cover
Contact Name
muhammad ikhsan
Contact Email
ichsan@uwgm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmm.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jalan KH. Ahmad Dahlan No 1 Pagesangan, Kota Mataram - NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri)
ISSN : 25988158     EISSN : 26145758     DOI : 10.31764/jmm.v4i2.1962
Core Subject : Education,
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) is a journal published by the Mathematics Education Departement of Education Faculty of Muhammadiyah University of Mataram. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) aims to disseminate the results of conceptual thinking and ideas, especially the results of educational research and technology to be realized in the community, including (1) Fields of science, applied, social, economic, cultural, health, ICT development, and administrative services, (2) Training and improvement in the results of educational, agricultural, information and communication, and religious technology (3) Teaching and empowering communities and communities of students, youth, youth and community organizations on an ongoing basis
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 3,539 Documents
SOSIALISASI MANAJEMEN REKAM MEDIS ELEKTRONIK BAGI SISWA SMA DAN SMK Ovita Mayasari; Nisa Nur Kusuma; Ayuk Maryani; Erinda Nailun Ni’mah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.41110

Abstract

Abstrak: Transformasi digital di sektor kesehatan mewajibkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan menerapkan Rekam Medis Elektronik (RME) sesuai PMK No. 24 Tahun 2022. Namun, literasi siswa SMA/SMK mengenai manajemen data kesehatan dan peluang karier di bidang Manajemen Informasi Kesehatan (RMIK) masih rendah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan praktis siswa melalui sosialisasi dan simulasi RME. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, pre-test, praktik input data menggunakan aplikasi SIMRS Pilar, dan post-test. Kegiatan dilaksanakan di SMK X dan SMA X di Surakarta dengan total 241 peserta. Evaluasi pengetahuan (kuantitatif) dilakukan melalui pre-test dan post-test, sedangkan evaluasi kualitatif dilakukan melalui observasi keaktifan dan antusiasme siswa selama sesi praktik berlangsung. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, di mana 100% peserta yang mengikuti post-test berhasil memperoleh nilai di atas 60. Meskipun partisipasi post-test mengalami penurunan sebesar 32,8% karena keterbatasan waktu, antusiasme siswa dalam praktik simulasi sangat tinggi. Simpulan dari kegiatan ini adalah edukasi berbasis praktik sangat efektif dalam menjembatani kesenjangan antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri kesehatan digital.Abstract: The digital transformation in the healthcare sector requires all healthcare facilities to implement Electronic Medical Records (EMR) in accordance with Minister of Finance Regulation No. 24 of 2022. However, high school and vocational high school students’ literacy regarding health data management and career opportunities in the field of Health Information Management (HIM) remains low. This community service activity aims to improve students’ understanding and practical skills through EMR outreach and simulations. The methods used include interactive lectures, pre-tests, hands-on data entry practice using the SIMRS Pilar application, and post-tests. The activity was conducted at Vocational High School X and Senior High School X in Surakarta with a total of 241 participants. Knowledge assessment (quantitative) was conducted through pre-tests and post-tests, while qualitative evaluation was based on observations of student engagement and enthusiasm during the practical sessions. The results showed an increase in knowledge, with 100% of participants who took the post-test scoring above 60. Although participation in the post-test decreased by 32.8% due to time constraints, student enthusiasm for the simulation practice was very high. The conclusion from this activity is that practice-based education is highly effective in bridging the gap between the school curriculum and the needs of the digital healthcare industry.
SOSIALISASI DAN PENDAMPINGAN DIGITAL MARKETING MELALUI KONTEN SOFT SELLING BERBASIS HARD TRENJACKING Nabiilah Lintang Wardani Prayogo; Muhammad Rivaldo; Adetria Nur Salsabilla Prasetyo; Sicilia Dwi Anggraeni; Dewi Sekar Arum; Mirza Ramadhani
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40267

Abstract

Abstrak: Pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi di CV Kajeye Food telah dilakukan melalui Instagram, TikTok, dan WhatsApp, namun pemahaman karyawan mengenai digital marketing, soft selling, dan trendjacking masih rendah sehingga konten promosi cenderung berorientasi pada hard selling. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan karyawan dalam menerapkan strategi digital marketing berbasis soft selling dan trendjacking. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatif partisipatif melalui observasi, sosialisasi, pendampingan praktik pembuatan konten, dan evaluasi. Mitra kegiatan adalah CV Kajeye Food dengan delapan karyawan sebagai peserta. Evaluasi dilakukan melalui wawancara terstruktur dan observasi berdasarkan indikator pemahaman digital marketing, soft selling, trendjacking, dan kemampuan membuat konten promosi. Hasil menunjukkan peningkatan pada seluruh indikator, dari 25% sebelum kegiatan menjadi 75% setelah kegiatan. Peserta mampu mengidentifikasi tren media sosial, menerapkan teknik soft selling, serta menghasilkan konten promosi yang lebih kreatif dan relevan dengan karakteristik audiens digital.Abstract: CV Kajeye Food has utilized social media platforms, including Instagram, TikTok, and WhatsApp, for product promotion. However, employees’ understanding of digital marketing, soft selling, and trendjacking remained limited, resulting in promotional content that relied heavily on hard-selling approaches. This community service program aimed to enhance employees’ knowledge and skills in implementing digital marketing strategies based on soft selling and trendjacking. The program employed a participatory educational approach consisting of observation, socialization, hands-on mentoring, and evaluation. The partner was CV Kajeye Food, involving eight employees as participants. Evaluation was conducted through structured interviews and observations using indicators of digital marketing knowledge, soft-selling understanding, trendjacking comprehension, and promotional content creation skills. The results showed an improvement across all indicators, increasing from 25% before the program to 75% after implementation. Participants were able to identify social media trends, apply soft-selling techniques, and produce more creative and audience-relevant promotional content.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI ENERGI BARU DAN TERBARUKAN UNTUK MEWUJUDKAN KOMUNITAS MANDIRI ENERGI Aldi Cahya Muhammad; Roiman Roiman; Yohanes Galih Adhiyoga; Arie Pangesti Aji
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40366

Abstract

Abstrak: Tingginya ketergantungan terhadap bahan bakar fosil di era krisis energi global saat ini menuntut adanya langkah strategis untuk beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan, terutama di kawasan perdesaan yang masih terkendala oleh akses energi murah dan berkualitas. Implementasi pengabdian masyarakat ini krusial untuk dilaksanakan guna menstimulasi transformasi sosial-ekonomi di pedesaan, mengatasi hambatan kesejahteraan, serta berkontribusi nyata pada pencapaian SDGs Poin 7 terkait penyediaan energi bersih yang terjangkau. Kegiatan ini diorientasikan untuk memberdayakan kelompok lansia dalam membangun wilayah yang mandiri energi, melalui peningkatan aspek softskill berupa pemahaman manajerial EBT sekaligus hardskill dalam wujud kecakapan teknis pemeliharaan infrastruktur. Guna mencapai tujuan tersebut, diterapkan metode partisipatif yang mengombinasikan ceramah edukatif, Focus Group Discussion (FGD), serta praktik lapangan yang terintegrasi dengan analisis potensi energi lokal (surya, angin, dan biomassa). Program ini menyasar mitra strategis yang terdiri dari 20 orang lansia di bawah naungan Indonesia Ramah Lansia (IRL) Jawa Barat. Evaluasi keberhasilan program diukur secara komprehensif melalui penyebaran angket (pre-test dan post-test) serta observasi langsung terhadap performa mitra. Berdasarkan hasil evaluasi, intervensi ini terbukti efektif yang ditandai dengan melonjaknya pemahaman (softskill) peserta sebesar 42% serta peningkatan kecakapan teknis (hardskill) dalam merawat infrastruktur EBT mencapai 48%.Abstract: The high dependency on fossil fuels amid the current global energy crisis demands strategic efforts to transition toward more environmentally friendly energy sources, particularly in rural sectors that remain constrained by limited access to affordable and quality energy. This community service initiative is crucial to implement in order to stimulate socio-economic transformation in rural areas, overcome welfare barriers, and contribute tangibly to the achievement of SDGs Goal 7 regarding the provision of affordable and clean energy. This program is oriented toward empowering older adults to establish an energy-independent region by enhancing both soft skills (understanding of renewable energy management) and hard skills (technical proficiency in infrastructure maintenance). To achieve these objectives, a participatory methodology was deployed, combining educational lectures, Focus Group Discussions (FGDs), and hands-on field practices integrated with an analysis of local energy potential (solar, wind, and biomass). The program targeted strategic partners consisting of 20 older adults under the auspices of Indonesia Ramah Lansia (IRL) West Java. The success of the program was comprehensively evaluated through the administration of questionnaires (pre-test and post-test) and direct observation of the partners' performance. Based on the evaluation results, this intervention proved to be highly effective, as evidenced by a 42% surge in participants' understanding (soft skills) and a 48% increase in their technical proficiency (hard skills) in maintaining renewable energy infrastructure.
PROGRAM SKRINING SINDROM METABOLIK SEBAGAI UPAYA DETEKSI DINI PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA LANSIA Syuhada Syuhada; Sri Teguh Rahayu; Mashuri Yusuf; Gemmy Sarina; Annysa Ellycornia Silvyana; Benazir Evita Rukaya
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.38404

Abstract

Abstrak: Prevalensi sindrom metabolik pada kelompok lanjut usia terus meningkat seiring bertambahnya usia dan perubahan gaya hidup, namun kondisi ini sering tidak terdeteksi karena sifatnya yang asimtomatik. Apotek komunitas berpotensi menjadi titik deteksi dini yang strategis, mengingat keterbatasan akses masyarakat lansia ke fasilitas laboratorium konvensional. Tujuan kegiatan ini adalah memetakan profil tekanan darah, gula darah sewaktu, dan kolesterol total pada lansia, mengidentifikasi proporsi kelompok berisiko sindrom metabolik, dan memberikan edukasi serta rujukan berbasis hasil skrining. Metode yang digunakan adalah skrining deskriptif cross-sectional dengan Point of Care Testing (POCT), dilanjutkan konseling farmasi individual oleh apoteker. Mitra kegiatan adalah Apotek Vita Plus, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, dengan 68 partisipan lansia yang berpartisipasi secara sukarela, dilaksanakan setiap hari Jumat periode November–Desember 2025. Melalui pemeriksaan POCT pada 68 partisipan lansia, ditemukan prevalensi hiperkolesterolemia sebesar 52,9%, hipertensi 32,3%, dan hiperglikemia 13,2%. Analisis lanjutan mengidentifikasi 10,3% partisipan memiliki ketiga faktor risiko sindrom metabolik secara bersamaan. Temuan klinis ini menjadi dasar pelaksanaan tindak lanjut berupa pemberian edukasi farmasi individual, rekomendasi perbaikan pola hidup, serta rujukan medis lanjutan.Abstract: The prevalence of metabolic syndrome in the elderly continues to increase with age and lifestyle changes, but this condition often goes undetected due to its asymptomatic nature. Community pharmacies have the potential to be strategic early detection points, given the limited access of elderly people to conventional laboratory facilities. The objectives of this activity are to map the profiles of blood pressure, random blood sugar, and total cholesterol in the elderly, identify the proportion of groups at risk of metabolic syndrome, and provide education and referrals based on screening results. The method used is descriptive cross-sectional screening with Point of Care Testing (POCT), followed by individual pharmacy counseling by pharmacists. The activity partner is Apotek Vita Plus, Tarakan City, North Kalimantan, with 68 elderly participants participating voluntarily, held every Friday from November–December 2025. Through Point-of-Care Testing (POCT) on 68 elderly participants, the prevalence of hypercholesterolemia was found to be 52.9%, alongside hypertension at 32.3%, and hyperglycemia at 13.2%. Further analysis revealed that 10.3% of the participants simultaneously exhibited all three risk factors for metabolic syndrome. These clinical findings served as the basis for follow-up interventions, which included individualized pharmaceutical education, recommendations for lifestyle modifications, and advanced medical referrals.
LITERASI MEDIA DIGITAL UNTUK PENGEMBANGAN WIRAUSAHA KADER MUDA NASYIATUL AISYIYAH DI KECAMATAN MOYUDAN SLEMAN Taufiqur Rahman; Nita Andrianti; Elita Putri Pradipta; Hari Akbar Sugiantoro
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40485

Abstract

Abstrak: Program pengabdian masyarakat memfokuskan pada penguatan perempuan muda berdaya melalui etos wirausaha cakap digital bagi kader-kader Pimpinan Cabang Nayiatul Aisyiyah Moyudan dengan jumlah peserta aktif 20 Orang. Program ini dilatarbelakangi kondisi kader muda yang masih kurang berpengalaman dalam membangun kewirausahaan digital. Program ini bertujuan dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis wirausahawan muda dalam membangun bisnis digital yang sukses. Metode pelaksanaan melalui workshop yang menghadirkan narasumber praktisi media sosial dan kewirausahaan, dengan pendekatan diskusi interaktif, praktik penggunaan media sosial untuk kewirausahaan, dan pendekatan berbagi pengalaman dari para peserta yang telah melakukan wirausaha digital. Hasil dari program ini adalah peningkatan pemahaman peserta mengenai desain dan strategi pengelolaan media digital, dengan peningkatan pemahaman rata-rata peserta sebesar 15-20% (kuantitatif) berdasarkan analisis skor pre-tes dan post-tes. Peningkatan pemahaman peserta mencakup pengetahuan yang berkaitan dengan desain pemasaran produk digital dan strategi pemasaran. Kemampuan praktis, peserta mampu memanfaatkan fitur share produk, menulis konten yang menarik, strategi pemasaran yang efektif dan perluasan pasar melalui platform digital, serta kemampuan merancang kerangka kerja pemasaran digital yang baik.Abstract: The community service program focuses on empowering young women through a digitally savvy entrepreneurial mindset among cadres of the Nayiatul Aisyiyah Moyudan Branch Leadership, with 20 active participants. This program was initiated in response to the lack of experience among young members in developing digital entrepreneurship. The program aims to enhance the knowledge and practical skills of young entrepreneurs in building successful digital businesses. The program was implemented through workshops featuring guest speakers who are social media and entrepreneurship practitioners, using an interactive discussion approach, hands-on practice with social media for entrepreneurship, and sharing experiences among participants who have already engaged in digital entrepreneurship. The outcome of this program is an increase in participants’ understanding of digital media design and management strategies, with an average improvement of 15–20% (quantitative), as measured by pre-test and post-test scores. This improvement encompasses knowledge related to digital product marketing design and marketing strategies. In terms of practical skills, participants were able to utilize product-sharing features, write engaging content, implement effective marketing strategies, expand their market reach through digital platforms, and design a solid digital marketing framework. 
REVITALISASI FASILITAS PENDIDIKAN UNTUK MENDUKUNG AKTIVITAS PEMBELAJARAN PASCABENCANA Muhammad Arifin Lubis; Asmaul Husna; Aswin Fahmi Darma
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.39900

Abstract

Abstrak: Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara menyebabkan kerusakan pada sarana dan prasarana pendidikan di SMK TI Sibuhuan, termasuk fasilitas ruang belajar seperti meja, kursi, papan tulis, dan perlengkapan pendukung pembelajaran lainnya. Kondisi tersebut menghambat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar serta mengurangi kenyamanan siswa dalam mengikuti proses pendidikan di sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan untuk merevitalisasi fasilitas pendidikan agar aktivitas pembelajaran pascabencana dapat kembali berjalan secara optimal. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui tahapan identifikasi kebutuhan, sosialisasi program, pendampingan, dan pemberian bantuan fasilitas pendidikan kepada pihak sekolah dengan melibatkan guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Evaluasi program dilakukan melalui observasi langsung di lapangan serta penyebaran angket kepuasan kepada penerima manfaat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kenyamanan belajar sebesar 88% berdasarkan tanggapan guru dan siswa, peningkatan efektivitas proses pembelajaran sebesar 75%, serta peningkatan kesiapan sekolah dalam mendukung pembelajaran pascabencana sebesar 68%. Selain itu, program revitalisasi ini juga berkontribusi dalam menciptakan kembali lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan mendukung keberlangsungan pendidikan di sekolah.Abstract: Floods that struck several areas in North Sumatra caused damage to educational facilities and infrastructure at SMK TI Sibuhuan, including classroom facilities such as desks, chairs, whiteboards, and other learning support equipment. This condition disrupted the teaching and learning process and reduced students’ comfort in participating in educational activities at school. This community service activity was carried out with the aim of revitalizing educational facilities so that post-disaster learning activities could run optimally again. The implementation of the activity was conducted through stages of needs identification, program socialization, mentoring, and the distribution of educational facility assistance to the school by involving teachers, educational staff, and students. Program evaluation was conducted through direct field observations and the distribution of satisfaction questionnaires to beneficiaries. The results of the activity showed an 88% increase in learning comfort based on the responses of teachers and students, a 75% increase in the effectiveness of the learning process, and a 68% increase in school readiness in supporting post-disaster learning. In addition, this revitalization program also contributed to recreating a safer, more comfortable, and more supportive learning environment for the continuity of education at the school.
EDUKASI GIZI BERBASIS PIRING T SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN MASALAH DIABETES TIPE 2 Nazhif Gifari; Rachmanida Nuzrina; Putri Ronitawati; Mury Kuswari; Maya Fernandya
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40892

Abstract

Abstrak: Prevalensi diabetes melitus tipe II terjadi peningkatan yang didominasi lanjut usia dengan pengetahuan gizi secara umum masih rendah. Tujuan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posbindu melalui edukasi berbasis media Piring T Diabetes. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, penyuluhan, dan pelatihan kepada 30 kader Posbindu di Jakarta. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test sebanyak 10 pertanyaan serta observasi selama seminggu untuk melihat keterampilan kader dalam menjelaskan kembali materi. Hasil menunjukkan peningkatan skor pengetahuan dari rata-rata 77,6 menjadi 86,4. Selain itu, sekitar 80% peserta mampu memahami dan mengaplikasikan konsep porsi makan seimbang menggunakan Piring T dengan cara mengirimkan dokumentasi makanan selama proses edukasi dan pengabdian masyarakat. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat ini meningkatkan kemampuan kader dalam edukasi gizi secara mandiri dan berpotensi meningkatkan kualitas layanan Posbindu sehingga mencegah masalah diabates tipe 2.Abstract: The prevalence of type 2 diabetes mellitus has increased, particularly among the elderly population, whose general nutrition knowledge remains limited. This community service program aimed to improve the knowledge and skills of Posbindu cadres through education using the Diabetes Plate (Piring T) media. The methods included socialization, counseling, and training involving 30 Posbindu cadres in Jakarta. Evaluation was conducted using a 10-item pre-test and post-test assessments, as well as observation of cadres’ ability to re-explain the material. The results demonstrated an increase in the mean knowledge score from 77.6 to 86.4 (an improvement of 10.8 points or approximately 13.9%). In addition, around 80% of participants were able to understand and apply balanced meal portion concepts using the Diabetes Plate, as evidenced by food documentation submitted during the program. Therefore, this community service program enhanced cadres’ capacity to independently deliver nutrition education and has the potential to improve the quality of Posbindu services, contributing to the prevention of type 2 diabetes.
FOCUS GROUP DISCUSSION DAN DISEMINASI HASIL PKM KEBENCANAAN: VALIDASI MULTIPIHAK DAN PERUMUSAN ROADMAP PENGABDIAN BERBASIS MEUNASAH DI KABUPATEN PIDIE JAYA Riandi Marisa; Juli Firmansyah; Sitti Jamilah; Windra Irawan; Muhammad Daud; Yulia Santi; Ety Mukhlesi Yeni; Sarah Fazilla
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40677

Abstract

Abstrak: Banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, November 2025 berdampak masif terhadap sektor pendidikan, mendorong Universitas Terbuka melaksanakan Program PkM Nasional berbasis pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) di SDN 6 Meureudu dan Meunasah Gampong Manyang Cut (19-21 Mei 2026), menjangkau 200 siswa dan 28 guru. Artikel ini berfokus pada tahap lanjutan program, yaitu Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Hasil PkM pada 23 Juni 2026 di Aula BAPPEDA Pidie Jaya, bertujuan memvalidasi capaian, menggali perspektif pentahelix, dan merumuskan roadmap PkM lintas disiplin 2027-2031. FGD dihadiri 47 peserta lintas unsur pentahelix melalui dua sesi narasumber, diskusi kelompok terfasilitasi, dan perumusan rekomendasi, dievaluasi dengan lembar penilaian individual dan kuesioner kepuasan. Keberhasilan kegiatan dievaluasi melalui dua instrumen yang saling melengkapi: (1) lembar penilaian individual pra-diskusi yang memuat enam indikator capaian program (ketepatan sasaran pelatihan, relevansi materi, potensi meunasah sebagai Pusat Pengurangan Risiko Bencana/PRB, kapasitas kemandirian komunitas sekolah, dampak program, dan keberlanjutan koordinasi multipihak), yang hasilnya dikonfirmasi secara kualitatif melalui diskusi kelompok dan sesi pleno; serta (2) kuesioner kepuasan pascakegiatan yang mengukur empat aspek penyelenggaraan. Hasil menunjukkan validasi positif atas keenam indikator capaian program oleh peserta lintas unsur, serta skor kepuasan rata-rata 4,55 dari skala 5, setara 91 persen (Sangat Baik). FGD juga mengidentifikasi tujuh isu prioritas, merumuskan 10 topik roadmap 2027-2031, dan menyepakati lima rekomendasi strategis, termasuk formalisasi meunasah (surau/musala) sebagai Pusat PRB Berbasis Komunitas serta integrasi kebijakan lingkungan dalam mitigasi bencana berkelanjutan.Abstract: The flash flood in Pidie Jaya Regency, Aceh, in November 2025 severely affected the education sector, prompting Universitas Terbuka to conduct a National Community Service Program using the Asset-Based Community Development (ABCD) approach at SDN 6 Meureudu and Meunasah Gampong Manyang Cut (19-21 May 2026), reaching 200 students and 28 teachers. This article focuses on the program's next stage: a Focus Group Discussion (FGD) and Dissemination on 23 June 2026 at the BAPPEDA Hall, Pidie Jaya, aimed at validating outcomes and formulating a 2027-2031 cross-disciplinary roadmap. The FGD involved 47 pentahelix stakeholders through resource-person sessions and facilitated discussions. Program success was evaluated using two complementary instruments: (1) a pre-discussion individual assessment sheet covering six achievement indicators (targeting accuracy, material relevance, meunasah's potential as a Disaster Risk Reduction/DRR Center, school community self-reliance, program impact, and sustainability of multi-stakeholder coordination), whose results were confirmed qualitatively through group and plenary discussion; and (2) a post-activity satisfaction questionnaire covering four organizational aspects. Results showed positive validation of all six achievement indicators by cross-sector participants, alongside an average satisfaction score of 4.55 out of 5 (91 percent, Very Good). The FGD identified seven priority issues, produced 10 roadmap topics for 2027-2031, and agreed on five recommendations, including formalizing meunasah (surau/musala) as a Community-Based Disaster Risk Reduction Center and integrating environmental policy into sustainable mitigation. 
REVITALISASI DESA WISATA TEMA TANA SEBAGAI DESTINASI PARIWISATA BERBASIS KEARIFAN LOKAL BERKELANJUTAN Hendrik Toda; David W. Rihi; Alfandy F. Manuain
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40145

Abstract

Abstrak: Salah satu desa wisata berbasis kearifan lokal di wilayah Indonesia Timur memiliki potensi budaya yang tinggi melalui tradisi lokal, rumah adat, situs megalitik, dan benda cagar budaya. Pengembangan potensi tersebut memerlukan penguatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan untuk mendukung pengelolaan desa wisata yang berdaya saing dan berkelanjutan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan soft skill dan hard skill masyarakat serta anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Soft skill difokuskan pada penguatan organisasi, kerja sama, dan partisipasi masyarakat, sedangkan hard skill diarahkan pada promosi digital, pengelolaan destinasi, dan penyusunan rencana pengembangan desa wisata. Metode yang digunakan meliputi ceramah, Focus Group Discussion (FGD), pendampingan, dan praktik pembuatan media promosi digital. Kegiatan ini melibatkan 30 peserta. Evaluasi dilakukan menggunakan angket pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta sebesar 98%, sehingga kegiatan ini berpotensi mendukung revitalisasi desa wisata berbasis kearifan lokal secara berkelanjutan.Abstract: A local wisdom-based tourism village in Eastern Indonesia possesses significant cultural potential through local traditions, traditional houses, megalithic sites, and cultural heritage objects. Developing these resources requires strengthening community capacity and institutional support to achieve competitive and sustainable tourism management. This Community Service Program aimed to improve both the soft skills and hard skills of community members and the Tourism Awareness Group (Pokdarwis). Soft skill enhancement focused on organizational capacity building, collaboration, and community participation, while hard skill development emphasized digital promotion, tourism destination management, and tourism village development planning. The program employed lectures, Focus Group Discussions (FGDs), mentoring, and practical training in creating digital promotional media. The activity involved 30 participants consisting of local government representatives, Pokdarwis members, traditional leaders, youth, and community members. Evaluation was conducted using pre-test and post-test questionnaires. The results showed a 98% improvement in participants' knowledge and skills, indicating the program's potential to support the sustainable revitalization of local wisdom-based tourism villages.
PELATIHAN LITERASI MEMBACA KAMUS SEBAGAI MEDIA BELAJAR BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH MENENGAH Henny Rahmawati; Dzurriyyatun Ni’mah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40067

Abstract

Abstrak: Kurangnya literasi membaca kamus bahasa Inggris menjadi sebuah permasalahan yang marak ditemukan dalam pembelajaran bahasa Inggris dalam semua tingkatan pendidikan terutama di level sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas. Untuk itu, literasi membaca kamus bahasa Inggris diharapkan menjadi sebuah solusi bagi permasalahan yang ada, dalam hal ini, di tingkat sekolah menengah. Dengan menerapkan metode pelatihan, kegiatanini diadakan di salah satu sekolah menengah swasta di Malang, Indonesia dengan total partisipan sebanyak 35 siswa. Untuk pengambilan data, kuesioner terkait literasi membaca kamus bahasa Inggris diberikan kepada partisipan sebelum dan sesudah pelatihan. Data tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk menggambarkan secara jelas data yang sudah terkumpul. Hasil dari pelatihan ini didapatkan bahwa respon siswa terhadap pelatihan membaca kamus sangat bagus, 88% dari partisipan mendapatkan pengalaman belajar membaca kamus yang meliputi pelafalan (76%) dan mencari kata dalam kamus (12%). Dari hasil kuesioner yang dibagikan, dapat diambil kesimpulan bahwa pelatihan yang dilakukan memberi dampak terhadap peningkatan pengalaman belajar bahasa Inggris siswa. Hal ini dibuktikan dengan berkurangnya kesulitan peserta, pada aspek pelafalan, ejaan, motivasi, dan penggunaan kamus. Namun, aspek pemahaman arti kata masih perlu diperkuat. Oleh karena itu, kegiatan lanjutan dapat diarahkan pada pelatihan memahami kosakata dalam konteks kalimat, penggunaan kata dalam percakapan sederhana, dan strategi menebak makna kata berdasarkan konteks. Abstract: One of the most prevalent problems found in English language learning across all levels of education, particularly from elementary school to senior high school, is the lack of dictionary literacy among students. Therefore, English dictionary literacy has been proposed as a solution to this issue, in this case, at the secondary school level. The method used was training which was conducted at a private secondary school in Malang, Indonesia with a total of 49 student participants. For data collection, questionnaires on dictionary literacy were distributed to the participants before and after the training. The data were then analyzed using a qualitative descriptive approach to provide a clear account of the findings. The results of the training, based on the qualitative descriptive data analysis, indicated that the students’ responses to the dictionary reading training were excellent, that is 88% of participants experienced dictionary reading, including pronunciation (76%) and looking up words in the dictionary (12%). From the results of the distributed questionnaires, it can be concluded that the training had improved students' English learning experiences. This is evidenced by the reduced difficulty participants experienced in pronunciation, spelling, motivation, and dictionary use. However, understanding word meanings still needs strengthening. Therefore, follow-up activities can be directed at practicing understanding vocabulary in sentence context, using words in simple conversations, and strategies for guessing word meanings based on context.