cover
Contact Name
I Gusti Agung Paramita
Contact Email
vidyawertta@unhi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vidyawertta@unhi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
DHARMASMRTI: Jurnal Pascasarjana UNHI
ISSN : 16930304     EISSN : 2620827X     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan (Dharmasmrti) Diterbitkan oleh Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia Denpasar sebagai media informasi dan pengembangan Ilmu Agama dan Kebudayaan Hindu, terbit dua kali setahun yaitu setiap bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 274 Documents
PENDIDIKAN KEAGAMAAN SOSIALIS-HUMANIS SEBAGAI BASIS MODERASI BERAGAMA Herrio Tekdi Nainggolan; Trinovianto G.R. Hallatu; Ni Nyoman Rediani; Bernadetha Rizki Kaize
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 24 No 1 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/hyxk4t14

Abstract

Education as an instrument of human civilization has a very central role and function in shaping patterns of human behavior both individually and in groups when interacting in society. This paper explores how socialist-humanist religious education becomes the basis of religious moderation for society in the midst of religious diversity and complexity. By using a qualitative research method and a literature review approach to study the subject matter, the answers to the problems in this paper are presented in a descriptive narrative form. The results of the study show that socialist-humanist religious education is able to awaken the religious community to interpret and understand not only the religion they adhere to but also other religions in relation to social and human relations. Socialist-humanist religious education makes it possible to interpret and understand religion broadly and deeply so that it does not belittle the substance of religion only in the realm of divinity. With such a meaning and understanding of religion, the essence of religious people, namely being tolerant and moderately religious, can be realized. Religion is not only understood in the theological-dogmatic realm, but religious messages are also understood in a socialist-humanist sense.
REKONSTRUKSI HUKUM TERHADAP PENGUATAN PERLINDUNGAN BANGUNAN ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI I Putu Andika Pratama; I Made Sujanayasa
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 2 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/x5sttp93

Abstract

Arsitektur tradisional Bali seiring perkembangan jaman semakin tergerus oleh seni arsitektur modern dan juga terjadinya kerusakan-kerusakan. Berdasarkan hal tersebut, adapun rumusan masalah yang dapat dikaji yaitu: (1) Bagaimanakah pengaturan terkait perlindungan bangunan arsitektur tradisional Bali; dan (2) Bagaimanakah rekonstruksi hukum penguatan perlindungan bangunan arsitektur tradisional Bali. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Teknik pengumpulan bahan hukum dilakukan dengan studi dokumen dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan fakta, dan pendekatan analisis konseptual. Hasil dari penelitian ini yaitu: Pertama, Secara yuridis, arsitektur tradisional Bali diatur di dalam Perda No. 5 Tahun 2005. Perlindungan terhadap arsitektur tradisional Bali dilakukan dengan kewajiban pengaplikasian pada bangunan gedung. Kedua, Adanya ketiadaan sanksi dalam Perda No. 5 Tahun 2005. sehingga perlu adanya diskresi pemerintah berlandaskan interpretasi gramatikal dan sistematis terhadap Pasal 23 UU No. 30 Tahun 2014 dan juga rekonstruksi hukum berupa perubahan terhadap Perda No. 5 Tahun 2005 dengan penambahan pasal dengan substansi penjatuhan sanksi dengan memperhatikan kaidah dan gramatikal dalam pembentukan peraturan perundang-undangan berlandaskan UU No. 12 Tahun 2011. Selain itu juga perlu adanya pembentukan peraturan daerah terkait penguatan perlindungan bangunan arsitektur tradisional Bali di tiap-tiap kabupaten/kota beserta penerapan sanksi hukum yang tegas mengatur, baik berupa sanksi administratif maupun sanksi pidana bagi pelanggaran yang dilakukan. Hal ini bertujuan untuk terwujudnya kepastian hukum dan meminimalisir pelanggaran yang terjadi.
DIMENSI SOSIO-RELIGIUS DALAM PERAYAAN GALUNGAN: KAJIAN TENTANG KESEIMBANGAN HUBUNGAN VERTIKAL DAN HORIZONTAL Ni Wayan Sumartini; I Wayan Suja
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 2 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/0s3nsp53

Abstract

Perayaan Galungan memiliki makna mendalam baik secara vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan) maupun horizontal (hubungan antarindividu). Penelitian ini menggunakan metode etnografi untuk mengeksplorasi dimensi sosio-religius dalam perayaan tersebut, dengan fokus pada keseimbangan hubungan vertikal dan horizontal dalam masyarakat Bali. Temuan menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya memperkuat spiritualitas individu, tetapi juga kohesi sosial, sekaligus mampu beradaptasi dengan tantangan modernisasi tanpa kehilangan nilai-nilai inti.
REVITALISASI KONSEP HARMONI TRILATERAL DALAM PENGEMBANGAN LITERASI DIGITAL BERBASIS KEARIFAN LOKAL Ni Komang Astri Mahyuni; I Wayan Suja
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 2 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/m3nbz905

Abstract

Revitalisasi konsep harmoni trilateral dalam pengembangan literasi digital berbasis kearifan lokal, seperti Tri Hita Karana, penting dilakukan untuk menghadapi tantangan era digital. Kesenjangan digital antargenerasi, resistensi masyarakat terhadap perubahan, keterbatasan infrastruktur, dan minimnya SDM kompeten menjadi hambatan utama. Penelitian ini bertujuan mengintegrasikan nilai spiritual, sosial, dan ekologis melalui pendekatan holistik. Dengan metode studi kasus kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan FGD. Hasilnya menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas generasi, pelatihan fasilitator lokal, dan pengembangan infrastruktur berbasis komunitas untuk mengharmonisasikan teknologi modern dengan nilai tradisional. Pendekatan ini mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan digital dan kelestarian budaya lokal.
PERAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (FKUB) DAN FORUM PEMUDA LINTAS AGAMA (FPLA) DALAM MEWUJUDKAN MODERASI BERAGAMA DI KABUPATEN KULON PROGO Mei Sucita Dewi; Situ Asih; Ngadat
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 2 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/9qds3952

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Forum Pemuda Lintas Agama (FPLA) dalam mewujudkan moderasi beragama di Kabupaten Kulon Progo. Moderasi beragama menjadi pendekatan penting untuk menjaga kerukunan di tengah keberagaman agama dan budaya, yang sering menghadapi tantangan seperti intoleransi, diskriminasi, dan konflik antarumat beragama. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus, yang memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap fenomena lokal terkait peran FKUB dan FPLA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FKUB berperan dalam memfasilitasi dialog antarumat beragama, memberikan rekomendasi terkait pendirian tempat ibadah, memberikan pandangan atau pendapat kepada umat tentang kebijakan yang terkait dengan usaha kerukunan antar umat beragama kepada pemerintah daerah serta mensosialisasikan kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkait dengan masalah kerukunan. Sementara itu, FPLA berfokus pada penguatan moderasi beragama di kalangan pemuda melalui upaya preventif di kalangan pemuda untuk mencegah konflik beragama di Kabupaten Kulon Progo, menjaga kerukunan umat beragama di Kabupaten Kulon Progo, menfasilitasi kegiatan keberagaman yang ada di Kabupaten Kulon Progo. Kolaborasi antara FKUB dan FPLA tidak hanya menjaga kerukunan tetapi juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang damai, toleran, dan inklusif. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran kedua organisasi tersebut dalam menjadikan Kabupaten Kulon Progo sebagai model kerukunan di tengah keberagaman Indonesia.
DESAIN KOLABORATIF BERBASIS DESIGN THINKING UNTUK PELESTARIAN BUDAYA TIONGHOA DI BOEN TEK BIO Inne Chaysalina; Glary Dharmada
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 2 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/h4zzmf53

Abstract

Pelestarian budaya Tionghoa di Indonesia menghadapi tantangan akibat urbanisasi, modernisasi, dan menurunnya keterlibatan generasi muda. Kelenteng Boen Tek Bio di Tangerang sebagai salah satu situs budaya tertua komunitas Cina Benteng, menyimpan nilai sejarah, sosial, dan spiritual yang penting, namun berisiko mengalami degradasi makna jika tidak diadaptasi dengan pendekatan pelestarian yang kontekstual dan partisipatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan desain kolaboratif berbasis pendekatan Design Thinking dalam strategi pelestarian budaya di Boen Tek Bio. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur, observasi langsung, dan wawancara semi-terstruktur dengan pengurus dan komunitas kelenteng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan generasi muda masih terbatas pada aspek seremonial dan belum menyentuh pemahaman budaya yang mendalam. Dengan menerapkan tahapan Design Thinking—mulai dari empati, ideasi, hingga prototipe solusi—penelitian ini menghasilkan rekomendasi program pelestarian berbasis pengalaman, digitalisasi budaya, dan mentorship antar generasi. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat partisipasi komunitas, menciptakan ruang pewarisan budaya yang adaptif, dan menjaga relevansi identitas budaya Cina Benteng di tengah perubahan zaman.
ANALISIS SIMBOLISME RELIGIUS DALAM ALIRAN THERAVADA DAN TANTRAYANA: KAJIAN KOMPARATIF MAKNA DAN FUNGSI Silasari; Tri Yatno; Sudarto
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 2 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/e3jz0055

Abstract

Artikel ini mengkaji simbolisme religius dalam dua aliran utama Buddhisme yang dianut masyarakat Desa Candigaron, yaitu aliran Theravada dan aliran Tantrayana. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah makna di balik simbol-simbol keagamaan yang digunakan dalam praktik ibadah kedua aliran tersebut serta bagaimana simbol-simbol tersebut memengaruhi pengalaman spiritual umat. Aliran Theravada, simbolisme terlihat pada penggunaan lilin, dupa, air, buah, dan bunga yang digunakan secara sederhana sebagai bentuk penghormatan dan sarana perenungan menuju pembebasan batin. Sedangkan aliran Tantrayana simbolisme keagamaan mengambil bentuk yang lebih kompleks melalui penggunaan mudra, mantra Tibet, visualisasi mandala, berbagai jenis air persembahan, dupa, bunga dan lilin yang semuanya membentuk satu kesatuan sakral untuk menyatukan tubuh, ucapan, dan pikiran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan inkuiri naturalistik dengan berbasis observasi lapangan dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun berbeda dalam bentuk, kedua aliran memiliki tujuan spiritual yang serupa, yaitu pencerahan dan ketenangan batin. Simbol dalam masing-masing aliran tidak hanya memiliki makna ritual, tetapi juga nilai sosial yang mempererat hubungan antarumat. Simbolisme dalam praktik keagamaan terbukti menjadi jembatan penting bagi penghayatan makna hidup spiritual dan sosial umat Buddha di Desa Candigaron.
PERKEMBANGAN AJARAN SAPTA DARMA DI MASYARAKAT MUSLIM KEDIRI 1952-1960 Ayu Zanuar Agum Nur Damayanti; Nurul Baiti Rohmah
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 2 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/fatdse65

Abstract

Keberagaman keyakinan di Indonesia merupakan bagian dari kekayaan budaya yang terus berkembang. Salah satu bentuk kepercayaan lokal yang muncul adalah ajaran Sapta Darma. Penelitian ini membahas tiga hal utama: awal kemunculan ajaran Sapta Darma di Kediri, perkembangan ajarannya, dan stigma masyarakat Muslim terhadap penganutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kemunculan ajaran Sapta Darma, peran Harjoesapoero sebagai tokoh penyebarnya pada tahun 1952–1960, dan mengkaji stigma masyarakat Muslim terhadap ajaran ini. Menggunakan metode sejarah, penelitian dilakukan melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran Sapta Darma pertama kali lahir di Kecamatan Pare, Kediri, pada 27 Desember 1952. Ajaran Sapta Darma merupakan bentuk kejawen yang menekankan hubungan spiritual dengan Tuhan melalui dua metode utama: Sabda Waras (penyembuhan spiritual) dan Peruwatan (pensucian tempat). Ajaran ini kerap mendapat stigma negatif dari masyarakat Muslim, seperti dianggap sesat, sehingga para penganutnya sering mengalami diskriminasi. Meski demikian, mereka tetap berusaha membangun pemahaman dan toleransi. Ajaran Sapta Darma mencerminkan pentingnya penghormatan terhadap keragaman spiritual dalam masyarakat Indonesia.
PENDAMPINGAN SPIRITUAL BERBASIS TRI HITA KARANA TERHADAP KUALITAS HIDUP PENDERITA HIV/AIDS DI BALI I Made Murdika; Euis Dewi Yuliana; Komang Gd Santhyasa
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 2 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/tn0bsz63

Abstract

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) memiliki beban hidup yang berat karena permasalahan kompleks yang selalu dihadapi setiap hari, tidak hanya terkait kondisi penyakit yang menggerogoti tubuh penderita, tetapi kondisi penyakit yang disertai stigma sosial yang sangat diskriminatif berdampak pada kualitas hidup. Kualitas hidup ODHA dapat digambarkan dari empat dimensi, yaitu kesehatan fisik, kesehatan psikologis/mental, hubungan sosial, dan lingkungan. Peningkatan pemahaman ODHA terhadap penyakitnya dan perubahan orientasi berpikir dari penyembuhan menjadi berserah diri kepada Tuhan melalui pendampingan spiritual dapat meningkatkan kualitas hidup ODHA. Penelitian ini berfokus pada (1) pendampingan spiritual berbasis Tri Hita Karana berpengaruh positif terhadap kualitas hidup ODHA; (2) bentuk pendampingan spiritual berbasis Tri Hita Karana terhadap kualitas hidup ODHA; dan (3) implikasi pendampingan spiritual berbasis Tri Hita Karana bagi ODHA terhadap kualitas hidup fisik, mental, sosial, dan lingkungan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: Pertama, teori dekonstruksi, teori konstruksi sosial dan teori resepsi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian metode campuran (exploratory sequential design) yang dimulai dengan penelitian kualitatif deskriptif dan dilanjutkan dengan penelitian potong lintang. Sebanyak 6 informan terlibat dalam penelitian kualitatif dan 128 responden terlibat dalam penelitian kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan kuesioner. Data kualitatif dianalisis dengan analisis tematik sedangkan data kuantitatif dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Kesejahteraan spiritual berpengaruh signifikan dan positif terhadap kualitas hidup pasien HIV/AIDS, semakin tinggi kecerdasan spiritual maka semakin baik kualitas hidup pasien HIV/AIDS; (2) bentuk pendampingan spiritual berbasis Tri Hita Karana yang telah dan sedang dilaksanakan selama ini antara lain pendampingan spiritual berbasis Tri Hita Karana, doa, dukungan tokoh spiritual dan rumah rehabilitasi bagi ODHA; (3) Implikasi pendampingan spiritual berbasis Tri Hita Karana memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas hidup ODHA di Bali, baik secara fisik, mental, sosial, maupun lingkungan.
PENGARUH MAKNA RITUAL MANGAN NA PAET DALAM TRADISI PARMALIM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP IMAN KRISTEN Roymandani Manurung; Welldo Aldo Pasaribu; Andreas Josephine Manullang; Dwi Shinta Rosaline Sitorus; Rudi Siahaan; New Rahmat Gultom; Ivan Adi Sirait
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 2 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/brxqd592

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji makna ritual Mangan Na Paet dalam tradisi Parmalim serta implikasinya terhadap iman Kristen. Mangan Na Paet merupakan ritual makan makanan pahit yang dilakukan setiap akhir tahun Batak sebagai simbol pengakuan dosa, pertobatan, dan komitmen pembaruan hidup. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan, wawancara dengan tokoh Parmalim dan tokoh Kristen lokal, serta observasi terbatas di komunitas Parmalim Hutatinggi, Laguboti. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mangan Na Paet memiliki makna simbolik yang mendalam, yakni kesadaran moral atas dosa, penyesalan, dan tekad untuk hidup benar. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya meliputi kejujuran, kesopansantunan, kesetiakawanan, dan kedamaian yang bukan sekadar praktik religius, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pendidikan moral dan pembentukan karakter. Dalam perspektif iman Kristen, meskipun terdapat perbedaan teologis mengenai dasar keselamatan, nilai-nilai yang terkandung dalam Mangan Na Paet sejalan dengan ajaran Alkitab tentang pengakuan dosa, pertobatan, dan pembaruan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat memperkaya refleksi lintas iman, sekaligus menjadi jembatan teologis antara spiritualitas Parmalim dan nilai-nilai Injil.