cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 763 Documents
PEMBERIAN MINYAK CUMI PADA PERMUKAAN AIR TERHADAP ABNORMALITAS DALAM PEMELIHARAAN LARVA IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) Eri Setiadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1786.129 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.35-47

Abstract

Pembenihan ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) di Indonesia telah berhasil dengan baik, namun masih dijumpai tingginya abnormalitas. Penelitian abnormalitas pada stadia perkembangan larva dari yolk sac sampai flexion melalui pewarnaan tulang telah dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh minyak cumi pada permukaan air terhadap abnormalitas, saat abnormal mulai muncul dan bagian tulang yang rentan terhadap abnormal serta sintasannya. Hasil penelitian dari stadia yolk sac sampai flexion menunjukkan bahwa persentase abnormalitas pada pemeliharaan dengan minyak cumi pada permukaan air lebih rendah (P<0,001) dibandingkan dengan tidak menggunakan minyak cumi pada permukaan air. Abnormal mulai terlihat pada stadia preflexion dan flexion. Tipe-tipe abnormal yang dijumpai adalah lordosis, skoliosis, khiposis, fusi, reduksi, percabangan, dan penambahan. Bagian tulang yang rentan terhadap abnormal ditemukan pada vertebrae bagian tengah (15,21%) dan hypurals (8,50%) pada pemeliharaan dengan minyak cumi, sedangkan tanpa menggunakan minyak cumi dijumpai pada dorsal proximal radials (32,50%) dan vertebrae bagian posterior (31,88%). Sintasan sebesar 7,04% (P<0,0001) dijumpai pada pemeliharaan dengan minyak cumi pada permukaan air, sedangkan tanpa minyak cumi pada permukaan air hanya 2,48%. Penggunaan minyak cumi pada permukaan air dapat menurunkan abnormalitas dan meningkatkan sintasan.The mass seedling production of humpback grouper to (Cromileptes altivelis) has largely been successful in Indonesia. However, the high rate of abnormality of seed produced is the main problem. The rate of abnormality from yolk sac to flexion stages was examined. The purpose of the study was to examine the influence of squid oil at the water surface to the abnormality and determine which part of skeleton was vulnerable to deformation using clearing and staining methods. The result had indicated that larvae reared using squid oil at the water surface showed significantly lower (P<0,001) compared to that without squid oil at the water surface in abnormality. The deformation occurred at preflexion stage in both of squid oil or without squid oil at the water surface was detected. The types of deformities encountered during larval rearing period were as follows: scoliosis, lordosis, khyposis, fusion, shortening, branching, and supernumerary elements. Based on nine of bone elements indicated that larvae reared using squid oil at the water surface showed the rate of abnormality in the middle of vertebrae (15,21%) and hypurals (8,50%) while that without squid oil at the water surface showed the rate of abnormality of the dorsal proximal radials (32,50%) and the vertebrae at the posterior region (31,88%). The survival of larvae reared using squid oil at the water surface was higher (7,04%) (P<0,0001) than without squid oil (2,48%). Squid oil addition at the water surface could reduce the abnormality and increase in the survival rate.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI PROMOTER β-ACTIN DARI IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) Alimuddin Alimuddin; Wedaraningtyas Nugrahani; Ratu Siti Aliah; Komar Sumantadinata; Irvan Faizal; Odang Carman; Goro Yoshizaki
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.021 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.2.2007.199-210

Abstract

Promoter sebagai regulator ekspresi gen merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan transgenesis.  Penelitian isolasi dan karakterisasi promoter β-actin (ktBA) dari ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) dalam rangka pembuatan ikan kerapu autotransgenik telah dilakukan. Promoter β-actin memiliki aktivitas tinggi pada jaringan otot. Sekuens promoter ktBA diisolasi menggunakan metode degenerate PCR. Sekuensing dilakukan menggunakan mesin ABI PRISM 3100. Analisis sekuens menggunakan software BLAST, GENETYX versi 7 dan TFBind. Fragment DNA hasil amplifikasi PCR yang dipotong dari vektor kloning selanjutnya diligasi dengan pEGFPN1 untuk membuat konstruksi pktBA-EGFP. Konstruksi pktBA-EGFP dimikroinjeksi ke embrio ikan zebra (Danio rerio) fase 1 sel untuk menguji aktivitas promoter ktBA. Ekspresi gen EGFP diamati menggunakan mikroskop fluoresens. Analisis sekuens menunjukkan bahwa panjang fragmen DNA hasil amplifikasi PCR sekitar 1,6 kb dan memiliki faktor transkripsi yang conserved pada promoter β-actin, yaitu CCAAT, CArG dan boks TATA. Selanjutnya, sekuens ktBA dalam konstruksi pktBA-EGFP mampu mengendalikan ekspresi gen EGFP pada jaringan otot embrio ikan zebra yang dimikroinjeksi dengan konstruksi tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fragmen DNA hasil amplifikasi PCR tersebut merupakan sekuens promoter β-actin ikan kerapu bebek. Pembuatan ikan kerapu autotransgenik selanjutnya dapat dilakukan dengan mengganti gen EGFP pada pktBA-EGFP dengan gen-gen asal ikan kerapu yang mengkodekan karakter penting dalam budi daya ikan.Promoter as gene expression regulator is one of the factors affecting the successful of transgenesis. Isolation and characterization of β -actin promoter (ktBA) from humpback grouper (Cromileptes altivelis) towards generation of autotransgenic grouper have been conducted.  β -actin promoter has high activity in muscle. Sequence of ktBA promoter was isolated by using degenerate PCR method. Sequencing was performed using ABI PRISM 3100 machine. Analysis of sequences was conducted using BLAST, GENETYX version 7 and TFBind softwares. DNA fragment of PCR amplification product digested from the vector cloning was then ligated with pEGFPN1 to generate pktBA-GFP construct. The construct was microinjected into one-cell stage of zebrafish (Danio rerio) embryos to test the ktBA promoter activity. EGFP gene expression was observed by fluorescence microscope. The result of sequence analysis showed that the length of DNA fragment obtained is about 1.6 kb and containing the evolutionary conserved sequences of transcription factor for β -actin promoter including CCAAT, CArG and TATA boxes. Furthermore, ktBA sequence in pktBA-EGFP construct could drove GFP expression in muscle of zebrafish embryos injected with the construct. The results suggested that PCR amplification product is the regulator sequence of humpback grouper β -actin gene. Autotransgenic grouper can be then produced by changing GFP gene fragment of pktBA-EGFP construct with genes from grouper encoding important traits in aquaculture.
FORMULASI PAKAN BUATAN DENGAN BAHAN BAKU RUMPUT LAUT UNTUK PERTUMBUHAN ABALON Haliotis squamata I Nyoman Adiasmara Giri; Muhammad Marzuqi; Ibnu Rusdi; Wawan Andriyanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.039 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.1.2016.75-83

Abstract

Abalon merupakan salah satu jenis moluska laut yang memiliki potensi ekonomis untuk dikembangkan usaha budidayanya. Teknologi pembenihan abalon Haliotis squamata telah dikembangkan dan berhasil memproduksi benih secara massal. Selain benih, ketersediaan pakan yang sesuai sangat menentukan keberhasilan budidaya pembesaran abalon. Selain makan pakan segar berupa makroalga, abalon juga dapat menerima pakan buatan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula pakan dengan bahan baku tepung rumput laut untuk pertumbuhan H. squamata. Tiga pakan percobaan diformulasi dengan proporsi tepung rumput laut Ulva sp., Gracilaria sp., dan Sargassum sp. yang berbeda dibuat berbentuk remah dengan kandungan protein dan lemak yang sama.  Sebagai kontrol digunakan pakan Gracilaria sp. segar asal tambak.  Sebanyak 16 buah bak beton berukuran 2,0 x 0,5 x 0,5 m3 dengan ketinggian air 25 cm dan dilengkapi dengan aerasi digunakan sebagai wadah percobaan.  Benih abalon hasil pembenihan di hatcheri dengan ukuran bobot 5,30 ± 1,07 g; panjang cangkang 3,35 ± 0,29 cm ditebar dengan kepadatan 388 ekor per bak.  Abalon diberi pakan percobaan 2 kali sehari selama 168 hari. Jumlah pakan disesuaikan dengan respons makan dari abalon. Percobaan dirancang dengan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan pakan dan setiap perlakuan terdiri atas 4 ulangan.  Hasil percobaan menunjukkan bahwa pertumbuhan abalon yang diberi pakan buatan tidak berbeda nyata, tetapi pakan dengan proporsi tepung Ulva sp. 35% cenderung memberikan pertumbuhan yang lebih baik. Pertumbuhan abalon terbaik diperoleh pada perlakuan kontrol.  Kandungan protein daging abalon dipengaruhi oleh pakan percobaan. Kandungan protein daging abalon yang diberi pakan buatan signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol.
DISTRIBUSI SPASIAL KEBUTUHAN KAPUR BERDASARKAN NILAI SPOS TANAH UNTUK TAMBAK DI KABUPATEN PANGKEP PROVINSI SULAWESI SELATAN Akhmad Mustafa dan Mustafa; Erna Ratnawati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4883.874 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.293-36

Abstract

Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan telah ditetapkan sebagai salah satu wilayah pengembangan kawasan minapolitan di Indonesia, namun sebagian tanah tambaknya tergolong tanah bermasalah (tanah sulfat masam dan tanah gambut) yang dicirikan dengan pH tanah yang rendah sehingga menjadi faktor pembatas dalam peningkatan produktivitas tambaknya. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan distribusi spasial kebutuhan kapur berdasarkan nilai SPOS tanah tambak agar produktivitas tambak dapat meningkat dan berkelanjutan di Kabupaten Pangkep. Penelitian dilaksanakan di kawasan tambak Kabupaten Pangkep dengan metode survai melalui pengukuran dan pengambilan contoh tanah pada 83 titik pengamatan di kedalaman tanah 0-0,2 m. Peubah kualitas tanah yang diukur di lapangan adalah pHF dan pHFOX, sedangkan yang dianalisis di laboratorium adalah SP, SKCl, SPOS, pirit, dan bahan organik. Kebutuhan kapur didasarkan pada nilai SPOS tanah dengan mempertimbangkan berat volume tanah. Program ArcView 3.2 digunakan untuk pembuatan peta distribusi spasial SPOS tanah, berat volume tanah, dan kebutuhan kapur dengan memanfaatkan citra ALOS AVNIR-2 akuisisi 28 Juli 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah tambak di Kabupaten Pangkep dicirikan oleh berat volume tanah yang diprediksi berdasarkan bahan organik tanah, berkisar antara 0,20 dan 1,25 g/cm3 dengan rata-rata 0,75 g/cm3 dan SPOS tanah berkisar antara 0,02% dan 3,47% dengan rata-rata 1,20%. Kebutuhan kapur setara CaCO3 untuk tanah tambak berkisar antara 0,12 dan 53,04 ton/ha dengan rata-rata 13,01 ton/ha, di mana kebutuhan kapur yang tinggi dijumpai di bagian selatan Kabupaten Pangkep (Kecamatan Minasa Te’ne, Pangkajene, Bungoro, Labakkang, dan Ma’rang).
BUDI DAYA KARANG HIAS MENDUKUNG PERDAGANGAN KARANG HIAS YANG BERKESINAMBUNGAN Ofri Johan; Wartono Hadie; Adang Saputra; Joni Hariyadi; Nurbakti Listyanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.25 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.3.2007.415-424

Abstract

Kegiatan budi daya karang hias di Indonesia perlu dilakukan untuk menjamin perdagangannya agar berjalan tanpa merusak keanekaragaman dan kondisi terumbu karang. Budi daya karang hias menggunakan rak berupa meja yang terbuat dari paralon PVC yang dinilai sangat ekonomis dan mudah diaplikasikan masyarakat lokal. Pengamatan pertumbuhan hanya dilakukan pada 1 rak masing-masing jenis karang yang dibudidayakan yaitu Acropora sp., Acropora formosa, Acropora humilis, Acropora millepora, Acropora nobilis, dan Seriatopora hystrix. Kegiatan dilakukan pada dua lokasi yaitu Pulau Simakakang-Mentawai, Sumatera Barat dan Gondol, Bali. Pengamatan dilakukan setiap dua bulan dan penelitian dilaksanakan selama 6 bulan. Hasil pengamatan diperoleh tingkat mortalitas pada lokasi Pulau Simakakang diperoleh 5,56% dari 36 sampel yang diukur dari 6 jenis karang dan 6 ulangan, pertambahan panjang jenis A. formosa 0,64 cm/bulan, lebih cepat dibandingkan dengan jenis A. millepora 0,58 cm/bulan dan jenis lain. Karang A. humilis memiliki laju perambatan pada substrat semen dan batang pengikat yang  lebih cepat dari jenis lain. Pada lokasi Gondol, Bali memiliki laju pertambahan panjang karang A. millepora lebih cepat (0,50 cm/bulan) dibandingkan dengan jenis A. tenuis (0,43 cm/bulan) dan jenis lain berkisar antara 0,21—0,39 cm/bulan.Tingkat kematian 3 koloni (7,1%) dari total 42 koloni yang disampling.The culture of ornamental coral is important to be conducted to guarantee the coral trade can be run well without giving impact to coral reef biodiversities and coral reef condition in Indonesia. This cultured using table using nets as a place which is made from PVC pipe. This method can minimize cost comparing with others materials as well as applicable for coastal community. One table can be placed 12 (3x4) substrate with a distance among others of 25 cm, then fragmented coral were tied to that substrates. This activity was carried out in two locations that were Simakakang Island, Mentawai, West Sumatera, and Gondol, Bali. The observation of mortality found that the one in Simakakang Island had 5.56% of 36 fragments of 6 species and of 6 replications, length growth of A. formosa was 0.64 cm/month, more rapid than the one of A. millepora (0,58 cm/month) and others species. A. humilis had encrusted to cement substrate, it was more rapid than the one in others species. Length growth rate of A. millepora in Gondol, Bali was more rapid (0.50 cm/month) than A. tenuis (0.43 cm/month), and others (0.21—0.39 cm/month). The mortality rate was 7.1% (3 colonies) from 42 colonies.
VARIASI GENETIK HASIL PERSILANGAN NILA BEST DENGAN RED NIFI DAN NIRWANA MENGGUNAKAN PENANDA RAPD Iskandariah Iskandariah; Irin Iriana Kusmini; Otong Zenal Arifin; Rudhy Gustiano
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.848 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.3.2011.363-371

Abstract

Penelitian mengenai variasi genetik dari hibridisasi 3 varian ikan nila (BEST, Red NIFI, dan Nirwana) telah dilakukan di Laboratorium Molekuler Biologi, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT) Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman genetik hasil hibridisasi antara nila BEST, Nirwana, dan Red NIFI dengan menggunakan metode Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD). Amplifikasi DNA menggunakan primer OPA-02, OPA-03, dan OPC-05. Hasil analisis menunjukkan bahwa persentase polimorfisme berkisar antara 18,1818%–42,4242%, dengan nilai heterozigositas 0,0733-0,1564 dan jarak genetik antar populasi 0,3735–0,5300. Keragaman genetik tertinggi diperoleh pada hasil hibridisasi antara nila BEST dengan Nirwana. Nilai polimorfisme meningkat sebesar 10,6060% dan heterozigositas 0,0352 pada populasi hasil hibridisasi dibandingkan dengan populasi true breeding. Hal ini menunjukkan bahwa hibridisasi dapat meningkatkan nilai keragaman genetik dari suatu populasi ikan.
HERITABILITAS, RESPON SELEKSI DAN GENOTIP DENGAN RAPD PADA IKAN NILA F3 (Oreochromis niloticus) Rudhy Gustiano; Irin Iriana Kusmini; Iskandariah Iskandariah; Otong Zenal Arifin; Gleny Hasan Huwoyon; Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.846 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.3.2013.347-354

Abstract

Seleksi pada ikan nila merupakan salah satu upaya untuk menghasilkan induk unggul agar produksi lebih efisien dan keuntungan meningkat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi heritabilitas, respon seleksi dan genotip yang diperoleh pada seleksi ikan nila F3. Pembentukan F3 berasal dari anakan yang diperoleh dari hasil pemijahan 17 pasang induk F2 ikan nila yang tidak sekerabat. Benih-benih dipelihara hingga ukuran 3-4 cm (2-3 g) dan dilakukan pemilihan untuk menyeragamkan ukuran. Pengujian keragaan dilakukan dalam 16 waring berukuran 2 m x 2 m x 1,5 m dengan kepadatan 400 ekor ikan per waring selama lima bulan. Untuk analisis genotip digunakan F1, F2, dan F3 dengan masing-masing populasi diambil sepuluh contoh. Hasil ekstraksi DNA dianalisis dengan RAPD menggunakan primer OPA-2, OPA-3, dan OPC-5. Seleksi yang dilakukan memperlihatkan adanya respon seleksi pada F3 sebesar 16,9 g (15,73%) untuk jantan dan 10,0 g (10,62%) untuk betina. Sedangkan untuk realized heritability pada F3 adalah 0,39 untuk jantan dan 0,29 untuk betina. Secara total perolehan perbaikan bobot atau respon seleksi ikan jantan F3 dibandingkan dengan F1 adalah sebesar 31,1 g (28,95%). Sedangkan untuk ikan betina diperoleh nila sebesar 6,4 g (10,20%). Analisis DNA menunjukkan bahwa populasi F3 berbeda nyata secara genetik dibandingkan F2 dan F1. Penurunan nilai polimorfisme dan heterozigositas juga teramati pada keturunan hasil seleksi. Berdasarkan indikator yang ada, seleksi dapat diteruskan menggunakan pasangan induk yang lebih banyak dengan rotational mating, dan perlu dibentuk famili untuk meningkatkan keragaman.
PENGARUH PERBEDAAN FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT YUWANA KAKAP MERAH, Lutjanus argentimaculatus Regina Melianawati; Ketut Suwirya
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.579 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.151-159

Abstract

Frekuensi pemberian pakan merupakan faktor yang penting karena berpengaruh terhadap pertumbuhan dan berperanan penting dalam efektivitas penggunaan pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi pemberian pakan yang tepat pada pemeliharaan yuwana kakap merah. Hewan uji yang digunakan untuk penelitian adalah yuwana kakap merah, Lutjanus argentimaculatus umur 56 hari dengan bobot awal 0,18 ± 0,03 g sebanyak 180 ekor. Penelitian dilakukan menggunakan 12 tangki polyethylene volume 60 L. Rancangan penelitian adalah acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diujikan dalam penelitian ini adalah perbedaan frekuensi pemberian pakan, yaitu (A) 2 kali sehari (08:00, 14:00); (B) 4 kali sehari (08:00, 11:00, 14:00, 17:00); (C) 6 kali sehari (08:00, 10:00, 12:00, 14:00, 16:00, 18:00); dan (D) 8 kali sehari (08:00, 09:30, 11:00, 12:30, 14:00, 15:30, 17:00, 18:30). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan frekuensi pemberian pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan bobot dan laju pertumbuhan bobot harian yuwana kakap merah serta nisbah konversi pakan dan efisiensi pakan, namun tidak berbeda nyata terhadap sintasan (P>0,05). Frekuensi pemberian pakan delapan kali sehari dengan interval waktu setiap 1,5 jam menghasilkan pertumbuhan bobot dan laju pertumbuhan harian yuwana kakap merah yang paling besar serta nisbah konversi pakan yang terendah dan efisiensi pakan yang tertinggi.Feeding frequency was an important factor that gave the influence to growth and also for effectiveness using the feed. This research was aimed to get the information about effective feeding frequency on rearing of mangrove snapper Lutjanus argentimaculatus juvenile. This research was using12 polyethylene tank of 60 L in volume and 180 juvenile of 56 days old with 0.18 ± 0.03 grams of body weight. Complete random design with four treatments and three replicates was used in this research. The treatment was different feeding frequency, i.e.: (A) 2 times perday (08:00, 14:00); (B) 4 times perday (08:00, 11:00, 14:00, 17:00); 6 times perday (08:00, 10:00, 12:00, 14:00, 16:00, 18:00); dan 8 times perday (08:00, 09:30, 11:00, 12:30, 14:00, 15:30, 17:00, 18:30). The result indicated that different feeding frequency was significant to body weight, body weight gain and daily growth rate of mangrove snapper juvenile, also to feed conversion ratio and feeding efficiency, but not significant to survival rate. Feeding frequency 8 times perday with interval 1.5 hours gave the biggest of body weight, body weight gain and daily growth rate, the lowest of feed conversion ratio and the highest of feeding efficiency.
PENYISIPAN GEN WARNA PADA IKAN Carassius auratus MENGGUNAKAN METODE ELEKTROFORASI DALAM UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS IKAN HIAS Wartono Hadie; Eni Kusrini; Agus Priyadi; Alimuddin Alimuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.653 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.335-343

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan teknik rekayasa penyisipan gen warna pada ikan hias dan pengetahuan tentang pola pewarisannya yang akan dapat membantu perbaikan mutu ikan. Metode yang diterapkan adalah elektroforasi. Ikan hias yang digunakan dalam penelitian adalah ikan komet (Carassius auratus) sedangkan gen pemendar yang digunakan adalah GFP (green fluorescent protein) dengan konstruksi DNA yang digunakan berbentuk plasmid yang dikontrol oleh promoter b-aktin dari ikan Japanese flounder (ikan sebelah) dengan panjang fragmen pKer-GFP 6,0 kb. Sintasan dan keberadaan gen GFP diamati mulai dari telur menetas. Ekspresi gen dapat diamati setelah fase terbentuknya sirip dan dilakukan secara deskriptif (performa) dan PCR. Hasil yang diperoleh gen GFP terekspresi mulai pembentukan sirip dan hasil cek PCR semua ketiga konsentrasi DNA yang dicobakan mempunyai ekspresi yang sama. Untuk dapat mengetahui ekspresi gen GFP sampai pada F0 masih menunggu ikan dewasa dan matang gonad.This research was aimed to obtain a method for introduction of exogenous gene of green flourescent protein (GFP) in order to improve the ornamental fish color appearance. The method used were electroporation. The Carassius auratus were used in this research. The construct of flourescent gene of pKer-GFP as DNA construct of plasmid controlled by b-actin of Japanese flounder with pKer-GFP 6.0 kb in length. Survival rate and gene expression of GFP assessed right after the eggs hatched. Gene expression was observed using PCR product and direct observation. The result show that the expression of GFP from all of three treatments were observed but not significantly different. This expression however should be wait until the fish mature.
EVALUASI KERAGAMAN GENETIK INDUK IKAN KERAPU SUNU (Plectropomus leopardus) F-1 DAN TURUNANNYA (F-2) DENGAN PENANDA mt-DNA Sari Budi Moria Sembiring; Ketut Suwirya; Regina Melianawati; Haryanti Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.7.3.2012.337-343

Abstract

Permintaan benih kerapu sunu terus meningkat sejalan dengan perkembanganbudidaya laut. Namun perdagangan ikan kerapu sunu masih didominasi oleh hasil tangkapan alam. Cepat atau lambat penyediaan induk alam akan semakin sulit. Untuk itu, perlu antisipasi penyediaan induk melalui hasil budidaya. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah evaluasi keragaman genetik antara induk kerapu sunu F-1 hasil seleksi dari budidaya dan turunannya (F-2) dengan menggunakan penanda mt-DNA. Penelitian menggunakan metode Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP) dengan empat enzim restriksi. Sampel yang digunakan adalah sirip ekor yang dipotong dari induk F-1 sebanyak 57 ekor dan yuwana F-2 sebanyak 40 ekor yang merupakan hasil pemeliharaan larva hingga yuwana. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dengan menggunakan 3 enzim restriksi yaitu Hae III; Mnl I; dan Nla III diperoleh tujuh komposit haplotip terdeteksi pada induk F-1, sementara Ecor V hanya 1 komposit haploid. Dari komposit haplotip tersebut hanya tiga komposit haplotip yang dominanpada turunannya (F-2). Hal ini dimungkinkan bahwa yuwana yang dianalisis tersebut berasal dari populasi 3 komposit haplotip induk F-1. Hasil analisis dengan program Tools for Population Genetic Analysis (TFPGA) menunjukkan bahwa nilai keragaman genetik induk F-1 mengalami penurunan sebesar 20,46% terhadap turunannya (F-2), hal ini diduga karena sedikitnya jumlah induk efektif yang memijah. Dengan demikian penambahan induk efektif perlu dilakukan untuk menghindari laju penurunan keragaman genetik.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue