cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 18584748     EISSN : 25490885     DOI : -
Core Subject : Education,
SAINTEK PERIKANAN (p-ISSN: 1858-4748 dan e-ISSN: 2549-0885) adalah jurnal ilmiah perikanan yang diterbitkan oleh Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Februari dan Agustus).
Arjuna Subject : -
Articles 492 Documents
KETERSEDIAAN AREA KERJA PADA EKS-KAPAL CANTRANG UNTUK MENGOPERASIKAN JARING INSANG OSEANIK (The Availability of working areas on the Ex-Cantrang Vessels to operate the Oceanic Gills Net) Muhammad Najib Islam; Yopi Novita; Budhi Hascaryo Iskandar
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 1 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.16.1.1-7

Abstract

Pelarangan cantrang menyebabkan kapal-kapal yang selama ini mengoperasikan cantrang harus melakukan penggantian alat penangkapan ikan. Alat penangkapan ikan pengganti yang dominan dipilih oleh para pemilik eks-kapal cantrang adalah jaring insang oseanik. Penggantian cantrang dengan jaring insang oseanik pada eks-kapal cantrang dikhawatirkan akan berdampak terhadap keselamatan kerja nelayan di laut. Salah satu faktor yang mempengaruhi keselamatan kerja nelayan di laut adalah ketersediaan area kerja di atas dek. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketersediaan area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada kapal jaring insang oseanik dan menilai kesesuaian area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada eks-kapal cantrang. Analisis data menggunakan metode deskriptif komparatif dan numerik komparatif antara area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada eks-kapal cantrang dan kapal jaring insang oseanik. Parameter yang dibandingkan adalah ketersediaan area kerja di atas dek dan area kerja bagi setiap ABK saat mengoperasikan jaring insang oseanik, baik pada tahapan setting, hauling, maupun handling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada kapal jaring insang oseanik sebesar 33,27 – 35,77 m2 saat setting, 43,20 – 45,55 m2 saat hauling, dan 14,93 – 15,70 m2 saat handling. Ketersediaan area kerja bagi ABK untuk mengoperasikan jaring insang oseanik pada pada kapal jaring insang oseanik untuk tahapan setting sebesar 1,79 – 1,89 m2/orang, untuk tahapan hauling sebesar 1,18 – 1,23 m2/orang, dan untuk tahapan handling sebesar 1,44 – 1,51 m2/orang. Ketersediaan area kerja pada eks-kapal cantrang mencukupi untuk mengoperasikan jaring insang oseanik, kecuali eks-kapal cantrang yang memiliki bangunan tambahan pada area dek kerja utama.  Prohibition of cantrang causes the vessels operate cantrang should do a replacement fishing gear. Replacement fishing gear chosen by the owners of the vessels is oceanic gill nets. The replacement of cantrang to the oceanic gill nets on ex-cantrang vessels feared would affect the safety of fishermen at sea. One of the factors that affect the safety of fishermen at sea is the availability of working areas on deck. This research aimed to identify  the availability of working areas to operate oceanic gill nets on the oceanic gill nets vessels and assess the suitability of working areas on ex-cantrang vessels to operate oceanic gill nets. Data analysis used the comparative descriptive and numerical comparisons methods between the working areas of ex-cantrang vessels and oceanic gill nets vessels. Parameters compared was the availability of a working areas on deck  and working areas for crews when operating oceanic gill nets, both when setting, hauling, and handling catches. The results showed that the the availability of a working areas to operate an oceanic gill nets on the oceanic gill nets vessels is 33.27 - 35.77 m2 during setting, 43.04 - 43.55 m2 during hauling, and 14.93 - 15,70 m2 during handling.  The availability of a working areas for crew members to operate oceanic gill nets while setting was 1.79 – 1.89 m2/person, when hauling was 1.18 – 1.23 m2/person, and when handling was 1.44 – 1.51 m2/person. The availability of working areas on the ex-cantrang vessels is sufficient to operate oceanic gill nets, except for the the ex-cantrang vessels that has additional buildings on the main working deck area.
FAKTOR BIOKONSENTRASI PESTISIDA ORGANOKLORIN (ALDRIN, DIELDRIN DAN LINDANE) DALAM JARINGAN LUNAK KERANG DARAH (Anadara granosa Linn.) Haeruddin Haeruddin; Arif Rahman; Diah Ayuningrum
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 1 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.606 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.16.1.45-50

Abstract

Kerang darah merupakan salah satu jenis kekerangan yang bernilai ekonomis penting.  Habitat kerang darah yang mengandung pestisida organoklorin dapat menurunkan nilai ekonomis kerang, dikarenakan pestisida organoklorin dapat terakumulasi dalam jaringan lunak kerang, sehingga tidak aman untuk dikonsumsi. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan potensi biokonsentrasi pestisida organoklorin dalam jaringan lunak kerang darah ditilik dari faktor biokonsentrasi pestisida tersebut.  Penelitian dilakukan dengan memelihara kerang darah dalam sedimen yang mengandung pestisida pada beberapa akuarium. Sedimen diambil dari Muara Sungai Wakak-Plumbon, Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pestisida organoklorin mampu terakumulasi dalam jaringan lunak dengan faktor biokonsentrasi yang berbeda untuk masing-masing jenis pestisida organoklorin.  Faktor biokonsentrasi pestisida organoklorin tertinggi pada pestisida lindane.  Faktor biokonsentrasi pestisida terendah adalah aldrin. Blood clams are one type of clams which have important economic value. Habitat of blood clams mostly contain organochlorine pesticides which then reduce their economic value.  The organochlorine pesticides can accumulate in the blood clams soft tissue, making it unsafe to consume. This research was conducted to determine the accumulation potential of organochlorine pesticides in the soft tissue of blood clams from the bioconcentration factor of these pesticides. The study was conducted by maintaining blood shells in sediments containing pesticides in several aquariums. Sediments were taken from the Wakak-Plumbon River Estuary, Central Java. The results showed that organochlorine pesticides were able to accumulate in soft tissues with different bioconcentration factors for each type of organochlorine pesticide. The highest biochemical concentration of organochlorine pesticides is in lindane pesticides. The lowest bioconcentration factor of pesticides is Aldrin.
MAKANAN IKAN KAKATUA (Scarus rivulatus Valenciennes, 1840) DI PERAIRAN TANJUNG TIRAM, KECAMATAN MORAMO UTARA, KABUPATEN KONAWE SELATAN SULAWESI TENGGARA Asriyana Asriyana; La Asrin; Halili Halili; Nur Irawati
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 1 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.526 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.16.1.8-14

Abstract

Pengetahuan tentang makanan dan tingkat pemanfaatan makanan ikan kakatua penting untuk memahami peranan ekologi ikan kakatua dalam menjaga kelangsungan dan keseimbangan kondisi terumbu karang agar tetap baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makanan ikan kakatua di perairan Tanjung Tiram, Sulawesi Tenggara. Pengambilan contoh dilakukan sekali sebulan selama empat bulan dari bulan Januari sampai April 2018, dengan bottom experimental gillnets berukuran mata jaring 1¼, 1½,  dan 2 inci. Makanan dianalisis menggunakan indeks kepenuhan lambung, indeks bagian terbesar, luas relung, dan tumpang tindih relung. Jumlah ikan yang terkumpul sebanyak 358 ekor, dengan kisaran panjang total sekitar 69,0-195mm dan bobot 4,96-159,86 g. Ditemukan 6 macam organisme makanan dalam saluran pencernaan ikan kakatua. Menu makanan didominasi oleh kelompok alga hijau spesies Ulva lactuca dan Caulerpa racemosa. Tidak terdapat perbedaan komposisi jenis makanan ikan kakatua baik antar jenis kelamin maupun waktu pengamatan. Dalam memanfaatkan sumber daya makanan di perairan, ikan kakatua tidak selektif yang terindikasi dari nilai luas relung yang rendah. Peluang kompetisi intraspesifik terhadap makanan tertinggi saat bulan Januari hingga April. Knowledge of food habit and the level of utilization of rivulated parrotfish are important to understanding the role of parrotfish ecology in maintaining the continuity and balance of coral reef conditions to remain good. This study aims to analyze the food habit of rivulated parrotfish in the waters of Tanjung Tiram, Southeast Sulawesi.Sampling was done monthly from January to April 2018, with bottom experimental gillnets with mesh size 1 ¼, and 1 ½ inches. The food habits was analyzed using index of fullness, index of preponderance,niche breadth, and niche overlapping. There were 358 fish with total length and weight ranged from 69.0-195.0 mm and 4.96-159.86 g respectively. There were six grouped of food organisms in the digestive tract of rivulated parrotfish. Important diet of rivulated parrotfish is green algae, Ulva lactuca and Caulerpa racemosa species.This study concludes that sex and temporal variations of food composition do not differ significantly.In utilizing food resources in the waters, rivulated parrotfishis not selective which is indicated by a low value of niche breadth. The highest intraspecific competition for food is from January to April.
POTENSI EPIBIOTIK CAMPURAN EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia) DAN TEMULAWAK (Curcuma zanthorrhiza) PADA PAKAN UNTUK MENGATASI INFEKSI Aeromonas hydrophila PADA IKAN LELE (Clarias gariepinus) Sarjito - Sarjito; Slamet Budi Prayitno; Nida Qolbi Salma Rochani; Alfabetian Harjuno Condro Haditomo; Rosa Amalia; Desrina Desrina
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 1 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.814 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.16.1.51-58

Abstract

Salah satu permasalahan pada budidaya ikan lele adalah Aeromonasis yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila. Berbagai upaya pencegahan dan pengobatan telah dilakukan dengan menggunakan bahan kimia maupun herbal. Bahan herbal, berupa epibiotik (tunggal maupun campuran) digunakan oleh pembudidaya untuk pencegahan dan pengobatan penyakit ini, karena mudah diperoleh, murah dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan campuran epibiotik, ekstrak daun binahong dan temulawak pada pakan terhadap profil darah dan kelulushidupan ikan lele yang diinfeksi A. hydrophila. Metoda yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (6 perlakuan dan 3 ulangan). Seratus delapan puluh ikan lele uji dengan panjang 7-9 cm yang dipelihara pada akuarium berisi air 10 L.  Dosis campuran epibiotik, esktrak daun binahong dan temulawak menggunakan perbandingan untuk perlakuan A (0%:0%), B (100%:0%), C (75%:25%), D (50%:50%), E (25%:75%) dan F (0%:100%) dengan dosis dasar 2500 ppm untuk ekstrak daun binahong dan 900 ppm untuk temulawak. Campuran epibiotik tersebut ditambahkan pada pakan komersil sebagai pakan uji dengan metode spray. Pakan uji diberikan selama 14 hari, kemudian pada hari kelimabelas ikan uji diinjeksi A. hydrophila secara intramuscular dengan konsentrasi 106 CFU/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis ikan lele yang terinfeksi A. hydrophila adalah nafsu makan rendah, bercak merah, luka, haemorhagi serta warna tubuh memucat.  Penambahan campuran epiobiotik ekstrak daun binahong dan temulawak berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap profil darah dan kelulushidupan ikan uji pasca perlakuan dan pasca infeksi. Campuran epibiotik D mampu melawan infeksi A.hydrophilla pada C. gariepinus dengan tingkat kelulushidupan tertinggi (90±17%). One of the problems in catfish culture was aeromonasis that was caused by Aeromonas hydrophila. The prevention and threatment of this disease have been carried out with using chemichal substance and an epibiotics from eco-friendly herbal plant extracts. Epibiotics, such as binahong leaves and curcuma extracts had been applicated by farmers to threat this disease because of it’s cheap and easy to get it. The aims of this study was to evaluate the effect of mixture binahong leaves and curcuma extracts in feed on blood profile and survival rate of catfish infected A. hydrophila. The method of research used was Completely Randomized Design, consisted of 6 treatments and 3 replications. The catfish used was 180 fishes with length of 7-9 cm that were cultured in aquarium with 10L waters. The basic dosage of binahong leaves and curcuma extracts used was 2500 ppm and 900 ppm with the ratio of treatment A (0%:0%), B (100%:0%), C (75%:25%), D (50%:50%), E (25%:75%), and F (0%:100%). The mix extract was added to the commercial feed as a feed test with spray methods. The treatment feed was given for 14 days and on the next day was done infected A. hydrophila intramusculary with density of 106 CFU/mL. The result showed that catfish infected A. hydrophila had low appetite, redness, ulcer, and hemorhagic, pale body. Feeding with the treatment feed showed the significant result on catfish’s blood profile and survival rate post-treatments and post-infection  (p<0.05). Treatment D showed the best result on survival rate (90±17%).
ANALISIS KANDUNGAN FITOKIMIA PADA BERBAGAI JENIS MAKROALGA DI PANTAI JUNGWOK, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA (Analysis of Phytochemical Contents in Various Types of Macroalgae at Jungwok Beach, Gunungkidul District, Yogyakarta) Heny Budi Setyorini; Ernastin Maria
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 1 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.482 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.16.1.15-21

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia pada berbagai jenis makroalga di Pantai Jungwok, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan di Pantai Jungwok, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Materi penelitian ini adalah makroalga (Ulva sp., Gracillaria sp., dan Boergesenia sp). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan sampel makroalga menggunakan purposive sampling. Lokasi pengambilan sampel makroalga berada di bagian timur, tengah dan barat Pantai Jungwok. Analisis skrining fitokimia dilakukan dengan uji kualitatif. Analisis skrining alkaloid menggunakan metode Culvenor Fitzgerald, sedangkan untuk steroid dan terpenoid menggunakan metode Liebermann-Buchard Test, pada fraksi air yang terbentuk dilanjutkan dengan uji flavonoid, fenolik dan safonin. Hasil penelitian menunjukan bahwa sampel segar makroalga jenis Gracilaria sp., yang berada di bagian tengah Pantai Jungwok paling banyak mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid dan flavonoid. The objective of this research was to identify the content of phytochemical in various types of macroalgae at Jungwok Beach, Gunungkidul District, Yogyakarta. This research was conducted at Jungwok Beach, Gunungkidul District, Yogyakarta. The material of this research were macroalgae (Ulva sp., Gracillaria sp., and Boergesenia sp.). This method of research used survey with a qualitative approach. The technique of collecting data was done through purposive sampling. The macroalgae samples were collected from the eastern, central and western part of Jungwok Beach. The phytochemical tests were carried out using qualitative test. Alkaloid screening analysis using the Culvenor Fitzgerald method, while for steroids and terpenoids using the Liberman Buchard Test method, the formed water fraction is followed by flavonoid, phenolic and safonin tests. The results showed that fresh sample of the macroalgae type Gracilaria sp., which is located in the middle of Jungwok Beach, contains the most bioactive compounds such as alkaloids, terpenoids and flavonoids.
ANALISIS KESESUAIAN PERMINTAAN WISATA DAN PENAWARAN OBJEK WISATA DI TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU (KASUS DI PULAU PRAMUKA), JAKARTA. Agustina Risqiani; Djoko Suprapto; Frida Purwanti
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 1 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.686 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.16.1.72-78

Abstract

Pulau Pramuka sebagai zona pemukiman di Taman Nasional Kepulauan Seribu memiliki keindahan alam yang potensial untuk pengembangan wisata bahari. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi potensi lokal dan menganalisis kesesuaian antara permintaan (demand) wisata dengan penawaran (supply) potensi wisata lokal di Pulau Pramuka. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2019. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis supply-demand. Hasil penelitian menunjukkan potensi wisata yang dimiliki Pulau Pramuka meliputi atraksi wisata alam dan buatan, kuliner dan souvenir khas, aksesibilitas dan transportasi yang mudah, fasilitas lengkap, serta adanya peran dari pemerintah dan masyarat dalam pengembangan pariwisata. Permintaan wisata dengan potensi wisata terjadi ketidaksesuaian disebabkan oleh kurangnya penambahan hewan di penangkaran, penambahan atraksi wisata air dan area bermain bagi wisatawan, tidak tersedianya wisata pada malam hari, peningkatan kenyamanan transportasi, wifi corner, spot foto, kebersihan dan jumlah fasilitas wisata serta kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan daerah wisata Pulau Pramuka. Pulau Pramuka as a zone of housing site in a national park of Kepulauan Seribu having a natural beauty whose potential for the development of maritime tourism. The research objective to identify local potential and analyze the suitability of tourist demand with the supply of local tourism potential on Pulau Pramuka. The research was conducted in February 2019. The data analysis method used in this study was supply-demand analysis. The results showed that the tourism potential of Pulau Pramuka included natural and artificial tourist attractions, unique culinary and souvenirs, accessibility and easy transportation, complete facilities, and the role of the government and society in tourism development. Tourism demand with potential tourism occur some problems due to lack of development of animals in captivity, addition of water tourism and play areas for tourists, unavailability of tourism at night, increased transportation convenience, wifi corner, photo spots, cleanliness and the number of tourist facilities and community awareness in maintain the environment of the Pulau Pramuka tourism area.
PENGGUNAAN HIGH POWER LED (HPL) PADA PERIKANAN BAGAN APUNG DI SELAT MADURA (The Use Of High Power LED (HPL) Lamp On The Lift Net Fishing In The Madura Strait) Hairul Umam; Gondo Puspito; Wazir Mawardi
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 2 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.16.2.79-85

Abstract

Cahaya merupakan alat bantu utama pada perikanan bagan apung dan berfungsi sebagai pengumpul ikan. Sumber cahayanya sangat beragam, mulai dari petromaks, lampu pijar, lampu neon dan mercury. Nelayan terpaksa mulai meninggalkan pengunaan keempat lampu karena bahan bakar sebagai sumber energinya sangat mahal. Jenis sumber cahaya yang sangat berpeluang besar dikembangkan adalah lampu LED, karena lebih hemat energi, ramah lingkungan dan tahan lama. Uji coba lampu LED jenis HPL pernah dilakukan pada perikanan bagan tancap. Hasilnya membuktikan bahwa bagan yang mengoperasikan lampu HPL mendapatkan berat tangkapan 2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bagan nelayan yang menggunakan lampu neon. Penelitian dilakukan untuk memperbaiki konstruksi penelitian sebelumnya agar pancaran cahayanya semakin luas. Selanjutnya, berat hasil tangkapan bagan apung yang mengoperasikan lampu berbeda dibandingkan. Tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa penggunaan lampu konstruksi baru dapat meningkatkan berat hasil tangkapan bagan, tanpa mengurangi komposisi jenisnya. Hasilnya adalah berat total hasil tangkapan bagan yang mengoperasikan lampu dengan konstruksi baru mencapai 1494 kg yang didominasi oleh hasil tangkapan utama seberat 847 kg dan sampingan 647 kg, atau lebih tinggi dibandingkan hasil tangkapan total lampu konstruksi lama 788 kg  (433 kg; 355 kg). Komposisi jenis hasil tangkapan kedua lampu terdiri atas delapan jenis organisme yang sama, yaitu teri putih (Stolephorus buccaneeri), teri jengki, teri hitam, teri paku (Stolephorus indicus), cumi-cumi (Loligo sp.), pepetek (Leiognathus sp.), selar kuning (Selaroides leptolepis) dan tembang (Sardinella fimbriata).  Light is the main fish aggregat device on the lift net fishing as fish collector. The source of light is various, i.e. petromaks, fluorescent lamp, neon lamp, and mercury. The fisherman is forced to abandon the use of the lamps because the fuel cost is high. The kind of light sources that have big opportunity to be developed is LED because it is lower energy, enviromentally friendly, and durable. The trials of HPL lamp had been carried out on the lift net fishing. The result showed that the weight of fish catches on the lift net with HPL lamp was higher twice than lift net with neon lamp. The research handled to fix the contruction on the previous research was carried out to make the emission of the light widen. Then, the weight of fish catches on the lift net with different lamp could be compared. This research aimed to prove the use of lamp with new contruction could increase the weight of fish catches on the lift net without decreasing the species composition. The result showed the weight of fish catches on the lift net with new contruction was 1494 kg that was dominated by main catch 847 kg and by catch 647 kg or more than the total weight of the HPL-S lamp 788 kg (433 kg; 355 kg). the species composition of both of the lamp were 8 species, i.e, white ancovy, jengki ancovy, black ancovy, paku anchovy, squid, ponyfish, yellowtripe scad, fringescale sardinella.
ANALISA PERFORMA GAYA APUNG, GAYA TENGGELAM, DAN KECEPATAN TENGGELAM PURSE SEINE CAKALANG KM BINTANG SURYA (Analysis of Buoyancy, Sinking Force and Sinking Speed of the Skipjack Purse Seines Bintang Surya) Herry Boesono; Kukuh Eko Prihantoko; Rifky Pramadya
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 15, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3710.881 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.15.2.154-157

Abstract

Pukat cincin yang beroperasi di samudera memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan jenis alat tangkap lainnya. Ukuran purse seine disesuaikan dengan wilayah pengoperasian dan target tangkapan alat tangkap ini. Bahan dan konstruksi sangat mempengaruhi keberhasilan alat tangkap ini dalam melakukan operasi penangkapan. Perhitungan teknis konstruksi diperlukan untuk mendapatkan konstruksi alat tangkap yang efektif dan efisien dalam melakukan operasi penangkapan. Penelitian ini menggunakan alat tangkap purse seine cakalang. Metode penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan rumus Fridman. Tipe purse seine pada alat tangkap ini merupakan tipe purse seine persegi empat dengan panjang purse seine cakalang sebesar 806,4 meter, kedalaman purse seine sebesar 142,8 meter, dan berat purse seine di udara sebesar 9818,68 kg. Nilai gaya apung didapatkan sebesar 4608,69 kgf, nilai gaya tenggelam didapatkan besar 2562,63 kgf dan nilai rasio antara gaya apung dan gaya tenggelam sebesar 1,80. Rasio gaya apung dan gaya tenggelam ideal adalah 1,5-2,0. Nilai rata-rata kecepatan tenggelam di kedalaman 50 meter sebesar 0,27 m/s. Nilai rata-rata kecepatan tenggelam di kedalaman 100 meter sebesar 0,13 m/s. Kecepatan tenggelam bagian purse seine mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kedalaman perairan. Waktu tenggelam penuh yang dibutuhkan bagian pada purse seine cakalang sebesar 14 menit 07 detik. Kecepatan kapal yang baik untuk melakukan setting alat tangkap ini adalah 3,5-6,0 knot. Purse seine which operated in the ocean had a large size compared to another types of fishing gear. The size of the purse seine is adjusted to the fishing ground and fish target of the catch. Material and construction greatly affect the success of this fishing gear in fishing operations. Technical calculation of construction is needed to get effective and efficient fishing gear construction when conducting fishing operations. This study uses skipjack tuna purse seine. This research method uses quantitative descriptive analysis method using purse seine physics equation approach by Fridman (1985). The length of skipjack tuna purse seine is 806.4 meters with the depth of purse seine is 9142,8 meters, and the weight of purse seine in the air is 9818.68 kg. The value of buoyancy force was obtained at 4608.69 kgf, the value of sinking force was 2562.63 kgf and the value of the ratio between buoyancy force and sinking force was 1.80. The best ratio of buoyancy force and sinking force is 1.5-2.0. The value of average sinking speed at a depth of 50 meters is 0,27 m/s, and at a depth of 100 is 0.13 m/s. Singkings speed of purse seine has decreasing value following by increasing water depth. The full sinking time required for the skipjack purse seine is 14 minutes 07 seconds. The best speed for setting this fishing gear is 3.5-6.0 knots.
NITROGEN CONCENTRATION IN CORAL REEF: THE CONTRIBUTION OF CORAL FORMS AND NITROGEN FIXING BACTERIA IN KARIMUNJAWA ISLANDS Suryanti Suryanti; Supriharyono Supriharyono; Sigit Febrianto; Muslidin Aini
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 2 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.601 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.16.2.86-89

Abstract

Coral is an ecosystem in the coastal area which plays an important role in controlling nutrient cycle in the sea. This research aimed to study the the nitrogen concentration in coral and to analyze the influence of nitrogen fixing bacteria on the concentration of nitrogen in coral. The research was carried out by field observation, by taking coral reef samples and analyzed in the laboratory for its nitrogen concentration and number of nitrogen fixing bacteria. Data analysis was carried out by ANOVA and regression. The analysis resulted that there was a significant difference of nitrogen concentration in massive and branching corals. However, there is no significant correlation between the sampling location and types of coral on the density of nitrogen fixing bacteria, both Nitrosomonas sp. and Nitrobacter sp. Regression analysis showed that the concentration of nitrogen in coral tissue was not significantly related to the density of nitrogen fixing bacteria. The result of this research implies that the concentration of nitrogen in the coral tissue may be affected by many other factors.
RESPON PERTUMBUHAN IKAN BAWAL (Colossoma macropomum) YANG DIBERI PAKAN TEPUNG LEMNA (Lemna minor) HASIL FERMENTASI (Growth Respons Of Pomfret Fish (Colossoma macropomum) Fed by Fermented Lemna (Lemna minor) Powder) Numisye Iske Mose; Yessi Ayu Putri Manganang
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 1 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.62 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.16.1.59-62

Abstract

Dalam pemanfaatan Lemna minor sebagai bahan baku pakan ikan terkendala dengan nilai kasarnya yang tinggi sehingga menghambat pencernaan dan penyerapan nutrisi dalam saluran pencernaan ikan. Teknologi tepat guna yang dapat mengatasi masalah tersebut adalah fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung lemna fermentasi terhadap pertumbuhan dan rasio konversi pakan ikan bawal. Ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan bawal berukuran 3-5 cm dipelihara selama 35 hari dan diberikan pakan secara at satiation sebanyak dua kali sehari. Perlakuan lemna fermentasi diberikan pada 4 dosis yaitu (0, 10, 20, 30)%/kg pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan lemna fermentasi 20% dapat meningkatkan pertumbuhan ikan bawal, namun  pada penambahan lemna fermentasi 30% pertumbuhan ikan bawal cenderung turun. Kesimpulan yang ditarik dari penelitian ini adalah dosis lemna fermentasi 20% merupakan dosis terbaik secara deskriptif dengan nilai laju pertumbuhan spesifik 3,7%/hari, rasio konversi pakan 19,14 dan sintasan hidup 100%. Using Lemna minor as fish feed ingredients constrained by its crude fiber which inhibits the digestive and absorption abilities in the fish digestive systems. The appropriate technology that could overcome this problem is fermentation. The aim of this study was to evaluate fermented lemna supplemented in artificial feed on the growth rate and conversion feed ratio of pomfret fish. Experimental fish used was pomfret fish at the initial size of 3-5 cm and was reared for 35 days and fish were fed twice a day at satiation. The study consists of four dosage (0,10,20,30)%/kg of artificial feed. The results of this study indicates a supplementation of fermented lemna 20% could increase growth performances of pomfret fish although on supplementation of fermented lemna 30% growth performances had a lower growth. The conclusions are supplementation fermented lemna 20% is the best descriptive dosage with a growth specific rate 3,7%/days, feed conversion ratio 19,14 and survival rate 100% of pomfret fish..

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 4 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 21, No 3 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 21, No 2 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 21, No 1 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 4 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 3 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 2 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 1 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 4 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 3 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 2 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 1 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 4 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 3 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 2 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 1 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 4 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 3 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 2 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 1 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 4 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 3 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 2 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 1 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 15, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN Vol 15, No 1 (2019): SAINTEK PERIKANAN Vol 14, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN Vol 14, No 1 (2018): SAINTEK PERIKANAN Vol 13, No 2 (2018): SAINTEK PERIKANAN Vol 13, No 1 (2017): SAINTEK PERIKANAN Vol 12, No 2 (2017): SAINTEK PERIKANAN Vol 12, No 1 (2016): SAINTEK PERIKANAN Vol 11, No 2 (2016): SAINTEK PERIKANAN Vol 11, No 1 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 10, No 2 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 10, No 1 (2014): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 9, No 2 (2014): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 9, No 1 (2013): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 8, No 2 (2013): Jurnal Saintek Perikanan Vol 8, No 1 (2012): Jurnal Saintek Perikanan Vol 7, No 1 (2011): Jurnal Saintek Perikanan Vol 6, No 2 (2011): Jurnal Saintek Perikanan Vol 6, No 1 (2010): Jurnal Saintek Perikanan Vol 5, No 2 (2010): Jurnal Saintek Perikanan Vol 5, No 1 (2009): Jurnal Saintek Perikanan Vol 4, No 2 (2009): Jurnal Saintek Perikanan Vol 4, No 1 (2008): Jurnal Saintek Perikanan Vol 3, No 2 (2008): Jurnal Saintek Perikanan Vol 2, No 1 (2006): Jurnal Saintek Perikanan More Issue