cover
Contact Name
Surya Farid Sathotho
Contact Email
suryafarid@isi.ac.id
Phone
+6282228334645
Journal Mail Official
dtreview@isi.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Dance and Theatre Review: Jurnal Tari, Teater, dan Wayang
ISSN : 25025880     EISSN : 26866027     DOI : https://doi.org/10.24821/dtr.v4i2
Core Subject : Humanities, Art,
Dance & Theater Review (DTR) is a journal published in May and November, hosted by the Faculty of Performing Arts of Institut Seni Indonesia Yogyakarta. It is firstly published in May 2018. Journal of DTR contains any results of research and creation of dance, theatre, and wayang as well as performing arts education.
Articles 82 Documents
Integrasi Pendekatan Teater dalam Pembelajaran Seni Pemeranan untuk Mahasiswa Film: Studi Kasus pada Metode Stanislavsky dan Games and Exercise Warsana, Dedi; Pauhrizi, Erik Muhammad
Dance and Theatre Review Vol 7, No 2: November 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v7i2.13905

Abstract

Penelitian ini mengkaji penerapan pendekatan teater dalam pembelajaran seni pemeranan untuk mahasiswa film, khususnya dengan mengadopsi metode Stanislavsky dan Augusto Boal. Fokus penelitian adalah pada efektivitas metode memori emosional (emotional memory) dari Stanislavsky dengan pendekatan games and exercise dalam membantu mahasiswa memahami karakter peran mereka, serta bagaimana integrasi latihan teater dan film dapat meningkatkan kualitas performa dalam produksi film. Penelitian ini juga mengeksplorasi pengaruh latihan intensif terhadap kesiapan aktor dan hasil akhir teater dan film, dengan tujuan memberikan kontribusi terhadap pengembangan kurikulum pendidikan film serta model pembelajaran seni pemeranan yang lebih komprehensif dan aplikatif, dengan menekankan pentingnya seni pemeranan sebagai bagian integral dari proses produksi film.
Model Pembuatan Profil Ekowisata Berbasis Teknologi Drone Padukuhan Bleberan Desa Banaran Kabupaten Kulon Progo D.I.Yogyakarta Yudiaryani, Yudiaryani; Rino Pungkiawan, Pius; Islamy, Bunga
Dance and Theatre Review Vol 8, No 1: May 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v8i1.14083

Abstract

Penelitian ini merupakan salah satu cara untuk menerapkan cara perancangan terpadu antara teknologi digital, seni, budaya, dan konsevasi hayati. Pentingnya pembuatan profil padukuhan dan kelurahan berdasarkan data potensi desa dan kelurahan, serta data tingkat perkembagan desa dan kelurahan. Berdasarkan identifikasi permasalahan, profil Desa Banaran terbaru telah memuat beberapa data dan informasi seperti yang dipersyaratkan dalam Permendagri Nomor 12 Tahun 2007. Namun, data lain masih belum lengkap. Oleh karena itu, tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah melakukan pembuatan profil Padukuhan Bleberan Desa Banaran yang memuat data potensi desa secara teknologi drone, dan menyajikan data profil Padukuhan Bleberan Desa Banaran yang dapat diakses dalam versi elektronik digital.  Metode yang digunakan adalah pengumpulan data sekunder, survei, dan wawancara. Evaluasi dari kegiatan ini dilakukan secara langsung pada saat kegiatan pembuatan profil, sehingga sesuai keingina n masyarakat sasaran. Pengunaan teknologi Komputer mampu menyimpan data secara permanen dan  langsung diakses masyarakat. Dua pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Teknologi Drone dan pendekatan Ekowisata Alam. Teknologi drone bertujuan memberikan informasi hasil analisa data spasial yang di analisis dalam aplikasi digital. Pendekatan Ekowisata adalah bentuk pariwisata yang penting untuk konservasi hayati. Dengan mendukung dan mempromosikan ekowisata, masyarakat mampu melindungi keanekaragaman hayati dan keindahan alam.Kata kunci: ekowisata; teknologi drone; model profil; dukuh Bleberan.
The Transformation of Pencak Silat in Perangan Rajamala and Abilawa Prisented by Sudirman Ronggo Darsono. Hidayatulloh, Muhammad Nabil; Suyanto, Suyanto
Dance and Theatre Review Vol 8, No 1: May 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v8i1.14894

Abstract

Sudirman Ronggo Darsono's sabet perangan has its own characteristics because there is a combination of pencak silat movements. The movement is transformed with the medium of a wayang whose movement has been distilled. Motion transformation research was carried out using qualitative methods, data analysis, and interviews. Sudirman's style of sabet perangan is described specifically about the technique combined with silat movements that it becomes a treasure and insight for readers. The results of the study revealed that several silat movements are transformed to sabet perangan wayang, such as punches, kicks, slams, and evasion.
Ngayah Topeng Sidhakarya: Spirit Pengabdian melalui Bhakti dan Karma Marga Dana, I Wayan; Anggraeni, Agustin; Manganti, Galih Suci
Dance and Theatre Review Vol 8, No 1: May 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v8i1.12993

Abstract

Ngayah adalah tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Bali sebagai kewajiban sosial dalam menerapkan ajaran bhakti dan karma marga.bhakti marga merupakan jalan penyerahan diri, patuh dan setia kepada Sang Pencipta (Tuhan). Karma marga melalukan jalan dengan perbuatan, bekerja tanpa pamrih. Topeng Sidhakartya merupakan salah satu genre seni pertunjukan topeng Bali yang disajikan sebagai bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan yadnya (korban suci). Tujuan penelitian ini ingin mengetahui bahwa para seniman Bali melaksanakan profesinya dengan jalan penyerahan diri dan berbuat atau berkarya sepenuhnya sebagai spirit pengabdian yang tulus ikhlas kepada Sang pencipta alam semesta dengan menyajikan Topeng Sidhakarya. Topeng Sidhakarya sesuai namanya, topeng ini yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan sebuah yadnya, dengan hadirnya topeng ini menadakan bahwa karya atau kerja menjadi sidha (selesai) dengan sempurna. Metode yang digunakan metode penelitian kualitatif yang pelaksanaannya lebih mengarah pada pengumpulan data melalui observasi secara langsung di lapangan. Hasil yang diharapkan bahwa profesi sebagai penari, khususnya Topeng Sidhakarya adalah untuk ngayah (mengabdi) berkaitan dengan persembahan yang tulus ikhlas (bhakti dan karma marga) kepada Sang Pencipta.
BÂJÂNG KERTÈ: SENI PERTUNJUKAN WAYANG TOPENG MASYARAKAT SITUBONDO Hidayatullah, Panakajaya
Dance and Theatre Review Vol 8, No 1: May 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v8i1.14465

Abstract

This research seeks to examine the bâjâng kertè art form from various aspects, including its history and developmental dynamics, form and function, transmission and regeneration, as well as performance modes and survival strategies. The study employs a qualitative research approach, utilizing ethnographic methods. Data were collected through participatory observation, interviews, and literature review. The data were then interpreted by employing a multidisciplinary perspective, including history and performing arts. The findings reveal that bâjâng kertè is an intangible cultural heritage of significant value to the community of Situbondo. It was created by a skilled Madurese puppeteer named Kertisuwignyo, who later migrated and settled in Situbondo. Bâjâng kertè flourished in Situbondo during the 1970s to the 1990s. It was performed in various contexts such as parlo, rokat panhâbâ, rokat tasè’, rokat bhumi, salamettan, and other events. Its performance structure consists of several parts, including dhing-ghendhingan, tèmangan, tari srimpi, and maen carèta. This art form serves multiple functions within the community, including educational, entertainment, spiritual, and economic purposes. The knowledge and skills related to bâjâng kertè are culturally transmitted by its artists through two pathways: informal learning (cantrik) and group training. Various challenges and problems faced by bâjâng kertè artists have ultimately sparked new innovations. These include the emergence of new performance modes such as topeng rokatan, topeng can-macanan, topeng lawak, and the incorporation of bâjâng kertè content in audiovisual recordings.
Dampak Masa Pandemi Covid-19 Pada Eksistensi Festival Film: Studi Kasus Festival Film Pelajar Jogja 2020 Setyawan, Deddy; Widyastutieningrum, Sri Rochana; Handriyotopo, Handriyotopo; Hartanto, Denny Antyo; Setyawati, Febfi
Dance and Theatre Review Vol 8, No 1: May 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v8i1.19466

Abstract

The Impact of Covid-19 Pandemic Toward Film Festival; Case Study on Jogja Student Film Festival 2020. The Covid-19 pandemic poses a big challenge for the sustainability of film festivals as a space for the distribution and appreciation of student works in Indonesia. The Jogja Student Film Festival (FFPJ), which has been taking place since 2010, faced an extraordinary situation in 2020 when the organization had to transform from an offline format to an online format. This study aims to describe the adaptation process of FFPJ management throughout the pandemic and identify the driving factors for these changes. A qualitative descriptive approach is used with data collection techniques in the form of documentation, structured observations, and interviews with founders, judges, volunteers, and festival participants. The validity of the data is maintained through source triangulation while the analysis is carried out using the management function theory framework (POAC). The results of the study show that strategic adaptation and the use of digital technology allow the sustainability of the festival without permanent sponsors, while still prioritizing aspects of critical literacy and appreciation space for young filmmakers. FFPJ organizers and communities have shown the ability to maintain the existence and regeneration of the student film community even in crisis conditions.Keywords: Student's Film Festival, Covid-19 Pandemic, Existence 
Estetika Tari Jajang Thek Pada Hari Tari Dunia Isi Surakarta Tahun 2025 Fitri, Ellyza Anisa
Dance and Theatre Review Vol 8, No 2: November 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v8i2.15924

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis Estetika yang terdapat dalam Tari Jajang Thek. Tari Jajang Thek merupakan tari kreasi baru yang memiliki arti Jajang yaitu bambu dan Thek yaitu aksen suara dari kentongan bambu Ketika dipukul yang berbunyi thek thek thek. Tari Jajang Thek diciptakan oleh Dwi Nusa Aji Winarno S,Sn. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Langkah-langkah atau metode penelitian yang meliputi Observasi, Pengumpulan data, Dokumentasi, dan Wawancara. Bentuk dan Estetika tari Jajang Thek yang terdapat pada tarian tersebut dapat dilihat dari Gerak, Tata rias, Busana, Properti, Musik dan Pola lantai. Estetika tari Jajang Thek dapat dilihat dari pemahaman Estetika dan Dinamika Estetika yang dilihat dari bentuk tarian tersebut.Kata kunci: Tari Jajang Thek, Bentuk, Estetika
Traditional Values and Tetekon: Creativity and Innovation in Padalangan of Sundanese Wayang Golek Purwa Maulana, Marsel Ridky
Dance and Theatre Review Vol 8, No 2: November 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v8i2.16738

Abstract

Wayang golek purwa is one of the traditional art performances of the Sundanese community that has a standardized structure and tetekon in its performance. However, along with the times that affect the way of thinking of the performers of wayang golek purwa art, there are changes in function and structure that affect the tetekon of the previous wayang golek purwa performance. The purpose of this study is to examine the changes in the value of tetekon in the art of wayang golek purwa related to the development of creativity and innovation from the young generation of puppeteers. This research uses descriptive qualitative method through observation, audio-visual analysis of wayang golek performances, and literature study on wayang golek purwa puppetry. Based on these methods, it was found that there is a paradoxical phenomenon in wayang golek art: on the one hand, creativity plays an important role in maintaining the existence of wayang golek art, but on the other hand, it is often considered to violate tetekon or traditional rules. Tetekon needs to be interpreted not only as a standard rule, but as a principle that can provide space for creativity and innovation to maintain the relevance of wayang golek art.
The Symbolic Meaning of Beksan Manunggal Jati Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta Aji Adityanto, Yosef; Dermawan, Wisnu
Dance and Theatre Review Vol 8, No 2: November 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v8i2.17576

Abstract

AbstractBeksan Manunggal Jati diambil dari ide dan gagasan menyatunya Kasultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman Yogyakarta. Dalam tari klasik gaya Yogyakarta terdapat beberapa macam bentuk sajian pertunjukan tari yang berbeda.Beksan Manunggal Jati ini merupakan jenis tari kelompok yang ditarikan oleh tujuh orang penari putera dengan konsep bedhayan menjadi pijakan dalam karya tari ini. Menyatunya Kasultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman dalam DIY mencerminkan semangat persatuan dan nasionalisme kedua kerajaan tradisional ini dalam mendukung berdirinya Indonesia sebagai negara merdeka. Secara kontekstual, aspek-aspek koreografis yang terdapat pada sajian beksanManunggal Jati ini memuat makna, nilai simbolik, dan filosofis tentang spiritual dan ajaran luhur kehidupan yang terkandung dalam lambang Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta. Beksan ini mengadaptasi beberapa esensi konsep bedhaya gaya Yogyakarta serta memunculkan idiom-idiom gerak baru dalam penyajiannya. Ciri kontekstual tari bedhaya terdapat pada makna yang terkandung didalam gerak tari, pola lantai, busana, tembang atau sekar yang terdapat pada iringan juga sebagai sarana penyampaian narasi cerita dalam bedhaya.
Ondel-ondel Sebagai Inspirasi Utama Penciptaan Karya Tari Ondel Lodeh Agustina, Hasna; MD, Slamet; Putro, Renaldi Lestianto Utomo
Dance and Theatre Review Vol 8, No 2: November 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v8i2.15892

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan gagasan inspirasi hingga bentuk sajian dengan latar belakang kreativitas yang dilakukan oleh koreografer yang dipentaskan oleh Sanggar Seni Budaya Khatulistiwa dalam kegiatan Hari Tari Dunia 24 Jam Menari ISI Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Adapun tahap penelitian nya dengan pengumpulan data melalui wawancara, studi literatur, dan sumber data tertulis serta foto. Karya tari Ondel Lodeh merupakan garapan baru yang berpijak pada gerak kontemporer tradisi dan disajikan secara berkelompok. Tari Ondel Lodeh diciptakan oleh Anis Sania Kartika. Karya tari Ondel Lodeh berangkat dari perjalanan barongan menjadi ondel-ondel, serta pergeseran fungsi pada ondel-ondel dari generasi ke generasi. Ondel-ondel, yang dahulu dikenal dengan nama Barongan dan berperan sebagai ritual tolak bala, telah mengalami pergeseran fungsi seiring perkembangan zaman. Pergerseran fungsi ini berlangsung secara turun temurun antar generasi. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa bentuk penyajian tari Ondel Lodeh yang terdiri atas unsur gerak tari, tata rias dan busana serta  musik yang mendukung suasana pertunjukkan yang terinspirasi dari Ondel-ondel mampu menciptakan karya tari Ondel Lodeh melalui proses kreativitas oleh koreografer.Kata kunci: Tari Ondel Lodeh, Ondel-ondel, Inspirasi, Hari Tari Dunia.