cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 763 Documents
PROFIL PEMIJAHAN DAN PERKEMBANGAN MORFOLOGI LARVA DAN YUWANA IKAN CLOWN HITAM (Amphiprion percula) Daniar Kusumawati; Ketut Maha Setiawati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1214.918 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.1.2010.59-67

Abstract

Amphiprion percula (ikan clown hitam atau clown Biak) merupakan salah satu spesies ikan hias laut yang umumnya ditangkap untuk tujuan komersial. Di samping itu, indikasi menurunnya jumlah ikan clown hitam disebabkan oleh kematian secara alami di alam sebesar 75% akibat tingkat agresivitas ikan clown hitam dalam mempertahankan wilayahnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pemijahan dan perkembangan morfologi larva dan yuwana ikan clown hitam. 10 pasang koleksi induk diperoleh dari Biak. Pengamatan dilakukan selama 1 tahun yang meliputi pengamatan reproduksi biologis dan aspek morfologi dan perkembangan larva dan yuwana ikan clown hitam. Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa 70% dari populasi induk ikan clown hitam telah berhasil bertelur dengan periode pemijahan 9-30 hari. Jumlah produksi telur yang diperoleh 25 hingga 2.244 butir. Jumlah telur dengan bobot induk betina berkorelasi positif. Masa inkubasi telur terjadi selama 6 hingga 7 hari. Sesaat setelah menetas, larva (D0) dapat mengkonsumsi rotifer. Artemia dan pakan pelet yang diberikan mulai dari D6 dan D17. Periode perkembangan larva sangat singkat yaitu 17 hari. Selama pengamatan ikan clown hitam menunjukkan pertumbuhan yang relatif lambat
VALIDASI LUAS LAHAN TAMBAK DI KABUPATEN PINRANG, PROVINSI SULAWESI SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Mudian Paena; Akhmad Mustafa; Hasnawi Hasnawi; Rachmansyah Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.656 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.3.2007.329-340

Abstract

Keberhasilan budi daya tambak udang windu pada awal tahun 1990-an menyebabkan terjadinya pertambahan luas tambak yang cukup besar di Sulawesi Selatan termasuk di Kabupaten Pinrang. Untuk mendapatkan data perubahan luas dan luas tambak terkini di kabupaten tersebut maka dilakukan validasi luas tambak melalui pemanfaatan citra satelit. Citra satelit yang digunakan adalah Landsat-7 ETM+ akuisisi 2002 dan 2005 yang selanjutnya dilakukan klasifikasi. Sedangkan untuk data sebelumnya yaitu tahun 1991 digunakan peta rupabumi Indonesia yang didigitasi dan dilakukan analisis spasial dengan menggunakan SIG. Hasil analisis menunjukkan bahwa luas tambak di Kabupaten Pinrang pada tahun 1991 adalah 7.490,805 ha dan meningkat pada tahun 2002 dan 2005 menjadi berturut-turut 13.366,086 ha dan 14.569,180 ha. Penambahan luas tambak di Kabupaten Pinrang sebagian besar berasal dari konversi sawah dan sebagian lagi berasal dari konversi penggunaan lahan lainnya yang ada di kawasan pesisir.The successful of tiger prawn culture in the brackish water pond in the early of 1990s to cause expansion of brackish water pond area in fairly large in South Sulawesi including Pinrang Regency. To find data of area changing and updating data of brackish water pond area in this regency, was conducted the validation brackish water pond area with satellite image. Satellite image which used was Landsat-7 ETM+ acquisition 2002 and 2005. Satellite image was classified, while the early data, in 1991, was used maps of rupabumi Indonesia that was digitized and conducted spatial analysis with GIS. The results of analysis show that brackish water pond area in Pinrang regency in 1991 was 7,490.805 ha and increased up to 13,366.086 ha and 14,569.180 ha in 2002—2005, respectively. The addition of brackish water ponds area in Pinrang Regency was mainly came from conversion of paddy field and it remaining was from the other land uses type of coastal zone.
PENGARUH PADAT TEBAR BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN RAJUNGAN ( Portunus pelagicus ) DI TAMBAK Suharyanto Suharyanto; Suwardi Tahe
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.536 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.1.2007.19-25

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan padat tebar optimal rajungan (Portunus pelagicus) yang dibesarkan di tambak. Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Tambak Percobaan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Maranak, Maros selama 98 hari. Tambak yang digunakan adalah berukuran 100 m2 tiga petak, 125 m2 tiga petak, dan tiga petak yang lain berukuran 150 m2. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok, dengan masing-masing luasan tambak 100, 125, dan 150 m2 sebagai kelompok. Perlakuan yang diaplikasikan adalah padat tebar 1 ind./m2, 3 ind./m2, dan 5 ind./m2 berukuran lebar karapas rata-rata 3,9 ± 0,6 cm dan bobot 8,3 ± 1,3 g; masing-masing tiga kali ulangan. Selama pemeliharan diberikan pakan ikan rucah dengan dosis 5% dari total biomassa per hari. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan lebar karapas, bobot, dan sintasan serta produksi. Selama percobaan beberapa kualitas air diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan lebar karapas dan bobot rajungan yang dibesarkan di tambak (P>0,05) tetapi berpengaruh nyata terhadap sintasan dan produksi (P<0,05). Perlakuan yang tertinggi sintasannya diperoleh pada perlakuan 1 ind./m2, yaitu 10,7%.The aim of this experiment was to find out the optimal stocking density of swimming crabs ( Portunus pelagicus ) reared in brackishwater ponds. The research was conducted in research station of Research Institute for Brackishwater Aquaculture Maranak, Maros, South Sulawesi for 98 days. Nine brackishwater ponds were used in this research and the dimension were 100 m2, 125 m2, and 150 m2, three brackishwater ponds, respectively. Experimental design used the Block Randomized Design, stocking densities were applied 1, 3, and 5 ind./m2 with three replicates respectively, average size of 3.9 ± 0.6 cm in carapace width and 8.3 ± 1.3 g in body weigth. During the rearing the crabs were fed with trace fish given of twice a day, dosage 5% of total body weight a day. During the experiment, the determined parameters were carapace width, survival rate and production. The result showed that the effect of stocking density not significantly different on the growth of carapace width and weight (P>0.05) but the survival rate was significantly different (P<0.05). The highest survival rate obtained on the treatment of 1 ind./m2, it was 10.7%.
PENGGUNAAN PAKAN PREMATURASI UNTUK PENINGKATAN PERKEMBANGAN GONAD PADA CALON INDUK IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsskal) Muhammad Marzuqi; I Nyoman Adiasmara Giri; Tony Setiadharma; Retno Andamari; Wawan Andriyanto; Ni Wayan Widya Astuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.565 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.4.2015.519-530

Abstract

Ikan bandeng (Chanos chanos Forsskal) merupakan jenis ikan laut yang mempunyai nilai ekonomis dan komoditas unggulan perikanan. Untuk menanggulangi kendala kualitas benih bandeng yang kurang baik maka perlu disiapkan induk bandeng berkualitas baik dengan melakukan seleksi, serta pemberian pakan berkualitas baik, khususnya pakan untuk mendukung perkembangan organ reproduksi atau pakan prematurasi. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan informasi tentang penggunaan pakan prematurasi untuk perkembangan gonad calon induk dan keragaan reproduksi ikan bandeng. Penelitian ini menggunakan 80 ekor calon induk ikan bandeng berumur tiga tahun dengan bobot rata-rata 1,9 ± 0,25 kg. Ikan dipelihara dalam dua buah bak beton kapasitas 100 m3 dan masing-masing diberi pakan prematurasi yang merupakan pakan komersial yang diperkaya dengan dua jenis formulasi bahan pengkaya yang berbeda. Pakan diberikan sebanyak 3,0% dari total biomassa ikan per hari. Masing-masing bak dilengkapi dengan aerasi dan sistem air mengalir dengan pergantian air mencapai 200%-300% per hari. Parameter yangdiamati adalah perkembangan oosit, sperma, dan kematangan gonad, serta pemijahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan prematurasi memacu perkembangan dan kematangan gonad dengan baik. Pada grup calon induk yang diberi pakan prematurasi B diperoleh tiga ekor induk betina mengalami perkembangan oosit tingkat large vitelogenesis (diameter > 500 μm) dan kematangan sperma induk jantan sebanyak 15 ekor. Pada grup calon induk yang diberi pakan premeturasi A terdapat satu ekor induk betina mengalami perkembangan oosit tingkat small vitelogenesis (diameter < 300 μm) dan kematangan sperma jantan dua ekor.
KARAKTERISASI DAN IDENTIFIKASI MOLEKULER ISOLAT BT951 SERTA EVALUASI POTENSINYA SEBAGAI BAKTERI PROBIOTIK PADA BUDIDAYA UDANG WINDU ( Penaeus monodon ) Muliani Muliani; Nurbaya Nurbaya; Endang Susianingsih
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.876 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.3.2011.457-468

Abstract

Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui karakteristik, dan menentukan posisi relatif isolat BT951 melalui identifikasi molekuler menggunakan gen 16S-rRNA, serta mengevaluasi potensinya sebagai probiotik pada budidaya udang windu (P. Monodon). Penelitian ini meliputi tahapan: (1) isolasi dan karakterisasi secara morfologi; (2) uji fisiologi dan biokimia; (3) identifikasi isolat BT951 secara molekuler; (4) uji sensitifitas terhadap antibiotik; (5) uji daya hambat isolat BT951 terhadap V. harveyi; (6) uji patogenisitas isolat BT951 terhadap larva udang; (7) uji tantang isolat BT951 dengan V. harveyi; (8) uji ketahanan isolat BT951 pada suhu ruang dan suhu 4oC. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa, secara morfologi isolat BT951 koloninya berbentuk bulat kecil, berwarna krem kekuningan, tepian licin, dan cembung, termasuk kelompok bakteri gram positif yang berbentuk batang, oksidase dan katalase positif, indol negatif, dan bersifat motil. Bakteri ini dapat tumbuh pada suhu 40oC, salinitas 0-50 ppt, dan sensitif terhadap beberapa jenis antibiotik seperti rifanpisin, eritromisin, dan klorampenikol akan tetapi resiten terhadap ampisilin, oksitetrasiklin, gentamisin, dan furazolidon. Berdasarkan hasil analisis gen 16S-rRNA menunjukkan bahwa isolat BT951 termasuk kelompok Brevibacillus laterosporus dengan indeks kedekatan sebesar 97,7%. Bakteri ini tidak bersifat patogen terhadap udang windu, dapat menghambat pertumbuhan bakteri V. harveyi, dan potensial dijadikan sebagai bakteri probiotik pada budidaya udang windu.
DISTRIBUSI DAN KELIMPAHAN PENYAKIT KARANG SABUK HITAM SECARA SPASIAL DI KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA Ofri Johan; Dietriech G. Bengen; Neviaty P. Zamani; Suharsono Suharsono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.647 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.3.2013.439-451

Abstract

Penelitian tentang kelimpahan dan penyebaran penyakit karang telah dilaksanakan sejak Juni 2011 sampai Juli 2011 untuk mengetahui kelimpahan awal penyakit karang jenis Black Band Disease (BBD-Penyakit sabuk hitam) di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta. Metode pengamatan menggunakan transek sabuk dengan lebar 1 m ke kiri dan ke kanan, panjang bentangan meteran 20 m dengan ulangan sebanyak tiga kali. Transek ditempatkan pada dataran terumbu dengan kedalaman 0-3 m dengan mencatat jumlah koloni yang terinfeksi penyakit karang, jenis penyakit karang BBD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit karang jenis BBD banyak ditemukan pada tutupan karang yang tinggi dan karang jenis Montipora sp. dominan di lokasi tersebut. Berdasarkan lokasi secara umum kelimpahan tertinggi terjadi di Pulau Pramuka Utara (0,15 kol/m); Pulau Pari Timur (0,092 kol/m); Pulau Penjaliran (0,092 kol/m); dan Pulau Tikus (0,085 kol/m). Hasil uji statistik dengan menggunakan ANOVA diperoleh kelimpahan penyakit karang BBD berbeda nyata antara kelompok lokasi penelitian, yaitu antara lokasi jarak terdekat dengan jarak sedang, dan lokasi jarak terdekat dengan jarak terjauh dengan nilai perbedaan (signifikan) berturut-turut 0,030 dan 0,025 (tingkat kepercayaan 95%). Sedangkan pada kelompok lokasi jarak sedang dan terjauh tidak terdapat perbedaan nyata. Berdasarkan data klimatologi, peningkatan suhu pada bulan Maret hingga Juli dapat memicu terjadi penyakit karang di kawasan Kepulauan Seribu.
KETAHANAN DALAM AIR DAN PELEPASAN NITROGEN & FOSFOR KE AIR MEDIA DARI BERBAGAI PAKAN IKAN AIR TAWAR M. Fatuchri Sukadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1513.472 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.1.2010.1-12

Abstract

Limbah dan sisa pakan ikan yang tidak termakan dan lepas ke lingkungan air budidaya bisa memberikan kontribusi terhadap penambahan unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) ke lingkungan perairan budidaya. Ada 17 jenis pakan ikan komersial yang beredar dan digunakan pembudidaya khususnya oleh pembudidaya keramba jaring apung di Waduk Cirata dan Jatiluhur. Pakan yang beredar tersebut belum diketahui performanya terkait dengan ketahanan dalam air (water stability) serta pelepasan N dan P dari pakan tersebut ke air media. Penelitian ini menentukan ketahanan pakan dalam air dari ke-17 pakan tersebut yang dikaitkan dengan pelepasan N dan P dari pakan setelah 10, 20, dan 30 menit pakan direndam dalam air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan kandungan total P dalam pakan berkorelasi linier dengan pelepasan unsur P ke dalam air. Bila kandungan P pakan rendah (<2%) maka rendah pula P yang dilepas ke air media. Makin baik ketahanan pakan dalam air, makin rendah P yang dilepas ke dalam air. Ketahanan pakan dalam air yang tinggi masih memberikan kecenderungan tingginya pelepasan N ke dalam air. Hasil analisis proksimat dari 17 pakan tersebut kandungan proteinnya berkisar antara 26,00%–29,83%; total N 4,04%–4,77%; dan total P antara 1,38%–5,18%.
PEMANFAATAN KOLAM PENGENDAP TAMBANG BATUBARA UNTUK BUDIDAYA IKAN LOKAL DALAM KERAMBA Asfie Maidie; Deni Udayana; Isriansyah Isriansyah; Ismail Fahmy Almady; Adi Susanto; Komsanah Sukarti; Sulistiawaty Sulistiawaty; Imanuel Manege; Evie Tular
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.32 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.437-448

Abstract

Uji coba budidaya dalam keramba telah dilakukan untuk mengetahui kelayakan kolam pengendap tambang batubara untuk areal budidaya ikan bagi masyarakat sekitar apabila kegiatan tambang telah ditutup, serta untuk mengetahui apakah produk ikan yang dihasilkan cukup aman untuk dikonsumsi manusia. Percobaan dilakukan pada bekas kolam pengendap DS2 milik PT KPC, dengan mengunakan 5 buah keramba apung berukuran 3 m x 1 m x 1 m yang dalam setiap keramba ditebar benih dari alam untuk ikan repang (Barbodes schwanenfeldii) ukuran rata-rata 20,2 g; puyau (Osteichilus kappenii) ukuran 66,1 g; dan mas (Cyprinus carpio) ukuran 28,96 g dari pemijahan di laboratorium sebanyak masing-masing 200 ekor, serta pepuyu (Anabas testudineus) ukuran rata-rata 41,4 g dari alam sebanyak 50 ekor, udang galah (Macrobrachium rosenbergii) ukuran 113,8 g juga dari alam sebanyak 50 ekor. Pakan diberikan secara sampai kenyang (ad libitum). DO, pH, suhu, DHL, dan kekeruhan diukur harian, sedangkan ikan diukur pertumbuhan bobotnya. Setelah dipelihara selama 4 bulan dan memenuhi ukuran konsumsi, ikan dan udang diperiksa kandungan Sb, Se, As, Hg, Mn, Cd, Fe, Cu, Pb, dan Zn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bekas kolam pengendap tambang batubara cukup layak untuk dikembangkan sebagai areal budidaya ikan dengan memberikan pertumbuhan bobot populasi sebesar 570,79% (repang, SR: 95%), 202,57% (puyau, SR: 97%), 573% (mas, SR: 2,5%), 238,92% (udang galah, SR: 10%), 447,10% (pepuyu, SR: 14%) dan produknya cukup aman untuk dikonsumsi, dengan kandungan Sb (0,24-2,45 mg/L, rasio terdeteksi dari sample: 100%), Se (0,00-0,06, 57,14%), As (tidak terdeteksi/ttd), Hg (0,00-0,06 mg/L, 50%), Mn (ttd-1,68 mg/L, 14,29%), Cd (ttd), Fe (ttd-5,45 mg/L, 7,14%), Cu (ttd), Pb (ttd), dan Zn (7,82-61,50 mg/L, 100%).The experiment was conducted to study the feasibility of settling or sedimentation pond of coal mining to be used for culturing fish in net cage for local people post  mining activities. Experimental 3 m x 1 m x 1 m of 5 floating net cages were located in DS 2, an abandoned settling pond owned by Kalimantan Timur Prima Coal (KPC). Each cage was stocked with natural barb seed (Barbodes schwanenfeldii) with mean weight of 20.2 g, fresh water carp or puyau (Osteichilus kappenii) with mean weight of 66.1 g, and common carp (Cyprinus carpio) with mean weight of 28.96 g from fish hatchery with density of 200 seeds per species per cage, wild seed of climbing pearch (Anabas testudineus) with mean weight of 41.4 g and density of 50 seeds per cage, and giant prawn (Macrobrachium rosenbergii) with mean weight 113.8 g and density of 50 seeds per cage. The fishes were feed ad libitum. Water quality parameters were measured daily consisting of DO, pH, temperature, conductivity, and turbidity, while fish growth was determined by measuring its weight. After 4 months of rearing and reached marketable size, the fish were then measured for the evidence of Sb, Se, As, Hg, Mn, Cd, Fe, Cu, Pb, and Zn. The result shows that the settlement pond of coal mining is feasible to rear fish in cage. The recorded fish growths were 570.79% for barb fish with survival rate/SR: 95%, 202.57% for local carp with SR: 97%, 573% for common carp with SR:2.5%), 238.92% for giant prawn with SR:10%), 447.10% for climbing perch with SR:14%. All of the reared fish are safe to be consumed because they have normal content of Sb (0.24 to 2.45 mg/L, and detected ratio in all sample was: 100%), Se (0.00 to 0.06; 57.14%), As (not detected/nd), Hg (0.00 to 0.06 mg/L, 50%), Mn (nd to 1,68 mg/L, 14.29%), Cd (nd), Fe (nd-5.45 mg/L, 7.14%), Cu (nd), Pb (nd), and Zn (7.82-61.50 mg/L, 100%).  
KOEFISIEN KECERNAAN FRAKSI SERAT BUNGKIL KELAPA SAWIT YANG DIHIDROLISIS DENGAN ENZIM ASAL CAIRAN RUMEN DOMBA SEBAGAI PAKAN BENIH IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypophthalmus) Wahyu Pamungkas
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.342 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.3.2012.437-445

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kecernaan fraksi serat bungkil kelapa sawit yang dihidrolisis dengan enzim cairan rumen domba. Koefisien kecernaan ditentukan dengan menggunakan indikator Cr2O3 yang ditambahkan dalam pakan uji. Bahan pakan yang digunakan adalah bungkil kelapa sawit (BKS) yang dihidrolisis dengan enzim asal cairan rumen domba dengan volume 100 mL/kg BKS dan diinkubasi selama 24 jam (BKSe) dan yang tidak dihidrolisis (BKS). Pakan yang digunakan dalam penelitian adalah pakan acuan (pakan komersil), pakan uji A (30% BKSe) dan B (30% BKS) dengan 3 ulangan. Ikan yang digunakan 10 ekor benih ikan patin siam Pangasius hypophthalmus) dengan bobot rata-rata 20 g/ekor yang dipelihara dalam fiber dengan volume air 80 liter. Pemberian pakan secara at satiation dengan frekuensi pemberian 3 kali per hari. Feses dikumpulkan selama 15 hari pemeliharaan untuk dianalisis kandungan nutrisinya. Hasil analisis kecernaan menunjukkan bahwa nilai kecernaan fraksi serat menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P<0,05) antar perlakuan di mana pakan A (30% BKSe) mempunyai nilai kecernaan fraksi serat lebih tinggi dibandingkan pakan B (30% BKS).
PROBIOTIK Bacillus cereus UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT Streptococcosis PADA IKAN NILA, Oreochromis niloticus Angela Mariana Lusiastuti; Sari Dwi Maryanti; Uni Purwaningsih Purwaningsih
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.019 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.1.2013.109-119

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran probiotik Bacillus cereus terhadap ketahanan benih ikan air tawar yaitu ikan nila (O. niloticus) yang diinfeksi Streptococcus agalactiae. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan yang diaplikasikan melalui pakan. Perlakuan tersebut adalah A (tanpa penambahan probiotik B. cereus dan prebiotik), perlakuan B (penambahan probiotik B. cereus sebesar 1%), perlakuan C (penambahan prebiotik 2%), dan perlakuan D (penambahan sinbiotik; probiotik B. cereus 1% dan prebiotik 2%). Parameter yang diamati adalah tingkat sintasan ikan uji pada saat uji tantang, indeks fagositik, differensial leukosit, dan kualitas air. Analisis data tingkat sintasan dilakukan dengan menggunakan uji F dengan taraf signifikansi 5%. Indeks fagositik, differensial leukosit dan kualitas air dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan penambahan 1% probiotik B. cereus dan 2% prebiotik (ekstrak tepung ubi jalar) yang dicampurkan ke dalam pakan komersial (sinbiotik) dapat meningkatkan rata-rata sintasan ikan nila sebesar 70%, kadar neutrofil 19%, dan aktivitas fagosit sebesar 51,5% setelah diuji tantang dengan Streptococcus agalactiae dan lebih baik jika dibandingkan dengan kontrol, probiotik, dan prebiotik saja dengan tingkat sintasan masing-masing 48,33%; 56,67%; dan 60%.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue