cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI)
ISSN : 24422606     EISSN : 2548611X     DOI : -
JBBI, Indonesian Journal of Biotechnology & Bioscience, is published twice annually and provide scientific publication medium for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to biotechnology and bioscience. This journal accepts original papers, review articles, case studies, and short communications. The articles published are peer-reviewed by no less than two referees and cover various biotechnology subjects related to the field of agriculture, industry, health, environment, as well as life sciences in general. Initiated at the then Biotech Centre, the journal is published by the Laboratory for Biotechnology, the Agency for the Assessment and Application of Technology, BPPT.
Arjuna Subject : -
Articles 542 Documents
PERBANYAKAN IN VITRO PISANG KEPOK var. UNTI SAYANG TAHAN PENYAKIT DARAH MELALUI PROLIFERASI TUNAS Imelda, Maria; Wulansari, Aida; Sari, Laela
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 5 No. 1 (2018): June 2018
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.111 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v5i1.2626

Abstract

In Vitro Propagation of Kepok Banana var. Unti Sayang Resistant to Blood Disease through Shoot ProliferationABSTRACTKepok is a popular banana variety but sensitive to blood disease caused by Ralstonia solanacearum (Smith). The discovery of a natural mutant of Kepok banana var. Unti Sayang from Sulawesi which male bud falls naturally, is a shortcut to bypass the chains of the spread of blood disease, since the disease is transmitted by insects through the wounds of the male buds. The superior mutant needs to be mass propagated and disseminated to endemic areas to inhibit the spread of blood disease. To achieve that goal, an efficient and effective techniques of in vitro shoot proliferation needs to be developed. Shoot proliferation was performed by addition of BAP, thidiazuron and adenine sulphate. The results showed that the best medium for shoot multiplication was B2T5A (MS+2 mg/L BAP+0,5 mg/L TDZ+20 mg/L adenine sulphate), and for shoot growth was B4A (MS+4 mg/L BAP+20 mg/L adenine sulphate). Rooting was induced on MS medium without hormones. Acclimatization of plantlets on mixed soil, compost and husks with a ratio of 1:1:1 resulted in 92,35% survival rate.Keywords: blood disease, in vitro shoot,  male budless, natural mutant, var. Unti Sayang  ABSTRAKPisang kepok merupakan varietas yang digemari tetapi sangat peka terhadap penyakit darah yang ditimbulkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum (Smith). Ditemukannya mutan alami pisang kepok yang jantungnya gugur secara alami yaitu varietas Unti Sayang dari Sulawesi, merupakan jalan pintas untuk memotong rantai penyebaran penyakit darah, mengingat penyakit ini ditularkan oleh serangga melalui luka bekas bunga jantan pada jantung. Mutan unggul tersebut perlu diperbanyak secara massal dan disebarluaskan ke daerah endemik untuk menghambat penyebaran penyakit darah. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu dikembangkan teknik perbanyakan in vitro pisang kepok Unti Sayang yang efektif dan efisien melalui proliferasi tunas. Proliferasi tunas dilakukan dengan penambahan BAP, thidiazuron dan adenin sulfat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media terbaik untuk multiplikasi tunas adalah B2T5A (MS+2 mg/L BAP+0,5 mg/L TDZ+20 mg/L adenin sulfat), media terbaik untuk pertumbuhan tunas adalah B4A (MS+4 mg/L BAP+20 mg/L adenin sulfat). Akar dapat diinduksi pada media MS tanpa hormon. Aklimatisasi planlet pada media campuran tanah, kompos dan sekam dengan perbandingan 1:1:1 menghasilkan 92,35% planlet hidup.Kata Kunci: penyakit darah, tunas in vitro, tanpa jantung, mutan alami, var. Unti Sayang 
REVIEW: POTENSI MIKOREMEDIASI LOGAM BERAT Kurniawan, Andri; Ekowati, Nuraeni
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 1 (2016): June 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.458 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i1.21

Abstract

Heavy metals contamination is a main issue which has negative impacts to environment and organisms. Various methods have been developed to reduce such pollutants, including utilization of organisms’ capability in order to minimize the contamination. Mycoremediation is one of remediation process in contaminated environment using fungi and its reduction mechanisms, involving intracellular, as well as extracellular system. There are some species of fungi that are frequently used as remediator agents, for example Aspergillus sp., Fusarium sp., Penicillium sp., Phanerochaete sp., Trichoderma sp. There are some methods that have been used for heavy metal reduction mechanisms such as biosorption, bioaccumulation, bioprecipitation, bioreduction, and bioleaching.Keywords: Mycoremediation, fungi, heavy metal, biosorption, bioaccumulation ABSTRAK Kontaminasi logam berat adalah suatu permasalahan utama yang berdampak negatif bagi lingkungan dan juga makhluk hidup. Berbagai metode telah dikembangkan untuk mereduksi cemaran, termasuk memanfaatkan kemampuan organisme untuk meminimalkan kontaminan tersebut. Mikoredemiasi adalah salah satu proses remediasi cemaran di lingkungan dengan melibatkan fungi beserta mekanisme reduksinya, baik secara intraselular maupun ekstraselular. Beberapa jenis fungi yang sering dijadikan agen remediator antara lain Aspergillus sp., Fusarium sp., Penicillium sp., Phanerochaete sp., Trichoderma sp. Beberapa prinsip yang digunakan untuk menghilangkan logam berat antara lain biosorpsi, bioakumulasi, biopresipitasi, bioreduksi, dan bioleaching. Kata kunci: Mikoremediasi, fungi, logam berat, biosorpsi, bioakumulasi
PENGARUH MEDIA DASAR DAN NAA PADA INDUKSI IN VITRO AKAR TUNAS KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis) Karyanti, .; Afifah, Mutia; Sukarnih, Tati; Rudiyana, Yayan
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 6 No. 2 (2019): December 2019
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.696 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v6i2.3476

Abstract

The Effect of Basal Media and NAA on the In Vitro Induction of Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq.) RootABSTRACTClonal propagation of oil palm plants using tissue culture technique results in a low percentage of rooted shoots. To increase the percentage of rooted shoots that are more uniform, the root induction method is supported by the use of basic media and the addition of growth regulators 1-naphthaleneacetic acid (NAA). This study aims to analyze the effect of a combination of base media and optimum NAA concentration in inducing the roots of oil palm shoots in vitro. This research used factorial completely randomized design (RAL) consisting of 2 factors. The first factor was the type of basic media, namely Murashige and Skoog (MS) and MS Modifications (MSM) media. The second factor was the concentration of NAA, namely 0; 0.05; 0.1; and 0.2 ppm. each treatment was repeated 10 times. The results showed that the use of MSM medium was better than that of MS, and the most optimum NAA concentration was 0.05 and 0.1 ppm, in inducing oil palm roots in vitro. In addition, the combination of MSM + NAA 0.1 ppm treatment produced the most optimum result in induction of oil palm roots in vitro.Keywords: basal media; NAA; palm oil; plantlet; root inductionABSTRAKPerbanyakan klonal tanaman kelapa sawit menggunakan teknik kultur jaringan menghasilkan persentase tunas berakar yang rendah. Dalam upaya meningkatkan persentase tunas berakar yang lebih seragam maka dilakukan metode induksi akar yang didukung oleh penggunaan media dasar dan penambahan zat pengatur tumbuh 1-naphthaleneacetic acid (NAA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kombinasi media dasar dan konsentrasi NAA yang optimum dalam menginduksi akar tunas kelapa sawit secara in vitro. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah jenis media dasar yang terdiri dari media Murashige and Skoog (MS) dan MS Modifikasi (MSM). Faktor kedua adalah konsentrasi NAA yang terdiri dari 0; 0,05; 0,1; dan 0,2 ppm. setiap perlakuan diulang sebanyak 10 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media MSM lebih baik daripada MS, dan konsentrasi NAA yang paling optimum adalah 0,05 dan 0, 1 ppm dalam menginduksi akar kelapa sawit secara in vitro. Selain itu kombinasi perlakuan MSM+NAA 0,1 ppm memiliki hasil yang paling optimum dalam induksi akar kelapa sawit secara in vitro.
Preface JBBI Vol 2, No 1, June 2015: Foreword and Acknowledgement Tajuddin, Teuku
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 2 No. 1 (2015): June 2015
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.227 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v2i1.1058

Abstract

PERAN MUTASI GEN ACY II TERHADAP PRODUKSI ANTIBIOTIK SEFALOSPORIN Mustika, Indria Puti; Wibisana, Ahmad
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 4 No. 2 (2017): December 2017
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1240.145 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v4i2.2272

Abstract

The Roles of AcyII Gene Mutations for Production of Antibiotics Derived From CephalosporinSemisynthetic antibiotics cephalosporins are widely used to treat infectious diseases, especially those caused by gram-negative bacteria. Various types of semisynthetic antibiotics could be synthesized using 7-aminocephalosporanic acid (7-ACA) as the main raw material. 7-ACA is obtained by conversion of cephalosporin C, either chemically or enzymatically. Converting cephalosporin C to 7-ACA enzymatically in one step involves the cephalosporin acylase enzyme. Currently, all of cefalosporin acylase enzymes produced by wild-type microbes have only high activity on glutaryl-7-ACA as the main substrate. Genetic engineering of the encoding gene of cefalosporin acylase is required to obtain recombinant enzyme having high activity on cephalosporin C. In this paper, the engineering attempts made on acyII gene from Pseudomonas SE83 using directed mutagenesis, error prone PCR, and structural modeling are described. Keywords: AcyII gene, cephalosporin, cephalosporin C acylase, enzyme activity, mutation ABSTRAKAntibiotik sefalosporin semisintetik banyak digunakan untuk mengatasi penyakit infeksi, khususnya yang ditimbulkan oleh bakteri gram negatif. Berbagai jenis antibiotik semisintetk dapat disintesis menggunakan senyawa asam 7-aminosefalosporanat (7-ACA) sebagai bahan baku utamanya. Senyawa 7-ACA diperoleh melalui konversi sefalosporin C, baik yang dilakukan secara kimiawi maupun enzimatis. Konversi sefalosporin C menjadi 7-ACA secara enzimatis dalam satu langkah melibatkan enzim sefalosporin asilase. Hingga saat ini, seluruh enzim sefalosporin asilase yang dihasilkan oleh mikroba wild type hanya mempunyai aktifitas yang tinggi terhadap glutaryl-7-ACA. Rekayasa genetik terhadap gen pengkode enzim sefalosporin asilase diperlukan untuk memperoleh enzim rekombinan yang mempunyai aktifitas tinggi terhadap substrat sefalosporin C. Dalam ulasan ini diuraikan upaya-upaya rekayasa yang telah dilakukan terhadap gen acyII dari Pseudomonas SE83 menggunakan teknik mutasi terarah, error prone PCR, dan pemodelan struktur.Kata kunci: Aktivitas enzim, gen acyII, mutasi, sefalosporin, sefalosporin C asilase Received: 14September 2017    Accepted: 19 December 2017     Published: 30 December 2017    Received: 14September 2017                Accepted: 19 December 2017           Published: 30 December 2017   
VARIASI GENETIK KAMBING BENGGALA DI KABUPATEN MANGGARAI BARAT BERDASARKAN METODE RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHIC DNA Pakpahan, Suhendra; Artama, Wayan Tunas; Widayanti, Rini; Budisatria, I Gede Suparta
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 5 No. 2 (2018): December 2018
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.593 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v5i2.2943

Abstract

Genetic Variation of Benggala Goats in West Manggarai Regency Based on Random Amplified Polymorphic DNA Method ABSTRACTIndonesia has several types of local goats that have had an extended period of adaptation to the natural conditions in Indonesia. Goat is one of the most important germplasm in supporting the economy of rural communities. Benggala is a local breed of goat originating from Flores Island, East Nusa Tenggara province and has distinctive characteristics. The RAPD technique has several advantages and has been widely used in studies of the genetic diversity of goats. A total of 50 blood samples of Benggala goats were taken from four sub-districts in West Manggarai Regency. This study was conducted to estimate genetic variations of Benggala goats using OPA-6 and OPA-16 primers. The OPA-6 primer consisted of 0-11 bands, while the OPA-16 primer consisted of 0-7 bands. The total bands produced on the OPA-6 primer from all samples was 456, whilst OPA-16 primer was 314. The lowest genetic similarity between individuals of Benggala goats was 44% from the sample K46. Based on the sample population, the average genetic similarity level was 72%. These results show that the genetic diversity of Benggala goats is low.Keywords: Benggala  goat, genetic similarity,genetic variation, RAPD, West Manggarai ABSTRAKIndonesia memiliki beberapa jenis kambing lokal yang memiliki periode adaptasi yang panjang dengan kondisi alam di Indonesia. Kambing merupakan salah satu plasma nutfah yang sangat penting dalam mendukung perekonomian masyarakat pedesaan. Benggala adalah jenis kambing lokal yang berasal dari pulau Flores, propinsi Nusa Tenggara Timur dan kambing Benggala memiliki ciri khas. Teknik RAPD memiliki beberapa keunggulan dan telah banyak digunakan pada studi keragaman genetik kambing. Total 50 sampel darah kambing Benggala yang diambil dari empat kecamatan di Kabupaten Manggarai Barat. Penelitian ini dilakukan untuk menguji variasi genetik kambing Benggala dengan menggunakan primer OPA-6 dan OPA-16. Primer OPA-6 terdiri dari 0-11 band, sedangkan primer OPA-16 terdiri dari 0-7 band. Total jumlah pita yang dihasilkan pada primer OPA-6 dari semua sampel adalah 456, sementara primer OPA-16 adalah 314. Kemiripan genetik terendah antara individu-individu kambing Benggala adalah 44% dari sampel K46. Berdasarkan populasi sampel, tingkat kemiripan genetik rata-rata adalah 72%. Hasil ini menunjukkan bahwa keragaman genetik kambing Benggala tergolong rendah.Kata Kunci: kambing Benggala, kemiripan genetik, Manggarai Barat , RAPD, variasi genetik
Appendix JBBI Vol 6, No 1, June 2019: Keyword Index and Author Index Sriherwanto, Catur
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 6 No. 1 (2019): June 2019
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.513 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v6i1.3692

Abstract

PENGARUH AUKSIN DAN SITOKININ TERHADAP PERBANYAKAN MIKRO TANAMAN BINAHONG (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) Suparjo, .; Royani, Juwartina Ida; Rosmalawati, Syofi; Tajuddin, Teuku; Riyadi, Ahmad
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 2 (2016): December 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.973 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i2.72

Abstract

EFFECT OF AUXIN AND CYTOKININ ON MICROPROPAGATION OF BINAHONG (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis)Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) is known as miraculous medicinal plant for its potential to cure for various kinds of diseases such as diabetes, stabilizing blood pressure and circulation, accelerating wound healing, and preventing stroke. In order to provide high quality seedlings of this medicinal plant continuously in large amount, the study on binahong micropropagation was performed. Plant growth regulators of auxins and cytokinins were applied in single or in combination so as to observe their effect on the growth of binahong explants. The results showed that 2,4-D induced callus formation in large diameter on all treatments. Nevertheless, this plant growth regulator had a negative effect on growth and development of shoot and leaves. In the combination treatments between IAA and BAP, it revealed that the higher the concentration of BAP in the media, the lower the number of leaves initiated on shoot explants. Increasing the concentration of IAA upto 1.5 ppm influenced the increasing of shoot tallness and the number of internodes. Our results can be useful for improving the binahong shoot propagation efficiency, as well as callus culture studies.Keywords: Auxin, cytokinin, callus, micropropagation, medicinal plantABSTRAKBinahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) dikenal sebagai tanaman obat ajaib karena dapat digunakan untuk pengobatan berbagai macam penyakit seperti diabetes, melancarkan peredaran dan tekanan darah, mempercepat penyembuhan luka, mencegah stroke. Dalam mendukung ketersediaan bibit tanaman obat herbal yang berkualitas secara berkelanjutan maka dilakukan kajian tentang perbanyakan bibit tanaman binahong. Zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin dalam bentuk tunggal maupun kombinasi diaplikasikan pada penelitian ini untuk melihat pengaruhnya terhadap berbagai eksplan binahong. Hasilnya menunjukkan bahwa 2,4-D merangsang pembentukan kalus dengan ukuran yang besar pada semua perlakuan. Namun demikian zat pengatur tumbuh ini memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tunas dan daun. Dari perlakuan kombinasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP, pertambahan konsentrasi BAP di dalam media menurunkan jumlah daun yang terbentuk pada eksplan pucuk binahong. Demikian pula dengan pertambahan konsentrasi IAA hingga 1,5 ppm sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan meninggi tunas dan pertambahan jumlah ruas. Hasil dari studi ini dapat dimanfaatkan untuk studi lanjutan dalam meningkatkan efisiensi perbanyakan tunas serta kultur kalus binahong.Kata kunci: Auksin, sitokinin, kalus, perbanyakan mikro, tanaman obat herbal
IMPROVING THE FUNCTION OF CRISPR-CAS9 FOR GENOME EDITING THERAPY: EDITING THE EDITOR Supit, Alva Sahiri Alexander
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 4 No. 1 (2017): June 2017
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.041 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v4i1.2068

Abstract

Meningkatkan Fungsi CRISPR-Cas9 untuk Terapi Pengeditan GenPengeditan gen menjadi mudah dilakukan sejak ditemukannya clustered regularly interspaced short palindromic repeat (CRISPR) dan CRISPR-associated protein 9 (Cas9) sebagai alat untuk menyunting gen suatu organisme. Sebagian besar penyakit genetik tidak dapat disembuhkan secara kausal dengan terapi yang ada, maka pengeditan gen merupakan suatu cara yang prospektif dalam terapi medis di masa depan. Sayangnya, pengeditan gen dengan Cas9 yang ada saat ini masih memiliki banyak kelemahan, yaitu: 1) kurang spesifik, di mana RNA pemandu dapat berikatan dengan beberapa segmen pada genom manusia, sehingga memungkinkan terjadinya salah target; 2) kurang efisien, karena sekalipun telah berhasil memotong utas ganda DNA, kebanyakan penyambungan kembali akan dilakukan secara non-homology end joining (NHEJ), yang justru meningkatkan peluang terjadinya mutasi; 3) sulit disalurkan ke dalam inti sel karena berbagai sawar fisiologis maupun biokimiawi. Tulisan ini akan membahas perkembangan terkini dalam mengatasi ketiga masalah di atas. Untuk meningkatkan spesifisitas, dapat dilakukan modifikasi RNA pemandu dan struktur Cas9. Efisiensi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan peluang terjadinya homology-directed repair dibandingkan NHEJ, sedangkan untuk meningkatkan distribusi ke dalam sel, dapat digunakan berbagai macam vektor, seperti virus dan nanopartikel. CRISPR-Cas9 merupakan area yang aktif diteliti dalam bidang biosains, dan dalam waktu dekat, diharapkan dapat dimanfaatkan dalam bidang klinik.Kata kunci: CRISPR, Cas9, efektivitas, spesifisitas, terapi genABSTRACTGene editing has become reasonably easy since the discovery of clustered regularly interspaced short palindromic repeat (CRISPR) and CRISPR-associated protein 9 (Cas9). Most genetic diseases cannot be treated causally, and currently available therapies are mainly symptom-based. To treat the etiology of genetic diseases, a firm gene editing therapy is necessary to be established. This posits Cas9-facilitated gene editing as a prospective modality to become a clinically approved therapy in the future to treat genetic disorders. However, until recently, Cas9-based genome editing is still facing several hurdles, including low specificity, low effectiveness, and difficult delivery. Currently available Cas9 nucleases are able to bind to non-specific DNA sequence and produce non-specific cleavage. The efficiency has been relatively low due to the preference of non-homologous end-joining (NHEJ) over homology-directed repair (HDR) by the host cell. Furthermore, in order to deliver Cas9 into the nucleus, multiple physiological barriers have to be overcome. This review discussed recent developments in tackling these three hurdles, ranging from designing the guide RNA using multiple bioinformatics tools, modifying Cas9 structure, as well as packaging the nuclease-guide RNA complex into viral vectors and nanoparticles. Considering the active research on this area, it is expected that CRISPR/Cas9 can be utilized as a clinical therapy in the near future.Received: 02 June 2017        Accepted: 07 July 2017        Published: 19 July 2017
IDENTIFIKASI AKTINOMISETES SEDIMEN AIR TAWAR MAMASA, SULAWESI BARAT DAN AKTIVITASNYA SEBAGAI ANTIBAKTERI DAN PELARUT FOSFAT Putri, Ade Lia; Lisdiyanti, Puspita; Kusmiati, Mia
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 5 No. 2 (2018): December 2018
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.935 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v5i2.2953

Abstract

Identification of Actinomycetes in Freshwater Sediments from Mamasa, West Sulawesi and Their Antibacterial and Phosphate Solubilizing ActivitiesABSTRACTA large number of actinomycetes that have been isolated and screened were obtained from soil and marine samples. Consequently, the possibility of isolating novel Actinomycetes and secondary metabolites compounds strains from soil and marine samples have limited. Exploration of actinomycetes from freshwater sediment is rare. In this study, 30 isolates of Actinomycetes from freshwater sediments in Mamasa District, West Sulawesi were isolated, identified, and screened for their antibacterial and phosphate solubilizing activity. Actinomycetes were isolated by serial dilution method and were identified based on morphological and 16S rRNA gene sequence. Antibiotic activity was screened using the agar plug diffusion method, while soluble phosphate ability was observed by clear zone ratio in PKA medium. Most of the isolates belong to the genus Streptomyces (80%). Out of 30 isolates, 56.6% showed antibacterial activity and 36.6% had potential as solubilizing phosphate which belong to genus Streptomyces, Actinomadura, and Kitasatospora.Keywords: 16S rRNA, Actinomycetes, antibacterial, freshwater sediment, phosphate solubilizing ABSTRAKSebagian besar aktinomisetes yang telah diisolasi dan dilakukan penapisan metabolit sekundernya berasal dari sampel tanah dan laut. Konsekuensinya, kesempatan untuk menemukan aktinomisetes jenis baru maupun yang menghasilkan metabolit sekunder baru dari tanah dan laut semakin berkurang. Eksplorasi aktinomisetes dari lingkungan lain seperti sedimen air tawar jarang dilakukan. Pada penelitian ini, 30 isolat aktinomisetes yang diisolasi dari sedimen air tawar di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, telah diidentifikasi dan dilakukan penapisan antibakteri dan kemampuan isolat dalam melarutkan fosfat. Aktinomisetes diisolasi dengan metode pengenceran secara langsung dan selanjutnya diidentifikasi secara morfologi dan molekular berdasarkan gen 16S rRNA. Metode yang digunakan dalam penapisan aktivitas antibakteri adalah agar plug diffusion method, sedangkan kemampuan aktinomisetes dalam melarutkan fosfat diuji dengan cara menumbuhkan isolat pada media PKA. Isolat yang paling banyak diisolasi termasuk ke dalam marga Streptomyces (80%). Dari 30 isolat, 56,6% isolat menunjukkan adanya aktivitas antibakteri dan 36,6% dari isolat berpotensi sebagai pelarut fosfat, yang termasuk ke dalam marga Streptomyces, Actinomadura, dan Kitasatospora.Kata Kunci: 16S rRNA, Aktinomisetes, sedimen air tawar, antibakteri, pelarut fosfat