cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 374 Documents
Perubahan Garis Pantai Rawan Gempabumi di Lokasi Terabrasi Menggunakan Data Geofisika Priscilla, Viona Azhari; Farid, Muchammad; Lidiawati, Liza; Al Ansory, Andre Rahmat
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i1.64643

Abstract

Kabupaten Bengkulu Utara mempunyai garis pantai yang panjangnya sekitar 262,63 km dan berada di wilayah rawan Gempabumi yang ditunjukkan dengan besarnya nilai Peak Ground Acceleration (PGA > 300). Salah satu sumber daya pesisir di Kabupaten Bengkulu Utara yang memberikan manfaat bagi masyarakat setempat adalah kawasan di sepanjang pantai. Namun, manfaat bagi masyarakat sekitar terancam akibat fenomena abrasi di wilayah pesisir. Kabupaten Bengkulu Utara merupakan kabupaten ke-70 di indonesia yang rentan terhadap bencana abrasi pantai, sehingga masuk dalam kategori kabupaten yang sangat rentan terhadap bencana jenis tersebut. Desa Urai merupakan salah satu wilayah yang rentan terhadap abrasi pantai di Kabupaten Bengkulu Utara. Berdasarkan keadaan yang terjadi di Desa Urai, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kecepatan perubahan garis pantai menggunakan data Citra Satelit dan data Seismik Pasif dalam bentuk kecepatan gelombang geser ( ) dengan menggunakan metode HVSR (Horizontal to Vertical Spectral Ratio). Hasil penelitian menunjukkan daerah yang mengalami abrasi memiliki kecepatan perubahan garis pantai pada rentang antara 1,41-5,04 m/tahun, dengan kecepatan gelombang geser ( ) antara 176,30-237,12 m/s. Daerah yang mengalami abrasi memiliki nilai kecepatan perubahan garis pantai yang tinggi yang didukung dengan nilai  rendah yang mengindikasikan klasifikasi tanah berada pada jenis tanah lunak sampai sedang. 
Kemampuan Degradasi Mikroplastik Polycaprolactone oleh Bakteri Asosiasi Karang Keras di Pantai Kartini Jepara Azizi, Muhammad Faris; Endrawati, Hadi; Sabdono, Agus
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i1.42550

Abstract

Jutaan ton sampah plastik global akan berakhir ke laut setiap tahunnya. Dampak adanya mikroplastik telah menjadi ancaman bagi organisme laut, salah satunya karang keras yang merupakan penyusun ekosistem terumbu karang. Penelitian ini bertujuan memperoleh bakteri asosiasi karang keras yang berpotensi mendegradasi mikroplastik dari dari perairan Pantai Kartini, Jepara. Sampel karang diambil dari tiga macam life form yaitu branching, massive, dan submassive  pada kedalaman 5 – 10 meter. Sampel karang selanjutnya dilakukan pengenceran bertingkat, kemudian diinokulasi pada media agar laut zobell 2216E. Skrining uji potensi degradasi mikroplastik dilakukan menggunakan substrat tributyrin sebagai tahap awal untuk mengetahui aktivitas enzim lipolitik, dilanjutkan dengan uji polycaprolactone untuk mengetahui potensi adanya enzim poliesterase yang dapat memecah partikel mikroplstik. Tahapan analisa molekuler dilakukan meliputi ekstraksi DNA, amplifikasi DNA gen 16S rRNA, elektroforesis, dan analisa filogenetik. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 37 isolat bakteri asosiasi karang keras dari berbagai life form. Delapan bakteri diketahui berpotensi memiliki aktivitas enzim lipolitik pada media tributyrin. Dilanjutkan pada uji polycaprolactone dihasilkan satu isolat bakteri dari karang massive degan kode PK-KM-1.1 yang berpotensi mendegradasi polimer polycaprolactone. Analisa molekuler menunjukkan isolat PK-KM-1.1 memiliki kemiripan dengan Bacillus aerius hingga 99,71%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri yang berasosiasi dengan karang keras berpotensi mendegradasi senyawa mikroplastik polycaprolactone dan dapat dijadikan sebagai sumber inang di dalam eksplorasi bakteri pendegradasi mikroplastik.
Kondisi Makrozoobentos Kaitannya dengan Ekosistem Mangrove di Kawasan Mangrove Estuari Perancak, Jembrana, Bali Purba, Sindi Krisanti; Indrawan, Gede Surya; Suteja, Yulianto
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i1.64699

Abstract

Ekosistem mangrove memainkan peran penting dalam mendukung kehidupan akuatik, sebagai sumber makanan, tempat pembesaran dan tempat pemijahan bagi berbagai organisme akuatik. Kondisi lingkungan mangrove sangat memengaruhi keberadaan biota perairan, terutama makrozoobentos. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelimpahan makrozoobentos, kondisi kerapatan mangrove, serta hubungan parameter lingkungan dan kerapatan mangrove dengan kelimpahan makrozoobentos menggunakan pendekatan Principal Component Analysis (PCA). Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2023 di ekosistem mangrove Perancak, Jembrana, Bali dengan pengambilan sampel di tiga jenis habitat mangrove: mangrove alami, restorasi, dan campuran. Data mangrove dikumpulkan menggunakan transek berukuran 10x10m2, adapun pengambilan data makrozoobentos menggunakan transek 1x1m2.. Hasil pengukuran kualitas air menunjukkan suhu berkisar antara 28,67-30,87OC, pH 6,25-6,45, salinitas 27,78-30,89‰, oksigen terlarut 2,15-2,81 mg/L dan kadar nitrat 0,49-0,97 mg/L. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kondisi kualitas air pada lokasi penelitian dalam kondisi baik dan mendukung pertumbuhan makrozoobentos. Selain itu, tekstur sedimen didominasi oleh substrat lempung liat berdebu. Makrozoobentos yang ditemukan terdiri dari 15 spesies dari 10 famili dan 3 kelas yaitu Gastropoda, Polychaeta, dan Malacostraca. Kelimpahan makrozoobentos berkisar antara 12,87-16,3ind/m2, sedangkan kerapatan mangrove berada pada kategori sangat padat dengan nilai antara 2300-3566 ind/ha. Indeks keanekaragaman 1,52-2,31, indeks keseragaman 0,78-0,9, dan indeks dominansi 0,12-0,29. Nilai indeks ekologi ini menunjukkan bahwa makrozoobentos berada dalam kondisi seimbang. Berdasarkan hasil analisis PCA, kelimpahan memiliki korelasi positif dengan variabel kerapatan mangrove, suhu, oksigen terlarut (DO), dan pH. 
Karakteristik dan Variasi Musiman Eddy di Perairan Pasifik Bagian Barat Laut Akbar, M. Apdillah; Radjawane, Ivonne Milichristi; Nurdjaman, Susanna; Napitupulu, Gandhi; Hatmaja, Rahaden Bagas
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i1.62747

Abstract

Samudra Pasifik barat laut merupakan wilayah yang penting secara geografis dan ekologis, Samudra ini dilalui North Equatorial Current (NEC), South Equatorial Current (SEC), dan North Equatorial Counter Current (NECC), pertemuan arus-arus tersebut dapat mengakibatkan terbentuknya eddy. Eddy merupakan pola sirkulasi air berputar yang memainkan peran penting dalam transpor massa, energi, dan nutrien di lautan. Eddy di belahan bumi utara (BBU) yang bergerak berlawanan jarum jam disebut siklonik eddy (CE) dan yang bergerak searah jarum jam disebut antisiklonik eddy (AE). Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi karakteristik dan variasi musiman eddy di perairan Pasifik barat laut. Data harian anomali muka laut dan kecepatan geostropik dari satelit altimetri selama periode tahun 2003 hingga 2022 dianalisis untuk mengidentifikasi eddy berdasarkan ukuran, masa hidup, dan distribusi spasialnya. Deteksi eddy menggunakan metode hybrid antara SLA kontur tertutup dan parameter Okubo-Weiss. Ditemukan 435 eddy di perairan Pasifik barat laut dengan AE sebanyak 201 dan CE sebanyak 234 dalam kurun waktu 20 tahun. Hasil menunjukkan pola musiman yang jelas dalam distribusi spasial dan kekuatan eddy. Musim timur memiliki aktivitas eddy yang lebih tinggi daripada musim barat, kemungkinan terkait dengan faktor iklim regional seperti perubahan suhu permukaan laut dan pola angin musiman. Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang dinamika eddy di Pasifik barat laut dan dapat dikembangkan untuk pengelolaan sumber daya laut dan mitigasi risiko bencana alam di wilayah tersebut.
Hubungan ENSO-IOD terhadap Curah Hujan dan Suhu Permukaan Laut di Perairan Bengkulu Maharani, Surfiarti; Ratnawati, Herlina Ika; Lubis, Ashar Muda
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i2.69693

Abstract

Perairan Bengkulu terletak di sebelah barat Perairan Indonesia, berhadapan langsung dengan Samudera Hindia yang memengaruhi dinamika atmosfer-laut di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terhadap curah hujan dan Suhu Permukaan Laut (SPL). Data yang digunakan adalah data klimatologi (1993-2023) yang telah dikomposit dan dilakukan analisa korelasi. Hasil komposit SPL menunjukkan bahwa suhu tertinggi terjadi pada Maret–Mei (29°C-31°C), sedangkan suhu terendah pada Agustus–November (26°C-27°C). Curah hujan memiliki pola bimodial pada Maret dan Oktober/November. Hasil analisis korelasi mengindikasikan bahwa ENSO lebih memengaruhi SPL daripada curah hujan sedangkan IOD lebih dominan dalam SPL dan curah hujan. Fenomena El Niño dan IOD positif berdampak pada kurangnya curah hujan dan memperpanjang musim kemarau, sementara La Niña dan IOD negatif berdampak pada peningkatan curah hujan serta memperpanjang musim hujan. Hubungan El Niño dan La Niña diwakili oleh Oceanic Niño Index (ONI) terhadap curah hujan yang terjadi pada bulan September-Oktober-November (SON) dengan nilai korelasi -0.31 hingga -0.42. Sedangkan hubungan Dipole Mode Index (DMI) terhadap SPL pada periode SON menunjukkan nilai korelasi -0.70 hingga -0.78 dimana korelasi tertinggi pada Oktober (-0.78). Penelitian ini menegaskan bahwa ENSO-IOD berperan penting dalam pola iklim di Perairan Bengkulu. Bengkulu Waters are located in the western part of Indonesian Waters, directly facing the Indian Ocean, affecting the region's atmosphere-sea dynamics. This research aims to determine the relationship of ENSO and IOD to rainfall and SST. The data used are climatological (1993-2023) composited and correlation analysis is carried out. The SPL composite results show that the highest temperature occurs in March-May (29°C-31°C), while the lowest temperature is in August-November (26°C-27°C). Rainfall has a bimodial pattern in March and October/November. Correlation analysis results indicate that ENSO influences SST more than rainfall, while IOD is more dominant in SST and rainfall. Positive El Niño and IOD phenomena result in less rainfall and extended dry seasons, while negative La Niña and IOD result in increased rainfall and extended wet seasons. The ONI represents the El Niño and La Niña relationship to rainfall occurring in September-October-November (SON) with a correlation value of -0.31 to -0.42. Meanwhile, the DMI relationship to SST in the SON period shows a correlation value of -0.70 to -0.78, with the highest correlation in October (-0.78). This research confirms that ENSO-IOD plays an important role in climate patterns in Bengkulu Waters.
Pengaruh Faktor Lingkungan terhadap Kondisi Mangrove Hasil Rehabilitasi di Pulau Harapan, Kepulauan Seribu Tsabita, Alika; Sunarto, Sunarto; MS, Yuniarti; Pamungkas, Wahyuniar
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i2.65378

Abstract

ulau Harapan merupakan salah satu wilayah di Kepulauan Seribu yang melakukan rehabilitasi mangrove dengan jenis Rhizophora stylosa sejak tahun 2005. Tetapi, pertumbuhan diameter batang mangrove yang cenderung lambat menjadikan rehabilitasinya tidak optimal. Tujuan dilaksanakannya riset ini adalah untuk menganalisis faktor lingkungan yang memengaruhi kondisi mangrove hasil rehabilitasi di Pulau Harapan. Metode yang digunakan yakni survei lapangan untuk mendapatkan data kondisi mangrove, data faktor lingkungan berupa suhu, salinitas, pH, DO, nitrat, fosfat, serta jenis substrat dari ekosistem mangrove. Untuk mengetahui keterkaitan kondisi mangrove dengan faktor lingkungan, dilakukan Principal Component Analysis. Terdapat 3 stasiun pengamatan pada penelitian yang ditentukan menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan utama berupa perbedaan kondisi lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangrove hasil rehabilitasi di Pulau Harapan berada dalam kondisi baik dan sangat padat. Tetapi, jarak penanaman yang terlalu dekat serta tidak dilakukannya penjarangan saat mangrove mulai tumbuh besar menyebabkan ketidakcukupan ruang untuk mangrove dapat tumbuh dengan baik. Kondisi mangrove di Pulau Harapan yang berupa kerapatan dan pertumbuhan, utamanya dipengaruhi oleh substrat pada ekosistem mangrove yang kasar serta kandungan nutrien dengan konsentrasi yang cukup tinggi, dimana konsentrasi fosfat berkisar 0,038 – 0,062 mg/L dan konsentrasi nitrat berkisar 0,059 – 0,461 mg/L. Selain itu, faktor lingkungan lain seperti nilai pH yang berada di bawah baku mutu yang telah ditetapkan serta kondisi perairan Pulau Harapan yang termasuk dalam kategori tercemar ringan turut berpengaruh pada kondisi mangrove. Harapan Island is one of the areas in the Thousand Islands that has been rehabilitating mangroves with the type Rhizophora stylosa since 2005. However, the slow growth of mangrove trunk diameter makes the rehabilitation not optimal. The purpose of this research is to analyze environmental factors that affect the condition of rehabilitated mangroves on Harapan Island. The method used is a field survey to obtain data on mangrove conditions, environmental factor data in the form of temperature, salinity, pH, DO, nitrate, phosphate, and substrate types from mangrove ecosystems. To determine the relationship between mangrove conditions and environmental factors, a Principal Component Analysis was conducted. There are 3 observation stations in the study that are determined using the purposive sampling method with the main consideration being differences in environmental conditions. The results of the study show that the rehabilitated mangroves on Harapan Island are in good condition and very dense. However, the planting distance that is too close and the lack of thinning when the mangroves begin to grow large causes insufficient space for mangroves to grow properly. The condition of mangroves on Harapan Island, which is in the form of density and growth, is mainly influenced by the substrate in the mangrove ecosystem which is rough and the nutrient content with a fairly high concentration, where the phosphate concentration ranges from 0.038 – 0.062 mg/L and the nitrate concentration ranges from 0.059 – 0.461 mg/L. In addition, other environmental factors such as pH values that are below the predetermined quality standards and the condition of the waters of Harapan Island which are included in the lightly polluted category also affects the condition of mangroves.
Analisis Prediksi Kenaikan Permukaan Laut Menggunakan Data Satelit Altimetri dengan LSTM di Perairan Jepara dan Sekitarnya Maulana, Refaldi Rizky; Rochaddi, Baskoro; Wijaya, Yusuf Jati
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i2.67069

Abstract

Perubahan iklim global telah menyebabkan kenaikan permukaan laut yang signifikan, yang mengancam negara kepulauan seperti Indonesia. Penelitian ini berfokus pada wilayah Jepara, Jawa Tengah, yang berbatasan dengan Laut Jawa dan rentan terhadap kenaikan permukaan laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mencari hubungan antara pasang surut dan Sea Level Anomaly (SLA), serta mengevaluasi model Long Short-Term Memory (LSTM) dalam memprediksi data SLA di Jepara. Penelitian ini menggunakan data SLA komponen Delayed Time (DT) dan Near-Real Time (NRT) dari Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) dan data pasang surut dari Badan Informasi Geospasial (BIG). Hasil analisis menunjukkan bahwa pasang surut di perairan Jepara cenderung bersifat campuran condong ke harian tunggal. Hasil korelasi Pearson yang linear positif yang kuat dan koefisien determinasi sebesar 52,01% pada dataset komponen DT dengan 4 titik pengamatan di perairan Jepara menunjukkan bahwa peningkatan SLA berhubungan dengan peningkatan pasang surut, di mana SLA menjelaskan 52,01% variasi pasang surut. Tren kenaikan SLA dari tahun 1993 hingga 2023 menunjukkan rata-rata kenaikan permukaan laut sebesar 4,794 mm/tahun, dengan puncak tertinggi pada tahun 2022. Model LSTM dengan 2 hidden layers, 100 epochs, 100 hidden units, dan dropout rate 0,1 menunjukkan kinerja yang baik dalam memprediksi data SLA, dengan MAE sebesar 2,3776, RMSE 3,0389, dan MAPE 17%. Hasil evaluasi tersebut menunjukkan nilai error yang kecil, sehingga dapat disimpulkan bahwa model LSTM memiliki performa yang baik dalam memprediksi kenaikan permukaan laut.  Global climate change has caused significant sea level rise, which threatens archipelagic countries like Indonesia. This research focuses on the Jepara region in Central Java, which borders the Java Sea and is vulnerable to rising sea levels. The study aims to analyze and identify the relationship between tides and Sea Level Anomaly (SLA), and evaluate the Long Short-Term Memory (LSTM) model in predicting SLA data in Jepara. The research uses Delayed Time (DT) and Near-Real Time (NRT) SLA data from the Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) and tidal data from Badan Informasi Geospasial (BIG). The results of the analysis show that the tides in Jepara waters tend to be mixed tide prevailing diurnal. The strong positive linear Pearson correlation and a 52.01% coefficient of determination in the DT component dataset with 4 observation points in Jepara waters indicate that the increase in SLA is related to the increase in tides, where SLA explains 52.01% of the tidal variation. The SLA trend from 1993 to 2023 shows an average sea level rise of 4,794 mm/year, with the maximum height in 2022. The LSTM model with 2 hidden layers, 100 epochs, 100 hidden units, and a dropout rate of 0.1 demonstrated good performance in predicting SLA data, with an MAE of 2.3776, RMSE of 3.0389, and MAPE of 17%. These results indicate that the LSTM model performs well in predicting sea level rise.
Variabilitas Tahunan Produksi Garam di Wilayah Timur Laut Jawa Tengah, Indonesia Mustofa, Arif; Zainuri, Muhammad; Kunarso, Kunarso; Maslukah, Lilik
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i2.70661

Abstract

Curah hujan merupakan faktor utama produksi garam rakyat di timur laut Jawa Tengah, Indonesia. Teknologi penguapan total dalam produksi garam dengan mengandalkan radiasi matahari. Kondisi ini menyebabkan produksi garam bergantung pada sinar matahari dan intensitas curah hujan. Analisis dilakukan untuk membahas dampak variabilitas curah hujan terhadap fluktuasi produktivitas garam. Penelitian dilakukan pada kabupaten yaitu Rembang, Pati, Jepara dan Demak pada tahun 2018-2023. Metode yang digunakan adalah deskriptif melalui perbandingan data produksi garam dengan data intensitas curah hujan. Data berupa jumlah produksi dan luas lahan garam diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan masing-masing kabupaten, sedangkan data curah hujan diperoleh dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada tahun 2018 dan 2019 curah hujan rata-rata sebesar 0,03 mm pada bulan Juli - Oktober menyebabkan produktivitas garam di atas 100 ton/Ha. Tahun 2020-2022 hujan terjadi sepanjang tahun menyebabkan penurunan produksi garam. Seluruh kabupaten penghasil garam di timur laut Jawa Tengah yaitu Rembang, Pati, Jepara dan Demak mengalami penurunan produksi garam rata-rata sebesar 26,76% pada tahun 2020-2022 dan terjadi peningkatan curah hujan rata-rata sebesar 15,58%. Sedangkan pada tahun 2023 terjadi peningkatan produksi garam sebesar 279,94% dari tahun sebelumnya dengan curah hujan yang menurun 27,28%.   Rainfall is a major factor in artisanal salt production in northeast Central Java, Indonesia. Total evaporation technology in salt production relies on solar radiation. This makes salt production dependent on sunlight and rainfall intensity. Analyses were conducted to discuss the impact of rainfall variability on fluctuations in salt productivity. The research was conducted in four districts namely Rembang, Pati, Jepara and Demak in 2018-2023. The method used is descriptive through comparison of salt production data with rainfall intensity data. Data in the form of total production and salt land area were obtained from the Department of Marine Affairs and Fisheries of each district, while rainfall data were obtained from the BMKG Central Java Climatology Station. The results of the analysis show that in 2018 and 2019 the average rainfall of 0.03 mm in July - October caused salt productivity above 100 tonnes / ha. In 2020-2022, rainfall occurred throughout the year causing a decrease in salt production. All salt-producing districts in northeast Central Java, namely Rembang, Pati, Jepara and Demak, experienced a decrease in salt production by an average of 26.76% in 2020-2022 and an increase in average rainfall by 15.58%. Whereas in 2023 there was an increase in salt production by 279.94% from the previous year with rainfall decreasing by 27.28%.
Karakteristik Sedimen di Perairan Pantai Desa Jawai Laut, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat Berlin, Wisnu Sanjaya; Muliadi, Muliadi; Apriansyah, Apriansyah
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i2.66481

Abstract

Perairan pantai Desa Jawai Laut memiliki potensi ekonomi yang besar, dengan aktifitas perekonomian masyarakat meliputi pariwisata, perikanan tangkap, dan budidaya rumput laut. Aktivas perekonomian masyarakat mendapatkan pengaruh dari abrasi yang terjadi di perairan tersebut. Proses abrasi yang terus berlangsung mengubah pola distribusi sedimen, yang dapat mengakibatkan penurunan kualitas habitat dan berdampak negatif pada kegiatan ekonomi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik sedimen dasar serta faktor-faktor oseanografi yang mempengaruhinya di Perairan Pantai Desa Jawai Laut. Metode analisis karakteristik sedimen menggunakan metode granulometri dan pendekatan statistik ukuran butir. Titik stasiun pengambilan sampel sedimen berjumlah 8 stasiun. Data pendukung meliputi pasang surut, tinggi gelombang signifikan, dan kecepatan arus. Berdasarkan hasil penelitian sebaran fraksi sedimen didominasi oleh jenis sedimen pasir. Nilai ukuran butir rata-rata berkisar di antara 1,72 φ – 2,98  φ dengan kategori pasir halus dan pasir sedang. Nilai sortasi berkisar antara 0,6 φ - 1,08 φ dengan kategori terpilah buruk, terpilah sedang dan terpilah cukup baik. Nilai skewness berkisar antara 4,29 φ - 6,65 φ dengan kategori sangat halus, nilai kurtosis berkisar antara 0,68 φ - 1,04 φ dengan kategori platykurtik dan mesokurtik. Kecepatan arus rata-rata 0,0373 m/s, pola pasang surut campuran condong harian ganda, dan tinggi gelombang signifikan berkisar antara 0,276 - 0,72 meter, dengan tinggi rata-rata bulanan 0,443 meter. Sebaran ukuran butir sedimen di perairan pantai Desa Jawai Laut dipengaruhi oleh arus dan gelombang.  The coastal waters of Jawai Laut Village have great economic potential, with community economic activities including tourism, capture fisheries, and seaweed cultivation. The economic activities of the community are influenced by the abrasion that occurs in these waters. Ongoing abrasion processes change sediment distribution patterns, which can result in degradation of habitat quality and negatively impact local economic activities. This study aims to identify the characteristics of bottom sediments and the oceanographic factors that influence them in the coastal waters of Jawai Laut Village. The methods used in this study are granulometry method and grain size statistical approach. Sediment sampling was conducted at 8 stations. Supporting data for this study includes tidal patterns, significant wave height, and current speed. The results showed the distribution of sediment fractions is dominated by sand sediment types. Average grain size ranges from 1,72 φ – 2,98 φ, classified as fine sand and medium sand, sorting values range from 0,6 φ – 1,08 φ, classified as poorly sorted, moderately sorted and moderately well sorted, skewness value ranges from 4,29 φ – 6,65 φ classified as very fine skewed, kurtosis value ranges from 0,68 φ – 1,04 φ classified as platykurtic and mesokurtic. An average current speed of 0,0373 m/s, mixed tide prevailing semi-diurnal as tidal pattern, and significant wave heights ranging from 0,276 – 0,72 meters, with a monthly average height of 0,443 meters. The grain size distribution of sediments in the coastal waters of Jawai Laut Village is influenced by currents and waves.
Analysis of Wind Characteristics and Sea Surface Elevation Dynamics in Coastal Waters of Mantang Island, Bintan Regency, Indonesia Fa'u, Yosepine Cinta Tyas Gusti; Pranowo, Widodo Setiyo; Suhana, Mario Putra; Mujiasih, Subekti; Hatmaja, Rahaden Bagas; Ratnawati, Herlina Ika; Apdillah, Dony
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i2.70748

Abstract

Geographically, Mantang Island is situated between the Malacca Strait, Natuna Sea, and Karimata Strait, and is exposed to the open sea, which influences the oceanographic dynamics of the region. The island’s residents are heavily dependent on the sea for their livelihoods, making wind and sea tides crucial for meeting their daily needs. Consequently, this study aimed to measure wind data and sea surface elevation over a 30-day period, with the results visualized using a wind rose diagram. The specific objectives were: 1) to calculate harmonic constants using both the Least Squares and Admiralty methods to obtain FormZahl numbers, 2) to determine the characteristics of sea surface elevation based on each method, and 3) to analyze the relationship between sea surface elevation and wind speed. The findings revealed that the wind in the waters surrounding Mantang Island was primarily influenced by the monsoon, blowing from the west with maximum speeds ranging from 5.70 to 8.80 m/s. Each calculation method produced varying values for sea surface elevation, including Zo, HHWL, LLWL, MHWL, and MLWL, with respective values of 11.99 m, 15.9 m, 8 m, 17.9 m, and 6 m. FormZahl number calculations yielded values of 1.25 and 1.03 using the Least Squares and Admiralty methods, respectively. Despite the differences in the results, both methods indicated a mixed semi-diurnal tidal pattern. To examine the relationship between wind and sea surface elevation, a 6th-order polynomial regression analysis was performed. The analysis revealed a weak correlation, with a coefficient of determination (R²) of 0.21 and a Root Mean Square Error (RMSE) of 0.30. These values suggest that the model’s predictions were relatively close to actual field conditions. 

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 3, No 1 (2014): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 4 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 3 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 2 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 1 (2011): Buletin Oseanografi Marina More Issue