cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 913 Documents
Perwujudan Keyakinan akan Keberadaan Mahluk Halus dalam Komik Kawin ka Kunti Kasmana, Kankan; Sabana, Setiawan; Gunawan, Iwan; Ahmad, Hafiz Aziz
PANGGUNG Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.192

Abstract

AbstrakMahluk halus dalam masyarakat Sunda merupakan fenomena antara mitos dan realitas. Kepercayaan terhadap mahluk yang dianggap immateri-spiritual ini mempengaruhi kehidupan masyarakat, dan banyak diangkat dalam media populer. Tahun 1986 hadir komik Sunda berjudul Kawin ka Kunti, bercerita tentang pernikahan manusia dan mahluk halus, Kuntianak. Penelitian ini bersifat kualitatif, secara deskriptif menguraikan tentang pengemasan mitos dan tradisi dalam komik sebagai wujud interteks. Analisis intertekstualitas digunakan dalam penelitian berupaya mencari representasi teks berupa keyakinan akan keberadaan mahluk halus di masyarakat Sunda yang muncul dalam komik. Diperoleh kesimpulan bahwa interteks hadir dalam komik berupa keyakinan akan keberadaan mahluk halus, meliputi wujud hantu, kehadiran mantra berupa jampe pamakena, serta adat istiadat yang berkaitan dengan mahluk halus. Imaji hantu dalam komik ini adalah representasi dari konsep, pandangan, kepercayaan akan kehadiran mahluk halus. Gambarannya bisa jadi merupakan sebuah imaji perseptual, yang hadir dalam diri komikus didasarkan pada referensi eksternal di lingkungan komikus berada. Kata Kunci: Mahluk Halus, Komik, Intertekstual, Sunda, Tradisi AbstractSpiritual beings within Sundanese is both myth and reality phenomenon. This spiritual-immaterial belief influences Sundanese people’s life, where it frequently appears in popular media. In 1986, there was a comic titled Kawin ka Kunti, told a story about spiritual being (Kuntianak)-human marriage.It is a qualitative research which descriptively explains how myth and tradition are wrapped as an intertext form. Uses intertextual analysis, this research attempts to find text representation in form of belief on spiritual beings existence in the comic. It is then concluded that intertext exists in the comic in form of belief on spiritual beings existence comprises of incarnation of several ghosts, spells presence in form of jampe pamakena, as well as custom related to ghosts. Ghost imaging in this comic is a representation of concept, point of view, and belief of jurig (ghost). It may come in form of perceptual imaging, presents in anything that is based on external reference of the comic artist her/himself.Keywords: Jurig (ghost), Comic, Intertextual, Sunda, Tradition
Kompleksitas Tokoh Pandita Drona dalam Artefak Wayang Kulit Cirebon Pramana Koesoemadinata, Moh. Isa
PANGGUNG Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i3.81

Abstract

             Since early centuries of Christian calendar, the Indian epics Mahabharata and Ramayana have widely spread across the Nusantara Archipelago.  By the time these epics arrived here, they were not presented in their genuine forms, but had been adopted and localized in order to approach the natives.  The adaptation process included taking the shadow theatrical form, translating and interpretating the stories, and transforming character and visual descriptions which were manifested into puppet form.            One of the character transformations which includes personality and visual descriptions was done to Priest Drona, the vital character roled as guru to both Pandawas and Kurawas, who was trapped inside the dilemma among his disciples.  In Javanese version, Drona has been transformed into an ambiguous, mischievous, and slightly humorous character.  In Cirebon version, Drona was depicted as an evil character who provoked the Battle of Bharata yuddha.  Drona puppet himself has unique and specific visual attributes compared to other puppet main characters, and each form of puppet Drona possess a high symbolic meaning beneath them.  The problem is how do the visual attributes of each puppet tell us about the character’s complexity? This paper analyzes every visual variation of Drona leather puppet in Cirebon using the Art Criticism methods and semiotics referring to general Javanese Shadow Puppetry performance.  This analysis proves the complexity of the character based on the differences of cloth, accessories and other visual attributes from Cirebon perspective. Keywords: Cirebonese leather puppets, character, Drona, visual attributes
Reog Bulkiyo Dance Learning to Increase Student Patriotism Values in Madrasah Tsanawiyah Sunan Ampel Doko Blitar Regency Saraswati, Ayu Ridho; Narawati, Tati
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.274

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Kesundaanyaitucageur, bageur, bener, pinter, singer yang telah luput dari kehidupan siswa. Terkikisnya nilai-nilai budaya lokal menimbulkan permasalahan, yaitu degradasi karakter yang dipengaruhi oleh lemahnya etika dan estetika.Penelitian ini terdiri atas dua tahapan, yaitu mengkaji tari dengan menggunakan Teori Etnokoreologi yang dibantu dengan pendekatan Etnopedagogik dan Folklor, serta implementasi pembelajaran dengan menggunakan Teori Lickona dan Gardner. Hasil kajian tari memperoleh nilai-nilai yang berkenaan dengan nilai cageur, bageur, bener, pinter, tur singer yang kemudian diimplementasikan melalui sebuah pembelajaran tari etnis yaitu Tari Pakujajar dengan menggunakan model pembelajaran sinektik.Penelitian ini menggunakan metode penelitian Action Research dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan proses yang telah dilakukan, terjadi peningkatan yang signifikan yang dibuktikan dengan meningkatnya daya imajinasi serta pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan sikap siswa yang peduli serta saling menghormati baik pada guru maupun antar sesamanya. Dengan demikian, penelitian ini menghasilkan model pembelajaran tari etnis.Kata Kunci :Nilai-nilai Kesundaan, Tari Pakujajar, Implementasi Pembelajaran Tari ABSTRACTThis research aims to inculcate the Kesundaan’s values that is cageur, bageur, bener, pinter,singer that have been disappeased from life of students. The erosion of local cultural values creates problems, as well as character degradation that influenced by the weakness of ethics and aesthetics. This research consist of two steps, that is review the dance by using Etnochooreology Theory with Etnopedagogy approach and Folklore, while the implementation of dance learning using Lickona and Gardner Theory. The results of dance studies obtain the values contained inside it, with pertains to cageur, bageur, bener, pinter, tur singer and these values are implemented through an ethnic dance learning that is Pakujajar Dance by using sinektik learning model. This research uses Action Research method with qualitative approach. Based on the process that have been done, there is a significant increase that is shown by the increasing the imagination power and understanding of studentsto the subject matter, and student’s attitudes who care and mutual respect both of teachers and each other. Thus, this research produces the ethnic dance learning model.Keyword : Kesundaan’s Values, Pakujajar Dance, Implementation of Dance Learning
The Cultural Reconstruction Of Taboo Under Mama Uluk’s Leadership In Kampong Dukuh, A Sundanese Traditional Hamlet In Garut Regency West Java Indonesia Rochaeni, Ai Juju; Listiani, Wanda; Rachmaningsih, Irma
PANGGUNG Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i2.115

Abstract

ABSTRAK Kampung Dukuh yang terletak di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut merupa- kan salah satu kampung adat yang ada di Jawa Barat yang memiliki banyak keunikan. Pamali sebagai salah satu sistem pengetahuan masyarakat adat Sunda. Pamali masih dipertahankan dalam kebu- dayaan masyarakat adat Kampung Dukuh. Walaupun tidak ada resiko yang tertulis ketika melaku- kan hal yang melanggar pamali, namun masyarakat kampung adat masih merasa takut durhaka atau dosa jika pamali tidak dilaksanakan dalam keseharian hidupnya. Sekaitan dengan hal ini, penelitian ini bertujuan menggambarkan berbagai larangan atau pamali yang telah direkonstruksi di masa kepemimpinan Mama Uluk di kampung Adat Dukuh Kabupaten Garut. Penelitian ini mengguna- kan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara dan pengamatan langsung. Hasil penelitian ini menjelaskan cara penyampaian larangan pada waktu yang telah ditentukan dan jenis larangan atau pamali atau pamali yang dipelihara dan terus diwariskankan secara turun temurun sampai saat ini dalam kehidupan sehari-hari seperti larangan di Makom Syech Jalil, Hutan Lindung dan bagaimana ketua adat (mama uluk) dalam kepemimpinannya merekonstruksi budaya tersebut dalam kehidupan keseharian mereka di kampung Dukuh kabupaten Garut. Kata kunci: rekonstruksi budaya, mama uluk, kampung Dukuh, masyarakat adat    ABSTRACT Kampong Dukuh located in Ciroyom Village, Cikelet District, Garut Regency is one of traditional hamlets in West Java Province having many unique features. Pamali (taboo pro- hibition) as Sundanese peoples’ body of knowledge is still maintained in the traditions of kampong Dukuh. Although there is no written sanction for someone who violates pamali, members of traditional hamlet community are still afraid of being faithless or sinful if they do not comply with the cultural prohibitions in their daily activities. Thus, this research is aimed at describing some cultural prohibitions or pamali which have been reconstructed under Mama Uluk’s leadership in kampung Dukuh in Garut Regency. This research used qualitative method with interview and observation as data collection techniques. The result shows ways of delivering prohibitions at certain time and categories of prohibition or pa- mali maintained nowadays and has been passed down from generation to generation, such as prohibition of Syech Jalil’s grave and Protected Forest. It also describes how the custom- ary or traditional leader (Mama Uluk) under his leadership reconstructs the traditions of Kampong Dukuh in Garut regency. Keywords: cultural reconstruction, Mama Uluk, kampong Dukuh, traditional hamlet community
Siger Sebagai Wujud Seni Budaya Pada Masyarakat Multietnik di Provinsi Lampung Ciciria, Deri
PANGGUNG Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i2.8

Abstract

Artikel ini menitik beratkan pada pembahasan siger sebagai simbol  integrasi masyarakat suku Lampung. Provinsi Lampung terdiri dari dua golongan suku asli yaitu suku Lampung Pepadun dan Saibatin. Keadaan ini sangat rentan akan terjadinya konflik dan perpecahan karena rasa sukuisme yang muncul karena tinggal di wilayah adat berbeda. Makna yang terungkap dalam artikel ini adalah bahwa siger merupakan simbol pemersatu masyarakat Lampung. Bentuk, warna, dan berbagai hiasan aksesorisnya menyiratkan persatuan dan kesatuan suku, sub  suku, dan keturunan masyarakat Lampung Pepadun dan Saibatin. Dengan adanya siger, masyarakat Lampung Pepadun ataupun Saibatin terikat oleh suatu persamaan kebudayaan, silsilah keturunan, kehidupan sosial budaya bahkan rasa senasib sepenanggungan. Siger dijadikan sebagai sarana propaganda mewujudkan integrasi masyarakat suku Lampung. Oleh karena itu siger banyak dimunculkan pada berbagai ornamen bangunan rumah, pasar (baik modern maupun tradisional), gapura, dan simbol pemerintahan sebagai wujud kemajemukan masyarakat Lampung.Kata kunci: Siger, Integrasi Budaya
Konsep Lawang Sewu atau White Box sebagai Fenomena Baru Proses Kreatif Kebertubuhan1 Widaryanto, FX; Rustianti, Sri Rustianti
PANGGUNG Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i4.147

Abstract

ABSTRACT The concept of dance creation by Sardono W. Kusumo is inspired by air circulation of an old building in Semarang Central Java called ‘Lawang sewu’ which means a building with ‘a thousand of doors’. In fact, the flowing of air action in and out the building has no opportunity to create an establishment of ‘form’. So, the concept of ‘Lawang sewu’ is a ‘guideline’ to explore spatial possibility in term of corporeality. This is considered as a training of sensibility, as it happened at the swarm- ing phenomenon which expresses speed and accurate movements without any collision of each other. This kind of movement itself is also related to the global discourse, recently, in term of the perspective of arts that can be observed either as a reality fiction or a reality of mundane life. The result of this research will explore the possibility of the implementation of Lawang Sewu Concept to the embodi- ment of new creative tradition, especially on contextual approach, those are cross-cultural and cross discipline of arts in Indonesia. Keywords: Lawang Sewu, swarming, cross-cultural, and corporeality    ABSTRAK Konsep penciptaan tari oleh Sardono W. Kusumo terinspirasi dari gerakan sirkulasi udara dari sebuah bangunan tua di kota Semarang Jawa Tengah bernama ‘Lawang Sewu’ yang berarti sebuah bangunan dengan ‘seribu jendela/pintu’. Pada kenyataannya gerak aliran udara masuk dan keluar bangunan tidak memiliki kesempatan untuk menciptakan‘bentuk’ yang mapan. Demikianlah konsep ‘Lawang sewu’ adalah sebuah ‘panduan’ untuk penjelajahan kemungkinan ruang kaitannya dengan korporealitas. Hal ini dipikirkan seba- gai sebuah training kepekaan sebagaimana yang terjadi pada fenomena swarming dengan‘kecerdasan kerumunannya’ yang mengungkapkan kecepatan dan akurasi gerak tanpa ha- rus bertabrakan satu dengan yang lainnya. Akhir-akhir ini, jenis gerak semacam ini juga dikaitkan dengan wacana global, berkaitan dengan perspektif seni yang bisa diamati se- bagai realitas fiksi atau realitas hidup sehari-hari. Hasil penelitian ini untuk menjelajahi kemungkinan implementasi konsep ‘Lawang Sewu’ dalam perwujudan tradisi kreatif yang baru, khususnya pada pendekatan kontekstual, yaitu silang budaya dan silang disiplin seni di Indonesia. Kata kunci: Lawang Sewu, swarming, silang budaya, dan korporealitas
Aktualisasi Mitos “Sangkuriang” dan “Lutung Kasarung” dalam Novel “Déng” Karya Godi Suwarna Hudaya, Deri; Rahayu, Lina Meilinawati; Hazbini, Hazbini Hazbini
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.44

Abstract

ABSTRACTMyth and novel are two kinds of literatures which are different. Myth arised from oral tradition, spiritual art, and primordial of human belief. While novel arised from written tradition that grows from modern culture which identifies the rasio. This research is conducted to see the relationship between myth and Sundanesses novel, and also to know the actualization of myth Sangkuriang and Lutung Kasarung which are retold by Déng’s novel from Godi Suwarna.Keyword: lutung kasarung, sangkuriang, déng, myth, novel ABSTRAKMitos dan novel merupakan dua bentuk karya sastra yang berbeda. Mitos berangkat dari tradisi lisan, seni spiritual, dan kepercayaan masyarakat primordial. Sementara Novel berangkat dari tradisi tulis, berakar pada kebudayaan modern yang bercirikan rasio. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pertemuan antara mitos dan novel Sunda, aktualisasi mitos Sangkuriang dan Lutung Kasarung yang diartikulasikan melalui novel Déng karya Godi Suwarna.Kata kunci: lutung kasarung, sangkuriang, déng, mitos, novel
Campursari Karya Manthous: Kreativitas Industri Musik Jawa dalam Ruang Budaya Massa -, Wadiyo; Haryono, Timbul; -, R.M. Soedarsono; Ganap, Victor
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.72

Abstract

ABSTRACT  Manthous’s Campursari is a blend of Javanese gamelan pentatonic music with popular music in Indonesia which is based on Western diatonic music. The tones of gamelan and  the  frequencies of  the  tune  are  all  transformed into  diatonic  tone frequency. However, the  harmonization which is  used is  pentatonic harmony of Javanese gamelan. Manthous’s Campursari has succesfully become one of the major music industries since it is supported by three components, namely the organizers of the music productions, the current distribution of music productions, and the needs of the community. The role of mass media is also very helpful toward the existence of this work. News about Manthous’s and his Campursari spread out widely to the public  through  the  mass  media.  In  a  relatively  short  time  of  its  emergence, Manthous’s Campursari has become a mass cultural Javanese music.  Keywords: Campursari, mass culture, music industry  ABSTRAKCampursari karya Manthous adalah sebuah campuran dari musik pentatonik gamelan  Jawa  dengan  musik  populer  di  Indonesia  yang  mengacu  pada       musik   diatonis   Barat.   Nada   gamelan   dan   frekuensi   lagu   semuanyaditransformasikan menjadi nada frekuensi diatonis. Namun, harmonisasi yang digunakan adalah harmoni pentatonis gamelan Jawa. Campursari karya Manthous telah  berhasil  menjadi salah  satu  industri  musik  besar  karena didukung oleh tiga komponen, yaitu penyelenggara produksi musik, distribusi produksi musik, dan kebutuhan masyarakat. Peran media massa juga sangat membantu terhadap keberadaan karya ini. Berita tentang Manthous dan Campursarinya menyebar secara luas di masyarakat melalui media massa. Dalam waktu kemunculannya yang relatif singkat, Campursari karya Manthous telah menjadi musik Jawa dalam ruang budaya massa.  Kata kunci: Campursari, budaya massa, industri musik 
Rekontruksi pikukuh Tilu dalam Manajemen Babarit pada Upacara Serentaun Cigugur Kuningan Suhaenah, Euis; Rohaeni, Ai Juju; Listiani, Wanda
PANGGUNG Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i2.258

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini menemukan teori manajemen komunitas khususnya konsep pikukuh tilu dalam manajemen babarit dan model manajemen babarit dalam upacara adat. Luaran penelitian Fundamental ini berupa jurnal terakreditasi atau bereputasi internasional, laporan penelitian. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis kualitatif, sebagai langkah awal pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan obervasi lapangan. Hal ini menitikberatkan pada pengamatan yang didukung dengan wawancara dan perekaman kejadian. Wawancara dilakukan dengan pelaku, tokoh yang terlibat langsung, dan tokoh seniman yang terlibat didalamnya. Teknik wawancara yang mendalam dengan cara memilih informan kunci guna mendapatkan validitas data yang menghasilkan deskripsi yang lebih utuh dan menyeluruh. Hasil penelitian merujuk pada pola pikir masyarakat Sunda Wiwitan dengan konsep Pikukuh Tilu yakni ngaji badan, tuhu/mikukuh kana tanah, madep ka ratu-raja, dalam upacara adat ada 3 (tiga) tahapan dalam proses pengelolaan manajemen babarit yakni, ngajayak, babarit, nutu.Kata kunci :pikukuh tilu, manajemen komunitas, upacara adat, babarit, Cigugur Kuningan ABSTRACTThe research found the community management theory especially the babarit management with pikukuh tilu concept and the babarit management model in traditional ceremonies. Output this research are Accredited Scientific journal or international reputation.This research used the qualitative descriptive analysis. Field observation applied as the first step. The observation focuses on interview add event recording. The interview conducted with the informansuch as artists that involved in seren taun. Depth interview technique through the main informan get the valid data for the solid result and comprehensive desription. The research resultedrefer to the Sundanese mindset with the Pikukuh Tilu concept in traditional ceremonies through the tree steps of the Babarit management proses; ngajayak, babarit, nutu.Keywords:Pikukuh Tilu, Community Mangement, Tradisional ceremonies, Babarit, Cigugur Kuningan
Pertunjukan Ronggeng Ketuk dan Topeng pada Upacara Ngarot di Desa Lelea Kabupaten Indramayu (Sebuah Kajian Interaksi Simbolik) Hidayat, Lina Marliana
PANGGUNG Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i1.105

Abstract

ABSTRACTNgarot is a folk festival of Lelea village in Indramayu, West Java. The both of performances, Ronggeng Ketuk and Mask Dance, are those considered to have a symbolic relationship with the participants of the ceremony those are both of young men (Bujang) and women (Cuwene). It is the conception of the symbolic relationship that is interesting to be observed deeply.This study uses qualitative method such as symbolic interactive theory approach. The relation- ship of the series of Ngarot ceremony is a symbolic system series that can not be separated from one to another.Keywords: Ngarot, Ronggeng Ketuk, Topeng, symbolic interactionABSTRAKNgarot merupakan pesta rakyat desa Lelea di Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Dua pertunjukan yaitu Ronggeng Ketuk dan Topeng merupakan pertunjukan yang dianggap me- miliki keterkaitan simbolik dengan peserta upacara yaitu Bujang (pemuda) dan Cuwene (pemudi). Gambaran keterkaitan simbolik itulah yang menarik untuk diamati lebih men- dalam.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori interaksi sim- bolik. Hubungan rangkaian Upacara Ngarot merupakan rangkaian sistem simbol yang tak bisa dilepaskan antara satu dengan yang lainnya.Kata kunci: Ngarot, Ronggeng Ketuk, Topeng, interaksi simbolik

Page 3 of 92 | Total Record : 913


Filter by Year

2004 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi Vol 35 No 3 (2025): Estetika, Identitas, dan Digitalisasi: Praktik Seni dan Budaya Nusantara dalam P Vol 35 No 2 (2025): Representasi, Transformasi, dan Negosiasi Budaya dalam Media, Seni, dan Ruang So Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr Vol 34 No 4 (2024): Dekonstruksi dan Rekonstruksi Identitas Budaya Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 34, No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33, No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33, No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreati Vol 33, No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32, No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32, No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 32, No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31, No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31, No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Co Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue