penyelamatan Penanggulangan Bencana (DKP2B) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Papua Barat Daya, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal komparatif. Populasi penelitian adalah seluruh pegawai aktif di kedua instansi yang berjumlah 146 orang, dan seluruhnya dijadikan sampel (teknik sensus). Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert 1–4. Instrumen penelitian diuji validitas menggunakan korelasi Pearson Product-Moment dan reliabilitas menggunakan Cronbach's Alpha. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda, uji t (parsial), uji F (simultan), serta koefisien determinasi (R²). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai (nilai signifikansi 0,012 < 0,05; koefisien regresi 0,199); (2) Motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai (nilai signifikansi 0,000 < 0,05; koefisien regresi 0,688); (3) Secara simultan, pelayanan dan motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai (nilai signifikansi 0,000 < 0,05). Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,716, yang berarti bahwa 71,6% variasi kinerja pegawai dapat dijelaskan oleh variabel pelayanan dan motivasi, sedangkan sisanya 28,4% dijelaskan oleh variabel lain di luar penelitian. Motivasi merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi kinerja pegawai di lingkungan DKP2B dan Satpol PP Provinsi Papua Barat Daya. Penelitian ini merekomendasikan kepada pimpinan instansi untuk meningkatkan kualitas pelayanan internal melalui komunikasi yang efektif, kejelasan prosedur, dukungan pimpinan, serta sistem penghargaan berbasis kinerja guna meningkatkan motivasi dan kinerja pegawai secara berkelanjutan.
Pengaruh Pelayanan, Komitmen Organisasi dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai Pada Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Barat Daya Alfius Antoh; Pahmi Pahmi; Wa Ode Likewati; Rosdinaman Budi
Jurnal Mirai Management Vol 11, No 2 (2026)
Publisher : STIE AMKOP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/mirai.v11i2.12369

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelayanan, komitmen organisasi, dan budaya organisasi terhadap kinerja pegawai pada Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Barat Daya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif. Populasi penelitian adalah seluruh pegawai Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Barat Daya yang berjumlah 52 orang, dengan sampel sebanyak 50 orang karena 2 orang meninggal dunia. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh (sensus). Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan skala Likert 4 poin yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS versi 24.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pelayanan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai dengan nilai koefisien regresi 0,012 dan signifikansi 0,916 > 0,05; (2) Komitmen organisasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai dengan nilai koefisien regresi 0,013 dan signifikansi 0,905 > 0,05; (3) Budaya organisasi berpengaruh positif dan sangat signifikan terhadap kinerja pegawai dengan nilai koefisien regresi 0,700 dan signifikansi 0,000 < 0,05 serta nilai standardized coefficients Beta (β = 0,734) yang menunjukkan budaya organisasi sebagai variabel paling dominan; (4) Secara simultan, pelayanan, komitmen organisasi, dan budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai dengan nilai Fhitung 19,162 > Ftabel dan signifikansi 0,000 < 0,05, serta nilai R Square sebesar 0,555 yang berarti 55,5% variasi kinerja pegawai dapat dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut. Kesimpulan penelitian ini adalah budaya organisasi merupakan determinan utama kinerja pegawai pada Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Barat Daya, sementara pelayanan dan komitmen organisasi tidak terbukti berpengaruh secara parsial. Dalam konteks organisasi publik baru di daerah pemekaran, pembangunan budaya organisasi yang kuat dan berorientasi pada pelayanan menjadi fondasi strategis sebelum faktor-faktor lain dapat berdampak signifikan. Saran yang diberikan antara lain pimpinan perlu menjadi teladan dalam membangun budaya organisasi, menggunakan Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI) untuk identifikasi tipe budaya, mengintegrasikan kearifan lokal Papua, serta memperbaiki sistem penilaian kinerja dengan melibatkan masyarakat.
Model Penguatan dan Pengembangan Karakter PNS Pada Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Shanty Irma Idrus
Jurnal Mirai Management Vol 11, No 2 (2026)
Publisher : STIE AMKOP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/mirai.v11i2.12460

Abstract

Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS) merupakan instrumen strategis untuk membentuk Aparatur Sipil Negara (ASN) yang profesional, berintegritas, dan berkarakter sesuai nilai dasar BerAKHLAK. Namun, pelaksanaannya masih cenderung berfokus pada aspek kognitif sehingga internalisasi nilai belum berkembang menjadi budaya kerja yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik pembentukan karakter pada berbagai organisasi sebagai dasar penyusunan model penguatan dan pengembangan karakter PNS melalui rekonstruksi kurikulum Latsar CPNS dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain multiple case study. Data diperoleh melalui studi literatur, studi dokumen, dan wawancara semi-terstruktur pada Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, Sekretariat Jenderal DPR RI, dan PT PLN (Persero), serta didukung studi dokumen di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan PT. Paragon Technology and Innovation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter dipengaruhi oleh integrasi pembelajaran berbasis pengalaman, refleksi kritis, mentoring, coaching, habituasi, keteladanan pimpinan, dan budaya organisasi. Berdasarkan sintesis praktik terbaik tersebut, penelitian ini menawarkan model rekonstruksi kurikulum Latsar CPNS yang mengintegrasikan experiential learning, transformative learning, pembelajaran berbasis karakter, dan habituasi berkelanjutan pada masa percobaan CPNS selama satu tahun untuk memperkuat internalisasi nilai BerAKHLAK serta menghasilkan ASN yang profesional, adaptif, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan publik.
Pengaruh Kepuasan Konsumen dan Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Pengunjung Wisatawan Pada Objek Wisata Malaumkarta Sorong Federika Yumame; Pahmi Pahmi; Wa Ode Likewati; Rosdinaman Budi
Jurnal Mirai Management Vol 11, No 2 (2026)
Publisher : STIE AMKOP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/mirai.v11i2.12435

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepuasan konsumen dan kualitas pelayanan terhadap loyalitas pengunjung wisatawan di Objek Wisata Malaumkarta, Kabupaten Sorong. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan survei terhadap 70 responden pengunjung yang dipilih secara purposive. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan teknik analisis regresi berganda, uji t, uji F, serta koefisien determinasi melalui bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan pengunjung berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas (signifikansi 0,000; koefisien 0,489). Sebaliknya, kualitas pelayanan tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap loyalitas (signifikansi 0,056), meskipun secara bersama-sama dengan kepuasan, kedua variabel tersebut berpengaruh signifikan secara simultan terhadap loyalitas (signifikansi uji F 0,000). Model penelitian ini mampu menjelaskan 34,2% variasi loyalitas pengunjung (R² = 0,342). Temuan ini mengimplikasikan bahwa dalam membangun loyalitas di destinasi alam seperti Malaumkarta, fokus strategis utama harus diarahkan pada peningkatan kepuasan pengunjung secara holistik, mulai dari pengalaman di lokasi hingga layanan pasca-kunjungan. Sementara itu, kualitas pelayanan berperan lebih sebagai faktor pendukung yang berkontribusi secara tidak langsung melalui pembentukan kepuasan. Penelitian ini merekomendasikan agar pengelola destinasi memprioritaskan konservasi dan pengelolaan daya tarik alam sebagai core product, sambil tetap mengoptimalkan pelayanan sebagai hygiene factor untuk mencegah ketidakpuasan.
Pengaruh Heartist Training Dan Employee Engagement Terhadap Kinerja Karyawan Hotel Mercure Kuta Ni Kadek Ayu Wiyantari; I Gusti Ngurah Sanjaya, Ni Wayan Sukartini
Jurnal Mirai Management Vol 11, No 2 (2026)
Publisher : STIE AMKOP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/mirai.v11i2.12416

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Heartist Training dan Employee Engagement terhadap Kinerja Karyawan di Hotel Mercure Kuta Beach Bali. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peningkatan kinerja karyawan dalam industri perhotelan yang sangat bergantung pada kualitas pelayanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode asosiatif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 69 karyawan Hotel Mercure Kuta Beach Bali, sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 42 responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling, yaiut karyawan yang telah mengikuti Heartist Training. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner dan dialanisis menggunakan analisis regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Heartist Training merupakan variabel yang berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan, sedangkan Employee Engagement belum menunjukan pengaruh yang signifikan, hal tersebut berarti peningkatan kinerja karyawan lebih banyak dipengaruhi oleh kompetensi dan keterampilan yang diperoleh melalui program pelatihan, sehingga Hotel Mercure Kuta Beach Bali perlu mempertahankan dan meningkatkan pelaksanaan Heartist Training serta tetap menjaga Employee Engagement untuk mendukung pencapaian kinerja yang optimal.
Pengaruh Strategi Resiliensi terhadap Kinerja Organisasi di Tengah Ketidakpastian Global (Studi pada Karyawan PT XYZ di Bekasi) Putri Aulia Dewi; Endang Mulyani; Vina Faujiah; Ivory Giyan Mitari; Pupung Purnamasari
Jurnal Mirai Management Vol 11, No 2 (2026)
Publisher : STIE AMKOP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/mirai.v11i2.12248

Abstract

Ketidakpastian global yang ditandai oleh krisis ekonomi, inflasi, disrupsi teknologi, dan dampak pascapandemi COVID-19 menuntut organisasi memiliki strategi resiliensi yang kuat untuk mempertahankan kinerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh strategi resiliensi organisasi yang meliputi adaptabilitas, kapasitas pemulihan, dukungan manajemen, dan inovasi berkelanjutan terhadap kinerja organisasi pada karyawan PT XYZ di Bekasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 120 karyawan yang dipilih melalui purposive sampling dan stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan dianalisis dengan regresi linear berganda serta Structural Equation Modeling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh dimensi strategi resiliensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja organisasi, baik secara parsial maupun simultan. Adaptabilitas menjadi variabel paling dominan dengan koefisien beta sebesar 0,412. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,678 menunjukkan bahwa 67,8% variasi kinerja organisasi dapat dijelaskan oleh strategi resiliensi organisasi. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan kemampuan adaptasi, sistem pemulihan, dukungan manajemen, dan budaya inovasi penting untuk meningkatkan kinerja serta menjaga daya saing organisasi di tengah ketidakpastian global. Kata Kunci: strategi resiliensi organisasi; adaptabilitas; kapasitas pemulihan; dukungan manajemen; inovasi berkelanjutan; kinerja organisasi.
Assessing International Market Attractiveness Using an AHP-SAW-TOPSIS Decision Support Framework Michael Sandy, Ketut Vini Elfarosa; I Putu Yoga Laksana
Jurnal Mirai Management Vol 11, No 2 (2026)
Publisher : STIE AMKOP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/mirai.v11i2.12502

Abstract

Pemilihan pasar internasional menjadi proses yang menantang bagi bisnis karena adanya perbedaan prospek pasar dan kondisi antarnegara. Penelitian ini menilai daya tarik pasar negara emerging dan berkembang terpilih melalui kerangka pendukung keputusan yang mengintegrasikan AHP, SAW, dan TOPSIS. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif, analisis ini menggunakan data sekunder dari dua puluh negara dan sembilan indikator bisnis global yang dikelompokkan ke dalam dimensi ekonomi, teknologi, dan institusional. Dimensi ekonomi mencakup GDP, GDP per capita, dan labour force. Dimensi teknologi mencakup ICT Index, Global Innovation Index, dan Logistics Performance Index, sedangkan dimensi institusional mencakup Regulatory Quality, Corruption Perception Index, dan Sustainability Index. Seluruh indikator ditransformasikan menggunakan normalisasi Min-Max agar dapat dibandingkan. AHP digunakan untuk menentukan bobot kriteria, sedangkan SAW dan TOPSIS diterapkan untuk menghasilkan dan membandingkan peringkat daya tarik pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi ekonomi memperoleh prioritas tertinggi, diikuti oleh dimensi teknologi dan institusional. SAW dan TOPSIS menghasilkan hasil yang konsisten, dengan China berada pada peringkat pertama, diikuti oleh Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Polandia. Temuan ini menunjukkan bahwa daya tarik pasar lebih tepat dinilai melalui pendekatan pendukung keputusan multidimensional daripada melalui satu indikator ekonomi saja. Kata Kunci: pemilihan pasar internasional, daya tarik pasar, pengambilan keputusan multikriteria, AHP-SAW-TOPSIS, pasar emerging dan berkembang
Pengaruh Kebijakan Organisasi dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Pada BPKSDM Provinsi Papua Barat Muhamad Zulfian; Vebby Anwar; Pahmi Pahmi; Andi Irwan
Jurnal Mirai Management Vol 11, No 2 (2026)
Publisher : STIE AMKOP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/mirai.v11i2.12452

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kebijakan organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja pegawai, baik secara parsial maupun simultan, pada Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Provinsi Papua Barat Daya. Latar belakang penelitian didasari oleh fenomena ketidakseimbangan kinerja pegawai serta tantangan geografis dan sosial-ekonomi yang beragam di Provinsi Papua Barat Daya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi penelitian adalah seluruh pegawai BKPSDM Provinsi Papua Barat Daya sebanyak 105 orang, dan teknik sampling jenuh digunakan sehingga seluruh populasi menjadi sampel. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert 5 poin, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS versi 24.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kebijakan organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai (nilai signifikansi 0,000; thitung 7,733 > ttabel 1,984); (2) motivasi kerja secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai (nilai signifikansi 0,051 > 0,05; thitung 1,975 < ttabel 1,984); (3) kebijakan organisasi dan motivasi kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai (nilai signifikansi 0,000; Fhitung 34,984 > Ftabel 3,09). Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,407 menunjukkan bahwa kedua variabel independen mampu menjelaskan 40,7% variasi kinerja pegawai, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Penelitian ini merekomendasikan agar pimpinan BKPSDM Provinsi Papua Barat Daya memprioritaskan perbaikan kebijakan organisasi yang adaptif terhadap kebutuhan lokal, serta mengintegrasikannya dengan upaya peningkatan motivasi kerja secara berkelanjutan.
Analisis Pengaruh Kepemimpinan Transformasional dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Pada Biro Pemerintahan Otonomi Khusus (OTSUS) dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Barat Daya Amos Nauw; Vebby Anwar; Pahmi Pahmi; Andi Irwan
Jurnal Mirai Management Vol 11, No 2 (2026)
Publisher : STIE AMKOP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/mirai.v11i2.12370

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan transformasional dan motivasi terhadap kinerja pegawai pada Biro Pemerintahan Otonomi Khusus dan Kesejahteraan Masyarakat Provinsi Papua Barat Daya. Kinerja pegawai merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan organisasi pemerintahan, sehingga diperlukan kepemimpinan yang efektif serta motivasi kerja yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pencapaian tujuan organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada pegawai pada Biro Pemerintahan Otonomi Khusus dan Kesejahteraan Masyarakat Provinsi Papua Barat Daya. Analisis data menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, analisis regresi linear berganda, uji t, uji F, dan koefisien determinasi dengan bantuan aplikasi Statistical Product and Service Solutions (SPSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap kinerja pegawai. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan kepemimpinan transformasional belum mampu meningkatkan kinerja pegawai secara optimal. Sementara itu, motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai, yang berarti semakin tinggi motivasi kerja pegawai maka semakin meningkat pula kinerja pegawai. Secara simultan, kepemimpinan transformasional dan motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai pada Biro Pemerintahan Otonomi Khusus dan Kesejahteraan Masyarakat Provinsi Papua Barat Daya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, organisasi diharapkan dapat meningkatkan motivasi kerja pegawai serta memperkuat penerapan kepemimpinan yang efektif guna meningkatkan kinerja pegawai dan kualitas pelayanan organisasi.
The Effect Of The Teaching Factory And Work-Life Balance On The Performance Of Teachers At Baso State Vocational School 1 Yulihar Nova; Rina Supryanita, Fitria Fitria, Dian Rahmawaty, Nurfitriyenny Nurfitriyenny
Jurnal Mirai Management Vol 11, No 2 (2026)
Publisher : STIE AMKOP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/mirai.v11i2.12130

Abstract

Variations in teacher attendance rates between 2022 and 2025 demonstrate the uneven performance of instructors at SMK Negeri 1 Baso. Performance may have been impacted by the difficulty of putting the teaching factory program into practice. The purpose of this study is to partially and simultaneously examine how the teaching factory and work-life balance affect teachers' performance at SMK Negeri 1 Baso. Fifty-two teachers participated in a quantitative survey. A 1–5 Likert scale questionnaire was used for data collection. SEM-PLS with SmartPLS 3 was used for data analysis. Teacher performance was significantly improved by the teaching factory (β = 0.512, t = 3.348, p < 0.001). There was no significant impact from work-life balance (β = 0.314, t = 1.785, p = 0.037). When combined, the two factors accounted for 61.2% of the variation in teacher performance (R2 = 0.612, F = 38.64, p < 0.001). The most important factor was the teaching factory (f2 = 0.285). The secret to raising teacher performance is to strengthen the teaching factory's implementation. The workload has not yet been adequately balanced by work-life balance. It is recommended that schools give the teaching factory program top priority. Keywords: Role; Teaching Factory; Work-life balance; Teacher performance; Vocational High School