cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 1: April 2025" : 25 Documents clear
Kesetaraan relasi sosial dalam falsafah esa cita waya, tou peleng masu’at; cawana parukuan, cawana pakuruan: Sebuah konstruksi teologis berbasis budaya Minahasa Mawuntu, Marhaenie Luciana
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1178

Abstract

Awareness of maintaining and appreciating local philosophy about respect for equality in the diversity of society is being eroded in the Minahasa land. This article discusses the socio-cultural issue of esa cita waya, tou peleng masu’at; cawana parukuan, cawana pakuruan, which can be the basis for equal social relations. This study repositions the local wisdom defined and constructed by the ancestors as a social identity that appreciates diversity and equality in society. For this purpose, I use a qualitative research approach with descriptive methods and socio-cultural analysis. This research will start from cultural data transmitted orally and maintained by cultural actors and the Minahasa community in several villages. Furthermore, based on this approach, the author will offer esa cita waya, tou peleng masu’at. Cawana parukuan, cawana pakuruan, pute waya tou maesa (hereinafter abbreviated as ECWTPMCPCP) as the basis of social relations that give respect to equality in social diversity in the land of Minahasa today. As a result, the people in the land of Minahasa are educated to build relations that provide equal and constructive space for plurality in society.   Abstrak Kesadaran untuk memelihara dan menghargai falsafah lokal tentang penghargaan terhadap kesetaraan dalam keragaman masyarakat sedang tergerus di tanah Minahasa. Artikel ini bertujuan membahas persoalan sosio-kultural esa cita waya, tou peleng masu’at; cawana parukuan, cawana pakuruan, yang dapat menjadi dasar relasi sosial yang setara. Kajian ini memosisikan kembali kearifan lokal tersebut sebagaimana yang didefinisikan dan dikonstruksi para leluhur sebagai identitas sosial yang menghargai keragaman dan kesetaraan bermasyarakat. Untuk tujuan itu, saya menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode dekriptif dan analisis sosio-kultural. Penelitian ini akan bertolak dari data kultural yang ditransmisikan secara lisan dan masih terpelihara pada para pelaku budaya dan masyarakat Minahasa di beberapa kampung. Selanjutnya berdasar pendekatan demikian, penulis akan menawarkan esa cita waya, tou peleng masu’at. Cawana parukuan, cawana pakuruan, pute waya tou maesa (selanjutnya disngkat ECWTPMCPCP) sebagai dasar relasi sosial yang memberi penghargaan terhadap kesetaraan dalam kemajemukan sosial di tanah Minahasa kini. Hasilnya, masyarakat di tanah Minahasa teredukasi untuk membangun relasi yang memberi ruang setara dan konstruktif bagi pluralitas bermasyarakat.
Relasi persahabatan dalam kepemimpinan kristiani: Sebuah tawaran spiritualitas persahabatan dalam kepemimpinan kristiani melalui pembacaan Yohanes 15:15 Yudha, Andres Barata; Siahaan, Harls Evan R.; Sarlin, Serlina; Banne, Merien Sriyuni
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1213

Abstract

This article examines the paradigm of friendship relations in Christian leadership based on a reading of John 15:15. Conventional Christian leadership is often identified with the servant leadership model inherited from Robert Greenleaf. Still, this hierarchical approach may limit transformative potential within Christian communities. Through interpretative and theological analysis of the concept of friendship expressed by Jesus in John 15:15, this research aims to develop a spirituality of friendship as an alternative leadership model. This study employs a qualitative approach with textual analysis and hermeneutical methods to explore the theological meaning of friendship in leadership. The findings indicate that friendship-based leadership models offer more egalitarian, participatory, and transformative relationships than top-down or servant leadership models, which still contain hierarchical elements. The spirituality of friendship in Christian leadership offers equality, openness, and collaboration that can empower the entire church community to grow together in love and service.   Abstrak Artikel ini mengkaji paradigma relasi persahabatan dalam kepemimpinan kristiani berdasarkan pembacaan Yohanes 15:15. Kepemimpinan kristiani konvensional sering diidentikkan dengan model servant leadership yang diwariskan oleh Robert Greenleaf, namun pendekatan yang terlalu hierarkis ini dapat membatasi potensi transformatif dalam komunitas Kristiani. Melalui analisis interpretatif dan teologis terhadap konsep persahabatan yang diungkapkan Yesus dalam Yohanes 15:15, penelitian ini bertujuan mengembangkan spiritualitas persahabatan sebagai model kepemimpinan alternatif. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks dan hermeneutika untuk mengeksplorasi makna teologis persahabatan dalam kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model kepemimpinan berbasis persahabatan menawarkan relasi yang lebih egaliter, partisipatif, dan transformatif dibandingkan dengan model kepemimpinan top-down atau servant leadership yang masih mengandung unsur hierarkis. Spiritualitas persahabatan dalam kepemimpinan kristiani menawarkan kesetaraan, keterbukaan, dan kolaborasi yang dapat memberdayakan seluruh komunitas gereja untuk bertumbuh bersama dalam kasih dan pelayanan.
Persekutuan dan relasi kuasa: Sebuah komparasi konsep tata gereja 1987 dan 2007, Gereja Masehi Injili di Halmahera Botara, Sirayandris
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1214

Abstract

The purpose of this study is to demonstrate the differences and similarities in the concepts of fellowship (koinonia) and power relations in the self-organization of the Evangelical Christian Church in Halmahera (GMIH), as articulated in the GMIH Church Orders of 1987 and 2007, both of which explicitly identify themselves as churches adhering to presbyterial-synodal principles. Through qualitative research methods employing library research on the GMIH Church Order documents of 1987 and 2007, it was found that there are fundamental differences between the concepts of fellowship and power relations in these two documents. In the 1987 Church Order, an exclusive nuance of the fellowship concept was identified, as it was interpreted solely as inter-congregational relations within the GMIH Synod; power relations were more structurally hierarchical. In the 2007 Church Order, the interpretation of the fellowship concept (koinonia) is more inclusive and multicultural, as it considers post-conflict reconciliatory social relations in Halmahera and its surrounding islands; power relations emphasize non-hierarchical structures and prioritize equality of power between congregations and between Congregations and the Synod. Nevertheless, both GMIH Church Orders maintain a Christocentric character.   Abstrak Tujuan kajian ini untuk memperlihatkan perbedaan dan persamaan konsep persekutuan (koinonia) dan relasi-kuasa dalam pengorganisasian diri Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH), sebagaimana tertuang dalam Tata Gereja GMIH 1987 dan 2007, serta mengaku diri secara eksplisit dalam kedua Tata Gereja sebagai Gereja yang berprinsip gereja presbiterial sinodal. Melalui metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan terhadap dokumen Tata Gereja GMIH 1987 dan 2007 ditemukan bahwa ada perbedaan prinsip antara konsep persekutuan dan relasi kuasa di antara keduanya. Dalam Tata Gereja 1987, ditemukan nuansa ekslusif dari konsep persekutuan karena hanya ditafsirkan sebagai relasi antarjemaat dalam Sinode GMIH; relasi kuasa lebih bersifat struktural-hierarkis. Dalam Tata Gereja 2007 pemaknaan konsep persekutuan (koinonia) lebih inklusif dan multikultural karena mempertimbangkan relasi sosial rekonsiliatif pascakonflik di Halamhera dan pulau-pulau sekitarnya; relasi kuasa lebih menekankan non-hierarkhis dan mengedepankan kesetaraan kuasa antarjemaat dan antara Jemaat dan Sinode. Sekalilipun demikian,  kedua Tata Gereja GMIH tersebut memiliki sifat kristosentris.
Menelisik praktik perhambaan di kampung Raja Prailiu, Sumba Timur: Sebuah kajian poskolonial dalam upaya memutus rantai perhambaan di era modern Setyawan, Yusak Budi; Lena, Iston Umbu Kura
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1287

Abstract

In this modern era, the practice of slavery in various forms can be found in multiple places in the world, including in Raja Prailiu Village, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. This practice has been carried out by the Maramba (nobles) against the Ata (servants). This causes injustice and discrimination for the Ata people, who even experience violence, both physical and psychological. This research aims to study why this practice continues to be maintained and perpetuated, as well as propose efforts to break the chain of this kind of slavery so as not to cause further social problems, especially for the Ata. This research uses qualitative methods with a postcolonial approach. Data collection techniques included observation, in-depth interviews, and documentation. This research concerns efforts to eliminate various forms of slavery practices in society, especially in Raja Prailiu Village. This research found that this practice continues to occur because, as subalterns, the Ata’s voices are not heard, their experiences are silenced, and there is no "space" for them to speak out. This research concludes that the voices of the Ata as subalterns need to be heard in public spaces.   Abstrak Di era modern seperti sekarang ini, praktik perhambaan dalam berbagai bentuk (tradisional maupun modern) dapat ditemukan di berbagai tempat di dunia, termasuk di Kampung Raja Prailiu, Sumba Timur - Nusa Tenggara Timur. Praktik ini dilakukan oleh para Maramba (kaum bangsawan) terhadap kaum Ata (hamba). Hal ini menyebabkan ketidakadilan dan diskriminasi bagi kaum Ata yang bahkan mengalami kekerasan, baik fisik maupun psikis. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian mengapa praktik tersebut terus dipertahankan dan dilestarikan, serta mengusulkan upaya untuk memutus rantai perhambaan semacam ini agar tidak menimbulkan persoalan sosial lanjutan, terutama bagi kaum Ata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan poskolonial. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Urgensi dari penelitian ini adalah untuk menghapus segala bentuk praktik perhambaan di masyarakat, khususnya di Kampung Raja Prailiu. Dengan menggunakan teori subaltern dari Gayatri Spivak ditemukan bawah praktik tersebut terus terjadi karena kaum Ata sebagai subaltern suara mereka tidak terdengar, pengalaman mereka dibungkam dan tidak ada “ruang” bagi mereka untuk bersuara. Kesimpulan dari penelitian ini adalah suara-suara kaum Ata sebagai subaltern perlu diperdengarkan di ruang-ruang publik.
From Moab to Selalang: Reading Ruth's conversion in the mirror of Iban women's narratives Pekuwali, John Riwu
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1319

Abstract

This study interprets the narrative of Ruth's conversion in the Old Testament as a hermeneutical model for understanding the faith experience of Dayak Iban women in Selalang, Malaysia, particularly through the story of Ibu Lega. Conversion is not viewed merely as a formal change of religion, but as a complex relational, cultural, and spiritual process. Using a narrative and intertextual hermeneutic approach, this research explores how conversion emerges from experiences of loss, vulnerability, and relational love. Ibu Lega, who chose to remain in the Longhouse after her husband's death to care for her in-laws, created a space for the growth of Christian faith through her steadfastness. In this context, conversion does not reject culture but transforms it into a new form of embodied spirituality lived in daily practices. Like Ruth, Ibu Lega’s path to faith did not pass through institutional religion, but through embodied acts of love and sacrifice. This narrative challenges dogmatic colonial mission models and proposes an alternative theology of conversion that is contextual, relational, and intercultural. As a communal spiritual space, the Longhouse becomes a locus for liberating faith transformation that honors local cultural wisdom.
Edukasi sebagai evangelisasi: Reformulasi teologis pendidikan kristiani dalam lanskap misi poskolonial Tambunan, Sarina
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1360

Abstract

This study explores the theological reformulation of Christian education as an evangelization strategy in the context of post-colonial mission. Through a critical analysis of traditional missiological paradigms, the study identifies the epistemological transformations necessary to contextualize Christian education in the contemporary global landscape. Using a critical hermeneutical approach and theological-practical analysis, the study produces a new conceptual framework that positions education as an emancipatory and dialogical modus operandi of evangelization. The findings suggest that post-colonial Christian education requires the deconstruction of hegemonic paradigms and the reconstruction of pedagogical praxis centered on holistic transformation. The theoretical and practical implications of this reformulation contribute to the development of a more inclusive and contextual contemporary missiology.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi reformulasi teologis pendidikan Kristiani sebagai strategi evangelisasi dalam konteks misi post-kolonial. Melalui analisis kritis terhadap paradigma misiologi tradisional, studi ini mengidentifikasi transformasi epistemologis yang diperlukan untuk mengkontekstualisasikan pendidikan Kristiani dalam lanskap global kontemporer. Menggunakan pendekatan hermeneutika kritis dan analisis teologis-praktis, penelitian ini menghasilkan kerangka konseptual baru yang memposisikan edukasi sebagai modus operandi evangelisasi yang emansipatif dan dialogis. Temuan menunjukkan bahwa pendidikan Kristiani post-kolonial memerlukan dekonstruksi paradigma hegemonik dan rekonstruksi praksis pedagogis yang berpusat pada transformasi holistik. Implikasi teoretis dan praktis dari reformulasi ini berkontribusi pada pengembangan misiologi kontemporer yang lebih inklusif dan kontekstual.
Teologi indigenous dan rekonsiliasi bangsa: Dekonstruksi dan rekonstruksi nilai-nilai kearifan lokal sebagai paradigma pemulihan sosial di Indonesia Kause, Munatar
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1015

Abstract

This study examines the construction of indigenous theology as a foundation for national reconciliation by deconstructing and reconstructing local wisdom values in Indonesia. Drawing on Stephen Bevans's contextual theology methodology and Robert Schreiter's framework for constructing local theology, this research examines how indigenous religious values can serve as bridges for social healing in post-conflict Indonesian society. Through qualitative analysis of indigenous traditions, such as Pela Gandong and Aluk Mappurondo, as well as various other local wisdoms, this study reveals that indigenous theology offers alternative paradigms for reconciliation that are more culturally rooted and sustainable than Western-imposed models. The findings demonstrate that integrating indigenous cosmological understanding with Christian theological reflection creates transformative potential for national resilience. This research contributes to the development of Indonesian contextual theology, which respects cultural plurality while maintaining theological integrity, and offers practical implications for peacebuilding and social reconstruction in Indonesia's multi-religious society. Abstrak Penelitian ini mengkaji konstruksi teologi indigenous sebagai fondasi rekonsiliasi bangsa melalui dekonstruksi dan rekonstruksi nilai-nilai kearifan lokal di Indonesia. Menggunakan metodologi teologi kontekstual Stephen Bevans dan kerangka konstruksi teologi lokal Robert Schreiter, penelitian ini menganalisis bagaimana nilai-nilai religius indigenous dapat berfungsi sebagai jembatan pemulihan sosial dalam masyarakat Indonesia pascakonflik. Melalui analisis kualitatif tradisi indigenous seperti Pela Gandong, Aluk Mappurondo, dan kearifan lokal lainnya, studi ini mengungkapkan bahwa teologi indigenous menawarkan paradigma alternatif rekonsiliasi yang lebih berakar budaya dan berkelanjutan dibanding model-model yang dipaksakan dari Barat. Temuan menunjukkan bahwa integrasi pemahaman kosmologis indigenous dengan refleksi teologis Kristen menciptakan potensi transformatif bagi resiliensi bangsa. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teologi kontekstual Indonesia yang menghargai pluralitas budaya sambil mempertahankan integritas teologis, menawarkan implikasi praktis bagi pembangunan perdamaian dan rekonstruksi sosial dalam masyarakat Indonesia yang multi-religius.
Pendidikan Kristiani dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan: Interseksionalitas pemikiran Dietrich Bonhoeffer tentang relasi sosial-ekonomi Sumarno, Yuel
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1034

Abstract

This study examines the role of Christian education in realizing sustainable development, particularly in the socio-economic dimension re-lated to SDG 1 (No Poverty), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), and SDG 10 (Reduced Inequalities). Using an intersectional approach, this research examines the role of Christian education in shaping character, promoting economic self-reliance, and fostering social cohesion. Dietrich Bonhoeffer’s concepts of Stellvertretung (vicarious responsibility) and being-for-others serve as the theological framework to underscore the pu-blic dimension of Christian faith. The findings suggest that Christian edu-cation can serve as a transformative agent, integrating faith, practical skills, work ethics, and social solidarity. Vocational education, the empowerment of vulnerable groups, and the formation of ethical leadership establish Christian education as a strategic means of addressing inequality, struc-tural poverty, and marginalization. Accordingly, the proposed new para-digm is that sustainable development should not rely solely on economic growth but must also integrate spirituality and social justice.   Abstrak Penelitian ini menelaah peran pendidikan Kristiani dalam me-wujudkan pembangunan berkelanjutan, khususnya pada dimensi sosial-ekonomi yang berhubungan dengan SDGs 1 (No Poverty), SDGs 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDGs 10 (Reduced Inequalities). Dengan me-nggunakan pendekatan interseksional, penelitian ini mengkaji kontribusi pendidikan Kristen dalam membentuk karakter, memperkuat kemandi-rian ekonomi, dan membangun kohesi sosial. Pemikiran Dietrich Bonhoef-fer tentang Stellvertretung (tanggung jawab perwakilan) dan being-for-others (hidup bagi orang lain) dijadikan kerangka teologis untuk menegas-kan dimensi publik iman Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Kristiani dapat menjadi agen transformatif yang mengintegra-sikan iman, keterampilan praktis, etika kerja, dan solidaritas sosial. Pendi-dikan vokasional, pemberdayaan kelompok rentan, dan pembentukan ke-pemimpinan etis menjadikan pendidikan Kristiani sarana strategis untuk mengatasi ketimpangan, kemiskinan struktural, dan marginalisasi. De-ngan demikian, paradigma baru yang ditawarkan adalah pembangunan berkelanjutan tidak semata bertumpu pada pembangunan ekonomi, tetapi juga pada integrasi spiritualitas dan keadilan sosial.
Teologi kerukunan dalam praktik homiletika: Konstruksi model khotbah profetik-dialogis untuk masyarakat multikultural Sarmauli; Risvan, Latupeirissa; Lilyantie; Lianto; Surya, Agus
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1063

Abstract

This study examines the development of a prophetic-dialogical preaching model as a means of fostering interfaith harmony in multicultural societies. Through qualitative research employing hermeneutical and phenomenological approaches, this article analyzes the theological foundations of harmony and their implementation in homiletical practices. The findings reveal that prophetic-dialogical preaching integrates three essential dimensions: theological depth rooted in biblical narratives, prophetic courage in addressing social justice, and dialogical openness toward religious plurality. This model transforms traditional homiletics from monological proclamation into participatory communication that acknowledges the presence of the religious other. The study contributes to contemporary homiletical discourse by offering a contextual framework that balances evangelical identity with inclusive social engagement, particularly relevant for Indonesian multicultural contexts. Abstrak Penelitian ini mengkaji konstruksi model khotbah profetik-dialogis sebagai instrumen pembangunan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat multikultural. Melalui penelitian kualitatif dengan pendekatan hermeneutis dan fenomenologis, artikel ini menganalisis fondasi teologis kerukunan dan implementasinya dalam praktik homiletika. Temuan menunjukkan bahwa khotbah profetik-dialogis mengintegrasikan tiga dimensi esensial: kedalaman teologis yang berakar pada narasi biblika, keberanian profetik dalam menyuarakan keadilan sosial, dan keterbukaan dialogis terhadap pluralitas agama. Model ini mentransformasi homiletika tradisional dari proklamasi monologis menjadi komunikasi partisipatif yang mengakui kehadiran liyan religius. Studi ini berkontribusi pada diskursus homiletika kontemporer dengan menawarkan kerangka kontekstual yang menyeimbangkan identitas evangelikal dengan keterlibatan sosial inklusif, khususnya relevan untuk konteks multikultural Indonesia.
Inkarnasi mendalam dan krisis iklim: Menuju eko-kristologi penebusan planetari di era antroposen Putri, Agustin Soewitomo; Pintakhari, Benyamin
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1079

Abstract

This article explores the theological concept of deep incarnation as a framework for addressing the climate crisis in the Anthropocene epoch. Drawing from contemporary eco-theological discourse, particularly the work of Niels Henrik Gregersen and Elizabeth Johnson, this study examines how the incarnation of Christ extends beyond humanity to encompass all creation. The research employs a systematic theological methodology, integrating biblical exegesis, patristic sources, and contemporary ecological science. The article argues that deep incarnation provides a robust theological foundation for environmental ethics by affirming God's redemptive presence within the entire cosmos. This eco-Christological approach challenges anthropocentric interpretations of salvation and calls for a renewed understanding of humanity's role as co-creators in the planet's healing. The findings suggest that deep incarnation theology offers transformative potential for Christian environmental engagement in the Anthropocene. Abstrak Artikel ini mengeksplorasi konsep teologis inkarnasi mendalam sebagai kerangka kerja untuk mengatasi krisis iklim di era Antroposen. Berdasarkan wacana eko-teologi kontemporer, khususnya karya Niels Henrik Gregersen dan Elizabeth Johnson, penelitian ini mengkaji bagaimana inkarnasi Kristus melampaui kemanusiaan untuk mencakup seluruh ciptaan. Penelitian menggunakan metodologi teologi sistematis, mengintegrasikan eksegesis alkitabiah, sumber-sumber patristik, dan ilmu ekologi kontemporer. Artikel ini berargumen bahwa inkarnasi mendalam menyediakan fondasi teologis yang kuat untuk etika lingkungan dengan menegaskan kehadiran redemptif Allah dalam seluruh kosmos. Pen-dekatan eko-kristologis ini menantang interpretasi antroposentris tentang keselamatan dan menyerukan pemahaman baru tentang peran manusia sebagai rekan pencipta dalam penyembuhan planet. Temuan menunjukkan bahwa teologi inkarnasi mendalam menawarkan potensi transformatif untuk keterlibatan lingkungan Kristen di era Antroposen.

Page 2 of 3 | Total Record : 25