cover
Contact Name
I Gusti Agung Paramita
Contact Email
vidyawertta@unhi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vidyawertta@unhi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
DHARMASMRTI: Jurnal Pascasarjana UNHI
ISSN : 16930304     EISSN : 2620827X     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan (Dharmasmrti) Diterbitkan oleh Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia Denpasar sebagai media informasi dan pengembangan Ilmu Agama dan Kebudayaan Hindu, terbit dua kali setahun yaitu setiap bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 274 Documents
KONSEP KESAKRALAN MIRCEA ELIADE DALAM TRADISI PERINGATAN MALAM SATU SURO DI KOTAGEDE YOGYAKARTA Yuwono, Adhimas Alifian; Nurhuda, Abid; Ansori, Inamul Hasan
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6642

Abstract

This article aims to show the representation of Mircea Eliade's concept of "sacred" in the tradition of commemorating the first night of Suro in Kotagede, Yogyakarta. This type of research is qualitative with a literature study approach. Data collection was carried out by collecting literary sources in the form of books and journals related to formal objects, namely the thoughts of Mircea Eliade, and material objects, namely the tradition of commemorating the first night of Suro in Kotagede, Yogyakarta. The results of this research are that this tradition occurred because of the hierophony, namely between the month of Suro which is believed to bring both blessings and dangers and the place of implementation, namely the tombs of the Mataram kings. The myth that emerged was in the form of a belief in getting blessings and being protected from danger. Sacred symbols are manifested in the reading of tahlil, eating jenang suran, and burning incense. Meanwhile, the concept of the cosmos occurs at the time the tradition is carried out, because when the tradition takes place, there is a sacred time and a sacred place at the same time.
PEMENTASAN TARI REJANG DI PURA DESA, DESA ADAT SIDETAPA KECAMATAN BANJAR KABUPATEN BULELENG : (Perspektif Pendidikan Agama Hindu) Karismayanti, Komang Tari
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6645

Abstract

This study aims to determine the educational values contained in the Rejang Dance Performance at Pura Desa Sidetapa Village, Banjar District, from the perspective of Hindu Religious Education. The Rejang Dance Performance, part of the Galungan and Kuningan holiday series, is routinely held three days after these holidays and is a form of the Dewa Yadnya ceremony. The issues examined in this study are: (1) the procession of the Rejang Dance performance at Pura Desa Sidetapa Village, Banjar District; (2) the didactic function of the Rejang Dance performance at Pura Desa Sidetapa Village, Banjar District; and (3) the Hindu religious education values contained in the Rejang Dance performance at Pura Desa Sidetapa Village, Banjar District, Buleleng Regency. This research was conducted qualitatively by selecting informants through purposive sampling. The theories applied in this study are Religious Theory, Structural Functionalism, Aesthetic Theory, and Ethno-Pedagogy. Data collection methods included interviews and document studies. The research findings revealed that: (1) the Rejang Dance performance at Pura Desa Sidetapa Village, Banjar District, Buleleng Regency, begins with the preparation of ceremonial offerings (banten), followed by a communal prayer ceremony, and then the performance of the Rejang dance—a sacred dance performed by young men and women wearing traditional sacred costumes. This sacred dance complements the Dewa Yadnya ceremony at Pura Desa Sidetapa Village, which is believed to bring blessings to the local community; (2) the didactic functions of the Rejang Dance performance include religious, aesthetic, psychological, sociological, and cultural preservation functions; and (3) the educational values identified are religious, aesthetic, psychological, sociological, and cultural preservation values.
ANALISIS PERAN OBJEK WISATA CANDI BOROBUDUR DALAM MASYARAKAT UMAT BUDDHA DI JAWA TENGAH Agus Subandi
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6667

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran objek wisata Candi Borobudur dalam masyarakat umat Buddha di Jawa Tengah. Candi Borobudur merupakan perwujudan dari simbol agama Buddha. Pemilihan daerah wisata Candi Borobudur sebagai objek penelitian dikarenakan masyarakat umat Buddha belum memahami peran dari candi Borobudur untuk umat Buddha itu sendiri. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Tehnik keabsahan data menggunakan trianggulasi data. Hasil penelitian ini adalah peran Candi Borobudur bagi umat Buddha di Jawa Tengah antara lain sebagai pusata spiritual dimana setiap tahunnya umat Buddha melaksanakan ritual dan meditasi di candi untuk memperkuat praktik keagamannya, warisan budaya yaitu Borobudur merupakan salah satu wariasn dunia yang menjadi symbol umat Buddha serta mampu memperkuat rasa kebanggaan akan warisan budaya dan pendidikan yaitu Candi Borobudur merupakan lading ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari dengan memahami relief dan arsitertur candi tersebut.
INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEARIFAN LOKAL NGUPAH WAYANG Kiswara, Komang Agus Triadi; I Nyoman Sudanta; Gede Padma Sumardiana; Ni Wayan Yuni Astuti
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6681

Abstract

Wayang merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang ada di Bali. Sebagai sebuah kesenian wayang tentunya memiliki nilai yang sarat dengan religiusitas. Wayang merupakan kesenian yang dapat dipentaskan sebagai wali, bebali dan balih-balihan. Dalam sejarahnya wayang telah ada sejak jaman dahulu sehingga wayang juga disebut sebagai kesenian klasik. Sebagai sebuah bentuk kesenian wayang juga terkena oleh dampak globalisasi. Hal ini dapat kita lihat dari minimnya masyarakat yang saat ini gemar menonton wayang, terkecuali dalam bentuk wayang sebagai wali. Padahal disisilain wayang juga memiliki nilai yang sangat penting yaitu sebagai media dalam pembentukan karakter bagi generasi muda. Melalui sisipan cerita yang diambil melalui itihasa wayang mencoba menguraikan tentang ajaran-ajaran agama dalam setiap pertunjukannya. Hal inilah yang dilakukan oleh masyarakat di Kec. Banjar Kabupaten Buleleng kendatipun arus globalisasi melanda namun eksistensi pertunjukan wayang yang dibalut dalam tradiisi ngupah wayang masih terjaga. Hal ini dipercayai sebagai bentuk media internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter bagi mereka yang menanggap wayang.Dari latar belakang tersebut rumusan masalah yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah 1) Mengapa tradisi ngupah wayang sebagai media pendidikan karakter masih eksis dilaksanakan di Desa Banjar Kecamatan Banjar? 2) Bagaimana bentuk tradisi ngupah wayang sebagai media pendidikan karakter di Desa Banjar Kec. Banjar Kab. Buleleng? 3) Bagaimana implikasi dari tradisi ngupah wayang sebagai media pendidikan karakter di Desa Banjar Kec. Banjar Kabupaten Buleleng? Penelitian yang dilakukan ini menggunakan metode kualitatif. Teori yang dipergunakan dalam membedah rumusan masalah adalah teori eksistensialisme, teori fungsional structural. Hasil penelitian ini adalah pentingnya kehadiran wayang sebagai media internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter adalah Atma sradha, tradisi, dan juga suah ujar (mesesangi), bentuk pendidikan karakter tertuang dalam lakon cerita, upakara, dan penglukatan.
PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP KEBUDAYAAN BALI Riska , Ni Ketut Riska Dewi Prawita; I Gusti Nyoman Agung Ngurah Sedana Putra; I Gusti Agung Paramita; Ida Kade Suarioka
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6716

Abstract

Kebudayaan Bali tidak pernah terlepas dari perpaduan harmonis antara tradisi keagamaan yang kental, kekayaan seni yang beragam, tradisi lisan, pakaian adat, bahasa daerah, serta adat istiadat yang menjadi bukti ketahanan dan kreativitas selama berabad-abad. Di balik keberagaman budaya tersebut, Bali sering menghadapi serangan dari pengaruh era globalisasi yang dapat mengancam warisan budaya. Dampak yang signifikan terhadap kebudayaan tradisional Bali adalah komodifikasi budaya Bali untuk tujuan pariwisata dan westernisasi akibat pengaruh perkembangan teknologi (media digital). Di tengah kekuatan globalisasi, masyarakat Bali perlu selalu menjaga keseimbangan antara menghormati kearifan masa lalu dan memanfaatkan peluang yang saat ini tanpa mengorbankan identitas budaya tradisional Bali dan nilai-nilai luhur yang dikandungnya.
INTEGRATING PAÑCAMAYAKOSA IN ADDRESSING DEPRESSION: A STUDY IN HINDU PHILOSOPHICAL APPROACH Gede Endy Kumara Gupta; Ida Ayu Gde Wulandari; Ida Bagus Ketut Mantra
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6717

Abstract

Depresi adalah kondisi yang ditandai dengan ketidakseimbangan atau gangguan dalam diri sendiri yang terkait dengan aspek bio-psiko-sosial, yang terwujud dalam gejala-gejala seperti hilangnya semangat, perasaan sedih, rendah diri, menarik diri dari orang lain dan lingkungan, serta pikiran atau upaya bunuh diri. Mengingat meningkatnya prevalensi depresi dan dampaknya terhadap kesehatan global, sangat mendesak untuk mengeksplorasi perspektif dan solusi alternatif. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif, menggunakan sumber data sekunder seperti buku, jurnal, dan laporan penelitian, yang dianalisis melalui studi dokumen untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang gangguan depresi. Konsep Hindu tentang Pañcam?y?ko?a, yang menggambarkan lima lapisan kesadaran individu, digunakan sebagai alat analisis utama. Studi ini mengungkapkan bahwa depresi dapat dipahami sebagai ketidakseimbangan dalam lapisan-lapisan ini, dan menunjukkan bahwa praktik holistik seperti yoga, meditasi, dan pr??ayama, bersama dengan menumbuhkan pikiran positif dan dukungan sosial, dapat secara efektif mengatasi gangguan depresi. Temuan-temuan ini menyoroti potensi mengintegrasikan kearifan tradisional Hindu dengan pendekatan psikologis modern untuk mengembangkan strategi yang efektif untuk mengelola depresi.
ANALISIS PENTINGNYA MENJAGA KERUKUNAN UMAT BUDDHA DI VIHARA CAKRA JAYA, VIHARA CAKRA DHAMMALOKA, DAN PADEPOKAN DHAMMALOKA ARAMA KABUPATEN BANJARNEGARA Evi, Evi Ratnasari; Hesti, Hesti Sadtyadi
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6718

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana umat Buddha di Banjarnegara menjaga kerukunan antar umat Buddha yang berbeda sekte. Penelitian ini dilakukan pada tiga vihara di Banjarnegara yang memiliki umat Buddha dengan berbeda majelis yaitu majelis Buddhayana dan majelis Theravada yaitu Vihara Cakra Jaya yang terletak di desa Mandiraja Wetan, Vihara Cakra Dhammaloka yang terletak di desa Somawangi, dan Padepokan Dhammaloka Arama yang terletak di desa Merden. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan tekni pengumpulan data berupa observasi, wawancara, serta dokumentasi. Subjek penelitian diambil dari umat yang terjun langsung dan berperan aktif dalam kegiatan umat Buddha dalam menjaga kerukunan umat Buddha di Banjarnegara. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kerukunan umat Buddha di Vihara Cakra Jaya, Vihara Cakra Dhammaloka dan Padepokan Dhammaloka Arama adalah hal yang penting untuk tercipta karena mengingat umat Buddha yang ada di tiga vihara tersebut termasuk minoritas dalam daerahnya. Untuk menciptakan kerukunan umat Buddha di ketiga vihara tersebut, dilakukan dengan cara melaksanakan pujawalian bersama, anjangsana, sosialisasi, pelaksanaan kegiatan terkhusus untuk muda-mudi Buddhis (Sekolah minggu; Atthasila, Meditas, Dhamma; DhammaClass) serta arisan yang secara rutin dilakukan oleh para orangtua.
TRANSFORMASI UPACARA ATIWA-TIWA DI DESA SIANGAN KECAMATAN GIANYAR, KABUPATEN GIANYAR Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba; I Ketut Suda; Ni Kadek Ayu Kristini Putri; I Gusti Agung Paramita
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6787

Abstract

Artikel ini membahas transformasi upacara atiwa-tiwa di Desa Adat Siangan, atiwa-tiwa yang awalnya dilakukan di setra desa, kini ada kecenderungan melaksanakan atiwa-tiwa di krematorium (tempat kremasi). Pergeseran ini akan berdampak pada tatanan adat, sosial, dan religius khususnya di Desa Adat Siangan. Perihal ini menarik untuk dikaji dan peneliti berupaya memfokuskan pada penyebab terjadi transformasi ini, proses dan implikasinya. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Data dianalisis dengan teknik analisis interpretatif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada beberapa faktor penyebab terjadinya transformasi dalam upacara atiwa-tiwa yakni faktor sosial, budaya, ekonomi dan modernisasi. Transformasi ini juga berimplikasi terhadap kehidupan ekonomi, budaya, dan keagamaan.
JALINAN SUCI MANUSIA, ALAM, DAN TUHAN DALAM UPACARA NGABEN DI BALI Putu Krisna Dewi; I Wayan Suja
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6841

Abstract

Konsep Tri Hita Karana yang mencerminkan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan sangat esensial dalam kehidupan masyarakat Bali, terimplementasi secara nyata dalam upacara Ngaben, ritual kremasi khas Bali. Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan Tri Hita Karana dalam Ngaben dan relevansinya dalam konteks sosial-budaya Bali modern. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, data dikumpulkan melalui observasi partisipan dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap elemen Tri Hita Karana, parahyangan (hubungan dengan Tuhan), pawongan (hubungan antarmanusia), dan palemahan (hubungan dengan alam) bermanifestasi nyata dalam Ngaben. Ngaben memperkuat kohesi sosial dan penghormatan pada alam dengan penggunaan material alami, menunjukkan fleksibilitas tradisi di tengah arus modernisasi tanpa kehilangan esensinya.
MAKNA TRADISI TUMPENG DALAM BUDAYA JAWA DAN RELEVANSINYA BAGI PENGHAYATAN PERAYAAN EKARISTI DI PAROKI MARIA RATU DAMAI PURWOREJO MALANG Raimundus Lulus Sukaryo; Alfonsus Krismiyanto; Paskalis Edwin I Nyoman Paska
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6844

Abstract

Tumpeng banyak dipakai dalam kegiatan orang Jawa baik Katolik maupun non Katolik. Akan tetapi, makna simbolis tradisi Tumpeng sering kurang dipahami dan kabur. Umat Katolik non Jawa yang memakai tradisi ini juga kurang memahami, tidak terkecuali umat Katolik Jawa kurang memahami makna dan tujuan tradisi tumpeng, terutama relevansinya dengan perayaan Ekaristi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna tradisi tumpeng dan relevansi tradisi tumpeng bagi penghayatan perayaan Ekaristi bagi umat di Paroki Maria Ratu Damai Purworejo. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Narasumber dalam penelitian ini adalah umat dan pastor paroki. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Peneliti melakukan pengujian keabsahan data dengan menggunakan triangulasi Teknik pengumpulan data. Upacara tumpengan di Paroki Maria Ratu Damai Purworejo menunjukkan adanya keselarasan dengan perayaan Ekaristi. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya syukur, namun dengan fokus yang berbeda. Tumpengan lebih pada syukur atas berkat duniawi, sedangkan Ekaristi berpusat pada syukur atas karya penyelamatan Kristus.