cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
Nilai Ekonomi Ekosistem Mangrove Di Kawasan Pesisir Lantebung Kota Makassar Iqbal S Gultom; T. Danny Anggoro; A.S.Kenyo Handadari; Priagung Wicaksono; R.B.Adhitya Nugraha
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 1 (2023): JUNI 2023
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v18i1.11577

Abstract

Penelitian nilai ekonomi ekosistem mangrove dilakukan di Kawasan Wisata Lantebung, Kota Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai ekonomi mangrove di Kawasan Wisata Lantebung, Kota Makassar. Penghitungan luas mangrove dilakukan melalui normalized difference vegetation index (NDVI) citra satelit Sentinel 2-A yang diakuisisi pada tanggal 8 Juni 2022. Penghitungan direct use value (DUV), indirect use value (IUV), dan optional value (OV) ekosistem mangrove dilakukan dengan pendekatan benefit transfer. Penghitungan nilai benefit transfer mengacu pada penelitian sebelumnya dan menggunakan indeks harga konsumen sebagai faktor penyesuaian. Pengumpulan dan pengolahan data dilakukan selama bulan Agustus 2022. Luas mangrove yang diperoleh adalah sebesar 103,35 ha dengan DUV sebesar Rp10.335.585.270,00/tahun, IUV sebesar Rp31.402.744.025,00/tahun, dan OV sebesar Rp242.769.150,00/tahun. Rencana tata ruang daerah Lantebung adalah kawasan bakau yang telah ditetapkan pada Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2011. Total economic value sebesar Rp41.981.098.445,00/tahun dapat menjadi pertimbangan dalam revisi rencana tata ruang pada saat melakukan integrasi rencana tata ruang laut dan rencana tata ruang darat sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Apabila akan mengubah alokasi ruang mangrove sebagai peruntukan lain, Pemerintah Kota Makassar harus mempertimbangkan TEV mangrove saat ini. Apabila alokasi ruang mangrove tetap dipertahankan, perlu diatur pembatasan kegiatan di kawasan mangrove serta kawasan permukiman dan kawasan industri yang berbatasan langsung dengan mangrove. Selain itu, TEV dapat menjadi dasar penghitungan denda ganti rugi kerusakan mangrove di Kawasan Wisata Lantebun.Title: Economic Value of Mangrove Ecosystems in The Coastal Area of Lantebung Makassar CityThis research aims to analyze mangrove economic values in in Lantebung Makassar City as one of tourism destinations. The mangrove area was assessed by the normalized difference vegetation index (NDVI) of the Sentinel 2A satellite image, acquired on June 8, 2020. Direct use value (DUV), indirect use value (IUV) and optional value (OV) of Mangrove’ ecosystem were carried out using the benefits transfer approach. This approach refers to previous research and employs consumer price index as an adjustment factor. This research was conducted on August 2022. The results present that mangrove area was 103.35 Ha with  value of DUV, IUV and OV was Rp10.3 billion/year, Rp31.4 billion/year and Rp242 million/year, repectively.  The spatial planning of Lantebung was mangrove area, acted on Presidential Regulation No. 55 of 2011.  The total economic value of around Rp42 billion/year should be considered on the revisions of spatial planning when integrating marine and land spatial planning  in accordance to the Law of the Republic of Indonesia No. 11 of 2020 on Job Creation. Should the Government of Makassar City changed the allocation of mangrove space to another use, they must consider the current TEV of mangroves. Had the government preserved the allocation of mangrove space, it is necessary to regulate the limitation activities in mangrove areas, residential areas, and industrial areas which directly adjacent to mangroves. In addition, the TEV can be the basis of calculations on the compensation for mangrove damage in the Lantebung Tourism Area. 
Studi Pemasaran Lobster Mutiara (P. Ornatus) di Provinsi Sulawesi Selatan Muhammad Hairul Haj; Nimmi Zulbainarni; Novindra Novindra
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 1 (2023): JUNI 2023
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v18i1.11537

Abstract

Provinsi Sulawesi Selatan merupakan provinsi penghasil lobster terbesar di wilayah tengah Indonesia. Meningkatnya permintaan lobster di pasar dunia dan harga jual yang tinggi mendorong masyarakat untuk melakukan kegiatan usaha budi daya. Namun, permasalahan umum yang dihadapi oleh pembudidaya adalah pemasaran. Kondisi harga yang fluktuatif dan panjangnya rantai pemasaran harus dilalui oleh pembudidaya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui mekanisme dan efisiensi pemasaran lobster mutiara (P. ornatus) di Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian berlokasi di Kabupaten Takalar, Kabupaten Pangkep, dan Kota Makassar. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus berdasarkan ciri khas dari daerah penelitian. Jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan metode stratified sampling yang terdiri dari 5 orang nelayan tangkap, 51 orang pembudidaya Karamba Jaring Apung (KJA), 11 orang pembudidaya Karamba Jaring Dasar (KJD), 2 orang pengumpul kecil, 1 orang pengumpul besar, dan 1 orang pengekspor. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis lembaga, saluran, margin, biaya, keuntungan, dan efisiensi pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat saluran pemasaran lobster. Ditemukan juga bahwa Saluran Pemasaran 4 adalah saluran yang paling efisien. Rekomendasi kebijakan yang dapat diusulkan berdasarkan hasil penelitian ini adalah (1) dibutuhkan bantuan dari pemerintah pusat (KKP) dan daerah (DKP) dalam membantu pengadaan kolam penampungan lobster pascapanen; (2) pengembangan iklim kemitraan, khususnya antara pembudidaya dan pihak pengekspor; dan (3) sistem informasi pasar, khususnya bagi pembudidaya yang harus diperbaiki agar sistem pemasaran dapat berjalan dengan baik dengan bantuan DKP.Title: Study on Marketing of Pearl Lobster (P. Ornatus) at South Sulawesi ProvinceSouth Sulawesi is the largest lobster producers in the central region of Indonesia. The increasing demand of lobster in global market and high selling prices have encouraged communities to farm the lobster. However, marketing was an issues to deal with by the farmers. Price fluctuation and extensive marketing chain were traversed by farmers. This research  aims to determine the marketing mechanism and efficiency of pearl lobster (P. ornatus) in South Sulawesi Province. This study was undertaken in Takalar, Pangkep and Makassar. This research employs case study research based on the characteristics of the research area. Number of samples was determined by stratified sampling method. A number of 51 floating net cages farmers, 11 bottom net cages farmers, 2 small collectors, 1 large collector and 1 exporter were interviewed. Institution analysis, marketing channels, margins, costs, profits and marketing efficiency were employed to answer the objectives of this research. The results show that there were four lobster marketing channels and marketing channel 4 found to be the most efficient channel. Some policy recommendations are proposed:  1) subsidies  are needed from the central government (MMAF) and regional offices in the form of post-harvest lobster ponds, 2) developing a partnership climate, especially between farmers and exporters, and 3) access to market information systems assisted by regional officer, especially for farmers to improve supply chain.
Efisiensi Perikanan Tangkap Skala Kecil di Wilayah Konflik Kabupaten Bangka yeyen mardyani; Endang Bidayani; Kurniawan Kurniawan; Siti Aisyah; Fahri Setiawan
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 1 (2023): JUNI 2023
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v18i1.11767

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis produktivitas dan efisiensi perikanan tangkap skala kecil di wilayah konflik pesisir timur Kabupaten Bangka. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2021 dengan lokasi penelitian adalah sentra nelayan kecil yang meliputi Desa Deniang (Kecamatan Riau Silip) serta Desa Rebo dan Desa Matras (Kecamatan Sungailiat). Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 67 nelayan yang terdiri atas nelayan bagan tancap sebanyak 21 orang, nelayan pancing ulur sebanyak 29 orang, dan nelayan jaring insang hanyut sebanyak 17 orang. Pada musim puncak (April—Oktober), produktivitas rata-rata nelayan bagan tancap mencapai 857,1 kg/trip, nelayan pancing ulur rata-rata 41,1 kg/trip, dan nelayan JIH rata-rata 24,8 kg/trip. Sementara itu, pada musim paceklik (November—Maret), rata-rata produktivitas nelayan turun sebesar 92%. Efisiensi rata-rata nelayan kecil di pesisir timur Kabupaten Bangka cukup baik dengan rata-rata nilai rasio R/C > 1, yaitu nelayan bagan tancap 1,15; nelayan pancing ulur 1,36; dan nelayan JIH dengan nilai 1,35. Nilai efisiensi alat tangkap di wilayah konflik tersebut lebih rendah dibandingkan dengan nilai efisiensi alat tangkap yang sama di wilayah bukan konflik, seperti Desa Tanjung Pura di Kabupaten Bangka Tengah dan Pulau Celagen di Kabupaten Bangka Selatan. Produktivitas nelayan skala kecil di pesisir timur Kabupaten Bangka dapat lebih ditingkatkan melalui inovasi alat bantu rumpon portabel, pengembangan aplikasi untuk mencari titik lokasi ikan, pemanfaatan koperasi perikanan, pengelolaan pesisir berbasis RZWP3K, revitalisasi perairan laut yang terkena dampak aktivitas penambangan, perluasan kawasan konservasi, serta dukungan dan pelindungan nelayan kecil dalam rangka mendukung capaian target indikator SDG 14.Title: Small-Scale Fisheries Efficiency in Conflict Areas in Bangka RegencyThis study aims to analyze the productivity and efficiency of small-scale fisheries in the conflict areas of the eastern coast of Bangka Regency. The research was conducted in a small fishing center, including Deniang Village (Riau Silip Subdistrict), Rebo Village, and Matras Village (Sungailiat Subdistrict) in 2021. The research employs descriptive-quantitative. The respondents were 67 fishers consisting of 21 stationary lift net fishers, 29 hand-line fishers, and 17 drift gill net fishers. During the in-season (April - October), the average productivity of stationary lift net fishers hand-line fisher and drift gill net fishers was 857.1 kg/trip, 41.1 kg/trip, 24.8 kg/trip, respectively. Meanwhile, during the out-of-season (November - March), the average productivity of fishers decreased by 92%. The average efficiency values of the small-scale fishers on the eastern coast of Bangka Regency were moderate, with an average value of R/C ratio > 1, where RC ratio for the stationary lift net, hand-line and drift gill net was 1.15, 1.36 and 1.35, respectively. The efficiency value of fishing gear in the conflict area was lower than that of the same fishing gear in non-conflict areas, such as in Tanjung Pura Village of Central Bangka Regency and Celagen Island of Southeast Bangka. The productivity of small-scale fishers can be further improved through the innovation of portable fishing aggregating device (FAD), the development of applications to find fish location points, utilization of fishery cooperatives, coastal management based on RZWP3K, and revitalization of marine waters affected by mining activities, expansion of conservation areas, as well as support and protection of small-scale fishers in order to support the achievement of SDG 14 indicator targets.
Analisis Illegal Fishing Di Perairan Aceh Afriandi, Fadli; Ariyadi, Fachriza; Abdillah, Ligar; Lestari, Yeni Sri
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v18i2.13006

Abstract

Tulisan ini merupakan kajian politik keamanan nontradisional yang berfokus kepada illegal fishing. Illegal fishing merupakan bentuk ancaman yang dapat merusak hubungan antar negara, lingkungan hidup, dan berdampak terhadap keamanan manusia. Tulisan ini berupaya menganalisis mengapa kasus illegal fishing oleh kapal ikan asing dan kapal ikan Indonesia di Provinsi Aceh sering kali terjadi. Kasus illegal fishing yang terjadi di Aceh dianalisis menggunakan pendekatan keamanan nontradisional dengan menggunakan Teori Sea Power Mahan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan studi pustaka. Penelitian dilaksanakan dari bulan Agustus hingga September 2022. Hasil dari penelitian ini adalah kasus illegal fishing terjadi disebabkan oleh faktor wilayah, masyarakat, dan pemerintah. Faktor wilayah seperti jauhnya Aceh dari pusat pemerintahan dan berada di wilayah perbatasan. Faktor dari masyarakat misalnya sedikitnya jumlah nelayan, adanya tradisi larangan melaut, dan masih menggunakan alat tangkap yang dilarang. Terakhir faktor pemerintah adalah rendahnya pengawasan, dan kebijakan yang tidak ramah illegal fishing. Title: Analysis Illegal Fishing in The Aceh WatersThis paper studies non-traditional security politics that focus on illegal fishing. Illegal fishing is a form of threat that can damage relations between countries and the environment and have an impact on human security. This paper analyses why illegal fishing by foreign and Indonesian fishing boats often occurs in Aceh Province. Cases of illegal fishing that occurred in Aceh were analyzed using a nontraditional security approach using Mahan’s Sea Power Theory. The research method used is qualitative, with data collection techniques through in-depth interviews and literature study. The research was conducted from August to September 2022. The results of this study are cases of illegal fishing that occur due to regional, community, and government factors. Regional factors include Aceh’s distance from the central government, and being in a border area. Aspects from the community, for example, the small number of fishermen, the tradition of prohibiting going to sea, and still using prohibited fishing gear. Finally, the government factor is the low level of supervision and policies that could be more friendly to illegal fishing.
Analisis Kinerja Keuangan dan Manfaat Ekonomi Koperasi Perikanan Pantai Madani, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis Marysyah, Agnestia; Saleh, Zulkarnaini; Yanti, Chicka Willy
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v19i1.12473

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober—November 2022 di Koperasi Perikanan Pantai Madani, Desa Pambang Pesisir, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur kinerja keuangan Koperasi Perikanan Pantai Madani dalam periode lima tahun (2017—2021) dan menganalisis manfaat ekonomi yang diterima anggota Koperasi Perikanan Pantai Madani. Metode yang digunakan adalah metode survei. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 43 orang terdiri dari pengurus dan anggota yang diambil secara purposive sampling. Teknik analisis data menggunakan analisis rasio keuangan dan deskriptif kuantitatif. Adapun hasil  penelitian ini adalah untuk kinerja keuangan Koperasi Perikanan Pantai Madani dari tahun 2017—2021 yang dilihat berdasarkan rasio keuangan pada tingkat likuiditas (current ratio) tidak baik, tingkat solvabilitas (DER dan DAR) baik, tingkat profitabilitas (ROE dan ROA) cukup baik, serta tingkat aktivitas (receivable turnover dan total asset turnover) cukup baik. Manfaat ekonomi langsung dirasakan oleh  anggota Koperasi Perikanan Pantai Madani yang memiliki kapal motor dan membeli bahan bakar biosolar di koperasi, yaitu sebesar Rp11.576.700,00/anggota. Sedangkan manfaat ekonomi tidak langsung dapat dirasakan oleh seluruh anggota Koperasi Perikanan Pantai Madani, yaitu berkisar antara Rp234.000,00-Rp371.000,00/anggota. Koperasi Perikanan Pantai Madani harus berupaya meningkatkan SDM agar dapat mensejahterakan anggotanya dengan memenuhi kebutuhan anggotanya untuk mendorong keberhasilan koperasi.Title: Analysis of Financial Performance and Economic Benefits of Pantai Madani Fisheries Cooperatives, Bantan District, Bengkalis RegencyThis research was conducted in October—November 2022 at the Pantai Madani Fisheries Cooperative, Pambang Pesisir Village, Bantan District, Bengkalis Regency. The purpose of this study was to measure the financial performance of the Pantai Madani Fisheries Cooperative in a five years period (2017—2021) and analyze the economic benefits received by members of the Pantai Madani Fisheries Cooperative. The method used is survey method. The number of respondents in this study were 43 people consisting of administrators and members who were taken by purposive sampling. Data analysis techniques use financial ratio analysis and quantitative descriptive. The results of this study are for the financial performance of the Pantai Madani Fisheries Cooperative from 2017—2021 which is seen based on financial ratios at the level of liquidity (current ratio) is not good, the level of solvency (DER and DAR) is good, the level of profitability (ROE and ROA) is quite good and activity levels (receivable turnover and receivable total asset turnover) are quite good. Members of the Pantai Madani Fisheries Cooperative feel direct economic benefits who own motor boats and buy biosolar fuel at the cooperative, amounting to IDR11,576,700.00/member. Meanwhile, the indirect economic benefits can be felt by all members of the Pantai Madani Fisheries Cooperative, which range from IDR234,000.00 until IDR371,000.00/member. Pantai Madani Fisheries Cooperatives must strive to improve human resources so that they can prosper their members by meeting the needs of their members to encourage the success of the cooperative.
Persepsi Masyarakat terhadap Pengelolaan Wisata Mangrove Terpadu di Kawasan Taman Wisata Alam Teluk Youtefa Sari, Annita; Dahlan, Dahlan; Prayitno, Yudi; Tuhumury, Ralph A.N.; Siegers, Willem H.; Kurniawan, Ade; Ahmad, Iwan
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v18i2.12103

Abstract

Makin banyaknya pembangunan di kawasan mangrove Teluk Youtefa mengakibatkan mangrove mengalami kerusakan dan degradasi. Pelestarian ekosistem pesisir diperlukan sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan kelestarian taman wisata mangrove melalui penyelenggaraan wisata mangrove terpadu. Penelitian persepsi masyarakat terhadap pengelolaan wisata mangrove terpadu di Kawasan taman wisata alam Teluk Youtefa dilakukan pada kampung Enggros, Tobati dan Nafri, tujuannya dari penelitian ini ialah untuk mengetahui apakah masyarakat mengerti bahwa kawasan mangrove penting bagi kelangsungan hidup masyarakat dan lingkungan pesisir. Pengambilan data dilakukan di kawasan Taman Wisata Alam Teluk Youtefa, Jayapura, Papua pada bulan Agustus 2019 s.d. Februari 2021. Tujuan penelitian adalah memastikan bahwa konteks sosial, ekonomi, dan budaya di tempat ekowisata mangrove dapat berkembang serta memberikan inisiatif strategis khusus, dalam hal ini pandangan masyarakat. Metode yang digunakan adalah wawancara dan diskusi kelompok terpumpun (focus grup discussion) yang kemudian dianalisis dengan menggunakan SWOT. Berdasarkan hasil penelitian, persepsi masyarakat tentang fungsi dan manfaat mangrove sebagai habitat satwa bernilai tinggi (sangat paham), sedangkan persepsi mengenai Pewisata mangrove terpadu, fasilitas, dan aksesibilitas serta keamanan bernilai sedang (cukup paham). Analisis SWOT dengan lima strategi yang menjadi prioritas untuk pengembangan wisata mangrove terpadu menunjukkan bahwa pengembangan dan pengelolaan kawasan Taman Wisata Alam Teluk Youtefa berpusat pada masyarakat, komunitas adat, dinas terkait, dan pemangku kepentingan (stakeholder); ketersediaan sumber daya manusia (SDM); perbaikan kawasan taman wisata; dan lain-lain. Pengelolaan wisata mangrove terpadu dilaksanakan dengan melibatkan semua unsur (LMA, instansi pemerintah dan swasta, LSM, serta perguruan tinggi).Title: Public Perception of Integrated Management of Mangrove Tourism in Youtefa Bay Tourism Park AreaThe increasing number of developments in the Youtefa Bay mangrove area has resulted in the mangroves experiencing damage and degradation. Preserving coastal ecosystems is needed as an effort to maintain the sustainability of mangrove tourism parks through organizing integrated mangrove tourism. Research on community perceptions regarding integrated mangrove tourism management in the Youtefa Bay natural tourism park area was carried out in the villages of Enggros, Tobati and Nafri. The aim of this research was to find out whether the community understands that mangrove areas are important for the survival of the community and the coastal environment. What are the research methods and what data is needed and how to analyze it. Data collection was carried out in the Youtefa Bay Natural Tourism Park area, Jayapura, Papua from August 2019 to 2019. February 2021. The aim of the research is to ensure that the social, economic and cultural context of mangrove ecotourism can develop and provide special strategic initiatives, in this case the community’s views. The method used was interviews and focus group discussions which were then analyzed using SWOT. Based on the research results, the public’s perception of the function and benefits of mangroves as animal habitat is of high value (very understanding), while the perception of integrated mangrove tourism, facilities, and accessibility and safety is of medium value (somewhat understanding). SWOT analysis with five strategies that are priorities for the development of integrated mangrove tourism shows that the development and management of the Youtefa Bay Nature Tourism Park area is centered on the community, traditional communities, related agencies and stakeholders; availability of human resources (HR); improvement of the tourist park area; and others. Integrated mangrove tourism management is implemented by involving all elements (LMA, government and private agencies, NGOs, and universities.
Mengadaptasi Keadilan Lingkungan dan DPSIR untuk Mengatasi Dampak Lingkungan Terhadap Perikanan Tangkap di Lahan Basah Ningsih, Etik Sulistiowati; Jarayabhand, Padermsak -; Erwiantono, Erwiantono -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v19i1.13350

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) sebab dan akibat menurunnya hasil tangkapan ikan di lahan basah dan 2) sifat jalin-menjalin dari berbagai bidang ketidakadilan dalam dampak proyek industri skala besar terhadap perikanan. Penelitian ini menggunakan metode Driver-Pressure-State-Impact-Response (DPSIR) dan pendekatan keadilan lingkungan untuk menganalisis aspek sosial, ekonomi, dan politik dari penurunan hasil tangkapan ikan. DPSIR mencerminkan hubungan sebab akibat antara manusia dan alam di mana kebutuhan dan keinginan manusia mendorong manusia untuk memanfaatkan tekanan pada lingkungan tertentu yang kemudian mengubah keadaan lingkungan dan menimbulkan dampak sosial dan lingkungan yang perlu ditanggapi. Pengaturan kualitatif digunakan dengan wawancara mendalam dengan 70 pemangku kepentingan dari berbagai tingkatan, termasuk pejabat pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat, nelayan, dan akademisi. Responden dipilih karena pengetahuan mereka tentang isu-isu terkait sumber daya perairan di Kawasan Mahakam Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan tangkapan ikan terutama didorong oleh konsesi lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Perluasan perkebunan kelapa sawit berdampak pada berkurangnya daerah penangkapan ikan, penurunan kualitas air, kematian ikan massal, yang menyebabkan kerawanan ekonomi. Hal ini akhirnya memunculkan persepsi tentang isu ketidakadilan distributif karena semua itu mengubah hak-hak nelayan yang kehilangan haknya. Langkah mendasar dalam mencapai keadilan lingkungan dan keberlanjutan perikanan adalah mengenali dan mengintegrasikan pengetahuan nelayan lokal ke dalam perencanaan dan pengelolaan lingkungan.Title: Adapting The Environmental Justice Approach and DPSIR to Address the Environmental Impact on Wetland Capture FisheriesThis research seeks to understand 1) the reasons behind and consequences of declining fish catches in wetlands, and 2) the interconnected nature of various injustices resulting from large-scale industrial projects on fisheries. The study employs the Driver-Pressure-State-Impact-Response (DPSIR) framework and an environmental justice perspective to explore the social, economic, and political dimensions of the declining fish catches. DPSIR illustrates the causal links between human activities and nature, where human needs and desires prompt pressures on specific environments, altering their state and causing social and environmental impacts that need addressing. A qualitative approach was adopted, involving in-depth interviews with 70 stakeholders, including government officials, NGOs, fishermen, and academics. Respondents were chosen based on their expertise regarding water resource issues in the Central Mahakam area. Findings reveal that the primary driver of declining fish catches is land concessions for palm oil plantations. The expansion of these plantations leads to reduced fishing areas, degraded water quality, mass fish deaths, and consequently, economic vulnerability. These changes have spurred perceptions of distributive injustice as fishermen lose their rights. Recognizing and incorporating local fishermen's knowledge into environmental planning and management is crucial for achieving environmental justice and fisheries sustainability.
Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Perilaku Nelayan di Kelurahan Bagan Barat Kabupaten Rokan Hilir Ginting, Tri Oktaviani; Nugroho, Firman; Metalisa, Rindi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v18i2.12229

Abstract

Pandemi Covid-19 telah membawa perubahan perilaku pada nelayan di kawasan Bangliau dalam melaksanakan usaha perikanan dan melakukan interaksi sosial, Tujuan penelitian yaitu; (1)  menganalisis dampak pandemi Covid-19 pada perilaku nelayan di kawasan Bangliau Hasan; (2) menganalisis strategi adaptasi nelayan dalam menghadapi pandemi covid-19. Data penelitian berupa data primer diperoleh melalui in-dept interview, dan data sekunder diperoleh dari studi literatur. Pemilihan Informan di lakukan secara purposive. Keakuratan data menggunakan software Atlas ti dalam membantu analisis data yang menggunakan metode desktiptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan perubahan perilaku pada nelayan disebabkan implementasi aturan dari pemilik Bangliau Hasan akibat Covid-19. Pemerintah membuat peraturan pembatasan sosial, sehingga berdampak pada perubahan kondisi sosial ekonomi nelayan. Ketergantungan nelayan pada Pemilik Bangliau Hasan mengakibatkan nelayan tidak memiliki alternatif lain dalam melakukan penjualan ikan ketika mengalami kondisi seperti pada saat Covid-19. Dampak pandemi Covid 19 yang dialami oleh nelayan adalah penurunan permintaan ikan, terhentinya ekspor ikan, penurunan harga ikan, perubahan frekuensi melaut, dan terhambatnya distribusi ikan keluar daerah. Strategi untuk bertahan hidup dilakukan oleh nelayan dengan melibatkan anggota keluarga dalam mencari pekerjaan, melakukan diversifikasi pekerjaan, memanfaatkan hubungan sosial, dan memanfaatkan bantuan pemerintah. Title: The Impact of Covid-19 Pandemic on Fishers’ Behavior in the Bagan Barat Urban Village, Rokan Hilir DistrictThe Covid-19 pandemic has changed fishers’ behaviour in the Bangliau area in carrying out fishing businesses and conducting social interactions. The research objectives were; (1) analyzing the impact of the Covid-19 pandemic on fishermen in the Bangliau Hasan area; (2) analyzing fishermen’s adaptation strategies in dealing with the co-19 pandemic. Research data is primary data obtained through in-depth interviews and secondary data from literature studies. The selection of informants was carried out purposively—the accuracy of the data using Atlas ti software in assisting data analysis using qualitative descriptive methods. The study results show that changes in fishermen’s behaviour are due to the implementation of the rules from the owner of Bangliau Hasan due to Covid-19. The government makes social restriction regulations so that it impacts changes in fishermen’s socio-economic conditions. The dependence of fishermen on the Owner of Bangliau Hasan has resulted in fishermen having no other alternative to selling fish when experiencing conditions such as during Covid-19. The impact of the Covid 19 pandemic experienced by fishermen is a decrease in demand for fish, a halt in fish exports, a decrease in fish prices, changes in the frequency of going to sea, and delays in the distribution of fish outside the region. Fishermen carry out strategies for survival by involving family members in finding work, diversifying jobs, utilizing social relations, and utilizing government assistance.
Challenges and Opportunities in Developing Sustainable Tourism in Nusa Penida, Indonesia: A Narrative Review of Direct Community Behavior Suhardono, Sapta; Sianipar, Imelda Masni Juniaty; Suryawan, I Wayan Koko; Septiariva, Iva Yenis; Prayogo, Wisnu
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v19i1.12668

Abstract

This narrative review aims to evaluate the current situation and challenges of developing sustainable tourism in Nusa Penida, Indonesia, with a focus on direct community behavior. Nusa Penida is a small island located southeast of Bali and is known for its natural beauty and biodiversity. The tourism industry has been growing rapidly in recent years, but it has also brought negative impacts on the environment and the local community. This review examines various studies and reports on the development of sustainable tourism in Nusa Penida and the factors that affect the behavior of local communities, tourists, and tourism stakeholders. The review identifies several challenges to developing sustainable tourism in Nusa Penida, including inadequate infrastructure, limited financial resources, and a lack of effective policies and regulations. The review also highlights the importance of community involvement and empowerment in the sustainable tourism development process. The review suggests that sustainable tourism development in Nusa Penida requires a holistic approach that considers the economic, social, and environmental aspects of tourism. The review further discusses the role of education and awareness-raising in promoting sustainable tourism behavior among local communities, tourists, and tourism stakeholders.
Kerugian Ekonomi Ghost Gear Perikanan Kecil Di Laut Jawa (Studi Kasus: Tegal, Jawa Tengah) Adlina, Atrasina; Wijayanti, Pini; Ratnasari, Dinda; Kodiran, Taryono
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v18i2.12863

Abstract

Setiap tahun, diperkirakan 640.000 kg jaring bekas masuk ke laut, hal ini dikarenakan beberapa alasan seperti alat tangkap yang ditinggalkan, alat tangkap hilang, dan alat tangkap yang dibuang (abandon, lost, discarded atau ALDFG) dan lebih dikenal sebagai ghost gear. Nelayan skala kecil berpotensi menjadi pelaku sekaligus korban ghost gear tanpa disadari. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi potensi kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh ghost gear. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan Purposive sampling. Berdasarkan hasil analisis kerugian langsung yang dialami nelayan sebagian besar disebabkan oleh tersangkutnya baling-baling oleh ghost gear dan tersangkutnya alat tangkap dengan ghost gear. Sedangkan untuk kerugian tidak langsung, nelayan menghabiskan waktu tambahan rata-rata 30 sampai 60 menit untuk membersihkan dan memperbaiki alat tangkap ataupun baling-baling yang terbelit ghost gear. Menurut hasil perhitungan, kerugian ekonomi tahunan untuk nelayan harian adalah Rp. 280.433.674,03 dan untuk nelayan mingguan Rp141.883.740.963,19. Hal ini menunjukkan penurunan pendapatan tahunan sebesar 11% untuk nelayan harian dan 1% untuk nelayan mingguan. Menurunnya pendapatan juga akan merugikan cara hidup nelayan, khususnya pengeluaran rumah tangganya. Perubahan pengeluaran rumah tangga sebesar 50% untuk kebutuhan sehari-hari, 30% untuk pendidikan, dan 20% untuk biaya listrik bulanan. Untuk mengurangi dampak ghost gear ini diperlukan pengelolaan limbah jaring bekas, oleh karena itu diharapkan pemerintah mendukung pelabuhan-pelabuhan perikanan di Tegal dengan menyediakan fasilitas pembuangan, skema pembelian kembali atau inisiatif penggunaan kembali atau daur ulang melalui rantai pasokan pengumpul jaring bekas. Title: Economic Impact of Ghost Gear on Small-Scale Fisheries in Java Sea (Case Study: Tegal, Central Java)Every year, an estimated 640,000 kg of used nets enter the sea for several reasons: lost fishing gear, discarded fishing gear (abandoned, lost, discarded), and ghost gear. Small-scale fishermen have the potential to become perpetrators as well as victims of ghost gear without realizing it. This study aims to estimate the potential economic losses caused by ghost gear. The sampling method was carried out by purposive sampling. Based on the analysis results, the direct losses experienced by fishermen were mostly caused by the ghost gear propellers’ snagging and the fishing gear with the ghost gears. As for indirect losses, fishermen spend an average of 30 to 60 minutes extra time cleaning and repairing fishing gear or propellers entangled in ghost gear. According to the calculation results, the annual economic loss for daily fishermen is IDR 208,350,481.60, and for weekly fishermen, IDR 141,883,740,963.19. This represents a decrease in annual income of 11% for daily fishers and 1% for weekly fishermen. The decline in income will also harm fishermen’s way of life, especially their household expenses. Changes in household expenditure by 50% for daily needs, 30% for education, and 20% for monthly electricity costs. To reduce the impact of this ghost gear, it is necessary to manage used net waste. Therefore, it is hoped that the government will support fishing ports by providing disposal facilities, buyback schemes, or Reuse or recycling initiatives through the used net collector supply chain.