cover
Contact Name
Alfian Rokhmansyah
Contact Email
jurnalilmubudaya.fibunmul@gmail.com
Phone
+6285385388335
Journal Mail Official
jurnalilmubudaya.fibunmul@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara, Gunung Kelua, Kec. Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia 75123
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 25497715     EISSN : 25497715     DOI : -
Jurnal Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya) merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya sebagai media publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, termasuk pengajarannya. Terbit sebanyak empat kali setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober, dan diterbitkan hanya dalam format elektronik.
Arjuna Subject : -
Articles 616 Documents
KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL POSESIF KARYA LUCIA PRIANDARINI: KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA Mutmainna, Mutmainna; Mursalim, Mursalim; Sari, Norma Atika
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 5, No 2 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v5i2.3850

Abstract

Penelitian ini fokus pada analisis kepribadian tokoh utama dalam novel Posesif karya Lucia Priandarini (2017) dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Penelitian ini adalah penelitian studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu mendeskripsikan suatu bentuk data yang berupa kata-kata yang terdapat dalam novel. Teknik pengumpulan data ialah teknik baca dan catat serta teknik analisis yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan  teori fakta cerita Robert Santon (alur, tokoh dan penokohan, latar), psikologi sastra (psikoanalisis Sigmund Freud) dan tipe kepribadian Hippocrates-Galenus. Hasil dari penelitian menunjukkan alur pada novel adalah alur maju. Tokoh utama bernama Lala Anindita, selain itu penggambaran latar dalam novel secara garis besar berada di kota Jakarta. Berdasarkan hasil analisis, tokoh Lala di kategorikan ke dalam tipe kepribadian koleris karena sikap maupun sifat yang dimiliki Lala termasuk ke dalam ciri-ciri dari kepribadian koleris. Selain itu, terdapat empat dorongan id, ego dan superego yang ada dalam diri Lala. Dorongan id Lala mampu terpenuhi oleh respon ego atas dasar pertimbangan respon superego. Id di tunjukkan ketika Lala memiliki obsesi untuk menang kompetisi, ingin bebas atau lepas dari represi sang Ayah, obsesi untuk mewujudkan cita-citanya dan obsesi untuk mendapatkan cinta. Respon ego di tandai ketika Lala dapat memenangkan kompetisi, kenyataan bahwa ia harus menuruti keinginan ayahnya, dapat mewujudkan cita-citanya serta mendapatkan cinta dari pria bernama Yudhis. Respon superego ditandai ketika Lala berjuang untuk memenangkan kompetisi, mempertimbangkan keinginan untuk lepas dari represi sang Ayah, mempertimbangkan jalan yang dilakukan untuk mewujudkan cita-citanya serta menjadikan Yudhis kekasihnya untuk mendapatkan cinta.
THE FUNCTIONS OF DIRECTIVE SPEECH ACTS OF MALEFICENT CHARACTER IN MALEFICENT MOVIE Biatrik, Desy; Natsir, M.; Kuncara, Singgih Daru
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 4, No 3 (2020): Juli 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v4i3.2869

Abstract

ABSTRACT The objectives of this study were to identify the types of directive speech acts and functions of language existed in Maleficent’s utterances. There were two theories used in order to fulfill the two objectives of this study. Searle’s (1979) types of directives helped the writer to identify types of directives speech acts uttered by Maleficent. While Jakobson’s (1960) functions of language helped to identify functions of language existed in each directive of Maleficent. This study was a qualitative research due to the fact of using words as its data taken from Maleficent movie script. As the method in analysing data, this study used conversation analysis in which taking account not only the utterances of Maleficent, but also the actions involved within. As the results, there were five types of directive speech acts and three functions of language found in the utterances of Maleficent in Maleficent movie script. The five types of directive speech acts were commanding, inviting, forbidding, requesting, and suggesting. Of all these five types, commanding was the most uttered and effective type by Maleficent regarding her role as the Moors’ protector who gave her the authority to command other people. Meanwhile, the three functions of language in Maleficent’s directives were expressive, conative, and referential. 
MONOMYTH: THE HERO’S STRUGGLE OF EZIO AUDITORE IN OLIVER BOWDEN’S ASSASSIN’S CREED RENAISSANCE NOVEL Noor, Muhammad Akmal Farhan
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 4, No 4 (2020): Oktober 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v4i4.3136

Abstract

Monomyth as known as hero’s journey was created to define the patterns of stages to become heroes. Every part of the stages consists challenges that force hero struggling to complete the stages. The form of struggle itself is variety depends on the condition and situation based on hero’s background. This research intended to find the hero’s struggle and hero’s journey that appeared in Ezio’s heroic journey. In this research, the researcher analyzed one of the characters from Assassin’s Creed Renaissance novel. In specific, a character, named Ezio Auditore, was analyzed through hero’s journey theory. The data were analyzed with hero’s struggle theory by George R. Goethals and Scott T. Allison, and hero’s journey theory by Joseph Campbel. The data were generated from the actions, dialogues, and other’s character’s narrations as well as Ezio’s struggle through his journey to become a hero. In conclusion, the research revealed that Ezio experienced all three struggles that mentioned by Goethals and Allison, those are pain and hardship, vulnerability and weakness, and evil encounter. It also matched eleven stages from seventeen stages of hero’s journey by Joseph Campbell, those are the call to adventure, refusal of the call, supernatural aid, the crossing of the first threshold, the road of trials, the meeting with the goddess, woman as the temptress, atonement with the father, apotheosis, the ultimate boon, and the crossing of the return threshold. Finally, the conclusion can be drawn is that the findings above strengthen the fact that Ezio Auditore in Assassin’s Creed Renaissance is a heroic story.
RACIAL DISCRIMINATION ISSUES AS SHOWN BY SOLOMON AND PATSEY IN 12 YEARS A SLAVE MOVIE Julan, Dezelin Brigitha; Surya, Satyawati; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 5, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v5i1.3261

Abstract

This study aimed to describe the portrayal of racial discrimination as shown in Solomon and Patsey characters of 12 Years A Slave movie. In order to do so, this study used Allport’s theory of intentional, explicit discrimination focusing on several types of racial discrimination such as verbal antagonism, avoidance, segregation, physical attacks, and extermination. The data used in this study were words in forms of narration, dialogue, and action related to the portrayal of racial discrimination towards Solomon and Patsey characters that were taken from 12 Years A Slave movie script. This study showed that the portrayal of racial discrimination as shown in Solomon and Patsey characters of 12 Years A Slave movie was classified into five types of intentional, explicit discrimination behaviours such as verbal antagonism, avoidance, segregation, physical attacks, and extermination. On one hand, the portrayal of racial discrimination as shown in Solomon character was included as verbal antagonism, avoidance, segregation, physical attacks, and extermination. On the other hand, the portrayal as shown in Patsey character was a bit different since Patsey did not experience any segregation treatment. This study concluded the portrayal of racial discrimination as shown in Solomon and Patsey characters occured as the result of white supremacy ideology as the basis thinking and belief of most white characters in the movie.
GAYA BAHASA MAJALAH NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA EDISI JULI-DESEMBER 2018 Mira Khoirina
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 5, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v5i1.3027

Abstract

Gaya bahasa merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas keindahan dalam sebuah tulisan. Penggunaan gaya bahasa yang terdapat dalam majalah juga mampu menambah nilai dalam sebuah informasi yang dapat menarik minat baca masyarakat, khususnya pada majalah National Geographic Indonesia edisi Juli sampai Desember 2018, memuat berbagai informasi dari berbagai belahan dunia. Penelitian ini ditujukan pada beberapa topik konten lokal yang berasal dari Indonesia. Rumusan masalah penelitian ini ialah (1) jenis gaya bahasa, dan (2) makna gaya bahasa. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kalimat yang mengandung gaya bahasa. Data diperoleh dengan teknik pengumpulan data yaitu baca dan catat menggunakan instrument berupa kartu data. Teknik analisis data menggunakan tiga alur, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan. Simpulan dalam penelitian ini ialah majalah National Geographic Indonesia mempergunakan berbagai macam majas atau gaya bahasa. Jenis gaya bahasa diklasifikasikan menurut teori stilistika dari Tarigan. Gaya bahasa perbandingan jenis yang ditemukan meliputi, perumpamaan, metafora, personifikasi, pleonasme, perifrasis, prolepsis dan koreksio. Gaya bahasa pertentangan meliputi hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, paranomasia, satire, paradoks, apostrof, hipalase, dan sarkasme. Gaya bahasa pertautan meliputi metonomia, eufimisme, epitet, antonomasia, erotesis, dan asidenton. Serta, gaya bahasa perulangan meliputi aliterasi dan epizeukis. Secara keseluruham, penggunaan gaya bahasa yang paling dominan adalah gaya bahasa perbandingan yang berjenis metafora. Penggunaan gaya bahasa dalam majalah National Geographic Indonesia ini juga menimbulkan berbagai macam makna yang disesuaikan dengan konteksnya, makna dari gaya bahasa tersebut ditimbulkan secara implisit dan eksplisit. Makna implisit merupakan makna yang ditunjukkan secara tersirat untuk mengungkapkan gagasan yang tersembunyi melalui manipulasi bahasa, seperti metafora, personifikasi hiperbola, litotes, ironi, satire, hipalase, metonomia, epitet, erotesis. Adapun makna eksplisit merupakan makna yang ditunjukkan secara tersurat, sebab gagasannya sudah tertera dengan jelas dalam kalimat yang disampaikan, seperti perumpamaan, pleonasme, perifrasis, prolepsis, koreksio, oksimoron, paranomasia, paradoks, apostrof, sarkasme, eufimisme, antonomasia, asindenton, aliterasi dan epizeukis.
PERAN GENERASI MILENIAL DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA DI DANAU TOBA Rajagukguk, Tri Putra; Sofianto, Kunto
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 4, No 3 (2020): Juli 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v4i3.3158

Abstract

The Millennials are terms that include human phenomena and are often talked about in cultural themes of society. This study aims to analyse the role of millennials in the development of tourism villages in Lake Toba and its implications for the preservation of cultural identities (case studies in the village of Simangulampe). The interview form is an open, semi-structured interview. Participants selected in the collection of data through interviews are the administrators of a youth organization (millennials) and indigenous people gathered in Simangulampe tourism village so that they can provide precise information about Potential, constraints, and strategies for the development of tourism attraction in the village. This research has led to the findings that the role of millennials in Lake Toba consists of: (1) The establishment of the GEMASAKTI organization against the potential development of tourism villages. (2) Tourism village socialization by generation of millennials on the development of Tourism Village (3) Problems and constraints of millennials related to the cultures and customs affected by modernity, mindset, human resources, Infrastructure availability, and promotional activities. (4) Form of millennial innovation related to the development efforts of Simangulampe tourism village is done by training and works. The implications are that millennials can familiarize themselves with socio-cultural traditions so that the cultural identity can be preserved and tourism creations in Lake Toba are progressing.
MAKNA TUTURAN DALAM PROSESI PERNIKAHAN ADAT KUTAI: TINJAUAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES Putri, Rizqi Purnama; Murtadlo, Akhmad; Purwanti, Purwanti
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 5, No 2 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v5i2.3223

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis makna denotasi dan konotasi dalam tuturan pernikahan adat Kutai dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Objek penelitian difokuskan pada permasalahan yang berkaitan dalam menyampaikan pesan-pesan mengenai nilai budaya yang tercermin di setiap prosesi pernikahan dalam tradisi masyarakat Kutai. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dengan wawancara langsung ke masyarakat Kutai yang memahami tuturan dalam pernikahan Adat Kutai. Merekam suara narasumber sebagai data dan mencatat segala hal yang perlu dicatat. Selanjutnya diperkuat dengan studi pustaka yakni dengan arsip perpustakaan daerah Kota Samarinda. Berdasarkan hasil pembahasan, menyimpulkan bahwa: 1). Makna denotasi pada prosesi pernikahan adat Kutai memiliki beberapa tuturan yakni Meminang, Kebun belukar, Nyorong tanda, Uang sumahan, Bepacar, Bealis, Naik Pengantin, Naik mentuha. Proses yang dilakukan untuk melamar seorang gadis kemudian menyerahkan seserahan baik berupa benda maupun uang. Tradisi ini dilakukan sebagai syarat dalam proses pernikahan adat Kutai. 2). Makna konotasi pada tuturan prosesi adat pernikahan Kutai yakni Meminang, kata kebun belukar yang dilambangkan sebagai seorang anak gadis yang akan diikat oleh laki-laki untuk dipersunting. Nyorong tanda, seserahan berupa benda agar terjaganya rahasia rumah tangga yang selalu sejalan mengarungi kehidupan berumah tangga. Bepacar, menandakan agar terhindarnya dari bencana serta aura mempelai wanita makin bercahaya. Bealis, menandakan agar mempelai wanita terlihat manis dan cantik. Naik pengantin, melambangkan kesulitan dan kebahagian di dalam rumah tangga serta mendapatkan hal-hal baik dikehidupan. Naik mentuha, sebuah kesiapan sang mempelai dalam melepaskan diri untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
TRADISI LISAN UPACARA ADAT SAUR MATUA SUKU BATAK TOBA: TINJAUAN ANTROPOLINGUISTIK Monica, Monica; Hudiyono, Yusak; Hanum, Irma Surayya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 4, No 3 (2020): Juli 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v4i3.2937

Abstract

AbstrakPemahaman masyarakat dalam memaknai umpasa dalam upacara adat seperti, Saur Matua diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal dan dapat melestarikannya tanpa mengubah aturan yang telah ada. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan dengan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah umpasa dalam adat Saur Matua yang bersumber dari tiga informan asli suku Batak Toba. Data diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara, teknik rekam, teknik sadap dan teknik lanjut catat. Setelah itu, data dianalisis dengan tahapan mereduksi data, penyajian data, dan membuat simpulan. Hasil penelitian adalah bentuk umpasa; makna umpasa yang terdapat dalam adat Saur Matua adalah makna leksikal, makna referensial, makna konotasi dan makna simbolik; dan fungsi umpasa meliputi fungsi kebudayaan, fungsi kemasyarakatan, fungsi pendidikan, fungsi perorangan dan fungsi religi.AbstractThe understanding of community in interpreting umpasa in traditional ceremonies such as, Saur Matua is expected to foster a love of local culture and can preserve it without changing existing rules. This research uses a type of field research with a qualitative descriptive research approach. The data in this study are umpasa in the Saur Matua tradition sourced from three native informants of the Batak Toba tribe. Data obtained using interview techniques, recording techniques, tapping techniques and note-taking techniques. After that, the data are analyzed with the stages of reducing the data, presenting, and making a conclusion. The results of the research are forms of umpasa; the meaning of umpasa contained in the Saur Matua custom is a lexical meaning, referential meaning, connotation meaning, and symbolic meaning; and umpasa functions include cultural functions, social functions, educational functions, individual functions and religious functions.
MANTRA PADA TRADISI MINUMAN PENGASIH DALAM PERNIKAHAN SUKU DAYAK BELUSU: KAJIAN FOLKLOR Sulistriani, Jenny; Mursalim, Mursalim; Dahlan, Dahri
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 5, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v5i1.4629

Abstract

The formulation of the problem in this study are (1) what is the form of the mantra in the tradition of the Dayak Belusu wedding Minuman Pengasih? (2) what is the function of the mantra contained in the tradition of the Dayak Belusu tribe wedding Minuman Pengasih? The research objectives were (1) to describe the form of the mantra in the tradition of the Dayak Belusu Minuman Pengasih  (2) to describe the function of the mantra contained in the tradition of the Dayak Belusu wedding Minuman Pengasih. The type of research used in this research is field research with a qualitative descriptive approach. The data used in this research is the mantra on the tradition of minuman pengasih in the Dayak Belusu tribal marriage, while the data sources in this study were obtained from informants. Data collection techniques used in this study include: observation, interviews, and documentation. The data analysis technique used in the research used qualitative analysis techniques, namely: (1) data collection, (2) data transcript, (3) transliteration, (4) drawing conclusions. The results of the analysis of the form of the mantra in the tradition of loving drink in Belusu tribal weddings are a form of prayer to the spirits of the ancestors and the function of the mantra to keep things away from bad things, so that the Belusu community events run smoothly and remain harmonious.
KEPERCAYAAN DALAM MITOS BEO’ SUKU DAYAK PUNAN APUT KECAMATAN KAYAN HILIR KABUPATEN MALINAU KALIMANTAN UTARA: KAJIAN FOLKLOR Julia, Julia; Mursalim, Mursalim; Dahlan, Dahri
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 5, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v5i1.4605

Abstract

Beo’ adalah salah satu kepercayaan Suku Dayak Punan Aput yang yang masih melekat di kehidupan penganutnya hingga masa kini. Beo’ bagi Suku Dayak Punan dipercayai sebagai utusan dari Sang Pencipta utuk menyampaikan pesan atau pedoman baik dan buruk dalam beraktivitas. Beo’ mempunyai arti penting bagi kehidupan suku dayak Punan Aput. Suku Dayak Punan Aput memercayai bahwa Beo’ adalah sejenis burung yang dinamai Lagehek. Burung ini memberi tanda dengan suaranya tentang baik dan buruknya suatau kegiatan atau aktivitas yang akan dilakukan oleh Suku Dayak Punan Aput. Dari suara burung inilah masyarakat akan memutuskan akan melanjutkan atau menunda, bahkan menghentikan aktivitasnya. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang menerapkan analisis pendekatan deskriptif kualitatif. Tujuan pendekatan tersebut untuk mendeskripisikan secara sistematis tentang Beo’ yang merupakan suatu kepercayaan suku Dayak Punan Aput. Langkah selanjutnya adalah dengan menganalisis dengan tiga tahapan berupa reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan hasil penelitian. Analisis awal menggunakan teori religi dan folklor untuk mendapatkan pembahasan mengenai Beo’. Teori selanjutnya yang digunakan adalah mitos. Teori tersebut digunakan untuk mendeskripsikan mitos Beo’ suku Dayak Punan Aput. Hasil penelitian menunjukkan mitos Beo’ suku Dayak Punan Aput memiliki arti yang sangat berpengaruh bagi kehidupan suku Dayak Punan Aput pada masa lampau hingga masa sekarang. Hal demikian dikarenakan suku Dayak Punan masih berpedoman kepada Beo’ sebagai simbol atas keberlangsungan aktivitas yang akan dilakukan.