cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Pengaruh Medication Therapy Management terhadap Kadar HbA1c Pasien Diabetes Melitus yang Mendapatkan Terapi Insulin Akuba, Jusnita; Wiedyaningsih, Chairun; Andayani, Tri Murti
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i1.98974

Abstract

Pasien diabetes melitus yang mendapatkan terapi insulin rata-rata mempunyai kadar HbA1c relatif tinggi. Kurangnya pengetahuan dan kepatuhan pasien terkait terapi insulin dapat menjadi menyebab terjadinya hipoglikemia yang dapat memperburuk kondisi klinik pasien. Medication Therapy Management merupakan sebuah model intervensi apoteker berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya untuk mengatasi permasalahan terkait obat dan meningkatkan outcome pasien secara individu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan medication therapy management terhadap kadar HbA1c pasien diabetes melitus yang menggunakan terapi insulin. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimental dengan one group pretest-posttest design dilakukan pada 25 pasien diabetes melitus yang mendapatkan terapi insulin yang rutin berkunjung ke poliklinik RSUD Toto Kabila Gorontalo dan memenuhi kriteria inklusi. Pasien mendapatkan intervensi pelayanan berbasis medication therapy management dan dilakukan pengukuran kadar HbA1c pre dan post intervensi. Analisis perubahan kadar HbA1c pre dan post intervensi menggunakan uji paired t-test. Setelah pelayanan berbasis MTM terjadi penurunan kadar HbA1c dengan rata-rata 10,93 ± 2,22 menjadi 9,42 ± 2,54 dengan p = 0,006. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan medication therapy management dapat menurunkan kadar HbA1c pasien diabetes melitus yang mendapatkan terapi insulin.
Unveilling Aucubin’s Pharmacological Landscape: A Bibliometric Study on Antioxidant and Anti-Inflammatory Activities Amalia, Latifa; Murwanti, Retno; Hertiani, Triana
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i1.99621

Abstract

Aucubin is an iridoid glycoside known to have various pharmacological activities. Current research data shows that the pharmacological activities are very diverse and complex, so bibliometric analysis is used to facilitate understanding and provide references for further research directions. Publications related to the pharmacological activities of aucubin were obtained through the Web of Science Core Collection (WoSCC) database, which were then analyzed using Vosviewer 1.6.20 software. A total of 152 publications were obtained from the period 2013-2023, consisting of 142 articles and ten review articles. The articles came from 45 countries, 204 institutions, 862 authors, and 42 journals. Based on keyword analysis, the most frequently appearing pharmacological activities were "antioxidant" and "anti-inflammatory" that can be the primary development directions in the future.
Pharmacokinetic Virtual Screening and Molecular Docking Simulation for Evaluating Cytochrome P450 CYP3A4 Interactions Between Glibenclamide and Eurycoma longifolia Jack Extract Isnaini, Puti; Marbun, Prajona; Purwantiningsih, Purwantiningsih; Nugroho, Agung Endro
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i1.102022

Abstract

Type 2 diabetes mellitus is a chronic disease with a globally increasing prevalence. The treatment of diabetes mellitus involves oral blood glucose-lowering agents, including glibenclamide. Although effective, glibenclamide can cause severe hypoglycemia, leading people to often combine it with herbal remedies such as the root extract of Eurycoma longifolia (ELRE), commonly known in Malaysia and Indonesia as the herbal medicine Tongkat Ali. ELRE is known for its anti-diabetic effects through enhanced insulin sensitivity and antioxidant activity. However, the pharmacokinetic interaction between ELRE and glibenclamide, particularly involving CYP3A4, which metabolizes glibenclamide, has not been well studied. This study employed an in silico approach using pharmacokinetic virtual screening server, followed by molecular docking analysis to evaluate the potential interaction. The results indicated that nearly all of the investigated ELRE chemical constituents showed high predicted affinity, with two compounds, 14,15β-dihydroxyklaineanone and niloticin, exhibiting higher affinity than glibenclamide for CYP3A4. These compounds may act as competitive substrates, potentially influencing glibenclamide metabolism.  
Safety evaluation of Oral NSAID Treatment on Blood Pressure in Osteoarthritis Patients: Preventive study to Cardiovascular Events Rosnarita, Intan Adevia; Khudzaifi, Muhammad; Priswa, Nindya
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i1.103508

Abstract

Osteoarthritis (OA) is a degenerative joint disorder primarily affecting weight-bearing joints, causing pain, stiffness, and reduced mobility. Although there is no cure, symptom management focuses on pain relief and inflammation reduction, often through the use of nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs). However, NSAIDs are known to increase blood pressure, which poses concerns for long-term use, especially in patients with pre-existing cardiovascular risk factors. Given the chronic nature of OA and the common prescription of long-term NSAID therapy, it is important to assess their impact on blood pressure and cardiovascular health. This study aimed to evaluate the safety of oral NSAID therapy in terms of its effects on blood pressure in osteoarthritis patients at Dr. Moewardi Surakarta Regional General Hospital. An observational descriptive design was used with purposive sampling, analyzing data retrospectively from 35 OA patients receiving outpatient treatment for three months. The Wilcoxon signed-rank test was applied to assess changes in blood pressure, with statistical significance set at p<0.05. Results showed a significant increase in both systolic (11.3 ± 7.9 mmHg, p<0.05) and diastolic blood pressure (8.9 ± 7.0 mmHg, p<0.05) following NSAID use over the 3-month period. These findings highlight the need for careful monitoring of blood pressure in OA patients on long-term NSAID therapy, particularly those at higher cardiovascular risk. Long-term safety assessments are essential when considering NSAID treatment, and alternative therapeutic options should be considered for high-risk patients.
Eksplorasi Faktor-Faktor Determinan Time In Therapeutic Range Pada Pasien Lanjut Usia Dengan Fibrilasi Atrium Wanggol, Agata Christi Febriani; Wiedyaningsih, Chairun; Setiabudi, I Dewa Putu Pramantara
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i1.103532

Abstract

Warfarin telah lama digunakan sebagai antikoagulan utama untuk fibrilasi atrium. Dengan indeks terapi sempit, penggunaannya membutuhkan pemantauan ketat, terutama pada lansia yang mengalami perubahan fisiologis yang memengaruhi farmakokinetik dan farmakodinamiknya. Time in therapeutic range (TTR) menjadi parameter utama untuk menilai kualitas kontrol antikoagulasi Warfarin. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor determinan TTR pada pasien lanjut usia dengan fibrilasi atrium kronik. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain cross sectional. Data diperoleh dari rekam medis pasien fibrilasi atrium yang menjalani rawat jalan di Poli Jantung RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode consecutive sampling. Sebanyak 40 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks massa tubuh dan risiko perdarahan (HAS-BLED) berpengaruh terhadap kualitas kontrol antikoagulasi Warfarin. Pasien non-obesitas berpotensi kecil untuk mencapai kontrol antikoagulasi yang baik (TTR ≥65%) dibandingkan pasien obesitas (OR = 0,14, CI 95% = 0,02 – 0,91, p = 0,039), pasien dengan risiko perdarahan rendah-sedang (skor HAS-BLELD 1-2) 9,1 kali lebih berpotensi mencapai TTR ≥65% dibandingkan pasien berisiko tinggi mengalami perdarahan (skor HAS-BLED ≥3) (OR = 9,1 , 95% CI = 1,29 – 64,11, p = 0,027).
Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Apoteker terhadap Pharmaceutical Care Husna, Ulviani Yulia
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i1.103646

Abstract

Pharmaceutical Care didefinisikan sebagai pelayanan yang bertanggung jawab terhadap terapi obat dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang pasti serta  meningkatkan kualitas pasien. Pharmaceutical Care menggambarkan tujuan dari farmasi klinik apabila dilihat dari praktek pofesional kefarmasian. Pharmaceutical Care melibatkan peran Apoteker untuk mengembangkan rencana terapeutik yang akan menghasilkan hasil terapeutik yang spesifik untuk pasien. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahu gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku apoteker terhadap Pharmaceutical Care. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan instrumen kuesioner. Dari 146 apoteker diperoleh bahwa pengetahuan apoteker masuk dalam kategori cukup (35,6%), sikap apoteker masuk dalam kategori cukup (99,3%) dan perilaku apoteker masuk dalam kategoti cukup (99,3%).
Studi Perbandingan Penggunaan Antiplatelet Sebelum Dan Sesudah Adanya “Clinical Pathway Stroke Iskemik” Ni’mah, Farihatun; Kurniawati, Fivy; Yasin, Nanang Munif
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i1.104705

Abstract

Stroke merupakan penyebab kematian dan disabilitas jangka panjang. Sebagian besar kejadian stroke adalah stroke iskemik. Pemberian antiplatelet secara tepat perlu dilakukan untuk mencegah kejadian stroke berulang dan kejadian kardiovaskuler lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antiplatelet, ketepatan penggunaan antiplatelet, dan gambaran status keluar pasien pada pasien stroke iskemik sebelum dan sesudah berlakunya “Clinical Pathway (CP) Stroke Iskemik” di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yang pengambilan datanya dilakukan secara retrospektif dengan metode purposive sampling. Subyek penelitian terdiri dari 32 pasien sebelum berlakunya CP dan 32 pasien sesudah berlakunya CP. Evaluasi ketepatan penggunaan antiplatelet dilakukan menggunakan standar pelayanan medik dan Formularium RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, American Heart Association/American Stroke Association guideline untuk pasien sebelum berlakunya CP dan “Clinical Pathway Stroke Iskemik” RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta untuk pasien sesudah berlakunya CP. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 64 pasien (32 pasien sebelum CP dan 32 pasien sesudah CP), 20 pasien periode sebelum berlakunya CP mendapatkan antiplatelet aspirin, klopidogrel, cilostazol, dan 25 pasien periode setelah berlakunya CP mendapat antiplatelet aspirin, klopidogrel. Ketepatan penggunaan antiplatelet pada pasien sebagian besar adalah tepat, dengan kriteria tepat indikasi (62,5% sebelum berlakunya CP; 78,1% sesudah berlakunya CP), tepat obat (100% sebelum berlakunya CP; 56% sesudah berlakunya CP), tepat dosis (75% sebelum berlakunya CP; 80% sesudah berlakunya CP), dan tepat pasien (100% sebelum berlakunya CP; 100% sesudah berlakunya CP). Status keluar pasien sebagian besar dengan status membaik (sebelum berlakunya CP sebanyak 19 pasien; sesudah berlakunya CP sebanyak 23 pasien). Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan CP dapat meningkatkan ketepatan dalam pemilihan antiplatelet yang tepat.
Penggunaan Benzodiazepin Dalam Mengatasi Ansietas Pada Lansia: Narrative Review Pratiwi, Farni Yuliana; Probosuseno, Probosuseno; Ikawati, Zullies
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i2.88795

Abstract

Gangguan ansietas seringkali menjadi salah satu penyebab masalah kesehatan yang umum dialami oleh kelompok lanjut usia. Lansia merupakan kelompok yang rentan dalam menghadapi kecemasan sehingga dapat memperburuk kualitas hidup, terutama bila tidak ditangani dan diobati. Dalam praktek klinik, benzodiazepin merupakan terapi yang sering diresepkan untuk mengatasi gangguan ansietas, namun penggunaan benzodiazepin sebagai terapi dalam mengatasi gangguan ansietas tidak tepat diberikan pada kelompok usia lanjut karena terkait risiko efek samping. Masalah keamanan utama dari penggunaan benzodiazepin dalam jangka waktu yang lama yang menjadi perhatian sebab dikaitkan dengan peningkatan efek samping seperti sedasi, amnesia, gangguan kognitif dan ataksia, serta dapat menyebabkan peningkatan risiko jatuh. Tujuan artikel ini memaparkan penggunaan benzodiazepin dalam mengatasi ansietas pada lansia. Artikel ini merupakan tinjauan naratif dengan penelusuran yang dilakukan menggunakan database elektronik seperti PubMed dan ScienceDirect. Kriteria inklusi dalam artikel ini mengggunakan literatur yang diterbitkan 10 tahun terakhir dengan subjek penelitian yaitu pasien lansia yang mengalami gangguan ansietas dan mendapatkan terapi jenis benzodiazepine. Hasil penulusuran diperoleh 4 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Gangguan ansietas lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Pemberian benzodiazepine dengan dosis rendah dan durasi waktu yang singkat mampu memperbaiki gangguan ansietas pada lansia, namun pemberiannya perlu diwaspadai terkait risiko efek samping yang tidak diinginkan.
Polypharmacy, Drug-drug Interaction and Potentially Inappropriate Medication in Hospitalized Elderly Patients with Cardiovascular Diseases in Wangaya Hospital Septiani, Ana Maulida; Rahmawati, Fita
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i2.93730

Abstract

Cardiovascular diseases (CVDs) are common diseases in the elderly as aging can cause changes in the heart and blood vessels. Patients with CVD are prone to multimorbid conditions which lead to the use of multiple medications (polypharmacy). Polypharmacy is susceptible to drug-drug interaction (DDI) and potentially inappropriate medication (PIM). This study aimed to identify polypharmacy, DDI, and PIM in hospitalized elderly patients with CVD. The design of this study is retrospective cross-sectional. A number of 100 medical records were employed and analyzed descriptively. Polypharmacy is defined as administering multiple medications at the same time or excessive medication administration of ≥4 drugs or ≥5 drugs. Potential DDI was detected by Lexicomp Application. PIM was identified based on Beers criteria 2019. The findings showed that most patients were male (55%) and aged 60-70 (72%). Most of the patients (48%) were categorized as moderate polypharmacy (8-10 medications/day). Potential DDI was revealed in 97% of patients, and Beers Criteria 2019 identified 280 cases of PIM. The study showed that polypharmacy, DDI, and PIM frequently occurred in hospitalized elderly patients with CVD. Pharmacists should pay more attention to reviewing the prescription. Therefore, the process of pharmacotherapy can be optimized and increase safety for elderly patients with CVDs.
Identifikasi Faktor yang Mempengaruhi, Mikroorganisme, dan Sensitivitas Antibiotik Pada Pasien Ulkus Kaki Diabetik : Kajian Literatur Maulidiah, Rizka; Yasin, Nanang Munif; Nuryastuti, Titik
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i2.94342

Abstract

Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien diabetes yaitu adanya ulkus yang berisiko terjadi infeksi yang dapat berkibat gangguan neurologis dan pembuluh darah perifer pada bagian ekstremitas bawah. Ulkus ditandai dengan terjadinya kerusakan kulit yang disertai dengan menghilangnya epitel yang bisa meluas hingga dermis dan lapisan yang lebih dalam. Penulisan artikel ini bertujuan melihat faktor yang mempengaruhi, mikroorganisme, dan sensitivitas antibiotik pasien ulkus diabetikum.  Penelitian ini dilakukan dengan metode PRISMA dengan mencari data pada database seperti Scopus. Hasil yang didapatkan dari review yaitu faktor yang dapat mempengaruhi komplikasi ulkus diabetik diantaranya yaitu usia, jenis ulkus, kedalaman dan derajat ulkus, kekambuhan, tingkat obesitas, BMI, penggunaan antibiotik yang tidak tepat, dan osteomielitis mempunyai hubungan dengan infeksi MDR pada pasien infeksi kaki diabetik bakteri gram negatif yang sering ditemukan yaitu Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella penumonia, Proteus mirabillis, dan Escherichia coli. Sedangkan bakteri gram positif yang sering ditemukan yaitu Staphylococcus aureus dan Enterococcus faecalis. Bakteri gram negatif mempunyai sensitivitas yang baik terhadap amikasin, sedangkan vancomysin, teicoplanin, dan tigecycline mempunyai sensitivitas yang baik pada bakteri gram positif.