cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 534 Documents
Mallotus repandus (Rottler) Müll.Arg. sebagai Obat Tradisional oleh Masyarakat Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur Loe, Wahyuni Ester; Murti, Yosi Bayu; Purwantini, Indah
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 2 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i2.111128

Abstract

Mallotus repandus adalah tumbuhan yang masuk dalam famili Euphorbiaceae dengan berbagai aktivitas farmakologi. Oleh masyarakat Kota Kupang, tumbuhan ini sering disebut sebagai “pohon daun rote” yang digunakan sebagai obat tradisional secara turun-temurun hingga saat ini. Dokumentasi pengetahuan tradisional diperlukan sebagai upaya pelestarian kearifan lokal untuk mencegah hilangnya informasi yang hanya diwariskan secara lisan. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan pengetahuan tradisional terkait penggunaan M. repandus dan identifikasi potensinya sebagai obat tradisional yang sudah digunakan secara turun temurun. Penelitian dilakukan melalui wawancara dengan metode snowball sampling pada 14 warga lokal di tiga lokasi di wilayah Kota Kupang. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat lebih memanfaatkan bagian akar M. repandus yang dimanfaatkan untuk membantu mengatasi sakit kepala, pusing, lemas, lelah, sesak nafas, gangguan penglihatan, serta untuk mempercepat pemulihan ibu pasca melahirkan. Tumbuhan ini memiliki akar yang bercabang sehingga pengambilan bagian akar tidak menyebabkan kematian tumbuhan. Dari 14 responden semuanya berpendapat jika tumbuhan ini lebih dikenal untuk dikonsumsi pada ibu pasca melahirkan.
Optimasi Komposisi Carbopol, Gliserin, dan Triethanolamin terhadap Karakteristik Fisikokimia Emulsi Gel Serum Minyak Kenanga (Cananga odorata) Winarni, Winarni; Zulkarnain, Abdul Karim; Lukitaningsih, Endang
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 2 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i2.115077

Abstract

Minyak kenanga (Cananga odorata) memiliki kandungan metabolit sekunder sebagai sumber antioksidan yang berkontribusi dalam mekanisme anti-aging yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan formula emulgel serum dengan sifat fisik dan stablitias sesuai kaidah farmasetis sediaan kosmetik. Metode yang digunakan dalam optimasi formula menggunakan Design Expert versi 13 yaitu Simplex Lattice Design (SLD) pada komposisi bahan carbopol, gliserin, dan TEA. Parameter yang diukur adalah pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat serta uji stabilitas freeze and thaw cycles. Hasil respon uji sifat fisik yang diperoleh dianalisis menggunakan SPSS one sample t-test dan paired t-test pada uji stabilitas. Hasil penelitian diperoleh bahwa komposisi formula optimal diperoleh dengan komponen carbopol 0,4762%, TEA 0,6644%, dan gliserin 5,66%. Sediaan emulgel serum yang diperoleh berwarna putih opaque, berbau khas minyak kenanga, dan homogen dengan viskositas 1133 ± 23,09 cP; pH sebesar 6,45 ± 0,18; daya sebar sebesar 6,43 ± 0,15 cm; daya lekat sebesar 1,42 ± 0,07 detik. Sediaan emulgel serum minyak kenanga memberikan hasil yang baik/stabil dalam uji stabiltas respon fisik yang dibuktikan dengan nilai signifikansi diatas 0,05.
Kajian Literatur : Efektivitas dan Efek Samping Sertralin Pada Pasien Depresi Meilanie Dwi Anggraeni; Zullies Ikawati, Apt.; Bambang Hastha Yoga Legowo Budiman
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 3 (2026): IN PRESS
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i3.94100

Abstract

Depresi ialah kondisi mental yang banyak terjadi pada usia dewasa. Pada depresi berat memerlukan terapi antidepresan. Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) adalah pilihan pertama. Terapi sertralin menjadi salah satu terapi yang banyak dianjurkan pada pasien depresi dengan mempertimbangkan efektivitas dan efek berikutnya. Kajian literatur ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas dan keamanan sertralin dan pengaruh efek samping pada remisi pada pasien depresi. Pencarian literatur pada studi ini dilakukan dengan database PubMed, Clinical Key, dan Cochrane yang diterbitkan 10 tahun terakhir dengan metode RCT. Ditemukan sebanyak 105 artikel dan 8 artikel yang memenuhi kriteria peneliti, 6 artikel diantaranya membahas efektivitas dan keamanan terapi sertralin, dan 2 artikel lain membahas hubungan efek samping dengan tingkat remisi depresi. Secara keseluruhan tidak ditemukan perbedaan signifikan pemberian sertralin monoterapi dengan antidepresan lain. Efek samping yang disebabkan oleh sertralin ringan – berat, hanya 2 artikel yang menyatakan adanya hubungan efek samping dengan tingkat remisi, sehingga belum dapat disimpulkan secara pasti.
Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada Infeksi Multidrug-Resistant Organisms (MDRO) Dengan Metode Gyssens Afni Panggar Besi; Nanag Munif Yasin; Ika Puspitasari
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 3 (2026): IN PRESS
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i3.102777

Abstract

Infeksi yang disebabkan oleh MDRO (Multidrug-Resistant Organisms) menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Unit Perawatan Intensif (ICU) merupakan lingkungan berisiko tinggi untuk infeksi MDRO. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan korelasi antara penggunaan antibiotik definitif yang rasional pada infeksi MDRO dan hasil klinis, serta lamanya perawatan di ICU. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitis dengan pendekatan kohort retrospektif, menganalisis data sekunder dari Catatan Kesehatan Elektronik (EHR). Evaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik definitif didasarkan pada metode Gyssens, dan korelasi antara ketepatan penggunaan antibiotik dan hasil klinis, seperti perbaikan kondisi pasien dan lamanya perawatan (LOS), diukur menggunakan analisis bivariat (Chi-Square, P = 0,05). Hasil: Angka kejadian infeksi MDRO adalah 40,25%. Evaluasi rasionalitas berdasarkan kategori Gyssens menunjukkan bahwa 82,64% penggunaan antibiotik sesuai (Kategori 0). Studi ini tidak menemukan hubungan signifikan dengan hasil klinis (p: 0,387 > 0,05), sedangkan lama tinggal (LOS) menunjukkan hubungan signifikan (p: 0,000 < 0,05). Penggunaan antibiotik rasional memperpendek durasi tinggal di ICU menjadi kurang dari 14 hari pada 52,43% kasus. Kesimpulan: Penggunaan antibiotik definitif untuk infeksi MDRO tidak memengaruhi hasil klinis tetapi memengaruhi lama tinggal di ICU.
Standardisasi Fraksi Kaya Andrografolid dalam Andrographis paniculata dan Fraksi Kaya 6-Shogaol dalam Zingiber officinale Maurits Rama Yitro Tolip; Dyaningtyas Dewi Pamungkas Putri; Agung Endro Nugroho
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 3 (2026): IN PRESS
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i3.104123

Abstract

Dalam metode pengobatan tradisional, kombinasi herbal Andrpgraphis paniculata (Burm.f) Nees dan Zingiber officinale Rosc. telah digunakan secara luas untuk mencapai manfaat terpatetik yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan fraksi sambiloto dan fraksi jahe yang terstandar dengan standardisasi berdasarkan parameter penetapan kadar senyawa, kengujian kadar air, pemeriksaan organoleptis, dan analisis cemaran mikroba. Fraksi Etil Asetat Sambiloto (FEAS) dan Fraksi Etil Asetat Jahe (FEAJ) memiliki kadar andrografolid 14,01±0.61 % dan kadar 6-shogaol 3,44 ± 0,30 %. Rerata kadar air masing-masing adalah 8,53% dan 3,75%. Evaluasi organoleptis FEAS adalah fraksi kering, bau khas sambiloto, dan warna hijau kehitaman. Evaluasi orgaanoleptis FEAJ adalah fraksi kental, bau khas kahe, dan warna jingga kehitaman. Hasil uji cemaran AKK pada FEAS sebesar  cfu/g FEAJ sebesar  cfu/g. Hasil uji cemaran ALT pada FEAS sebesar  cfu/g dan FEAJ sebesar  cfu/g. Berdasarkan parameter tersebut kedua fraksi telah memnuhi parameter standardisasi dan dapat dikembangkan sebagai herbal kombinasi terstandar untuk mengatasi penyakit melalui pengujian lebih lanjut seperti in vitro dan in vivo.
Professional Fee untuk Pelayanan Kefarmasian di Apotek : a Systematic Review Muhammad Erick Mutaqin; Susi Ari Kristina; Nanang Munif Yasin
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 3 (2026): IN PRESS
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i3.105263

Abstract

Praktik kefarmasian di Apotek di Indonesia di atur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 73 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Standar pelayanan kefarmasian di Apotek menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 73 tahun 2016 meliputi standar pengelolaan sediaan farmasi, alat Kesehatan, bahan medis habis pakai dan pelayanan farmasi klinik. Sebagaimana pelayanan farmasi klinik disini meliputi: pengkajian resep; dispensing; pelayanan informasi obat (PIO); konseling, pelayanan kefarmasian di rumah (home pharmacy care); pemantauan terapi obat (PTO); dan monitoring efek samping obat (MESO). Tinjauan sistematis ini menggunakan metode diagram PRISMA. Database elektronik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Summon dan Garuda. Batasan artikel hanya yang dipublikasi 5 tahun terakhir yaitu pada tahun 2017 sampaitahun 2022. Pencarian awal pada database Summon didapatkan 74 artikel dan pada database Garuda didapatkan 75 artikel sehingga total didapatkan 149 artikel. Dari 149 artikel tersebut dilakukan screening dengan mengeluarkan artikel yang non-open accesssebanyak 117 artikel, selanjutnya dilakukan telaah eligibilitas dan didapatkan 7 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi. Berdasarkan review tersebut, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang besaran biaya jasa pelayanan yang ideal pada pelayanan kefarmasian di apotek guna meningkatkan kualitas dalam pelayanan kefarmasian di apotek.
Gambaran Efektivitas Triheksifenidil Terhadap Sindrom Ekstrapiramidal Pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta Fita Rahmawati; Bambang Hastha Legawa Budiman
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 3 (2026): IN PRESS
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i3.106583

Abstract

Triheksifenidil adalah antikolinergik yang telah lama dianggap sebagai pengobatan terapi sindrom ekstrapiramidal (EPS). Di Indonesia sebagian besar pasien skizofrenia yang diterapi dengan antipsikotik diberikan obat tambahan triheksifenidil untuk mengatasi EPS maupun sebagai profilaksis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran efektivitas terapi triheksifenidil terhadap sindrom ekstrapiramidal pada pasien skizofrenia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta. Pengumpulan data dari rekam medik pasien skizofrenia periode Januari-Desember 2024. Kriteria inklusi penelitian adalah pasien skizofrenia berusia dewasa ≥18 tahun yang diterapi triheksifenidil dengan gejala EPS, sedangkan kriteria eksklusi adalah data rekam medik yang tidak lengkap dan pasien dengan penyakit penyerta Parkinson, didapatkan 100 sampel pada penelitian ini. Karakteristik pasien menunjukan lebih banyak usia dewasa (18-59 tahun) 85%, jenis kelamin laki-laki 60%, jenis skizofrenia Undifferentiated Schizophrenia 55%. Jenis antipsikotik mayoritas yang diresepkan adalah atipikal 88% dengan terapi kombinasi 2 antipsikotik 63%, dan gejala EPS yang banyak yaitu parkinsonisme 82%. Hasil penelitian menunjukkan 74 pasien mengalami gejala EPS negatif setelah mendapatkan terapi triheksifenidil. Dosis triheksifenidil yang paling banyak diberikan adalah 4mg/hari, yang diterima oleh 67 pasien dan terdapat gejala EPS negatif pada 48 pasien. 
Analisis Kadar Rhodamin B Pada Lip Gloss di Kota Ternate Menggunakan Spektrofotometri UV-Vis Sekar Ayu Pratiwi; Putri Tasya Usman; Febrianika Ayu Kusumaningtyas
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 3 (2026): IN PRESS
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i3.107461

Abstract

Lip gloss merupakan produk kecantikan yang dirancang untuk memberikan bibir berkilau yang mencolok seringkali juga menambahkan sentuhan warna yang lembut ini produk atau formulasi yang mampu menciptakan efek kilau dan bercahaya pada bibir, yang terkadang juga memberikan sedikit sentuhan warna.  Rhodamin B merupakan zat warna sintetis yang berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan atau merah keunguan, tidak berbau, larutan akan berwarna merah terang berpendar, pewarna ini biasa digunakan dalam industri tekstil dan kertas. Namun kenyataanya Rhodamin B masih digunakan dalam berbagai   produk   pangan   terutama   pada makanan   berwarna   merah   terang.penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Rhodamin B pada lip gloss yang beredar di kota ternate.metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara random sampling (pengambilan sampel secara acak) penetapan kadar Rhodamin B dengan pembuatan larutan baku Rhodamin B, Panjang gelombang, kurva baku, dan penetapan kadar. Berdasarkan hasil penelitian pada penetapan kadar Rhodamin B dalam tiga sampel lip gloss yang beredar di pasar gamalama kota ternate dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis, bahwa lima sampel tersebut positif mengandung Rhodamin B dilihat hanya sedikit sekali kadar yaitu Rhodamin B yaitu dengan kadar sampel A 0,0000603, sampel B 0,00001096, sampel C 0,00001276. Disimpulkan kadar Rhodamin B pada lip gloss tidak memenuhi persayaratan BPOM.
Jumlah dan Kombinasi Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi Pada Pasien Gagal Jantung Kongestif Rawat Inap di Instalasi Layanan Jantung Terpadu RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Najwa Khoirunnisa; Putri Damayanti; Syazili Mustofa; Asep Sukohar
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 3 (2026): IN PRESS
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i3.114347

Abstract

Gagal Jantung Kongestif (CHF) adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas, terutama  pasien dengan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Memahami pola faktor risiko ini dan kombinasinya penting karena mereka berkontribusi pada beban kardiometabolik yang berperan dalam gagal jantung. Untuk menentukan distribusi jumlah dan pola kombinasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi pada pasien gagal jantung kongestif yang menjalani rawat inap. Studi ini menggunakan desain potong lintang deskriptif dengan data sekunder berupa rekam medis pasien Gagal Jantung Kongestif (GJK) yang dirawat di Instalasi Pelayanan Jantung Terpadu Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek selama periode 2023–2024. Analisis dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi jumlah dan pola kombinasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Sebanyak 64 pasien memenuhi kriteria inklusi. Mayoritas pasien memiliki lebih dari satu faktor risiko. Jumlah faktor risiko yang paling sering adalah tiga (28,1%), diikuti oleh empat (23,4%) dan dua (21,8%). Kombinasi faktor risiko yang paling umum adalah hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, obesitas, dan merokok, yang muncul pada 8 pasien (12,5%). Kombinasi lain menunjukkan variasi yang mencerminkan beban kardiometabolik yang berbeda. Semakin banyak dan kompleks kombinasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi, semakin tinggi kemungkinan gagal jantung kongestif. Pengendalian komprehensif terhadap faktor risiko diperlukan untuk mengurangi kejadian dan perkembangan gagal jantung.
ALPHA GLUCOSIDASE ENZYME INHIBITORY ACTIVITY TEST OF ETHYL ACETATE FRACTION OF RARU (Cotylelobium melanoxylon Pierre) LEAVES USING IN VITRO APPROACH Alif Isra Fajari; Tatang irianti; Hari Purnomo
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 3 (2026): IN PRESS
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i3.114547

Abstract

Raru (Cotylelobium melanoxylon) is a plant that has been traditionally used in North Sumatra for its potential therapeutic benefits, particularly in the treatment of diabetes. The purpose of this study was to determine the potential of the ethyl acetate fraction of Raru leaves as an antidiabetic through in vitro testing using the α-glucosidase enzyme. The research began with the method of separating compounds from methanol extract and fractionation, followed by looking at the separation of each fraction using the TLC method, glucosidase inhibition test. The results of this study indicate that the ethyl acetate fraction of Raru leaves has α-glucosidase enzyme inhibitory activity (IC50 = 7.19 ppm) which is categorized as a strong inhibitor.