cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Volume 7 Nomor 2 Juli 2024" : 20 Documents clear
Front Cover, Editorial Team, Table of Contents, and Back Cover Jurnal, Obgynia
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.736

Abstract

Providing Antioxidants to Reduce Symptoms of Endometriosis Related Pain: Systematic Review Nurwany, Raissa; Alfarobi, Muhammad Farhan; Alkaf, Syifa
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.626

Abstract

Introduction: Approximately 10 - 15% of women in their reproductive age experience endometriosis. Endometriosis is defined by chronic discomfort and pain, specifically dysmenorrhea, dyspareunia, and dyschezia. A recent study has provided insight into the involvement of oxidative stress in the progression of endometriosis. Oxidative stress refers to an imbalance between reactive oxygen species (ROS) and antioxidants, resulting in inflammation within the peritoneal cavity. This comprehensive analysis examined the efficacy of antioxidant administration and its impact on pain symptoms associated with endometriosis. Method: This study reviewed literature by searching the PubMed, ScienceDirect, and Cochran Library databases. The search query included “endometriosis” and “antioxidant.” The study was reviewed using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) standards. The scope of analysis was restricted to clinical trials conducted exclusively from 2012 to 2023. Result: A total of 10 studies were incorporated, encompassing the utilisation of vitamin C and vitamin E, N-acetylcysteine, alpha-lipoic acid, bromelain, zinc, melatonin, and combination oral contraception. After administering antioxidants, the analysis of different groups consistently revealed a greater degree of improvement in dysmenorrhoea, dyspareunia, and chronic pelvic pain. Vitamin C, vitamin E, and N-acetylcysteine act as antioxidants and effectively decrease oxidative stress and the development of endometriosis discomfort. Conclusion: using antioxidants, including vitamin C and vitamin E, or N-acetylcysteine, has a beneficial effect in decreasing pain sensations associated with endometriosis.Pemberian Antioksidan untuk Mengurangi Gejala Nyeri Endometriosis: Sistematik ReviewAbstrakPendahuluan: Diperkirakan 10 - 15%wanita usia produktif di dunia mengalami endometriosis. Endometriosis ditandai dengan rasa tidak nyaman dan nyeri yang terus-menerus, meliputi dismenore, dyspareunia, dan disychezia serta menjadi salah satu penyebab infertilitas. Studi terbaru menjelaskan adanya peran stres oksidatif pada patofisiologi endometriosis yang didefinisikan sebagai ketidakseimbangan antara Reactive Oxygen Species (ROS) dan antioksidan yang menyebabkan respons inflamasi di rongga peritoneum. Systematic review ini membahas mengenai efektivitas pemberian antioksidan dan pengaruhnya terhadap gejala nyeri endometriosis. Metode: Pencarian literatur dilakukan pada database PubMed dan ScienceDirect, dan Cochrane Library Pencarian dilakukan menggunakan istilah “endometriosis” DAN “antioksidan”. Penulisan systematic review disesuaikan dengan pedoman professed reporting for systematic review and meta-analysis (PRISMA). Semua studi yang diinklusi merupakan clinical trials pada periode tahun 2012-2023. Hasil: Terdapat 10 penelitian yang disertakan, meliputi penelitian menggunakan vitamin C dan vitamin E, N-asetilsistein, asam alfa lipoat, bromelain, zinc, melatonin dan kontrasepsi oral kombinasi. Perbandingan antar kelompok secara umum menunjukkan perbaikan nyeri dismenorea, dispareunia, dan nyeri panggul kronis yang lebih baik setelah suplementasi antioksidan. Hal ini berkaitan dengan peran vitamin C, vitamin E, N-asetilsistein sebagai antioksidan yang dapat mengurangi stress okisdatif sebagai pathogenesis terjadinya nyeri endometriosis. Kesimpulan: Pemberian antioksidan secara umum terutama vitamin C, vitamin E, dan N-asetilsistein berkaitan dengan berkurangnya gejala nyeri pada endometriosis.kata kunci: Endometriosis; antioksidan; dismenorea; dispareunia; nyeri pelvik kronis
Comparison of Neonates Outcome in Patients with Early and Late Onset of Preeclampsia at Margono Hospital Purwokerto in the Period June-December 2022 Pugar, Hubert Hansel; Adityono, Adityono; Pusianawati, Dini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.651

Abstract

Introduction: Preeclampsia affects 5% to 7% of pregnant women globally and is responsible for more than 70,000 maternal deaths and 500,000 fetal deaths worldwide each year. Preeclampsia has the highest morbidity and mortality rate. There are two subtypes of preeclampsia based on the onset: early-onset preeclampsia (<34 weeks of gestation) and late-onset preeclampsia (≥34 weeks of gestation). The difference in preeclampsia onset may result in different neonatal outcomes.Objective: This study aims to evaluate the neonate outcomes in patients with early-onset and late-onset preeclampsia and see whether there is a significant difference between those variables.Methods: The research was conducted at Margono Hospital in Purwokerto, Indonesia. The research design used is observational analytic with a cross-sectional method. The research subjects are 106 pregnant women with preeclampsia who gave birth at Margono Hospital from June to December 2022. Data analysis used is the Mann-Whitney and Chi-square statistical test with a 95% confidence level.Results: The study subjects, consisting of 38 subjects with early onset preeclampsia and 68 subjects with late-onset preeclampsia, showed a significant difference between the onset of preeclampsia and neonatal outcomes, as indicated by birth weight, birth length, APGAR scores, NICU admission, and status of the neonate at discharge, with p-values <0.05.Conclusion: The onset of preeclampsia affects the outcome of neonates.Perbandingan Luaran Neonatus pada Pasien dengan Preeklampsia Awitan Dini dan Awitan Lambat di Rumah Sakit Margono Purwokerto pada Periode Juni-Desember 2022Abstrak Pendahuluan: Preeklamsia terjadi pada 5% hingga 7% wanita hamil di seluruh dunia dan bertanggung jawab atas lebih dari 70.000 kematian ibu dan 500.000 kematian janin di seluruh dunia setiap tahunnya. Preeklampsia menempati penyakit dengan angka morbiditas dan mortalitas tertinggi, Terdapat dua subtipe preeklampsia berdasarkan awitannya: preeklamsia awitan dini (usia kehamilan <34 minggu) dan preeklamsia awitan lambat (≥34 minggu kehamilan). Perbedaan awitan preeklampsia dapat mengakibatkan luaran neonatus yang berbeda.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbendingan luaran neonatus pada pasien dengan preeklampsia awitan dini dan preeklampsia awitan lambat serta menganalisis perbedaan yang bermakna antara variabel tersebut. Metode: Penelitian dilakukan di RS Margono Purwokerto, Indonesia. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan metode cross-sectional. Subjek penelitian ini adalah 106 wanita yang melahirkan di RS Margono Purwokerto dengan diagnosis preeklampsia pada bulan Juni – Desember 2022. Analisis data menggunakan uji statistik Mann Whitney dan Chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Subjek penelitian terdiri atas 38 subjek dengan preeklampsia awitan dini dan 68 subjek dengan preeklampsia awitan lambat. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara awitan preeklampsia dan luaran neonatus digambarkan dari berat badan lahir, panjang badan lahir, skor APGAR, perawatan NICU, dan kondisi neonatus saat pulang dari rumah sakit dengan nilai p<0.05. Kesimpulan: Awitan preeklampsia berpengaruh terhadap luaran neonatus.Kata kunci: Awitan preeklampsia, luaran neonatus, preeklampsia
The Analysis of Premature Rupture of Membrane Outcomes: Comparison Between 34-36 Weeks and Term Gestation Yordian, Kendry Savira; Pribadi, Adhi; Syam, Hanom Husni; Nugrahani, Annisa Dewi; Handono, Budi; Susiarno, Hadi; Suardi, Dodi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.710

Abstract

Introduction: This study analysed the maternal and neonatal outcomes in premature rupture of membrane at 34-36 weeks of gestation compared to term gestation to provide an overview of the current protocol’s efficacy which is currently widely varied. Method: This was a cross-sectional study using a simple random sampling technique. The subject of this study consisted of a total of 450 pregnant women diagnosed with PPROM at 34-36 weeks and term gestation during the period January 2019-December 2021. P<0.05 was considered statistically significant. Results: That women with premature rupture of membrane (PROM) at term gestation had a higher risk of 1.13 times (OR= 1.13, CI 95%) for neonatal asphyxia, 1.34 times for early neonatal death (OR= 1.34, CI 95%), and 4.03 times for developing clinical chorioamnionitis (OR= 4.03, CI 95%) compared to the 34-36 weeks of gestation group. There was no statistically significant difference between gestational age and the incidence of early neonatal death (P= 0.70). There were no maternal deaths in this study. Conclusion: the management protocol applied for both groups had the same efficacy. The incidence of clinical chorioamnionitis was higher in the term gestation group, which may be associated with risk factors such as COVID-19 and hepatitis B.Analisis Hasil Ketuban Pecah Dini: Perbandingan Antara Usia Kehamilan 34-36 Minggu dan Masa Kehamilan Cukup BulanAbstrakPendahuluan: Penelitian ini menganalisis hasil maternal dan neonatal pada ketuban pecah dini pada usia kehamilan 34 - 36 minggu dibandingkan dengan kehamilan jangka panjang untuk memberikan gambaran tentang kemanjuran protokol saat ini yang sangat bervariasi. Metode: Penelitian ini adalah studi cross-sectional menggunakan teknik simple random sampling. Subjek penelitian ini terdiri atas total 450 wanita hamil yang didiagnosis dengan PROM pada 34 - 36 minggu dan kehamilan jangka panjang selama periode Januari 2019 - Desember 2021. P<0,05 dianggap signifikan secara statistik. Hasil: hasil analisis menunjukan bahwa wanita dengan ketuban pecah dini pada usia kehamilan memiliki risiko lebih tinggi 1,13 kali (OR= 1,13, CI 95%) untuk asfiksia neonatal, 1,34 kali untuk kematian neonatal dini (OR= 1,34, CI 95%), dan 4,03 kali untuk mengembangkan chorioamnionitis klinis (OR= 4,03, CI 95%) dibandingkan dengan kelompok kehamilan 34 - 36 minggu. Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara usia kehamilan dan kejadian kematian neonatal dini (P = 0,70). Tidak ada kematian ibu dalam penelitian ini. Kesimpulan: Protokol manajemen yang diterapkan untuk kedua kelompok memiliki kemanjuran yang sama. Insiden chorioamnionitis klinis lebih tinggi pada kelompok kehamilan, yang mungkin terkait dengan faktor risiko seperti COVID-19 dan hepatitis B.Kata kunci: Ketuban pecah dini, asfiksia, kematian neonatal
The Role of Methotrexate Chemotherapy in Impeding Rupture - Low-Risk Gestational Trophoblastic Neoplasia Management: A Case Report Paramita, Betari Dhira; Sutrisno, Sutrisno; Pramatirta, Akhmad Yogi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.677

Abstract

Background: Gestational Trophoblastic Neoplasia (GTN) is a type of malignant growth that originates from abnormal proliferation of placental trophoblast. GTN can even be cured in its metastatic forms with a high success rate of 90-100%. However, estimating the incidence of Gestational Trophoblastic Disease (GTD) in Indonesia is challenging due to underreporting and lack of recognition. GTD can be classified into two types: hydatidiform mole and GTN. Low-risk GTN is currently treated with methotrexate.Case presentation: A 24-year-old woman experienced vaginal bleeding for three weeks after her molar evacuation. Upon admission to Prof. Dr. Margono Seokarjo (RSMS) General Hospital, the patient was in grade III hypovolemic shock. Post-molar evacuation β-hCG examination showed increasing periodic, while ultrasound examination revealed thinning of the myometrium with vesicular pattern invaded at the fundus. Transvaginal examination results showed bilateral lutein cysts. The patient was diagnosed with low-risk GTN (FIGO score 6) with impending uterine rupture and bilateral non-papillary multilocular ovarian cysts.Discussion: GTN during pregnancy requires accurate diagnosis and prompt treatment. GTN patients who reach an undetectable β-hCG level are at risk of perforation, infection, and higher uterine bleeding. MTX chemotherapy has been proven effective as the main therapy for low-risk GTN, and the β-hCG level can be relied upon as an indicator of treatment response. The MTX chemotherapy provides a favorable prognosis for reducing β-hCG levels to prevent uterine rupture.Conclusions: The administration of MTX chemotherapy successfully prevents rupture by reducing the β-hCG levels, followed by three cycles of consolidation therapy to prevent recurrence.Peran Kemoterapi Metotrexat pada Tatalaksana Tumor Trofoblastik Gestational Risiko Rendah dengan Ancaman Ruptur Uteri: Laporan KasusAbstrak Latar belakang: Neoplasia Trofoblas Gestasional (GTN) merujuk pada lesi ganas yang timbul dari proliferasi trofoblas plasenta yang abnormal. Meskipun dalam bentuk metastasis, GTN dapat disembuhkan dengan tingkat kesembuhan mencapai 90 – 100%. Di Indonesia, estimasi insiden GTD (Penyakit Trofoblas Gestasional) menjadi tantangan terutama karena tidak semua kasus dilaporkan atau dikenali. GTD terbagi menjadi mola hidatidosa dan neoplasia trofoblas gestasional (GTN). Saat ini, metotreksat direkomendasikan untuk GTN dengan risiko rendahPresentasi Kasus: Seorang wanita berusia 24 tahun mengalami perdarahan vagina selama 3 minggu setelah evakuasi molanya. Saat masuk ke Rumah Sakit Umum Prof. Dr. Margono Soekarjo (RSMS), pasien dalam keadaan syok hipovolemik stadium III. Pemeriksaan β-hCG pascaevakuasi mola menunjukkan peningkatan periodik dan pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan penipisan miometrium dengan pola vesikular yang menginvasi fundus. Hasil pemeriksaan transvaginal menunjukkan adanya kista lutein bilateral. Pasien didiagnosis dengan GTN risiko rendah (skor FIGO 6) dengan ancaman ruptur uterus dan kista ovarium multilokular bilateral non-papiler.Pembahasan: GTN selama kehamilan membutuhkan diagnosis yang akurat dan pengobatan yang cepat. Kemoterapi metotreksat merupakan terapi utama untuk GTN dengan risiko rendah, dan tingkat β-hCG dapat digunakan sebagai indikator respons terhadap pengobatan. Pasien GTN yang mencapai tingkat β-hCG yang tidak terdeteksi berisiko mengalami perforasi, infeksi, dan perdarahan rahim yang lebih tinggi. Penggunaan metotreksat (MTX) sebagai pengobatan utama untuk GTN dengan risiko rendah telah terbukti efektif dan memberikan prognosis yang menguntungkan. Kesimpulan: Pemberian kemoterpi MTX berhasil mencegah terjadinya ruptur karena kadar β-hCG menurun dan dilanjutkan terapi konsolidasi 3 siklus untuk mencegah terjadinya rekurensi.Kata kunci: Gestational Trophoblastic Neoplasia (GTN), Plasenta Trofoblas, Methotrexate Ruptur Uteri.
Outcome of Fetuses with Anterior Abdominal Wall Defects in A Tertiary Referral Hospital Alifa, Dhara; Aziz, Muhammad Alamsyah; Ritonga, Mulyanusa Amarullah; Pribadi, Adhi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.691

Abstract

Introduction: The most common abdominal wall defects are gastroschisis and omphalocele. Gastroschisis is a case of intraabdominal herniation caused by an abdominal wall defect from exposure to amniotic fluid during pregnancy. Omphalocele is a case of intraabdominal herniation covered with a membranous sac on the umbilical cord’s base. Gastroschisis occurred in 1/4000 of the of the global birth rate. Prevalence of omphalocele in between 1/3000 and 1/5000 cases of pregnancy. The purpose of the purpose of the research  is to present an overview of patients with congenital defects such as Gastroschisis and Omphalocele.Method: Research design is observational and descriptive. Data obtained from medical records in Hasan Sadikin tertiary referral hospital Bandung. Sample size was obtained by total sampling and conducted in April 2020–April 2023. Results: The demographics of gastroschisis include male (50%), female (50%), preterm (20%), stillbirth (30%), severe asphyxia (14.29%), moderate asphyxia (57.14%), normal asphyxia (8.57%), newborn mortality (14.29%), and other congenital anomalies (40%). In comparison, the demographics of omphalocele are male (66.67%), female (33.33%), preterm (58.33%), stillbirth (16.67%), severe asphyxia (40%), moderate asphyxia (40%), normal asphyxia (20%), newborn mortality (50%), and other congenital abnormalities (25%). Abdominal wall defects are seldom related with gender.Conclusion: Abdominal wall defect is a very rare congenital abnormality. This abnormality will require primary abdomen closure surgery to enhance the baby’s prognosis. The more other risk factors exist within abdominal wall defect babies, the worse their following prognosis will be. The prognosis for omphalocele is more severe than gastroschisis due to the presence of asphyxia and prematurity.Luaran Janin dengan Defek Dinding Abdominal Anterior di Rumah Sakit Rujukan TersierAbstrakPendahuluan: Cacat dinding depan abdomen yang paling banyak terjadi adalah gastroschisis dan omphalocele. Gastroschisis adalah kasus herniasi intraabdomen yang disebabkan oleh cacat dinding perut akibat paparan cairan ketuban selama kehamilan. Omphalocele adalah kasus herniasi intraabdomen yang ditutupi kantung membran di dasar tali pusat. Gastroschisis terjadi pada 1/4000 angka kelahiran global. Prevalensi omfalokel antara 1/3000 dan 1/5000 kasus kehamilan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyajikan gambaran pasien dengan kelainan bawaan seperti Gastroschisis dan Omphalocele.Metode: Desain penelitian adalah observasional dan deskriptif. Data diperoleh dari rekam medis di rumah sakit rujukan tersier Hasan Sadikin Bandung. Besar sampel diperoleh dengan cara total sampling dan dilakukan pada bulan April 2020–April 2023.Hasil: Demografi gastroschisis meliputi laki-laki (50%), perempuan (50%), prematur (20%), lahir mati (30%), asfiksia berat (14,29%), asfiksia sedang (57,14%), asfiksia normal (8,57%). ), kematian bayi baru lahir (14,29%), dan kelainan kongenital lainnya (40%). Sebagai perbandingan, demografi omfalokel adalah laki-laki (66,67%), perempuan (33,33%), prematur (58,33%), lahir mati (16,67%), asfiksia berat (40%), asfiksia sedang (40%), asfiksia normal (20). %), kematian bayi baru lahir (50%), dan kelainan bawaan lainnya (25%). Cacat dinding perut jarang berhubungan dengan jenis kelamin.Kesimpulan: Cacat dinding perut merupakan kelainan bawaan yang sangat tidak biasa. Kelainan ini memerlukan operasi penutupan perut utama untuk meningkatkan peluang hidup bayi. Adanya faktor risiko tambahan pada bayi baru lahir dengan kelainan dinding perut memperburuk prognosisnya. Omphalocele sering menyebabkan asfiksia dan prematur, sehingga prognosisnya lebih buruk dibandingkan gastroschisis.Kata Kunci : Cacat dinding depan abdomen, Gastroschisis, Omphalocele 
Relationship between Age, Parity and Body Mass Index in Pregnant Women with the Incidence of Preeclampsia at Prof. Dr. Margono Soekardjo Hospital Purwokerto Simanjuntak, Josua; Priyanto, Edy; Zulvayanti, Zulvayanti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.676

Abstract

Background: Preeclampsia is a crucial problem in developing country and contributes 9% of maternal mortality in Asia. Moreover it has been the second main cause of maternal death in Indonesia and the leading cause of maternal death in Central Java since 2019.Objective: This study aims to determine the relationship between age, parity and BMI in pregnant women with the incidence of preeclampsia.Methods: This study is a retrospective analytic observational study with a case control design. The research subjects were all cases of vaginal delivery and cesarean section from July to December 2022.Results: There were 200 women as subjects consisting of 100 women with preeclampsia and 100 women without preeclampsia. Most of the research subjects were aged <35 years (71.5%). It was found that preeclampsia was significantly associated with age ≥35 years (p=0.019), BMI ≥30 (p=0.008) and primiparity (p=0.006). On bivariate analysis, women with age ≥35 years (OR 2.1; 95% CI; 1.12-3.97), BMI ≥30 (OR 2.4; 95% CI; 1.25-4.87) and primiparity (OR 2.2; 95% CI; 1.2- 3.92) are at increased risk of developing preeclampsia.Conclusion: The results of this study indicate that age ≥ 35 years, BMI ≥30 and primiparity are associated with the occurrence of preeclampsia.Hubungan Usia, Paritas dan Indeks Masa Tubuh pada Ibu Hamil dengan Kejadian Preeklamsia di RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo PurwokertoAbstrak Pendahuluan: Preeklamsia masih menjadi masalah kesehatan ibu yang krusial di negara berkembang dan berkontribusi sebanyak 9% mortalitas maternal di Asia. Preeklamsia menempati urutan ke-2 kematian ibu di Indonesia dan menjadi penyebab utama kematian ibu di Jawa Tengah sejak tahun 2019.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia, paritas, dan IMT pada ibu hamil dengan kejadian preeklamsia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik retrospektif dengan desain case control. Subjek penelitian adalah seluruh kasus persalinan pervaginam dan seksio sesarea pada bulan Juli sampai Desember 2022.Hasil: Diperoleh subjek sebanyak 200 wanita yang terdiri atas 100 wanita dengan preeklampsia dan 100 wanita tanpa preeklampsia. Sebagian besar subjek penelitian berusia <35 tahun (71.5%). Ditemukan bahwa preeklamsia secara signifikan berhubungan dengan usia ≥35 tahun (p=0.019), IMT ≥30 (p=0.008) dan primiparitas (p=0.006). Pada analisis bivariat, wanita dengan usia ≥35 tahun (OR 2.1; 95%CI; 1.12 - 3.97), IMT ≥30 (OR 2.4; 95%CI; 1.25 - 4.87) dan primipara (OR 2.2; 95%CI; 1.2 - 3.92) berada dalam peningkatan risiko terjadi preeklamsia. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usia ≥35 tahun, IMT ≥30 dan primiparitas berhubungan dengan terjadinya preeklampsia.Kata kunci: preeklamsia, usia, paritas, indeks masa tubuh
Differences in Grade II Perinealtearswound Healing using Fresh Amniotic Membranein Post Vaginal Delivery Women in RSUD Padang Panjang Indonesia Utama, Bobby Indra; Rahman, Andio; Firdawati, Firdawati; Burhan, Ida Rahmah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.712

Abstract

Introduction: Perineal tear is the most common complication of vaginal delivery which has the risk of infection and discomfort, also causes insecurity.The amniotic membrane has been shown to enhance wound healing through acceleration of epithelization, angiogenetic and antibacterial effects.Objective: This study aims to determine the difference in perineal wounds healing with or without the use of amniotic membranes.Methods: This was a cohort study conducted from December 2022 to January 2023 at Padang Panjang Hospital. Patients included were aged 17- 40 years with normal BMI without any comorbid such as diabetes mellitus, hypertension and blood disorders. The procedure was done by the same person at the same place and with the same equipment.Results: There were 28 patients who were divided into two groups i.e 14 patients who were given fresh amniotic membranes and 14 patients who were not given fresh amniotic membranes. The mean age, parity, last education, body mass index and type of perineal wound were similar between groups. In this study, there was a significant difference between recovery and pain degrees on the 10th day after the procedure between the two groups, while there was no significant difference in the incidence of infection on the 10th day and pain on the 2nd day.Conclusion: Fresh amniotic membrane improves healing and reduces the pain in perineal wound patients.Perbedaan Penyembuhan Luka Perineum Grade II dengan Penggunaan Selaput Amnion Segar pada Wanita Pasca-Persalinan Ervaginam di RSUD Padang Panjang IndonesiaAbstrakPendahuluan: Robekan perineum merupakan penyebab keduater banyak perdarahan postpartum. Selaput amnion telah terbukti meningkatkan hasil penyembuhan luka melalui efek percepatan epitelisasi, angiogenetic dan antibacterial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penyembuhan pada luka perineum grade II dengan atau tanpa penggunaan selaput amnion. Metode: Penelitian ini merupakan jenis studikohort yang dilakukan dari Desember 2022 sampai Januari 2023 di RSUD Padang Panjang. Pasien yang diikutkan adalah pasien berusia 17 – 40 tahun dengan IMT normal tanpa adanya komorbiditas diabetes melitus, hipertensi dan kelainan darah. Penjahitan luka dan pemberian amnion dilakukan dengan operator, lokasi serta alat yang sama menggunakan PGA 2.0 teknik jelujur dan kulit dengan teknik subkutikuler. Hasil: Terdapatsebanyak 28 pasien yang dibagimenjadi dua kelompok, yaitu 14 pasien yang diberikan selaput amnion segar dan 14 pasien tidak diberikan selaput amnion segar. Reratausia, paritas, pendidikan terakhir, indeks masa tubuh, dan jenis luka perineum grade II serupa antar kelompok. Pada penelitian ini didapatkan perbedaan yang signifikan antara kesembuhan hari ke-10 dan derajat nyeri hari ke-10 pascatindakan antara kedua kelompok, sedangkan ada kejadian infeksihari ke-10 an nyerihari ke-2 tidak ditemukan perbedaan signifikan. Kesimpulan: Selaput amnion segar meningkatkankesembuhan dan menurunkannyeri pada pasiendenganluka perineum grade II.Kata kunci: Selaput amnion segar, kesembuhan, nyeri, infeksi, luka perineum grade II
Gestational Weight Gain and Risk of Preeclampsia: A Case-Control Study Iswari, Wulan; Setyawan, Adi; Armawan, Edwin
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.679

Abstract

Introduction: This study aims to investigate the relationship between gestational weight gain and preeclampsia among patients who delivered in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto. Methods: This was a case control study, conducted from October 2022 – March 2023. Data were gathered through electronic medical records and excluded pregnant patients with previous diagnosis of hypertension outside pregnancy, diabetes, renal disorder, and autoimmune disorder. Results: In this study, 156 patients with preeclampsia and 156 patients without preeclampsia were enrolled. Patients with high GWG have an increased risk of preeclampsia (OR 2.154 95%CI 1.353 – 3.429) compared to patients with adequate GWG (OR 0.984 95%CI 0.691 – 1.401). Patients with pre-pregnancy obesity also has an increased risk of preeclampsia (OR 1.625 95%CI 1.165 – 2.267) compared to normal pre-pregnancy weight (OR 0.564 95%CI 0.379-0.869).Discussion: Gestational weight gain and pre-pregnancy obesity appears to be independently linked to preeclampsia. Our findings reflect other studies that have been conducted on this subject, strengthening the synergistic effect between pre-pregnancy BMI and GWG on the risk of preeclampsia in local population. Conclusion: Excessive GWG during pregnancy and pre-pregnancy obesity increases the risk of developing preeclampsia.Peningkatan Berat Badan saat Kehamilan dan Risiko Preeklamsia: Sebuah Studi Case-ControlAbstrakPendahuluan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pertambahan berat badan dan kejadian preeklampsia pada pasien bersalin di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode: Studi ini merupakan studi case control yang dilakukan dari Oktober 2022 – Maret 2023. Data dikumpulkan melalui rekam medis elektronik dengan kriteria eksklusi berupa pasien hamil dengan diagnosis hipertensi sebelumnya di luar kehamilan, diabetes, gangguan ginjal, dan gangguan autoimun. Hasil: Dalam penelitian ini, terdapat 156 pasien dengan preeklampsia dan 156 pasien tanpa preeklampsia. Pasien dengan GWG tinggi memiliki peningkatan risiko preeklampsia (OR 2,154 95%CI 1,353 – 3,429) dibandingkan pasien dengan GWG adekuat (OR 0,984 95%CI 0,691 – 1,401). Pasien dengan obesitas prakehamilan juga memiliki peningkatan risiko preeklampsia (OR 1,625 95%CI 1,165 – 2,267) dibandingkan dengan berat badan normal sebelum hamil (OR 0,564 95%CI 0,379-0,869). Diskusi: Pertambahan berat badan gestasional dan obesitas pra-kehamilan tampaknya terkait secara independen dengan preeklampsia. Temuan kami mencerminkan penelitian lain yang telah dilakukan mengenai hal ini, memperkuat efek sinergis antara BMI pra-kehamilan dan kenaikan berat badan kehamilan pada risiko preeklampsia pada populasi lokal. Kesimpulan: Pertambahan berat badan selama kehamilan yang berlebihan selama kehamilan dan obesitas pra-kehamilan meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia. Kata kunci: Preeklampsia, Pertambahan Berat Badan Kehamilan, Obesitas
Relationship Between Characteristics of Pregnant Women and Incidence of Anemia at I Melaya Health Center, Bali Province Wati, Ni Putu Eka Yadnya; Aristasari, Gusti Ayu Putu
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.692

Abstract

Introduction: Anemia is a condition of low levels of red blood cells (hemoglobin) in the body below normal values. Pregnant women are considered to have anemia if their hemoglobin is less than 11 gr/dl. Data retrieved from the Bali Health Department in 2022 shows obstetric complications due to anemia accounted for 23% of total pregnancies, while data retrieved from the Jembrana Health Department in 2022 shows that 445 out of 3965 pregnant women experienced anemia. This study aims to determine the relationship between the characteristics of pregnant women and the incidence of anemia in the working area of I Melaya Health Center.Method: This descriptive study uses a cross-sectional design based on secondary data with 132 samples.Results: This study shows that the proportion of cases of anemia in pregnant women at I Melaya Health Center in 2022 was 59 cases (44.7%). Most of the anemia occurs in pregnant women aged <20 years, in the third trimester, with grandemultigravida parity and at obese nutritional status.Conclusion: This study shows a significant relationship between maternal age, gestational age, the number of parities, and the incidence of anemia in pregnant women. However, there is an insignificant relationship between maternal nutritional status and the incidence of anemia in pregnant women at I Melaya Health Center.Hubungan antara Karakteristik Ibu Hamil dan Kejadian Anemia di Puskesmas I Melaya Provinsi BaliAbstrakPendahuluan: Anemia merupakan kondisi rendahnya kadar hemoglobin atau sel darah merah dalam tubuh di bawah nilai normal. Untuk kehamilan, dapat dikatakan seorang ibu mengalami anemia jika hemoglobin kurang dari 11 gr/dl. Berdasarkan data profil kesehatan Provinsi Bali tahun 2022, komplikasi kebidanan akibat anemia mencakup 23% dari total kehamilan dan data profil kesehatan Kabupaten Jembrana tahun 2022 menunjukkan 445 dari 3965 ibu hamil mengalami anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik ibu hamil dan kejadian anemia di wilayah kerja UPTD Puskesmas I MelayaMetode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan design cross sectional berdasarkan data sekunder dengan sampel yang digunakan sebanyak 132 sampel.Hasil: Penelitian ini menunjukkan proporsi kejadian anemia pada ibu hamil di UPTD Puskesmas I Melaya tahun 2022 adalah sebanyak 59 kasus (44,7%). Mayoritas anemia terjadi pada ibu hamil usia <20 tahun, usia kehamilan trimester III, jumlah anak grandemultigravida, dan status gizi obese.Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu, usia kehamilan, dan jumlah paritas dan kejadian anemia pada ibu hamil. Namun, terdapat hubungan yang tidak signifikan antara status gizi ibu dan kejadian anemia pada ibu hamil di UPTD Puskesmas I Melaya.Kata kunci : anemia, ibu hamil, faktor risiko.

Page 1 of 2 | Total Record : 20