cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Volume 6 Nomor 3 November 2023" : 21 Documents clear
Deteksi Dini Kanker Payudara dan Lesi Prakanker Serviks pada Tenaga Kesehatan Pringgowibowo, Jaeni; Suardi, Dodi; Anwar, Ruswana
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.568

Abstract

Tujuan: Kegiatan ini untuk menganalisis pengetahuan kanker payudara dan serviks tenaga kesehatan di faskes pertama kabupaten Bogor.Metode: Pelatihan deteksi dini kanker serviks dan payudara tenaga kesehatan di faskes pertama kabupaten Bogor dilakukan 6 hari melalui kuliah, dry lab, dan praktik lapangan. Dilakukan pre-test dan post-test untuk menilai pengetahuan tenaga kesehatan faskes pertama kabupaten Bogor.Hasil: Dari 75 responden perwakilan dari Puskesmas di kabupaten Bogor, 6,67% melakukan pelayanan deteksi dini kanker payudara dan 4,00% melakukan pelayanan deteksi dini kanker serviks. Pengetahuan responden setelah diklat, 100% responden menjawab benar tanda klinis IVA test negatif, pembacaan hasil IVA test setelah 1 menit, anjuran setelah krioterapi, tidak berhubungan selama 4 minggu setelah krioterapi, langkah pemeriksaan payudara, hal yang dilakukan bila menemukan kelainan pada payudara dan setelah digunakan, spekulum didekontaminasi 10 menit direndam dalam larutan klorin 0,5%. Pengetahuan meningkat signifikan mengenai perubahan leher rahim yang abnormal hampir selalu terjadi pada sambungan skuamo-kolumnar, yaitu naik 42,67% (56,00%pada menjadi 98,67% pada post-test).Kesimpulan: Terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan setelah pelatihan kanker payudara dan serviks, terutama deteksi dini lesi prakanker serviks dan payudara, sehingga dapat disimpulkan upaya pelatihan penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan deteksi dini kanker payudara dan serviks.Knowledge of Healthcare Providers on Early Detection of Breast Cancer and Precancerous Cervical LesionsAbstractObjective: This community service program aims to analyze the level of knowledge of breast cancer and cervical cancer by providing solutions through training for healthcare providers at primary health facilities in Bogor Regency.Method: Training on early detection of cervical cancer and breast cancer for doctors and midwives at primary health facilities at the Bogor Regency health office. The training was carried out for 6 days and was divided into lecture delivery, dry lab, and fieldwork practice at Padasuka Health Center and Puter Health Center. Pre-tests and post-tests were carried out to assess the level of knowledge of healthcare providers at primary health facilities in Bogor Regency.Results: Out of 75 representative respondents from each health center in Bogor Regency, 6.67% provided early detection of breast cancer, and 4.00% provided early detection of cervical cancer. As for respondents’ knowledge after being given training, as many as 100% of respondents answered correctly about the clinical signs of a negative VIA test reading the VIA test results after 1 minute, recommendations after cryotherapy, not to have sexual intercourse for 4 weeks after cryotherapy, steps for breast examination, what to do if they find abnormalities in the breast and after use, and the speculum that should be decontaminated for 10 minutes by immersion in 0.5% chlorine solution. Respondents’ knowledge significantly increased regarding abnormal cervical changes-dysplasia almost always occurred in the squamous columnar junction, which went up 42.67% (from 56.00% on the pre-test to 98.67% on the post-test).Conclusion: There was an increase in knowledge and skills after being given training on breast cancer and cervical cancer, especially knowledge about early detection of precancerous cervical lesions and breast cancer, so it can be concluded that training efforts are very important to increase knowledge and skills for early detection of breast cancer and cervical cancer.Key words: cervical cancer, breast cancer, VIA test
Hubungan Nilai PCI Intraoperatif dengan Resektabilitas Kanker Ovarium di RSUP Dr. M. Djamil Padang Muhammad, Syamel; Fajriman, Fajriman
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.532

Abstract

Tujuan: Ukuran luas massa sebelum operasi berperan dalam keberhasilan sitoreduksi komplit. Peritonial Carcinomatosis Index (PCI) adalah sistem yang paling umum digunakan untuk peritoneal carcinomatosis, dan indikator prognostik independen untuk hasil jangka panjang. Resektabilitas kanker ovarium ditandai dengan residu kanker berpengaruh terhadap prognosis. Penggunaan PCI pada kanker ovarium sebagai faktor prediktor resektabilitas akan meniadakan sebagian faktor perancu terkait tim bedah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan nilai PCI metastasis intraoperatif terhadap resektabilitas massa pada kanker ovarium stadium lanjut di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional study. Kriteria inklusi berupa pasien kanker ovarium stadium lanjut 1C yang akan dilakukan operasi dan bersedia menandatangani informed consent sejak Oktober 2021. Hasil: Sebanyak 52.5% memiliki riwayat genetik, 72.5% berusia 40 – 70 tahun. Pasien rawatan kanker ovarium stadium lanjut di RSUP Dr. M. Djamil Padang sebanyak 95% IOTA SR malignant, sebanyak 100% memiliki nilai CA-125 > 35, 60% ukuran massa >1 cm. PCI tinggi (skor > 15-39) memiliki frekuensi lebih tinggi dibandingkan nilai PCI Rendah (62,5%). Persentase resektabel lebih tinggi pada nilai PCI rendah dibandingkan nilai PCI tinggi sebanyak 100% (<0.001). Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara nilai Peritoneal Carcinomatosis Index intraoperatif dan resektabilitas massa.Relationship between Intraoperative PCI Score with Resectability Ovarian Cancer at Dr. M. Djamil Hospital PadangAbstract Objective: Peritoneal Carcinomatosis Index (PCI) is the most commonly used peritoneal carcinomatosis system, also an independent prognostic indicator for long-term outcomes. The resectability of ovarian cancer characterized by cancer residue affects prognosis. The use of PCI in ovarian cancer as a predictor of resectability will negate some of the confounding factors related to the surgical team. This research to determine the relationship of intraoperative PCI value to mass resectability in advanced ovarian cancer at Dr. M. Djamil Padang Hospital. Method: observational analytic research with cross-sectional study design. The inclusion criteria were advanced stage 1C ovarian cancer patients who will undergo surgery and are willing to sign informed consent since October 2021. Results: 52.5% have a genetic history, 72.5% are 40 – 70 years. For patients with advanced ovarian cancer treatment at Dr. M. Djamil Padang Hospital 95% of malignant SR IOTA,  100% have CA-125 values> 35, 60% of mass size >1 cm. High PCI (score > 15-39) has a higher frequency than a Low PCI value (62.5%). The percentage of resectable is higher in low PCI scores than in high PCI scores, about 100% (<0.001). Conclusion: There is a significant relationship between intraoperative peritoneal carcinomatosis index and mass resectability.Key word: Peritonial Carcinomatosis Index, resectability, ovarian cancer
Hubungan Umur dan Paritas Ibu dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBRL) pada Ibu Bersalin di RSUD Waled Tahun 2018 – 2021 Nurbaniwati, Nunung; Dewi, Wiranti Permata; Nisaa, Defa Rahmatun
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.587

Abstract

Tujuan: Menganalisis hubungan antara umur dan paritas ibu dengan kejadian bayi bblr pada ibu bersalin di RSUD Waled tahun 2018 – 2021.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan metode cross sectional dengan sampel 247 responden. Peneliti menggunakan data sekunder dengan analisis univariat, bivariat menggunakan uji korelasi spearmen, dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil: Peneliti mendapatkan hasil persentase sebesar 50,2% ibu bersalin yang mengalami bayi bblr dan 49,8% ibu bersalin tidak mengalami bblr. Hubungan umur ibu dengan bblr menunjukan hasil bermakna, dengan kekuatan korelasi kuat (p=0,000, rs=0,625), hubungan paritas dengan bblr kekuatan korelasi lemah (p=0,000, rs=0,265) pada kelompok paritas grandemultipara memiliki jumlah terbanyak 13 orang  (81,25%) menunjukan hasil bermakna dan memiliki hubungan kuat (p= 0,017 rs=4,68%) dengan kejadian bblr. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian bayi bblr adalah umur ibu yang memiliki nilai Exp(B) paling tinggi sebesar 27.612 diikuti dengan faktor paritas memiliki nilai Exp(B) sebesar 5.155. Kesimpulan: Terdapat hubungan umur dan paritas ibu dengan kejadian bayi bblr pada ibu bersalin di RSUD Waled pada tahun 2018 – 2021. Variabel yang memiliki hubungan paling bermakna yaitu umur ibu menyajikan hasil bermakna sebanyak 43,3% rs=0,625.The correlation between Maternal Age and Parity with Incidence of Low Birth Weight (LBW) Babies in Mothers Giving Birth at Waled Hospital in 2018 – 2021AbstractObjective: To analyze the relationship between age and parity of the mother and the incidence of LBW babies in mothers giving birth at Waled Hospital in 2018–2021. Method: This research is an observational study using a cross sectional method with a sample of 247 respondents. Researchers used secondary data with univariate analysis, bivariate using Spearmen’s correlation test and multivariate with logistic regression test. Results: Researchers obtained percentage results of 50.2% of mothers who gave birth having LBW babies and 49.8% of mothers who gave birth who did not experience LBW. The relationship between maternal age and LBW showed significant results, with a strong correlation (p=0.000, rs=0.625), parity and LBW had a weak correlation (p=0.000, rs=0.265) in the grandemultipara parity group with the highest number of 13 (81, 25%) showed significant results and had a strong relationship (p = 0.017 rs = 4.68%) with the incidence of LBW The factor that most influenced the incidence of LBW babies was the age of the mother who had the highest Exp(B) value of 27,612 followed by the parity factor has an Exp(B) value of 5,155.Conclusion: There is a relationship between age and maternal parity with the incidence of LBW babies among women giving birth at Waled Hospital in 2018 – 2021. The variable that had the most significant relationship, namely maternal age, presented significant results of 43.3%, rs=0.625.Key words: Maternal age, Parity, Low Birth Weight.
Karakteristik Tumor Trofoblas Gestasional Risiko Tinggi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2019 – 2021 Hidayat, Yudi Mulyana; Megantari, Salsa Bila; Harsono, Ali Budi; Suardi, Dodi; Mantilidewi, Kemala Isnainiasih
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.493

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik demografi dan klinis pasien TTG risiko tinggi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2019 – 2021.Metode: Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif yang didapatkan melalui rekam medis pasien TTG risiko tinggi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2019 – 2021 dengan metode total sampling. Hasil: Terdapat 69 rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil tersebut menunjukkan banyaknya pasien yang memiliki pendidikan terakhir pada jenjang SMA (49%), tidak memiliki pekerjaan (84%) yang didominasi oleh ibu rumah tangga, beretnis Sunda (93%), berasal dari daerah wilayah IV Priangan (54%), berusia lebih dari 40 tahun (57%), multipara (61%), memiliki riwayat mola (71%), interval dengan kehamilan sebelumnya 7 hingga 12 bulan (54%), kadar β-hCG yang diukur sebelum terapi sebanyak 10.000 - <100.000 mIU/mL (42%), tidak terjadi metastasis (68%)  diikuti hasil terjadinya metastasis pada paru-paru (26%), tidak memiliki hasil pemeriksaan tipe histopatologi (61%) diikuti hasil tipe histopatologi koriokarsinoma (33%), dan memiliki stadium I  (59%).Kesimpulan: Kasus TTG risiko tinggi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2019 – 2021 lebih umum terjadi pada pasien yang memiliki pendidikan terakhir pada jenjang SMA, tidak memiliki pekerjaan yang didominasi oleh ibu rumah tangga, beretnis Sunda, berasal dari daerah wilayah IV Priangan, berusia lebih dari 40 tahun, riwayat multipara, riwayat mola, interval dengan kehamilan sebelumnya 7 hingga 12 bulan, kadar β-hCG yang diukur sebelum terapi sebanyak 10.000 - < 100.000 mIU/mL, tidak terjadi metastasis, dan memiliki stadium I.Characteristics of High Risk Gestational Trophoblast Neoplasia at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2019 – 2021AbstractObjective: This research aims to identify the demographic and clinical characteristics of patients with high-risk GTN at Dr. Hasan Sadikin Bandung in 2019–2021.Method: This research used descriptive analysis, which was obtained from the medical records of patients with high-risk GTN at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2019–2021 using the total sampling method.Results: 69 patient medical records met the inclusion and exclusion criteria. These results show that the number of patients who have had their last education at the high school level (49%), do not have a job (84%), are dominated by housewives, are of Sundanese ethnicity (93%), and come from region IV Priangan (54%), aged over 40 years (57%), multiparous (61%), had a history of molar (71%), an interval with a previous pregnancy of 7 to 12 months (54%), β-hCG level measured before therapy of 10,000– 100,000 mIU/mL (42%), no metastases (68%) followed by lung metastases (26%), no histopathological type (61%) followed by choriocarcinoma histopathological type (33%), and staging I (59%).Conclusion: High-risk GTN cases at Dr. Hasan Sadikin Bandung in 2019 – 2021 are more common in patients who have the last education at the high school level, do not have a job dominated by housewives, are of Sundanese ethnicity, come from the IV Priangan region, are over 40 years old, have a history of multiparas, a history of moles, an interval with a previous pregnancy of 7 to 12 months, β-hCG level measured before therapy was 10,000– 100,000 mIU/mL, no metastases occurred, and had stage I.Key words: Characteristics, Demographic, Gestational Trophoblastic Neoplasia, High Risk
Etika Klinik sebagai Ciri dari Profesionalisme dalam Pelayanan Obstetri dan Ginekologi Susiarno, Hadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.593

Abstract

Pelayanan kesehatan sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Upaya tersebut bukan hanya untuk mengobati atau menghilangkan penyakit saja, tetapi juga harus disertai dengan rasa puas dan nyaman bagi orang sakitnya. Untuk bisa mencapai upaya tersebut, pelayanan kesehatannya harus mengandung dua unsur, yaitu biomedis dan etika. Yang dimaksud dengan biomedis itu adalah kemampuan dokter untuk membuat diagnosis yang benar, alternatif terapi yang yang tepat dan aman, serta prognosis yang baik, sedangkan yang dimaksud dengan etika adalah niat, sikap dan perilaku dokter yang sabar, jujur dan ikhlas serta penuh empati dalam menangani pasiennya. Dalam perkataan lain, dokter itu harus bertindak profesional. Telah disepakati bahwa tonggak ilmu kedokteran modern dimulai dua setengah abad yang lalu, pada saat Hippocrates memperkenalkan tradisi luhur yang menjadi ciri dan pedoman bagi perilaku para dokter. Praktik kedokteran, dari dahulu sampai sekarang. Selain harus mempunyai kompetensi klinik (ekspertis) yang baik, juga selalu dipandu berdasarkan prinsip etika. Dua di antaranya, adalah nil nocere(do not harm) dan bonum facere(do good for the patient).Prinsip ini, setelah melalui berbagai penyesuaian dan penyempurnaan, tetap berlaku sampai sekarang. Sekarang pun, para lulusan kedokteran, diwajibkan mengucapkan Sumpah Dokter pada saat diwisuda dan diberi pedoman yang harus ditaatinya, berupa Kode Etik Kedokteran Indonesia(KODEKI)1 dan Petunjuk Teknis Praktek Kedokteran.
Apakah Persalinan di Usia Remaja dapat Meningkatkan Insidens Persalinan Prematur Edbert, Bruce; Dewi, Andriana Kumala
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.580

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persalinan usia remaja dan insidens persalinan prematur. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain potong lintang, sampel yang didapatkan berjumlah 87 partisipan yang dianalisis secara univariat dan bivariat (fisher exact) dengan bantuan perangkat lunak SPSS.Hasil: Penelitian ini menemukan sebanyak 16,3% ibu bersalin yang berusia di bawah 20 tahun mengalami persalinan prematur dan adanya hubungan antara persalinan di usia remaja terhadap insidens persalinan prematur (ρ-value = 0,030; PR = 7,163; IK 95% = 0,982 – 71,176). Kesimpulan: Terdapat peningkatan insidens persalinan prematur pada ibu yang bersalin di usia remaja.Does Adolescent Labor Increases the Incidence of Preterm Labor?Abstract Objective: This study aimed to determine the relationship between teenage childbirth and the incidence of premature delivery.Method: This study was an analytical observational research with a cross-sectional design. The sample consisted of 87 participants who were analyzed using univariate and bivariate analysis (fisher exact) with the assistance of SPSS software.Results: this study found that 16.3% of the patients who gave birth under the age of 20 experienced premature delivery and had significant relationship between teenage childbirth and the incidence of premature delivery (ρ-value = 0.030; PR = 7,163; 95% CI = 0.982 - 71.176).Conclusion: There was an increased incidence of premature delivery among patients who gave birth during their teenage years.Key words: pregnancy; pregnancy complications; premature delivery; teenagers.
Hubungan Antara Neutrophil Gelatinase Associated Lipocaline (NGAL) dan Kejadian Preeklamsia: Penelitian Potong-Lintang Koesuma, Edward Chandra; Lukas, Efendi; Tahir, Mardiah; Sunarno, Isharyah; Jusuf, Elizabet C; Abidin, Nuraini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.567

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kadar Neutrophil Gelatinase Associated Lipocaline (NGAL) pada kehamilan normal, Preeklamsia Berat (PEB) tanpa Komplikasi, dan PEB dengan Komplikasi.Metode:Desain penelitian cross sectional dilakukan pada ibu hamil dengan usia kehamilan lebih dari 20 minggu di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan rumah sakit jejaring pendidikan lainnya sejak bulan Januari hingga Juni tahun 2022. Data dikumpulkan menggunakan sampel darah dan diperiksa lebih lanjut dengan metode ELISA. Uji Chi-Square digunakan untuk menganalisis hubungan antara kadar NGAL dan derajat keparahan PEB.Hasil: Pada penelitian ini mencakup 156 sampel, yang terdiri atas wanita hamil normal (n=53), wanita hamil dengan PEB tanpa komplikasi (n=50), dan wanita hamil dengan PEB dan komplikasi (n=53). Penelitian ini menemukan bahwa semakin  berat derajat preeklamsia, maka  semakin rendah kadar NGAL-nya yaitu kadar NGAL diamati pada 58% wanita PEB dengan komplikasi dan 32,1% wanita PEB tanpa komplikasi dan 9,8% pada kehamilan normal (p <0,05). Hasil penelitian ini  tidak sesuai dengan teori yang menemukan peningkatan kadar NGAL pada pasien PEB. Penurunan kadar NGAL ini mungkin dapat disebabkan oleh prevalensi obesitas yang banyak pada kelompok PEB dengan dan tanpa komplikasi. Obesitas merupakan  kondisi inflamasi sistemik dan NGAL dapat bertindak sebagai regulator negatif terhadap aktivitas inflamasi yang dimediasi oleh disfungsi adiposit. Pada kelompok PEB juga didapatkan pemberian MgSO4, yang  memiliki peran untuk menghambat kadar IL-6 sehingga dapat menurunkan kadar NGALKesimpulan: Penurunan kadar NGAL berpotensi untuk menjadi biomarker dalam menilai derajat keparahan preeklamsia.Correlation Between Neutrophil Gelatinase Associated Lipocaline (NGAL) and Preeclampsia: A Cross-sectional StudyAbstract    Objective: to observe the correlation between level of Neutrophil Gelatinase Associated Lipocaline (NGAL) on normal pregnancy, severe preeclampsia (SPE) without complication, & SPE with complication. Method: Cross-sectional Study Design method is performed on pregnant women with gestational age of more than 20 weeks at Dr. Wahidin Sudirohusodo hospital & the other educational networking hospitals from January to June 2022. Data were collected using blood samples & further examined with ELISA method. Chi-Square test   is used to analyze the correlation between NGAL level & degree of severity of the severe preeclampsia.Results: this study includes 156 samples consisting of normal pregnant women (n=53), pregnant women with SPE without complication (n= 50), & pregnant women with SPE with complication (n= 53), we found out that the more severe the degree of preeclampsia, the lower the level of NGAL where the level of NGAL is observed on 58% of pregnant women with complication & 32.1% pregnant women without complication, & 9.8% on women with normal pregnancy (p<0.05). This study result is irrelevant with the theory which  found the rising level of NGAL on patients with SPE, this decreasing level of NGAL might be caused by obesity prevalence mostly found on pregnant with & without complication since obesity is a systemic  inflammatory condition & NGAL can act as negative regulator against inflammatory activity mediated by adipocyte disfunction. On SPE group there is also MgSO4 administration functioning as a hindrance for IL6 level thus may lessen the NGAL level.Conclusion: the decreasing level of NGAL  is potential to become a biomarker in evaluating the severity of preeclampsia.Key words: degree of severity, Neutrophil Gelatinase Associated Lipocaline, preeclampsia
Characteristics of Endometrioma Recurrence Patients Maharani, Chintia Dewi; Bayuaji, Hartanto; Syam, Hanom Husni; Ritonga, Mulyanusa Amarullah; Mantilidewi, Kemala Isnainiasih; Rinaldi, Andi; Pratiwi, Yuni Susanti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.576

Abstract

Objective: To identify the characteristics of endometrioma recurrence cases. Method: This study was a descriptive retrospective, using secondary data taken from all medical records of Clinic Aster and Medical Records Installation in Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, from 1st January 2018 – 31st December 2022. Data were presented in tables.Results: Of the 37 endometrioma recurrences, most of the patients are 20 to 35 in age. None of them has a parity history after the first surgical procedure. Both previous and recent cases are dominantly unilateral endometriomas. The history of postoperative medication is higher (54,1%). Obstetricians/Gynecologists appear to perform the most surgical procedure (67,6%). Mass is the main clinical manifestation of the recurrence. While menstrual and BMI profiles appear to be normal.Conclusions: The characteristic of the recurrence of endometrioma is related parity status after the first surgery, history of the previous medical treatment, and previous form of endometrioma are related to the current characteristic of endometrioma (age, lesion form, clinical manifestation, and recurrence interval).Karakteristik Pasien Endometrioma RekurenAbstrakTujuan: Mengetahui karakteristik dari pasien endometrioma rekuren.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskripsi retrospektif dengan menggunakan data sekunder yang diambil dari seluruh rekam medis pasien kista endometriosis rekuren di Klinik Aster dan Instalasi Rekam Medis di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan periode 1 Januari 2018 – 31 Desember 2022. Kemudian, data-data disajikan dalam bentuk tabel.                                                                                . Hasil: Dari 37 kasus e ndometrioma rekuren, sebagian besar pasien berusia 20 hingga 35 tahun. Seluruh pasien tidak mempunyai riwayat paritas setelah prosedur pembedahan sebelumnya. Baik kasus-kasus kista endometriosis sebelumnya maupun yang kambuh, keduanya dominan dalam bentuk unilateral. Riwayat pengobatan pasca operasi lebih tinggi (54,1%). Dokter Spesialis Obstetri/Ginekologi tampak melakukan tindakan pembedahan terbanyak (67,6%). Massa adalah manifestasi klinis utama dari kekambuhan. Selain itu, profil menstruasi dan BMI tampak normal.Kesimpulan: Karakteristik pada endometrioma rekuren berkaitan dengan status paritas setelah operasi pertama, riwayat pengobatan medis sebelumnya, dan bentuk endometrioma sebelumnya berhubungan dengan karakteristik endometrioma saat ini (usia, bentuk lesi, manifestasi klinis, dan rentang rekurensi)Kata kunci: karakteristik, rekuren, endometrioma
Korelasi Kekuatan Otot Menggenggam dengan Otot Levator Ani pada Penderita Prolapsus Organ Panggul Ula, Lulu Nurul; Effendi, Jusuf Sulaeman; Sasotya, R.M. Sonny
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.538

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kekuatan otot levator ani dan otot menggenggam sebelum dan sesudah pemberian analog vitamin D3 (alfacalcidol) dan mengetahui korelasi antara kekuatan kontraksi otot levator ani dan kekuatan kontraksi otot menggenggam pada penderita prolapsus organ panggul.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental quasi dengan rancangan sebelum dan sesudah pemberian alfacalcidol pada pasien prolapsus organ panggul. Dilakukan pengukuran kekuatan otot levator ani menggunakan perineometer dan otot menggenggam menggunakan handgrip dynamometer sebelum dan sesudah pemberian alfacalcidol selama 3 bulan. Penelitian dilakukan di Poliklinik Ginekologi FKUP/RSHS bulan Januari-Juli 2021. Hasil: Dilakukan pemberian suplementasi alfacalcidol selama 3 bulan pada 24 penderita prolapsus organ panggul. Hasil evaluasi menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,001) pada sebelum dan sesudah pemberian suplementasi alfacalcidol yaitu terjadi peningkatan kekuatan otot levator ani (rerata pre= 9,94±3,56 dan pasca= 19,67±3,61) dan  terdapat peningkatan kekuatan otot menggenggam (rerata pre= 15,39±3,29 dan pasca= 23,90±3,67). Hasil penelitian ini menemukan adanya korelasi antara peningkatan kekuatan kontraksi otot levator ani dan kekuatan kontraksi otot menggenggam (nilai p<0,01) yang memiliki keeratan hubungan yang moderat (nilai R pre= 0,532 dan pasca= 0,618).Simpulan: Suplementasi alfacalcidol dapat meningkatkan kekuatan kontraksi otot levator ani dan otot menggenggam pada penderita prolaps organ panggul. Terdapat korelasi yang bermakna dengan hubungan moderat pada kekuatan kontraksi otot levator ani dengan kekuatan kontraksi otot menggenggam pada penderita prolapsus organ panggul.Correlation of Grip Muscle Strength With Levator Ani Muscle  In Patients With Pelvic organ ProlapseAbstractobjective: This study was to evaluate the differences of the levator ani muscle and the grip muscle strength before and after administration of a vitamin D3 analogue (alfacalcidol) and to determine the correlation of grip muscle strength with levator ani muscle in patients with pelvic organ prolapse.Method: This study was a quasi-experimental study with a design before and after administration of alfacalcidol in patients with pelvic organ prolapse. The levator ani muscle strength was measured using a perineometer and grip muscles strength using a handgrip dynamometer before and after alfacalcidol administration for 3 months. The study was conducted at the Gynecology Polyclinic FKUP/RSHS in Januari-Juli 2021. Results: Alfacalcidol supplementation was administered for 3 months in 24 patients with pelvic organ prolapse. The evaluation results showed a statistically significant difference (p value <0.001) before and after alfacalcidol supplementation with an increase in levator ani muscle strength (mean pre= 9.94±3.56 and pasca= 19.67±3.61) and there was an increase in grip muscles strength (mean of pre=15.39±3.29 and pasca= 23.90±3.67). The results of this study found a correlation between the increase in the strength of the levator ani muscle contraction and the grip muscles strength (p value <0.01) which had a moderate correlations (R value pre = 0.532 and post = 0.618).Conclusion: Alfacalcidol supplementation can increase the strength of the levator ani and grip muscles in patients with pelvic organ prolapse. There is a significant correlation with a moderate correlation between the strength of the levator ani muscle contraction and the grip muscles strength in patients with pelvic organ prolapse. Key words: levator ani muscle, pelvic organ prolaps, alfacalcidol
Secondary Syphilis with Giant Condyloma Acuminatum in Pregnant Women: A Report from a Limited Resource Area Surya, Raymond; Chelsea, Edelyne; Manurung, Edward Sugito; Banunaek, Diana; Nilasari, Hanny; Saroyo, Yudianto Budi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.536

Abstract

Introduction: This report shows a case of secondary syphilis in pregnancy with Giant Condyloma Acuminatum (GCA) co-infection DD/condyloma lata which was resolved with alternative treatment of syphilis.Case illustration: A 21-year-old, primigravid woman came to obstetrics outpatient clinic in rural SoE Hospital, East Nusa Tenggara, with a complaint of mass enlargement around vulva (minor and major labia) since 2 months before. Based on Last Menstrual Period (LMP), she was in 34 + 6 weeks of gestation. There were coin lesions in the palms. On genital examination, there was protruded mass sized around 15 x 10 cm, erythematous, and it easily bled on the center part which was suspected to be GCA. Treponema Pallidum rapid (TP-rapid) test using AIM© syphilis rapid test revealed positive results. The patient was diagnosed with secondary syphilis in pregnancy mixed with GCA with dd/condyloma lata and administered Ceftriaxone 1 g intramuscularly once daily for 14 days. She delivered at 41-42 weeks of gestation and a baby girl with 1,980 grams of body weight according to symmetric Intrauterine Growth Restriction (IUGR) was born. No clinical signs of congenital syphilis found.Discussion: Vertical transmission which occurs in each stage of syphilis is related to the presence of spirochetes in the blood circulation. Infants born from syphilis pregnant women consist of 56% of jaundice, 14% of hearing impairment, 8% of renal disease, 8% of mental retardation, and 6% of IUGR or Small for Gestational Age (SGA).Conclusion: Secondary syphilis coinfection with GCA in pregnancy is a rare case report. Syphilis is a significant public health problem globally, especially in Indonesia.Sifilis Sekunder dengan Kondiloma Akuminata Besar pada Wanita Hamil: Sebuah Laporan dari Daerah dengan Keterbatasan Sumber DayaAbstrakPendahuluan: Kasus ini melaporkan sifilis sekunder pada kehamilan dengan kondiloma akuminatum besar dengan koinfeksi dd/kondiloma lata yang beresolusi setelah pemberian tatalaksana alternatif sifilis.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita primigravida berusia 21 tahun datang ke poliklinik obstetrik di RSUD SoE, Nusa Tenggara Timur dengan pembesaran massa sekitar vulva (labia minor dan mayor) sejak 2 bulan sebelumnya. Berdasarkan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT), usia kehamilan 34 + 6 minggu. Terdapat lesi pada telapak tangan. Pada pemeriksaan genital, terdapat massa ukuran 15 x 10 cm, eritema, mudah berdarah pada bagian tengah dengan kecurigaan kondiloma akuminatum besar. Hasil tes rapid Treponema Pallidum menggunakan tes rapid sifilis (AIM©) menunjukkan hasil positif. Pasien didiagnosis mengidap sifilis sekunder pada kehamilan dengan kondiloma akuminatum besar dengan koinfeksi dd/ kondiloma lata dan diberikan terapi seftriakson 1 gram intramuscular setiap hari selama 14 hari. Pasien melahirkan saat usia kehamilan 41-42 minggu dan lahir bayi 1.980 gram sesuai dengan Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) simetrik. Tidak ada tanda klinis sifilis kongenital yang ditemukan. Diskusi: Transmisi vertikal dapat terjadi pada setiap tahap sifilis berkaitan dengan keberadaan spiroseta di sirkulasi darah. Bayi lahir dari wanita hamil sifilis biasanya menunjukkan tanda 56% kuning, 14% gangguan pendengaran, 8% gangguan ginjal, 8% retardasi mental, dan 6% PJT atau Kecil Masa Kehamilan (KMK).Kesimpulan: Sifilis sekunder koinfeksi kondiloma akuminatum besar merupakan kasus jarang. Sifilis masih menjadi perhatian kesehatan global, khususnya di Indonesia.Kata kunci: sifilis, koinfeksi, kondiloma akuminatum besar, pertumbuhan janin terhambat

Page 2 of 3 | Total Record : 21