cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 18584748     EISSN : 25490885     DOI : -
Core Subject : Education,
SAINTEK PERIKANAN (p-ISSN: 1858-4748 dan e-ISSN: 2549-0885) adalah jurnal ilmiah perikanan yang diterbitkan oleh Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Februari dan Agustus).
Arjuna Subject : -
Articles 492 Documents
SHARK SPECIES COMPOSITION AND DISTRIBUTION OF FISHING GROUND BASED ON FISHING GEAR IN CILACAP OCEAN FISHERY PORT Novianto, Dian; Widiarto, Santoso Budi; Muslim, Anhar; Aji, Miftah Wahyu Purnomo; Prakoso, Kukuh
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 20, No 4 (2024): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.20.4.197-206

Abstract

This study focuses on shark species composition, fishing techniques, and geographical distribution in the South Java Waters of Cilacap Ocean Fishing Port (COFP) during 2023. From the data collected, 18 shark species from 8 families were landed, with Alopias superciliosus as the dominant species (29%), followed by Carcharhinus falciformis (25%), and Alopias pelagicus (18%). Shark fishing was conducted with various gears such as tuna longline, drift longline, longline, drift gillnet, and bottom gillnet, with drift longline being the most effective gear with the largest contribution to the catch. Most of the sharks caught were categorized as endangered (EN) and vulnerable (VU) based on the IUCN conservation list, and listed in Appendix II of CITES. The results show that the geographic distribution of shark fishing grounds covers a wide area from the coast to the Indian Ocean, with high concentrations in the waters around Kebumen to the south of Yogyakarta. Fishing activities often overlap between fishing gears, increasing the risk of overfishing. Length distributions and maturity rates of sharks also indicate that many mating-ready adults are being caught, threatening slow population regeneration. To ensure the sustainability of shark populations and maintain the balance of marine ecosystems, a holistic and data-driven management strategy is needed. This includes strengthening regulations, raising public awareness through conservation education, and developing collaborative approaches involving fishers, government, and conservation organizations. Consistent law enforcement is also key in minimizing violations and ensuring the sustainability of shark fisheries in Indonesia.
FORTIFIKASI OPAK SINGKONG DENGAN RUMPUT LAUT Gracilaria sp. SEBAGAI SUMBER IODIUM Ramadhan, Kurnia Fajar; Husni, Amir
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 19, No 1 (2023): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.19.1.23-28

Abstract

Gracilaria sp. merupakan jenis rumput laut merah yang kaya akan kandungan iodium. Pemanfaatan Gracilaria sp. bisa diolah menjadi bubuk yang dapat difortifikasikan pada beberapa makanan. Inovasi penambahan bubuk Gracilaria sp. pada opak singkong dapat dilakukan sebagai salah satu alternatif makanan untuk mencukupi kadar iodium bagi tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh fortifikasi rumput laut Gracilaria sp. terhadap karakteristik mutu opak singkong dan tingkat penerimaan konsumen terhadap opak singkong dengan fortifikasi Gracilaria sp. Penelitian dilakukan dengan membuat opak singkong dengan pencampuran bubuk Gracilaria sp. (0%; 2,5%; 5%; 7,5%; dan 10%) (b/b). Opak singkong dibuat untuk diuji kadar iodium, uji kerenyahan, uji daya kembang, uji kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat dan uji hedonik. Fortifikasi Gracilaria sp. pada opak dapat meningkatkan kadar iodium, menurunkan tingkat kerenyahan dan daya kembang opak, serta meningkatkan kadar air, kadar abu, dan kadar protein serta menurunkan kadar lemak dan karbohidrat dari opak singkong. Gracilaria sp. is a type of red seaweed that is rich in iodine content. Iodine is one type of essential mineral needed for the body which if in a state of deficiency will result in various kinds of health problems. Utilization of Gracilaria sp. can be processed into a powder that can be fortified in some foods. The innovation of adding Gracilaria sp powder. in cassava opaque can be done as an alternative food to meet the levels of iodine for the body. The purpose of this study was to determine the effect of fortification of Gracilaria sp. on the quality characteristics of cassava opaque and the level of consumer acceptance of cassava opaque with fortification of Gracilaria sp. The research was conducted by making cassava opaque by mixing powdered Gracilaria sp. (0%; 2.5%; 5%; 7.5%; and 10%) (w/w). Cassava opaque was made to be tested for iodine content, crunch test, swellability test, water content test, ash content, fat content, protein content, carbohydrate content and hedonic test. Fortification of Gracilaria sp. in opaque can increase iodine content, reduce the level of crispness and opacity of opaque, and increase water content, ash content, and protein content and reduce fat and carbohydrate content of opaque.
PERFORMA INDUK UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) HASIL PEMULIAAN DENGAN SELEKSI FAMILI Wardhana, R.A Media Graha Siswi
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 20, No 1 (2024): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.20.1.47-51

Abstract

Semakin berkembangnya budidaya udang vaname membuat permintaan akan benih yang berkualitas juga semakin meningkat hal ini dikarenakan kualitas benih memegang peranan penting pada tingkat pembesaran. Salah satu kendala dalam kegiatan pembenihan adalah kurangnya produksi nauplius akibat kurangnya stok induk yang berkualitas. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui performa reproduksi induk udang vaname hasil pemuliaan dengan seleksi famili. Observasi performa induk dilakukan selama 3 tahun berturut-turut pasca 3 bulan induk betina diablasi dengan durasi pengambilan data setiap tahunnya masing-masing selama tujuh hari berturut-turut. Hasil observasi tahun 2019, 2020 dan 2021 menunjukkan prosentase induk matang gonad 10,57±2,27; 10,59±2,58; 11,00±5,71. Prosentase induk mating 50,20±34,19; 52,05±10,22; 45,00±35,72. Rata-rata produksi telur 243.565±57.030; 162.632±37.446; 153.478±50.604. Rata-rata produksi nauplius 139.945±55.963; 103.310±43.656; 99.000±41.325. Hatching rate 65,73±32,68; 66,00±26,00; 66,00±33,00. Rata-rata setiap tahun terjadi peningkatan induk betina matang gonad sebesar 2,03% dan hatching rate sebesar 0,21%. Namun, setiap tahun terjadi penurunan juga pada beberapa parameter lainnya, yaitu induk mating sebesar 4,9%, rata-rata produksi telur 19,43% dan rata-rata produksi nauplius 15,18%.
PERUBAHAN KUALITAS FISIK DAN KIMIA DAGING IKAN KARPER (Cyprinus carpio) AKIBAT TREATMENT KEJUT LISTRIK VOLTASE TINGGI Anggo, Apri Dwi; Suharto, Slamet; Riyadi, Putut Har
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 19, No 1 (2023): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.19.1.40-46

Abstract

Kandungan nutrisi daging ikan karper (Cyprinus carpio) membuatnya mudah mengalami kerusakan. Berbagai upaya untuk mempertahankan kualitas daging ikan dan mempunyai masa simpan yang lebih lama telah dilakukan diantaranya dengan metode nonthermal seperti penggunaan kejut listrik voltase tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh pemberian kejut listrik voltase tinggi terhadap perubahan sifat fisik dan kimia daging ikan karper. Alat utama yang digunakan adalah seperangkat alat kejut listrik voltase tinggi dan materi yang diamati adalah daging ikan karper. Metode penelitian bersifat eksperimental laboratoris menggunakan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diberikan adalah perbedaan kekuatan voltase listrik yaitu 30 kV, 60 kV, dan 90 kV dan tanpa perlakuan kejut listrik. Parameter yang diamati berupa kandungan TVB-N, aw, storage loss, water holding capacity (WHC) serta perubahan warna daging ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging yang diberikan perlakuan kejut listrik voltase tinggi mempunyai perbedaan nyata antara kontrol dengan perlakuan terhadap kualitas daging pada parameter TVB-N, WHC dan whiteness serta nilai L* (lightness) pada indikator warna, sedangkan parameter Aw, storage loss dan nilai a* dan nilai b* pada indikator warna, tidak terjadi perbedaan nyata antara kontrol maupun antar perlakuan. Nilai TVB-N dan nilai L* (lightness) semakin rendah sedangkan nilai storage loss, WHC dan indikator whiteness semakin tinggi seiring dengan kenaikan voltase kejut listrik. Dalam penelitian ini, perlakuan dengan kejut listrik voltase tinggi bisa mempengaruhi kualitas fisik dan kimiawi daging ikan karper dengan voltase 60 kV paling banyak memberikan perubahan pada kualitas daging ikan karper. The nutritional content in the carp meat makes the meat easier to spoil. Various methods to maintain the quality of fish meat and to have a longer shelf life have been carried out, including non-thermal methods such as the use of high-voltage electric shocks. The purpose of this study was to examine the effect of high-voltage electric shock on changes in the physical and chemical properties of carp meat. The main equipment used is a set of high-voltage electric shocks and the material being observed is carp fish. The research method is an experimental laboratory using a research design that is a completely randomized design (CRD). The treatment was the difference in electric voltage strength of 30 kV, 60 kV, and 90 kV and untreated with electric shock. The parameters determined are TVB-N, aw, Storage loss, water holding capacity (WHC) and changes in the color of fish flesh. The results showed that the meat that was given high-voltage electric shock treatment had a significant difference between the control and the treatment of meat quality on the TVBN, WHC and whiteness parameters as well as the L* (lightness) value on the color indicator, while the parameters Aw, storage loss and the a* and b* values in color indicators did not show a significant difference between the control and between treatments. The TVB-N and L* (lightness) values are getting lower while the storage loss, WHC and whiteness indicators are getting higher along with the increase in the electric shock voltage. In this study, treatment with high-voltage electric shock could affect the physical and chemical quality of carp meat with a voltage of 60 kV giving the most changes to the quality of carp meat.
HASIL TANGKAPAN KEPITING BAKAU Scylla serrata (Forskal, 1775) BERDASARKAN JENIS UMPAN DAN WAKTU PENANGKAPAN DI PERAIRAN TELUK BINTUNI Kantun, I Wayan; Darius, Darius
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 19, No 1 (2023): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.19.1.1-7

Abstract

Kepiting bakau merupakan komoditas perikanan yang bernilai ekonomis tinggi dan dimanfaatkan secara intensif untuk memenuhi permintaan konsumen. Upaya untuk memenuhi kebutuhan konsumen, dilakukan pemanfaatan dengan beragam metode penangkapan untuk memperoleh hasil tangkapan kepiting bakau. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan dan waktu penangkapan. Penelitian di laksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2018 diperairan Distrik Babo Teluk Bintuni. Penelitian  menggunakan metode penangkapan percobaan dengan umpan sirip hiu dan ikan sembilang serta waktu penangkapan pagi dan malam hari. Hasil penelitian menunjukkan hasil tangkapan berjumlah 180 ekor dengan 98 ekor (54,44%) ditangkap menggunakan umpan ikan sembilang dan 82 ekor (45,56%) memakai umpan ikan hiu. Hasil tangkapan kepiting bakau berdasarkan waktu penangkapan malam dan pagi hari masing-masing 107 ekor (59,44% ) dan 73 ekor (40,56%). Sebaran ukuran lebar karapas berkisar 60-197 mm (132,34 ± 38,51 mm) dan bobot berkisar 286,34-989,42 g (684,79 ± 207,78 g). Sebaran ukuran lebar karapas dengan umpan ikan sembilang berkisar 60-197 mm (128,45 ± 36,76) dan bobot berkisar 286,34-983,75 g (662,93 ± 198,35 g), umpan ikan hiu berkisar 60-197 mm (136,99 ± 40,23 mm) dan bobot berkisar 286,34-989,42 g (710,93 ± 216,84 g). Sebaran ukuran lebar karapas yang ditangkap pagi hari berkisar 65-197 mm (130,29 ± 37,67) dengan bobot berkisar 2309,02-983,75 g (671,23 ± 201,87 g), waktu malam hari berkisar 60-197 mm (133,74 ± 39,19 mm) dan bobot berkisar 286,34-989,42 g (694,05 ± 212,15 g). Hasil tangkapan kepiting bakau dengan sebaran ukuran lebar karapas dan bobot terbesar tertangkap dengan umpan ikan hiu dan ditangkap pada malam hari. Kepiting bakau dominan tertangkap dengan menggunakan umpan ikan hiu dan hasil tangkapan terbanyak diperoleh  pada malam hari. Mud crab is a fishery commodity that has high economic value and is used intensively to meet consumer demand. Efforts to meet consumer needs are carried out using various fishing methods to obtain mud crab catches. This study aims to analyze the comparison of catches based on the type of bait and fishing time. The research was carried out from March to May 2018 in the waters of the Babo District, Bintuni Bay. The study used experimental fishing methods with shark and sembilang bait as well as fishing time in the morning and night day. The results showed that the catch amounted to 180 individu with 98 individu (54,44%) caught using sembilang fish bait and 82 individu (45,56%) using shark bait. The catch of mud crabs based on the time of fishing at night and morning was 107 individu (59,44%) and 73 individu (40,56%) respectively. The size distribution of carapace width ranged from 60-197 mm (132,34 ± 38,51 mm) and weight ranged from 286,34-989,42 g (684,79 ± 207,78 g). The size distribution of carapace width with sembilang fish bait ranged from 60-197 mm (128,45 ± 36,76) and weight ranged from 286,34-983,75 g (662,93 ± 198,35 g), shark bait ranged from 60- 197 mm (136,99 ± 40,23 mm) and the weight ranged from 286,34 to 989,42 g (710,93 ± 216,84 g). The size distribution of carapace width caught in the morning ranged from 65-197 mm (130,29 ± 37,67) with a weight ranging from 2309,02-983,75 g (671,23 ± 201,87 g), at night it was 60- 197 mm (133,74 ± 39,19 mm) and weight ranged from 286,34 to 989,42 g (694,05 ± 212,15 g). The dominant mud crabs are caught using shark bait and the highest catches are obtained at night
KARAKTERISTIK IKAN TERI NASI (Stolephorus spp) ASIN GORENG SIAP MAKAN DENGAN PERLAKUAN PERENDAMAN DALAM AIR PANAS SEBELUM PENGGORENGAN Fahmi, A Suhaeli; Susanto, Eko; Sumardianto, Sumardianto
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 19, No 1 (2023): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.19.1.47-53

Abstract

Ikan teri nasi asin selain menjadi bagian dari lauk dalam makanan utama juga dapat menjadi makanan ringan siap makan dalam bentuk ikan teri nasi asin goreng. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik produk ikan teri nasi asin goreng yang sebelum proses penggorengan melalui perlakuan perendaman dalam air panas. Penelitian ini dilaksanakan dengan dua perlakuan percobaan yaitu perlakuan perendaman dalam air panas dan perlakuan tanpa perendaman dalam air panas. Ikan teri nasi asin yang digunakan adalah ikan teri nasi asin setengah kering yang dibeli di pasar. Perendaman dalam air panas dilakukan selama 3 menit kemudian ikan teri nasi ditiriskan dan digoreng dengan minyak goreng kelapa sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman dalam air panas menghasilkan karakteristik produk yang berbeda. Secara sensori panelis lebih menyukai produk ikan teri nasi asin goreng yang diberi perlakuan perendaman dalam air panas karena rasa produk yang tidak terlalu asin. Hasil tersebut juga didukung hasil uji kadar garam yang menunjukkan bahwa kadar garam ikan teri nasi goreng dengan perlakuan perendaman adalah 10,33% sementara ikan teri nasi tanpa perlakuan perendaman 22,71%. Sejalan dengan hasil uji kadar garam, uji kadar abu juga menunjukkan bahwa kadar abu ikan teri nasi asin goreng dengan perlakuan perendaman lebih rendah yaitu 14,56%, sedangkan tanpa perlakuan perendaman kadar abu ikan teri asin goreng adalah 28,98%. Kadar air, kadar protein, kadar lemak, dan nilai Aw ikan teri nasi asin goreng dengan perlakuan perendaman yaitu 2,42%, 36,70%, 41,84%, dan 0,54, sementara ikan teri nasi asin goreng tanpa perlakuan perendaman yaitu 2,08%, 27,13%, 40,88%, dan 0,50. Dried salted anchovy ussually served as a part of main meal or as ready-to-eat snack in the form of fried salted anchovy. This study aims to determine the effects of soaking in hot water before the frying to the characteristics of fried anchovy. This experimental research was carried out with two experimental treatments, namely soaking3 minutes in hot water and without soaking in hot water. Each experiment was tested in three replications. Frying process of salted anchovy wass carried out using palm cooking oil. The characteristics of the product were assessed by sensory test, proximate test, salt content test and lisin level test. The results showed that the soaking treatment in hot water gave different characteristics to the resulting fried anchovy product where panelists preferred the fried salted anchovy product which was soaked in hot water before being fried because of the taste of the fried anchovy was not too salty. This result was related with the salt content test. The salt content of dried salted anchovy with soaking treatment was 10.33% while without soaking treatment reached 22.71%. The ash content test results also showed that the ash content of the fried  salted anchovy through the soaking treatment was lower, 14.56%, while without the soaking treatment, the ash content of the anchovies was 28.98%. Water content, protein content, fat content and water activity of fried anchovy with soaking treatment were 2.42%, 36.70%, 41.84%, and 0,54, while fried anchovy without soaking treatment were 2.08 %, 27.13%, 40.88%, and 0,50
ANALISIS PERBANDINGAN MODEL KURVA PERTUMBUHAN (DUA GALUR MURNI DAN PERSILANGAN) CALON INDUK UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) Jacinda, Adinda Kinasih; Anang, Asep; Yustiati, Ayi
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 19, No 1 (2023): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.19.1.8-14

Abstract

Dirjen KKP mulai memberlakukan larangan penggunaan induk asal tambak sejak bulan Mei 2019 dan mewajibkan menggunakan indukan yang berasal dari breeding program. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kurva pertumbuhan, mendapatkan model matematika yang paling tepat untuk menduga dan menggambarkan pertumbuhan calon induk udang vaname dan hasil persilangannya sehingga didapat hasil calon induk udang terbaik. Adapun model yang digunakan model Richards, MMF, Gompertz, Logistik dan Von Bertalanffy. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus yang dianalisis secara deskriptif dengan objek penelitian yaitu udang vaname Galur G Jantan, Galur G Betina, Galur R Jantan, Galur R Betina, Hybrid GR Jantan, Hybrid GR Betina, Hybrid RG Jantan dan Hybrid RG Betina. Variabel yang diamati pada objek penelitian adalah bobot badan selama 201 hari. Data dianalisis menggunakan SAS, dibuat grafik serta kurva pertumbuhan, dilihat nilai koefisien korelasi (r) dan galat baku (Se) serta nilai heterosisnya. Hasil yang diperoleh yaitu (1) bentuk kurva pertumbuhan berbentuk sigmoid, dengan titik infleksi pada minggu ke 14, (2) model matematika kurva pertumbuhan terbaik adalah model Richards dan MMF dengan nilai koefisien korelasi yang tinggi (0,997-0,999) serta galat baru (standar error) yang rendah (±0,76 hingga ±1,18), (3) heterosis efek terbaik merupakan hasil persilangan jantan Galur G dan betina Galur R dengan presentase nilai heterosis untuk karakter bobot yaitu 17,24% dan 17,58%. The Director General of KKP has started to enforce a ban on the use of broodstock from ponds since May 2019 and requires the use of broodstock from breeding programs. This study aims to determine the shape of the growth curve, obtain the most appropriate mathematical model to predict and describe the growth of prospective vannamei shrimp broodstock and the results of their crosses so that the best prospective shrimp broodstock results are obtained. The model used is the Richards, MMF, Gompertz, Logistics and Von Bertalanffy models. The research method used was the case study method which was analyzed descriptively with the research objects namely vaname shrimp Male G Line, Female G Line, Male R Line, Female R Line, Male GR Hybrid, Female GR Hybrid, Male RG Hybrid and Female RG Hybrid. The variable observed in the research object was body weight for 201 days. The data were analyzed using SAS, graphs and growth curves were made, the correlation coefficient (r) and standard error (Se) were seen and the heterosis value. The results obtained are (1) the shape of the growth curve is sigmoid, with an inflection point at week 14, (2) the best growth curve mathematical model is the Richards and MMF model with a high correlation coefficient value (0.997-0.999) and a new error (standard error) is low (±0.76 to ±1.18), (3) the best heterosis effect is the result of crosses of male G lines and R female lines with the percentage of heterosis values for character weights, namely 17.24% and 17.58%.
PENYIMPANAN MINYAK IKAN TUNA (Thunnus sp.) DENGAN PENAMBAHAN ANTIOKSIDAN DALAM KEMASAN BOTOL KACA Hanifah, Nur Inda Annisa'ul; Suseno, Sugeng Heri; Jacoeb, Agoes Mardiono
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 20, No 2 (2024): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.20.2.91-100

Abstract

Ikan Tuna merupakan jenis pelagis besar, industry pengolahan ikan tuna menghasilkan produk samping, salah satunya minyak ikan. Minyak ikan kaya akan PUFA (EPA dan DHA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil asam lemak, kandungan logam berat, kejernihan, dan nilai oksidasi minyak ikan tuna mentah, menentukan campuran minyak ikan tuna murni dengan penambahan nilai antioksidan dan mengetahui pengaruh pengemasan botol kaca selama penyimpanan. Penelitian ini dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah karakterisasi minyak ikan tuna mentah dan pemurnian menggunakan metode degumming dan bleaching. Tahap kedua adalah penambahan antioksidan alfa-tokoferol (0,4%; 0,6%; 0,8%), minyak zaitun (5%, 15%, 25%, 35%, 45%), minyak dedak padi (5%, 15 %, 25%, 35%, 45%), kemudian diuji menggunakan metode real-time pada suhu kamar. Perlakuan terbaik pada minyak ikan tuna tahap kedua disimpan dalam berbagai botol kaca dengan metode schaal oven test selama 12 hari. Hasil kandungan asam lemak tertinggi pada minyak ikan tuna mentah, minyak zaitun, dan minyak dedak padi berturut-turut adalah DHA, asam oleat, dan asam oleat. Residu logam berat merkuri memenuhi standar SNI, tingkat kejernihan lebih dari 70%, dan nilai parameter oksidasi memenuhi standar IFOS. Perlakuan terbaik minyak ikan tuna murni selama penyimpanan menggunakan metode real-time pada suhu kamar yang memenuhi standar IFOS adalah campuran 0,6% α -tokoferol. Perlakuan terbaik minyak ikan dalam kemasan botol kaca dengan metode schaal oven test yang memenuhi standar IFOS adalah botol kaca warna coklat.  
PENGARUH MODIFIKASI METODE MASERASI TERHADAP KUALITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK FIKOSIANIN DARI SPIRULINA (Spirulina sp.) Nur, Musriah
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 20, No 1 (2024): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.20.1.35-40

Abstract

Spirulina sp. merupakan mikroalga yang mempunyai pigmen fikosianin dengan kandungan antioksidan tinggi. Jumlah senyawa bioaktif pada fikosianin dipengaruhi oleh proses ekstraksi. Modifikasi metode maserasi dilakukan untuk memperoleh ekstrak yang besar dengan waktu yang singkat. Metode penelitian yang digunakan experimental laboratories menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan (A) maserasi dengan magnetic stirrer 2 jam, (B) maserasi dengan magnetic stirrer 2 jam dilanjutkan ultrasonikasi dan (C) maserasi dingin 24 jam dilanjutkan ultrasonikasi, masing-masing perlakuan 3 kali ulangan percobaan. Analisis data yaitu analisis sidik ragam dan analisis lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dengan modifikasi ekstraksi fikosianin terbaik. Proses penelitian meliputi ekstraksi yang dimodifikasi, pemurnian (pengendapan ammonium sulfat), pengujian rendemen, kadar, kemurnian, total fenol dan aktivitas antioksidan (DPPH). Perlakuan terbaik dalam memperoleh aktivitas antioksidan tertinggi yaitu modifikasi maserasi dengan magnetic stirrer 2 jam dilanjutkan ultrasonikasi menghasilkan rendemen 4,12 ± 0,065 %, kadar fikosianin 0,206 ± 0,003 mg/mL, tingkat kemurnian 1,8 ± 0,005, total fenol 3,9 ± 0,032mg/mL dan akttivitas antioksidan persen inhibisi 43,19 ± 0,521.
PENGARUH pH, SUHU DAN JENIS SUBSTRAT TERHADAP AKTIVITAS KITINASE Bacillus sp. RNT9 Pamungkas, Satrio Adil; Puspita, Indun Dewi; Ustadi, Ustadi
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 19, No 1 (2023): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.19.1.29-39

Abstract

Limbah perikanan yang berasal dari udang, kepiting, dan kerang, umumnya mengandung kitin yang merupakan suatu polisakarida. Kitin memiliki struktur polimer linier yang terdiri dari monomer β-1,4-N-asetil-D-glukosamin, dan memiliki banyak manfaat dalam bentuk produk turunannya. Produk turunan kitin, seperti glukosamin dan N-Asetilglukosamin, memiliki nilai ekonomi yang tinggi sebagai bahan baku alternatif di berbagai industri seperti farmasi dan pangan. Proses degradasi kitin menjadi senyawa tersebut dapat dilakukan melalui reaksi enzimatis dengan bantuan enzim kitinase yang diproduksi oleh bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pH (6, 7 dan 8), suhu (30ºC, 35ºC dan 40ºC) dan jenis substrat (koloidal kitin, kitin serbuk dan tepung cangkang udang) terhadap aktivitas kitinase Bacillus sp. RNT9. Parameter yang diuji adalah aktivitas kitinase (U/mL) dan kadar N-Asetilglukosamin (NAG) medium (ppm). Kedua parameter ini diukur secara kuantitatif dengan metode kolorimetri. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi terbaik untuk menghasilkan aktivitas kitinase pada Bacillus sp. RNT9 adalah dengan medium pH 8, suhu inkubasi 35ºC dan jenis substrat kitin koloidal. Aktivitas kitinase tertinggi yang diproduksi Bacillus sp. RNT9 berturut-turut sebesar 0,0008 U/mL pada perlakuan pH 8 pada hari ke-2 fermentasi, 0,0013 U/mL yang diperoleh pada perlakuan suhu 35ºC hari untuk ke-4 dan 0,0010 U/mL yang diperoleh pada perlakuan jenis substrat koloidal kitin untuk hari ke-2 fermentasi. Konsentrasi NAG mencapai nilai tertinggi pada optimasi pH 8 untuk hari ke-2 fermentasi sebesar 9,5968 ppm. Pada optimasi suhu 35ºC untuk hari ke-4 fermentasi sebesar 32,387 ppm serta pada perlakuan optimasi jenis substrat koloidal kitin untuk hari ke-4 fermentasi sebesar 26,031 ppm. Fishery waste originating from shrimp, crabs and clams, generally contains chitin which is a polysaccharide. Chitin has a linear polymer structure consisting of β-1,4-N-acetyl-D-glucosamine monomers, and has many benefits in the form of its derivative products. Chitin derivative products, such as glucosamine and N-acetylglucosamine, have high economic value as alternative raw materials in various industries such as pharmaceuticals and food. The process of degradation of chitin into these compounds can be carried out through enzymatic reactions with the help of chitinase enzymes produced by bacteria. This study aims to determine the effect of pH (6, 7 and 8), temperature (30ºC, 35ºC and 40ºC) and type of substrate (colloidal chitin, chitin powder and shrimp shell flour) on the chitinase activity of Bacillus sp. RNT9. The parameters tested were chitinase activity (U/mL) and medium N-Acetylglucosamine (NAG) levels (ppm). Both of these parameters were measured quantitatively by the colorimetric method. The results showed that the best conditions for producing chitinase activity in Bacillus sp. RNT9 is with a medium of pH 8, incubation temperature of 35ºC and the type of substrate is colloidal chitin. The highest chitinase activity produced by Bacillus sp. RNT9 was 0,0008 U/mL, respectively, at pH 8 treatment on the 2nd day of fermentation, 0,0013 U/mL obtained at 35ºC temperature treatment for the 4th day and 0,0010 U/mL obtained at treatment type of chitin colloidal substrate for the 2nd day of fermentation. The concentration of NAG reached the highest value at the optimization of pH 8 for the 2nd day of fermentation of 9,5968 ppm. At the optimization temperature of 35ºC for the 4th day of fermentation it was 32,387 ppm and at the optimization treatment of chitin colloidal substrate for the 4th day of fermentation it was 26,031 ppm.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 4 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 21, No 3 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 21, No 2 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 21, No 1 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 4 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 3 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 2 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 1 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 4 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 3 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 2 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 1 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 4 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 3 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 2 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 1 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 4 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 3 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 2 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 1 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 4 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 3 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 2 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 1 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 15, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN Vol 15, No 1 (2019): SAINTEK PERIKANAN Vol 14, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN Vol 14, No 1 (2018): SAINTEK PERIKANAN Vol 13, No 2 (2018): SAINTEK PERIKANAN Vol 13, No 1 (2017): SAINTEK PERIKANAN Vol 12, No 2 (2017): SAINTEK PERIKANAN Vol 12, No 1 (2016): SAINTEK PERIKANAN Vol 11, No 2 (2016): SAINTEK PERIKANAN Vol 11, No 1 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 10, No 2 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 10, No 1 (2014): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 9, No 2 (2014): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 9, No 1 (2013): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 8, No 2 (2013): Jurnal Saintek Perikanan Vol 8, No 1 (2012): Jurnal Saintek Perikanan Vol 7, No 1 (2011): Jurnal Saintek Perikanan Vol 6, No 2 (2011): Jurnal Saintek Perikanan Vol 6, No 1 (2010): Jurnal Saintek Perikanan Vol 5, No 2 (2010): Jurnal Saintek Perikanan Vol 5, No 1 (2009): Jurnal Saintek Perikanan Vol 4, No 2 (2009): Jurnal Saintek Perikanan Vol 4, No 1 (2008): Jurnal Saintek Perikanan Vol 3, No 2 (2008): Jurnal Saintek Perikanan Vol 2, No 1 (2006): Jurnal Saintek Perikanan More Issue