cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
manuju@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Manuju : Malahayati Nursing Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26552728     EISSN : 26554712     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MANUJU : Malahayati Nursing Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan
Articles 1,723 Documents
Pengaruh Pelatihan Konselor Sebaya terhadap Pengetahuan Konseling Kesehatan Mental pada Mahasiswa Asrama Unires: Studi Kuasi-Eksperimen Nafisah, Masiva Naila; Puspitosari, Warih Andan
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23596

Abstract

ABSTRACT The increasing levels of stress and mental health problems among university students, particularly those residing in dormitories, highlight the need for interventions tailored to the dormitory living context. Peer counselor training is one strategy to strengthen mental health support among students. This study aimed to examine the effect of peer counselor training on knowledge regarding counseling for mental health problems among students of the University Residence (Unires) at Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. This quasi-experimental study employed a one-group pre-test–post-test design involving 43 students, selected using stratified random sampling based on dormitory clusters. The intervention consisted of a full-day, face-to-face peer counselor training delivered by a team of mental health professionals. Knowledge was measured using a questionnaire developed by the researchers based on the training module, administered before and after the training, and analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. The mean knowledge score increased from 11.53 before the training to 12.33 after the training; however, this difference was not statistically significant (p=0.067). The majority of participants (95.3%) had previously received information about mental health, indicating a relatively high baseline level of mental health literacy, which may have contributed to the non-significant change in scores. In this study, peer counselor training did not demonstrate a statistically significant effect on mental health counseling knowledge, although a descriptive increase in mean scores was observed. Nevertheless, the training may still be beneficial as an effort to strengthen and maintain knowledge and could be further optimized through more intensive practical sessions and ongoing supervision. Keywords: Peer Counselor, Mental Health, Dormitory Students, Training.  ABSTRAK Fenomena meningkatnya tingkat stres dan masalah kesehatan mental di kalangan mahasiswa, khususnya pada mahasiswa yang tinggal di asrama, menuntut perlunya intervensi yang sesuai dengan konteks kehidupan di asrama. Pelatihan konselor sebaya merupakan salah satu strategi untuk memperkuat dukungan kesehatan mental di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelatihan konselor sebaya terhadap pengetahuan tentang konseling masalah kesehatan mental pada mahasiswa University Residence (Unires) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian kuasi-eksperimen ini menggunakan desain one-group pre-test–post-test dan melibatkan 43 mahasiswa yang dipilih dengan teknik stratified random sampling berdasarkan klaster asrama. Intervensi berupa pelatihan konselor sebaya tatap muka selama satu hari penuh oleh tim profesional kesehatan jiwa. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner yang disusun peneliti berdasarkan modul pelatihan, diberikan sebelum dan setelah pelatihan, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon signed-rank. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 11,53 sebelum pelatihan menjadi 12,33 setelah pelatihan, namun perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik (p=0,067). Mayoritas peserta (95,3%) sudah pernah mendapatkan informasi tentang kesehatan mental sebelumnya, yang mengindikasikan literasi dasar kesehatan mental yang relatif tinggi dan berpotensi berkontribusi terhadap tidak signifikannya perubahan skor. Pelatihan konselor sebaya pada penelitian ini tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap pengetahuan konseling kesehatan mental, meskipun secara deskriptif terjadi peningkatan rerata skor. Namun demikian, pelatihan tetap berpotensi bermanfaat sebagai upaya penguatan dan pemeliharaan pengetahuan, serta dapat dioptimalkan melalui sesi praktik yang lebih intensif dan supervisi berkelanjutan.Kata Kunci: Konselor Sebaya, Kesehatan Mental, Mahasiswa Asrama, Pelatihan.
Pengaruh Kebiasaan Sarapan terhadap Kejadian Anemia pada Remaja Putri: Literature Review Permatasari, Nanda Indah; Utari, Diah Mulyawati
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23336

Abstract

ABSTRACT For adolescents, meeting nutritional needs by maintaining a regular breakfast habit is highly important. Breakfast is essential for adolescents as it supports overall health, cognitive performance, and academic achievement. Inadequate dietary intake is one of the contributing factors to the development of anemia. Anemia is a common nutritional problem during adolescence, characterized by decreased hemoglobin levels (Hb < 12 g/dL). This condition is more prevalent among adolescent girls due to increased iron requirements associated with growth and the replacement of iron lost during menstruation. To examine the effect of regular breakfast consumption on the incidence of anemia among adolescent girls. This study employed a literature review method to analyze the effect of breakfast consumption on the incidence of anemia among adolescent girls. Three databases were used to search for relevant articles: PubMed, Scopus, and Google Scholar, following specific inclusion and exclusion criteria. The inclusion criteria consisted of primary research articles that examined breakfast and anemia among junior and senior high school adolescent girls, published between 2015 and 2025, available in full text, open access, written in English or Indonesian, and sourced from Indonesian journals indexed by SINTA within the search year. For Google Scholar, only the first ten pages (approximately the first 100 articles) were considered. The exclusion criteria included review articles (literature or systematic reviews), grey literature, and unpublished studies. The selected articles were identified and analyzed using the PRISMA flowchart method. A total of eight articles were analyzed in this study. Seven out of the eight articles demonstrated that breakfast habits were significantly associated with the incidence of anemia among adolescent girls, while one article revealed a significant relationship between breakfast habits and nutritional status. Adolescent girls who frequently skip breakfast are more likely to experience anemia. In addition to developing the habit of having breakfast regularly, attention to adequate nutrient intake is also essential for adolescent girls to prevent the occurrence of anemia. Keywords: Breakfast, Anemia, Adolescent Girls.  ABSTRAK Bagi remaja, pemenuhan kebutuhan zat gizi dengan membiasakan mengonsumsi sarapan secara rutin merupakan hal yang sangat penting. Sarapan dibutuhkan oleh remaja untuk kesehatan dan kinerja kognitif serta akademik. Konsumsi makanan yang tidak mencukupi menjadi salah satu yang menyebabkan terjadinya anemia. Anemia merupakan salah satu masalah gizi yang umum terjadi pada masa remaja yang ditandai dengan penurunan kadar haemoglobin (Hb <12 g/dl). Kondisi ini lebih rentan dialami remaja putri karena kebutuhan akan zat besi yang meningkat akibat proses pertumbuhan dan mengganti kehilangan zat besi selama menstruasi. Mengengetahui pengaruh sarapan terhadap kejadian anemia pada remaja putri. Penelitian tersebut menggunakan metode literature review dalam analisis pengaruh sarapan terhadap kejadian anemia pada remaja putri. Ada tiga database yang digunakan untuk menelusuri artikel yaitu PuBmed, Scopus dan scholar dengan kriteria inkulsi dan kriteria eksklusi. Kriteria Inklusinya yaitu artikel primer yang menganalisis sarapan dan anemia pada remaja putri Tingkat SMP dan SMA, terbit tahun 2015-2025, full text, open access, artikel dari jurnal Indonesia berindeks sinta di tahun pencarian, berbahasa Ingris dan Indonesia dan artikel dari google scholar berasal dari 10 halaman pertama (100 artikel awal). Kriteria ekslusi dalam menentukan artikel yaitu berjenis literature atau systematic review, grey literature dan artikel tidak di publikasi. Artikel yang terpilih diidentifikasi dan dianalisis menggunakan metode PRISMA Flowchart. Ada 8 artikel yang dianalisi dalam penelitian tersebut. Dimana 7 dari 8 artikel menunjukkan kebiasaan sarapan signifikan berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri sedangkan satu artikel lainnya menunjukkan kebiasaan sarapan berkaitan signifikan dengan status gizi.  Remaja putri yang terbiasa melawatkan waktu sarapan akan mengalami anemia. Selain membiasakan sarapan secara rutin atau selalu sarapan, ada faktor asupan yang dapat diperhatikan oleh remaja putri agar kejadian anemia dapat dihindari.  Kata Kunci: Sarapan, Anemia, Remaja Putri.
Kasus Pertusis Disertai Diare Berulang dan Stunting Pada An. Mrz dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa Kabupaten Tangerang Al Basith, Irvan Baharits; Atzmardina, Zita; S, Cindy Clarissa
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.22703

Abstract

ABSTRACT Pertussis is a respiratory disease caused by Bordetella pertussis that can cause severe morbidity and mortality in infants, especially those with malnutrition. Diarrhea and recurrent respiratory infections are major contributors to growth failure, while stunting, a chronic nutritional problem due to malnutrition and repeated infections in the first thousand days of life, remains a serious issue in Indonesia, with a prevalence of 24.4% in 2021. This study used a qualitative case study design and reported a 6-month-old male infant (An. MRZ) with prolonged cough for one month, recurrent diarrhea more than five times daily, and incomplete immunization history. The patient had been hospitalized twice in the previous two months with severe bronchopneumonia and acute gastroenteritis, and was confirmed positive for Bordetella spp., leading to a diagnosis of pertussis-like cough. Anthropometric measurements revealed severe stunting (weight 5.58 kg and length 58.5 cm). A holistic family medicine approach was implemented, including symptomatic pharmacological therapy, vitamin supplementation, nutritional counseling, catch-up immunization, and parental education on balanced nutrition, infection prevention, and child growth monitoring. After intervention, the child showed weight gain, reduced recurrent infections, and improved developmental stimulation, while the family demonstrated better knowledge about nutrition, immunization, and healthy parenting. Stunting in An. MRZ was found to be caused by both infectious factors such as pertussis, pneumonia, and diarrhea, and non-infectious factors such as inadequate nutrition, delayed complementary feeding, low parental education, and unhealthy living conditions. Keywords: Pertussis, Stunting, Recurrent Diarrhea, Family Medicine.  ABSTRAK Pertusis merupakan penyakit saluran pernapasan akibat infeksi Bordetella pertussis yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas berat pada bayi, terutama yang mengalami malnutrisi. Diare dan infeksi saluran pernapasan berulang menjadi penyebab utama kegagalan tumbuh, sementara stunting, yaitu masalah gizi kronis akibat malnutrisi dan infeksi berulang pada seribu hari pertama kehidupan, masih menjadi masalah serius di Indonesia dengan prevalensi 24,4% pada tahun 2021. Studi ini menggunakan desain studi kasus kualitatif pada seorang bayi laki-laki berusia 6 bulan (An. MRZ) dengan riwayat batuk lama selama satu bulan, diare berulang lebih dari lima kali sehari, serta riwayat imunisasi tidak lengkap. Pasien sebelumnya dua kali dirawat di rumah sakit dengan diagnosis bronkopneumonia berat dan gastroenteritis akut, serta pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil positif Bordetella spp. yang menegakkan diagnosis pertussis-like cough. Hasil antropometri menunjukkan stunting berat (berat badan 5,58 kg dan panjang badan 58,5 cm). Pendekatan kedokteran keluarga yang holistik dilakukan, meliputi terapi farmakologis simtomatik, suplementasi vitamin, konseling gizi, imunisasi kejar, serta edukasi orang tua mengenai gizi seimbang, pencegahan infeksi, dan pemantauan tumbuh kembang. Setelah intervensi, pasien menunjukkan kenaikan berat badan, berkurangnya infeksi berulang, serta perbaikan stimulasi perkembangan, sementara keluarga memiliki pengetahuan lebih baik tentang gizi, imunisasi, dan pola asuh sehat. Stunting pada An. MRZ diketahui disebabkan oleh faktor infeksi seperti pertusis, pneumonia, dan diare, serta faktor non-infeksi seperti kurangnya asupan gizi, keterlambatan pemberian MPASI, pendidikan orang tua yang rendah, dan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Kata Kunci: Pertusis, Stunting, Diare Berulang, Kedokteran Keluarga
Efektivitas Sinergistik Program Latihan Otot dan Pergelangan Kaki Berbasis Website terhadap Fungsional, Sirkulasi Perifer dan Gejala Diabetes Perifer Neuropati Sakinah, Sri; Hasanuddin, Indirwan
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i1.22655

Abstract

ABSTRACT Diabetic Peripheral Neuropathy (DPN) is a progressive degeneration of peripheral nerves, particularly in the lower extremities, affecting sensory, motor, and autonomic components of the peripheral nervous system. DPN is a highly prevalent complication among patients with diabetes mellitus (DM) and has a significant negative impact on quality of life. This study aimed to evaluate the synergistic effectiveness of a web-based foot and ankle muscle exercise program on functional capacity, peripheral circulation, and diabetic peripheral neuropathy symptoms in patients with type 2 diabetes mellitus. This study employed a mixed-methods design. (1) The first phase was a qualitative study using focus group discussions (FGD) with three experts to validate program content and its acceptability among respondents. (2) The second phase used a quantitative approach with a randomized controlled trial (RCT) and a pre-test–post-test design. The analysis of pre-test and post-test scores demonstrated significant differences across all instruments (MNSI-E, ABI, and FHSQ). The web-based Kinaku.id video exercise program effectively reduced peripheral neuropathy symptoms, improved peripheral circulation, and enhanced foot health outcomes compared to baseline. The effectiveness of this program is attributed to the advantages of web-based video media, which is more interactive, easily accessible, and promotes better patient adherence compared to conventional printed leaflets. Therefore, this intervention can serve as an effective and innovative strategy for managing diabetic foot complications in primary healthcare settings. Keywords: Diabetes Mellitus, Neuropathy, MNSI-E, ABI, FHSQ.  ABSTRAK Diabetes Perifer Neuropati (DPN) merupakan degenerasi progresif pada saraf perifer, terutama pada ekstremitas bawah, yang mempengaruhi komponen sensori, motorik, dan otonom saraf tepi. Urgensinya DPN merupakan komplikasi yang sangat umum pada penyandang diabetes melitus (DM) yang dapat berdampak negatif pada kualitas hidup. Mengetahui efektivitas sinergistik program latihan otot dan pergelangan kaki berbasis website terhadap fungsional, sirkulasi perifer, dan gejala diabetes perifer neuropati pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2. Desain penelitian ini menggunakan mix-methods dengan: (1) Tahap pertama adalah penelitian kualitatif melalui focus group discussion (FGD) dengan 3 pakar untuk memvalidasi dalam penerimaan terhadap responden. (2) Tahap kedua dengan pendekatan kuantitatif melalui randomized controlled trial dengan desain pre dan post-test. Hasil pengolahan pretest dan postest antara MNSI, ABI serta FSHQ yang kemudian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara skor pre-test dan post-test baik pada instrumen MNSI-E maupun ABI serta FSHQ. Program latihan otot dan pergelangan kaki berbasis Video website Kinaku.id efektif dalam menurunkan gejala neuropati perifer. Keberhasilan program ini dipengaruhi oleh keunggulan media video berbasis website yang lebih interaktif, mudah diakses, dan meningkatkan kepatuhan pasien dibandingkan media cetak konvensional. Dengan demikian, intervensi ini dapat dijadikan salah satu strategi efektif dan inovatif dalam pengelolaan komplikasi kaki diabetik di layanan primer. Kata Kunci: DM, Neuropathy, MNSIE, ABI, FSHQ.
Efektivitas Pelatihan Konselor Sebaya Terhadap Keterampilan Skrining Masalah Kesehatan Mental Pada Mahasiswa University Residence (Unires) Hakim, Lukman Al; Puspitosori, Warih Andan
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.22778

Abstract

ABSTRACT Students who live in dormitories are a vulnerable group experiencing mental health problems due to academic pressure and social adaptation challenges. Stigma and a lack of knowledge often act as barriers to seeking professional help. Peer counselor programs have emerged as a strategic solution for early detection, yet the effectiveness of their training in equipping screening skills requires evaluation. This study aimed to determine the effectiveness of peer counselor training in enhancing mental health problem screening skills (knowledge, attitude, and experience) among students of the University Residence (Unires). This study employed a quasi-experimental design with a pre-test and post-test approach. The sample consisted of 43 Unires residents selected through consecutive sampling. The intervention was a structured peer counselor training program. Data were collected using a questionnaire before and after the intervention and analyzed using the non-parametric Wilcoxon Signed-Rank Test. The analysis revealed a statistically significant increase in the mean scores for knowledge (p<0.05) and experience (p<0.05) following the training. The mean knowledge score increased from 3.48 to 4.09, while the mean experience score rose from 2.18 to 3.39. However, no significant change was found in the attitude scores of the respondents (p>0.05). The peer counselor training proved to be partially effective in enhancing conceptual understanding (knowledge) and practical capabilities (experience), but was not potent enough to significantly alter their affective disposition (attitude). Keywords: Peer Counselor, Mental Health, Screening Skills, Training.  ABSTRAK Mahasiswa yang tinggal di asrama merupakan kelompok rentan mengalami masalah kesehatan mental akibat tekanan akademik dan tantangan adaptasi sosial. Stigma dan kurangnya pengetahuan seringkali menjadi penghalang untuk mencari bantuan profesional. Program konselor sebaya menjadi solusi strategis untuk deteksi dini, namun efektivitas pelatihannya dalam membekali keterampilan skrining perlu dievaluasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas pelatihan konselor sebaya terhadap peningkatan keterampilan skrining masalah kesehatan mental (pengetahuan, sikap, dan pengalaman) pada mahasiswa Asrama University Residence (Unires). Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan pre-test and post-test design. Sampel terdiri dari 43 mahasiswa penghuni Unires yang dipilih melalui consecutive sampling. Intervensi berupa program pelatihan konselor sebaya yang terstruktur. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi, lalu dianalisis menggunakan uji non-parametrik Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan secara statistik pada skor rata-rata pengetahuan (p<0,05) dan pengalaman (p<0,05) setelah pelatihan. Skor rata-rata pengetahuan meningkat dari 3,48 menjadi 4,09, sementara skor pengalaman meningkat dari 2,18 menjadi 3,39. Namun, tidak ditemukan perubahan yang signifikan pada skor sikap responden (p>0,05). Pelatihan konselor sebaya terbukti efektif secara parsial dalam meningkatkan pemahaman konseptual (pengetahuan) dan kapabilitas praktis (pengalaman), namun belum cukup kuat untuk mengubah disposisi afektif (sikap) secara signifikan. Kata Kunci: Konselor Sebaya, Kesehatan Mental, Keterampilan Skrining, Pelatihan.
Pengaruh Stigma Sosial dan Efektivitas Model Edukasi Fast dalam Meningkatkan Kepatuhan Pengobatan Pasien Tuberkulosis di Layanan Kesehatan Primer Wahyuningsih, Aries; Fitria, Indraningrum; Buranda, Lucky Sarjono
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23477

Abstract

ABSTRACT Stigma remains a critical barrier to successful tuberculosis (TB) treatment adherence, particularly in primary health care settings. This study aimed to examine the influence of social stigma on TB treatment adherence and to evaluate the effectiveness of the FAST educational model (Familiné Andum Semangat Tumandhang) in reducing stigma and improving adherence. A quasi-experimental one-group pretest–posttest design was conducted among 40 pulmonary TB patients and their primary family supporters in community health centers in Kediri City, using purposive sampling. Data were collected using the Tuberculosis Stigma Scale and the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Results indicated a significant reduction in stigma scores from 94.60 to 74.78 (t = 4.372; p < 0.001) and a significant improvement in adherence scores from 2.05 to 1.13 (t = 9.505; p < 0.001). The findings confirm that social stigma significantly influences treatment adherence. The FAST model effectively reduces stigma and enhances adherence through culturally and family-centered education. Integrating this model into routine TB care is recommended to support national TB control goals. Keywords: Tuberculosis, FAST Educational Model, Treatment Adherence, Stigma, Family-Based Intervention, Primary Health Care  ABSTRAK Stigma masih menjadi penghalang utama dalam keberhasilan kepatuhan pengobatan tuberkulosis, khususnya di layanan kesehatan primer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh stigma sosial terhadap kepatuhan pengobatan tuberkulosis serta mengevaluasi efektivitas model edukasi FAST (Familiné Andum Semangat Tumandhang) dalam menurunkan stigma dan meningkatkan kepatuhan. Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi-eksperimen dengan pendekatan one-group pretest–posttest, melibatkan 40 pasien tuberkulosis paru yang menjalani terapi di puskesmas wilayah Kota Kediri, masing-masing didampingi oleh satu anggota keluarga sebagai pendukung utama. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner Tuberculosis Stigma Scale dan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan pada skor stigma dari 94,60 menjadi 74,78 (t = 4,372; p < 0,001) serta peningkatan signifikan pada skor kepatuhan dari 1,13 menjadi 2,05 (t = 9,505; p < 0,001). Sebagian besar peserta awalnya mengalami tingkat stigma sedang (50%) dan kepatuhan rendah (37,5%), yang keduanya meningkat setelah intervensi. Temuan ini menegaskan bahwa stigma sosial berperan penting sebagai determinan kepatuhan pengobatan. Model edukasi FAST terbukti efektif dalam menurunkan stigma dan meningkatkan kepatuhan melalui pendekatan edukasi berbasis keluarga dan budaya. Integrasi model FAST dalam program rutin perawatan TB direkomendasikan untuk mempercepat pencapaian target eliminasi TB nasional. Kata Kunci: Tuberkulosis, Model Edukasi FAST, Kepatuhan Terapi, Stigma Sosial, Intervensi Keluarga, Layanan Kesehatan Primer.
Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Perilaku Pencegahan Demam Berdarah (Dengue) di Jakarta Timur Kariman, Eska Riyanti; Riasmini, Ni Made; Yardes, Nelly
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23230

Abstract

ABSTRACT Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a significant public health problem in Indonesia. Based on data recorded by theIndonesian Ministry of Health and based on the DKI Jakarta Provincial Health Office, DHF cases continue to increase. This condition shows the need for effective prevention efforts, one of which is through increasing public knowledge. However, there is still a gap between knowledge and prevention behavior. To determine the relationship between thelevel of knowledge and DHF prevention behavior in the community in RW 08, Jatinegara Village, East Jakarta. This type of research is descriptive analytical with a cross-sectional approach. A sample of 90 people was taken using a purposive sampling technique, with the criteria that there had been a family member who had DHF. Data werecollected using a questionnaire on knowledge and behavior of dengue fever prevention (20 questions each, Guttman scale), which had been tested for validity and reliability (Cronbach's Alpha 0.723 and 0.879). Data analysis used thechi-square test. The majority of respondents with high knowledge had good dengue fever prevention behavior(86,5%), while respondents with low knowledge tended to have less good behavior (84,2%). The results of the chi-square test showed a p-value of 0.000 (<0,05) and an Odds Ratio (OR) of 34,286, which means that high knowledgeincreases the chances of good prevention behavior by 34 times compared to low knowledge. There is a significant relationship between the level of knowledge and dengue fever prevention behavior in the community. Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), Level of Knowledge, Prevention Behavior.  ABSTRAK Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Berdasarkan data yang tercatat di Kemenkes RI maupun bersadarkan Dinkes Provinsi DKI Jakarta, kasus DBD terus mengalami peningkatan. Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya pencegahan yang efektif, salah satunya melalui peningkatan pengetahuan masyarakat. Namun, masih ditemukan kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku pencegahan. Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan DBD pada masyarakat di  Kelurahan Jatinegara Jakarta Timur. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross- sectional. Sampel sebanyak 90 orang diambil menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriteria pernah ada anggota keluarga yang terkena DBD. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan perilaku pencegahan DBD (masing-masing 20 soal, skala Guttman), yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach’s Alpha 0,723 dan 0,879). Analisis data menggunakan uji chi-square. Mayoritas responden dengan pengetahuan tinggi memiliki perilakupencegahan DBD yang baik (86,5%), sedangkan responden dengan pengetahuan rendah cenderung memiliki perilaku kurang baik (84,2%). Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p-value 0,000 (<0,05) dan Odds Ratio (OR) 34,286, yangberarti pengetahuan tinggi meningkatkan peluang perilaku pencegahan yang baik sebesar 34 kali dibandingkan pengetahuan rendah. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan DBD pada masyarakat. Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue (DBD), Tingkat Pengetahuan, Perilaku Pencegahan.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang Dismenore terhadap Tingkat Pengetahuan Remaja dalam Mengatasi Dismenore (SMK) Muhammadiyah 1 Banjarmasin Halnas, Rizky Ferlia; Yuniarti, Kristina; Budiyarti, Yuliani
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.21738

Abstract

ABSTRACTAdolescence is a critical phase in individual development marked by various physical and psychological changes, one of which is menstruation. Dysmenorrhea, or menstrual pain, is a common health problem experienced by adolescent girls and can interfere with daily activities and reduce quality of life. The lack of adolescent knowledge about dysmenorrhea poses a particular challenge, thus requiring a health education intervention. This study aims to determine the effect of health education on dysmenorrhea on adolescents' knowledge in managing dysmenorrhea at SMA Muhammadiyah 1 Banjarmasin. This research employed a pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach. The sample consisted of 33 respondents selected through purposive sampling. The instrument used was a knowledge-level questionnaire. Data analysis was conducted using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results showed that before receiving health education, the majority of adolescents had a moderate level of knowledge (69.7%). After the intervention, the level of knowledge increased to the good category (75.8%). The Wilcoxon test results indicated a significant effect of health education on adolescents' knowledge of dysmenorrhea (p = 0.000 < α = 0.05). Keywords: Health Education, Dysmenorrhea, Knowledge, Adolescent Girls.  ABSTRAK Masa remaja merupakan fase kritis dalam perkembangan individu yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik dan psikologis, salah satunya adalah menstruasi. Dismenore, atau nyeri haid, merupakan masalah kesehatan yang umum dialami oleh remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari serta menurunkan kualitas hidup. Kurangnya pengetahuan remaja tentang dismenore menjadi tantangan tersendiri, sehingga diperlukan intervensi pendidikan kesehatan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang dismenore terhadap tingkat pengetahuan remaja dalam mengatasi dismenore di SMA Muhammadiyah 1 Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pre-test dan post-test. Jumlah sampel sebanyak 33 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner tingkat pengetahuan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan pendidikan kesehatan, sebagian besar remaja memiliki tingkat pengetahuan cukup (69,7%). Setelah intervensi, tingkat pengetahuan meningkat menjadi kategori baik (75,8%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan remaja tentang dismenore (p = 0,000 < α = 0,05). Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan, Dismenore, Pengetahuan, Remaja Putri.
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Ibu Hamil dalam Pencegahan Stunting dengan Pendekatan Social Kognitive Theory Harumi, Ani Media; Sholikah, Siti Mar'atus; Wardani, Novita Eka Kusuma
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.12652

Abstract

ABSTRACT Stunting is an issue that needs to be considered because it has an impact on nutritional problems in Indonesia that affect the physical and functional of the child's body and the increasing number of illnesses in children. Maternal behavior from before and during pregnancy can have an effect on stunting prevention efforts. Explain the influence of behavior on pregnant women with a cognitive social theory approach. The purpose of this study is to analyze the factors that affect the behavior of pregnant women in stunting prevention with a Social Cognitive Theory approach. This study is a quantitative research with an observational analytical design with a cross sectional approach. The population in this study is pregnant women at the Mojo Health Center in Surabaya. With a sample of 120 people. The sampling technique was by purposive sampling. The results of this study on the variables of Husband/Family Trust and Support for stunting prevention behavior showed a p value of 0.000 < α 0.05. which each means that these variables have a significant influence on stunting prevention behavior. Meanwhile, the variable Health Service Availability shows a p value of 0.581 > α 0.05 which means that there is no relationship between these variables and stunting prevention behavior. The conclusion of this  study is that there is an influence of trust in pregnant women and husband/family support on stunting prevention behavior. There was no effect on the availability of health services for pregnant women on stunting prevention behavior. Keywords: The Behavior Of Pregnant Women, Stunting Prevention Behavior, Social Cognitive Theory.  ABSTRAK Stunting merupakan isu yang perlu diperhatikan karena berdampak pada permasalahan gizi di Indonesia yang mempengaruhi fisik dan fungsional dari tubuh anak serta meningkatnya angka kesakitan pada anak. Perilaku ibu sedari sebelum dan masa kehamilan dapat berpengaruh dalam Upaya pencegahan stunting. Menjelaskan pengaruh perilaku pada ibu hamil dengan pendekatan teori sosial kognitif. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku ibu hamil dalam pencegahan stunting Dengan Pendekatan Social Kognitive Theory. Penelitian ini merupakan penelitian Kuantitatif dengan desain observational analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil di Puskesmas Mojo Surabaya. Dengan jumlah sampel 120 orang. Teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Hasil dari penelitian ini pada variabel Kepercayaan dan Dukungan Suami/ Keluarga terhadap perilaku pencegahan stunting yang menunjukan nilai p value 0.000 < α 0.05. yang masing masing berarti variabel tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku pencegahan stunting. Sedangkan pada variabel Ketersediaan layanan Kesehatan menunjukan nilai p value 0.581 > α 0.05 yang berarti tidak ada hubungan pada variabel tersebut terhadap perilaku pencegahan stunting.Adapun Kesimpulan penelitian ini terdapat pengaruh kepercayaan ibu hamil dan dukungan suami/keluarga terhadap perilaku pencegahan stunting. Tidak terdapat pengaruh ketersediaan layanan kesehatan ibu hamil terhadap perilaku pencegahan stunting. Kata Kunci: Perilaku Ibu Hamil, Perilaku Pencegahan Stunting, Teori Sosial Kognitif.
Evaluating the Impact of the Nyala App on Depressive Symptoms and Suicidal Risk Among Adolescents Yuliastuti, Estin; Siswanto, Hery; Herdaetha, Adriesti; Oktaviana, Tias Riski; Rahman, Ilyas Fathur
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23168

Abstract

ABSTRACT Adolescent depression and suicide remain pressing global health concerns, particularly in low- and middle-income countries where access to mental health services is limited. Digital interventions have emerged as promising, accessible, and stigma-free alternatives for promoting youth mental health. This study aimed to evaluate the impact of the Nyala app on depressive symptoms and suicidal risk among adolescents. A posttest-only control group design was employed involving 40 adolescents aged 12–15 years from a private junior high school in Surakarta. Participants were divided into intervention (n = 20) and control (n = 20) groups. The intervention group used the Nyala app—which integrates psychoeducation, mood tracking, thought diary, and SOS crisis support—for two weeks. Depressive symptoms and suicidal risk were measured using the  PHQ-9 and SBQ-R. Data were analyzed using the Mann–Whitney U test. The intervention group showed significantly lower mean scores for depressive symptoms (M = 2.35, SD = 2.64) compared to the control group (M = 8.50, SD = 7.02; p < 0.001). Similarly, suicidal risk scores were lower in the intervention group (M = 4.00, SD = 0.00) than in the control group (M = 4.55, SD = 2.84; p < 0.001). The Nyala app effectively reduced depressive symptoms and suicidal risk among adolescents. These findings support the integration of digital tools like Nyala into adolescent mental health services, especially in resource-limited and stigma-sensitive settings. Keywords: Adolescent Mental Health, Depression, Suicide Risk, Digital Intervention, Mobile Health, Nyala App.

Filter by Year

2019 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026) Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025) Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025) Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025) Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025) Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025) Vol 7, No 7 (2025): Volume 7 Nomor 7 (2025) Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025) Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025) Vol 7, No 4 (2025): Volume 7 Nomor 4 (2025) Vol 7, No 3 (2025): Volume 7 Nomor 3 (2025) Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025) Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 (2025) Vol 6, No 12 (2024): Volume 6 Nomor 12 (2024) Vol 6, No 11 (2024): Volume 6 Nomor 11 (2024) Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024) Vol 6, No 9 (2024): Volume 6 Nomor 9 (2024) Vol 6, No 8 (2024): Volume 6 Nomor 8 (2024) Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024 Vol 6, No 6 (2024): Volume 6 Nomor 6 2024 Vol 6, No 5 (2024): Volume 6 Nomor 5 2024 Vol 6, No 4 (2024): Volume 6 Nomor 4 2024 Vol 6, No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 2024 Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024 Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024 Vol 5, No 12 (2023): Volume 5 Nomor 12 2023 Vol 5, No 11 (2023): Volume 5 Nomor 11 2023 Vol 5, No 10 (2023): Volume 5 Nomor 10 2023 Vol 5, No 9 (2023): Volume 5 Nomor 9 2023 Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023 Vol 5, No 7 (2023): Volume 5 Nomor 7 2023 Vol 5, No 6 (2023): Volume 5 Nomor 6 2023 Vol 5, No 5 (2023): Volume 5 Nomor 5 2023 Vol 5, No 4 (2023): Volume 5 Nomor 4 2023 Vol 5, No 3 (2023): Volume 5 Nomor 3 2023 Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 Januari 2023 Vol 4, No 12 (2022): Volume 4 Nomor 12 2022 Vol 4, No 11 (2022): Volume 4 Nomor 11 2022 Vol 4, No 10 (2022): Volume 4 Nomor 10 2022 Vol 4, No 9 (2022): Volume 4 Nomor 9 2022 Vol 4, No 8 (2022): Volume 4 Nomor 8 2022 Vol 4, No 7 (2022): Volume 4 Nomor 7 2022 Vol 4, No 6 (2022): Volume 4 Nomor 6 2022 Vol 4, No 5 (2022): Volume 4 Nomor 5 2022 Vol 4, No 4 (2022): Volume 4 Nomor 4 2022 Vol 4, No 3 (2022): Volume 4 Nomor 3 2022 Vol 4, No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 Januari 2022 Volume 3 Nomor 4 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 3 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 2 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021 Volume 2 Nomor 4 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 3 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 1 Tahun 2020 Volume 1 Nomor 2 Tahun 2019 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2019 More Issue