cover
Contact Name
Yuniar Siska Novianti
Contact Email
yuniar@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
geosapta@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal GEOSAPTA
ISSN : 24603457     EISSN : 25275844     DOI : -
Jurnal Geosapta- Geosapta is a scientific period journal which is published in every January and July every year, contains scientific articles on Geosciences for Mining Applications from Exploration & Geology, Geomechanics, Coal and Mineral Processing, Management and Mineral-Coal Economic, and Mining Environment.
Arjuna Subject : -
Articles 215 Documents
IDENTIFIKASI VARIASI MASERAL BERDASARKAN ANALISIS PETROGRAFI DI FORMASI WARUKIN (SEAM O DAN SEAM P) KABUPATEN TAPIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Annisa Annisa; Karina Shella Putri; Wilda Putri Oktavianti
Geosapta Vol 7, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v7i1.10111

Abstract

Maseral merupakan bahan organik penyusun batubara yang terbagi atas tiga grup, yaitu grup maseral vitrinit, liptinit dan inertinit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi maseral dan nilai reflektansi vitrinit pada batubara. Pengamatan mikroskopis yang dilakukan pada sampel batubara menggunakan metode analisis petrografi. Conto batubara diambil dari lapisan batubara O dan lapisan batubara P  pada Formasi Warukin Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan. Sampling dilakukan pada seam batubara expose atau seam yang sudah dilakukan proses penambangan (coal getting), sampel dipreparasi untuk pembuatan sayatan poles. Berdasarkan hasil analisis petrografi jumlah komposisi grup maseral batubara untuk vitrinit pada lapisan batubara O bagian Roof 72,2%, bagian Body 68,8% dan bagian Floor 60,0%; liptinit bagian Roof 1,6 %, Body 2,2% dan Floor 0,6% sedangkan group maseral inertinit bagian Roof 21,2 %, Body 25,0% dan Floor 36,4%. Komposisi grup maseral batubara untuk vitrinit pada lapisan batubara P bagian Roof 72,8%, bagian Body 72,2% dan bagian Floor 66,2%; liptinit bagian Roof 1,4 %, Body 1,6% dan Floor 2,2% sedangkan group maseral inertinit bagian Roof 23,2 %, Body 21,0% dan Floor 30,4%. Hasil pengamatan ini memberikan informasi variasi maseral batubara seperti pada umumnya batubara Indonesia yang didominasi oleh grup maseral vitrinit. Hasil analisis terhadap reflektansi batubara menunjukkan hasil Rank Batubara Formasi Warukin Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan adalah Sub-Bituminus. Kata-kata kunci: maseral, vitrinit, liptinit, inertinit, reflektansi
ANALISA KUALITAS BATUGAMPING SEBAGAI BAHAN BAKU SEMEN PADA DAERAH WAANGU-ANGU KAB. BUTON PROV. SULAWESI TENGGARA Muhamad Hardin Wakila; Citra Auliani Chalik; Nur Asmiani; Abdul Salam Munir; Muhammad Idris Juradi; Annisa Annisa
Geosapta Vol 7, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v7i1.8623

Abstract

Saat ini industri semen tengah gencar dikembangkan di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur, sehingga eksplorasi batugamping sebagai bahan baku semen sedang intens dilakukan. Salah satu daerah yang prospek untuk eksplorasi batugamping adalah daerah Waangu-angu Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal ini dikarenakan kondisi geologi daerah penelitian yang didominasi oleh batuan sedimen, khususnya batugamping. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas batugamping di daerah penelitian untuk digunakan sebagai bahan baku semen dan menentukan sebaran batugamping di daerah penelitian. Metodologi penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan yang terdiri dari pengambilan data lapangan, analisa laborotorium, dan interprestasi peta. Berdasarkan hasil analisa XRF, dapat diketahui bahwa keseluruhan sampel pada 3 stasiun pengamatan menunjukkan kandungan CaO yang cukup tinggi yakni mencapai 55 %, sehingga batugamping pada daerah penelitian dapat dikategorikan ke dalam batugamping kualitas tinggi (high grade limestone) karena memiliki kandungan CaO > 48 %. Sedangkan dari hasil interpretasi peta dapat diketahui arah sebaran umum batugamping di daerah peneltian adalah relatif ke arah timur laut-barat daya. Jadi dapat disimpulkan batugamping pada daerah penelitian memiliki kualitas yang tinggi (high grade limestone) sehingga baik digunakan untuk bahan baku semen dan arah sebarannya relatif ke arah timur laut-barat daya. Kata-kata kunci: batugamping, semen, XRF, arah sebaran, CaO.  
KARAKTERISASI MINERAL DAN GEOKIMIA TAILING TAMBANG TIMAH PULAU BANGKA BAGIAN UTARA Delita Ega Andini; Fajar Indah Puspita Sari
Geosapta Vol 6, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v6i2.7162

Abstract

Tailings in this study are the result of Jigs washing in the mining process. This 'mining waste' interesting to study because there is no information that explains the relationship between mineral content and geochemistry so that it has not been widely used. The method used to determine the mineral and geochemical characteristics of tailings is X-ray spectroscopy using XRD and XRF. The mineral found in the tin mine tailings on northern Bangka Island (Pemali, Jebus, Tempilang, and Mapur) is quartz and kaolinite. The trace element shows main Rare Earth Elements (REE) Ce, La, Nd, Sm, Ta, and Y with various concentrations. Radioactive elements are found: Uranium and Yttrium. They are thought to originate from type I granite rocks with acid-to-moderate magma-forming compositions. The affinity of magma forming granite tailings studied was High K Calc Alkaline and Calc-Alkaline. This explains the presence of REE and the radioactive elements in tailings even though they are not present in carrier minerals such as monazite and xenotime.
ANALISIS KESTABILAN LERENG DISPOSAL IPD PQRT PIT WEST MENGGUNAKAN METODE BISHOP PT BUMA JOB SITE LATI KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR Sri Wahyuni; Nurliah Jafar; Habibie Anwar; Abd. Salam Munir
Geosapta Vol 7, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v7i1.7702

Abstract

Disposal merupakan tempat pembuangan material yang berada di dalam tambang maupun di luar area penambangan atau biasa disebut IPD (in pit dump) dan OPD (out pit dump). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kestabilan lereng dari segi keamanan. Adanya perubahan dari geometri lereng ini dapat mengurangi masalah yang mungkin akan terjadi, yang dapat menyebabkan lereng mengalami pergerakan. Untuk menganalisis dan pengolahan data menggunakan software Rocscience slide dengan metode bishop. Berdasarkan analisis yang dilakukan pada disposal PQRT Pit West diperoleh empat sayatan, lereng aktual sayatan A sampai D mendapatkan hasil FK > 1,3. Selanjutnya untuk perencanaan penutupan lumpur pada area kaki disposal sayatan A sampai D didapatkan FK < 1,3 dimana geometri yang digunakan yaitu standar dari perusahaan dengan tinggi jenjang tunggal 10 meter, dengan slope 450 untuk single slope dan lebar jenjang tunggal 30 meter. Hasil ini, maka perlu dilakukan upaya penanggulangan untuk mencegah terjadinya gangguan kestabilan lereng disposal seperti merancang ulang geometri lereng, maka didapatkan geometri yang sesuai dimana FK > 1,3 lereng dinyatakan stabil atau aman, yaitu lebar jenjang 50 sampai 100 meter dengan tinggi lereng keseluruhan 44 meter, sudut keseluruhan lereng 70, sesuai dengan SOP (Standar Operasional Perusahaan) apabila faktor keamanan lereng timbunan dengan tinggi lereng < 100 meter, maka minimum FK yaitu 1,3. Kata kunci: disposal, kestabilan lereng, faktor keamanan, sayatan
PENGARUH SUHU PEMANASAN PADA PROSES UPGRADING BATUBARA DENGAN PENAMBAHAN SARANG LEBAH TERHADAP KARAKTERISTIK BATUBARA RR. Yunita Bayu Ningsih; RR. Harminuke Eko Handayani; Adang Suherman; Syarifudin Syarifudin; Siti Rohma
Geosapta Vol 6, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v6i2.8376

Abstract

Karakteristik batubara yang dihasilkan oleh proses upgrading pada kondisi evaporasi dipengaruhi oleh suhu pemanasan yang digunakan. Disisi lain pemanasan pada kondisi evaporasi berdampak pada timbulnya rekahan pada permukaan batubara sehingga dapat menyerap air kembali ketika proses upgrading selesai. Untuk itu diperlukan bahan aditif yang bersifat hidrofobik untuk melapisi batubara sehingga dapat menutupi rekahan batubara. Salah satu material yang dapat digunakan adalah sarang lebah. maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan penambahan sarang lebah terhadap karakteristik batubara. Penelitian ini dilakukan pada skala laboratorium. Variabel yang digunakan adalah suhu pemanasan yaitu 0,100,150,200, 250 0C. Pada penelitian ini diamati karakteristik batubara yang dipanaskan pada beberapa kondisi suhu pemanasan dan akan dibandingkan karakteristik batubara tanpa dan dengan penambahan sarang lebah. Pengujian yang dilakukan meliputi proximate analisis, nilai kalori, lama pembakaran dan kemampuan penyerapan air. Hasil penelitian menunjukan bahwa suhu pemanasan dan penambahan sarang lebah berpengaruh terhadap karakteristik batubara. Semakin meningkatnya suhu maka kandungan moisture pada batubara cenderung semakin menurun sedangkan kandungan abu, lama penyalaan, kemampuan penyerapan air dan nilai kalori cenderung semakin meningkat. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa batubara dengan penambahan sarang lebah memiliki kandungan moisture dan kemampuan penyerapan air yang lebih rendah serta nilai kalori, kandungan abu dan lama pembakaran yang lebih tinggi daripada batubara tanpa penambahan sarang lebah. Kata kunci: Upgrading, batubara,pelapis, sarang lebah
STUDI PEMANFAATAN CAMPURAN BOTTOM ASH BATUBARA DENGAN SERBUK KAYU DAN ARANG TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI BIOBRIKET DITINJAU DARI PARAMETER KUALITAS Agus Triantoro; Adip Mustofa; Aggraini Wahyu Saputri
Geosapta Vol 7, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v7i1.10235

Abstract

Sisa hasil pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar pada PLTU menghasilkan limbah  fly ash dan bottom ash dalam jumlah yang cukup banyak dan belum ada pemanfaatan dari limbah PLTU, jadi dikawatirkan dapat menimbulkan dampak yang berbahaya bagi lingkungan sekitar. Limbah yang banyak dimanfaatkan saat ini adalah fly ash, sedangkan untuk bottom ash masih minim pemanfaatannya. Biobriket campuran bottom ash batubara dan arang tempurung kelapa bisa menjadi alternatif bahan bakar baik digunakan untuk rumah tangga maupun industry kecil. Keunggulan yang dimiliki biobriket ini adalah murah dan ekonomis karena dapat untuk memproduksinya dapat dilakukan dengan sederhana dan mudah, panas yang dihasilkan nantinya juga cukup tinggi, serta bottom ash batubara yang tersedia cukup melimpah yang berasal dari beberapa PLTU yang ada di Kalimantan Selatan. Arang tempurung kelapa berasal dari hasil dari pengolahan tempurung kelapa yang di proses menjadi arang dan potensi tempurung kelapa di Kalimantan Selatan cukup banyak. Serbuk kayu merupakan sisa olahan dari kayu yang dibuat bahan bangunan atau mebel. Beberapa hal yang menjadi permasalahan dalam pemanfaatan biobriket bottom ash  adalah adanya bau yang kurang enak saat pembakaran, proses penyalaan yang lama serta ketahanan briket yang masih kurang sehingga mudah pecah. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil  kualitas  biobriket terbaik yang berasal dari  bottom ash yang dicampur bersama serbuk kayu dan arang tempurung kelapa, yang didasarkan pada ukuran partikel serta komposisi biobriket. Metode yang digunakan yaitu dengan melakukan uji analisa yang dilakukan di laboratorium. Parameter kualitas  uji yang digunakan yaitu  kandungan moisture, kandungan volatile matter, kandungan ash, calorific value, uji pembakaran  dengan yang dilihat dari  komposisi biobriket dan variasi ukuran partikel. Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan biobriket terbaik terdapat  pada ukuran partikel 80 mesh dengan kandungan bottom ash 40%, arang tempurung kelapa 20%, serbuk kayu 20% perekat 15% serta persentase kapur 5% dengan  hasil analisa parameter kualitas untuk kandungan inherent moisturenya adalah 5,77%,   kandungan Ash 10,74%, Volatile Matter 42,77%, Kalori 6.624,56 Kkal/kg serta waktu  pembakaran yang dibutuhkan adalah 247 detik Kata kunci : Bottom ash, Biobriket, arang, Serbuk kayu
SLOPE MASS RATING DAN STABILITAS LERENG BATUPASIR FORMASI BALANGBARU DUSUN PALUDDA DESA PATAPPA KECAMATAN PUJANANTING KABUPATEN BARRU Haslan Haslan; Djamaluddin Djamaluddin; Habibie Anwar; Abd. Salam Munir
Geosapta Vol 7, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v7i1.7802

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui kualitas batuan daerah penelitian berdasarkan klasifikasi Rock Mass Rating dari data yang ada di lapangan dan hasil pengujian laboratorium; (2) Menentukan jenis dan arah longsoran pada lereng berdasarkan proyeksi stereografis dari data scanline yang dilakukan di lokasi penelitian; (3) Menganalisis kondisi lereng berdasarkan klasifikasi Slope Mass Rating dari data Rock Mass Rating serta arah dan jenis longsoran; (4) Menentukan stabilitas lereng batupasir. Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu dapat memberikan pengetahuan tambahan kepada pembaca tentang kualitas batuan berdasarkan klasifikasi Rock Mass Rating, penentuan arah dan jenis longsoran berdasarkan proyeksi stereografis, analisis Slope Mass Rating, serta serta penetuan stabilitas lereng batupasir. Penelitian ini pula dapat memberikan kontribusi referensi dalam bidang geoteknik serta hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan pertimbangan bagi penelitian sejenis untuk selanjutnya. Metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah  profiling yaitu mengukur geometri lereng; scan-line yaitu mengukur orientasi bidang diskontinuitas pada permukaan yang dianggap mewakili orientasi bidang bidang diskontinu secara keseluruhan; dan preparasi sampel batuan yang didapatkan dari lapangan akan dipotong sesuai dengan ukuran pengujian. Menentukan pembobotan Slope Mass Rating dibutuhkan klasifikasi batuan dengan menggunakan Rock Mass Rating, penentuan stabilitas lereng menggunakan software slide V6.0. Hasil penelitian menujukkan bahwa bobot total  massa batuan pasir yang didapatkan menggunakaan pembobotan Rock Mass Rating adalah 46, berada pada kelas III dengan deskripsi batuan sedang. Terdapat dua potensi tipe longsoran berdasarkan hasil analisis proyeksi stereografis yaitu potensi longsoran baji dengan arah longsoran yaitu N30oE dan longsoran guling dengan arah longsoran N48oE. Bobot total massa  yang didapatkan menggunakan pembobotan Slope Mass Rating untuk potensi longsoran baji yaitu 37 yang berada pada kelas II dan pada potensi longsoran guling yaitu 56,8 yang berada pada kelas III. Untuk stabilitas lereng memiliki nilai faktor keamanan 0,647 yang menunjukkan bahwa lereng tersebut tidak stabil.               Kata kunci: kestabilan lereng, klasifikasi massa batuan, RQD, RMR, SMR
ANALISIS MINE DEWATERING PADA TAMBANG BATUBARA DI PIT SM-A PT SIMS JAYA KALTIM KABUPATEN PASER PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Firman Nullah Yusuf; Anshariah Anshariah; Nurlia Jafar; Darman Darman
Geosapta Vol 6, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v6i2.6400

Abstract

PT. Sims Jaya Kaltim adalah perusahaan yang melakukan kegiatan penambangan batubara menggunakan sistem tambang terbuka. Salah satu masalah yang selalu dihadapi dalam kegiatan penambangan ini adalah masuknya air ke area tambang. Air yang masuk akan menggenangi lokasi penambangan sangat mengganggu proses penambangan batubara jika tidak ditangani dengan benar mengakibatkan produktivitas menurun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses mine dewatering, debit air limpasan,volume sump, dan kapasitas pompa yang bekerja sudah optimal atau belum . Perhitungan curah hujan rencana ditentukan menggunakan distribusi gumbel, perhitungan curah hujan rencana selama 8 tahun adalah 121,78 mm/hari. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh waktu konsentrasi 1,2 jam, intensitas curah hujan 37,39 mm/jam, koefisien limpasan 0,75 dan daerah tangkapan hujan 3,58 km2 sehingga didapatkan debit air limpasan yang masuk ke sump adalah 120.566,956 m3/jam dan volume sump 2.355.575,89 m3. Untuk mengeluarkan air yang berada di sump selama 5 hari digunakan 4 unit pompa KSB 150 dengan pipa 8 inci atau mengoptimalkan pompa yang ada dengan mengganti instalasi pipa dengan pipa 12 inci.
KARAKTERISASI MINERAL IKUTAN TIMAH PEMBAWA REE DI BANGKA SELATAN DAN BADAU, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Syafrizal Syafrizal; Arie Naftali Hawu Hede; Andy Yahya Al Hakim; Rudy Fernando Sihite
Geosapta Vol 7, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v7i1.8652

Abstract

Pluton granit di daerah Bangka Belitung merupakan sumber penghasil timah terbesar di Indonesia. Selain mineral timah dalam bentuk kasiterit, batuan ini juga menghasilkan mineral ikutan timah (MIT) termasuk mineral pembawa Rare Earth Elements (REE) seperti  monasit, xenotim, dan zirkon. Seiring dengan kebutuhan REE yang semakin meningkat dan nilai ekonomis yang tinggi, mendorong untuk dapat dilakukannya konservasi mineral pembawa REE termasuk di Indonesia saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mineral pembawa REE yang terkait dengan MIT. Untuk keperluan tersebut, sebanyak 51 sampel diambil dari daerah Bangka Selatan di Pulau Bangka dan Badau di Pulau Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang terdiri dari endapan primer, endapan sekunder, konsentrat, dan sisa hasil pengolahan (SHP). Karakteristik dan kehadiran MIT pembawa REE diamati menggunakan mikroskop polarisasi dan analisis X-ray diffraction (XRD). Pengamatan mikroskopi menunjukkan bahwa kehadiran monasit yang memiliki warna kekuningan dan zirkon yang memiliki refleksi dalam yang transparan. Analisis XRD menunjukkan bahwa mineral yang paling dominan ditemui pada hampir keseluruhan sampel adalah kuarsa, sedangkan MIT pembawa REE lebih banyak dijumpai pada konsentrat dan SHP. MIT pembawa REE yang umumnya hadir dalam sampel adalah monasit, zirkon, dan sedikit xenotim, selain itu mineral besi oksida juga hadir dalam jumlah cukup besar sebagai ilmenit.
OBSERVASI HASIL PELEDAKAN MENGGUNAKAN METODE PELEDAKAN NONEL DAN ELECTRONIC DETONATOR Ahmad Rizani; Kartini Kartini; Khairunnisa Umar
Geosapta Vol 6, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v6i2.8444

Abstract

Metode peledakan sangat berguna untuk mempermudah dan mempercepat proses kerja alat muat dan alat angkut dalam kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup (overburden). Peledakan dengan metode electronic detonator memiliki keakuratan dalam pengaturan waktu tunda sehingga bahan peledak yang digunakan lebih efisien, fragmentasi lebih seragam, dan getaran peledakan yang terkontrol. Sedangkan metode nonel merupakan metode yang sudah umum digunakan pada kegiatan pembongkaran overburden dikarenakan lebih efisien dibanding menggunakan metode listrik. Untuk mengetahui hasil peledakan menggunakan kedua metode tersebut, maka dilakukan pengamatan pada salah satu perusahaan pertambangan di Indonesia.Pengamatan dilakukan secara langsung di lapangan terhadap hasil peledakan menggunakan nonel dan electronic detonator. Hasil peledakan yang diamati meliputi powder factor, getaran dan digging time alat gali muat. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dengan burden 8 m dengan spasi 9 m untuk peledakan nonel di dapatkan powder factor  0,16 kg/bcm, rata rata digging time 12,36 detik, dampak getaran 1,56 mm/s. Dan untuk peledakan elektronik didapatkan powder factor 0,09 kg/bcm, rata rata digging time 9,73 detik, serta dampak getaran 1,17 mm/s. Oleh sebab itu disimpulkan bahwa menggunakan metode elektronik mengurangi digging time dan dampak getaran yang lebih terkontrol. Kata-kata kunci: Metode nonel, electronic detonator, digging time, getaran