cover
Contact Name
I Gusti Agung Paramita
Contact Email
vidyawertta@unhi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vidyawertta@unhi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
DHARMASMRTI: Jurnal Pascasarjana UNHI
ISSN : 16930304     EISSN : 2620827X     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan (Dharmasmrti) Diterbitkan oleh Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia Denpasar sebagai media informasi dan pengembangan Ilmu Agama dan Kebudayaan Hindu, terbit dua kali setahun yaitu setiap bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 274 Documents
PERAN MEDITASI TRADISIONAL DALAM MENGURANGI DENTAL ANXIETY Agung Setiabudi; I.A Istri Agung Krisna Kencana Dewi
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6845

Abstract

Dental anxiety merupakan rasa takut atau kecemasan berlebihan yang muncul akibat kunjungan ke dokter gigi atau prosedur yang dilakukan oleh dokter gigi. Kondisi ini dapat berkisar dari kecemasan ringan hingga ketakutan ekstrem yang membuat seseorang menghindari perawatan gigi sama sekali. Metode meditasi, seperti pengaturan napas dalam dan mindfulness, dapat merangsang sistem saraf parasimpatik yang berfungsi menenangkan tubuh dan mengurangi gejala fisik kecemasan. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai bagaimana praktik mindfulness tradisional dapat membantu mengurangi kecemasan yang berhubungan dengan perawatan gigi. Dengan meditasi, diharapkan pasien dapat merasa lebih tenang sebelum dan selama prosedur, sehingga ketakutan berkurang dan pengalaman perawatan menjadi lebih positif. Beberapa metode meditasi yang dapat menenangkan pikiran untuk mengatasi kecemasan gigi meliputi pernapasan diafragma, body scan, visualisasi, meditasi mindfulness, dan meditasi cinta kasih. Teknik-teknik ini dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan gigi dengan menenangkan pikiran dan tubuh, serta meningkatkan kesejahteraan emosional. Mengintegrasikan meditasi ke dalam rutinitas perawatan gigi tidak hanya memberikan rasa nyaman bagi pasien, tetapi juga berkontribusi pada hasil perawatan yang lebih baik. Melalui latihan mindfulness, pasien dapat belajar mengelola ketakutan dan kecemasan mereka dengan lebih efektif.
PEMENTASAN TARI REJANG DI PURA DESA DESA ADAT SIDETAPA KECAMATAN BANJAR KABUPATEN BULELENG : (Perspektif Pendidikan Agama Hindu) Komang Tari Karismayanti
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6859

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Pertunjukan Tari Rejang di Pura Desa Sidetapa, Kabupaten Banjar. Pertunjukan Tari Rejang yang merupakan bagian dari rangkaian hari besar Galungan dan Kuningan ini rutin digelar tiga hari setelah hari besar tersebut dan merupakan salah satu bentuk upacara Dewa Yadnya. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) prosesi pertunjukan Tari Rejang di Pura Desa Sidetapa, Kabupaten Banjar; (2) fungsi didaktis pertunjukan Tari Rejang di Pura Desa Sidetapa, Kabupaten Banjar; dan (3) nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terkandung dalam pertunjukan Tari Rejang di Pura Desa Sidetapa, Kabupaten Banjar, Kabupaten Buleleng. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan pemilihan informan secara purposive sampling. Teori yang diterapkan dalam penelitian ini adalah Teori Agama, Fungsionalisme Struktural, Teori Estetika, dan Etno-Pedagogi. Perspektif pendidikan agama Hindu dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai keseimbangan antara nilai tradisional dan tuntutan sosial kontemporer sesuai dengan prinsip-prinsip fungsionalisme struktural. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) pertunjukan Tari Rejang di Pura Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, diawali dengan persiapan banten, dilanjutkan dengan upacara persembahyangan bersama, kemudian pementasan Tari Rejang, yaitu tarian sakral yang dibawakan oleh para pemuda dan pemudi dengan mengenakan busana adat sakral. Tari sakral ini merupakan pelengkap dari upacara Dewa Yadnya di Pura Desa Sidetapa yang diyakini dapat mendatangkan berkah bagi masyarakat setempat; (2) fungsi didaktis pertunjukan Tari Rejang meliputi fungsi religi, estetika, psikologis, sosiologis, dan pelestarian budaya; dan (3) nilai edukatif yang teridentifikasi yaitu nilai pelestarian religi, estetika, psikologis, sosiologis, dan budaya.
ANALISIS PREFERENSI WISATAWAN TERHADAP AKTIVITAS PARIWISATA BERBASIS NEWA: (Studi pada Wisatawan Domestik dan Mancanegara yang Berkunjung ke Bali) I Made Darsana; I Wayan Kartimin; Ni Wayan Rena Mariani; Komang Shanty Muni Parwati
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6982

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi preferensi wisatawan terhadap empat jenis aktivitas pariwisata yang tergolong dalam konsep NEWA: Nature (alam), Eco (ekowisata), Wellness (kesehatan dan kebugaran), dan Adventure (petualangan). Serta mengungkap bagaimana wisatawan memprioritaskan aktivitas-aktivitas tersebut selama kunjungan mereka, sehingga dapat memberikan wawasan yang mendalam mengenai apa yang paling diminati oleh wisatawan. Manfaat yang diharapkan adalah membantu para pengelola desa wisata, pembuat kebijakan, dan pelaku industri pariwisata dalam merancang dan mengembangkan produk serta layanan wisata yang lebih sesuai dengan preferensi pasar. Jenis penelitian adalah kuantitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data survei menggunakan instrumen berupa kuisioner. Responden berjumlah 200 orang yang merupakan wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke tempat-tempat wisata di Bali, antara lain pantai Kuta, Ubud, Tanah lot, dan Kintamani. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menemukan bahwa mayoritas wisatawan menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap desa wisata, terutama yang berbasis konsep NEWA, hal ini menunjukkan adanya potensi besar untuk pengembangan desa wisata yang mengedepankan elemen alam, keberlanjutan, dan kesehatan, yang sesuai dengan tren global wisata yang semakin peduli pada lingkungan dan kesejahteraan. Aktivitas berbasis Nature menduduki peringkat tertinggi dalam ketertarikan wisatawan, selanjutnya aktivitas NEWA yang diminati oleh wisatawan adalah Adventure, Wellness, dan Eco. Hal ini mencerminkan bahwa wisatawan cenderung lebih tertarik pada pengalaman yang melibatkan interaksi langsung dengan alam, baik melalui eksplorasi lingkungan, petualangan, maupun kegiatan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan di alam terbuka.
MAKNA DIBALIK PEMENTASAN TARIAN SANGHYANG JARAN PADA HARI KAJENG KLIWON: RELASI HARMONI MANUSIA DAN ALAM SEMESTA A.A. Kade Sri Yudari; Ni Nyoman Sriwinarti; Ni Ketut Riska Pravitadewi
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6984

Abstract

Leluhur di Bali sangat piawai mengimplementasikan ajaran Veda dalam wujud seni dan ritual yadnya praktis. Satu diantara seni tari sakral yang menyertai ritual adalah tarian sanghyang. Pementasan berbagai tarian pengiring ritual umumnya bermakna mewujudkan hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna dibalik pementasan tarian Sanghyang Jaran di Pura Dalem Solo dan menerangkan alasan betapa keramatnya hari kajeng kliwon. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara didukung studi dokumen dengan analisis secara deskriptif-interpretatif. Rumusan permasalahan dikaji menggunakan teori interaksionisme simbolik dan teori religi. Hasilnya, mengungkap berbagai makna dibalik pementasan tarian sanghyang jaran pada hari kajeng kliwon tidak hanya menjadi keyakinan semata namun secara filosofis-simbolis berkaitan erat dengan upaya penetralisir energi alam dari yang bersifat negative menjadi positif demi tercapai keselarasan, keseimbangan dan keharmonisan makhluk hidup di bumi.
IMPLEMENTASI TRI HITA KARANA MELALUI AKTUALISASI DANA PUNIA Krisna Paramita, Anak Agung Gde; Ayu Antari, Dewa; Suryaningrat, Ayu Putri
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 24 No 1 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i1.5938

Abstract

Hindu teachings emphasize that all actions must be based on dharma in order to achieve harmony and happiness. Tri Hita Karana is a Hindu religious teaching that focuses on harmonious relationships with God, fellow humans and the environment. Harmonizing these three relationships will bring happiness. One way to implement this harmonious relationship is by implementing punia funds. Carrying out good dana punia or what is called satwika dana punia is a way of establishing a harmonious relationship, both with God through yadnya, as well as with fellow humans and the surrounding environment. This tri-harmony relationship provides philosophical value in building a foundation, as a form of actualizing Hindu religious teachings both vertically and horizontally.
Kundalini Yoga: From the Early Tantras To the Hatha Yoga Yudiantara, Putu
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 1 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/5j9a7n69

Abstract

This article presents a historical review of the conceptualization of Kundalini and Kundalini Yoga within Tantric texts from the 7th to the 12th centuries and tracing their continuity in Hatha Yogic literature. Its objective is to analyze the persistence and development of conceptual elements over time and to investigate key themes elucidating the ontological and practical dimensions of Kundalini and Kundalini Yoga. The findings reveal that early Tantric texts portray Kundalini as a cosmogonic and mantric force, while Kun?d?alin? Yoga practices entail the utilization of mantras in conjunction with breath control techniques. In Hatha Yogic texts, Kundalini undergoes a transformation from a cosmogonic force to a personal energy intrinsic to individuals and subjects to physical manipulations. This study underscores the significance of contextualizing Kundalini within its philosophical and spiritual framework, often overlooked in mainstream culture or studies concentrating solely on its physical manifestations.
PURA LUHUR PUSEH BEDHA SEBAGAI DAYA TARIK WISATA BUDAYA DI DESA BONGAN TABANAN Ida Ayu Tary Puspa; I Gusti Ngurah Pertu Agung; Ni Putu Lindya Yuli Wastiti
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 1 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v25i1.7498

Abstract

Pura merupakan tempat ibadah umat Hindu. Pembagian jenis pura termasuk ke dalam salah satu dari tiga kerangka agama Hindu selain Tattwa, Susila adalah Acara. Tempat suci bagi umat Hindu dalam wilayah teritorial adalah terbagi ke dalam pembagian zona desa adat. Terdapat Pura Desa untuk memuja Dewa Brahma, Pura Puseh untuk memuja Dewa Wisnu yang sangat fungsional dengan bangunan meru yang bertumpang, dan Pura Dalem tempat memuja Dewa Siwa.Pada artikel ini akan diuraikan Pura Luhur Puseh Bedha yang selain sebagai kahyangan tiga, juga adalah sebagai daya tarik pariwisata budaya. Dengan kelengkapan yang sudah dipersiapkan untuk menerima wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bagi wisatawan yang tertarik dengan pariwisata heritage, maka pura luhur puseh Bedha adalah salah satu tempat berwisata karena memiliki sejarah yang berkaitan dengan seorang patih dari Bali yang sangat terkenal yaitu Patih Kebo Iwa. Wantilan di pura ini kerap dijadikan tempat oleh wisatawan untuk memahami kebudayaan Bali seperti misalnya nanding gebogan. Aktivitas ritual yaitu ngaben tikus juga dilaksanakan di pura ini setiap dua tahun.
SPIRITUAL KLIWONAN UMAT BUDDHA: (Padepokan Agung Sangyang Jati) Eko Siswoyo
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 1 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v25i1.7499

Abstract

Kegiatan ini memadukan antara budaya tradisi dan agama Buddha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan tradisi kliwonan, apa makna spiritual dan dampak bagi setiap individu dan masyarakat sekitar vihara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sejarah serta lebih mementingkan subjek, proses, dan makna yang ada dalam penelitian serta menggunakan teori-teori yang mendukung dan juga sesuai dengan fakta yang ada di lokasi penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa umat Buddha vihara Agung Sangyang Jati memadukan elemen spiritual, social dan budaya dengan serangkaian kegiatan persembahan puja, pembacaan parita, diskusi, makna yang terkandung dalam tradisi kliwonan sangat mendalam melalui doa, pembacaan paritta meditasi dengan mengambangkan metta, karuna, mudita, upekkha dan panna. Tradisi kliwonan ini menjadi sarana intropeksi diri dan penguatan spiritual individu (saddha) pada Buddha, dhamma dan sangha. Kegiatan ini juga berdampak positif bagi umat Buddha sendiri terutama pada ketenangan batin serta dapat mengikis tiga akar kejahatan diantaranya lobha (keserakahan) dosa (kebencian) dan moha (kebodohan batin). Secara social kemasyarakatan kegiatan kliwonan ini menciptakan rasa toleransi dan semangat gotong royong bagi uamt Buddha khususnya. Secara keseluruhan kegiatan kliwonan di vihara sangyang jati tidak sekedar ritual keagamaan Buddha tetapi juga dibarengi dengan kesadaran lingkungan, pelestarian nilai-nilai budaya yang harmonis dengan ajara Buddha.
SAKRALITAS PERKAWINAN KATOLIK DALAM PERSPEKTIF KITAB HUKUM KANONIK: TANTANGAN DAN RESPONS TERHADAP FENOMENA “KAWING KAMPONG” DI MANGGARAI Yulianus Evantus Hamat; Wiligis Nggoni; Yohanes Endi
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 1 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v25i1.7500

Abstract

Fokus utama tulisan ini adalah mengkaji sakralitas perkawinan Katolik dalam perspektif Kitab Hukum Kanonik sebagai upaya menanggapi fenomena kawing kampong di Manggarai. Tujuan yang hendak dicapai adalah memberikan gambaran dan pemahaman yang komprehensif akan nilai sakral perkawinan Katolik terhadap masyarakat di Manggarai. Kawing kampong adalah fenomena dimana dua orang pasangan yang sudah memilih untuk hidup dan tinggal bersama layaknya suami istri kendati belum memiliki ikatan yang resmi dalam Gereja dan secara adat. Merebaknya fenomena kawing kampong di Manggarai ditengarai sebagai salah satu konsekuensi tingginya tuntutan belis (mahar) dari keluarga pihak perempuan kepada pihak laki-laki. Ketidakmampuan memenuhi tuntutan belis ini menyebabkan banyak warga Manggarai yang dengan tahu dan mau memilih tinggal bersama seperti pasangan suami istri meskipun hubungan mereka belum disahkan oleh hukum positif negara dan lembaga agama. Menyikapi fenomena ini, Gereja Katolik menegaskan kembali perihal sakralitas perkawinan yang telah diajarkan oleh Gereja bahwa perkawinan yang tidak diberkati dalam Gereja tidak memiliki validitas sakramental. Melalui praktik pastoral yang digalakkan, Gereja pertama-tama mendorong legalisasi dan pengukuhan perkawinan dalam Gereja, mengedukasi dan memberikan katekese kepada umat akan nilai luhur dan sakral suatu perkawinan, melakukan pendekatan kepada keluarga dan tokoh adat perihal pemahaman belis dalam upacara pernikahan. Melalui pendekatan studi pustaka dan analisis kritis yang digunakan, penelitian ini menemukan bahwa pemahaman akan kesakaralitasan dan kesucian perkawinan dalam Gereja Katolik dan Kitab Hukum Kanonik menjadi landasan pemahaman bagi masyarakat Manggarai untuk menolak praktik kawing kampong.
DINAMIKA DAN TRADISI UMAT BUDDHA DI DUSUN KRAJAN DESA KALIMANGGIS KECAMATAN KALORAN KABUPATEN TEMANGGUNG Mugiyo; Deni Setyawan
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 1 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v25i1.7501

Abstract

Dinamika dan tradisi umat Buddha mencerminkan keragaman budaya, adaptasi lokal, dan perubahan sejarah dalam pengembangan agama Buddha. Pemahaman ini memberikan wawasan tentang bagaimana agama Buddha menjadi bagian integral darikehidupan masyarakat di berbagai wilayah. Umat Buddha berusaha untuk mempertahankan tradisi-tradisi yang ada dalam kitab Sucinya dengan mempelajari ajaran agama, untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang tradisi dalam agamaBuddha. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali dinamika dan tradisi yang dijalankan oleh umat Buddha di Dusun Krajan, Desa Kalimanggis, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung. Secara khusus, penelitian ini mengkaji bagaimana masyarakat Buddha di daerah tersebut mempertahankan dan mengembangkan tradisi keagamaan mereka dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan metode Trianggulasi data. Data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah Dinamika dan tradisi umat Buddha di Dusun Krajan, Desa Kalimanggis, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung tidak muncul begitu saja, melainkan sebuah proses panjang. Dinamika ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan sejarah masuknya agama Buddha, Kondisi sosial Masyarakat, agama di masyarakat, dan kearifan lokal.