cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMIAH PLATAX
ISSN : 23023589     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Mencakup Penulisan yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara mandiri, atau kelompok, dan berdasarkan Ruang Lingkup Pengelolaan Wilayah Pesisir, Konservasi, Ekowisata, dan Keanekaragaman Hayati Perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
In Vitro Culture of Seaweed Kappaphycus alvarezii under Different Formulation of Growth Stimulating Substances and Culture Media Mega D. Dalero; Grevo S. Gerung; Edwin L.A. Ngangi; Lawrence J.L. Lumingas; Markus T. Lasut
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.23375

Abstract

This study aims at obtaining a sustainably superior seed stock following the characteristics of the parent plant, determining the best formulation of the growth stimulating substance. In general, cytokinin and auxin combination was used, but this study also added with the combination of cytokinin and giberelin and cytokinin and abscisic acid (AA).Parameters measured were bud length, number of buds, and survival rate. Bacterial Vibrio sp test was also done as a cause of the explant mortality. Results showed that the longest bud was recorded in treatment C (S+A 1:2.5) cultured in a jar, 1.343 mm long, 38% of survival, while the highest number of buds was found in treatment B (S+A 1 : 2) 8.86. The shortest bud was recorded in treatment J (S + AA 1:2.5) cultured in a jar, 0.093 mm long, 2.64 buds, 10% of survival, while the explant cultured in the bottle had a length of 0.051 mm long, 1.50 buds, 4% of survival. As conclusion, the best growth stimulating substance was found in the treatment C for the bud length and the survival rate, while the best number of bud was recorded in the treatment B. The best culture tank was topless bottle (aerated). In vitro culture could also use S + G formulation. The explant mortality was caused by Vibrio charchariae. The use of S + AA formulation had lower growth than that of control treatment.Keywords :in vitro, growth stimulating substance, culture media, Kappaphycus alvarezii, Vibrio charchariae ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh benih unggul secara berkelanjutan yang mengikuti karakteristik dari tanaman induk, menentukan formulasi terbaik dari substansi pertumbuhan merangsang. Secara umum, kombinasi sitokinin dan auksin digunakan, tetapi penelitian ini juga menambahkankombinasi sitokinin, giberelin, sitokinin dan asam absisat (AA). Parameter yang diukur adalah panjang tunas, jumlah tunas, dan tingkat kelangsungan hidup. Bakteri Vibrio Uji sp juga dilakukan sebagai penyebab kematian eksplan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa tunas terpanjang terdapat pada perlakuan C (S + A 1: 2,5)  kultur dalam toples, 1,343 mm, 38% hidup, sementara jumlah tertinggi tunas ditemukan pada perlakuan B (S + A 1: 2) 8.86 . Jumlah tunas paling sedikit terdapat pada perlakuan J (S + AA 1: 2,5) yang dikultur dalam toples, 0,093 mm, 2,64 tunas, 10% hidup, sedangkan eksplan yang dikultur dalam botol memiliki panjang 0.051 mm, 1. 50 tunas , 4% bertahan hidup. Sebagai kesimpulan, pertumbuhan terbaik merangsang zat ditemukan dalam perlakuan C untuk panjang tunas dan tingkat kelangsungan hidup, sementara jumlah tunas terbanyak ditemukan pada perlakuan B. Penggunaan wadah budaya terbaik adalah topless yang diaerasi. Kultur in vitro juga dapat menggunakan formulasi S + G. Kematian eksplan disebabkan oleh Vibrio charchariae . Penggunaan formulasi S + AA memiliki pertumbuhan yang lebih rendah dari pada pengobatan kontrol .Kata kunci : in vitro, zat perangsang tumbuh, media kultur, Kappaphycus alvarezii, Vibrio charchariae
Community Structure of Seagrass Molas Waters, Sub-district of Bunaken, Manado City of North Sulawesi Ayuni Sara; Laurentius Th. X. Lalamentik; Ari B. Rondonuwu
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.27602

Abstract

A study in community structure seagrass has been done in Molas, Manado City Area, with the aim : 1. To Identify seagrass species from Molas waters, 2. Knowing the community structure  of seagrass in this area, 3. Knowing the condition of aquatic environmental research location. 5 species from 2 families were found in this research i.e. Hydrocharitaceae (Halophila ovalis, Enhalus acoroides,  and Thalassia hemprichii) and Cymodoceaceae (Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium). The important value of seagrass in the Molas waters showed that Syringodium isoetifolium had important value reaching were 127,31 %. Index of dominance was 0,335 which means no dominance seagrass in this area. The diversity index of seagrass was (H’) 1,328 which is relatively low. The distribution pattern value was 0,5, this shaved that distribution pattern. The temperature in this waters 29.75oC,  salinity 28.5 0/00, the substrate sand  muded  with good water conditions.Keywords: Seagrass; Molas; Identification; Community Structure; Importance Value Index AbstrakPenelitian tentang Struktur Komunitas lamun telah dilakukan di perairan pantai Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken Kota Manado, dengan tujuan: 1. Mengidentifikasi spesies lamun di perairan Molas, 2. Untuk mengetahui Struktur Komunitas Lamun 3. Mengetahui kondisi lingkungan perairan di lokasi penelitian. Lamun yang ditemukan di lokasi penelitian berjumlah 5 spesies dari 2 famili, Hydrocharitaceae (Halophila ovalis, Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii) dan Cymodoceaceae (Cymodocea rotundata dan Syringodium isoetifolium). Indeks nilai penting lamun di perairan Molas menunjukkan bahwa jenis Syringodium isoetifolium memiliki indeks nilai penting tertinggi yang mencapai 127,31 %. Nilai indeks dominansi menunjukkan nilai 0,335 yang berarti tidak ada lamun yang dominan. Indeks keanekaragaman spesies lamun menunjukkan nilai H’ 1,328 yang tergolong rendah. Pola distribusi yang diperoleh nilai 0,5 yang menunjukkan lamun di perairan Molas memiliki pola distribusi mengelompok. Hasil pengukuran parameter lingkungan di perairan Molas yaitu: suhu 29,75 oC, salinitas 28,5 0/00, substrat pasir berlumpur dengan kondisi perairan yang cukup jernih.Kata Kunci: Lamun; Molas; Identifikasi; Struktur Komunitas; Indeks Nilai Penting
Zooplankton Community In Coastal Malalayang Waters Manado Firgiani V. N. Mahipe; Rose O. S. E. Mantiri; Ruddy D. Moningkey
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 1 (2017): ISSUE JANUARY - JUNE 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.1.2017.15808

Abstract

The purpose of this study was to identify the zooplankton, to know the relative density of zooplankton, and to analyze their community structure, such as Diversity Index (H') and Dominance Index (C).Sampling was conducted on September 30th, 2016 at the depth of 50 cm-withdrawn slowly along 40 meter (2x20 meter back and forth) in each station. The water left in the cod end (reservoir bottle) put into a sample bottle, with alcohol 95%, and taken to the laboratory for identification.Based on the identification, there were 25 species of zooplankton (19 adults, one final larval stage brachyura, 4 larvae of mollusks and worms, and 1 fish larvae 1 unidentified), namely: Oncaea sp. [1], Oncaea sp. [2], Oncaea sp. [3], Diastylis sp., Monstrilla sp., Euchaetomera sp., Euchaeta sp., Ibacus sp., Oithona sp., Synchaeta sp., Farranula sp., Macrosetella sp., Eurydice sp., Calanus sp., Lucifer sp., Eucalanus sp., Scolecithricella sp., Lucicutia sp., Lepidasthenia sp., megalops brachyura, zoea brachyura, larvae of eulimella, larvae of echinospira, larvae of corethra and larvae of fish. Relative density was the highest in Oncaea sp. (34.21%) and Diversity Index (H') was classified as moderate. The diversity index showed that the zooplankton community was less diverse. Dominance Index (C) was also low indicating no species was dominant in the coastal waters of Malalayang.Keyword : Community, zooplankton, Malalayang DuaAbstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis–jenis zooplankton, mengetahui kepadatan relatif zooplankton, dan menganalisa struktur komunitas zooplankton seperti Indeks Keanekaragaman (H’) dan Indeks Dominasi (C).Pengambilan sampel dilakukan pada 30 September 2016 dengan cara memasukkan plankton net sedalam 50 cm, kemudian ditarik sambil berjalan secara perlahan sepanjang 40 meter (2x20 meter bolak-balik) di tiap stasiun. Air yang tersaring dalam cod end (botol penampungan) dituangkan di dalam botol sampel dan ditambahkan/diawetkan dengan alkohol 95%. Selanjutnya, sampel tersebut dibawa ke Laboratorium untuk diidentifikasi.Berdasarkan hasil identifikasi diperoleh 25 jenis zooplankton (19 dewasa, 1 organisme muda [tahap akhir larva] zooplankton, 4 larva zooplankton dan 1 larva ikan yang tidak teridentifikasi) yaitu: Oncaea sp. [1], Oncaea sp.[2], Oncaea sp.[3], Diastylis sp., Monstrilla sp., Euchaetomera sp., Euchaeta sp., Ibacus sp., Oithona sp., Synchaeta sp., Farranula sp., Macrosetella sp., Eurydice sp., Calanus sp., Lucifer sp., Eucalanus sp., Scolecithricella sp., Lucicutia sp., Lepidasthenia sp., Megalopa Brachyura, Zoea Brachyura, Larva Eulimella, Larva Echinospira, Larva Corethra dan Larva Ikan. Kepadatan Relatif tertinggi terdapat pada Oncaea sp. sebesar 34,21% Nilai Indeks Keanekaragaman (H’) zooplankton di tiga Stasiun tergolong sedang. Nilai tersebut menunjukkan bahwa komunitas organisme dalam kondisi yang kurang beragam. Hasil Indeks Dominasi (C) termasuk kriteria dominasi rendah, menunjukkan bahwa tidak ada spesies yang mendominasi di perairan pantai Malalayang.Kata kunci : Komunitas, zooplankton, Malalayang Dua
Avicennia marina Leaf Morphometric Digital Data Visualization In Tongkaina And Bintauna Coastal Areas Robot, Rianto; Sangari, Joudy R. R.; Toloh, Boyke H.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 6, No 1 (2018): ISSUE JANUARY-JUNE 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.1.2018.17878

Abstract

The development of biology has been a major step in explaining variations in form. Information on the morphometric characteristics of A. marina leaves can be collected, managed, calculated and displayed visually using the current emerging technologies. The emerging technology is image processing software. In this study, the leaf identification was performed automatically on digital image data to measure variations and make morphometrics leaf digitalization using the software. Measurement and visualization on the morphometric s of the shape based on digital image data is still rare. To know the comparison of morphometric characters of leaf based on location difference, the research was done by comparing morphometric of A. marina leaves in Bintauna and Tongkaina using digital image processing technology and object analysis. A. marina leaf samples were collected and imaged with the camera. Furthermore, the image is processed with ImageJ to obtain the results of morphometric character and leaf landmark data. The results of the length ratio and width of the leaf were tested by t test, while the landmark data was visualized with PAST software. Image data also analyzed and visualized using elliptic Fourier descriptors (EFDs) method, plus visualization of the size and overall shape of leaf contours using Photoshop. The results showed that the size of A. marina leaves in Tongkaina are greater than that of Bintauna. A. marina leaves at Tongkaina have a length of 65,36 mm, width 36,02 mm, wide by 169,24 mm2 and circle 178,78 mm, While in Bintauna have a length of 63,76 mm, width 31,82 mm, width 149.63 mm2 and circle 166.50 mm. Visualization applied directly on A. marina leaf shape using the technique of point of coordinates of leaf (landmark) and leaf edge contour detection technique using Photoshop, the result of a whole analysis indicates that A. marina leaves in Tongkaina have symmetrical mean (morphometric) which is slightly different than those in Bintauna. Based on the result of EFDs method calculation and statistical t test, the result shows that leaf size of both populations of A. marina in Tongkaina and Bintauna has no difference.Keywords: Digital Imagery, Visualization, Morphometrics, Avicennia marina, Bintauna, TongkainaABSTRAKPerkembangan biologi telah menjadi langkah besar dalam menjelaskan variasi bentuk. Informasi mengenai data karakteristik morfometrik daun A. marina dapat dikumpulkan, dikelola dan dihitung serta ditampilkan secara visual menggunakan teknologi yang berkembang saat ini. Teknologi yang sedang berkembang adalah perangkat lunak pengolah gambar. Identifikasi daun dapat dilakukan secara otomatis pada data citra digital untuk mengukur variasi dan membuat digitalisasi morfometrik daun menggunakan perangkat lunak.Pengukuran dan penggambaran (visualisasi) mengenai bentuk morfometrik berdasarkan data citra digital masih belum banyak dilakukan. Untuk mengetahui perbandingan karakteristik morfometrik daun berdasarkan perbedaan lokasi, dilakukan penelitian dengan membandingkan morfometrik daun A. marina yang ada di Bintauna dan Tongkaina menggunakan teknologi digital image processing dan analisis objek untuk melakukan visualisasi data. Sampel daun A. marina dikumpulkan dan dicitrakan dengan kamera. Selanjutnya citra diproses dengan ImageJ untuk mendapatkan hasil pengukuran karakter morfometrik dan data landmark daun. Hasil pengukuran rasio panjang dan lebar daun diuji dengan uji t, sedangkan data landmark divisualisasi dengan perangkat lunak PAST. Data citra juga dianalisis dan divisualisasi dengan metode elliptical fourier descriptors (EFDs), ditambah dengan visualisasi ukuran dan bentuk keseluruhan dari kontur daun menggunakan Photoshop. Hasil penelitian menunjukan bahwa ukuran daun A. marina yang ada di Tongkaina lebih besar dibandingkan dengan yang ada di Bintauna. Daun A. marina di Tongkaina memiliki ukuran panjang 65,36 mm, lebar 36,02 mm, luas 169,24 mm2 dan lingkaran 178,78 mm, Sedangkan di Bintauna memiliki ukuran panjang 63,76 mm, lebar 31,82 mm, luas 149,63 mm2 dan lingkaran 166,50 mm. Visualisasi secara langsung dari bentuk daun A. marina dengan teknik menggunakan titik koordinat daun (landmark) serta menggunakan teknik pendeteksian tepi bentuk kontur daun menggunakan Photoshop, hasil analisis keseluruhan menunjukan bahwa daun A. marina yang ada di Tongkaina memiliki bentuk rata-rata kesimetrisan (morfometrik) yang sedikit berbeda dibandingkan dengan yang berada di Bintauna. Berdasarkan hasil uji statistik dengan metode (EFDs) kemudian dilanjutkan dengan uji t, menunjukan hasil bahwa ukuran daun kedua populasi A. marina yang di Tongkaina dan Bintauna adalah tidak berbeda.Kata kunci : Citra digital, Visualisasi, Morfometrik, Avicennia marina, Bintauna, Tongkaina 
The biodiversity of macroalgae in the coastal waters of Kora-Kora, East Lembean Sub-District, Minahasa Regency Rene Ch. Kepel; Desy M. H. Mantiri
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.2.2019.23727

Abstract

This study was carried out in coastal waters of Kora-Kora, East Lembean Sub-District, Minahasa Regency with an objective of knowing the taxa composition of macroalgae through morphological studies. Data collection used exploring survey. Results found 10 species that consisted 1 species of red algae (Rhodophyta), 6 species of brown algae (Phaeophyta), and 3 species of green algae (Chlorophyta).Keyword: Macroalgae, Kora-Kora. ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di perairan pesisir Kora-Kora, Kecamatan Lembean Timur, Kabupaten Minahasa dengan tujuan untuk mengetahui komposisi taksa makroalga melalui pendekatan morfologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode survei jelajah. Hasil penelitian menemukan 10 spesies, yang terdiri dari 1 spesies alga merah (Rhodophyta), 6 spesies alga cokelat (Phaeophyta)) dan 3 spesies alga hijau (Chlorophyta).Kata Kunci: makroalga, Kora-Kora.
Coral Fish Community of Chaetodontidae in the Coral Reef of Poopoh Village, Tombariri District, Minahasa Regency Unstain N. W. J. Rembet; Ari B. Rondonuwu; Laurentius T. X. Lalamentik
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 6 No. 2 (2018): ISSUE JULY-DECEMBER 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.2.2018.21246

Abstract

This study was aimed to determine the number of species, number of individual, density, and the structure of community of Chaetodontidae. This research was conducted in the waters of Poopoh Village, Tombariri District, Minahasa Regency, North Sulawesi Province. Data collection was carried out at a depth of 5 meters with the Underwater Visual Census (UVC) method with an observation area of 250 m2.  Chaetodontidae have been found on the coral reefs of Poopoh Village, Tombariri District, consisting of 3 (three) genera,  Chaetodon, Forcipiger, and Heniochus with 13 species and 51 number of individuals. The diversity of species in Poopoh is categorized as moderate. The highest density of coralivorous fish found in Chaetodon kleinii species is 360 individuals / Ha followed by Heniochus acuminatus which is 240 individuals / Ha. The diversity of Chaetodontidae in this location is high. This condition is also seen in the maximum index (Hmax) which is not far above the value of H '.Keywords: Coral reef, Chaetodontidae, Poopoh Village ABSTRAKTujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui jumlah spesies, kelimpahan individu, densitas,  dan struktur komunitas ikan Chaetodontidae.  Penelitian ini dilakukan  di perairan Desa Poopoh, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.  Pengambilan data dilakukan pada kedalaman 5 meter dengan metode Underwater Visual Census (UVC) dengan luas areal pengamatan adalah 250 m2.   Ikan karang Chaetodontidae  telah ditemukan di terumbu karang Desa Poopoh, Kecamatan Tombariri,  terdiri dari 3 (tiga) marga yaitu Chaetodon, Forcipiger, dan Heniochus dengan 13 spesies dan 51 individu. Keragaman spesies di Poopoh dikategorikan sedang. Densitas tertinggi ikan koralivora ditemukan pada jenis Chaetodon kleinii yaitu 360 individu/Ha diikuti Heniochus acuminatus yaitu 240 individu / Ha. Keanekaragaman spesies Chaetodontidae di lokasi ini tergolong tinggi. Kondisi ini terlihat juga pada indeks maksimum (Hmax) yang tidak berada jauh di atas nilai H ’.Kata Kunci: Terumbu karang, Chaetodontidae, Desa Poopoh, .
Condition and the state of coral reef management in Lembeh Island waters of Bitung City Kaunang, Steven Ch.; Lalamentik, Laurentius T. X.; Rondonuwu, Ari B.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 3, No 2 (2015): EDISI JULI - DESEMBER 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.3.2.2015.13223

Abstract

Lembeh Island is a small island part of the minicipality of Bitung, It is an area that supportincluding the category of small island, but it is an area that support community life in the mainland who mainly living as fishermen. Those fishermen generally made coral reef ecosystems as a location for  fishing. This research is aimed to provide information such as ecological conditions and states of coral reef, that  can be used appropriately in planning and decision making for the development of Lembeh Island waters, especially in the management of coral reef ecosystems. Intern of coral cover Lembeh island can be categorized in good condition and the state of coral reef management can be seen from the utilization activity that still good but tend to degrade over time. The implication, shows that the management and development of today tend to cause less sustainableto coral ecosystems. Keywords : Lembeh Island, coral reef, manajement, sustainability   A B S T R A K Pulau Lembeh merupakan pulau di Kota Bitung, termasuk kategori pulau kecil, tetapi merupakan kawasan yang menunjang kehidupan masyarakat di daratan utama, Masyarakat Pulau Lembeh yang berprofesi sebagai nelayan, umumnya menjadikan ekosistem terumbu karang sebagai lokasi penangkapan ikan karang. Penelitian ini dapat memberikan informasi berupa kondisi ekologi serta status pengelolaan ekosistem terumbu karang, sehingga dapat digunakan secara tepat dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan guna pengembangan perairan Pulau Lembeh, khususnya dalam pengelolaan ekosistem terumbu karang di masa mendatang. Kondisi terumbu karang Pulau Lembeh berdasarkan tutupan karang batu dapat dikategorikan baik, dan status pengelolaan terumbu karang dilihat dari kegiatan pemanfataan saat ini masih baik tapi cenderung menurunkan kualitas kawasan.  Implikasinya, memperlihatkan bahwa pengelolaan dan pembangunan saat ini cenderung ditata ke arah kurang berkelanjutan. ________________________________________________________________ Keywords : pulau lembeh, terumbu karang, pengelolaan, keberlanjutan _____________________ 1 Alumni Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK Unsrat 2Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi 3;Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Automatic underwater LED light and fish behavior observations Alfian M Berlianmastan; Angga J Aponno; Refindo Arundaa; Isti Utami Indah Sari Ali; Wilhelmina Patty
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.2.2019.24897

Abstract

Since the fishing ground is getting farther from the coastal waters, Fish Aggregating Device is needed  as auxiliary fishing gear. Light is one of the auxiliary gear to attract fish gathering in the fishing ground. The use of underwater light has the potential to make the fish be in the target locality. Fish distribution underwater can be detected using a fish finder. Both technologies was applied to the partnership fishermen in Malalayang Satu Timur, Manado Bay, who have got impact of the coast reclamation. The technological implementation of yellow and red LED-sourced light underwater can be automatically turned on through automatically charged solar. In fishing operations, together with the partnership fishermen, the underwater light and the fish finder were put on the 3x4 m raft. Results revealed that the use of these technologies gave the economic advantage obtained that the catch has increased from the average before using the underwater light of 150 kg / trip to 400 kg / trip, after using this technologic underwater light.The average fishermen's income increased from the previous Rp 1,439,500 / trip to Rp. 4,020,000 / trip, after using of underwater light. The fish finder observation showed that the fish migration to the fishing ground was highly affected by the light color as well.Keywords: Light, fish behavior, Manado.ABSTRAKDengan semakin bergeser daerah penangkapan yang semakin jauh dari wilayah pesisir, maka diperlukan alat bantu penangkapan. Cahaya merupakan salah satu alat bantu penangkapan yang membuat ikan terpikat untuk berkumpul di suatu lokasi penangkapan. Penggunaan lampu dalam air memiliki keunggulan untuk memikat ikan karena berada langsung di lokasi ikan. Distribusi ikan yang berada di sekitar lampu dalam air dapat dideteksi dengan menggunakan fish finder. Kedua tipe teknologi ini diterapkan ke nelayan mitra di kelurahan Malalayang Satu Timur yang merupakan salah satu lokasi di Teluk Manado yang terkena dampak reklamasi di Teluk Manado. Penerapan teknologi alat bantu cahaya dua warna kuning dan merah bersumber dari lampu LED dalam air dan dapat dinyalakan secara otomatis dengan bantuan panel surya dan control charge otomatis. Dalam kegiatan penangkapan, bersama nelayan mitra, alat bantu lampu dalam air dan fish finder diletakan dirakit berukuran 3x4 m2. Keunggulan ekonomis yang diperoleh nelayan adalah jumlah hasil tangkapan mereka meningkat dari rata-rata sebelum menggunakan lampu sebanyak 150 kg/trip menjadi 400 kg/trip, setelah menggunakan lampu LED dalam air otomatis. Pendapatan nelayan rata-rata sebelum menggunakan lampu LED dalam air tenaga surya otomatis, sebesar Rp 1.439.500/trip menjadi Rp. 4.020.000/trip, setelah menggunakan lampu LED dalam air otomatis. Pengamatan dengan fish finder menunjukan bahwa migrasi ikan ke daerah penangkapan  sangat dipengaruhi oleh penggunaan warna lampu kuning dan merah.Kata kunci: Lampu, Tingkah laku ikan, Manado
Vertical Distribution Of Hard Corals In Southern Siladen Island John L. Tombokan; Unstain N. W. J. Rembet; Silvester B. Pratasik
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 1 (2017): ISSUE JANUARY - JUNE 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.1.2017.14972

Abstract

This study was aimed at provide information on hard coral distribution in southern Siladen Island. The work was done using SCUBA gear Line Intercept Transect (LIT). Thirty m long-line transects were placed at the reef flat, 5 m depth, 10 m depth, 15 m depth, and 20 m depth. A total of 44 hard coral genera was recorded, and the highest number of genre was found at 5 m depth. Coral species diversity was also high enough at the reef flat (1.032) and 5 m depth (1.28). Coral reef condition at 10 m depth was good enough as well and categorized as productive due to much higher percent of the biotic component than the abiotic component. The dominant life forms consisted of tabulate Acropora and branching corals at the reef flat, encrusting corals, branching corals, and foliose corals at 5 m, encrusting corals at 10 and 20 m depth, and massive corals, encrusting corals, and branching corals at 15 m depth, respectively. Keywords: coral reef, distribution, LIT, vertical zonationl.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan informasi tentang distribusi karang batu di sebelah selatan pulau Siladen. Penelitian ini dilakukan menggunakan alat selam SCUBA dan metode transek intersep garis. Tali transek sepanjang 30 m diletakkan di rataan terumbu, kedalaman 5, 10, 15, dan 20 m. Total 44 genera karang batu ditemukan pada penelitian ini, dan jumlah genera terbanyak ditemukan pada kedalaman 5 m. Keanekaragaman spesies karang juga cukup tinggi di daerah rataan terumbu (1,032) and 5m (1,28). Kondisi terumbu karang pada kedalaman 10 m juga cukup baik dan dikategorikan produktif karena tingginya komponen biotik dibandingkan dengan komponen abiotik. Bentuk pertumbuhan yang dominan masing-masing terdiri dari Acropora meja dan karang bercabang di rataan terumbu karang, karang encrusting, karang bercabang, dan foliose pada kedalaman 5 m, karang encrusting pada kedalaman 10 dan 20m, serta karang masif, karang encrusting dan karang bercabang pada kedalaman 15m.   Kata kunci: Terumbu karang, distribusi, Transek Intersep Garis, Zonasi vertikal.
Preliminary Study of Fish Abundance and Size in Intertidal Waters Around Unsrat Likupang Laboratory of North Minahasa Regency Ariesta Akbar Martino; Nego E. Bataragoa; Leonardo J. Tombokan
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15935

Abstract

Fish that migrate to tidal areas are usually dominated by the juvenile phase. This research was conducted in order to know the abundance and variation of species that present in the intertidal water areas around Likupang Field Laboratory. Sampling for data was conducted by using a coastal net during the new moon, quater and full moon phase in the months of October and November 2016. The species abundance was calculated based on the Importance Value Index (IVI) formula, length variation and length frequency distribution. During the field study, 723 individuals were recorded that belong to 93 species. The species abundance calculations, based on the important value index (IVI), were found ranging from 6.90% to 0.38%. It was recorded also that there are 3 species with relatively higher IVI score i.e Chelonodon patoca (6.90%), Paraplotosus albilabris (4.74%) and Caranx melampygus (3.75%). The variations in the size among migratory fish are generally abserved in the juvenile phase, except for some species such as Ambassador urotaenia, Plotosus lineatus, Taeniura lymma, and Terapon jarbua that reach adult size.Keywords: juvenile phase, abundance, size variation, important value index ABSTRAKIkan yang bermigrasi ke daerah pasang-surut biasanya didominasi pada fase juvenile. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kelimpahan spesies dan variasi ukuran spesies yang ada di daerah intertidal sekitar Laboratorium Basah Likupang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan jaring pantai pada fase bulan baru, kwartir dan purnama pada bulan oktober dan November tahun 2016. Kelimpahan spesies di analisis dengan pendekatan Indeks Nilai Penting (INP), Variasi Ukuran Panjang dan Distribusi Frekuensi Panjang. Selama penelitian didapat 723 individu dari 93 spesies. Kelimpahan spesies berdasarkan indeks nilai penting (INP) berkisar antara 6,90% sampai 0,38%. Terdapat 3 spesies dengan nilai INP relatif besar yaitu Chelonodon patoca (6,90%), Paraplotosus albilabris (4,74%) dan Caranx melampygus (3,75%). Variasi ukuran ikan yang bermigrasi umumnya adalah ikan dalam fase juvenile, kecuali beberapa spesies yang mencapai ukuran dewasa seperti Ambassis urotaenia, Plotosus lineatus, Taeniura lymma, Terapon jarbua.Kata kunci : Fase juvenile, Kelimpahan, Variasi ukuran, Indeks Nilai Penting

Page 11 of 49 | Total Record : 488


Filter by Year

2012 2025