cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 640 Documents
Analisis Rantai Nilai dengan Pendekatan Klaster Industri pada Destinasi Pariwisata Super Prioritas (Dpsp) Likupang Minahasa Utara: Value Chain Analysis with an Industry Cluster Approach at the Super Priority Tourism Destination (Dpsp) Likupang, Nort Minahasa Santoso, Sugeng; Sabila, Nurahma; Yamindago, Ade
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.4

Abstract

Pemerintah Indonesia beberapa tahun terakhir berupaya mengembangkan destinasi wisata sebagai wujud diversifikasi dengan menetapkan lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP). Likupang, sebagai kawasan ekowisata bahari dan menjadi wilayah paling muda yang ditetapkan sebagai DPSP, perlu adanya pembangunan infrastruktur, peningkatan aksesibilitas, pelatihan sumber daya manusia dan pengelolaan sumber daya alam yang memberikan manfaat bagi masyarakat, peluang ekonomi maupun pelestarian lingkungan dan budaya. Untuk itu, dibutuhkan pengelolaan secara multiaktor, multisektor, dan multistakeholder. Penelitian bertujuan mengetahui kondisi, keterlibatan stakeholder dan formulasi strategi dalam meningkatkan kontribusi pengembangan ekowisata Likupang. Analisis rantai nilai dilakukan melalui tiga tahapan yakni identifikasi proses industri, pemetaan pelaku serta analisis lingkungan usaha guna merumuskan strategi pengembangan ekowisata Likupang yang efektif. Hasil menunjukkan terdapat dua strategi utama yakni 1) optimalisasi infrastruktur dan penetapan KEK untuk meningkatkan aksesibilitas dan penyediaan paket wisata 2) kerjasama dan promosi digital melalui platform online guna peningkatan kunjungan wisata. Strategi yang telah dihasilkan dapat menjadi saran bagi pemerintah daerah dalam memfokuskan kebijakan yang selaras sesuai Rencana Induk Destinasi Pariwisata Nasional (RIDPN) Manado-Likupang 2023-2044 guna mendukung ekowisata Likupang sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP). In recent years, the Indonesian government has strived to develop tourist destinations as a form of diversification by establishing five Super Priority Tourism Destinations. Likupang, as a marine ecotourism area and the youngest region, needs to undertake infrastructure development, improve accessibility, provide human resource training, and manage natural resources in a way that benefits the community, creates economic opportunities, and preserves the environment and culture. Therefore, multi-actor, multi-sector, and multi-stakeholder management is required. This research aims to determine the conditions, stakeholder involvement, and strategy formulation to enhance the contribution of Likupang's ecotourism development. A value chain analysis was conducted through three stages: identifying industry processes, mapping actors, and analyzing the business environment to formulate effective Likupang ecotourism development strategies. The results indicate two main strategies: 1) optimizing infrastructure and establishing a special tourism economic zone to improve accessibility and provide tour packages, and 2) cooperation and digital promotion through online platforms to increase tourist visits. The strategies produced can serve as recommendations for the local government to focus on policies that align with the Manado-Likupang National Tourism Destination Master Plan 2023-2044, supporting Likupang ecotourism as a Super Priority Tourism Destination.
Alternatif Strategi Pengembangan Usaha Industri Rumah Tangga Ikan Tuna Asap: Alternative Business Development Strategies for Smoked Tuna Household Industry Askar, Hardianty
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.14

Abstract

Masyarakat Desa Singa, Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba menjadikan pengasapan ikan sebagai bisnis yang menguntungkan dengan nilai tambah. Meskipun prosesnya kurang ideal karena mengabaikan aspek sanitasi higienis menghasilkan produk berkualitas rendah, dan pengasapan ikan seringkali dilakukan tanpa prosedur yang tepat, menghasilkan ikan asap yang tidak bertahan lama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perkembangan bisnis industri rumah tangga ikan tuna asap, serta untuk menemukan strategi pengembangan yang dapat digunakan sebagai alternatif industri rumah tangga ikan tuna asap. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix-method dengan observasi langsung dan wawancara mendalam dengan para pengolah ikan tuna di Desa Singa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal memperoleh nilai skor yaitu 307 dan 3,33 dan alternatif strategi ST (Strengths-Threats) menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produksi dan meningkatkan diversifikasi produk   The people of Singa Village, Herlang District, Bulukumba Regency consider fish smoking as a profitable business with added value. Although the process is less than ideal because it ignores the hygienic sanitary aspect it produces a low-quality product, and smoking of fish is often done without proper procedures, resulting in smoked fish that does not last long. The purpose of this study is to identify internal and external factors that influence the development of smoked tuna household industry business, as well as to find development strategies that can be used as an alternative to smoked tuna household industry. This study used a mix-method approach with direct observation and in-depth interviews with tuna processors in Lion Village. The results of the study explained that internal and external factors obtained scores of 307 and 3.33 and alternative ST (Strengths-Threats) strategies became strategic steps to increase production and increase product diversification.
Pengaruh Metode dan Variasi Waktu Pemanasan terhadap Karakteristik Organoleptik Sate Lilit Berbasis Ikan Tuna: The Effect of Method and Heating Time Variations on the Organoleptic Characteristics of Tuna-Based Sate Lilit Tambunan, Jeny Ernawati; Hardoko, Hardoko; Djamaludin, Heder; Panjaitan, Mikchaell Alfanov Pardamean
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.11

Abstract

Ikan tuna merupakan komoditas laut unggulan dengan kandungan protein tinggi. Salah satu bentuk diversifikasi olahan yang potensial adalah sate lilit. Saat ini, proses pematangan sate umumnya menggunakan metode tradisional seperti pembakaran arang, yang kurang higienis dan efisien. Oleh karena itu, diperlukan metode alternatif seperti pemanasan menggunakan gelombang elektromagnetik (microwave). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh metode pemanasan (tradisional dan microwave) serta variasi waktu pemanasan (8, 10, dan 12 menit) terhadap karakteristik organoleptik sate lilit ikan tuna. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial 2 × 3, mencakup dua faktor: metode pemanasan dan lama waktu pemanasan, masing-masing diulang tiga kali. Parameter yang diamati meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur, dinilai secara organoleptik oleh 30 panelis tidak terlatih menggunakan uji hedonik skala 5. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode pemanasan dan lama pemanasan berpengaruh signifikan terhadap seluruh atribut organoleptik. Perlakuan terbaik diperoleh pada pemanasan microwave selama 10 menit, menghasilkan warna kuning kecokelatan menarik, aroma tuna yang kuat, rasa gurih seimbang, dan tekstur padat namun tidak kering. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan microwave selama 10 menit merupakan metode yang efektif untuk menghasilkan sate lilit tuna berkualitas, serta dapat dijadikan acuan dalam pengembangan produk olahan ikan dengan teknologi pemanasan yang higienis dan efisien.   Tuna is a leading marine commodity known for its high protein content. One potential form of product diversification is sate lilit (minced fish satay). Currently, the cooking process for this product commonly uses traditional methods such as charcoal grilling, which tend to be less hygienic and inefficient. Therefore, an alternative method is needed, such as electromagnetic heating using a microwave. This study aims to evaluate the effects of heating methods (traditional and microwave) and different heating durations (8, 10, and 12 minutes) on the organoleptic characteristics of sate lilit made from tuna.cThe research was conducted experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) with a 2 × 3 factorial pattern, consisting of two factors: heating method and heating duration, each replicated three times. The parameters observed included color, aroma, taste, and texture, which were evaluated organoleptically by 30 untrained panelists using a 5-point hedonic scale. Statistical analysis showed that both heating method and duration had a significant effect on all organoleptic parameters. The best treatment was microwave heating for 10 minutes, which resulted in an appealing golden-brown color, a strong tuna aroma, a balanced savory taste, and a firm yet moist texture. These findings indicate that microwave heating for 10 minutes is an effective method for producing high-quality tuna sate lilit and can serve as a reference for further development in fish-based product diversification using appropriate and hygienic heating technology.
Distribusi dan Komposisi Spesies Lobster (Panulirus spp.) yang Tertangkap di Perairan Sumatra Barat dan Pulau Tello, Sumatra Utara, Indonesia: Distribution and Species Composition of Lobsters (Panulirus spp.) Caught in the Waters of West Sumatra and Tello Island, North Sumatra, Indonesia Setyanto, Arief; Asmirijal, Amrey Syahnur; Wiadnya, Dewa Gede Raka; Isdianto, Andik; Caesar, Nico Rahman; Irwan Jatmiko; Utama, Andria Ansri; Agus Tumulyadi; Bintoro, Gatut; Lelono, Tri Djoko; Sutjipto, Darmawan Ockto; Hadiyah, Lisa Nur; Marsela, Kristina; Dhea, Luthfia Ayu; Asadi, M. Arif
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.9

Abstract

Perairan Samudra Hindia Timur memiliki keanekaragaman lobster yang tinggi, di mana Indonesia menjadi habitat bagi 6 dari 19 spesies Panulirus yang ada di dunia. Wilayah barat Pulau Sumatra, yang termasuk dalam kawasan ini, memiliki potensi besar dalam perikanan lobster. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi spesies, distribusi panjang karapas dan berat lobster beserta pola pertumbuhannya, serta menilai kesesuaian hasil tangkapan dengan ketentuan PERMEN KP No. 16 Tahun 2022 di perairan Sumatra Barat dan Pulau Tello, Sumatra Utara. Analisis yang digunakan meliputi identifikasi spesies, komposisi, distribusi frekuensi, chi-square, ANOVA satu arah, dan regresi. Hasil menunjukkan bahwa di perairan Sumatra Barat ditemukan enam spesies lobster, dengan Panulirus homarus (lobster pasir) sebagai spesies dominan, sedangkan di Pulau Tello ditemukan empat spesies, dengan dominasi P. versicolor (lobster bambu). Distribusi panjang karapas tertinggi di Sumatra Barat terdapat pada kisaran 8–9 cm (442 ekor), dan berat pada 220–360 gram (529 ekor), dengan pola pertumbuhan alometrik negatif. Di Pulau Tello, panjang karapas terbanyak berada pada kisaran 12–13 cm (30 ekor), dan berat pada 500–640 gram (25 ekor), juga menunjukkan pertumbuhan alometrik negatif. Seluruh komposisi lobster yang tertangkap di kedua lokasi dinilai layak tangkap berdasarkan ketentuan regulasi yang berlaku.   The East Indian Ocean holds significant potential for lobster diversity, and Indonesia is home to 6 of the 19 Panulirus species found globally. West Sumatra, located within this region, has promising lobster resources. This study aimed to assess species composition, carapace length and weight distribution, growth patterns, and compliance with fishing regulations (PERMEN-KP No. 16/2022) in the waters of West Sumatra and Tello Island, North Sumatra. Analytical methods included species identification, composition analysis, frequency distribution, chi-square testing, one-way ANOVA, and regression analysis. Findings revealed that six lobster species were identified in West Sumatra, dominated by scalloped spiny lobster (P. homarus), while four species were found on Tello Island, with painted spiny lobster (P. versicolor) being most abundant. In West Sumatra, the dominant carapace length class was 8–9 cm (442 individuals), and the most common weight class was 220–360 g (529 individuals), both exhibiting a negative allometric growth pattern. Meanwhile, Tello Island lobsters showed a dominant carapace length of 12–13 cm (30 individuals) and weight range of 500–640 g (25 individuals), also with negative allometric growth. Overall, the lobster catch composition from both locations was found to comply with the sustainable capture guidelines outlined in PERMEN-KP No. 16/2022.
Perbandingan Stok Karbon pada Dua Genus Mangrove Berbeda (Avicennia dan Rhizophora) di Estuari Sungai Somber, Teluk Balikpapan: Comparison of Carbon Stocks from Two Different Mangrove Genus (Avicennia and Rhizophora) in the Somber River Estuary, Balikpapan Bay Paputungan, Mohammad Sumiran; Ritonga, Irwan Ramadhan; Loto, Naomi; Suryana, Irma; Dharmawan, I Wayan Eka
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.8

Abstract

Informasi stok karbon di ekosistem mangrove yang berada di area Teluk Balikpapan masih sedikit, termasuk perbandingan stok karbon pada genus mangrove yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan stok karbon pada dua genus mangrove yang tumbuh di sekitar perairan estuari Sungai Somber di Teluk Balikpapan. Lokasi pengambilan data dibagi menjadi dua yaitu Zona Rhizophora dan Zona Avicennia. Pengambilan data diameter batang pohon pada ketinggian dada dan sampel sedimen sedalam 1-meter dilakukan di tahun 2022. Data diameter batang pohon digunakan untuk menghitung stok karbon pada pohon menggunakan persamaan alometrik biomassa yang tersedia. Sampel sedimen digunakan untuk mengukur jumlah karbon yang tersimpan di sedimen dengan menggunakan metode loss on ignition. Hasil penelitian menunjukkan total stok karbon pada Zona Rhizophora lebih besar dibandingkan Zona Avicennia. Konsentrasi karbon organik di sedimen yang tinggi ditemukan di Zona Rhizophora yang kemudian menyebabkan jumlah karbon yang tersimpan di sedimen Zona Rhizophora 2 kali lipat lebih besar dibandingkan karbon yang tersimpan di sedimen Zona Avicennia. Namun, stok karbon di biomassa pohon mangrove terbesar ditemukan berada di Zona Avicennia yang lebih banyak memiliki ukuran pohon berdiameter besar. Hasil ini mengindikasikan adanya variasi stok karbon di ekosistem mangrove yang terdapat di estuari Sungai Somber berdasarkan genus yang mendominasi.   Current information on carbon stock in mangrove ecosystem growing in the Balikpapan Bay area remains limited, including comparison of the carbon stock based on different mangrove genera. This study aimed to compare carbon stocks between two mangrove genera growing in the estuarine area of Somber River, Balikpapan Bay. The sampling location were divided based on the dominant mangrove genera, namely Rhizophora Zone and Avicennia Zone. Diameter at breast height (DBH) of mangrove trees and 1-meter vertical sediment samples were collected in 2022. The DBH data were used to estimate carbon stock in live-tree biomass using available allometric equations for mangrove. Sediment samples were used to determine carbon stock in the sediment by using the loss on ignition method. The results showed that total carbon stock in the Rhizophora Zone is larger than in the Avicennia Zone. Higher organic carbon concentration in sediment was found in the Rhizophora Zone, resulting in its sediment carbon stock being twice as high as that in the Avicennia Zone. However, carbon stock in the live-tree biomass was greater in the Avicennia Zone where more trees with larger diameters were found. The finding suggests that total carbon stock varies depending on the dominant mangrove genera in the Somber River Estuarine Ecosystem.
Assessing Quality Defects in Frozen Cooked Skipjack Loin Using Seven Tools and Statistical Quality Control Mubarok, Ahmad S.F.Q.R.; Bancin, Cindy Maria; Khoiriyah, Romyun Alvi; Kusuma, Bayu; Ma’rifat, Tian Nur; Yufidasari, Hefti Salis; Perdana, Angga Wira
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.10

Abstract

Quality control is a vital process to ensure that products consistently meet established standards and maintain customer satisfaction. This study examines the implementation of quality control methods in the production of frozen cooked skipjack loin, a key product in the canning and freezing fish industry. Beyond compliance with quality assurance systems such as Good Manufacturing Practice (GMP) and Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), the industry must adopt rigorous quality control approaches to minimize product defects. Using the Seven Tools of Quality—namely the fishbone diagram, check sheet, Pareto diagram, and control charts—this research aimed to identify major sources of product defects and evaluate quality performance. The analysis revealed several types of recurring defects, with one particular defect being significantly dominant. Furthermore, control chart analysis indicated that the product quality was outside the acceptable control limits, signaling the presence of systematic issues in the production process. These findings highlight the importance of continuous quality improvement efforts to ensure product consistency and excellence.
Dinamika Faktor Oseanografi dan Struktur Komunitas Plankton di Perairan Selat Sempu, Malang, Indonesia: Dynamics of Oceanographic Factors and Plankton Structure Communities in Sempu Strait, Malang, Indonesia Alviyanti, Dian; Akhidah, Yulia; Asadi, Muhammad Arif
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 3 (2025): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.03.1

Abstract

Plankton merupakan indikator penting dalam menilai kualitas perairan karena sensitivitasnya terhadap perubahan lingkungan, khususnya parameter oseanografi. Selat Sempu, yang terletak di wilayah pesisir selatan Jawa Timur, merupakan kawasan strategis yang memiliki peran penting dalam bidang perikanan, sehingga penting untuk dikaji dari aspek ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan parameter oseanografi dengan analisis CCA untuk memahami struktur komunitas plankton di perairan Selat Sempu, Malang, Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun dengan karakteristik aktivitas manusia yang berbeda. Parameter oseanografi seperti suhu, salinitas, oksigen terlarut, klorofil-a, diukur secara in-situ menggunakan multiparameter AAQ-Rinko 1183, pH juga diukur secara in-situ menggunakan pH meter, nitrat, dan fosfat diukur secara ex-situ dengan metode spektrofotometri. Sampel plankton dikoleksi menggunakan plankton net berukuran mesh 45 µm dan dianalisis secara mikroskopis menggunakan haemositometer untuk identifikasi genus serta perhitungan kelimpahan. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar parameter oseanografi berada dalam kisaran normal, kecuali nitrat dan fosfat yang melebihi baku mutu. Ditemukan 17 genus plankton dari 8 kelas, dengan dominasi fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae. Indeks keanekaragaman tergolong sedang (1,05 – 2,03), dengan variasi keseragaman dan dominansi antar stasiun. Analisis Canonical Correspondence Analysis (CCA) menunjukkan pengaruh signifikan beberapa parameter terhadap distribusi plankton. Genus Oscillatoria dan Alexandrium tidak berkorelasi langsung dengan parameter utama, yang mengindikasikan peran faktor lingkungan lain. Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan ekosistem secara komprehensif dalam pengelolaan wilayah pesisir.   Plankton serve as important indicators for assessing water quality due to their sensitivity to environmental changes, particularly to oceanographic parameters. The Sempu Strait, located along the southern coast of East Java, is a strategic coastal area that plays a vital role in fisheries, making ecological assessment essential. This study aimed to analyze the relationship between oceanographic factors and the structure of plankton communities in the waters of Sempu Strait, Malang, Indonesia, by integrating oceanographic data with Canonical Correspondence Analysis (CCA). Sampling was conducted at four stations representing different levels of anthropogenic activity. Oceanographic parameters such as temperature, salinity, dissolved oxygen, and chlorophyll-a were measured in situ using a multiparameter probe (AAQ-Rinko 1183), while pH was measured in situ using a pH meter. Nitrate and phosphate concentrations were analyzed ex situ using spectrophotometry. Plankton samples were collected using a 45 µm mesh plankton net and analyzed microscopically with a hemocytometer for genus identification and abundance estimation. The results showed that most oceanographic parameters were within normal ranges, except for nitrate and phosphate, which exceeded the quality standards. A total of 17 plankton genera from eight classes were identified, dominated by phytoplankton from the class Bacillariophyceae. The Shannon–Wiener diversity index indicated moderate diversity levels (1.05–2.03), with variations in evenness anddominance among stations. CCA results revealed that several oceanographic parameters significantly influenced plankton distribution, while Oscillatoria and Alexandrium exhibited weak correlations with the main parameters, suggesting the influence of additional environmental factors. These findings highlight the importance of comprehensive and long-term ecosystem monitoring to support sustainable management of the Sempu Strait coastal environment.
Penelusuran Trait Morfologi Spesies pada Genus Panulirus (Famili: Palinuridae): Species Morphological Trait Search in the Genus Panulirus (Family: Palinuridae) Samuel, Pratama Diffi; Wiadnya, Dewa Gede Raka; Yasmin, Delviega Aisyah; Khamidah, Nur; Anam, M. Choirul; Setyanto, Arief
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 3 (2025): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.03.2

Abstract

Panulirus (White, 1847) dari famili Palinuridae merupakan komoditas lobster bernilai ekonomi tinggi secara global dan nasional. Di Indonesia telah teridentifikasi delapan spesies Panulirus, namun kajian morfologi–morfometri di Jawa Timur masih terbatas. Penelitian ini mendeskripsikan karakter morfologi eksternal dan morfometri enam spesies Panulirus di Jawa Timur. Dua puluh individu dari tiga lokasi (PPN. Prigi/Kab. Trenggalek, PP Paciran/Kab. Lamongan, dan Kab. Situbondo) dianalisis menggunakan karakter diagnostik antennular plate dan abdominal somites, serta tiga ukuran morfometri: panjang karapas/KRP (cm), antennular plate/ANT (mm), dan flagela/FLG (mm). Hasilnya, teridentifikasi enam spesies: P. homarus, P. longipes, P. ornatus, P. penicillatus, P. polyphagus, dan P. versicolor. Komposisi spesies per lokasi ialah: Kab. Trenggalek 5 spesies, Kab. Lamongan 1 spesies (P. polyphagus), dan Kab. Situbondo 2 spesies (P. ornatus dan P. homarus). Rata-rata KRP per lokasi menunjukkan Lamongan 8,44 ± 1,11 cm (n=5), Situbondo 7,12 ± 4,29 cm (n=5), dan Trenggalek 6,28 ± 1,85 cm (n=10). Pengelompokan UPGMA atas karakter morfologi menghasilkan dua pasangan yang berdekatan secara fenetik (P. longipes–P. versicolor; P. ornatus–P. homarus), sementara P. polyphagus dan P. penicillatus relatif terpisah. Hasil penelitian ini merupakan catatan awal yang menekankan karakter diagnostik; integrasi dengan data genetik pada sampel yang lebih besar diperlukan untuk menguji kesesuaian pola fenetik dengan garis keturunan evolusioner serta untuk mendukung pengelolaan sumber daya lobster secara berkelanjutan.   Spiny lobsters of the genus Panulirus (White, 1847; family Palinuridae) are high-value fisheries commodities globally and nationally. In Indonesia, eight Panulirus species have been documented, yet morphology–morphometrics for East Java remain limited. This study describes external morphological characters and morphometrics for six Panulirus species from East Java. Twenty individuals from three sites—PPN Prigi (Trenggalek Regency), PP Paciran (Lamongan Regency), and Situbondo Regency—were examined using diagnostic features of the antennular plate and abdominal somites, together with three morphometric measurements: carapace length (KRP, cm), antennular length (ANT, mm), and antennal flagellum length (FLG, mm). Six species were identified: P. homarus, P. longipes, P. ornatus, P. penicillatus, P. polyphagus, and P. versicolor. Species composition by site was: Trenggalek, five species; Lamongan, one species (P. polyphagus); and Situbondo, two species (P. ornatus and P. homarus). Mean KRP by site was 8.44 ± 1.11 cm (Lamongan, n = 5), 7.12 ± 4.29 cm (Situbondo, n = 5), and 6.28 ± 1.85 cm (Trenggalek, n = 10). UPGMA (unweighted pair group method with arithmetic mean) clustering of external characters resolved two phenetically close pairs (P. longipes–P. versicolor; P. ornatus–P. homarus), whereas P. polyphagus and P. penicillatus were relatively isolated. These results constitute a preliminary note emphasizing diagnostic characters; larger, spatially replicated samples and integration with genetic data are needed to test the congruence between phenetic patterns and evolutionary lineages and to support sustainable lobster management.
Analisis Kelayakan Teknis dan Finansial Usaha Produk Dendeng Belut (Studi Kasus pada UMKM Cemilan Teh Tati): Analysis of Technical and Financial Feasibility of Eel Jerky Product Business (Case Study on UMKM Cemilan Teh Tati) Hermawan, Astridya Syahada Putri; Gumilar, Iwang; Nurhayati, Atikah; Maulina, Ine
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 3 (2025): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.03.3

Abstract

UMKM Cemilan Teh Tati merupakan usaha yang bergerak dalam produksi dendeng belut di Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), serta melakukan analisis finansial bagi UMKM Cemilan Teh Tati. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Analisis GMP dan HACCP dilakukan berdasarkan pedoman Peraturan BPOM dengan menggunakan metode checklist evaluasi kepatuhan. Analisis finansial menggunakan perhitungan biaya produksi, harga pokok penjualan (HPP), Break-Even Point (BEP), Return Cost Ratio (R/C), dan Payback Period (PP) untuk mengukur profitabilitas usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UMKM Cemilan Teh Tati telah menerapkan sebagian besar aspek GMP dan HACCP dengan baik, namun masih terdapat kekurangan dalam pencatatan produksi dan pengelolaan titik kendali kritis. Dari segi finansial, usaha ini memiliki Return Cost Ratio (R/C) sebesar 1,34, yang menunjukkan usaha ini menguntungkan dan layak untuk dikembangkan.   UMKM Cemilan Teh Tati is a business engaged in the production of dendeng belut (eel jerky) in Tanjungkerta District, Sumedang Regency. This study aims to analyze the implementation of Good Manufacturing Practice (GMP) and Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), as well as conduct a financial analysis for UMKM Cemilan Teh Tati. The research method used is a descriptive method with a case study approach. GMP and HACCP analysis was conducted based on BPOM regulations using a compliance evaluation checklist method. Financial analysis was carried out using calculations of production costs, Cost of Goods Sold (COGS), Break-Even Point (BEP), Return Cost Ratio (R/C), and Payback Period (PP) to measure business profitability. The results showed that UMKM Cemilan Teh Tati had implemented most aspects of GMP and HACCP properly, although there were still shortcomings in production recording and critical control point management. In terms of financial analysis, the business has an R/C Ratio of 1.34, indicating that the business is profitable and feasible for development.
Analisis Kualitas Perairan Berdasarkan Tingkat Kesuburan dan Status Pencemaran Air Pesisir Bomo, Banyuwangi, Indonesia: Analysis of Water Quality Based on Trophic Status and Pollution Status in Bomo Coastal Waters, Banyuwangi, Indonesia Dewi, Nina Nurmalia; Nindarwi, Daruti Dinda; Sari, Putri Desi Wulan; Fauzan, Agung Luthfi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 3 (2025): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.03.4

Abstract

Perairan pesisir Bomo Banyuwangi merupakan wilayah pesisir yang potensial yang menjadi habitat bagi berbagai organisme akuatik. Adanya pengaruh antropogenik dapat berpotensi mempengaruhi kondisi perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi lingkungan perairan berdasarkan penentuan tingkat kesuburan dan status pencemaran air pesisir Bomo. Penelitian dilaksanakan di wilayah pesisir Bomo dengan pengambilan sampel di tiga stasiun yang diambil berdasarkan jarak perairan dari daratan. Setiap stasiun diambil sampel sebanyak 3 kali ulangan yang diambil selama 2 bulan pengamatan. Pengambilan sampel meliputi parameter kualitas air yang terdiri dari parameter fisika, kimia, dan biologi yang dianalisis secara insitu maupun exsitu. Data kualitas air dianalisis tingkat kesuburannya menggunakan pendekatan Trophic State Index (TSI) dan Trophic Level Index (TLI). Status pencemaran air dianalisis berdasarkan indeks storet dan indeks pencemaran (pollution index). Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa tingkat kesuburan perairan berada pada kategori eutrofik dengan nilai TSI 74,31-76,58 dan super-eutrofik dengan nilai TLI 6,39-6,84, sedangkan status pencemaran air dipesisir Bomo tergolong memiliki pencemaran yang tinggi dengan nilai indeks storet -37 dan -41 pada bulan Juli dan September dan berdasarkan indeks pencemaran (IP) memiliki nilai 9,10 dan 5,77 untuk masing-masing bulan Juli dan September. Hal ini menandakan bahwa adanya masukan limbah ke perairan yang mempengaruhi kondisi perairan pesisir Bomo.   Bomo Coastal Water Banyuwangi are a potential coastal area that is a habitat for various aquatic organisms. The presence of anthropogenic activity can potentially affect the condition of the waters. This study aims to determine the condition of the aquatic environment based on determining the level of trophic status and pollution status of the Bomo coastal waters. The study was conducted in the coastal area of ​​Bomo by taking samples at three stations taken based on the distance of the waters from the mainland. Each station was sampled 3 times during 2 months of observation. Sampling included water quality parameters consisting of physical, chemical, and biological parameters which were analyzed in situ and ex situ. Water quality data were analyzed for their trophic status using the Trophic State Index (TSI) and Trophic Level Index (TLI) approaches. Pollution status was analyzed based on the storet index and pollution index. Based on the results of the study, it was found that the level of water trophic status was in the eutrophic category with a TSI value of 74.31-76.58 and super-eutrophic with a TLI value of 6.39-6.84, while the status of water pollution on the Bomo coastal waters was classified as having high pollution with a Storet Index value of -37 and -41 in July and September and based on the Pollution Index had a value of 9.10 and 5.77 for July and September respectively. This indicates that there is waste input into the waters that affects the condition of the Bomo coastal waters.