Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Identifikasi Dan Uji Virulensi Penyakit Antraknosa Pada Pascapanen Buah Cabai Ramdan, Evan Purnama; Arti, Inti Mulyo; Risnawati, Risnawati
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Pertanian Presisi
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2019.v3i1.1859

Abstract

Postharvest handling is a crucial factor for maintaining food loss caused by decreasing postharvest products. Anthracnose is an important disease in postharvest chili, so this study aims to identify and test the level of virulence from anthracnose in postharvest chili. The chili fruit samples in this study were taken from Pal Depok market which were then isolated to obtain pathogenic fungi isolates. The pathogens that were successfully isolated were then purified to be morphologically characterized from both morphology and conidia. After the pathogen has been identified then the level of virulence of the pathogen is calculated by calculating the lesions that arise due to pathogenic infections in apples. The results of the identification showed that the causes of anthracnose in chili fruit were C. acutatum and C. gloeosporioides. Although, the two fungi had a low virulence level, C. gloeosporioides had the ability to cause larger lesions (0.9333 cm) compared to C. acutatum (0.8667 cm).
FITOTOKSISITAS EKSTRAK METANOL MIMBA PADA FREKUENSI APLIKASI BERULANG TERHADAP BEBERAPA TANAMAN HIDROPONIK Risnawati, Risnawati; Ramdan, Evan Purnama; Kanny, Putri Irene
UG Journal Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bercocok tanam secara hidroponik merupakan salah satu teknik yang dapat dilakukan bagi masyarakat terutama masyarakat urban farming. Budidaya hidroponik tersebut dilakukan guna memenuhi kebutuhan pokok, terutama komoditi sayuran. Namun salah satu permasalahan serangan serangga hama tidak bisa dihindari tanpa upaya pengendalian. Pemanfaatan tumbuhan berkhasiat insektisida botani dapat dilakukan sebagai alternative pengendalian yang ramah lingkungan. Memanfaatkan biji Mimba asal Situbondo, Jawa Tmur, yang sudah diketahui aktif terhadap beberapa jenis serangga hama. Penggunaan tersebut mengatasi dampak penggunaan insektisida sintetik. Namun keamanan ekstrak biji mimba pada tanaman sayuran hidroponik perlu dilakukan uji. Metode uji menggunakan metode semprot pada konsentrasi 0.5%. Perlakuan penyemprotan ekstrak dilakukan sebanyak 1 dan 2 kali . Selang waktu penyemprotan pertama ke penyemprotan kedua selama sehari untuk perlakuan penyemprotan 2 kali, sedangkan untuk perlakuan penyemprotan satu kali hanya disemprot sebanyak satu kali. Tanaman yang dikendalikan yaitu tomat, pakchoi dan bayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya pada tanaman pakchoy ditemukan gejala nekrosik sebesar 2% pada frekuensi aplikasi satu kali penyemprotan, sedangkan pada tanaman sawi dan tomat baik pada penyemprotan satu dan dua kali tidak ditemukan gejala nekrotik. Ekstrak biji mimba aman terhadap tanaman pakcoy, bayam dan tomat. Akan tetapi perlu dilakukan uji residu guna mengetahui persistensi atau ketanahan bahan aktif di jaringan tanaman tersebut.
Evaluasi Viabilitas dan Patogen Terbawa Benih Jagung pada Perlakuan Fisik dan Kimia Ramdan, Evan Purnama; Arti, Inti Mulyo; Risnawati, Risnawati
Berkala Penelitian Agronomi Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/bpa.v8i2.14900

Abstract

Benih merupakan salah satu bahan tanam penting dalam teknologi produksi pertanian.Oleh karena itu kualitas benih secara genetik, fisiologik, dan fisik perlu diperhatikan secara seksama. Kualitas benih dapat dilihat dari viabilitas benih untuk tumbuh normal menjadi individu tanaman baru. Penelitian bertujuan mengevaluasi viabilitas dan patogen yang menginfeksi benih jagung dengan perlakuan fisik dan kimia. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap non faktorial yang terdiri dari 10 perlakuan meliputi 1) perlakuan fisik dengan cara dipanaskan dengan pada suhu 40 oC microwave selama 10, 20, 30, 40 detik dan tanpa pemanasan sebagai kontrol, 2) perlakuan kimia dengan cara perendaman benih pada fungisida berbahan aktif difenokonazol selama 15 menit pada konsentrasi 0,5%, 1%, 2%, 3%, dan perendaman dengan aquades sebagai kontrol. Benih yang telah diberi perlakuan ditanam menggunakan teknik growing on test. Kemudian diinkubasi selama satu minggu. Daya kecambah dan pertumbuhan patogen diamati pada akhir inkubasi. Patogen yang menginfeksi kemudian diidentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan fisik menunjukkan viabilitas benih paling baik (100%) dibandingkan perlakuan kimia. Pengaruh perlakuan kimia difenokonazol dengan konsentrasi 3% menurunkan daya infeksi patogen tular benih sebesar 82% dibandingkan dengan kontrol. Patogen yang teridentifikasi terbawa benih jagung yaitu Aspergillus sp., Fusarium sp. dan Rhizofus sp. Kata Kunci : Aspergillus, Fusarium, mutu benih, perlakuan benih, Rhizofus sp.
Potensi Cendawan Endofit sebagai Pengendali Hayati Penyakit Busuk Pangkal Batang (Phytophthora capsici) pada Bibit Cabai Evan Purnama Ramdan; Efi Toding Tondok; Suryo Wiyono; Sri Hendrastuti Hidayat; Widodo Widodo
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 13 No. 5 (2017)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.297 KB) | DOI: 10.14692/jfi.13.5.161

Abstract

Stem rot disease caused by Phytophthora capsici is an important disease on chilli. Eight endophytic fungi that had been isolated and screened based on pathogenecity test were further tested for their potential as the biological control agent of the stem rot disease of chilli. The endophytic fungi suspension was applied twice during the trial. The first application was on 100 seed lot, by soaking them in 100 mL of suspension. The second application was on the 3 weeks-old chili seedlings by drenching them with 10 mL suspension per plant. The concentration of endophytic fungi  in the suspension was 2.8 × 106 cfu mL-1. The disease intensity and AUDPC value were measured for 4 weeks after the pathogen inoculation. The growth inhibition test of P. capsici  was performed in vitro and the colonization abilities of endophytic fungi were observed at 4 weeks-old chilli seedlings. Eight endophytic fungi  inhibited the growth of the P. capsici, and two of those isolates namely Penicillium strain MAG1 and Penicillium strain PAB2 showed antibiosis mechanism. Endophytic fungi has the ability more to colonize at the root (26–60%) than in the stem (20–40%). Fusarium strain MAGR1 has the highest level of endophytic colonization i.e. 60% compared to others.  Based on in vivo assay, six endophytic fungi isolates, i.e. Fusarium strain MAGR1, Penicillium strain MAG1, Penicillium strain PAB2, sterile hyphae HAJ1, sterile hyphae HAJ2, and  sterile hyphae PBG7, showed the potency to control stem rot disease with inhibition level of 25.5–35.5%
Penekanan Pertumbuhan Colletotrichum sp. Penyebab Penyakit Antraknosa Oleh Beberapa Agens Hayati Pada Skala In Vitro Evan Purnama Ramdan; Risnawati Risnawati; Putri Irene Kanny; Moh Ega Elman Miska; Shyntiya Ayu Lestari
AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian Vol 24, No 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/agrium.v24i2.8061

Abstract

Penyakit antraknosa merupakan salah satu penyakit utama cabai, dengan kehilangan hasil yang ditumbulkan dapat mencapai 50-100%. Salah satu alternatif pengendalian yaitu penggunaan agens hayati. Beberapa agens hayati koleksi BBPOPT telah berhasil diuji penenakannya terhadap Pyricularia grisea, sehingga perlu diuji pada patogen lain. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji beberap agens hayati terhadap penekanan pertumbuhan Colletotrichum. Sejumlah 5 agens hayati (Pseudomonas fluorescens, Gliocladium sp., Paenibacillus polymyxa, Trichoderma sp., dan Bacillus subtilis) akan diuji kemampuan pertumbuhan Colletotrichum sp. Penelitian dilakukan di Laboratorium Menengah Agroteknologi, Program Studi Agroteknologi, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma, Kampus F7 Ciracas. Penelitian ini menggunakan rancangan rancangan acak lengkap. Masing-masing agens hayati ditanam pada media PDA untuk diuji antagonis dengan Coletotrichum sp secara dual culture dan diulang sebanyak 4 kali. Analisis statistik menggunakan program SAS 9.1 dengan mengolah data yang diperolah dengan ANOVA. Penelitian menunjukkan hasil bahwa dari semua agens hayati berpengaruh nyata secara statistik terhadap penekanan Colletotrichum dibandingkan dengan kontrol. Agens hayati terbaik menekan pertumbuhan Colletotrichum yaitu P. fluorescens sebesar 36.08%, kemudian diikuti oleh Trichoderma sp dengan penekanan pertumbuhan sebesar 35%. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa agens hayati yang diuji mempunyai potensi untuk mengendalian Colletotrichum.
Selection of Endophytic Bacteria from Root of Okra (Abelmoschus esculantus) as a Biocontrol of Fusarium oxysporum Evan Purnama Ramdan; Ely Lailatul Maghfiroh; Reni Rinika; Abdul Munif
Gontor AGROTECH Science Journal Vol 7, No 1 (2021): June 2021
Publisher : University of Darussalam Gontor, Ponorogo, East Java Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/agrotech.v7i1.4545

Abstract

Okra has become one of the most important vegetables in Indonesia, in which its production need to be increased. One limiting factor is the attack ofsoil-borne pathogens that are difficult to control. Therefore, new alternative controls need to be assessed. In this research, several endophytic bacteria wereisolated and tested for their potency as control of Fusarium oxysporum. Isolation of endophytic bacteria was derived from roots of okra plants which were then characterized by morphospecies and tested for their safety by haemolysis and hypersensitivity tests. A dual culture test was performed to obtain endophytic bacteria that have potential as biocontrol agents by observing formation of inhibitory zones. In addition, inhibitory properties of endophytic bacteria were also calculated. The results showed that nine isolates of endophytic bacteria were obtained from okra roots. Selection by haemolysis and hypersensitivity tests showed that there were three isolates that were biologically safe. In further testing, one of the three obtained isolates (AOB3) was considered the best in inhibit F. oxysporum growth with an efficacy of 19.3%, and form an inhibitory zone as a characteristic of antibiotic mechanism.
Inventarisasi Cendawan Terbawa Benih Padi, Kedelai, dan Cabai Evan Purnama Ramdan; Ummu Kalsum
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Pertanian Presisi Volume 1, Nomor 1, 2017
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of good quality seeds is one of important factors in success of agricultural production because it could increase production and reduced existence of disease problems in the field. The entry of seeds to a country pass through import activities has potential to become enter new pathogen medium, so it needed to detect and indentify fungi in the seeds. The aims  of this study were to inventory seed-borne fungi and its effect on seed germination potential. This research has been conducted at Education Laboratory of Protection Department, Bogor Agricultural University during five months (March until July 2013). The experiment was arranged in completely randomized one factor. The factor was pathogen infection. Each seed detected fungi existence with blotter test method and seed germination test. The result showed seed-borne fungi were Colletrotrichum sp. and Rhizopus sp in chilli seed, Curvularia sp., Aspergillus sp., and Penicillium soybean seeds, Aspergillus sp. in rice seeds. The highest seed germination percentage in soybean seeds almost 100% in both of paper methods, whereas the lowest was rice seeds. All of seed germination medium, chilli showed lowest germination percentage, i.e. 68 - 76.27% with highest fungi association of Aspergillus sp. dan Fusarium sp. up to 52%. Aspergillus sp dan Fusarium sp may caused decreasing seed viability and vigor of chilli.
APLIKASI BAKTERI PEMACU PERTUMBUHAN TANAMAN DARI BABADOTAN DAN PENGARUHNYA PADA PERKEMBANGAN BENIH CABAI Evan Purnama Ramdan; Risnawati Risnawati
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Pertanian Presisi
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2018.v2i1.2002

Abstract

Cabai adalah salah satu komoditas hortikultura yang banyak ditanam di Indonesia. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas cabai adalah dengan menggunakan mikroba yang bermanfaat, seperti pertumbuhan tanaman yang mempromosikan rhizobacteria. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman dari akar babadotan pada perkecambahan biji cabai. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial dengan 5 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah konsentrasi biakan PGPR, yang terdiri dari 4 taraf yaitu 0%, 5%, 10% dan 15%. Aplikasi PGPR dilakukan melalui perendaman biji cabai selama 12 jam. Biji yang telah dirawat dengan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman kemudian ditanam pada media tanah dan media kertas untuk mengamati gejala nekrotik, perkecambahan, panjang akar, dan panjang kanopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konsentrasi 5% menunjukkan potensi sebagai pendorong pertumbuhan biji cabai yang ditandai dengan peningkatan daya kecambah, peningkatan panjang akar dan tinggi kecambah.
SELEKSI BAKTERI RHIZOSFER TANAMAN RAMBUTAN SEBAGAI AGENS BIOKONTROL PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA CABAI (Capsicum annum L.) Ayu Nindita Nuraini; Aisyah Aisyah; Evan Purnama Ramdan
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Pertanian Presisi
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2020.v4i2.2999

Abstract

Cabai merupakan sayuran yang digemari masyarakat Indonesia. Kendala dalam budidaya cabai yaitu adanya infeksi penyakit antraknosa yang disebabkan Colletotrichum sp. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh isolat bakteri rizosfer yang dapat menekan pertumbuhan. Colletotrichum sp. Colletotrichum diisolasi dari buah cabai bergejala antraknosa, sedangkan bakteri rhizosfer diisolasi dengan teknik pengenceran dari sampel tanah di daerah perakaran tanaman rambutan. Populasi bakteri rhizosfer dihitung dan dikarakterisasi secara morfologi. Isolat bakteri rhizosfer diuji antibiosis dengan Colletotrichum dengan metoda uji dual culture, kemudian dihitung persentase daya penghambatangan. Isolat bakteri rhizosfer juga diuji potensi pemacu pertumbuhan tanaman dengan  cara merendam benih cabai pada suspensi bakteri semalaman. Selanjutnya benih cabai disemai pada baki semai. Tinggi tajuk dan panjang akar dihitung pada 14 hari setelah semai. Hasil penelitian menunjukkan bahawa Colletotrichum yang berhasil diisolasi teridentifikasi sebagai  C. acutatum, bakteri rhizobia diisolasi sebanyak 5 morfospesies dengan populasi bakteri 4.75 x 104 CFU/mL, penekanan pertumbuhan  Colletotrichum sp. oleh bakteri rhizosfer sebesar 0.31-2.02%. Selain itu bakteri rhizosfer juga memiliki potensi sebagai agens pemacu pertumbuhan tanaman.
IDENTIFIKASI VIROID PENYEBAB PENYAKIT KERDIL PADA KRISAN MENGGUNAKAN RT-PCR Ayu Nindita Nuraini; Evan Purnama Ramdan; Erniawati Diningsih
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Pertanian Presisi
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2020.v4i1.2786

Abstract

Bunga krisan merupakan tanaman hias populer di Indonesia. Saat ini telah dilaporkan 14 jenis virus yang dapat menginfeksi tanaman krisan, sehingga akan menurunkan hasil bunga krisan. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan diidentifikasi penyakit tanaman krisan yang disebabkan oleh virus dengan menggunakan teknik RT-PCR. Penelitian diawali dengan pengamatan gejala penyakit pada daun yang diindikasikan terinfeksi virus. Sampel daun bergejala kemudian diambil untuk diidentifikasi dengan teknik RT-PCR meliputi proses ekstrasi total DNA dan ampilifikasi nukleotida dengan menggunakan pasangan primer berupa primer forward (F) (5’-CAACTGAAGCTTCAACGCCTT-3’) dan primer reverse (R) (5’-AGGATTACTCCTGTCTCGCA-3’). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala yang diamati pada daun krisan adalah warna kuning pada daun dan kerdil pada tanaman krisan diduga adanya infeksi CSVd (Chrysantenum Stunt Viroid). Konfirmasi melalui teknik RT-PCR teridentifikasi bahwa gejala tersebut disebabkan oleh CSVd dengan teramplifikasinya cDNA CSVd pada ukuran 250 bp.