cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Arsitektur DASENG
ISSN : 23018577     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur DASENG adalah media informasi pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni khususnya Artikel Ilmiah bidang Arsitektur berupa Hasil Penelitian, Hasil Perancangan, Studi Kepustakaan maupun Tulisan Ilmiah.
Arjuna Subject : -
Articles 882 Documents
BALAI KOTA TAHUNA (Arsitektur Art Deco) Binilang, Artahsasta B. P.; Sela, Rieneke L. E.; Takumansang, Esli D.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.8172

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Kepulauan Sangihe dalam periode perkembangan ini, dipengaruhi juga oleh perubahan terhadap sistem administratif pemerintahan kota, yaitu dengan adanya Undang-undang desentralisasi (desentralisasiewet) yang awal mulanya dilaksanakan pada tahun 1905. Undang-undang ini pada prinsipnya ingin memberikan hak kuasa pada kota-kota yang telah di tentukan untuk pemerintah kotanya sendiri di bawah pimpinan seorang walikota. Maka dengan disahkan Undang-Undang desentralisasi,  Kepulauan Sangihe sudah bisa membangun suatu objek yang dapat menjadikan kota Tahuna lebih mandiri, dan objek yang sangat tepat yaitu Balai Kota Tahuna. Balai Kota Tahuna bertujuan untuk memperbaiki kegiatan pemerintahan sehingga akan mudah menyelesaikan segala kegiatan masyarakat serta bisa membuat masyarakat lebih mandiri. Proses perancangan yang digunakan adalah Art Deco yaitu Seni dan Dekorasi yang akan menampilkan suatu bentuk kesenian dari kota Tahuna Baik dalam lukisan, Ukiran, 0rnamen. Sehingga bisa menampilkan bentuk yang indah, dan sesuai gaya hidup masyarakat. Serta memiliki ruang luar dan ruang dalam yang berciri khas. Kata Kunci :  Art, Deco,  Balai,  Kota, Balai Kota
GRAHA JURNALISTIK EXPOSE MANADO (FLEKSIBILITAS DALAM ARSITEKTUR) Uniplaita, Andre E.; Rengkung, Joseph; Takumansang, Esli D.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 5 No. 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v5i2.14101

Abstract

Expose Manado sebagai media yang mewadahi karya foto para jurnalis Manado, yang didukung dengan kemajuan teknologi dan informasi, membuat majalah ini semakin berkembang. Namun perkembangan ini tidak didukung dengan fasilitas bangunan yang kompeten. Maka Graha Jurnalistik Expose Manado yang berfungsi sebagai tempat percetakan majalah, dan kantor jurnalis Manado, mampu mewadahi berbagai kegiatan jurnalis dalam peningkatan kualitas majalah Expose Manado lebih inovatif, serta mendukung kegiatan-kegiatan lain seperti, pameran foto, workshop, percetakan majalah dan lain sebagainya. Untuk mendukung rancangan objek maka tema Fleksibilitas dalam Arsitektur dipilih untuk diimplementasikan dalam rancangan karna dianggap mampu merepresentasikan fungsi objek dan dapat bekerja optimal mengikuti fungsi dan waktu. Fleksibilitas arsitektur sebagai konsep yang ditawarkan dirasa sesuai dengan kebutuhan bangunan saat ini. Sehingga sebuah desain dalam hal ini Graha Jurnalistik Expose Manado dapat berkesuaian dengan ruang tempat maupun waktu sesuai dengan penerapan konsep fleksibilitas dalam arsitektur. Metode rancangan yang dilakukan nantinya bersifat pragmatis dimana menghadirkan explorasi-explorasi bentuk mengikuti orientasi pada site perancangan yang berfungsi optimal untuk jurnalis dan percetakan majalah sebagai profil bangunan itu sendiri. Kata kunci: Expose Manado, Fleksibilitas Arsitektur, Jurnalistik.
MUSEUM SAM RATULANGI . Extending Tradition Tiatira B. F. Pomantow; Herry Kapugu; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24617

Abstract

Kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang yang telah di wariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur, termasuk sistem agama dan politik, adat-istiadat, perkakas, pakaian, bangunan, peristiwa penting, transportasi, karya seni, dan bahasa sebagaimana juga budaya yang telah menjadi sejarah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri  manusia. Sehingga banyak orang cenderung menganggapnya sebagai warisan genetis Museum merupakan lembaga yang diperuntukkan bagi masyarakat umum. Museum juga berfungsi mengumpulkan, merawat, dan menyajikan serta melestarikan warisan budaya untuk tujuan pembelajaran, penelitian ataupun dapat diartikan sebagai hiburan. Museum harus aktif dalam pembangunan moral. Dalam perancangan ini akan dirancangkan sebuah museum yang mana dilengkapi dengan aktifitas edukasi agar masyarakat dapat mempelajari budaya lokal dari Sulawesi Utara mulai dari aspek kesenian, budaya dan nilai lokalitas yang berhubungan erat antara agama dan kebudayaan juga sejarah. Perancangan Museum Sam Ratulangi ini mengusung tema Extending Tradition sebagai titik dasar landasan perancangan, sehingga keutuhan dan kebersamaan merupakan tujuan akhir dalam pencapaian nilai-nilai yang terdapat pada museum ini, pola tatanan ruang museum yang terpusat melambangkan interaksi antar sesama makhluk. Pola tatanan seperti ini diharapkan museum Sam Ratulangi ini akan menumbuhkan nilai-nilai tradisi lokal yang dapat mengedukasi para pengunjung. Kata kunci: Museum Sam Ratulangi di Manado, Extending Tradition.
RUMAH SAKIT MATA DI MANADO (BLIND SPACE - IMPRESI RUANG NON VISUAL PADA ARSITEKTUR) Tewal, Christin F.; Poluan, Roosje J.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 2 No. 3 (2013): Volume 2 No.3 November 2013
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v2i3.3686

Abstract

ABSTRAK   Tingginya jumlah pasien penyakit mata di Kota Manado bahkan Provinsi Sulawesi Utara dalam beberapa tahun terakhir ini, menuntut adanya sarana kesehatan mata yang memiliki kapasitas dan fasilitas yang memadai. Beberapa klinik mata sebenarnya sudah terdapat di Kota Manado, namun beberapa tempat tersebut di rasa kurang memadai dalam melayani kebutuhan masyarakat akan pelayanan terhadap mata mereka secara maksimal. Untuk menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan mata pada masyarakat ini, maka dibutuhkan suatu sarana yang dapat menampung segala kegiatan medis yang berhubungan dengan mata untuk skala pelayanan kota Metropolitan yaitu Rumah Sakit Mata. Objek ini haruslah memiliki suatu kelebihan yaitu dengan penyesuaian terhadap kekurangan dari pada pasien penyakit mata. Dengan mempelajari kebutuhan akan keterbatasan pasien, maka penetapan tema yang sesuai dengan objek Rumah Sakit Mata adalah Impresi Ruang Non Visual Pada Arsitektur. Tema ini memaparkan tentang cara lain merasakan sebuah ruang dengan memanfaatkan fungsi indera-indera pada manusia selain indera penglihatan. Hasil akhir Rumah Sakit Mata Di Manado ini berupa rumah sakit khusus tipe B dengan lebih dari 200 tempat tidur yang juga lengkapi fasilitas-fasilitas penunjang. Penerapan sirkulasi yang mudah serta elemen ruang dalam dan ruang luar yang menerapkan impresi ruang non visual, bertujuan untuk kenyamanan dan kemandirian  pasien dengan tetap mengutamakan kecepatan dan ketepatan pelayanan.   Kata Kunci : Rumah Sakit Mata, Ruang Non Visual, Kenyamanan.
SPORT CENTER GORONTALO. Arsitektur Biomorfik Furnicular Toreh, Stanley J.; Waani, Judy O.; Kapugu, Herry
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17629

Abstract

Olahraga adalah salah satu cara untuk menyehatkan tubuh. Olahraga merupakan sarana bagi sebagian besar orang untuk mengurangi kejenuhan dari aktifitas sehari – hari. Ditambah peminat olahraga meningkat menjadi masalah dalam menyediakan fasilitas atau tempat berolahraga yang representative. Sport Center merupakan solusi kurangnya tempat yang layak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bahkan bisa menjadi tempat olahraga sekalian berekreasi. Rancangan Sport Center Gorontalo ini hadir dengan kategori Gedung Olahraga yang terdiri dari bangunan olahraga tertutup untuk cabang bola voli, basket, dan bulu tangkis  dengan ruang – ruang untuk kegiatan pengelolaan gedung olahraga. Komponen - komponen rancangan ruang – ruang terbuka hijau dan lapangan untuk latihan, serta hadir dengan performa yang terbilang unik dan berpotensi menjadi landmark bagi Kota Gorontalo. Keterbatasan sarana olahraga yang dapat mewadahi klub – klub atau kelompok kelompok orang di Gorontalo yang tidak tertampung oleh fasilitas olahraga yang sudah ada, sehingga mereka berlatih dengan fasilitas seadanya atau berlatih di tempat – tempat yang kurang representatif. Masalah lain yang perlu menjadi perhatian adalah fasilitas – fasilitas olahraga yang ada di Gorontalo kebanyakan tersebar letaknya sehingga sulit bagi klub – klub atau kelompok – kelompok orang untuk menjangkau lokasi fasilitas olahraga. perancangan gedung olahraga untuk mengatasi kebutuhan fasilitas olahraga di kota Gorontalo  yang memiliki keterbatasan dengan fasilitas olahraga dengan memperhatikan kebutuhan kebutuhan olahraga serta rekreasi melalui konsep biomorfik funicular. Penerapan konsep biomorfik pada sport center agar dapat menggunakan elemen eksisting alam sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan bentuk. Kata Kunci : Gedung Olahraga, Gorontalo
TERMINAL PENUMPANG PELABUHAN UMUM DI KOLONODALE (Ekspresi Budaya Mori ‘Tepo Asa Aroa’ dalam Arsitektur) Hermawan, Randi; Rengkung, Michael M.; Makarau, Vecky H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.9268

Abstract

Dalam suatu perkembangan kota di Indonesia terutama dalam sektor laut, sangatlah penting. Mengingat  Indonesia adalah Negara Maritim yang otomatis mempunyai kekayaan alam di bidang kelautan. Dengan melonjaknya arus penumpang masyarakat terutama dalam hal transpotasi laut, sangatlah dibutuhkan akses kapal-kapal laut baik yang berskala besar maupun kecil. Oleh karena itu, dalam prospek perancangan di ambil suatu objek Terminal Penumpang Pelabuhan Umum di Kolonodale. Yang merupakan terminal penumpang dalam hal ini masih belum memenuhi kriteria terminal penumpang pada umunya dengan standar kepelabuhanan di Indonesia. Adapun pendekatan tema perancangan pada objek ini yaitu, Ekspresi Budaya Mori ‘Tepo Asa Aroa’ dalam Arsitektur. Tentunya sangat membantu dalam membuat gagasan-gagasan sketsa ide. Didalamnya akan diterapkan berbagai macam kosnep-konsep nilai budaya, norma-norma, dan perilaku dari masyarakat suku Mori. Kata Kunci :Terminal, pelabuhan, ekspresi, budaya, tepo asa aroa
RESTING AREA DI BOLAANG MONGONDOW “TIPOLOGI GEOMETRI FRAKTAL” Loway, Garry C.; Tungka, Aristotulus E.; Egam, Pingkan E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i1.15641

Abstract

Jalan trans Sulawesi merupakan jalan penghubung antara kota kota besardi Sulawesi,jalan trans Sulawesi menghubungkan antara Manado, Gorontalo hingga Makasar, jalan ini merupakan jalan yang digunakan sebagai jalur ekspedisi barang dan jasa, yang merupakan salah satu pendongkrak ekonomi, selain itu jalan ini banyak dipakai untuk area transportasi darat, sehingga jalan transulawesi ini merupakan salah satu jalan yang vital dalam bidang transportasi barang dan jasa.  Dalam hal medan dan faktor perjalanan, jalan transulawesi ini merupakan jalan yang panjang dan melelahkan, perencanaan Resting Area merupakan sebuah sarana agar pengemudi yang mengalami kelelahan dapat berhenti, untuk menghilangkan penat selama perjalanan, selain itu Resting area itu sendiri berfungsi sebagai area peristirahatan sementara, guna memulikan fisik pengemudi selama perjalanan, guna meminimalisir faktor kecelakaan yang disebabkan oleh kelelahan fisik selama perjalanan.              Resting area ini dikususkan bagi pengguna jalan yang melewati jalan manado ke gorontalo dan sebaliknya, guna mencapai titik yang di tujuan sebagai panduan aturan pemerintah yakni peraturan mengenai area peristirahatan, untuk penentuan lokasi desain Resting Area, ditetapkan di Bolaang Mongondow dikarenakan lokasi ini merupakan titik yang dianggap memenuhi syarat untuk dibangunya area peristirahatan ini, Resting Area ini dalam strategi perancanganya menggunakan pendekatan tema ‘Tipologi Geometri Fraktal’ strategi perancanagan ini guna menghadirkan suatu bangunan dengan konsep yang selaras terhadap lingkungan sekitar, dan memiliki pendekatan yang fungsional, serta menarik. Resting Area ini diharapkan dapat mewadahi serta memfasilitasi berbagai macam aktivitas para pengguna didalamnya khususnya bagi masyarakat yang ada di Bolaang Mongondow. Kata kunci            : Resting Area Di Bolaang Mongondow, Tipologi, Geometri Fraktal,  
PUSAT KEBUDAYAAN TALAUD DI MELONGUANE. Arsitektur Metafora Ananta Y. Prasetia; Vicky H. Makarau; Amanda Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25058

Abstract

Budaya adalah suatu pemikiran, adat istiadat, dan akal budi. Sedangkan turunan kata budaya yakni kebudayaan memiliki arti cara berpikir, bertindak manusia.Kabupaten Kepulauan Talaud adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara,  dengan ibu kota Melonguane. Kabupaten ini berasal dari pemekaran Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tahun 2000. Kabupaten Kepulauan Talaud terletak di sebelah utara Pulau Sulawesi. Wilayah ini adalah kawasan paling utara di Indonesia timur, berbatasan dengan Kota Davao del Sur, Filipina di sebelah utara. Jumlah penduduknya sebanyak 91.067 jiwa.Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan daerah bahari dengan luas lautnya sekitar 37.800 Km² (95,24%) dan luas wilayah daratan 1.251,02 Km2(4,76%). Terdapat tiga pulau utama di Kabupaten Kepulauan Talaud, yaitu Pulau Karakelang, Pulau Salibabu, dan Pulau Kabaruan.Kondisi Kabupaten Kepulauan Talaud termasuk dalam 199 daerah tertinggal di Indonesia dan masih terisolir karena berbagai keterbatasan infrastruktur dasar, ekonomi, sosial budaya, perhubungan, telekomunikasi dan informasi serta pertahanan keamanan.Oleh karena itu kebijakan pembangunan akan fasilitas yang memberikan dukungan terhadap seni dan budaya yang diharapkan dan memberikan sesuatu identitas baru terhadap suatu kabupaten dan sebagai katalisator perubahan dan pembaharuan lewat arsitektur. Juga diharapkan mampu memacu perkembangan pariwisata dan perekonomian Kabupaten Kepulauan Talaud.
GEDUNG KONVENSI DI TOMOHON (Optimalisasi Form Follow Function oleh Louis Sullivan) Loho, Windi D.; Poluan, Roosje J.; Egam, Pingkan P.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i2.10725

Abstract

Saat ini florikultura merupakan salah satu komoditas agribisnis yang cukup berarti di Indonesia. Hal tersebut didasari karena jenisnya yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan diterima masyarakat. Florikultura dinikmati konsumen dalam bentuk keindahannya, maka dari itu tuntutan terhadap kualitasnya sangat tinggi. Membudidayakan berbagai jenis florikultura dapat menjadi usaha agrobisnis yang sangat prospektif bagi masyarakat. Masyarakat baik di daerah pedesaan maupun perkotaan mempunyai kecenderungan untuk tinggal di tempat atau lingkungan yang nyaman dan segar. Keadaan ini dapat tercipta dengan adanya kehadiran tanaman florikultura baik di lingkungan rumah tinggal, perkotaan maupun di lingkungan taman- taman rekreasi banyak memberikan pengaruh yang positif. Kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan hidup yang segar, dapat mempengaruhi meningkatnya permintaan akan tanaman florikulura. Untuk menjawab kebutuhan akan permintaan tersebut, maka dirancanglah sebuah Pusat Penelitan dan Penembangan Florikultura di Tomohon, dimana Tomohon merupakan lokasi yang strategis dalam pengembangbiakkan tanaman florikultura yang didukung  iklim, suhu, serta kondisi tanah yang merupakan  syarat dalam pengembangbiakkan florikultura. Objek perancangan kemudian di padukan dengan tema Permaculture. Sebuah tema yang menekankan pengaturan ruang luar, penggunaan unsur alam, dan menggabungkan kebiasaan yang telah membudaya di masyarakat sekitar, dalam hal ini kebiasaan bercocok tanam florikultura. Dengan demikian, sangat diharapkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Florikultura di Tomohon bisa menjadi sebuah objek rancangan yang berfungsi sebagai wadah pengembangbiakkan, pengumpulan informasi, dan edukasi mengenai tanaman florikultura. Menciptakan sebuah wadah arsitektural yang bersinergi dengan alam, dan masyarakar sekitar. Kata Kunci  : Florikultura, Penelitian, Pengembangan, Permaculture, Tomohon
PUSAT KEGIATAN REMAJA DI KOTA BITUNG. Arsitektur Origami Vially, Christian V.; Tondobala, Linda; Wuisang, Cynthia E. V.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19312

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil atlet olahraga dan kesenian di kawasan Asia Tenggara. Hal ini dikarenakan sistem pelatihan dan bimbingan yang baik di kota-kota besarnya. Ini bertolak belakang dengan kota-kota berkembang seperti kota Bitung. Padahal, kota Bitung merupakan kota dengan beragam suku dan ras yang menyimpan berbagai talenta mulai dari usia dini yakni remaja. Remaja di kota Bitung kebanyakan menyalurkan bakat-bakat mereka ke hal-hal negatif dikarenakan belum ada wadah di Kota Bitung yang dapat menampung talenta-talenta terpendam mereka. Oleh karena itu maka dibutuhkan wadah yang selain dapat menampung bakat-bakat tersebut, namun diiringi dengan bimbingan dan didikan yang tepat agar tetap bersifat positif.                Pusat Kegiatan Remaja merupakan salah satu fasilitas yang tepat dalam mengatasi permasalahan di atas. Selain mereduksi angka kriminalitas, fasilitas ini secara tidak langsung dapat menjadi sekolah kedua para remaja yang berfokus pada Olahraga dan Kesenian. Pusat Kegiatan Remaja ini diharapkan akan menjadi suatu kawasan yang dapat menghasilkan atlet dan seniman yang dapat bersaing di kancah Nasional maupun Internasional.                Untuk menciptakan Pusat Kegiatan Remaja yang dapat menarik perhatian dan apresiasi masyarakat serta tidak kalah dari kota-kota besar, maka tema atau gaya Arsitektur yang akan digunakan sebagai pendekatan adalah Arsitektur Origami yang memberikan kelebihan pada nilai estetikanya dan sesuai denga perkembangan zaman.Kata Kunci : Pusat, Kegiatan, Remaja, Origami

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 3, Agustus 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 1, Februari 2025 Vol. 13 No. 4 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 4, November 2024 Vol. 13 No. 3 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 3, Agustus 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 2, Mei 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): DASENG Volume 13 Nomor 1, Februari 2024 Vol. 12 No. 4 (2023): DASENG Volume 12 Nomor 4, Oktober 2023 Vol. 12 No. 3 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 3, Juli 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 2, April 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 1, Januari 2023 Vol. 11 No. 2 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 2, November 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022 Vol. 10 No. 2 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 2, November 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 1, Mei 2021 Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020 Vol 9, No 2 (2020): Volume 9 Nomor 2, November 2020 Vol 9, No 1 (2020): Volume 9 No. 1 Mei 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020 Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019 Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018 Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017 Vol. 5 No. 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016 Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015 Vol. 3 No. 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014 Vol. 3 No. 1 (2014): Volume 3 No.1 Mei 2014 Vol. 2 No. 3 (2013): Volume 2 No.3 November 2013 Vol. 2 No. 2 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.2 Juli 2013 Vol. 2 No. 1 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.1 Mei 2013. Vol. 1 No. 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku II EKSPERIMENTAL. Volume 1 No.2 November 2012 Vol. 1 No. 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku I KONTEKSTUAL. Volume 1 No.2 November 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): EDISI PERDANA Volume 1 No.1 Mei 2012 More Issue