Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (The Public Health Science Journal)
JIKM menerima naskah publikasi dari hasil penelitian atau naskah tinjauan pustaka (literature review) yang belum pernah dan tidak akan dipublikasikan di tempat lain dalam bentuk cetakan maupun digital (e-journal). Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (JIKM) mencakup artikel di bidang Manajemen Pelayanan Kesehatan, Manajemen Rumah Sakit, Kesehatan Reproduksi, Epidemiologi, Biostatistik, Pendidikan dan Promosi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Kebijakan Kesehatan, Gizi Kesehatan Masyarakat, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Articles
307 Documents
Hubungan Asupan Vitamin D dan Keluhan Muskuloskeletal pada Kelompok Usia 17-35 Tahun
Florent Hasthiono;
Komang Ardi Wahyuningsih;
Veronika Maria Sidharta;
Nawanto Agung Prastowo
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 02 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33221/jikm.v12i02.1676
Defisiensi vitamin D masih menjadi masalah kesehatan global sampai saat ini, tidak terkecuali negara tropis yang memiliki lebih banyak paparan sinar matahari. Studi di negara-negara Eropa, Amerika dan Asia menunjukkan tingkat defisiensi vitamin D berkisar antara 45-90%. Indonesia termasuk negara dengan tingkat defisiensi vitamin D yang tinggi, tetapi laporan mengenai status vitamin D dan upaya pencegahannya belum banyak dilakukan. Keluhan pada muskuloskeletal akan menimbulkan gangguan atau sensasi ketidaknyamanan, memengaruhi performa dalam bekerja dan mengurangi produktivitas terutama pada kelompok usia dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan vitamin D dan keluhan muskuloskeletal pada kelompok usia 17-35 tahun pada mahasuswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unika Atma Jaya dan kerabatnya pada rentang usia tersebut. Desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Pengambilan data dilakukan dengan metode consecutive sampling pada tahun 2021 di Indonesia. Asupan vitamin D diukur dengan Vitamin D Estimation Only - Food Frequency Questionnaire dan keluhan muskuloskeletal diukur dengan kuesioner Nordic Body Map. Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi-square. Subjek penelitian sebanyak 108 responden. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 67,6% responden dengan asupan vitamin D yang tidak adekuat dan 80,6% yang memiliki keluhan muskuloskeletal. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan vitamin D dengan keluhan muskuloskeletal pada kelompok usia 17-35 tahun (P-value= 0,379).
Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Sosial terhadap Kepatuhan Masyarakat dalam Penerapan Physical Distancing
Rindha Kusumawati;
Apriyani Apriyani;
Suwignyo Suwignyo;
Kartina Wulandari
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 02 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33221/jikm.v12i02.1791
Sebaran data kasus COVID-19 di berbagai dunia termasuk Kota Samarinda mengalami peningkatan dan diperparah dengan belum ditemukannya obat untuk penyakit ini. Masyarakat perlu mengetahui bahwa untuk mencegah penyebaran virus Corona adalah dengan physical distancing (menjaga jarak aman secara fisik). Oleh karena itu pengetahuan mengenai physical distancing dan dukungan sosial terhadap physical distancing perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan dan dukungan sosial terhadap kepatuhan masyarakat dalam penerapan physical distancing. Penelitian dilakukan di kota Samarinda pada bulan Juni-Juli tahun 2021. Sampel penelitian berjumlah 232 orang dengan menggunakan teknik accidental sampling. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel pengetahuan (P-value = 0,267) dan dukungan sosial (P-value = 0,079) tidak mempunyai hubungan dengan kepatuhan masyarakat tehadap penerapan physical distancing.
Pengaruh Pengetahuan dan Sikap terhadap Gangguan Kecemasan Akibat Pandemik COVID-19 pada Pelajar Sekolah Menengah Atas/Sederajat
Sri Sahayati;
Fx. Joko Krisdiyanto;
Rianti Alma Sari;
Heni Trisnowati
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 02 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33221/jikm.v12i02.1801
Pandemi COVID-19 sampai saat ini masih menimbulkan banyak problematika seperti masalah ekonomi, pendidikan, dan kematian. Kondisi pandemic berdampak bagi sluruh golongan umur manusia tak terkecuali pelajar SMA. Di sisi lain terdapat permasalahan penting untuk dikaji lebih jauh yaitu mengenai kesehatan mental pada pelajar SMA berupa gangguan kecemasan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pengetahuan dan sikap akibat terjadinya pandemi COVID-19 terhadap gangguan kecemasan yang dialami oleh pelajar SMA/sederajat di Kota Yogyakarta. Desain penelitian menggunakan cross sectional study dengan mengambil 137 pelajar sebagai responden yang berusia 15-19 tahun pada 6 SMA/sederajat di Kota Yogyakarta. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling dengan pengumpulan data menggunakan angket online. Sebagian besar pelajar memiliki pengetahuan (66%) dan sikap yang baik (71%), sedangkan gangguan kecemasan termasuk dalam tingkatan yang sedang (68%). Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan (P-value = 0,273) dan sikap (P-value = 0,092) terhadap gangguan kecemasan, namun secara simultan kedua faktor tersebut memiliki hubungan terhadap gangguan kecemasan (P-value = 0,049) walaupun tidak signifikan (7,5%). Pengetahuan dan sikap pelajar terkait COVID-19 bukan penyebab utama dalam timbulnya kecemasan walaupun memiliki pengaruh.
Pengaruh Perilaku Higiene Perorangan terhadap Kejadian Pityriasis Versicolor pada Santri
Dientyah Nur Anggina;
Thia Prameswarie;
Riliani Hastuti;
M. Renaldi Fahlevi
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 02 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33221/jikm.v12i02.1852
Pityriasis Versicolor merupakan penyakit yang cukup banyak ditemukan di Indonesia. Penyakit ini adalah penyakit infeksi kulit superfisial kronik yang disebabkan oleh genus Malassezia. Pondok pesantren merupakan tempat potensial terjadinya penyakit Pityriasis Versicolor karena memiliki higiene perorangan yang kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku higiene perorangan terhadap kejadian Pityriasis Versicolor pada santri. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel 88 santri yang diambil dengan metode proportional stratified random sampling. Uji statistik chi-square digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh. Hasil penelitian diperoleh data 57 responden (64,8%) menderita Pityriasis Versicolor dan 41 responden (83,7%) memiliki perilaku higiene perorangan yang buruk. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan antara perilaku higiene perorangan dengan kejadian Pityriasis Versicolor pada santri (P-value = 0,00005; OR = 7,367). Perilaku higiene perorangan jika ditinjau dari aspek perilaku mandi, tukar menukar handuk dan pakaian berpengaruh secara statistik terhadap kejadian Pityriasis Versicolor (P-value = 0,013; 0,030; 0,001). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh perilaku higiene perorangan dengan kejadian Pityriasis Versicolor pada santri.
Determinan Penerimaan Vaksin COVID-19 pada Masyarakat Muslim di Kota Tasikmalaya
Sri Maywati;
Nur Lina;
Yuldan Faturrahman
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 02 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33221/jikm.v12i02.1855
Pengendalian pandemi dengan penerapan protokol kesehatan telah membantu melandaikan kurva epidemi, namun belum dapat mengontrol penyebaran COVID-19 sehingga diperlukan strategi kekebalan kelompok (herd immunity) melalui program vaksinasi. Keraguan vaksin dan informasi yang salah menyebabkan hambatan besar untuk mencapai cakupan dan Herd Immunity di banyak negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis penerimaan vaksin COVID-19 dan determinannya pada masyarakat muslim di Kota Tasikmalaya. Sampel sebanyak 350 orang dipilih secara random pada populasi masyarakat muslim kota Tasikmalaya yang memenuhi syarat. Variabel sebagai determinan penerimaan vaksin COVID-19 dalam penelitian ini adalah umur, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, dan kepercayaan terhadap Vaksin COVID-19. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah responden yang sudah mendapatkan vaksin COVID-19 sebesar 44%. Faktor yang berhubungan dengan penerimaan Vaksin COVID-19 adalah pendidikan (P-value = 0,016), pekerjaan (P-value = 0,022), dan kepercayaan terhadap vaksin (P-value = 0,000). Adapun faktor yang tidak berhubungan dengan penerimaan vaksin yaitu umur, jenis kelamin dan status pernikahan. Perlu riset yang mendalam untuk memahami kepercayaan masyarakat terhadap vaksin COVID-19 khususnya pada masyarakat yang berpendidikan tamat SD sederajat dengan status pekerjaan tidak bekerja atau bekerja pada institusi non formal.
Pengaruh Implementasi Rujukan Berjenjang terhadap Skor Faktor Risiko Ibu Bersalin
Renata Ndaru Kusuma;
Suryani Yuliyanti;
Ratnawati Ratnawati
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 02 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33221/jikm.v12i02.1915
Rujukan pelayanan kesehatan merupakan faktor yang dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI). Namun, banyaknya fasilitas kesehatan yang memiliki angka rujukan yang tinggi, menunjukkan bahwa sistem rujukan belum berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh implementasi rujukan berjenjang terhadap faktor risiko ibu bersalin di Poli Obgyn Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional dilakukan pada 754 ibu bersalin yang dirawat di Poli Obgyn Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang (RSISA). Penelitian ini menggunakan data rekam medis dan Kartu Skor Poedji Rochjati. Data penelitian diuji menggunakan Uji Non parametrik Mann-Whitney. Terdapat 596 ibu bersalin sebelum dan 158 ibu bersalin setelah implementasi rujukan berjenjang dengan rerata skor Poedji Rochjati masing-masing adalah 12,61 dan 12,24. Terdapat perbedaan skor faktor risiko ibu bersalin sebelum dan sesudah implementasi rujukan berjenjang (P-value = 0,01). Kebijakan rujukan berjenjang efektif dalam menyeleksi kasus persalinan dengan risiko tinggi di rumah sakit tersier yang terlihat dari peningkatan rerata skor Poedji Rochjati bagi ibu bersalin setelah implementasi rujukan berjenjang di RSISA (12,24 vs. 14,00). Evaluasi lebih lanjut terkait skor risiko pasien di Rumah sakit tersier dan sekunder diperlukan sebagai salah satu indikator efektifitas rujukan berjenjang.
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif dan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) dengan Risiko Stunting pada Balita Usia 0-59 Bulan
Muhammad Naufal;
Hansen Hansen;
Ghozali Ghozali
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 02 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33221/jikm.v12i02.2008
Stunting merupakan permasalahan gizi buruk/kronik yang disebabkan pasokan gizi yang tidak sesuai sehingga tidak terpenuhi kebutuhan gizinya, dan masalah mendasar dari Stunting ini ialah permasalahan gizi bersifat jangka panjang. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah ada hubungan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif dan pemberian MP-ASI dengan risiko Stunting terhadap balita umur 0-59 bulan di Posyandu Kuping Gajah wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo, Kota Samarinda. Desain penelitian dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan teknik survei cross-sectional. Populasi penelitian ini ialah Balita usia 0-59 bulan di Posyandu Kuping Gajah wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo, Kota Samarinda dengan jumlah 76 responden. Teknik dalam pengambilan sampel penelitian ini menggunakan total sampling. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini ialah instrumen microtoise, pediatric scale, dan lembar kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara pemberian ASI eksklusif (P-value = 0,001; OR = 7,508) dan MP-ASI (P-value = 0,000; OR = 6,136) dengan risiko Stunting. Penelitian ini diharapkan sebagai sumber referensi pengembangan IPTEK serta dapat menjadi bahan evaluasi penyelenggaran program pendidikan ilmu kesehatan masyarakat khususnya perihal Stunting pada balita usia 0-59 bulan.
Tantangan Pencegahan Rabies Melalui Vaksinasi Hewan Penular Rabies (HPR) di Daerah Pariwisata Sanur, Bali
Made Indra Wijaya;
Made Kurnia Widiastuti Giri;
Made Agus Hendrayana
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 02 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33221/jikm.v12i02.2035
Penyakit rabies pertama kali dilaporkan terjadi di Bali, Indonesia pada bulan November 2008. Sebuah penyakit langka di provinsi yang sebelumnya dideklarasikan bebas penularan rabies. Pada tahun 2022, vaksinasi hewan penular rabies massal dipraktikkan sebagai strategi pencegahan primer, disertai dengan vaksinasi dari rumah ke rumah yang diimplementasikan sejak virus kembali dilaporkan. Namun, upaya-upaya kesehatan masyarakat ini belum berhasil mengendalikan kejadian luar biasa rabies. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tantangan (fasilitator dan barier) pencegahan rabies melalui vaksinasi hewan penular rabies (HPR) di daerah pariwisata Sanur. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan informan kunci yang dipilih secara purposive hingga data kualitatif yang kami dapatkan mencapai saturasi. Kami melakukan wawancara semi-terstruktur di daerah pariwisata Sanur selama satu bulan (1-31 Mei 2022). Analisis dilakukan melalui data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Berdasarkan temuan, komunikasi risiko harus ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan pemilik anjing tentang rabies. Promosi vaksinasi massal harus diberikan tepat waktu. Perubahan-perubahan kecil selama implementasi program di lokasi vaksinasi akan meningkatkan kepercayaan pemilik anjing. Terdapat perbedaan antara pemilik anjing dengan latar belakang sosial ekonomi menengah ke atas dengan pemilik anjing dengan latar belakang sosial ekonomi menengah ke bawah yang mempengaruhi keterlibatan mereka dalam program vaksinasi massal dan perbedaan ini harus diperhitungkan pada saat mengembangkan program serupa di masa yang akan datang.
Faktor Medication Error dari Perspektif Perawat pada Pelayanan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit
Oci Etri Nursanty;
Malihah Ramadhani Rum
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 02 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33221/jikm.v12i02.2179
Medication Errors (MEs) merupakan kegagalan tenaga kesehatan perawat dan medis dalam melakukan tugas dengan benar. Perawat menghabiskan 40% waktu mereka dalam melaksanakan sistem administrasi obat. Kesalahan pengobatan dapat menyebabkan rasa tidak percaya di antara pasien terhadap proses perawatan kesehatan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor utama kesalahan pengobatan dari perspektif perawat. Metode penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Populasi penelitian sebanyak 57 responden, tekhnik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuisioner yang terdiri dari karakteristik perawat dan faktor kejadian MEs dari tiga dimensi terkait yaitu perawat, lingkungan departemen, dan manajemen keperawatan. Hasil penelitian diketahui faktor kejadian MEs ditemukan berdasarkan skor rata-rata tertinggi pada dimensi departemen sebanyak 2,94 dengan faktor kejadian persentase tertinggi sebanyak 10,5% menyatakan setuju dikarenakan insensitas kerja yang tinggi. Skor rata-rata terendah ditemukan pada dimensi terkait perawat sebanyak 2,83 dengan faktor kejadian persentase tertinggi sebanyak 10,5% menyatakan setuju kejadian MEs dikarenakan kelelahan akibat terlalu banyak bekerja. Dapat disimpulkan bahwa proporsi kerja perawat yang tinggi mengakibatkan peningkatan aktivitas kerja perawat. Meningkatnya proposi kerja perawat mengakibatkan tingginya beban kerja perawat yang dapat menimbulkan stres kerja dan berdampak pada kelelahan. Hasil ini diharapkan menjadi acuan bagi lingkungan departemen perawat dalam mengatur kebijakan kerja sebagai upaya mencegah kejadian MEs.
Analisis Kepatuhan terhadap Rekomendasi Food Hygiene dan Perlindungan Personal untuk Pencegahan COVID-19 pada Masyarakat Perkotaan
Desy Sulistiyorini;
Eka Rokhmiati Wahyu Purnamasari
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 02 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33221/jikm.v12i02.2217
Langkah-langkah dalam ranah kesehatan masyarakat dan langkah-langkah sosial telah diterapkan di seluruh dunia untuk mencegah penyebaran COVID-19. Kepatuhan masyarakat terhadap rekomendasi tersebut menjadi kunci dalam mengendalikan pandemi secara efektif. Kawasan perkotaan memainkan peran penting sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi nasional sekaligus sebagai pusat pengendalian pandemi. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional yang dilakukan untuk menilai kepatuhan orang dewasa yang tinggal di wilayah Jabodetabek. Survei dilakukan pada Agustus-September 2022 melalui kuesioner online Sebanyak 515 peserta mengisi survei tersebut. Sebagian besar responden mengadopsi langkah-langkah higienis dan perlindungan pribadi yang direkomendasikan untuk menghindari penularan COVID-19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden, yang memiliki akses ke internet sebagian besar memiliki kepatuhan terhadap rekomendasi perlindungan personal dalam kategori baik. Variabel yang berhubungan dengan kepatuhan terhadap rekomendasi perlindungan personal adalah jenis kelamin responden (P-value = 0,003). Sedangkan variabel yang berhubungan dengan kepatuhan terhadap rekomendasi food hygiene adalah jenis kelamin (P-value = 0,015), tingkat pendidikan (P-value = 0,035), dan status komorbid (P-value = 0,02), Diperlukan edukasi secara berkelanjutan melalui berbagai media antar lintas pemangku kebijakan untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat, khususnya kepatuhan terhadap rekomendasi food hygiene.