cover
Contact Name
Tety Elida
Contact Email
tety@staff.gunadarma.ac.id
Phone
+62823311136669
Journal Mail Official
jpp@gunadarma.ac.id
Editorial Address
Jalan Margonda Raya 100, Depok 16424, Jawa Barat
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL PERTANIAN PRESISI (JOURNAL OF PRECISION AGRICULTURE)
Published by Universitas Gunadarma
ISSN : 25976087     EISSN : 26864703     DOI : http://dx.doi.org/10.35760/jpp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Pertanian Presisi (JPP) merupakan media untuk publikasi tulisan asli dalam Bahasa Indonesia yang berkaitan dengan informasi dan teknologi yang berkaitan dengan pertanian presisi pada flora, baik dalam kajian teknik budidaya tanaman (pembenihan sampai pascapanen), fisiologi tanaman, serta terapan teknologi informasi dan komputer dalam pertanian.
Articles 125 Documents
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI CABAI MERAH KERITING PADA PENGAPLIKASIAN PGPR MELALUI PENERAPAN CITRA TERMAL UNTUK MENDETEKSI PENYAKIT LAYU FUSARIUM Arifah, Dina Amaliatul; Budiman, Budiman; Risnawati, Risnawati
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2025.v9i1.11831

Abstract

Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Teknologi pertanian 4.0 mulai digunakan untuk pengembangan metode deteksi dini penyakit tanaman, salah satunya penyakit layu fusarium yang bisa di deteksi menggunakan kamera termal. Pengendalian penyakit layu Fusarium dalam penelitian ini menggunakan formulasi PGPR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan PGPR dalam menekan penyakit layu fusarium terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai merah keriting serta mengetahui potensi kamera termal dalam mendeteksi penyakit layu fusarium. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak faktor tunggal, yaitu pemberian PGPR dengan taraf yaitu P0 (dosis 0 ml), P1 (dosis 100 ml) dan P2 (dosis 200 ml). Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian PGPR tidak berpengaruh nyata terhadap komponen pertumbuhan yaitu tinggi tanaman dan jumlah daun, serta komponen produksi yaitu umur berbunga, jumlah buah, umur panen dan bobot buah. Namun, PGPR dapat mengurangi insidensi penyakit (P1, 40.74%) dan menekan keparahan penyakit (P2, 37.03%). Perlakuan yang mengalami penurunan jumlah daun tertinggi akibat penyakit layu fusarium adalah P0 dengan rataan akhir jumlah daun 390 helai. Kamera termal dapat mendeteksi suhu tanaman dan objek yang dideteksi dengan jelas sehingga dapat diketahui perbedaan suhu antar perlakuan yang menunjukan tingkat infeksi penyakit pada tanaman.
KEMAMPUAN RECOVERY PERTUMBUHAN KLON TEBU TERCEKAM KEKERINGAN MELALUI BIOPRIMING TRICHODERMA sp Indra Yama, Danie; Muliani, Muliani; Ali, Muhammad
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2025.v9i1.12362

Abstract

Pertumbuhan tanaman salah satunya dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu cekaman kekeringan. Pertunasan tanaman tebu pada lahan gambut sering kali mengalami cekaman kekeringan karena gambut memiliki sifat yang rendah dalam menyimpan air selain itu tebu juga memiliki perakaran yang dangkal sehingga akar kesulitan dalam menjangkau air. Oleh karena itu pertumbuhan awal (vegetatif) tanaman tebu akan terhambat apabila pada fase pertunasan mengalami kekeringan, sehingga perlu recovery agar pertumbuhannya optimal. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh dan menentukan durasi biopriming Trichoderma spp dalam recovery pertumbuhan klon tebu cekaman kekeringan. Penelitian dilakukan di lahan percobaan serta Green House Politeknik Negeri Pontianak yang disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 5 perlakuan sebanyak 6 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu durasi biopriming (T0: Kontrol, T1: 6 jam, T2: 12 jam, T3: 18 jam, T4: 24 jam). Penelitian ini diawali dengan perbanyakan Trichoderma sp, dilanjutkan pertunasan kemudian penanaman dalam polybag. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah anakan dan pengamatan lingkungan. Hasil pengamatan dianalisis menggunakan ANOVA, apabila terdapat pengaruh nyata maka diuji lanjut dengan Uji Jarak Berganda Duncan taraf 5%. Perlakuan biopriming Trichoderma spp berpengaruh terhadap tinggi tanaman klon tebu dalam recovery pertumbuhan setelah mengalami cekaman kekeringan. Durasi biopriming Trichoderma spp selama 24 jam (P4) merupakan durasi yang sesuai untuk meningkatkan tinggi tanaman klon tebu dalam recovery pertumbuhan setelah mengalami cekaman kekeringan
SEBARAN SPASIAL TINGKAT KESESUAIAN LAHAN TANAMAN PANGAN PADA BEBERAPA SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) DI KAWASAN TELUK TOMINI KABUPATEN BOALEMO Nurdin, Nurdin; Rahman, Rival; Apriliani, Silvana
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2025.v9i1.12652

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sebaran spasial tingkat kesesuaian lahan tanaman pangan pada Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) di kawasan Teluk Tomini Kabupaten Boalemo. Data dianalisis dengan teknik  pemadanan antara karakteristik dan kualitas lahan dengan kriteria kesesuaian lahan tanaman pangan berdasarkan kerangka kerja FAO serta menggunakan software ArcGis dengan metode maching. Hasil analisis menunjukkan kesesuaian lahan potensial komoditas pangan masing -masing untuk padi sawah kelas S2 (cukup sesuai) seluas 2,368.16 ha (14.37%) dan kelas S3 seluas 14,114.03 (85.63%), jagung kelas S2 seluas 10,338.40 (62%) dan kelas S3  seluas 6,143.80 ha (37.28%), kedelai kelas S2 seluas 13,712.13 (83.19%) dan kelas S3 seluas 2,770.07 ha (16.81%). Ubi kayu kelas S2 (cukup sesuai) seluas 3,901.42 ha (23.67%), kelas S3 seluas 2,532.34 ha (15.36%) dan kelas N seluas 10,048.44 (60.97%). Hasil analisis menyimpulkan bahwa setiap komoditas tanaman pangan di wilayah penelitian didominasi oleh kelas (S3) 85.63% untuk padi sawah,  kedelai cukup sesuai (S2) 83.19%, jagung cukup sesuai (S2) 62%, serta kelas tidak sesuai (N) 60.97% untuk komoditas ubi kayu. Sebaran pengembangan komoditas tanaman pangan di wilayah penelitian paling luas diarahkan untuk komoditas jagung dan kedelai dengan luas  54.17%, kedelai seluas 20.95%, jagung kedelai dan ubi kayu 20.07%, kedelai dan ubi 1.97% serta jagung 0.38%.
PENGARUH JENIS DAN INTERVAL WAKTU PEMBERIAN NUTRISI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KAILAN PADA SISTEM HIDROPONIK RAKIT APUNG Safitri, Bunga; Pribadi, Edi Minaji; Kurniasih, Ratih; Lestari, Shyntiya Ayu
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2025.v9i1.12913

Abstract

Kailan merupakan jenis sayuran yang kaya vitamin dan mineral. Sistem hidroponik rakit apung adalah teknik budidaya modern dengan akar tanaman terendam dalam larutan nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh interval waktu pemberian dan jenis nutrisi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kailan pada sistem hidroponik rakit apung. Desain penelitian menggunakan Rаncаngаn Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan dua faktor yaitu jenis nutrisi (AB Mix racikan/N1, Goodplant/N2 dan AHL/N3) dan interval waktu pemberian nutrisi (5 hari sekali/I1 dan 10 hari sekali/I2) dengan 6 ulangan. Parameter yang diukur meliputi tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), luas daun (cm2), diameter batang (mm), panjang akar (cm), bobot basah tajuk (g), bobot basah akar (g), bobot basah total (g), bobot kering tajuk (g), bobot kering akar (g) dan bobot kering total (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jenis nutrisi berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot segar total, bobot segar tajuk, bobot segar akar, bobot kering total, bobot kering tajuk dan bobot kering akar. Namun interval waktu pemberian nutrisi tidak berpengaruh nyata dan tidak ada interaksi antara jenis nutrisi dan interval waktu pemberian terhadap pertumbuhan dan produksi kailan sistem rakit apung.
PERBEDAAN INTENSITAS NAUNGAN DAN VARIETAS TERHADAP SERANGAN HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN STROBERI (Fragaria L) Istianah, Istianah; Kalsum, Ummu; Ramdan, Evan Purnama; Warip, Warip
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2025.v9i1.13037

Abstract

Pengembangan stroberi di dataran rendah Indonesia masih terbatas, tetapi bisa menjadi peluang untuk memperluas area budidaya stroberi. Budidaya stroberi di dataran rendah akan menghadapi tantangan baru, terutama serangan hama dan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan intensitas naungan dan varietas terhadap serangan hama dan penyakit tanaman stroberi di dataran rendah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) Tersarang dengan dua faktor. Faktor utama terdiri atas empat taraf yaitu kontrol (P3), naungan 55% (P1), naungan 65% (P2), dan naungan 75% (P4). Faktor tersarang terdiri atas tiga varietas stroberi, yaitu varietas California (R1), varietas Mencir (R2), dan varietas Sweet Charlie (R3). Dengan demikian, terdapat 12 kombinasi perlakuan dengan 4 ulangan, masing-masing ulangan terdiri atas 3 sampel tanaman sehingga diperoleh total 144 tanaman. Hasil menunjukkan bahwa hama yang menyerang tanaman stroberi meliputi ulat grayak, ulat penggulung daun, belalang, kutu putih, sedangkan penyakit yang menyerang meliputi embun tepung, dan busuk buah. Naungan 75% meningkatkan kerusakan daun tertinggi akibat hama pada kontrol sebesar 8.2%, varietas Mencir lebih rentan akibat kerusakan buah dibanding Sweet Charlie sebesar 0.14%. Terdapat korelasi positif antara intensitas cahaya dan suhu udara terhadap intensitas serangan hama dan penyakit, namun kelembaban udara menunjukkan korelasi negatif dengan serangan hama dan penyakit.

Page 13 of 13 | Total Record : 125