cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
manuju@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Manuju : Malahayati Nursing Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26552728     EISSN : 26554712     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MANUJU : Malahayati Nursing Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan
Articles 1,723 Documents
Hubungan Antara Pengetahuan tentang MTSS dengan Perilaku pada Pertolongan Pertama Cedera MTSS pada Pelari di Lapangan Rampal Kota Malang Dewanto, Satria; Debora, Oda; Sulartri, Anastasia Sri
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23289

Abstract

ABSTRACT Medial Tibial Stress Syndrome (MTSS) is an inflammation of the muscles, tendons and bone tissue around the shin (tibial) due to overuse and repetitive injury to the posteromedial and anteromedial areas Research. The purpose of this study was to analyze the relationship between knowledge and first aid behavior of MTSS injuries in runners. This research design is quantitative correlation with a cross-sectional approach. The research sample was 62 respondents who were taken with the Quota sampling technique. Data analysis using the Spearman correlation test. The results showed that of the 62 respondents, the highest knowledge data was obtained with sufficient knowledge of 42 respondents (67.7%) and the highest MTSS injury first aid behavior data with sufficient behavior of 43 respondents (21%). The results of the Spearman Test, it was found that the significance value was 0.000 with a correlation strength of p-value 0.493 <0.05, so it can be concluded that there is a significant relationship between knowledge of MTSS and behavior in first aid injuries. Researchers concluded that increased knowledge about MTSS can improve first aid behavior for MTSS injuries. Keywords: Knowledge, First aid, Injury, MTSS.  ABSTRAK Medial Tibial Stress Syndrome (MTSS) adalah peradangan pada otot, tendon dan jaringan tulang di sekitar tulang kering (tibialis) akibat overuse dan cedera berulang pada daerah posteromedial dan anteromedial. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis adanya hubungan antara pengetahuan dengan perilaku pertolongan pertama cedera MTSS pada pelari. Desain penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan pendekatan Cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 62 responden yang diambil dengan teknik Quota sampling. Analisa data menggunakan uji korelasi Spearman.Hasil penelitian menunjukan dari 62 responden diperoleh data pengetahuan tertinggi dengan pengetahuan cukup sejumlah 42 responden (67,7%) dan pada data perilaku pertolongan pertama cedera MTSS paling tinggi dengan perilaku cukup sejumlah 43 responden (21%). Hasil Uji Spearman, didapatkan bahwa nilai signifikasi 0,000 dengan kekuatan korelasi p-value 0,493<0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang MTSS dengan perilaku pada pertolongan pertama cedera MTSS pada pelari di Lapangan Rampal Kota Malang. Peneliti menyimpulkan bahwa peningkatan pengetahuan tentang MTSS dapat memperbaiki perilaku pertolongan pertama cedera MTSS. Kata Kunci: Pengetahuan, Pertolongan Pertama, Cedera, MTSS.
Deteksi Gen Hemoglobin E (HBE) Metode Elektroforesis Gel pada Anemia di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Situmorang, Paska Ramawati; Gaurifa, Ivan Tegarman; Napitupulu, David Sumanto; Sihombing, Ruth Agree Kartini
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23109

Abstract

ABSTRACT Anemia needs to be treated immediately because it can cause fatigue, organ disorders, and reduce the quality of life. Biomolecularly, anemia can occur due to disorders in Hemoglobin, which is a protein that carries oxygen in the blood. One of the causes is the HbE gene mutation. The province with the highest anemia cases in Indonesia is West Papua, with a rate of 23.6% in 2023. The next position is occupied by Papua, South Papua, and DKI Jakarta at 10.1%. This study aims to detect the Hemoglobin E (HbE) gene by gel Electrophoresis method in anemia patients. The research design used descriptive quantitative with a population of 25 anemia. The sampling technique used Total sampling with a sample size of 25 respondents. The examination of the HbE gene was carried out using mini PCR and Gel Electrophoresis. The result of study showed that respondents Hb levels ranged from 7,8 to 11,7 gr/dL, which confirmed anemia status based on the results of the Hb level examination. The results of the detection of the HbE gene by the gel electrophoresis method is that there are bands in the gel but the quality of the bands formed looks vague and unclear so it is not possible to accurately interpret the possibility of mutations in the HbE gene at Santa Elisabeth Medan Hospital. Keywords: Anemia, Electrophoresis, Hbe Gene, Hb Levels, PCR.  ABSTRAK Anemia merupakan masalah kesehatan yang penting untuk segera ditangani karena bisa menyebabkan kelelahan, gangguan organ, dan menurunkan kualitas hidup. Secara biomolekuler, anemia bisa terjadi akibat gangguan pada Hemoglobin, yaitu protein yang membawa oksigen dalam darah. Salah satu penyebabnya adalah mutasi gen HbE.Provinsi dengan kasus anemia tertinggi di Indonesia adalah Papua Barat, dengan angka sebesar 23,6% pada Tahun 2023. Posisi berikutnya ditempati oleh Papua, Papua Selatan, dan DKI Jakarta sebesar 10,1%. Penelitian ini bertujuan mendeteksi gen Hemoglobin E (HbE) Metode Elektroforesis Gel pada pasien Anemia. Rancangan penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif dengan populasi 25 pasien anemia. Teknik pengambilan sampel menggunakan Total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 25 responden. Pemeriksan gen HbE dilakukan dengan menggunakan mini PCR dan Elektroforesis Gel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Hb responden berada dalam rentang 7,8 hingga 11,7 gr/dL yang mengkonfirmasi status anemia berdasarkan hasil pemeriksaan kadar Hb. Hasil deteksi gen HbE metode elektroforesis gel yaitu terdapat pita pada gel namun kualitas pita yang terbentuk terlihat samar dan tidak jelas sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan interpretasi secara akurat terhadap kemungkinan adanya mutasi pada gen HbE di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan. Kata kunci: Anemia, Elektroforesis, Gen HbE, Kadar Hb, PCR.
Aplikasi Tindakan Keperawatan pada Pasien Post Operatif Hirschprung dengan Masalah Keperawatan Gangguan Integritas Kulit Siahaan, Edita Revine; Yanti, Fitri; Wijonarko, Wijonarko; Ferry, Ferry; Putra, Hendra Jaya
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.22185

Abstract

ABSTRACT Hirschsprung is a disorder of the lower large intestine from the anus to the upper intestine and is congenital in the lower part of the colon connected to the rectosigmoid in toddlers who expereience pst operative hirchprung after   surgery there is a surgical wound in the lower left abdomen, impaired skin integrity can be a major problem. And for that, help is needed to overcome post operative wounds so tht impaired skin integrity can improve again. The purpose of this study was to describe the application of nursing in post operative hirschprung. The research method used with a case study design and the number of respondents was two clients with the criteria of client who experienced impaired skin integrity in hirschprung. The results showed that impaierd skin integrity in both clients could be resolved for 3 days which was indicated by improved skin integrity, improved skin elasticity, no signs of infections. Conclusion: by providing wound care with sterile and on sterile techniques. Post operative hirschprung wounds improved. Keywords: Nursing Action Aplication, Patient, Hirschprung.  ABSTRAK Hirschsprung merupakan kelainan pada usus besar paling bawah mulai anus sampai usus bagian atas dan bersifat kongenital pada bagian bawah kolon yang terhubung dengan rectosigmoid. Pada anak usia balita yang mengalami post operatif hirschsprung setelah melakukan tindakan operasi ada luka operasi di abdomen kiri bawah, gangguan integritas kulit dapat menjadi masalah utama. Dan untuk itu perlu bantuan untuk mengatasi luka post operatif sehingga gangguan integritas kulit dapat kembali membaik. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan aplikasikeperawatan pada post operatif hirschsprung. Metode penelitian yang digunakan dengan desain studi kasus dan jumlah reponden dua klien dengan kriteria klien yang mengalami gangguan integritas kulit pada hirschsprung. Hasil penelitian menunjukkan gangguan integritas kulit pada kedua klien dapat terselesaikan selama 3 hari yang ditandai dengan integritas kulit membaik, elastisitas kulit membaik, tidak ada tanda-tanda infeksi. Kesimpulan : Dengan memberikan perawatan luka secara tekhni steril dan on steril maka luka post operatif hirscprung  membaik. Kata Kunci: Aplikasi Tindakan Keperawatan, Pasien, Hirschprung.
Model Penyelesaian Kasus Maqashid Syariah Kasus Fertilisasi Buatan Asmi, Asmi; Muliani, Muliani; Taliki, Verawaty; Iriantono, Galuh; Amelina, Suzanna; Suprapto, Rohmat; Chanif, Chanif
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23530

Abstract

ABSTRACT Infertility is agrowing health problem that has a major impact on the biological, psychological, and spiritual aspects of married couples, making artificial fertilization(IVF) one of the most widely used medical solutions. However, it stillraises ethical issues and Sharia considerations that must be carefully examined. This study aims to analyze the practice of artificial fertilizationthrough the maqasid asy-Syari'ah approach, identify forms ofIVF that are in line with Islamic law, and formulate a case resolution modelthat can be applied in holistic Islamic nursing services.The research uses a qualitative method with a literature study approachthrough the analysis of various fiqh literature, contemporary literature, fatwas from Islamic institutions, reproductive medicine journals, and nursing practice guidelines related toreproductive bioethics. The results of the study show that artificial fertilization ispermissible according to Sharia law, provided that the entire fertilization processuses sperm and eggs from a legally married couple, is carried outwhile the marriage bond is still valid, and does not involve gamete donors,surrogate wombs, or other processes that could lead to the mixing of masab andviolate the principle of hifz an- nasl. The study also confirms that IVF that complies with Islamic law can support the protection of life, honor, reason, and emotional stability of couples when carried out with comprehensive nursing assistance, both in terms of clinical education, anxiety management, and spiritual guidance. Based on these findings, it is concluded that artificial fertilization can be a medically and sharia-compliant solution if carried out within the limits set by Islam, while nursing staff need to integrate the values of maqasid asy-syariah to ensure a safe, ethical process that provides spiritual peace for patients. Keywords: Artificial Fertilization, IVF, Maqasid Asy-Syariah, Islamic Nursing, Reproductive Bioethics.  ABSTRAK Infertilitas merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat dan berdampak besar terhadap aspek biologis, psikologis, dan spiritual pasangan suami istri, sehingga fertilisasi buatan (IVF) menjadi salah satu solusi medis yang banyak digunakan, namun tetap memunculkan persoalan etilka serta pertimbangan syariah yang harus dikaji dengan seksama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik fertilisasi buatan melalui pendekatan maqasid asy- Syari’ah, menidentifikasi bentuk bentuk IVF yang sejalan dengan hukum islam, serta merumuskan model penyelesaian kasus yang dapat diterapkan dalam pelayanan keperawatan islam secara holistic. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan melalui analisis berbagai literature fikih, kontemporer, fatwa lembaga keislaman, jurnal medis reproduksi, dan pedoman praktik keperawatan terkait bioetika reproduksi. Hasil kajian menunjukan bahwa fertilisasi buatan termasuk tindakan yang dibolehkan secara syar’I dengan syarat seluruh proses pembuhan menggunakan sperma dan ovum dari pasangan suami istri yang sah, dilakukan selama ikatan pernikahan masih berlangsung, serta tidak melibatkan donor gamet, rahim pengganti, atau proses lain yang dapat menimbulkan pencampuran masab dan melanggar prinsip hifz an- nasl. Kajian juga menegaskan bahwa IVF yang sesuai syariat dapat mendukung perlindungan jiwa, kehormatan, akal serta stabilitas emosional pasangan apabila dilakukan dengan pendampingan keperawatan yang komperhensif, baik dari aspek edukasi klinis, manajemen kecemasan, maupun bimbingan spiritual. Berdasarkan temuan tersebut, disimpulkan bahwa fertilisasi buatan dapat menjadi solusi yang sah secara medis dan syariah apabila dilaksanakan dalam batas yang diterapkan islam, sementara tenaga keperawatan perlu mengintegrasikan nilai nilai maqasid asy-syari’ah untuk memastikan proses yang aman, etis, dan memberikan ketenangan spiritual bagi pasien.  Kata Kunci: Fertilisasi Buatan, IVF, Maqasid Asy- Syariah, Keperawatan Islam, Bioetika Reproduksi.
Efektivitas Jar Positive Self-Talk Therapy terhadap Remaja dengan Perilaku Self-Injury di SMP Telkom Purwokerto Safitri, Safira Jihan; Estria, Suci Ratna
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23301

Abstract

ABSTRACT Self-injury is a serious issue involving intentional physical harm without the intent to end one's life and is not considered a socially or medically acceptable procedure. The prevalence of self-injury among adolescents has significantly increased over the past decade. According to a YouGov Omnibus report (2019), more than one-third (36%) of Indonesians have intentionally engaged in self-injury, with 45% of respondents being adolescents. Further, recent research by Faradiba (2021) revealed that 20.21% of Indonesian adolescents have been involved in self-injury behavior. A preliminary study conducted by the researchers on July 22, 2024, at Telkom Junior High School Purwokerto discovered that 81 participants had engaged in self-injury, while 110 participants had considered engaging in self-injury. This study aimed to identify the effectiveness of jar positive self-talk therapy in adolescents with self-injury behavior at SMP Telkom Purwokerto. This research employed a pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach. The sampling technique used was total sampling, with a total of 81 respondents. The research instrument utilized was the Non-Suicidal Self-Injury Expectancy Questionnaire (NEQ). The findings indicated that the average expectancy score for self-injury behavior before the intervention with jar positive self-talk therapy was 70.80, which decreased to 52.83 after the intervention. The Paired Sample T-test yielded a p-value of 0.000, with an effect size (r) of 0.79. This study concludes that jar positive self-talk therapy is effective in addressing self-injury behavior among adolescents at SMP Telkom Purwokerto.  Keywords: Self-injury, Adolescents, Jar Positive Self-Talk Therapy.  ABSTRAK Self-injury merupakan masalah serius, perilaku ini dapat menyebabkan kerusakan fisik yang disengaja meskipun tanpa niat untuk mengakhiri hidup dan bukan merupakan prosedur yang dianggap legal menurut sosial maupun medis. Self-injury pada remaja prevalensinya semakin meningkat dalam satu dekade terakhir. YouGov Omnibus (2019) melaporkan lebih dari sepertiga (36%) orang Indonesia pernah dengan sengaja melakukan self-injury, dengan 45% responden berada pada usia remaja. Selain itu, data terbaru dari penelitian Faradiba (2021) menunjukan bahwa 20,21% remaja di Indonesia pernah terlibat dalam perilaku self-injury. Studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti pada tanggal 22 Juli 2024 di SMP Telkom Purwokerto didapatkan hasil bahwa 81 peserta pernah melakukan tindakan self-injury dan 110 peserta pernah berpikiran untuk melakukan self-injury. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas jar positive self-talk therapy terhadap remaja dengan perilaku self-injury di SMP Telkom Purwokerto.Desain penelitian ini adalah pre-experimental dengan one group pre-post test design. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah total responden adalah 81 responden. Instrumen penelitian menggunakankuisioner The Non-Suicidal Self-Injury Expectancy Questionnaire (NEQ). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa rata-rata skor ekspektansi perilaku self-injury sebelum intervensi dengan media jar positive self-talk therapy adalah 70.80 dan setelah dilakukan intervensi menjadi 52.83. Hasil Uji Paired Sample T-test p-value 0,000 dan hasil effect size r = 0,79. Penelitian ini menyimpulkan terdapat efektivitas jar positive self-talk therapy terhadap remaja dengan perilaku self-injury di SMP Telkom Purwokerto. Kata Kunci: Self-injury, Remaja, Jar Positive Self-Talk Therapy.
Determinasi Pengguna Transportasi Udara Terhadap Sindrom Aviophobia (Rasa Takut Terbang) Fahruji, Azis; Amri, Khaerul; Widiastuti, Sri Hunun
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.21942

Abstract

ABSTRACT Air transportation has an impact on developing health science, namely aviation health which can be influenced by various factors: environment, air pressure effects, temperature changes and others. Common health problems during flights: jet lag, low-flying cabin syndrome, high blood pressure, and increased risk of blood clots and fear of flying or aviophobia. The phenomenon of not choosing air transportation, the cause is not because of expensive tickets or fast but is caused by aviophobia. To identify the influence of air transportation user determination with aviophobia syndrome. Using FAS (32 statements), Pearson and Mann Whitney Correlation tests. The results showed that 95% of air transportation users were between 36.64 years to 40.55 years old with 84 men (53.8%) and 72 women (46.2%), had no history of illness: 150 (96.2%), had a history of illness: 6 (3.8%). Users who had received information about flight incidents: 136 (87.2%) with experience of turbulence 111 (71.2%). Transportation users showed efforts to overcome anxiety: 86 (55.1%) and no efforts to overcome anxiety: 70 (44.9%). Analysis of significant influence on aviophobia syndrome is age factor p Value: 0.006 (p <0.05), gender: 0.002 (p <0.05), incident information: 0.002 (p <0.05) and Efforts to overcome: 0.000 (p <0.05), while there is no significant influence is users who have a history of illness: 0.073 (p>0.05) and turbulence experience: 0.925 (p>0.05). aviophobia syndrome in air transportation users shows an average of 48.31 ± 16.634 people with a standard deviation of 16.634. The results of the research analysis show that 95% of air transportation users who experience aviophobia syndrome are between 45.68 people and 50.94 people. Keywords: Anxiety, Aviophobia, Determination, Transportation, Turbulence.  ABSTRAK Transportasi udara  memberikan dampak dalam mengembangkan ilmu pengetahuan bidang kesehatan yaitu kesehatan penerbangan yang dapat dipengaruhi berbagai faktor: lingkungan, efek tekanan udara, perubahan suhu dan lainnya. Masalah kesehatan umumnya selama penerbangan: jet lag, sindrom kabin terbang rendah, tekanan darah tinggi, dan peningkatan risiko pembekuan darah serta takut terbang atau aviophobia. Fenomena tidak memilih transportasi udara, penyebabnya bukan karna mahalnya tiket atau cepat tapi disebabkan karena aviophobia. Mengidentifikasi pengaruh determinasi pengguna transportsi udara dengan sindroma aviophobia. Menggunakan FAS (32 pernyataan), uji Korelasi Pearson dan Mann Whitney. Hasil menunjukkan 95% usia pengguna transportasi udara diantara 36,64 tahun sampai 40,55 tahun dengan laki – laki 84 (53,8%) dan perempuan 72 (46,2%), tidak memiliki riwayat penyakit: 150 (96,2%), memiliki riwayat penyakit: 6 (3,8%). Pengguna yang pernah mendapatkan informasi kejadian penerbangan: 136 (87,2%) dengan pengalaman mengalami turbulensi 111 (71,2%). Pengguna transportasi menunjukkan ada upaya mengatasi kecemasan: 86 (55,1%) dan tidak ada upaya mengatasi kecemasan: 70 (44,9%). Analisis pengaruh signifikan terhadap sindroma aviophobia adalah factor usia nilai p Value: 0,006 (p < 0,05), jenis kelamin: 0,002 (p < 0,05), informasi kejadian: 0,002 (p < 0,05) dan Upaya mengatasi: 0,000 (p < 0,05), sedangkan tidak ada pengaruh signifikan adalah pengguna yang memiliki riwayat penyakit: 0,073 (p > 0,05) dan pengalaman turbulensi: 0,925 (p > 0,05). Sindroma aviophobia pada pengguna transportasi udara menunjukkan rata – rata 48,31 ± 16,634 orang dengan standar deviasi 16,634. Hasil analisis penelitian menunjukkan 95% yang mengalami sindroma aviophobia pengguna transportasi udara berada diantara 45,68 orang sampai 50,94 orang Kata Kunci: Aviophobia, Cemas, Determinasi, Transportasi, Turbulensi.
Analisis Determinan Lingkungan dan Psikososial terhadap Pola Makan Remaja di Sekolah Asrama: Scoping Review Nisrina, Aisyah Farah; Utari, Diah Mulyawati
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23300

Abstract

ABSTRACT The adolescent phase is marked by a high prevalence of malnutrition, with dietary patterns being the primary determinant. The boarding school system is a unique environment that possesses the potential to create diverse factors significantly influencing adolescent dietary patterns. This review aims to identify and synthesize the determinants influencing adolescent dietary patterns in boarding schools, specifically focusing on environmental and psychosocial determinants. This study utilized a scoping review methodology based on the PEO (Population, Exposure, Outcome) framework. The systematic search was conducted between August-September 2025, adhering to the PRISMA-ScR (PRISMA Extension for Scoping Reviews) guidelines, resulting in seven articles for analysis. The review identified school policy as the most dominant environmental determinant, where inadequate meal frequency triggered compensatory over snacking. Furthermore, psychosocial factors such as peer influence and body image interact with the environment to promote unhealthy dietary practices, consequently increasing the risk of eating disorders and malnutrition. Dietary determinants in boarding school adolescents are a product of a complex interaction between the controlled environment and dynamic psychosocial factors. Future interventions must be multi-component, involving both the revision of food system policies and nutritional counselling support to optimize adolescent nutritional status. Keywords: Determinant, Dietary Patterns, Environment, Psychosocial, Boarding School.  ABSTRAK Fase remaja ditandai dengan tingginya prevalensi malnutrisi dan pola makan merupakan penentu utama. Sistem sekolah asrama (boarding school) merupakan lingkungan unik yang dapat menciptakan beragam faktor penentu yang signifikan mempengaruhi pola makan remaja. Tinjauan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mensintesis determinan yang mempengaruhi pola makan remaja di sekolah asrama, khususnya determinan lingkungan dan psikososial. Studi ini menggunakan metode scoping review dengan kerangka PEO (Population, Exposure, Outcome). Pencarian dilakukan secara sistematis pada bulan Agustus-September 2025 dengan mengacu pada pedoman PRISMA-ScR (PRISMA Extension for Scoping Reviews), menghasilkan tujuh artikel yang dianalisis. Tinjauan mengidentifikasi kebijakan sekolah sebagai determinan lingkungan paling dominan dimana frekuensi makan yang kurang memadai memicu konsumsi camilan berlebihan sebagai kompensasi. Selain itu, faktor psikososial seperti pengaruh teman sebaya dan citra tubuh berinteraksi dengan lingkungan untuk mendorong praktik diet tidak sehat sehingga meningkatkan risiko gangguan makan dan malnutrisi. Determinan pola makan remaja di sekolah asrama adalah produk interaksi yang kompleks antara lingkungan yang terkontrol dan faktor psikososial yang dinamis. Intervensi di masa depan harus bersifat multi-komponen, melibatkan revisi kebijakan sistem penyelenggaraan makanan sekaligus dukungan konseling gizi guna mengoptimalkan status gizi remaja. Kata Kunci: Determinan, Lingkungan, Pola Makan, Psikososial, Sekolah Asrama.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi pada Balita di Puskesmas Kecamatan Gunung Megang Kabupaten Muara Enim Sari, Ayu Puspita; Fatimah, Siti; Anggraeni, Surti; Hairunisyah, Rika; Kamalia, Rita
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23472

Abstract

ABSTRACT Insufficient nutritional intake given to children can have a major impact on the child's nutritional status. Underlying factors such as maternal education, economic status, history of infection. There has never been any similar research in Gunung Megang District. This study aim to determine the factors related to the nutritional status of toddlers at the Gunung Megang District Health Center, Muara Enim Regency in 2024. This research is a quantitative study with a cross-sectional approach. This research was carried out in April - May 2024. The population in this study were all toddlers aged 1-5 years at the Gunung Megang District Health Center, Muara Enim Regency in 2024, totaling 213 people with a sample size of 60 people. Data analysis uses frequency distribution and chi square. There is a relationship between maternal education and the nutritional status of toddlers at the Gunung Megang District Health Center, Muara Enim Regency in 2024 (p value 0.000; CC 0.500). There is a relationship between economic status and nutritional status in toddlers at the Gunung Megang District Health Center, Muara Enim Regency in 2024 (P value 0.000; CC 0.511). There is a relationship between infectious diseases and nutritional status in toddlers at the Gunung Megang District Health Center, Muara Enim Regency in 2024 (p value 0.000; CC 0.481).  Education, economic status, infectious diseases are factors in the nutritional status of toddlers. Health education is needed to increase mothers' knowledge of nutritious food at low prices and prevent infections among toddlers. Keywords: Education, Economic Status, Infection, Nutritional Status  ABSTRAK Asupan nutrisi yang tidak cukup diberikan pada anak dapat berdampak besar pada status gizi anak. Faktor yang mendasari seperti Pendidikan ibu, status ekonomi, riwayat infeksi. Belum pernah ada penelitian sejenis di Kecamatan Gunung Megang. Tujuan untuk mengetahui  Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi     Pada Balita Di Puskesmas Kecamatan Gunung Megang Kabupaten Muara Enim Tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan crossectional. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April - Mei  2024. Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita usia 1-5 tahun di Puskesmas Kecamatan Gunung Megang Kabupaten Muara Enim Tahun 2024 sebanyak 213 orang dengan jumlah sampel 60 orang. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi dan chi square. Ada hubungan pendidikan ibu dengan status gizi pada balita di puskesmas Kecamatan Gunung Megang Kabupaten Muara Enim tahun 2024 (p value 0,001; CC 0,443). Ada hubungan status ekonomi dengan status gizi pada balita di puskesmas Kecamatan Gunung Megang Kabupaten Muara Enim tahun 2024 (P value 0,000; CC 0,488). Ada hubungan penyakit infeksi dengan status gizi pada balita di puskesmas Kecamatan Gunung Megang Kabupaten Muara Enim tahun 2024 (p value 0,000; CC 0,469). Pendidikan, status ekonomi, penyakit infeksi merupakan faktor dalam status gizi balita. Pendidikan kesehatan diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan ibu dalam makanan bergizi dengan harga murah dan mencegah infeksi. Kata Kunci: Pendidikan, Status Ekonomi, Infeksi, Status Gizi
Hubungan Siklus Kemoterapi dengan Status Nutrisi pada Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Purnamasari, Desi; Sari, Gian Endra Puspita; Putri, Riska Subhianti; Anggraeni, Retno
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23217

Abstract

ABSTRACT Breast cancer is one of the most common types of cancer worldwide and often requires chemotherapy as part of its treatment. However, chemotherapy can affect the nutritional status of patients due to side effects such as nausea, vomiting, and loss of appetite. This study aims to analyze the relationship between chemotherapy cycles and nutritional status in breast cancer patients undergoing chemotherapy at Sentra Medika Cibinong Hospital. This research employed a quantitative method with a cross-sectional approach, using univariate and bivariate data analysis with the chi-square test. The sampling technique used was purposive sampling, involving 40 respondents out of 64 breast cancer patients who underwent chemotherapy in January 2025. Nutritional status was assessed using the Malnutrition Screening Tool (MST) questionnaire. The results showed that 55% of respondents were in their third chemotherapy cycle (with drug administration lasting 6–8 hours), 50% had a normal body mass index (BMI), and 52.5% had good nutritional status. A significant relationship was found between chemotherapy cycles and nutritional status, with a p-value of 0.010 (p < 0.05). Future researchers are advised to include other variables such as daily food intake, physical activity, stress levels, and social support, which may also influence nutritional status. Keywords: Breast Cancer, Chemotherapy Cycle, Nutritional Status, Malnutrition Screening Tool (MST).  ABSTRAK Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker dengan angka kejadian tinggi di dunia dan sering memerlukan kemoterapi sebagai bagian dari pengobatannya. Namun, kemoterapi dapat memengaruhi status nutrisi pasien akibat efek samping seperti mual, muntah, dan penurunan nafsu makan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara siklus kemoterapi dan status nutrisi pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan analisis data univariat serta bivariat menggunakan uji chi-square. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 40 orang dari 64 pasien yang menjalani kemoterapi pada Januari 2025. Status nutrisi diukur menggunakan kuesioner Malnutrition Screening Tool (MST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 55% responden menjalani siklus kemoterapi ke-3 (dengan pemberian obat selama 6–8 jam), 50% memiliki indeks massa tubuh kategori normal, dan 52,5% menunjukkan status nutrisi yang baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara siklus kemoterapi dan status nutrisi dengan nilai p = 0,010 (p < 0,05). Peneliti selanjutnya disarankan untuk menambahkan variabel lain seperti asupan makanan harian, aktivitas fisik, tingkat stres, dan dukungan sosial yang dapat memengaruhi status nutrisi. Kata Kunci: Kanker Payudara, Siklus Kemoterapi, Status Nutrisi, Malnutrition Screening Tool (MST).
Pengaruh Edukasi Kesehatan terhadap Perilaku Perawatan Kaki Penderita Diabetes Mellitus di Puskesmas Tanjung Priok Jakarta Sinurat, Alvin Juliero; Prabawati, Dewi
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.20738

Abstract

ABSTRACT Self-foot care is an essential measure to prevent foot ulcers caused by complications of Diabetes Mellitus (DM). Routine foot inspection and care are components of self-care behavior that should be practiced by individuals with DM. This study aimed to determine the effect of health education on foot care behavior among DM patients at Tanjung Priok Public Health Center, North Jakarta. The study employed a quasi-experimental design with a post-test only non-equivalent control group approach. A total of 60 DM patients were selected using non-probability sampling with a quota sampling method, consisting of 30 participants in both the experimental and control groups. Data collection was conducted in June 2024. The intervention consisted of a one-time health education session delivered using PowerPoint and educational videos. The instrument used to assess foot care behavior was the Foot Care Behavior Scale (FCBS) questionnaire. Univariate analysis showed that the majority of respondents in the experimental group were aged 56–65 years (50.0%), while those in the control group were aged 46–55 years (46.7%). Most respondents were female (63.3% experimental; 73.3% control), had a senior high school education (50.0%) in the experimental group and elementary/junior high school education (53.3%) in the control group, were housewives (40.0% and 33.3%), and had been living with DM for more than five years (56.7% and 53.3%). The Independent Sample T-Test showed a significant difference in foot care behavior between the intervention and control groups (p = 0.000; p < 0.05). The findings indicate that health education has a positive effect on improving foot care behavior in DM patients. It is recommended that foot care education be provided routinely by healthcare professionals and that families actively support patients in performing daily foot care practices. Keywords: Diabetes Mellitus, Health Education, Foot Care Behavior  ABSTRAK Perawatan kaki secara mandiri merupakan langkah penting dalam mencegah terjadinya luka kaki akibat komplikasi Diabetes Mellitus (DM). Pemeriksaan dan perawatan kaki secara rutin termasuk dalam perilaku perawatan kaki mandiri yang perlu dilakukan oleh penderita DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan terhadap perilaku perawatan kaki pada penderita DM di Puskesmas Tanjung Priok, Jakarta Utara. Desain penelitian ini adalah kuasi-eksperimental dengan pendekatan post-test only non-equivalent control group. Sampel terdiri dari 60 pasien DM yang dipilih menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode quota sampling, masing-masing 30 responden pada kelompok eksperimen dan kontrol. Pengumpulan data dilakukan pada Juni 2024. Intervensi berupa edukasi kesehatan diberikan satu kali menggunakan media presentasi (PowerPoint) dan video edukatif. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Foot Care Behavior Scale (FCBS) untuk mengukur perilaku perawatan kaki. Hasil univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden pada kelompok eksperimen berusia 56–65 tahun (50,0%) dan kelompok kontrol 46–55 tahun (46,7%), sebagian besar berjenis kelamin perempuan (63,3% dan 73,3%), memiliki pendidikan terakhir SMA/SMK (50,0%) dan SD/SMP (53,3%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (40,0% dan 33,3%), serta telah menderita DM lebih dari lima tahun (56,7% dan 53,3%). Hasil uji Independent Sample T-Test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada perilaku perawatan kaki antara kelompok eksperimen dan kontrol (p = 0,000; p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa edukasi kesehatan berpengaruh terhadap peningkatan perilaku perawatan kaki pada penderita DM. Diharapkan edukasi tersebut dapat diberikan secara rutin oleh tenaga kesehatan, serta didukung oleh keluarga untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam melakukan perawatan kaki sehari-hari. Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Edukasi Kesehatan, Perilaku Perawatan Kaki

Filter by Year

2019 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026) Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025) Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025) Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025) Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025) Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025) Vol 7, No 7 (2025): Volume 7 Nomor 7 (2025) Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025) Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025) Vol 7, No 4 (2025): Volume 7 Nomor 4 (2025) Vol 7, No 3 (2025): Volume 7 Nomor 3 (2025) Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025) Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 (2025) Vol 6, No 12 (2024): Volume 6 Nomor 12 (2024) Vol 6, No 11 (2024): Volume 6 Nomor 11 (2024) Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024) Vol 6, No 9 (2024): Volume 6 Nomor 9 (2024) Vol 6, No 8 (2024): Volume 6 Nomor 8 (2024) Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024 Vol 6, No 6 (2024): Volume 6 Nomor 6 2024 Vol 6, No 5 (2024): Volume 6 Nomor 5 2024 Vol 6, No 4 (2024): Volume 6 Nomor 4 2024 Vol 6, No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 2024 Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024 Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024 Vol 5, No 12 (2023): Volume 5 Nomor 12 2023 Vol 5, No 11 (2023): Volume 5 Nomor 11 2023 Vol 5, No 10 (2023): Volume 5 Nomor 10 2023 Vol 5, No 9 (2023): Volume 5 Nomor 9 2023 Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023 Vol 5, No 7 (2023): Volume 5 Nomor 7 2023 Vol 5, No 6 (2023): Volume 5 Nomor 6 2023 Vol 5, No 5 (2023): Volume 5 Nomor 5 2023 Vol 5, No 4 (2023): Volume 5 Nomor 4 2023 Vol 5, No 3 (2023): Volume 5 Nomor 3 2023 Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 Januari 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 2023 Vol 4, No 12 (2022): Volume 4 Nomor 12 2022 Vol 4, No 11 (2022): Volume 4 Nomor 11 2022 Vol 4, No 10 (2022): Volume 4 Nomor 10 2022 Vol 4, No 9 (2022): Volume 4 Nomor 9 2022 Vol 4, No 8 (2022): Volume 4 Nomor 8 2022 Vol 4, No 7 (2022): Volume 4 Nomor 7 2022 Vol 4, No 6 (2022): Volume 4 Nomor 6 2022 Vol 4, No 5 (2022): Volume 4 Nomor 5 2022 Vol 4, No 4 (2022): Volume 4 Nomor 4 2022 Vol 4, No 3 (2022): Volume 4 Nomor 3 2022 Vol 4, No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 Januari 2022 Volume 3 Nomor 4 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 3 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 2 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021 Volume 2 Nomor 4 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 3 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 1 Tahun 2020 Volume 1 Nomor 2 Tahun 2019 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2019 More Issue