cover
Contact Name
Zahri Nasution
Contact Email
kebijakan.sosek@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kebijakan.sosek@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20896980     EISSN : 25273280     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN PERIKANAN BUDI DAYA DI KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS Nensyana Shafitri; Permana Ari Sujarwo
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 2 (2017): DESEMBER 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.895 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v7i2.6097

Abstract

Perikanan budi daya merupakan salah satu mata pencaharian yang sangat potensial di wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas. Oleh karena itu kegiatan ini harus mampu dikembangkan secara optimal dari berbagai sisi di antara dari sisi lingkungan, pasar, masyarakat dan sarana prasarana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pengembangan perikanan budi daya di Kabupaten Kepulauan Anambas dengan menggunakan SWOT dan Quantitatif Strategic Plan Matrix (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut yang paling berpengaruh dari komponen kekuatan yaitu pelaku usaha budi daya dengan skor 0,825 dan kualitas sumberdaya perairan dengan skor 0,795. Sedangkan pada komponen kelemahan atribut yang paling berpengaruh yaitu kendala hama dan penyakit dengan skor 0,171 dan belum adanya Balai Benih Ikan dengan skor 0,133. Komponen peluang atribut yang paling dominan yaitu peluang pasar yang masih terbuka dengan skor 1,607 dan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dengan skor 1,160. Sedangkan komponen ancaman atribut yang paling berpengaruh yaitu belum adanya kelembagaan permodalan dengan skor 0,128 dan terbatasnya infrastuktur akses produksi dengan skor 0,013. Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi SWOT masuk pada kuadran 1 Strategi SO (maxi-maxi strategy). Sementara itu hasil QSPM menjelaskan bahwa langkah-langkah prioritas strategi dalam pengembangan usaha perikanan budi daya di Kabupaten Kepulauan Anambas dilakukan dengan mengoptimalkan teknologi dan sarana prasarana dalam mendukung perikanan budi daya, meningkatkan potensi peluang pasar serta melakukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam usaha perikanan budi daya. Title: Potential and Opportunity of Fishery Development in Anambas Islands DistrictAquaculture is one of the most potential livelihoods in the Anambas Islands Regency. Therefore, this activity should be able to be developed optimally from various side in between environment, market, society and infrastructure.This study aims to determine the strategy of aquaculture development in Anambas Islands Regency by using SWOT and Quantitative Strategic Plan Matrix (QSPM). The result shows that the most influential attributes of the power component are cultivators with a score of 0.825 and the quality of water resources with a score of 0.795. Meanwhile the components of attribute weaknesses which very influential are pest and disease constraints with a score of 0.171 and there is no Fish Seed Institution with a score of 0.133.The most dominant component of attribute opportunity is the open market opportunity with the score of 1.607 and the type of fish that has a high economic value with a score of 1,160. Whereas the components of the most influential attribute threats is the absence of institutional capital with a score of 0.128 and the limited access to production infrastructure with a score of 0.013.This research indicates that SWOT strategy entered in quadrant 1 Strategy of SO (maximaxi strategy). Mean while QSPM results explain that the strategic priority steps in the development of aquaculture business in Anambas Islands Regency is done by optimizing technology and infrastructures in supporting aquaculture fishery, increasing the potential of market opportunity and also improving human resource capacity in cultivation aquaculture business.
PELUANG OPTIMALISASI PENGEMBANGAN BUDIDAYA KEPITING SOKA DI WILAYAH KIMBIS CAKRADONYA KOTA BANDA ACEH Opportunities to Optimize Soft Shell Crab Cultivation on KIMBis Cakradonya Area in Banda Aceh Freshty Yulia Arthatiani; Estu Sri Luhur; Armen Zulham; Joni Haryadi
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 2 (2014): DESEMBER 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.922 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i2.601

Abstract

Kota Banda Aceh merupakan ibukota Provinsi Aceh yang berada di pulau Sumatera yangsangat potensial untuk pengembangan budidaya kepiting, namun masih menghadapi berbagai kendaladalam optimalisasi potensi yang dimiliki. Klinik IPTEK Mina Bisnis (KIMBis) Cakradonya di Kota BandaAceh merupakan sebuah kelembagaan yang dibentuk pada tahun 2011 dengan tujuan peningkatankesejahteraan masyarakat terutama di sektor kelautan dan perikanan. Tulisan ini bertujuan untuk dapatmendeskripsikan peranan KIMBis dalam mengoptimalisasi peluang pengembangan budidaya kepitingcangkang lunak yang biasa disebut kepiting soka. Penelitian dilaksanakan di Kota Banda Aceh yangmerupakan wilayah Kerja KIMBis Cakradonya dengan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatifuntuk menjelaskan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh KIMBis dalam mengoptimalkan peluangpengembangan usaha kepiting soka. Hasil penelitian menunjukkan KIMBis Cakradonya berperan dalammensosialisasikan peluang usaha kepiting soka terutama kepada stakeholders sehingga diharapkandapat memberikan dukungan kebijakan bagi pengembangan usaha ini, selain itu KIMBis juga berperandalam memperkenalkan penggunaan teknologi budidaya kepiting soka dan pengolahan limbah hasilbudidaya kepiting yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas usaha. Namun optimalisasipeluang pengembangan kepiting soka mengalami berbagai kendala dari sisi teknologi, sumberdayamanusia modal dan juga input produksi. Oleh karena itu kedepannya diharapkan dapat dilaksanakanupaya tindak lanjut untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi baik itu dari sisi pengadaan benihkepiting, maupun aplikasi penerapan teknologi yang efisien serta peningkatan kemampuan pembudidayakepiting soka dalam mengakses permodalan sehingga usaha ini dapat berkembang secara optimal bagipeningkatan kesejahteraan masyarakat.Title: Opportunities to Optimize Soft Shell Crab Cultivation onKIMBis Cakradonya Area in Banda AcehBanda Aceh is the capital of Aceh Province that has great potential in crab cultivation. KlinikIPTEK Mina Bisnis (KIMBis) Cakradonya in Banda Aceh is an institution established in 2011 with the aimof improving the welfare of the community, especially in the marine and fisheries sector. This paper aimsto describe the role of KIMBis to optimize the chances of developing soft shell crab farming on BandaAceh. This research was conducted in Banda Aceh with qualitative descriptive data analysis methods.The results showed that KIMBis Cakradonya has role in disseminating of soft-shelled crabs businessopportunities especially to the stakeholders that are expected to provide policy support. KIMBis alsohad a role in the activities of introducing the use of soft-shelled crab cultivation technology and wastetreatment of cultured crabs to increase business productivity. However, the development of soft-shelledcrabs are still constrained in terms of technology, human resources and capital inputs. Therefore, in thefuture is expected to be implemented in various ways to overcome the problems in the soft shell crabcultivation such as crab seed procurement, as well as the application of efficient application of technologyand the increased capacity in the soft-shelled crab farmers to access capital so that businesses candevelop optimally for improvement public welfare.
ANALISIS KEBIJAKAN UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA BERKELANJUTAN DI KAWASAN PERAIRAN LABUAN CERMIN – KABUPATEN BERAU, KALIMANTAN TIMUR Erwiantono Erwiantono; Heru Susilo; Anugrah Aditya; Qoriah Saleha; Anisa Budiayu
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2016): JUNI 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.39 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v6i1.1611

Abstract

Kawasan perairan Labuan Cermin adalah salah satu tujuan wisata unik di  Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang terletak di daerah pesisir dan memiliki pemandangan yang indah.  Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengidentifikasi kesesuaian lahan dan menentukan daya dukung kawasan Labuan Cermin untuk mengembangkan model ekowisata berkelanjutan; 2) menganalisis nilai manfaat ekonomi dari kegiatan ekowisata dan 3) menetapkan prioritas strategi dalam mengelola ekowisata berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari sampai Mei, 2016. Pengumpulan data menggunakan metode survei dan 60 wisatawan diwawancarai dengan menggunakan metode accidental sampling. Metode analisis data terdiri dari matriks kesesuaian lahan, analisis daya dukung, analisis nilai ekonomi pariwisata dengan menggunakan metode biaya perjalanan dan penetapan prioritas strategi pengelolaan ekowisata berkelanjutan menggunakan SWOT dan QSPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Labuan Cermin sesuai/cocok untuk kegiatan ekowisata di mana indeks kesesuaiannya adalah 78%. Penelitian ini juga menemukan bahwa jumlah ideal turis yang diperbolehkan beraktivitas sebanyak 46 orang / hari. Rata-rata jumlah wisatawan yang berkunjung adalah sebanyak 12.000 orang turis / tahun, jumlah ini tidak melebihi dari daya dukung diizinkan yaitu sebanyak  16.576.000 orang turis / tahun. Selanjutnya, nilai manfaat ekonomi ekowisata dari kawasan Labuan Cermin berdasarkan metode biaya perjalanan adalah sebesar Rp 1.656.780.274,11 / tahun. Prioritas strategi pertama dalam mengembangkan ekowisata berkelanjutan di perairan Labuan Cermin adalah merevitalisasi peran lembaga lokal (Lekmalamin) dengan meningkatkan kapasitas teknis, manajerial dan sosial ekonominya.Title: Policy Analysis Of Sustainable Ecotourism DevelopmentIn Labuan Cermin Waters - Berau Regency, East KalimantanLabuan Cermin waters is one of unique tourist destinations in Berau, East Kalimantan, that is located in coastal area and has a beautiful landscape. The research objectives were: 1) identifying the land suitability and determining the carrying capacity of Labuan Cermin for sustainable ecotourism modelling; 2) analysing the ecotourism value and 3) establishing priority strategies for managing sustainable ecotourism. This research was conducted from January to May – 2015. Data collection applied survey method and 60 tourists were interviewed using accidental sampling method. Data analysis methods consisted of land suitability matrix, carrying capacity analysis, tourism economic value analysis using travel cost method and priority strategies of sustainable ecotourism management using SWOT and QSPM methods. The results showed that Labuan Cermin was suitable for ecotourism in which the index of suitability was 78%. This study also determined the number of allowed tourist were 46/day. The average number of tourists were 12.000 tourists/year, while not exceeding from allowed carrying capacity were 16.576.000 tourists/year. Furthermore, the ecotourism economic benefit value of Labuan Cermin based on travel cost method were IDR 1.656.780.274,11/year. The first priority strategy in developing sustainable ecotourism in Labuan Cermin waters was to revitalize the role of local institution (Lekmalamin) by improving its technical and socioecomic  capacity.  
Back Matter and Author Guidelines Back Matter and Author Guidelines
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 2 (2015): DESEMBER 2015
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.346 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v5i2.1099

Abstract

KAPASITAS ADAPTIF MASYARAKAT PESISIR MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM : KASUS PULAU GANGGA, MINAHASA UTARA Ary Wahyono; Masyhuri Imron; Ibnu Nadzir
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2013): DESEMBER 2013
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.414 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v3i2.315

Abstract

Masyarakat pesisir merupakan salah satu kelompok masyarakat yang paling rentan menghadapiperubahan iklim. Perubahan kecil pada lingkungan mereka dapat memberikan dampak langsung padakehidupan masyarakat pesisir khususnya pada sistem mata pencaharian. Nelayan misalnya, akankesulitan untuk melaut dalam situasi cuaca yang tidak menentu. Situasi semacam ini juga dialamioleh berbagai mata pencaharian lain di wilayah pesisir, seperti penambak garam maupun ikan. Lebihlanjut, perubahan ekologis ini dapat berpengaruh pada kapasitas adaptif masyarakat pesisir. Tulisanini mengangkat isu perubahan iklim yang terjadi pada masyarakat pesisir di Pulau Gangga. Informasidari tulisan ini diperoleh dari wawancara dan FGD yang dijelaskan dengan kerangka konsep kapasitasadaptif. Tulisan ini menunjukkan bahwa fenomena perubahan iklim telah secara nyata dirasakan diPulau Gangga. Meskipun demikian, gejala ini belum dianggap sebagai masalah yang signifikan olehwarga. Hal tersebut dipengaruhi oleh pengetahuan warga yang terbatas mengenai gejala perubahaniklim. Temuan lainnya menunjukkan bahwa kapasitas adaptif tidak hanya ditentukan oleh lingkungan.Struktur sosial baik dalam relasi patron-klien maupun kelembagaan di tingkat desa amat berpengaruhpada kapasitas adaptif masyarakat Pulau Gangga.Title: The Adaptive Capacity of Coastal Communites Face Climate Change:Gangga Island Case, South of MinahasaCoastal communities are one of the most vulnerable groups to climate change. Littleenvironmental change contributes to direct impact on the lives of coastal communities specifically onlivelihood systems. Fishermen, for example, will find it hard to go to sea in a situation of erratic weather.Such a situation also faced by many other livelihoods in coastal areas, such as salt and fish farmer.Furthermore, these ecological changes may affect the adaptive capacity of coastal communities. Thispaper raised the issue of climate change on coastal communities on the island of Gangga Island.Toexplain the problem this paper uses interview and focus group data that is described through adaptivecapacity framework. This paper shows that the phenomenon of climate change has been affectingcoastal communities in Gangga Island. Nevertheless, this phenomenon has not been regarded as asignificant problem by the citizens. It is influenced by the limited knowledge of the citizens about thesymptoms of climate change. Other findings indicate that adaptive capacity is not only determined bythe environment. Social structure in both the patron-client and institutional at the village level is veryinfluential on the adaptive capacity of society Gangga Island
PENGARUH KEBIJAKAN PERUBAHAN TARIF IMPOR TERHADAP KINERJA SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN Mira Mira; subhechanis Saptanto
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.046 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v7i1.5745

Abstract

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah melihat pengaruh kebijakan perubahan tarif impor terhadap kinerja sektor kelautan dan perikanan. Data dari tabel Input dan Output dianalisis dengan menggunakan computable general equilibrium mode (CGE).  Simulasi dilakukan dengan Focus Group Discussion, pertama menggunakan tarif impor yang berlaku saat ini untuk produk perikanan yaitu sebesar 5%, kedua menggunakan tarif impor 10 persen jika tarjadi peningkatan tarif, dan ketiga menggunakan tarif 0 % dimana terjadi penurunan tarif impor karena kesepakatan kerjasama regional (Masyarakat Ekonomi Asean). Akibat pemberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (kebijakan penurunan tarif impor) terhadap kinerja makro sektor kelautan dan perikanan meningkatkan pendapatan pemerintah (GDP) sebesar 0.009%, dan peningkatan ekspor 0.040%. Kebijakan penurunan tarif impor akibat pemberlakukan MEA hanya berpengaruh negatif pada indikator neraca pembayaran, dimana penurunan tarif impor menyebabkan penurunan neraca pembayaran 0.070%. Kebijakan penurunan tarif impor  meningkatkan nilai tambah  produk TTC, patin, kerapu, dan garam, masing-masing sebesar 0.047%, 0.004%, 0.003%, dan 0.039%. Selain itu, kebijakan penurunan tarif impor akibat pemberlakukan MEA menyebabkan ekspor TTC naik sebesar 3.367%., sedangkan impor perikanan ikan kering dan ikan olahan naik secara signifikan menjadi 11.498% dan 11.010%.  Sebaliknya kebijakan peningkatan tarif impor (dalam hal ini menjadi sebesar 10%) maka membuat penurunan pada output ikan kering dan ikan olahan  impor masing-masing turun adalah sebesar 18.502% dan -17.873%. Kebijakan peningkatan tarif impor malah menyebakan peningkatan input produksi untuk ikan olahan dan ikan kering dimana masing-masing sebesar 32% dan 34,5%. Dampak kebijakan peningkatan tarif impor terhadap input produk olahan selaras dengan tujuan kebijakan pengenaan tarif impor untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, maka diharapkan pemerintah masih mengenakan tarif impor terutama untuk komoditas yang memiliki daya saing.Title: Effect of Import Tariff Change Policy On Marine and Fisheries Sector PerformanceThis research was aimed to analyze the effect of import tariff change policy on marine and fisheries sector performance. Data was collected from Input and Output tables anddata analyzed using Computable General Equilibrium method (CGE). The simulation was conducted by Focus Group Discussion approach method, first simulation using current import tariff for fisheries product 5%, secondly using import tariff of 10% if there is increase ofimport tariff, and third using tariff 0% where there is decrease of import tariff because agreement of regional cooperation ASEAN Economic Community. As a result of the implementation of the ASEAN Economic Community (import tariff reduction policy) on the macro performance of marine and fisheries sector increased government revenue (GDP) by 0.009%, and 0.040% export increase. The import tariff reduction policy due to the imposition of the MEA only negatively affects the balance of payments indicator, where the decline in import tariffs leads to a 0.070% decrease in the balance of payments. The import tariff reduction policy increases the added value of TTC (tuna alike), catfish, grouper and salt products by 0.047%, 0.004%, 0.003% and 0.039% respectively. In addition, the import tariff reduction policy due to the introduction of the MEA caused TTC exports to increase by 3.367%, while dry fish and fish processing imports increased significantly to 11.498% and 11.010%. On the contrary, the policy to increase import tariff (in this case become 10%), the decrease of dried fish and imported fishes decreased by 18.502% and -17,873% respectively. The policy to increase import tariffs led to increased production inputs for processed fish and dried fish which were 32% and 34.5%, respectively. The impact of the policy on increasing import tariffs on refined product inputs is in line with the objective of import tariff policy to increase commodity-added value, it is expected that the government still impose import tariffs, especially for competitively priced commodities.
ANALISIS DAMPAK MORATORIUM KAPAL EX-ASING TERHADAP KONDISI PASAR TUNA INDONESIA Subhechanis Saptanto; Risna Yusuf; Tenny Apriliani; Freshty Yulia Arthatiani
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 2 (2015): DESEMBER 2015
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.941 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v5i2.1028

Abstract

Peraturan Menteri No. 56 yang dikeluarkan pada bulan Nopember 2014 tentang moratoriumkapal eks asing diduga memberikan dampak terhadap sektor perikanan termasuk komoditas tuna.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak moratorium kapal ex-asing terhadap kondisi pasartuna Indonesia. Waktu penelitian dilakukan dari bulan April hingga bulan Mei 2015 dengan mengambillokasi di Jakarta dan Bali. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dansekunder. Data primer berasal dari wawancara dengan pelaku usaha eksportir tuna dan data sekunderbersumber dari data produksi, pola pemasaran, dan ekspor perikanan. Sumber data berasal dariPelabuhan, Dinas KP di lokasi penelitian dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Data-datayang digunakan dalam penelitian diperoleh melalui penelusuran pustaka (desk study) yang relevandengan kegiatan penelitian dan survey lapang. Data-data yang telah dikumpulkan kemudian ditabulasidan dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Selanjutnya hasil analisisakan diinterpretasikan untuk menghasilkan informasi yang dapat menjawab tujuan dari penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya Permen No. 56 ini memberikan pengaruh pada triwulanpertama (bulan januari sampai Maret), volume ekspor ikan tuna segar mengalami penurunan untuktuna segar mengalami penurunan sebesar 13% sedangkan nilainya mengalami kenaikan sebesar 1%.Hal ini mengindikasikan Penurunan volume produksi yang dapat berdampak pada penurunan volumeekspor hendaknya harus diimbangi dengan adanya peningkatan harga ekspor sehingga nilai eksportidak mengalami penurunan. Jika terjadi penurunan maka dapat berdampak pada penerimaan devisanegara yang secara makro dapat menyebabkan penurunan kontribusi PDB dari sektor perikanan.Title: Impact Analysis of Ex - Foreign Ships Moratorium onMarket Condition of Indonesia TunaDecree of Minister of Marine and Fisheries No. 56 was issued on November 2014 about amoratorium on ex-foreign ship assumed giving an impact on fishing sector including tuna. This studywas aimed to analyze the impact of ex-foreign ships moratorium on Indonesian tuna market conditions.The research was conducted from April to May 2015. The location of research was in Jakarta and Bali.Data used in this study are primary and secondary data. Primary data was based on interviewing toentrepreneurs and exporters of tuna and secondary data was based on data of tuna consist of production,marketing patterns, and fisheries exports. Source of data were obtained by Port, agency of marine affairsand fisheries, Ministry of Marine Affairs and Fisheries (MMAF). The approach of the research was notonly by desk study to explore data that relevan of the research but also it by survey. The data have beencollected, tabulated and analyzed descriptively and presented on tables and figures. Furthermore, theanalysis results are interpreted to generate information that can answer the purpose of research. Theresults showed that the Decree of Minister of Marine and Fisheries No. 56 have given impact on the firstquarter (in January to March). In generally fresh tuna export volume was decreased by 13% but its valuewas increased by 1%. This result indicated that decreasing of production volume will have an impactto the decreasing of export volume. Therefore, we must concern about the price of export tuna so thatvalue of export tuna has not decreased and it will give an impact to the decreasing of foreign exchangeand also it will make decreasing in GDP contribution of the fisheries sector.
STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR BANDENG (Chanos-chanos sp) Yayan Hikmayani; Hertria Maharani Putri
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2014): JUNI 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.049 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i1.223

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait dengan strategi pengembanganpasar produk bandeng (Chanos-chanos sp). Metode penelitian menggunakan survey denganpengambilan responden dilakukan secara purposive sampling dan Focus Group Discussion (FGD) sertaExpert Judgement Metode analisis data dilakukan secara deskriptif dan kuantiatif. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa faktor internal strategis hasil penilaian bobot, rating dan skor terhadap setiapfaktor yang teridentifikasi pada komponen kekuatan (S) dan komponen kelemahan (W) masing-masingsebesar 0,44 dan 0,26; atau untuk keseluruhan (agregat) dari faktor internal strategis adalah sebesar0,70. bahwa skor komposit untuk komponen peluang (O) adalah sebesar 0,50 dan untuk komponenancaman (T) adalah sebesar 0,39, atau untuk keseluruhan (agregat) dari faktor eksternal strategisadalah sebesar 0,89. Strategi diperoleh berdasarkan analisis di dominasi oleh faktor kekuatan (S) danpeluang (O) atau Strategi SO yaitu intensifikasi budidaya dilokasi potensial, pembangunan infrastrukturdi lokasi sentra produksi,meningkatkan promosi di negara tujuan ekspor. . Hasil Analisis QPSM urutanperioritas langkah-langkah strategi tersebut adalah 1) Intensifkan budidaya di lokasi potensial denganskor total atraktif sebesar 7,7; 2) pembangunan infrastruktur di lokasi sentra produksi dengan skor totalatraktifeness sebesar 7,5; 3)meningkatkan promosi pasar di negara tujuan ekspor dengan skor totalatraktif sebesar 8,8.Title: Market Development Strategy of Milkfish (Chanos-chanos sp)This paper aims to provide information related to the product market development strategy ofmilkfish (Chanos-chanos sp). The research method used to capture survey respondents conducted bypurposive sampling and Focus Group Discussion (FGD) and Expert Judgement. Data analysis methodsin descriptive and kuantiatif. The results showed that the internal factors of the strategic assessment ofweight, rating and scores on each of the factors identified in the power component (S) and componentweaknesses (W) respectively of 0.44 and 0.26; or for the overall (aggregate) of strategic internal factorsare of 0.70. that the composite scores for the components of the opportunities (O) is equal to 0.50 and forthe components of the threat (T) is 0.39, or for the overall (aggregate) of strategic external factors is 0.89.The strategy was obtained by the analysis is dominated by the power factor (S) and opportunities (O) orSO strategy is a potential intensification of aquaculture location, infrastructure development at the site ofproduction centers, increase promotion in export destination countries. Results Analysis of the sequenceQPSM priorities steps of the strategy are: 1) Intensified aquaculture at potential sites with an attractivetotal score of 7.7; 2) development of infrastructure at the location of production centers with a total scoreof atractive 7.5; 3) increase in market promotion of export destinations with a total attractive score of 8.8.
STRATEGI KEBIJAKAN PENANGGULANGAN PENGGALIAN PASIR PANTAI DI PANTAI NASAI – KABUPATEN MERAUKE Maria Diana Widiastuti; Godefridus Samderubun; Taslim Arifin
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.807 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v8i1.6850

Abstract

Penambangan pasir pantai menimbulkan eksternalitas. Bentuk eksternalitas yang terlihat adalah kerusakan jalan raya, penurunan produktivitas produk perikanan, dan kerusakan ekosistem hutan mangrovedi pesisir pantai. Pemerintah telah mengeluarkan himbauan pelarangan penggalian pasir pantai, namun ekstraksi penggalian pasir di pesisir pantai masih terus terjadi. Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi kebijakan penanggulangan penggalian pasir melalui analisis motivasi dan persepsi masyarakat terhadap usaha penggalian pasir pantai dengan pendekatan metodologi analisis Strength Weakness Opportunity Threat(SWOT)dan penentuan alternatif strategi dengan metode Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Hasil penelitian menyebutkan bahwa motivasi masyarakat menjual pasir karena tuntutan ekonomi, tidak perlu bekerja keras, hasilnya stabil dan harga tidak pernah turun dibandingkan usaha pertanian. Adanya anggapan menjual pasir adalah pekerjaan sampingan. Jika tidak ada permintaan pasir, maka masyarakat akan berkebun, berburu, meramu dan mengambil ikan di laut. Banyaknya permintaan masyarakat terhadap pasir. Masyarakat paham dampak negatif penggalian pasir dan menjadi kekuatan dalam penanggulangan penggalian pasir. Kebijakan pemerintah tidak ditegakkan dan terjadi penelantaran diduga sebagai penyebab tetap dilakukan praktek penambangan pasir pantai. Urutan strategi kebijakan yang dapat disarankan untuk pemerintah berdasarkan analisis QSPM adalah: (1) penetapan harga pasir lokal dengan menginternalisasi biaya eksternalitas; (2) penegakan ijin usaha pertambangan dan (3) membentuk kelompok peduli lingkungan pesisir untuk mengembangkan perekonomian masyarakat lokal.Title: Policy Strategy to Overcome Beach Sand Mining In The Nasai Beach – Merauke RegencyBeach sand mining caused externalities. Those type of externalities were shown by road damage, decreasing fisheries productivity, and destruction of mangrove forest ecosystems in coastal areas. Government has prohibited beach sand mining, however, extraction continues to occur. This study aims to analyze the policy strategy to overcome beach sand mining through motivation analysis and perception of community using the Strength Weakness Opportunity Threat (SWOT) and the Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) analytical methods. Results of the study showed that people sell sand due to economic reason without having to work hard, its stable production and prices compared to agriculture activity. Selling sand is considered a temporary job. Whenever there is no demand for sand, the community will work for another job, i.e., hunting, fishing and other agricultural activities. Community is aware of negative impact of sand mining and it empower them to prevent sand mining. A weak enforcement of government policy was likely to be the reason of keep practicing beach sand mining. The policy strategy that we suggest for government to overcome the beach sand mining based on the QSPM analysis are: (1) determining the price of local sand by internalizing the externalities cost; (2) law enforcement of sand mining business permits, and; (3) establishing coastal environmental groups to develop other economic activities for local people.
EVALUASI KESIAPAN KOTA AMBON DALAM MENDUKUNG MALUKU SEBAGAI LUMBUNG IKAN NASIONAL Yayan Hikmayani; Siti Hajar Suryawati
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2016): DESEMBER 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.351 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v6i2.3323

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk melihat sejauh mana tingkat kesiapan Kota Ambon untuk mendukung pelaksanaan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (M-LIN) yang dianalisis dengan metode RAPFISH yang dimodifikasi menggunakan Multi Dimensional Scalling (MDS).   Metode penelitian digunakan yaitu metode survey.  Data yang digunakan terdiri dari data primer dan sekunder.  Pengambilan data primer dilakukan terhadap responden melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner.  Data sekunder berupa laporan diperoleh dari berbagai instansi pemerintah dan perguruan tinggi.  Responden terdiri dari pelaku usaha, Pemerintah Provinsi Maluku (Badan Perencana Daerah, Dinas Kelautan Perikanan), Pemerintah Kota (Badan Perencana Daerah, Dinas Perikanan dan Kelautan).  Berdasarkan hasil analisis secara umum Kota Ambon masuk kategori siap sebagai daerah pendukung M-LIN dimana dari 6 dimensi hanya dimensi ekologi dan kelembagaan dan kebijakan yang masuk kategori cukup siap. Untuk meningkatkan kesiapan di Kota Ambon maka dimensi kelembagaan dan kebijakan menjadi dimensi yang paling utama untuk diperhatikan agar jelas mengenai keberlanjutan program M-LIN ini selanjutnya.   Dari hasil analisis yang dilakukan berimplikasi pada peningkatan sinkronisasi dan harmonisasi seluruh pelaku dan pemangku kepentingan  dalam pelaksanaan kegiatan yang terkait dengan program Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional.  Selain itu juga perlu menyiapkan kebijakan berupa peraturan baik peraturan presiden (Perpres) maupun Keputusan Menteri (Kepmen) KP yang mendukung pelaksanaan program.  Title: Evaluation of Readiness To Support The City Ambon Maluku As “Lumbung Ikan Nasional”This paper was aimed to evaluate the readiness level of Ambon city serving as buffer for Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (M-LIN) which analyzed with modified RAPFISH method using Multi Dimensional Scalling (MDS). The study uses survei as the data collection method. This study used primary and secondary data. Primary data were collected through interviews using a set of questionnaires. Examples of secondary data were report or study reports from universities and local governement offices. The respondents are fishery business entities, provincial and district  fishery offices, provincial planning office. This study finds that in general City Ambon is ready as support system for M-LIN. However, only two out of six categories of readiness are in good condition for readiness. The ready indicators  are the governance and policies put in place in Ambon. These two indicators serve as key aspect insuring the sustainability of M-LIN program.  

Page 8 of 21 | Total Record : 210